Evaluasi Program ‘Pustakawan Terpelajar’ dengan Model Stake di MAN 1 Bandung
Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia
Abstrak
Penelitian ini mengevaluasi efektivitas program “Pustakawan Terpelajar” di MAN 1 Bandung menggunakan Model Evaluasi Ekspresi Wajah Stake. Program ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan literasi siswa dan kemampuan manajemen perpustakaan dengan melibatkan mereka dalam pengorganisasian sumber daya perpustakaan dan memimpin kegiatan literasi. Proses evaluasi dibagi menjadi tiga fase: antecedents (persiapan), transactions (pelaksanaan), dan outcomes (hasil). Pengumpulan data meliputi observasi, wawancara dengan pemangku kepentingan utama, dan tinjauan dokumen, dengan fokus pada partisipan siswa yang aktif. Temuan menunjukkan bahwa program ini secara signifikan meningkatkan literasi, kepemimpinan, dan keterampilan organisasi siswa. Partisipasi aktif dalam sesi literasi mingguan dan tur perpustakaan meningkatkan keterlibatan siswa dalam pengelolaan perpustakaan dan aktivitas membaca. Namun, penelitian ini mengidentifikasi tantangan seperti keterbatasan sumber daya manusia dan infrastruktur, yang mempengaruhi keberlanjutan program. Kesimpulannya, program ini berhasil mencapai tujuannya, dengan rekomendasi untuk meningkatkan alokasi sumber daya, meningkatkan keterlibatan guru, dan memperbaiki infrastruktur perpustakaan guna memastikan keberhasilan dan perluasan program di masa depan.
Abstract
This study evaluates the effectiveness of the “Pustakawan Terpelajar” program at MAN 1 Bandung using the Stake Facial Expression Evaluation Model. The program aims to improve students' literacy skills and library management abilities by involving them in organizing library resources and leading leading literacy activities. The evaluation process is divided into three phases: antecedents (preparation), transactions (implementation), and outcomes (results). Data collection includes observation, interviews with key stakeholders, and document review, with a focus on active student participants. Findings indicate that the program significantly improves students' literacy, leadership, and organizational skills. Active participation in weekly literacy sessions and library tours increased student engagement in library management and reading activities. However, this study identified challenges such as limited human resources and infrastructure, which affect the sustainability of the program. In conclusion, the program successfully achieved its objectives, with recommendations to increase resource allocation, enhance teacher involvement, and improve library infrastructure to ensure the program's success and expansion in the future.
Keywords:
Evaluation
· Literacy
· Library Management
· Pustakawan Terpelajar
· Stake’s Countenance Evaluation Model
Introduction
Dalam lanskap pendidikan yang terus berkembang pesat (Suratmi, 2021), peran perpustakaan dan pustakawan dalam meningkatkan lingkungan akademik tidak dapat dipandang remeh (Alpian & Ruwaida, 2022). Perpustakaan, beserta para profesional yang mengelolanya, menjadi fondasi utama dalam proses pembelajaran di lembaga pendidikan (Afian & Saputra, 2021). Perpustakaan bukan hanya tempat penyimpanan informasi; mereka adalah pusat pembelajaran aktif yang membentuk pengetahuan dan keterampilan siswa (Damanik dkk., 2023). Sesuai dengan visi ini, program ‘Pustakawan Terpelajar’ di MAN 1 Bandung dirancang untuk membekali siswa dengan keterampilan, pengetahuan, dan kompetensi profesional yang diperlukan untuk mendukung dan meningkatkan kinerja akademik siswa secara efektif (Nisa, 2023). Salah satu program yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan ini adalah inisiatif “Pustakawan Terpelajar” di MAN 1 Bandung, yang bertujuan untuk membekali siswa dengan keterampilan yang diperlukan untuk mengelola perpustakaan sekolah secara efektif sambil berperan sebagai katalisator literasi di komunitas mereka (Maulida, 2024). Dampak program ini terhadap keterampilan literasi siswa dan potensinya dalam membentuk manajer perpustakaan masa depan tetap menjadi area penelitian pendidikan yang penting (Rodin dkk., 2021). Evaluasi program semacam ini dapat memberikan informasi berharga tentang efektivitasnya dan memberikan masukan untuk pengembangan program serupa di masa depan (Fadhli, 2021). Penelitian sebelumnya tentang evaluasi program di lingkungan