Kembali
16
1
2021 Informatio: Journal of Library and Information Science Vol 1 · 1 ISSN 2775-0043

Hubungan knowledge sharing dengan inovasi pengelola taman baca masyarakat di Jawa Barat

Farianto & Darmanto Law Firm Jakarta; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran

Abstrak

Dunia dihadapkan dengan fenomena hypercompetition, di mana cara kerja diharuskan berubah menjadi lebih dinamis dan modern. Fenomena ini mencakup ke semua aspek, termasuk dunia perpustakaan dan literasi Indonesia. Berhadapan dengan masalah yang baru, dunia perpustakaan dan literasi Indonesia juga sebenarnya masih berusaha menyelesaikan masalah lamanya, yaitu rendahnya tingkat literasi Indonesia. Taman Baca Masyarakat (TBM) hadir dengan tujuan untuk mengingkatkan tingkat literasi Indonesia. Namun banyak TBM yang baru didirikan cenderung bersifat statis dan tradisional, yang mana sudah tidak relevan dengan zaman. Forum Taman Baca Masyarakat Jawa Barat (FTBM Jawa Barat) hadir guna membantu TBM supaya bisa tetap relevan dengan zaman. Dalam kegiatannya, FTBM Jawa Barat menerapkan Knowledge Management secara umum dan Knowledge Sharing secara khusus. Penelitian ini mengkaji tentang peran Knowledge Sharing dan seberapa besar hubungannya terhadap inovasi pengelola TBM. Knowledge Sharing sendiri memiliki dua dimensi, yaitu; Knowledge Donating dan Knowledge Collecting. Populasi dari penelitian ini adalah FTBM Jawa Barat, dengan sampel berjumlah 67 orang pengelola TBM. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan analisis korelasional, pengujian hipotesisnya mengujikan Knowledge Donating, Collecting, dan Sharing dengan Inovasi Pengelola. Hasil penelitian Knowledge Donating, Collecting, dan Sharing masing-masing mempunyai hubungan dengan Inovasi Pengelola, dengan koefisien determinasinya, secara berurutan, sebesar 17,47%; 20,88%; dan 27,66%. Hal ini menunjukkan bahwa Inovasi Pengelola di FTBM Jawa Barat tidak tercipta semata-mata karena adanya Knowledge Sharing, banyak faktor lainnya yang memengaruhi, salah satunya adalah lamanya pengalaman seseorang dalam mengelola TBM. Kedepannya, pelaksanaan Knowledge Sharing di FTBM Jawa Barat diharapkan lebih dinamis lagi, dengan memperluas referensi hal yang diinovasikan dan kolaborasi dengan komunitas lain di luar komunitas literasi, hal ini agar menambah sudut pandang baru Pengelola TBM di FTBM Jawa Barat.

Abstract

The world is now facing the phenomenon of hypercompetition, where working procedure is required to change to be more dynamic and modern. This phenomenon covers all aspects, including Indonesian library world and Indonesian literacy. Faced with new problems, Indonesian library world and Indonesian literacy has actually been trying to solve its old issue: the low level of Indonesian literacy. Community Reading Park (TBM) exists with the aim of increasing the level of Indonesian literacy. However, many newly established TBMs tend to be static and traditional, which are no longer relevant to modern times. West Java Community Reading Park Forum (West Java FTBM) is present to help TBMs stay relevant with present situation. In its activities, West Java FTBM applies Knowledge Management in general and Knowledge Sharing in particular. This study examines the role of Knowledge Sharing and how much it relates to innovation in TBM managers. Knowledge Sharing itself has two dimensions, namely; Knowledge Donating and Knowledge Collecting. The population in this study was West Java FTBM, with a sample of 67 TBM managers. The method used was quantitative with correlational analysis, and hypotheses testing was done by testing Knowledge Donating, Collecting, and Sharing with Manager’s Innovations. The research results of Knowledge Donating, Collecting, and Sharing each had relationship with Manager’s Innovation, with the coefficient of determination, sequentially, 17.47%; 20.88%; and 27.66%. This shows that Manager’s Innovation in West Java FTBM was not created solely because of Knowledge Sharing, but many other factors affected it, one of which is the length of one's experience in managing TBM. In the future, the implementation of Knowledge Sharing in West Java FTBM is expected to be even more dynamic by expanding references to things innovated and collaborating with other communities, this is to add a new point of view for TBM Managers in West Java FTBM
Keywords: Knowledge sharing · Knowledge donating · Knowledge collecting · Inovasi · TBM

