Kembali
16
1
2021 Information Science and Library Vol 2 · 2 ISSN 2723-2778

Pengembangan Perpustakaan Digital untuk Mempermudah Akses Informasi

Universitas Semarang; Universitas Diponegoro

Abstrak

Kajian ini dilatarbelakangi oleh perkembangan ilmu dan teknologi informasi di perpustakaan digital akan mempengaruhi aspek perubahan kehidupan masyarakat. Perubahan perilaku masyarakat akan mempengaruhi evolusi informasi. Persyaratan kebutuhan informasi juga beragam. Institusi, biarkan perpustakaan berperan serta dalam meningkatkan kualitas layanan perpustakaan dengan pedoman kebutuhan informasi yang tak terelakkan. Perpustakaan tidak menambah kualitasLayanan konvensional yang dapat diandalkan dengan properti kolektif dan lainnya. Dalam hal ini, penulis akan membahas tentang konsep perpustakaan digital, pemanfaatan perpustakaan digital, dan taktik pengembangan akses informasi. Dokumen ini menginspirasikan pembuatan perpustakaan digital. Strategi Perpustakaan Digital untuk membangun dan mengembangkan akses informasi meliputi: (1) Metode organisasi dan pengelolaan perpustakaan digital, (2) Metode penerapan teknologiInformasi, (3) Metode akses dalam kebijakan bersama aturan informasi, (4) Metode nilai keanekaragaman budaya (multikultural) serta (5) pembangunan dalam hal koordinasi sumber daya (pertukaran sumber daya). Perpustakaan sangat penting untuk mengatur hak dan kewajiban. dalam penyajian, penyimpanan, penyebaran dan penggunaan informasi. Perpustakaan juga beroperasi dengan etika yang didasarkan pada tradisi tercetak dimana teknologi digital adalah dunia kepustakawanan. Oleh karena itu pustakawan dituntut untuk memahami aturan baru tersebut agar kegiatan perpustakaan ini berkembang sesuai dengan koridor hukum yang berlaku di perusahaan.

Abstract

This study is motivated by the development of science and information technology in digital libraries that will affect the changing aspects of people's lives. Changes in people's behavior will affect the evolution of information. Requirements for information needs also vary. Institutions, let the library participate in improving the quality of library services with guidelines for the inevitable need for information. Libraries do not add quality to reliable conventional services with collective and other properties. In this case, the author will discuss the concept of digital libraries, the use of digital libraries, and tactics for developing access to information. This document inspired the creation of a digital library. Digital Libraries' strategies to build and develop information access include (1) Methods of organization and management of digital libraries, (2) Methods of implementing Information technology, (3) Methods of access in joint policies on information regulations, (4) Methods of cultural diversity (multicultural) values and (5) development in terms of resource coordination (resource exchange). Libraries are very important to regulate rights and obligations. in presenting, storing, disseminating, and using information. Libraries also operate with an ethic based on a printed tradition where digital technology is a world of librarianship. Therefore librarians are required to understand the new rules so that library activities develop by applicable legal corridors in the company.