pendidikan sering menyoroti pentingnya model evaluasi yang sistematis dan terstruktur untuk menilai keselarasan praktik pendidikan dengan tujuan yang telah ditetapkan (Al Nur dkk., 2025). Di antara berbagai kerangka kerja evaluasi yang tersedia, Model Evaluasi Countenance Stake telah muncul sebagai alat yang banyak digunakan untuk menilai implementasi dan efektivitas program (Ismail dkk., 2023). Model ini berfokus pada tiga tahap esensial evaluasi: antecedents (input dan perencanaan), transactions (proses dan aktivitas selama implementasi program), dan outcomes (hasil dan dampak program) (Sunjono, 2023). Kekuatan fleksibilitas dan adaptabilitas model ini menjadikannya sangat cocok untuk lingkungan pendidikan seperti MAN 1 Bandung, di mana keselarasan antara perencanaan, pelaksanaan, dan hasil sangat krusial untuk memastikan bahwa Program Pustakawan Terpelajar mencapai tujuannya. Misalnya, penelitian dalam manajemen pendidikan, seperti studi oleh Ismail dkk. (2023), menunjukkan kegunaan Model Countenance Stake dalam mengevaluasi program, termasuk pembelajaran jarak jauh dan pendidikan karakter. Metode evaluasi ini membagi penilaian menjadi tiga komponen utama: prasyarat, proses, dan hasil, sehingga memungkinkan analisis komprehensif terhadap implementasi program dan dampaknya. Fleksibilitas model ini telah berguna dalam memahami bagaimana strategi pendidikan yang berbeda, seperti manajemen perpustakaan, dapat dievaluasi untuk memastikan mereka mencapai tujuan mereka. Selain itu, temuan dari evaluasi lain, seperti yang dilakukan oleh Triwiyanto dkk. (2023), menunjukkan bahwa perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pendidikan baik dalam manajemen sekolah maupun program perpustakaan membutuhkan pendekatan yang terkoordinasi. Pelibatan siswa dalam proses ini, bersama dengan kepemimpinan yang efektif dan perencanaan yang jelas, dapat secara signifikan meningkatkan hasil program. Oleh karena itu, kesuksesan program “Pustakawan Terpelajar” akan bergantung pada faktor-faktor serupa: kondisi pendahulu yang jelas, transaksi yang efektif (proses pembelajaran dan pengajaran), serta hasil yang diukur dengan baik. Penelitian tentang program bimbingan konseling, seperti karya Kusumaningrum dkk. (2024), telah menunjukkan kegunaan Model Stake Countenance dalam mengevaluasi implementasi program bimbingan konseling di sekolah. Temuan mereka menyoroti kebutuhan akan perbaikan dalam jumlah konselor, infrastruktur, dan dokumentasi untuk memastikan bahwa hasil dapat diukur dan ditingkatkan secara efektif. Dalam konteks implementasi kurikulum, seperti dalam studi tentang Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran bahasa Inggris oleh Wasono dkk. (2025), Model Stake Countenance memberikan wawasan berharga mengenai perencanaan, pelaksanaan, dan hasil kurikulum. Penelitian menunjukkan bahwa meskipun aspek perencanaan dan pelaksanaan program secara umum berhasil, beberapa area seperti penilaian sikap siswa membutuhkan perhatian dan perbaikan lebih lanjut. Mengingat tujuan pendidikan program “Pustakawan Terpelajar”, diduga bahwa kesuksesan program ini akan sangat bergantung pada sejauh mana perencanaan, pelaksanaan, dan hasilnya selaras dengan tujuan pendidikan yang diinginkan. Selain itu, diharapkan bahwa ketidaksesuaian antara tahap-tahap tersebut dapat mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan dalam desain dan implementasi program, sehingga dapat menjadi panduan untuk perbaikan di masa depan (Musa dkk., 2024). Keunikan penelitian ini terletak pada penerapan Model Evaluasi Stake secara khusus pada program “Pustakawan Terpelajar” di MAN 1 Bandung, suatu bidang evaluasi yang belum banyak dieksplorasi dalam konteks program manajemen perpustakaan sekolah di Indonesia. Temuan studi ini akan berkontribusi pada literatur yang lebih luas tentang evaluasi program pendidikan, khususnya dalam bidang pengembangan literasi melalui manajemen perpustakaan sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas program “Pustakawan Terpelajar” di MAN 1 Bandung dengan menggunakan Model Evaluasi Ekspresi Wajah Stake. Secara spesifik, penelitian ini akan menganalisis kesesuaian dan keterkaitan antara antecedents, transactions, dan outcomes program, dengan tujuan memberikan rekomendasi untuk perbaikan program dan memastikan program tersebut terus memenuhi kebutuhan literasi dan manajemen perpustakaan siswa.