Introduction

TBM (Taman Baca Masyarakat) merupakan sebuah organisasi/program yang memiliki latar belakang yang cukup panjang. Hal ini bermula dengan didirikannya Taman Pustaka Rakyat (TPR) pada tahun 1950-an oleh Pendidikan Masyarakat yang kemudian dilakukan pembaharuan melalui program Taman Baca Masyarakat (TBM) pada tahun 1992/1993, (Suwanto 2019). TBM dibuat dengan tujuan untuk menanamkan budaya membaca yang sekaligus untuk meningkatkan tingkat literasi masyarakat Indonesia. TBM di Indonesia dapat dibaratkan dengan tumbuhan musiman yang terus tumbuh dan tumbang seiring dengan berjalannya waktu. Pertumbuhan TBM pada umumnya dilandasi dengan kepedulian beberapa pihak yang ingin menumbuhkan minat belajar. Tumbangnya sebuah TBM lebih sering dikarenakan alasan krisis pengelolaan. Meskipun tumbuh dan tumbang secara berganti, TBM tetap berpegang teguh pada tujuannya, dan terus melakukan aktivitas organisasinya. Puluhan tahun lamanya berdiri, TBM tentu saja memiliki banyak masalah yang menghadang pada proses perkembangannya. Salah satunya adalah apa yang peneliti temukan di Kemah Literasi Jawa Barat tahun 2019, yaitu masih banyak pengelola TBM yang memiliki mindset statis dan tradisional. Mindset statis dan tradisional adalah pola pikir pengelola TBM, cara mereka mendapatkan sumbangan buku, target permohonan hibah buku, dan cara mengajak masyarakat untuk mau membaca, bukan belajar, tapi hanya membaca secara umum. Padahal dunia sudah dihadapkan dengan fenomena hypercompetition. Menurut Johannessen et al. (1999), fenomena ini mengartikan bahwa kita hidup di zaman di mana keunggulan bukanlah sesuatu yang mutlak, keunggulan hanya berlaku untuk waktu yang singkat saja, dikarenakan berbagai macam gangguan dan keadaan. Fenomena ini tentu saja mengubah cara kerja dunia secara drastis, dunia yang tadinya berpegang pada cara kerja yang statis dan tradisional berubah menjadi dinamis dan modern. Perubahan cara kerja dunia umumnya dan yang paling terlihat dampaknya, ada pada dunia bisnis, namun suka tidak suka dunia perpustakaan dan literasi pun dituntut untuk berubah mengikuti perubahan cara kerja dunia, menjadi dinamis dan modern. Menurut Miller dan McKenna (2016) TBM dan pengelolanya dihadapkan dengan fakta bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara yang hanya mengungguli Botswana di peringkat ke-61 dalam hal gemar belajar. Kenyataan ini merupakan hal yang kontradiktif mengingat usaha TBM untuk menanamkan budaya membaca yang sekaligus untuk meningkatkan tingkat literasi masyarakat Indonesia, menghasilkan “rapor merah”. Salah satu penyebab “rapor merah” itu bisa jadi karena mindset statis dan tradisional yang salah mengartikan apa itu TBM dan aktivitas yang bisa dilakukannya. TBM tidak hanya sebagai tempat buku saja, TBM berkembang sebagai pusat kreasi dan munculnya ide-ide baru yang ada di masyarakat dalam mewujudkan minat baca dan literasi di masyarakat (Pramudyo et al., 2018). TBM berusaha untuk memberikan layanan dan memenuhi kebutuhan bacaan masyarakat dengan menyediakan koleksi serta kegiatan-kegiatan untuk meningkatan wawasan masyarakat. Untuk mewujudkan peran TBM, TBM harus terus berupaya melakukan inovasi kegiatan secara aktif (Pramudyo et al., 2018). TBM yang merupakan sebuah organisasi, dituntut untuk mampu menstimulus sikap inovatif dari anggota organisasinya, dalam hal ini para pengurus dan pengguna TBM itu sendiri. Proses inovasi mengharuskan anggota organisasi memiliki ide-ide segar yang terus mengalir secepat mungkin yang didapat dari proses bertukar pikiran, berbagi pengalaman, dan kegiatan berbagi pengetahuan lainnya (Firmaiansyah, 2014). Hal ini mengartikan bahwa dalam mewujudkan peran TBM yang optimal di masyarakat, diperlukan TBM yang dapat berinovasi dalam kegiatannya, dan inovasi bisa didapatkan melalui kegiatan berbagi pengetahuan atau Knowledge Sharing. Hal tersebut didukung dengan teori dari Plessis (2007). Asumsi dari teori ini adalah knowledge management membantu menciptakan peralatan, rencana kerja, dan proses untuk tacit knowledge creation, sharing dan leverage yang berperan penting dalam proses inovasi. Adanya penerapan knowledge management secara umum dan knowledge sharing secara khusus diharapkan bisa membantu TBM mengatasi fenomena hypercompetition, membuat TBM beralih ke cara kerja yang lebih dinamis dan modern. TBM tentunya tidak bergerak secara individual dalam usaha mengatasi masalah lama yaitu tingkat literasi Indonesia yang rendah, dan masalah baru yaitu fenomena hypercompetition. Pegiat literasi yang memiliki pengetahuan dan keahlian di bidangnya, mendirikan gerakan kolektif dalam bentuk forum yang bernama Forum Taman Baca Masyarakat. Forum ini dibagi menjadi beberapa tingkatan, mulai dari tingkat nasional, provinsi, sampai tingkat kabupaten/kota. Salah satunya adalah kepengurusan Provinsi Jawa Barat, yang mulai berkegiatan dari tahun 2006, dengan Forum Taman Baca Masyarakat Jawa Barat-nya, yang kemudian disingkat menjadi FTBM Jawa Barat. Adanya forum ini, memungkinkan pengelola Taman Baca Masyarakat di Jawa Barat untuk berkomunikasi dan berjejaring secara lebih intens. Pengelola TBM juga aktif dalam membagikan pengetahuan mereka, seperti; pengalaman, informasi, atau berita seputar literasi di forum ini. Sampai terciptalah sebuah acara besar dari FTBM Jawa Barat benama Kemah Literasi Jawa Barat, yang sudah dilakukan sebanyak dua kali, yaitu tahun 2017 dan 2019. FTBM Jawa Barat sendiri sudah menerapkan knowledge management secara umum dan knowledge sharing secara khusus di dalam kegiatannya. Hal ini tercermin dari dibentuknya grup di berbagai macam platform sebagai sarana berbagi pengetahuan, sebuah website dengan tim redaksi yang siap membuat dan mempublikasikan berita, serta acara besar yaitu Kemah Literasi Jawa Barat yang memungkinkan inovasi dan pengetahuan untuk di-comblang-kan, namun masih tetap dibayang-bayangi “rapot merah” dan mindset statis dan tradisional yang minim inovasi pada sebagian pengurus TBM. Maka dari itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian untuk mencari hubungan antara knowledge sharing yang merupakan aspek knowledge management yang paling menonjol di Grup FTBM Jawa Barat dengan munculnya Inovasi Pengelola TBM.