Keywords: Digital Libraries · Information Access · and the Information Age

Introduction

Perpustakaan merupakan jantung bagi para akademisi, ungkapan tersebut menjadi harapan dan membantu para mahasiswa dalam mencari dan menambah referensi guna menyelesaikan skripsi atau tugas akhir (Amri, 2020). Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang terus berkembang pesat membawa perubahan besar dalam berbagai aspek termasuk perpustakaan itu sendiri.Penggunaan TIK untuk mengoperasikan perpustakaan dapat mempengaruhi kualitas dan kecepatan pelayanan. Berita yang muncul. Pengembangan dan penggunaan TIK dapat diukur. Ini digunakan sebagai dasar informasi dalam perpustakaan dan manajemen e-library.Zaynal A.Hasibuan (2005) meyakini bahwa fondasi atau sistem perpustakaan digital adalah konsep penggunaan internet dan teknologi komunikasi untuk mengelola perpustakaan, sedangkan Ismail Fahmi (2004) berpendapat bahwa perpustakaan digital itu sendiri merupakan tulang punggung atau sistem Perpustakaan. Perangkat keras, perangkat lunak, koleksi elektronik, personel manajemen. Organisasi pengguna,Prosedur kerja dan layanan yang menggunakan beragam teknologi komunikasi. Dari dua definisi yang penulis berikan, bisa diuraikan bahwasanya perpustakaan digital adalah perpustakaan yang seluruh isi koleksi dan proses pengelolaannya disajikan dalam bentuk kombinasi data digital. Manajemen perpustakaan bisa mempermudah Anda bekerja di perpustakaan melalui fungsi otomasi perpustakaan, sehingga membuat proses manajemen perpustakaan menjadi lebih efisien.Fungsi otomasi perpustakaan berfokus pada otomatisasi atau kontrol komputer dari sistem manajemen layanan. Pada saat yang sama, pengguna dapat membantu menemukan sumber berita yang diterima melalui katalog online, dan dapat mengakses katalog melalui Internet untuk pencarian berita. Orang ada dimana-mana. Kami menyadari bahwa Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di masa informasi ini mempengaruhi perubahan yang sebelumnya tidak dapat diprediksi. Di bidang informasi, berbagai perkembangan dan modernitas mempengaruhi semua aspek perilaku dalam mencari informasi dan kebutuhan informasi yang secara bertahap meningkat. Situasi ini sangat penting untuk institusi dalam memproses informasi. Bidang informasi berisi perpustakaan ini. Dengan munculnya masa informasi, tren dan peralihan saat ini Perpustakaan sangat cepat, baik dalam tugas perpustakaan profesional, yang berkisar dari pengembangan koleksi hingga pengorganisasian informasi, penyimpanan informasi, penyimpanan, penggunaan informasi dan aksesibilitas layanan informasi, suatu kondisi yang menjadi perhatian penting. untuk institusi yang didedikasikan untuk area informasi yang saat ini berada di perpustakaan. Pandangan berbeda dengan (2002) Dampak kemajuan teknologi informasi dan komunikasi didunia sangat berubah dengan bentuk radikal yang mempunyai bidang bisnis karena bersumber meluapnya informasi (information exsplotions). Tujuan adanya perpustakaan digital ialah sebagai sarana penunjang pendidikan,Peran perpustakaan digital ialah untuk mencerdaskan masyarakat. Dijelaskan oleh Menemy (2007) bahwa pemikiran dari Ranganathan memperkirakan pada abad 21 masih tergolong relevan, adanya harapan untuk bisa berkembang, sebagai suatu organisasi maju pada era ekologi perkembangan zaman. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan ditetapkan bahwa perpustakaan adalah lembaga administrasi seperti karya tulis, cetakan dan / atau rekaman yang profesional dan sistem standar yang memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, informasi, dan pelestarian. dan rekreasi pengunjung (Bab I Paragraf 1) Dalam undang-undang yang disebut “Bab V Pasal 14 Ayat 3” kemudian diatur oleh semua perpustakaan memberikan pelayanan yang baik untuk memajukan teknologi informasi dan komunikasi.Menurut pengamatan penulis dan sumber dari Koleksi ilmiah, syarat dan ketentuan Perpustakaan Digital penyelenggaraan perpustakaan digital masih di bawah ekspektasi. Biasanya foto-foto yang ada perpustakaan digital adalah berikut ini: Pertama, belum ada konsep yang jelas dalam membangun perpustakaan digital. Kedua, masalah implementasi/penggunaan perpustakaan digital adalah antara masalah akses manajemen, teknologi, dan kebijakan. Ketiga, terkait dengan strategi pembangunan.Masalah ini berkaitan dengan masalah kemudahan akses atau aksesibilitas informasi karena konsep aksesibilitas memudahkan seseorang untuk mencapai suatu objek, layanan, dan lingkungan. Dengan hadirnya pengguna, mereka dapat menghubungkan koleksi-koleksi yang sudah tersedia dan memberikan kemudahan akses kepada pengguna terhadap informasi digital.Berdasarkan pemikiran yang telah diuraikan sebelumnya, penelitian ini mengangkat rumusan masalah diantaranya : (a) Apa Rancangan pembangunan perpustakaan digital (b) Bagaimana peran perpustakaan digital menciptakan suatu aksesibilitas informasi (c) Bagaimana mengembangkan strategi perpustakaan digital yang berkontribusi pada kesediaan informasi.