Method
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk memperoleh pemahaman mendalam tentang program Pustakawan Terpelajar di MAN 1 Bandung. Penelitian ini berfokus pada tiga teknik pengumpulan data utama: observasi, wawancara, dan dokumentasi. Metode-metode ini memungkinkan analisis komprehensif terhadap implementasi program, tantangan yang dihadapi, dan hasil yang dicapai. Data dari ketiga sumber tersebut dianalisis menggunakan analisis di seluruh observasi, wawancara, dan dokumen. Analisis ini mendapatkan kelompok data ke dalam bagian fase yang bisa diinpretasikan. Triangulasi sumber data ini memastikan validitas dan keandalan temuan (Adelliani dkk., 2023). Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling, dengan ketua program dipilih sebagai narasumber wawancara karena perannya yang sentral dalam mengawasi program tersebut. Siswa yang diamati adalah mereka yang aktif terlibat dalam Program Pustakawan Terpelajar. Hal ini untuk memastikan bahwa penelitian ini berfokus pada mereka yang langsung terlibat dalam kegiatan ’Pustakawan Pelajar’ tersebut. Penelitian ini dilakukan selama dua kali pada tanggal 17 April 2025 dan 28 April 2025.
Result & Discussion
Program ’Pustakawan Terpelajar’ di MAN 1 Bandung dievaluasi menggunakan Model Stake, dengan hasilnya dikelompokkan ke dalam tiga fase utama yaitu antecedents, transactions, dan outcomes. Tabel 1. Antecedents Model Stake Program ‘Pustakawan Pelajar’ MAN 1 Bandung Antecedents (Fase Persiapan) Siswa: Pada tahap persiapan, siswa yang terlibat dalam program ini mendapatkan orientasi dan pelatihan tentang manajemen perpustakaan dan promosi literasi. Seperti yang dijelaskan oleh kepala program, Pak Yusri, “Kami memulai program dengan memberikan dasar-dasar mengenai manajemen perpustakaan, bagaimana cara merawat buku, dan pentingnya literasi dalam kehidupan akademik mereka”. Tahap ini bertujuan untuk membekali siswa dengan keterampilan yang mereka butuhkan untuk membantu mengelola perpustakaan secara efisien. Guru: Guru-guru, terutama Pak Yusri dan Pak Jakin, memainkan peran penting dengan membimbing siswa melalui fase persiapan, memastikan bahwa tujuan program selaras dengan kurikulum sekolah. Menurut Pak Jakin, guru guru terlibat secara aktif dalam memastikan program ini berkontribusi pada tujuan pendidikan yang lebih luas: “Kami memantau kegiatan mereka sejak awal, memberikan arahan, dan memastikan program ini sesuai dengan tujuan pembelajaran yang lebih besar di sekolah.” Keselarasan antara fase pendahuluan (persiapan) dan fase transaksional (pelaksanaan) merupakan faktor kritis dalam kesuksesan program ini. Serupa dengan Ismail dkk. (2023), yang menekankan pentingnya prasyarat yang jelas dan transaksi yang terstruktur dengan baik, penelitian ini menemukan bahwa fase persiapan menjadi landasan yang kokoh bagi para siswa. Guru memastikan bahwa siswa dilengkapi dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas-tugas pengelolaan perpustakaan. Transisi ke fase implementasi berjalan lancar, dengan siswa aktif berpartisipasi dalam kegiatan perpustakaan. Seperti yang ditekankan oleh Pak Jakin, “Kolaborasi antara guru dan siswa sangat penting, karena keberhasilan program ini bergantung pada komitmen mereka berdua.” Tabel 2. Transactions Model Stake Program ‘Pustakawan Pelajar’ MAN 1 Bandung Transactions (Fase Implementasi) Siswa: Selama fase implementasi, siswa secara aktif berpartisipasi dalam mengorganisir sumber daya perpustakaan, mengelola buku, dan memimpin acara literasi. Mereka juga terlibat dalam Program Literasi Mingguan (Pekanan Literasi), di mana mereka mengikuti sesi membaca, meninjau buku, dan menjelaskan materi kepada teman-teman sebaya. Seorang siswa, Hanif, mengatakan: “Saya merasa lebih percaya diri setelah memimpin sesi literasi dan belajar banyak tentang cara mengelola koleksi buku di perpustakaan”. Siswa juga terlibat dalam Wisata Literasi, mengunjungi perpustakaan lain untuk mempelajari sistem pengelolaan perpustakaan yang berbeda. Partisipasi