Method

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Peneliti menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional karena melalui pendekatan ini dapat diketahui adakah hubungan antara knowledge sharing dengan inovasi pengelola, yang kemudian dapat dicari seberapa besar hubungannya dan bagaimana satu variabel memicu variabel lainnya. Penggunaan metode kuantitatif juga didasari bahwa penelitian di FTBM Jawa Barat ini diasumsikan bisa terbukti melalui pengujian teori. Yaitu, pengujian antara teori knowledge management khususnya knowledge sharing dengan inovasi pengelola yang mengharuskan dilihat melalui sisi kuantitatif, yang mana membuat peneliti menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Populasi pada penelitian ini adalah anggota FTBM Jawa Barat, yang merupakan pengelola TBM yang berdomisili di Jawa Barat. Dari data awal yang didapatkan, terdapat 778 Taman Baca Masyarakat yang resmi terdaftar dan 200 orang yang tergabung dan secara aktif berkomunikasi dalam grup WhatsApp FTBM Jawa Barat. Peneliti menggunakan non-probability sampling dengan teknik purposive sampling. Jumlah sampel akan dihitung dengan menggunakan Rumus Slovin, menghasilkan jumlah sampel sebanyak 67 orang Pengelola TBM yang memiliki kriteria; (1) Pengelola Aktif TBM; (2) Aktif menggunakan aplikasi media sosial WhatsApp; (3) Aktif dalam melakukan kegiatan knowledge collecting dan/atau donating di Grup FTBM Jawa Barat. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer hasil dari penyebaran angket digital kepada objek penelitian. Peneliti juga menggunakan data sekunder yang bersumber dari wawancara, studi pustaka, dan observasi untuk memperkuat hasil analisis. Operasionalisasi variabel dalam penelitian ini adalah variabel (X) Knowledge Sharing yang berdasarkan pada teori Knowledge Sharing Process menurut Hooff dan De Ridder (2004), yang memiliki dua sub-variabel yaitu; (X1) Knowledge Donating dan (X2) Knowledge Collecting. Dalam teori ini Bart Van Der Hooff dan Jan A. De Ridder (2004), menjelaskan bahwa, “Knowledge Donating is communicating to others what one’s personal intellectual capital is,” dan disambung “Knowledge Collecting is consulting colleagues in order to get them to share their intellectual capital.” Variabel (X) Knowledge Sharing kemudian diujikan kepada variabel (Y) Inovasi Pengelola yang berdasarkan pada Type of Innovation menurut Damanpour (1991). Dalam teori ini Damanpour (1991) mengatakan, “Among numerous typologies of innovation advanced in the relevant literature, three have gained the most attention. Each centers on a pair of types of innovation: administrative and technical, product and process, and radical and incremental.” Damanpour menjelaskan bahwa dari sekian banyak tipologi inovasi yang ada di dalam berbagai macam literatur, tiga pasang yang paling menyita perhatian: administratif dan teknikal, produk dan proses, serta radikal dan inkremental. Kemudian data primer yang sudah terkumpul diolah menggunakan SPSS 25 dengan dilakukan analisis statistik deskriptif berupa analisis data responden, analisis data penelitian, kategorisasi kekuatan variabel, dan tabulasi silang. Dilanjutkan dengan analisis statistik inferensial berupa uji korelasi dan pengujian hipotesis. Setelah kedua analisis statistik tersebut dilakukan, hasil dari analisis itu kemudian dijabarkan menggunakan kalimat deskriptif, guna mempermudah dalam memahami maksud dari data.

