Penggunaan media sosial dalam meningkatkan literasi kesehatan di "Ayah ASI Indonesia"
Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran
Abstrak
Kurangnya informasi mengenai ASI diakibatkan oleh media sosial yang cenderung memfokuskan informasi tersebut hanya kepada ibu, namun tidak untuk ayah. Ayah ASI Indonesia hadir sebagai sarana informasi kesehatan tentang ASI dan ibu menyusui. Maka, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami penggunaan media sosial dalam meningkatkan literasi kesehatan di Ayah ASI Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan berupa observasi, wawancara, dan studi pustaka. Sedangkan, teknik analisis datanya berupa reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Subjek atau informan penelitian ini terdiri dari beberapa pendiri dan anggota Ayah ASI Indonesia. Hasil dan pembahasan penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang dilakukan Ayah ASI Indonesia terbilang beragam melalui berbagai media sosial yang ada. Sedangkan, dalam meningkatkan literasi kesehatan, Ayah ASI Indonesia berada di tingkat tinggi, yakni mampu menilai sebuah informasi yang diterima lalu diinformasikan kembali kepada orang lain sebagai bentuk pengembangan informasi kesehatan. Penggunaan media sosial di Ayah ASI Indonesia sesuai dengan konsep strategi promosi kesehatan sebagai bagian dari domain literasi kesehatan, dimana bertujuan untuk upaya mengajak ayah terlibat aktif dalam mendukung ibu menyusui. Disimpulkan, bahwa informasi pada media sosial di Ayah ASI Indonesia mampu meningkatkan pengetahuan literasi kesehatan dalam mendukung ibu menyusui. Saran dapat mulai mengaktifkan lagi media sosial yang sudah lama tidak aktif dan terus memberikan informasi-informasi kesehatan dalam meningkatkan literasi kesehatan kepada banyak ayah, terutama calon ayah yang membutuhkan informasi kesehatan untuk mendukung ibu menyusui.
Abstract
The lack of information about breast milk is caused by the social media that tend to focus the information toward mothers, not to fathers or husbands. "Ayah ASI Indonesia" is a health information center on breast milk and breast-feeding that aims to fathers which uses social media to distribute the information. This study aims to identify and to comprehend the use of social media in increasing health literacy of husbands by Ayah ASI. The research method used is qualitative with a case study approach. Data collection techniques used are observation, interviews, and literature study. Meanwhile, the data analysis technique includes data reduction, data presentation, and creating conclusions. The informants of this study consisted of several founders and members of Ayah ASI Indonesia. The results of this research show that Ayah ASI Indonesia uses various existing social media. In terms of increasing health literacy, Ayah ASI Indonesia has able able to assess collected information and then distributed them to its target as a form of developing health information. It is concluded that Ayah ASI Indonesia, by using social media has succeded to ask the fathers of husbands to actively support their wives. It is suggested that Ayah ASI Indonesia to continue providing health information in improving health literacy to fathers, especially prospective fathers who need health information to support breastfeeding mothers.
Keywords:
Literasi kesehatan
· Media sosial
· Ayah ASI Indonesia
Introduction
Pada umumnya, pemberian Air Susu Ibu (ASI) kepada anak merupakan urusan perempuan. Hal ini merupakan salah satu stigma yang salah mengenai ASI di masyarakat. Padahal dalam keberhasilan pemberian ASI eksklusif, peran ibu saja sebenarnya tidak cukup. Dibutuhkan semua dukungan yang diperoleh dari anggota keluarga, salah satunya yang terpenting adalah dukungan ayah. Ayah memiliki porsi yang cukup besar dalam proses menyusui. Bahkan, keberhasilan menyusui sangat ditentukan oleh seberapa banyak ambil bagian seorang ayah sebagai orang yang terdekat dengan ibu dalam mempengaruhi pengambilan keputusan untuk aktivitas menyusui. Proses pengambilan keputusan tersebut dapat diketahui dari pola pemberian makan atau MPASI (Makanan Pendamping ASI) kepada buah hati, serta melalui kegiatan pengasuhannya, baik pekerjaan rumah tangga maupun urusan ekonomi sekeluarga. Terakhir juga perihal urusan menjaga keharmonisan dalam hubungan berkeluarga. Hal ini sesuai dengan pendapat Mulyana (2018), bahwa terdapat dua tipe peranan yang dilakukan oleh orang tua pada saat pengasuhan anak, yaitu tipe peranan yang didominasi oleh ibu dan tipe peranan setara. Tipe peranan pertama yaitu tipe peranan yang didominasi oleh ibu. Tipe peranan ini memiliki pembagian tanggung jawab untuk mengasuh anak. Oleh karena itu, ayah termasuk dalam tipe pernanan ini sebab tidak terlibat secara langsung dalam pengasuhan anak. Walaupun demikian, ayah tersebut dapat membantu ibu dalam pengasuhan anak. Sedangkan, tipe peranan kedua yaitu tipe peranan yang setara. Tipe peranan ini terdapat pembagian tanggung jawab dan peran tertentu antara ayah dan ibu, namun tidak ada batasan secara tertulis yang memisahkan tanggung jawab dan peran antara ayah dan ibu tersebut. Baik bertugas dalam mengasuh anak maupun mencari nafkah merupakan tanggung jawab kedua