Method

Konsep Perpustakaan Digital Sebelum masuk ke perpustakaan digital, kita akan membahas konsepnya perpustakaan. Secara umum pengertian perpustakaan yaitu institusi mengelola koleksi karya cetak dan rekam/dana atau rekaman pada tingkat professional menggunakan sistem yang baku dalam memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pengetahuan, perlindungan serta hiburan wisatawan. (UU No. 43/2007 Bab I pasal 1 ayat 1). Berdasarkan definisi Sulistyo Basuki (1991) tentang perpustakaan, perpustakaan ialah ruang, dari suatu bangunan, atau bangunan itu sendiri, tempat penyimpanan buku dan publikasi sebelumnya. Buku- buku dan publikasi tersebut biasanya disimpan di suatu lokasi tertentu. Penyimpanan untuk pembaca menggunakan dari pada menjualnya (Sulistyo-Basuki, 1991). Perpustakaan digital memiliki kesamaan dengan perpustakaan lain, pembeda perpustakaan konvensional yaitu dari koleksinya yang berbasis yang berbasiskan cetak sedangkan perpustakaan digital menggunakan tata cara kerja yang berpedoman dengan IT. Perpustakaan digital memiliki tugas dalam pengelolaan beberapa substansi kumpulan bahan pustaka berwujud komputer sebagai alternatif perpustakaan untuk melengkapi cetakan konvensional dalam wujud mikro saat ini mendominasi kumpulan bahan pustaka. Penjelasan tentang arti perpustakaan digital, menurut “Borgman dalam Teed (2005) disebutkan bahwasannya : Perpustakaan digital merupakan sekumpulan sumber daya elektronik dan kemampuan teknik terkait dalam membuat, mencari,dan menggunakan informasi. Dalam pengertian ini, perluasan dan peningkatan dalam penyimpanan informasi dan sistem pengambilan yang memanipulasi digital dalam media apapun ( teks, gambar, suara) dan ada dalam jaringan terdistribusi. Pendapat diatas dijelaskan bahwa perpustakaan digital yaitu suatu kumpulan koleksi sumber elektronik (e-resources) yang digunakan sebagai penciptaan, penelusuran dan akses sumber elektronik. Dalam Digital Library Federation, dapat didefinisikan antara lain : “digital libraries are organizations that provide the resources, including the specialized staff, to select, structure, offer intellectual access to, interpret, distribute, preserve the integrity of, and ensure the persistence over time of collections of digital works so that they are readily and economically available for use by a defined community or set of communities. Dalam pendapat di atas dijelaskan bahwa perpustakaan digital merupakan organisasi sumber daya yang melibatkan staf pengelola untuk menyeleksi, mengembangkan, menginterpretasikan, melestarikan dan melayankan koleksi digital sebagai akses intelektual untuk dimanfaatkan kepada masyarakat secara cepat dan ekonomis. Definisi diatas juga menegaskan bahwa perpustakaan digital sesungguhnya merupakan upaya yang terorganisir dalam memanfaatkan teknologi yang ada bagi masyarakat pemustakanya. Menurut International Conference of Digital Library (2004 ) bahwa pengertian perpustakaan digital adalah sebagai perpustakaan elektronik yang informasinya didapat, disimpan, dan diperoleh kembali melalui format digital. Perpustakaan digital merupakan kelompok workstations yang saling berkaitan dan terhubung dengan jaringan (networks) berkecepatan tinggi. Pustakawan menghadapi tantangan yang lebih besar dalam mendapatkan, menyimpan, memformat, menelusuri atau mendapatkan