langsung ini membantu meningkatkan keterampilan organisasi, berbicara di depan umum, dan kepemimpinan mereka. Guru: Guru-guru terus mendukung siswa dalam fase implementasi. Pak Yusri menekankan pentingnya kolaborasi antara guru dan siswa, dengan mengatakan, “Kami mendorong siswa untuk lebih aktif, baik dalam kegiatan literasi maupun pengelolaan perpustakaan, agar mereka mendapatkan pengalaman yang berguna untuk masa depan.” Guru-guru memberikan pengawasan, bimbingan, dan motivasi secara berkelanjutan sepanjang program, memastikan bahwa siswa tetap fokus pada tugas-tugas mereka. Fase transaksional menghasilkan hasil positif, sebagaimana terlihat dari peningkatan literasi dan keterampilan organisasi siswa. Hal ini sejalan dengan penelitian Kusumaningrum dkk. (2024), yang menekankan pentingnya keterlibatan siswa dalam mencapai tujuan program. Partisipasi aktif siswa dalam program Pekanan Literasi dan Wisata Literasi menghasilkan peningkatan yang terukur dalam kemampuan kepemimpinan mereka dan pemahaman mereka tentang sistem manajemen perpustakaan. Menurut Hanif, kegiatan program tidak hanya meningkatkan kepercayaan dirinya tetapi juga memicu minat baru dalam membaca, menunjukkan bahwa fase transaksional memiliki dampak signifikan terhadap perkembangan siswa. Tabel 3. Outcomes Model Stake Program ‘Pustakawan Pelajar’ MAN 1 Bandung Outcomes (Fase Hasil) Siswa: Fase hasil menunjukkan peningkatan signifikan dalam literasi dan keterampilan manajemen perpustakaan siswa. Banyak siswa mengungkapkan minat yang meningkat dalam membaca dan mengunjungi perpustakaan. Jasmine Syifa Raihana berkomentar, “Sebelum mengikuti program ini, saya tidak terlalu tertarik dengan perpustakaan. Sekarang, saya sering datang ke perpustakaan untuk membaca buku dan membantu teman-teman yang membutuhkan”. Kesuksesan program ini terlihat jelas dari peningkatan tanggung jawab dan keterampilan kepemimpinan siswa saat mereka membantu mengelola kegiatan perpustakaan. Guru: Guru-guru mencatat dampak positif program ini terhadap perkembangan akademik dan pribadi siswa. Pak Yusri mengamati, “Saya melihat kemajuan yang signifikan pada siswa yang mengikuti program ini. Mereka lebih disiplin, lebih baik dalam memimpin acara, dan lebih antusias dalam membaca.” Guru-guru juga menyoroti bahwa program ini tidak hanya meningkatkan literasi siswa tetapi juga menumbuhkan kerja sama tim dan rasa tanggung jawab. Kesuksesan program Pustakawan Terpelajar semakin memperkuat temuan Al Nur dkk (2025) yang menekankan pentingnya kerangka evaluasi terstruktur dalam program pendidikan. Keselarasan program antara prasyarat, proses, dan hasil memungkinkan penilaian komprehensif terhadap efektivitasnya. Umpan balik positif dari siswa dan guru membuktikan bahwa program ini berhasil mencapai tujuannya, meningkatkan keterampilan literasi siswa dan menumbuhkan rasa tanggung jawab serta kepemimpinan. Selain itu, penekanan program pada kolaborasi, ekspektasi yang jelas, dan partisipasi aktif siswa sejalan dengan kesimpulan Triwiyanto dkk. (2023), yang menemukan bahwa pendekatan terkoordinasi menghasilkan hasil yang sukses dalam program pendidikan. Temuan dari studi ini sejalan dengan temuan (Ismail dkk., 2023) dan (Fadhli, 2021), yang menekankan pentingnya model evaluasi terstruktur dalam memastikan keberhasilan program pendidikan. Studi-studi ini juga menyoroti peran kritis keterlibatan siswa dan partisipasi guru dalam mencapai hasil positif. Namun, berbeda dengan beberapa studi yang melaporkan tantangan dalam implementasi dan pemeliharaan program akibat keterbatasan sumber daya atau koordinasi yang buruk, program Pustakawan Terpelajar di MAN 1 Bandung berhasil mengatasi hambatan tersebut berkat dukungan kuat dari guru dan partisipasi aktif siswa. Dalam implementasi program Pustakawan Terpelajar di MAN 1 Bandung, terdapat beberapa tantangan yang dihadapi, baik dari segi pelaksanaan maupun dari sudut pandang sumber daya. Tantangan utama yang dihadapi adalah keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dalam