Analisis Dampak Implementasi Infopreneurship Pustakawan di Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Malang sebagai Bentuk Pemasaran Perpustakaan di Era Digital
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang; Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang; Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang; Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Abstrak
Infopreneurship merupakan sebuah kegiatan pemasaran informasi yang dilakukan dengan menjual informasi dalam bentuk digital, lalu menyebarkannya melalui laman internet. Dalam ranah perpustakaan, kegiatan infopreneurship ini memberikan banyak keuntungan baik bagi pemustakanya maupun bagi perpustakaan itu sendiri. Dari hasil penelitian, didapat bahwasanya kegiatan infopreneurship terutama di Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Malang lebih banyak memberikan dampak positif terhadap penggunanya. Adapun dampak positif tersebut diantaranya adalah pemustaka selalu bisa mendapat informasi terbaru terkait perpustakaan, baik dari segi layanan, segi koleksi, segi jam operasional, dan lain sebagainya secara cepat dan mudah.
Abstract
Infopreneurship is an information marketing activity carried out by selling information in digital platform, and then distributing it through internet pages. In the realm of libraries, this infopreneurship activity provides many benefits for both the users and the library itself. Based on the results of this study, it was found that infopreneurship activities, especially in the Regional Library and Archives Service of Malang City, had more positive impacts on their users. The positive impacts include the fact that users can always get the latest information related to the library, both in terms of services, collections, in terms of operating hours, and so on quickly and easily
Keywords:
infopreneurship
· impact
· digital marketing
Introduction
Istilah entrepreneur saat ini kerap menjadi sorotan publik dalam dunia perekonomian, karena dipandang sebagai sesuatu yang dapat memajukan perekonomian bangsa, baik secara global maupun internasional. Enterpreneur adalah orang yang berani mengambil resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan (Darwanto, 2012). Seiring kemajuan zaman, enterprenur tidak hanya berputar dalam dunia bisnis saja, melainkan merambah ke berbagai organisasi-organisasi non-profit, salah satunya yaitu perpustakaan. Business Dictionary menyebutkan bahwa infopreneurship merupakan individu yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, mengelolanya dan digunakan untuk melayani kebutuhan pengguna. Dengan kata lain, infopreneurship dapat diartikan sebagai individu yang menjual informasi dalam bentuk digital sebagai kegiatan bisnis utamanya, lalu menyebarkannya melalui internet. Meskipun tergolong dalam ranah bisnis, dalam lingkup perpustakaan, tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pelayanan perpustakaan agar menjadi lebih baik lagi (user-oriented), tidak sekadar sebagai perolehan keuntungan secara finansial (money-oriented). Sehingga kewirausahaan di dunia perpustakaan berkaitan dengan tindakan inovasi atau pengembangan kepemimpinan untuk memenuhi kebutuhannya dengan cara yang unik dan kreatif (Siregar, 2012). Kegiatan ini memberikan beberapa dampak pada perpustakaan, baik dampak positif maupun dampak negatif. Dampak positifnya seperti, perpustakaan semakin dikenal secara luas melalui media sosial. Sedangkan dampak negatifnya seperti pengunjung yang berkurang karena informasi yang mereka dapatkan tersedia luas di internet. Apabila dikaji lebih dalam, masih banyak ditemukan dampak akibat penerapan infopreneurship ini di setiap lembaga informasi. Karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengkaji serta menganalisis lebih dalam mengenai dampak yang ditimbulkan akibat implementasi kegiatan infopreneurship di Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Malang. Kedepannya, diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan referensi serta pengembangan untuk penelitian-penelitian berikutnya.