kembali, dan memproduksi informasi non teks. Sistem informasi modern kini dapat menyajikan informasi secara elektronik dan memanipulasi secara otomatis dalam kecepatan tinggi. Berdasarkan paparan diatas dapat disimpulkan bahwa perpustakaan digital adalah perpustakaan yang memiliki sebagian besar atau sebagian koleksinya dalam bentuk digital dan dapat diakses secara online melalui jaringan (networks). Dalam konteks manajemen perpustakaan digital bahwa perpustakaan digital melaksanakan tugas dalam menghimpun, mengelola, melestarikan dan melayankan koleksi kapada masyarakat berbasis pada koleksi digital yang dapat diakses secara online melalui jaringan. Berkaitan dengan konsep perpustakaan digital tersebut, bahwa perpustakaan digital, berkaitan dengan bagaimana mendigitalisasikan obyek/ bahan dan menyediakannya secara online. Selanjutnya bagaimana memasukkan informasi baru yang belum memiliki bentuk penyajian secara nyata seperti layaknya koleksi perpustakaan, dan bagaimana menemukan bahan-bahan dalam perpustakaan digital. Urgensi dan Peran Perpustakaan Digital untuk Kemudahan Akses Informasi Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi antara lain ditandai adanya perubahan prilaku masyarakat dalam mendapatkan informasi serta semakin tinggi tuntutan kebutuhan informasi yang sangat bervariasi. Kondisi ini memiliki arti penting bagi perpustakaan untuk membangun ketersediaan informasi melalui sistem simpan dan temu kembali informasi dan informasi dalam format digital. Berbagai perubahan dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK) menuntut layanan informasi yang cepat, tepat, mudah dan murah. Trend kemajuan jaman tersebut menuntut kesiapan para profesionalisasi pustakawan dalam mempersiapkan dan mengorganisasi informasi. Munculnya era informasi telah mengubah berbagai aspek kehidupan manusia, diantaranya seperti yang dikatakan oleh Walter Wriston dalam Rachmad Hermawan (2006) disebutkan bahwa ”Revolusi informasi mengubah presepsi masyarakat tentang kekayaan. Awalnya mengatakan bahwa tanah awalnya kekayaan. Kemudian mengira itu adalah produksi inmdustri. Sekarang menyadari itu modal intelektual. Pasar menunjukkan bahwasannya modal intelektual jauh lebih penting dari pada uang. Dalam hal ini, adanya perubahan besar dalam dunia kerja. Hal yang sama terjadi pada revolusi industri sekarang terjadi pada orang-orang industry” Aturan yang bertahap sudah mengalami perubahan yang awalnya perpustakaan tradisional menjadi perpustakaan modern. Keadaan yang meminta modifikasi pola pikir untuk melakukan penyelemggaraan perpustakaan. Dalam konsep perubahan konsep yang dikemukakan oleh Sturt dan Moran dalam Rachmad Hermawan dan Zulfikar Zen (2006), manajemen perpustakaan telah mengalami beberapa perubahan berikut ini: (1) Mengenai hanya sumber perpustakaan yang menyusun koleksi perpustakaan dari satu pembawa (koleksinya sendiri). Mereka sekarang diubah menjadi koleksi virtual atau digital (perpustakaan virtual), (2) terkait dengan layanan perpustakaan semula di gudang, yang sekarang digantikan oleh layanan supermarket, (3) terkait dengan perpustakaan pengguna, yang dulunya Menunggu (menunggu pengguna) untuk mempromosikan pengguna (untuk mendorong pengguna untuk menggunakan). Pergeseran paradigma baru pustakawan yang sebelumnya digunakan sebagai perpustakaan penyimpanan buku telah