mengelola kegiatan literasi dan perpustakaan. Sebagaimana yang disampaikan oleh Pak Yusri, salah satu pustakawan, keberhasilan program ini sangat bergantung pada motivasi dan dukungan dari pihak pimpinan sekolah serta keterlibatan aktif guru dan siswa. Tantangan ini mencerminkan pentingnya citra yang positif terhadap perpustakaan, yang juga menjadi hambatan dalam meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan literasi. Selain itu juga, masalah infrastruktur menjadi kendala besar, terutama dalam mengembangkan layanan perpustakaan yang optimal. Meskipun demikian, keberadaan program seperti Aksi Literasi Madrasah (AKLIMA) dan Pekanan Literasi memberikan dampak positif dengan meningkatkan minat baca siswa. Namun, kurangnya anggaran untuk pengadaan koleksi buku terbaru sering kali menjadi tantangan yang mempengaruhi kualitas dan keberlanjutan program literasi. Evaluasi program melalui model Stake menunjukkan bahwa meskipun ada kemajuan yang signifikan dalam keterlibatan siswanya, masih diperlukan perbaikan dalam koordinasi dan pelibatan seluruh stakeholder untuk memastikan keberlanjutan program. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman evaluasi program pendidikan, khususnya dalam konteks manajemen perpustakaan berbasis sekolah. Model Stake yang digunakan dalam evaluasi program ini memperlihatkan bahwa evaluasi berbasis antecedents (pebndahuluan), transactions (implementasi), dan outcomes (hasil) dapat memberikan gambaran menyeluruh mengenai efektivitas program. Hasil dari penelitian ini mendukung konsep perencanaan yang jelas, implementasi yang terstruktur, dan evaluasi yang berkelanjutan, yang sudah terbukti penting dalam penelitian-penelitian sebelumnya oleh Ismail dkk. (2023) dan Kusumaningrum dkk. (2024). Secara praktis, temuan ini menunjukkan pentingnya kolaborasi yang lebih baik antara guru, siswa, dan pihak administrasi untuk memastikan program literasi dapat berjalan dengan efektif. Pengelolaan koleksi perpustakaan yang lebih baik, baik dari segi digitalisasi maupun aksesibilitas koleksi, juga menjadi langkah penting untuk meningkatkan minat baca siswa. Selain itu, peningkatan anggaran perpustakaan dan dukungan dari pimpinan sekolah sangat diperlukan untuk memastikan keberlanjutan program ini. Program-program literasi yang melibatkan media sosial dan promosi langsung dari pustakawan pelajar, seperti yang dilakukan oleh Hanif beserta anggotanya, dapat dijadikan contoh praktik baik yang dapat diterapkan di sekolah-sekolah lain untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan literasi
Conclusion
Program "Pustakawan Terpelajar" di MAN 1 Bandung telah terbukti berhasil dalam meningkatkan keterampilan literasi siswa, keterampilan kepemimpinan, dan kemampuan mereka untuk mengelola perpustakaan. Fase antecedents, transactions, dan outcomes program dievaluasi melalui evaluasi Model Stake. Siswa memperoleh keterampilan yang diperlukan untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan perpustakaan seperti Pekanan Literasi dan Wisata Literasi melalui pelatihan manajemen perpustakaan dan promosi literasi. Guru berkontribusi besar terhadap kesuksesan program karena mereka berperan penting dalam membimbing siswa dan memastikan mereka sesuai dengan tujuan pendidikan. Umpan balik positif dari guru dan siswa menunjukkan peningkatan literasi, kepemimpinan, dan pengembangan pribadi. Ini juga menegaskan betapa pentingnya siswa berpartisipasi secara aktif. Perluasan sumber daya perpustakaan, mempertahankan keterlibatan guru, peningkatan infrastruktur, dan peningkatan partisipasi komunitas adalah beberapa saran untuk meningkatkan program. Hasil ini mendukung nilai kerangka evaluasi terstruktur dalam program pendidikan dan membantu memahami hubungan antara perencanaan, pelaksanaan, dan hasil. Program ini memberikan contoh bagi sekolah lain untuk memasukkan manajemen perpustakaan dan literasi ke dalam kurikulum mereka, memastikan siswa mendapatkan pengalaman pendidikan yang luas.