Method
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan wawancara dan observasi lapangan. Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian untuk menyelidiki keadaan objek alamiah, penulis merupakan instrumen utama, teknik pengumpulan data dilakukan secara gabungan, analisis data bersifat induktif, dan hasil lebih menekankan pada generalisasi (Sugiyono, 2018). Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan prosedur analisis yang tidak menggunakan prosedur analisis statistik atau cara kuantifikasi lainnya (Moleong, 2016). Tempat pelaksanaan penelitian di Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Malang pada kurun waktu 5 bulan. Adapun subjek penelitian ini adalah pustakawan dan pemustaka (mahasiswa). Objek penelitiannya yakni dampak implementasi dari kegiatan infopreneurship yang dilakukan oleh lembaga yang dikaji. Instrumen yang digunakan yaitu peneliti sendiri dengan ditambah beberapa instrumen pendukung seperti literatur, script wawancara, kamera, dan alat tulis. Penelitian ini menggunakan sumber data primer berupa informasi yang dikumpulkan secara langsung melalui wawancara kepada admin website, admin Instagram, serta pengguna (10 pemustaka). Sedangkan data sekunder dalam penelitian ini berupa profil Lembaga dan data jumlah pengunjung tahun 2021-2022. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan mendeskripsikan jawaban dari narasumber, kemudian ditafsirkan dan diinterpretasikan dengan teori yang didapat serta didukung dengan perolehan data.
Result & Discussion
Dari data observasi yang telah dilakukan terhadap akun website dan Instagram Lembaga, terlihat bahwa Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Malang mulai mendeminasikan informasi-informasi terkait perpustakaannya secara elektronik (online). Menurut hasil dari wawancara kedua admin akun diatas, kegiatan infopreneurship yang dilakukan ini juga merupakan salah satu bentuk dukungan perpustakaan terhadap perkembangan teknologi. Adapun beberapa kegiatan infopreneurship yang dilakukan Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Malang yaitu: 1. Penyediaan Katalog Online (OPAC) Pada laman website mereka, bentuk infopreneurship yang dilakukan adalah dengan menyediakan layanan katalog koleksi perpustakaan secara online yang berisi informasi tentang bibliografi koleksi-koleksi yang ada disana. Tujuan disediakannya OPAC ini adalah untuk memudahkan pengguna dalam menelusuri informasi mengenai sumber informasi yang ada, juga untuk memudahkan pengguna dalam melakukan temu kembali informasi (information retrieval). Selain itu, adanya OPAC ini juga turut andil dalam memasarkan dan memperkenalkan koleksi-koleksi yang ada di perpustakaan ke jangkauan yang lebih luas. Sehingga akan menarik minat pengunjung untuk berkunjung ke perpustakaan. Merujuk pada jawaban beberapa narasumber, penyediaan katalog online (OPAC) ini sebagai bentuk kegiatan infopreneur yang cukup bermanfaat. Karena pemustaka mendapatkan informasi bibliografi koleksi perpustakaan tanpa harus mencari satu per satu di rak perpustakaan(efisien). 2. Pengunggahan Berita Acara (News) Menyediakan akses berita acara (News) yang menyorot keberlangsungan kegiatan yang terjadi di perpustakaan. Misalkan terkait perayaan HUT RI, pelaksanaan hari festival anak, sosialisasi budaya baca, dan lain sebagainya. Penyediaaan fitur berita ini juga merupakan salah satu bentuk infopreneurship yang telah di kemas ulang berbentuk(newsletter). Penyebaran informasi dengan cara seperti ini sangat menguntungkan, terutama bagi pemustaka. Sebab, pemustaka menjadi lebih mengerti kegiatan serta program-program yang ada di Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Malang. Ditambah, berita acara tersebut ditulis dengan keterangan yang secara lengkap, rinci, dan tentunya informatif. 