berkembang menjadi perpustakaan multimedia online yang lebih modern. Bahan pustaka asli berbasis teks,File fisik menjadi sumber informasi, bisa berupa informasi maupun elektronik. Tugas pustakawan adalah membawa buku bersamanya untuk menyiapkan informasi. Organisasi yang dioperasikan secara profesional perlu menghadapi semua tantangan profesional termasuk manajemen perpustakaan. Prinsip dan fungsi dan pendahuluan. Peran perpustakaan digital di masa informasi, bagaimana yang Pertama, perpustakaan digital harus mengumpulkan serta memberikan informasi dalam bentuk elektronik untuk memenuhi kebutuhan informasi publik. Yang Kedua, perpustakaan digital menjadi organisasi informasi yang tepat, yang berfokus pada teknologi informasi, metadata, sistem temu kembali informasi, jaringan telekomunikasi, kemampuan untuk menggunakan Internet serta Internet dalam kemampuan untuk menggunakan metode digital profesional. Yang Ketiga, perpustakaan digital sangat penting dalam menyebarkan koleksi digitalnya, dan komunitas pengguna bisa mengakses koleksi tersebut dengan cepat.Tepat, tepat, dan sederhana. Yang Empat perpustakaan digital berperan dalam memelihara Konservasi koleksi digital untuk menjaga nilai informasi yang diinginkan. Yang Kelima, perpustakaan digital bisa berperan untuk menegakkan regulasi hak akses publik untuk menghindari etika informasi, masalah hak cipta dan pencurian.

Result & Discussion

Pengenalan perpustakaan digital terkait dengan ketersediaan informasi yang mempresentasikan konsep aksesibilitas dimaksudkan untuk memudahkan pencapaian suatu objek, layanan dan lingkungan. Presepsi aksesibilitas informasi mencakup empat dimensi: aksesibilitas dasar, aksesibilitas informasi, keandalan sistem, serta pemahaman bahasa kontrol yang mudah. Oleh karena itu, saluran akuisisi digital dibentuk agar pengguna dapat dengan mudah memperoleh informasi digital yang dapat diperhitungkan.Mengenai properti perpustakaan digital di lingkungannya, Siregar (2008) et al. (1) Akses perpustakaan tidak dibatasi waktu atau ruang serta bisa berlangsung dimana saja dan pada waktu yang berbeda. (2) Koleksi elektronik akan terus bertambah sedangkan koleksi cetak akan berkurang. (3) Koleksi bisa berupa teks, gambar, atau suara. (4) Pemakian informasi elektronik dan pemakaian materi cetakan akan terus meningkat(5) Biaya anggaran informasi ditransfer dari properti ke pelanggan serta lisensi. (6) Peningkatan dana untuk pembangunan sarana serta prasarana. (7) Penggunaan gedung bergeser dari ruang pertemuan ke kursus pelatihan. (8) Pekerjaan, pendidikan serta sikap akan berubah. Digitalisasi mengubah sinyal analog menjadi format digital. Pengolahan digital bisa digunakan untuk beragam jenis bahan pustaka, mis. B. Peta, naskah kuno danPatung. Audiovisual/visual. Patung tersebut diproses secara digital dengan kamera digital untuk membuat foto digital atau film digital. Foto/gambar bergerak ini bisa disimpan di server sehingga bisa dibagikan di jaringan komputer. Digunakan untuk menyimpan (menyimpan) file. Untuk manuskrip ini sangat rapuh karena proses laminasi plastik khusus yang diperlukan sebelum atau sebelum pemindaianFoto dokumen. Pemrosesan digital dapat dibagi menjadi tiga kegiatan utama: (1) Pemindaian, yaitu memindai dokumen kertas dan mengubahnya menjadi file digital (misalnya PDF). (2) Mengedit, yaitu