Result & Discussion

a. Pengelola TBM Dalam penelitian ini, sampel yang digunakan sebanyak 67 pengelola TBM di Jawa Barat. Sampel diambil dari data awal yang didapatkan oleh peneliti, sebanyak 778 TBM yang resmi terdaftar dan 200 orang yang tergabung dan secara aktif berkomunikasi dalam Grup WhatsApp FTBM Jawa Barat. Adapun gambaran umum responden dalam penelitian ini, berdasarkan karakteristik dengan bentuk pertanyaan tertutup, adalah sebagai berikut: Tabel 1. Domisili TBM yang dikelola Responden (Data menunjukkan sebaran di 20 wilayah dengan total 67 responden). Responden merupakan Pengelola TBM, yang sebagian besar, berasal dari TBM yang berbeda di setiap kabupaten/kota. Responden yang memenuhi kriteria paling banyak berasal dari Kabupaten Bandung, disusul dengan Kota Bandung dan Kota Depok. Tabel 2. Lama Mengelola TBM (Data menunjukkan 41,8% responden telah mengelola TBM selama lebih dari 5 tahun). Responden yang memenuhi kriteria sebagai sampel paling banyak merupakan pengelola TBM yang sudah berpengalaman, yaitu lebih dari lima (5) tahun, sebanyak 28 dari 67 orang. b. Kategorisasi Kekuatan Variabel Penelitian Knowledge Donating Secara ideal, skor yang diharapkan untuk jawaban responden terhadap 6 pertanyaan di sub-variabel Knowledge Donating (X1) ini adalah 2010. Namun, dari data di atas, dapat tergambar bahwa persepsi responden mengenai sub-variabel Knowledge Donating (X1) berada pada kategori Sangat Tinggi dengan skor aktual 1763. Setelah diketahui skor ideal dan skor aktual-nya, maka dapat dihitung persentasenya yang kemudian menghasilkan persentase sebesar 87,1%. Tingginya skor kategorisasi subvariabel Knowledge Donating (X1) dapat diartikan bahwa pengelola TBM sudah mengiyakan, dengan mereka memberi tanggapan positif kepada kegiatan Knowledge Donating, bahwa mereka melakukan kegiatan tersebut dalam kehidupan mereka sehari-hari di Grup FTBM Jawa Barat. Hal ini tercermin dari bagaimana beberapa pengelola TBM membagikan foto dan deskripsi kegiatan yang dilakukan di TBM mereka masing-masing, atau karya yang TBM mereka hasilkan, serta fokus kegiatan yang TBM mereka geluti. Knowledge Collecting Secara ideal, skor yang diharapkan untuk jawaban responden terhadap 6 pertanyaan di sub-variabel Knowledge Collecting (X2) ini adalah 2010. Namun, dari data di atas, dapat tergambar bahwa persepsi responden mengenai sub-variabel Knowledge Collecting (X2) berada pada kategori Sangat Tinggi dengan skor aktual 1791. Setelah diketahui skor ideal dan skor aktual-nya, maka dapat dihitung persentasenya yang menghasilkan persentase sebesar 89,1%. Tingginya skor kategorisasi sub-variabel Knowledge Collecting (X2) dapat diartikan bahwa pengelola TBM sudah mengiyakan, dengan mereka memberi tanggapan positif kepada kegiatan Knowledge Collecting, bahwa mereka melakukan kegiatan tersebut dalam kehidupan mereka sehari-hari di Grup FTBM Jawa Barat. Knowledge Sharing Tabel 3. Rekapitulasi Skor Variabel Knowledge Sharing (X) menunjukkan total skor 3554 (88,4%). Secara ideal, skor yang diharapkan untuk jawaban responden terhadap 12 pertanyaan di variable Knowledge Sharing (X) ini adalah 4020. Namun, dari data di atas, dapat tergambar bahwa persepsi responden mengenai variabel Knowledge Sharing (X) berada pada kategori Sangat Tinggi dengan skor aktual 3554 Setelah diketahui skor ideal dan skor aktual-nya, maka dapat dihitung persentasenya yang menghasilkan persentase sebesar 88,4%. Tingginya skor kategorisasi variabel Knowledge Sharing (X) dapat diartikan bahwa pengelola TBM sudah mengiyakan, dengan mereka memberi tanggapan positif kepada