3. Upload Beragam Konten Melalui Media Sosial Kegiatan infopreneurship melalui media sosial dengan cara pengunggahan mandiri konten-konten yang terkait dengan perpustakaan. Misalkan terkait informasi jam operasional perpustakaan; jenis layanan yang tersedia; sarana dan fasilitas yang tersedia di perpustakaan; serta agenda kegiatan diselenggarakan oleh perpustakaan. Dengan istilah lain, dokumentasi dan pengumuman. Merujuk pada penuturan dari salah seorang admin sosial media Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Malang, bahwasanya pengunggahan berbagai konten tersebut cukup sering dilakukan, yakni 1 minggu minimal sebanyak 3 kali. Hal ini dilakukan mengingat konten yang di unggah berisikan informasi-informasi dasar dan bersifat krusial. Lain halnya untuk konten yang bersifat dokumenter, biasanya akan diunggah paling lambat 2x24 jam setelah kegiatan berlangsung, karena harus melewati proses pengeditan. Berdasarkan jawaban dari narasumber pemustaka, pemostingan informasi seputar perpustakaan di akun sosial media sangatlah membantu mereka dalam mencari informasi yang mereka butuhkan. Kendati kegiatan infopreneurship di Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Malang telah berlangsung, namun masih tetap diperlukan adanya strategi dan kemampuan pustakawan agar penyampaian informasinya dapat menarik dan tepat guna bagi pemustaka. Salah satunya adalah dengan kemampuan kemas ulang informasi (information repackaging). Pelaksanaan kemas ulang informasi tentunya dibutuhkan sebuah strategi yang matang. Strategi tersebut diperlukan untuk mengukur sejauh mana kegiatan dilakukan dan agar mencapai target dari perpustakaan. Pengemasan ulang informasi perlu memiliki strategi di dalamnya untuk memanfaatkan sumber daya informasi secara maksimal dan membuat inovasi dalam pelayanan (Okoroma, 2014). Beberapa metode dalam pengemasan ulang informasi adalah diantaranya sebagai berikut: 1) Preparation of the first brief Tahap awal adalah menyiapkan dan menyeleksi kebutuhan informasi berdasarkan pengetahuan, pengalaman, serta keterampilan yang dimiliki. Mengenali kebutuhan informasi pengguna adalah hal dasar yang perlu diketahui, agar kegiatan tersebut dapat tersampaikan secara utuh maknanya kepada pemustaka. Dari penelusuran lapangan, diketahui bahwasanya kegiatan penyiapan kebutuhan informasi Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Malang diawali dari mengumpulkan data pengunjung perpustakaan, mengumpulkan data keanggotan perpustakaan, mengumpulkan riwayat transaksi peminjaman pengunjung, serta mengumpulkan data FAQ yang masuk ke akun Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Malang. Semua data-data yang telah dikumpulkan tersebut, dihimpun berdasarkan kategori masing-masing. Misalnya mengenai jam operasional, koleksi yang paling sering dipinjam, status pengunjung, dan lain sebagainya. Timbal balik dari pengguna, merasakan bahwa kebutuhan mereka telah terpenuhi, terlihat dari hasil wawancara terhadap pengguna yang menjawab rata-rata mengatakan telah sesuai dengan kebutuhan informasi mereka. 2) Analysis of the brief) Selanjunya menganalisis sumber referensi secara ringkas terhadap kebutuhan pengguna. Adapun analisis dilakukan terhadap bahan konten yang akan di posting ke website maupun media sosial. Dalam menganalisis bahan konten, perpustakaan perlu mengidentifikasi perilaku pemustaka. Terdapat tiga faktor yang mempengaruhi dalam pengambilan informasi, diantaranya adalah faktor rasionalitas, faktor fenomena, dan faktor keinginan. Faktor rasionalitas terkait kompleksitas pikiran, perasaan, dan tindakan manusia akan informasi. Kemudian faktor fenomena yakni perilaku informasi berfokus