memproses file PDF di komputer dengan memberikan kata sandi, tanda air, catatan kaki, daftar, hyperlink, dll. Dan melindunginya dalam arsip sesuai dengan pedoman yang dikembangkan oleh perpustakaan. Pemrosesan OCR (Pengenalan Karakter Optik) juga tersediadiklasifikasikan sebagai pemrosesan. OCR adalah proses mengubah gambar menjadi teks. DAN (3) Unggahan mengisi metadata dan mengunggah perpustakaan digital dari file dokumen. Proses pengembangankoleksi digital dapat dijelaskan ialah : [Gambar 1 Proses Digital] Langkah selanjutnya adalah mengubahnya menjadi koleksi digital. Proses pemindaian dokumen ke pada sistem pencitraan dianggap konversi dokumen, konversi dokumen retroaktif/biasanya konversi sederhana. Saat merencanakan konversi, ada empat poin utama yang harus diingat: dokumen mana yang harus dikonversi, dan dokumen mana yang harus dikonversi. Ini mengatur dan mengindeks siapa yang bertanggung jawab untuk melakukan konversi dan kapan dan di mana untuk melakukan konversi. Data yang dikonversi meliputi: (a) kartu indeks, (b) daftar rak, (c) informasiPinjaman, (d) daftar buku harian, (e) indeks kutipan, (f) informasi peminjam dan dokumen terkait, (g) buku teks dan artikel, (h) foto, ilustrasi, grafik dan tabel, (i) berdasarkan buku serta perpustakaan. bahan data dan (j) data dari tingkat tidak akan pernah terhindar dari keinginan untuk berbagi saat membuat perpustakaan digital untuk masyarakat.Oleh karena itu, dalam membangun perpustakaan elektronik perlu menyesuaikan dengan kondisi dan memperhatikan penggunanya. Idealnya, sebelum mengembangkan dan menerapkan fitur baru (termasuk perpustakaan digital), pertama-tama analisis kebutuhan pengguna (Tedd dan Large, 2005). Ini terutama dilakukan berdasarkan informasi yang dibutuhkan untuk mengakses e-library. Sementara, hasil analisis akan mempengaruhi desain model e-library yang diimplementasikan di masa mendatang.Oleh karena itu, perpustakaan digital harus menyediakan ruang di mana pengguna dapat saling bertukar informasi, termasuk perkembangan perpustakaan digital ke depan. Dalam mengembangkan perpustakaan berbasis teknologi informasi melalui pengelolaan perpustakaan elektronik,mekanisasi perlu dipertimbangkan otomasi dan komunikasi informasi menjadi kunci keberhasilan implementasi. Aspek tersebut ini mencakup infrastruktur teknologi informasi, metadata, sistem temu kembali informasi, jaringan telekomunikasi, internet serta internet,serta teknologi digital. Mekanisasi Pengindeksan (Indexing) Misalnya, gagasan lama berkaitan dengan dokumen yang dilegalisasi. Bahwa kemunculan mesin pencari populer dalam operasi Google memang merupakan masalah lama bagi pustakawan ketika pencarian online menjadi populer pada tahun 1999.Tujuh puluhan. Legalitas bagian ketiga berkaitan dengan peningkatan legalitas proses digitalisasi, transaksi elektronik, kekayaan intelektual dan plagiarisme. Kontroversi telah muncul di berbagai bagian masyarakat tentang bagaimana penggunaan teknologi digital dapat disusun sedemikian rupa sehingga tidak ada kebingungan dan kebingungan tentang hak dan kewajiban seseorang. Berbagai elemen perlu dicermati di perpustakaan digital Kembali ke perpustakaan digital seperti Saracevic (2001) konfirmasi bagian evaluasi pengembangan e- library mencakup 21 (dua puluh satu) item yaitu: (a) (koleksi digital, sumber daya) (b) (seleksi), koleksi, sumber