kegiatan Knowledge Donating dan Collecting, bahwa mereka melakukan kegiatan tersebut dalam kehidupan mereka sehari-hari di Grup FTBM Jawa Barat. Dilihat dalam konteks Knowledge Management secara utuh, Knowledge Sharing di FTBM Jawa Barat memang yang paling menonjol. Inovasi Pengelola Secara ideal, skor yang diharapkan untuk jawaban responden terhadap 17 pertanyaan di variabel Inovasi Pengelola (Y) ini adalah 5695. Namun, dari data di atas, dapat tergambar bahwa persepsi responden mengenai variabel Inovasi Pengelola (Y) berada pada kategori Tinggi dengan skor aktual 4633. Setelah diketahui skor ideal dan skor aktual-nya, maka dapat dihitung persentasenya yang menghasilkan persentase sebesar 81,4%. Tingginya skor kategorisasi variabel Inovasi Pengelola (Y) dapat diartikan bahwa pengelola TBM memang berinovasi di dalam kegiatan dan TBM-nya itu sendiri. c. Keterkaitan Lama Mengelola TBM dengan Variabel Penelitian Pengujian pertama, kedua, dan ketiga secara berurutan dilakukan antara lama mengelola TBM dengan knowledge donating (X1), collecting (X2), dan sharing (X3). Hasil tabulasi silang menggunakan rumus chi-square ini menunjukkan tidak adanya keterkaitan antara lama mengelola TBM dengan knowledge donating (X1), collecting (X2), dan sharing (X3). Hal ini bisa dilihat karena nilai Asymptotic Significance (2-Sided)-nya secara berurutan, sebesar 0,391; 0,700; dan 0,204 yang mana lebih besar dari =0,05. Hal berbeda tampak ketika peneliti melakukan pengujian keempat antara lama mengelola dengan inovasi pengelola (Y). Hasil tabulasi silang menggunakan rumus chi-square ini menunjukan adanya keterkaitan antara lama mengelola TBM dengan inovasi pengelola (Y). Hal ini bisa dilihat karena nilai Asymptotic Significance (2-Sided)-nya sebesar 0,005, dan lebih kecil dari =0,05. d. Hubungan antara Knowledge Sharing dengan Inovasi Pengelola Knowledge sharing (X) dengan variabel inovasi pengelola (Y) memiliki nilai koefisien korelasi sebesar 0,526 yang termasuk pada tingkat hubungan berkategori sedang. Analisis korelasi dapat dilanjutkan dengan menghitung koefisien determinasi, diperoleh hasil koefisien determinasinya sebesar 27,66%. Hal ini berarti bahwa hubungan knowledge sharing (X) dengan inovasi pengelola (Y) sebesar 27,66% dan sisanya sebesar 72,34% ditentukan oleh faktor lain di luar penelitian ini. Sub-variabel knowledge donating (X1) dengan variabel inovasi pengelola (Y) memiliki nilai koefisien korelasi sebesar 0,418 yang termasuk pada tingkat hubungan berkategori sedang. Koefisien determinasinya sebesar 17,47%. Hubungan sub-variabel knowledge collecting (X2) dengan variabel inovasi pengelola (Y) memiliki nilai koefisien korelasi sebesar 0,457 yang termasuk pada tingkat hubungan berkategori sedang. Koefisien determinasinya sebesar 20,88%. Hal ini berarti bahwa hubungan knowledge collecting (X2) dengan inovasi pengelola (Y) sebesar 20,88% dan sisanya sebesar 79,12% ditentukan oleh faktor lain di luar penelitian ini. Sub-variabel knowledge collecting lebih banyak mengambil porsi ketimbang sub-variabel knowledge donating. Hal ini selaras dengan apa yang terjadi di lapangan, di mana pengelola Taman Baca Masyarakat di Grup FTBM Jawa Barat lebih senang menanggapi atau bertanya ketimbang membagikan apa yang mereka punya. Kemudahan dalam kegiatan knowledge collecting mungkin menjadi salah satu alasan mengapa hal ini bisa terjadi, hanya bermodalkan keinginan untuk belajar maka kegiatan knowledge collecting sangat mudah untuk dilakukan. Membuat pengelola TBM lainnya nyaman, untuk belajar dalam diam, namun masih aktif jika dibutuhkan.