kepada kegiatan pembelajaran dan pendidikan, informasi, kesehatan, serta informasi lain yang berguna bagi individu. Adapun faktor keinginan, merupakan rasa antusias individu untuk mendapatkan suatu informasi (Allen, 2019). Merujuk kepada beberapa faktor diatas, perpustakaan harus mampu melayani pemustaka di kalangan digital native (kalangan pemustaka yang bergantung kepada smartphone dan internet) dalam mendapatkan sumber informasi. Serta dituntut untuk dapat menyesuaikan kebutuhan informasi pemustaka di era digital native. Berdasarkan hasil yang ditemui dilapangan, tahap analisis singkat (Analysis of the brief) dilakukan dengan menganalisis bahan konten yang dibutuhkan oleh pemustaka, yakni mengumpulkan informasi mengenai jenis informasi apa saja yang paling sering ditanyakan oleh pemustaka kepada perpustakaan. Seperti jam operasional layanan Lembaga, jenis layanan, serta bentuk kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Malang. Selain itu, lembaga ini juga menyajikan informasi yang bersifat dokumenter. artinya, konten yang diunggah berupa dokumentasi kegiatan yang terjadi di Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Malang. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk dijadikan bahan laporan kegiatan yang telah diselenggarakan oleh perpustakaan serta sebagai sarana promosi. Misalkan postingan mengenai kunjungan-kunjungan dari pihak luar, kegiatan bimbingan teknis perpustakaan, acara lomba, berbagai peringatan hari-hari besar, dan lain sebagainya. 3) Design criteria for the message carrier Langkah ketiga adalah menentukan kriteria desain untuk kemasan produk kemas ulang informasi. Seperti yang diketahui bersama, bahwasanya saat ini pengguna informasi lebih membutuhkan informasi yang fresh, yang menarik, serta yang mudah untuk didapatkan. Fakta tersebut dapat dilihat dari tingginya rating portal berita online di Indonesia yang diakses oleh masyarakat (sumber: (“Website Traffic - Check and Analyze Any Website | Similarweb” t.t.)). Meskipun tidak terdapat standar tertentu dalam mendesain sebuah kemasan produk, namun ada lembaga atau instansi yang mengkhususkan kriteria tersebut. Seperti harus adanya logo; adanya keseragaman warna; adanya alamat akun sosial media; dan lain sebagainya. Pun juga berlaku pada Instansi Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Malang, yang mana memiliki kriteria khusus dalam desain pengemasan produknya. Dari hasil wawancara terhadap narasumber kedua admin(website dan Instagram), terdapat perbedaan dalam penentuan kriteria desain tersebut, untuk desain website, lembaga ini lebih menekankan pada penggunaan template yang telah disediakan oleh Kominfo, yakni berupa css. Penggunaan template tersebut bersifat fleksibel, artinya lembaga tersebut dapat menyesuaikan fitur-fitur website dengan kebutuhan yang ada di perpustakaannya. Misalkan dengan menambahkan link katalog online, link untuk reservasi, link keanggotaan, dan lain sebagainya. Namun, ada beberapa ketentuan template yang tidak dapat dimodifikasi, misalkan seperti ukuran logo header, ketentuan durasi animasi yang bergerak, serta standar ukuran website. Meskipun website telah di modifikasi sendiri, namun Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Malang masih memerlukan tenaga ahli IT yang secara khusus mengelola website tersebut. Dari jawaban narasumber, bahwasanya website dikelola oleh satu orang. Jumlah tersebut dinilai sangat kurang. Setidaknya sekurang-kurangnya harus ada 2 staff atau lebih dalam pengelolaan website. Hal ini dikarenakan dalam mengelola website, dibutuhkan kemampuan khusus yang mana tidak semua pustakawan ada dalam bidang tersebut. Sementara itu, untuk kriteria desain sosial media Instagram