daya, Media) (c) (distribusi, koneksi, tautan), (d) (organisasi, struktur, penyimpanan) (e) (interpretasi, representasi, metadata), (f) (administrasi) dan banyak lagi komponen terkait di Saracevic di atas . Strategi Pengembangan Perpustakaan Digital Dalam pengembangannya perpustakaan elektronik yang modern serta profesional secara umum, sebagian besar perpustakaan universitas Islam di Indonesia dapat diimplementasikan dengan 5 cara : Pendekatan Organisasi dan Manajemen Perpustakaan Digital Secara umum penjelasan “manajemen” ialah mengelola atau mengurus. Manajemen dapat diterapkan dalam aspek apa saja. Pada intinya adminitrasinya sangat mempengaruhi sistem penunjang kegiatan yang dikerjakan seseorang, baik terikat dengan waktu, kemampuan serta biaya. Segala diperlukan pengaturan adminitrasi yang baik. Menguasai keyakinan terhadap manajemen semestinya mempunyai unsur dapat dijadikan seperti teori pedoman yang selalu stabil. Menurut Koontz dan O’Donell bahwa kala prinsip manajemen bisa dikembangkan, dibuktikan dan digunakan, metode manajerial kemampuan yang baik akan selalu meningkat. Keputusan yang sudah diambil seorang manajer dapat menjadi semakin efektif memakai pedoman “ide/gagasan” dalam menompang penyelesaiakan perkara, tanpa berkaitan erat. Dalam hal ini, mereka menjalankan sebagian agenda training sumber daya manusia berupa: (a) Training Dasar TIK, (b) Penafsiran bagaimana TIK berfungsi dalam menunjang pekerjaan pustakawan, (c) Keselamatan dan kesehatan dalam pemakaian TIK, (d) Mengetahui bagaimana cara menemukan sesuatu untuk kepentingan pemustaka; (e) Menggunakan TIK untuk men-support pemustaka dalam memajukan suatu kegiatan; (f) Menggunakan TIK untuk mensupport pemustaka untuk menjalankan pembelajaran secara efisien; (g) Menjamin adanya manajemen TIK yang efisien di perpustakaan; (h) Bagaimana pemanfaatan TIK dalam membenahi profesionalitas dan untuk menyusutkan beban birokrasi dan administrasi. Pendekatan Implementasi Teknologi Perpustakaan Digital Dalam perkembangan perpustakaan digital, segala teknologi informasi sangat erat kaitannya dengan peningkatan ketersediaan informasi. Pengenalan teknologi perpustakaan digital berdampak pada perencanaan, penerapan dan pengaturan kemudahan dalam mengetahui bahasa kontrol. Teknologi perpustakaan digital yang baik dapat memberikan hak akses informasi yang baik terhadap perpustakaan. Pendekatan Kebijakan Akses dan Legalitas Informasi Aksesibilitas dan kenyamanan seseorang dalam menjangkau suatu objek, layanan dan lingkungan. Konsep aksesibilitas informasi memiliki 4 dimensi: aksesibilitas dasar dan aksesibilitas informasi. Menurut Arms (2001), kebangkitan perpustakaan digital terkait dengan koridor etika, hukum dan plagiarisme serta hak kekayaan intelektual. Menurut Putu Laxman Pendit (2007), aksesibilitas koleksi digital perpustakaan digital tidak hanya terbatas pada pertukaran dokumen elektronik dalam bentuk cetakan. Ruang lingkup koleksi berfokus pada konten informasi, jenis dokumen untuk hasil pencarian.Pengaturan dalam hal ini merupakan bagian dari kebijakan tata kelola yang berkaitan dengan adanya “Nota Kesepahaman”, hak akses yang diterbitkan, dan jaminan. Pendekatan Transformasi Nilai-Nilai Keragaman Budaya (Multikultural) Penyelenggaraan perpustakaan digital, permasalahan teknologi informasi serta