Conclusion

Berdasarkan hasil dari penelitian dan pembahasan, penelitian ini dapat disimpulkan menjadi beberapa poin. Poin pertama, aspek knowledge donating dan knowledge collecting secara simultan memiliki hubungan dengan terciptanya inovasi pengelola. Dari dua aspek tersebut, meskipun tidak optimal menjadi pemicu terciptanya inovasi pengelola, namun knowledge donating dan knowledge collecting memiliki peran penting dalam proses knowledge management secara utuh. Hal ini dapat terlihat dari betapa dinamisnya proses knowledge sharing (berbagi pengetahuan) di FTBM Jawa Barat, yang sayangnya kurang dikelola dengan maksimal, tanpa ada; broker (makelar), catatan tertulis, dan publikasi yang memadai. Selanjutnya dalam aspek knowledge donating memiliki hubungan dengan terciptanya inovasi pengelola. Pengelola TBM di FTBM Jawa Barat melakukan kegiatan berbagi pengetahuan yang berbentuk informasi atau pengalaman dalam mengelola TBM, yang secara rinci berupa foto dan/atau deskripsi program atau layanan yang pengelola bagikan di Grup WhatsApp FTBM Jabar, seperti; Online Talkshow oleh TBM Bina Kreasi Muda, dan Khataman Buku oleh Komunitas Literasi Senja. Kegiatan tersebut menjadi terciptanya inovasi yang digagas oleh pengelola. Terakhir, dalam aspek knowledge collecting, aspek ini juga memiliki hubungan dengan terciptanya inovasi pengelola. Pengelola TBM di FTBM Jawa Barat mengumpulkan pengetahuan yang secara rinci berbentuk informasi atau pengalaman dalam mengelola TBM, seperti bertanya terkait tips dan trik agar acara Nobar Serentak yang dilakukan oleh Panti Baca Ceria dengan CRCS UGM dapat terselenggara. Hal ini menjadi bukti terciptanya inovasi pengelola. Saran yang dapat penulis berikan bagi penelitian selanjutnya takni pengujian knowledge management secara keseluruhan atau variabel-variabel lainnya yang mungkin mengambil peran dalam terciptanya inovasi pengelola TBM. Dengan demikian, melalui penelitian lanjutan tersebut, dapat diketahui komposisi unsur pembentuk terciptanya suatu inovasi, khususnya di Forum TBM. Hal ini berguna bagi TBM agar memiliki tata cara dan alur yang jelas dalam penciptaan inovasi.