lembaga, Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Malang juga telah membuat template desain mandiri. Template tersebut dibuat dengan tujuan untuk menyeragamkan postingan konten informasi yang ada di sosial media Instagram lembaga agar lebih tertata dan rapi, serta untuk memudahkan pengguna dalam menelusuri informasi. Adapun, hal-hal yang harus dicantumkan dalam postingan konten dalam Instagram lembaga seperti; Logo insntansi yang terletak di sebelah pojok kiri atas konten; dan akun seluruh sosial media yang dimiliki lembaga, yang terletak di bagian bawah konten. Sebagai tambahan, alat yang digunakan dalam mendesain bahan konten menurut narasumber adalah berupa aplikasi photoshop(digunakan untuk membuat bahan konten yang seperti poster, infografis, pamflet, dan semacamnya); movie maker; dan capcut (digunakan untuk membuat bahan konten yang berjenis video) 4) Selection of the message carrier Tahapan ini berisi pemilihan gaya dan ukuran penulisan kemasan informasi. Pemilihan gaya penulisan berpengaruh terhadap minat pengguna dalam mengunjungi website maupun akun sosial media lembaga. Hal ini dikarenakan gaya penulisan yang bersifat unik, mampu menarik perhatian masyarakat untuk membacanya lebih detail dan menelusurinya lebih dalam. Menilik dari jawaban wawancara terhadap narasumber pustakawan bagain IT, perbedaan pemilihan gaya penulisan kemasan informasi antara website dan sosial media instagram adalah terdapat pada gaya penyampaiannya. Di website, gaya penulisan bersifat formal dengan narasi yang bersifat deskriptif informatif. Penulisan keterangan ditulis secara lengkap dan utuh. Adapun untuk sosial media instagram, gaya penulisan bersifat persuasif. Penulisan keterangan(caption) berisi intisari kegiatan. 5) Production of the message carrier Tahap ini adalah jenis output dari proses kemas ulang informasi yang sampai ke pengguna. Adapun beberapa jenis produk pengemasan ulang informasi diantaranya sebagai berikut: - Current Awareness Services (CAS), adalah suatu sistem layanan informasi terkini yang tersedia untuk pengguna. - Selective Dissemination of Information (SDI), adalah kemas ulang informasi yang diberikan pada pengguna berdasarkan isu dan topik tertentu. - Analisis dan Konsolidasi Informasi, yakni pengemasan informasi berupa konten informasi dan sumber ilmu baru yang mengkaji suatu topik. - Abstrak, adalah sekumpulan kesimpulan dalam suatu rumusan informasi pada inti publikasi, seperti jurnal, hasil penelitian, dan buku. - Terjemahan dokumen - Direktori, yakni kemasan informasi berbentuk buku referensi yang tertata sesuai abjad. - Newsletter, adalah kemasan informasi yang isinya fleksibel, baik dari segi topik maupun kandungan. Berdasarkan hasil wawancara penulis terhadap kedua narasumber pustakawan, maka dapat dikatakan bahwa pengemasan produk informasi di Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Malang berjenis newsletter (untuk sosial media website). Postingan website lembaga tersebut lebih dominan pada pengumuman atau berita seputar kegiatan yang ada di Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Malang. Adapun output dari proses kemas informasi dalam media sosial instagram berbentuk infografis, poster, pamflet dan video dengan isi seputar kegiatan dan layanan yang dimiliki. Selain itu, di media sosial berisi event-event maupun jadwal kegiatan yang akan dilakukan, dengan dikemas berupa postingan maupun bentuk reel. 6) Feedback system planning Adalah tahap mengevaluasi hasil dari kegiatan kemas ulang informasi, dilakukan guna menghasilkan feedback sehingga dapat menilai tingkat keberhasilan pengemasan ulang informasi. Dalam kasus kemas ulang informasi di Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Malang memberikan beberapa dampak baik