komunikasi tidak dapat menjamin keberlangsungan perkembangan perpustakaan digital. Menurut Steenerova dalam Laksmi (2006), perlu dibangun pemikiran holistik atau kultural untuk mendorong inovasi. ini dapat diamati dari sudut pandang rasionalitas, tetapi juga dari sudut pandang orang di dalam sistem. Budaya yang memanifestasikan dirinya dalam bentuk pendekatan. Pengembangan perpustakaan digital adalah tentang aksesibilitas informasi. Aksesibilitas informasi memberi orang pada waktu itu akses mudah ke informasi.Bagi masyarakat yang sudah terbiasa dengan pemanfaatan teknologi akan mempermudah informasi secara sederhana, cepat dan obyektif. Pendekatan Kerjasama dan Resource Sharing Untuk pengembangan perpustakaan dalam hal ini melalui kerjasama antar perpustakaan. Saya ingin menyediakan lebih banyak layanan perpustakaan dengan menggunakan koleksi bersama (sumber daya bersama). Pekerjaan ini dilakukan dengan kompleksitas yang diciptakan oleh peningkatan layanan perpustakaan. Penggunaan bersama sumber daya daya pustaka merupakan prasyarat untuk Akses Terbuka. Dalam pelayanan perpustakaan, ini termasuk memerangi kekurangan informasi. Seperti kita ketahui bersama, tidak terdapat perpustakaan di global ini yang dapat memperluas koleksinya. Oleh karena itu, setiap perpustakaan membutuhkan koleksi perpustakaan yang berbeda agar dapat melayani penggunanya dengan lebih baik. Oleh karena itu, koleksi perpustakaan bersama sangat bermanfaat. Menyediakan layanan nilai tambah untuk perpustakaan kecil dengan koleksi yang sangat kecil / lemah. Jika setiap perpustakaan dapat menyediakan informasi di perpustakaannya masing-masing, maka program yang menggunakan koleksi kolektif ini dapat berjalan dengan baik.Dalam perkembangan perpustakaan digital, masalah kolaborasi dalam berbagi sumber daya terkait dengan ketersediaan informasi, dan penyediaan informasi memberikan banyak pilihan untuk akses simultan ke masyarakat. Masyarakat dapat memperoleh informasi yang lengkap, dan informasi menjadi lebih mudah, cepat, dan akurat. Ini termasuk menyalin informasi dari perpustakaan mitra.Mengembangkan aksesibilitas / kecepatan informasi hingga masyarakat informasi menjadi masyarakat informasi.

Conclusion

Dinamika perkembangan perpustakaan digital tidak hanya terfokus pada pokok bahasan penerapan teknologi, pengelolaan, persoalan hukum dan keragaman budaya (multikultural), tetapi merupakan faktor penting membangun aksesibilitas informasi dalam perkembangan perpustakaan digital. Pengembangan perpustakaan digital diperlukan untuk meningkatkan aksesibilitas informasi dan menyebarkan pengetahuan dalam masyarakat informasi. Keunikan hidup, peluang perubahan sosial dan perkembangan ekonomi sangat bergantung pada perkembangan informasi dan penggunanya.Dalam hal perpustakaan memberikan layanan kepada masyarakat modern, maka perlu dilakukan kewaspadaan terkait hak dan kewajiban terkait dengan penyajian informasi, penyimpanan informasi, penyebaran informasi dan penggunaan informasi dalam kegiatan universitas guna meningkatkan kualitas perpustakaan universitas. Keberhasilan perpustakaan digital hanya bisa dilihat dari aspek teknis. Namun perlu dikembangkan rencana pengelolaan sumber daya manusia, penerapan teknologi informasi,merumuskan strategi dan rencana pengembangan untuk memperoleh pedoman informasi.resource sharing.