dampak untuk perpustakaan maupun dampak untuk pemustaka/pengguna. Adapun dampak dari infopreneurship bagi perpustakaan salah satunya dapat dilihat dari statistik kunjungan pemustaka. Berikut merupakan rekapan data pengunjung perpustakaan dari rentang tahun 2021-2022. Data di atas menunjukkan bahwa jumlah kunjungan pemustaka pada Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Malang tahun 2021 secara offline mengalami kenaikan, terutama pada bulan Maret di triwulan pertama sebanyak 2.647 pengunjung sebelum kemudian mengalami penurunan menjadi 1.114 hingga akhir tahun 2021. Sedangkan kunjungan online pada tahun 2021 paling banyak terjadi pada bulan Februari yaitu 6.047 pengunjung, hingga kemudian menurun di bulan berikutnya menjadi 4.883 hingga akhir tahun. Diketahui jumlah pengunjung offline maupun online perpustakaan belum dapat disimpulkan serta data yang tersaji masih belum tepat, dimana pada bulan april-desember mengalami postpone pada website perpustakaan. Berdasarkan jawaban dari kegiatan interview dengan narasumber pustakwan bagian IT, data tersebut merupakan data yang belum lengkap, dikarenakan tahun 2021 mulai April Desember terkendala covid dan seluruh layanan perpustakaan tutup, sehingga pelayanan berfokus kepada berbasis online, sedangkan di media sosial telah ada datanya (insight). Namun untuk website, ip addressnya tidak bisa terdeteksi, sehingga saat itu akumulasi hanya berpatok kepada layanan OPAC (yang bisa dilihat jumlah viewer per harinya). Kemudian data tersebut masih dihimpun serta masih dalam proses pengolahan, sehingga belum dapat dipastikan kepastian jumlahnya (update). Kurangnya sumber daya manusia (SDM) dalam bidang IT di Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Malang membuat rekapitulasi data pengunjung pada website masih dalam proses pengolahan hingga saat ini. Diketahui bahwa data jumlah pengunjung tahun 2022 di Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Malang, terlihat fluktuatif baik kunjungan secara offline maupun online. Namun kunjungan offline paling banyak tahun ini ialah terjadi pada bulan April yang meningkat drastis, yaitu sebanyak 6.010 pengunjung, sedangkan kunjungan online pada bulan yang sama mengalami penurunan dari bulan-bulan sebelumnya. Dari data tersebut, peneliti melakukan penelitian lebih dalam mengenai penyebab mengapa kunjungan Dinas Perpustakaan Daerah dan Arsip Kota Malang mengalami fluktuasi yang signifikan setiap bulannya. Dimana mulai dari bulan Januari hingga bulan Mei tahun 2022, pengunjung perpustakaan umum secara fisik/offline/tatap muka setiap bulannya mengalami peningkatan dan penurunan. Tercatat pengunjung perpustakaan umum paling banyak terjadi pada bulan April 2022, yaitu sebanyak 6010. Sedangkan untuk pengunjung perpustakaan via online seperti pada website perpustakaan maupun sosial media perpustakaan yang lain, dapat disimpulkan bahwa data pengunjungnya justru rata rata mengalami penurunan jumlah pengunjung pada setiap bulannya. Salah satu contohnya adalah pengunjung website perpustakaan, dimana terlihat pada bulan Januari 2022 terdapat jumlah pengunjung sebanyak 1477, kemudian mengalami penurunan menjadi 609 pengunjung pada update terakhir di bulan Mei 2022. Pihak perpustakaan menanggapi fluktuasi data tersebut dengan membenarkan pola grafik naik-turun yang terjadi. Hal tersebut merupakan hal yang lumrah karena daya tarik pengunjung di tiap momen itu berbeda. Narasumber pustakawan juga menjelaskan bahwa apabila perpustakaan memiliki event - event besar pada bulan januari - maret, otomatis daya tarik pengunjung juga ikut meningkat, pun sebaliknya jika “euphoria” dari event tersebut telah berlalu, maka grafiknya akan menurun kembali. Kemudian juga dipengaruhi oleh masa libur sekolah, jika bulan Januari - hingga Maret masih diberlakukan sekolah daring, otomatis jumlah pengunjung online meningkat, pun sebaliknya. Adapun dampak langsung yang didapatkan bagi para pengguna website dan sosial media perpustakaan yang diperoleh melalui hasil dari wawancara terhadap 10 pemustaka antara lain sebagai berikut: 1. Pengguna merasa informasi yang mereka dapat dari website maupun dari instagram dirasa cukup memuaskan dan juga dapat dibilang telah memenuhi kebutuhan informasinya. Hal ini terbukti dari hasil wawancara penulis dengan pengguna yang mengatakan bahwa kebutuhan pengguna mereka telah terpenuhi. Sebagian besar dari mereka mencari informasi seputar peminjaman buku, pelayanan, jam operasional dan fasilitas yang disediakan, serta OPAC untuk menelusur informasi yang dibutuhkan. 2. Terkait konten yang telah tersaji, dirasa cukup menarik dan informatif bagi pemustaka. Apabila ditilik dari jawaban pemustaka, kriteria ‘menarik’ tersebut diukur dari penggunaan desain template-nya. Seperti keseragaman template, kesesuaian antara pemilihan warna dengan isi konten, serta kesesuaian pemilihan animasi dalam setiap unggahannya. Tak luput, pemilihan diksi dan gaya bahasa dalam penyampaiannya pun menjadi pertimbangan pengguna. 3. Pemasaran yang dilakukan di sosial media cukup efektif, karena saat ini masyarakat cenderung mencari informasi melalui media digital. Sehingga penyebaran informasi menjadi lebih cepat dan mampu menjangkau dengan jangkauan yang lebih luas. Kemudian dapat diakses dimana saja dan kapan saja, serta dari media sosial pula memudahkan promosi perpustakaan yang lebih variatif lagi. 4. Pemustaka merasa terbantu dengan adanya pemasaran via online yang dilakukan perpustakaan, karena aksesnya mudah, efisiensi waktu dan biaya (tidak perlu ke perpustakaan untuk mencari koleksi fisik).
Conclusion
Berdasarkan pemaparan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwasanya implementasi kegiatan infopreneurship di Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Malang telah berlangsung cukup lama. Tentu, hal tersebut sedikit banyaknya turut berpengaruh terhadap jumlah pengunjung perpustakaan. Selain daripada itu, pelaksanaan kegiatan infopreneurship juga turut membawa dampak terhadap pola perilaku pencarian informasi para pemustaka. Yang mana, pemustaka tersebut merasa sangat terbantu dengan adanya kegiatan infopreneurship ini. Hal tersebut dikarenakan, sistem pemasaran via online ini apabila diukur dari segi biaya, waktu, cakupan audiens, serta kecepatan dan ketepatan penyampaian informasi, sangat efektif untuk dilakukan. Kendati demikian, perpustakaan harus tetap melakukan evaluasi setiap saat terhadap konten-konten yang di posting. Hal ini dimaksudkan dengan tujuan agar audiens yang dicapai tidak hanya merujuk pada kaum millennial saja, melainkan ke seluruh lapisan masyarakat, baik dari anak-anak maupun orang tua sekalipun. Adapun saran dari hasil penelitian yang telah dilakukan diantaranya memberikan bentuk konten pada website maupun instagram menjadi tampilan yang lebih menarik minat untuk membaca namun tetap dengan menerapkan template konten yang sudah ditetapkan oleh Perpustakaan Umum Kota Malang. Hal tersebut akan berdampak lagi kepada tingkat pengunjung online pada perpustakaan yang akan lebih meningkat. Selain itu juga mengadakan pelatihan untuk para staf perpustakaan khususnya pada bagian admin website dan sosial media tentang pengolahan konten sosial media perpustakaan yang baik dan menarik atau kegiatan pelatihan optimalisasi website perpustakaan. Hal tersebut akan berdampak pada staf perpustakaan untuk mendapatkan ilmu baru yang dapat diterapkan sehingga meningkatkan kualitas produk infopreneurship perpustakaan kedepannya