orang tua. Tipe peranan ini lebih fleksibel dalam memandang peran ayah dan ibu. Mereka merasa bahwa anak merupakan tanggung jawab bersama sehingga baik ayah maupun ibu merasa harus terlibat langsung dalam pengasuhan anak. Peranan pengasuhan anak ini meliputi memberi asupan nutrisi, meluangkan waktu bersama anak hingga kegiatan menyusui, namun masih ada pemahaman yang kurang akan menyusui terutama di kalangan ayah. Kurangnya pengetahuan mengenai pentingnya ASI eksklusif menjadi salah satu faktor penyebab berpindahnya pemberian ASI ke susu formula. Hal ini didukung dengan kemudahan dan praktisnya memberikan susu formula ketimbang memberikan ASI. Media sosial berbasis edukasi pun cenderung berorientasi terhadap edukasi ibu saja, namun tidak dengan ayah. Bahkan, tenaga kesehatan tanpa disadari telah melakukan pemasaran susu formula, sebagaimana dengan pendapat salah satu ayah yang melihat fenomena pemasaran susu formula sebagaimana diperoleh dari hasil wawancara, sebagai berikut: "Yang jadi masalah itu bukan susu formulanya, tetapi strategi marketing-nya yang kita komentari termasuk memperalat tenaga kesehatan sehingga mereka tidak menjadi profesional lagi ketika ada titipan-titipan itu" (W. Sugianto, wawancara, 26 Oktober 2022). Sebab itu pentingnya dukungan dari berbagai pihak terutama peran ayah dalam pemberian ASI eksklusif tersebut menjadi cikal bakal terbentuknya Ayah ASI Indonesia. Ayah ASI Indonesia adalah gerakan sosial yang bertujuan untuk meningkatkan partisipasi ayah dalam mendukung ibu agar berhasil menyusui. Ayah ASI Indonesia sendiri didirikan oleh delapan ayah, yaitu Ernest Prakasa, Sogi Indra Dhuaja, Rahmat Hidayat, Dipa Andika, Shafiq Pontoh, Pandu Gunawan, Syarief Hidayatullah serta Aditia Sudarto. Gerakan ini berdiri semenjak tanggal 25 April 2011 dengan slogannya "Bikinnya Berdua, Ngurus Anaknya Juga Berdua." Berawal dari percakapan ringan diantara mereka mengenai pengalaman mendukung ibu menyusui. Di mana mereka mengalami pengalaman dan kendala serupa selama prosesnya. Selain itu, di latar belakangi permasalahan kurangnya informasi mengenai ASI serta media sosial pada saat itu yang cenderung memfokuskan informasi tersebut hanya kepada ibu, namun tidak untuk ayah. Hal inilah mendorong beberapa ayah tersebut untuk membuat sebuah gerakan sosial yang spesifik membahas mengenai peranan ayah dan membagikan informasi seputar menyusui melalui media sosial. Lebih lanjut, kejadian awalnya didirikan Ayah ASI Indonesia ini hanya sebatas membuat sebuah campaign untuk mengajak ayah terlibat di dalam proses menyusui. Di mana materi campaign-nya berasal dari sebuah buku yang mereka ingin buat. Namun dalam proses penerbitannya, terdapat kendala dalam penerbitan buku tersebut. Kendala tersebut ialah pemasaran buku yang sulit untuk dilakukan akibat tidak ada tenaga kesehatan di antara mereka. Oleh karena itu, mereka terlebih dahulu melempar isu ibu menyusui di kalangan ayah. Pada saat itu, ternyata isu tersebut sangat direspon baik oleh beberapa ayah. Kegiatan Ayah ASI Indonesia berfokus pada penyebaran informasi kesehatan mengenai pemberian ASI kepada buah hati dengan melibatkan peranan ayah didalamnya melalui penggunaan media sosial. Kegiatan yang dilakukan tersebut sejalan dengan konsep literasi kesehatan. Literasi tidak hanya sekedar dapat membaca dan menulis, namun harus mampu meningkatkan pengetahuan, keahlian maupun kemampuan individu. Sehingga mempunyai kemampuan berpikir kritis dalam berbagai kondisi untuk memecahkan sebuah masalah serta mampu berkomunikasi secara efektif dan meningkatkan potensi maupun terlibat dalam kehidupan bermasyarakat. Sedangkan World Health Organization (2017) mengatakan bahwa "literasi kesehatan merupakan sebuah keahlian kognitif individu mengenai mengakses, memahami dan menggunakan informasi kesehatan untuk menjaga kesehatannya." Pada proses pelaksanaan literasi kesehatan di Ayah ASI Indonesia dapat terjadi apabila ditemukannya komunikasi antar individu, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam membahas masalah kesehatan. Priatmojo (2022) mengatakan bahwa "membuat seseorang menjadi literat juga bisa melalui media lain yang di dalamnya terkandung informasi yang bisa diteliti dan dapat dipastikan kebenarannya." Selain itu, penggunaan media sosial di Indonesia lebih disukai dalam mencari informasi ketimbang media lainnya. Hal ini berdasarkan laporan survei Status Literasi Digital 2021 disebutkan bahwa 73% responden dari total populasi acak di Indonesia sejumlah 10 ribu responden yang paling banyak menggunakan media sosial dalam mencari informasi (Ahdiat, 2022). Maka, media sosial digunakan untuk mencari informasi kesehatan sebab dapat memberikan kemudahan pada pengguna dalam melakukan penyebaran informasi kesehatan secara luas. Sementara itu, literasi kesehatan dapat juga terjadi apabila seseorang menggunakan informasi kesehatan yang didapatkannya yang kemudian dituangkan ke dalam perilaku. Literasi kesehatan sendiri tidak dapat dipisahkan dengan promosi kesehatan (health promotion). Sebab dalam literasi kesehatan terdapat tiga domain diantaranya, yaitu kepedulian kesehatan, perawatan kesehatan dan promosi kesehatan (Atay et al., 2018). Menurut Agustini (2014), di bukunya yang berjudul "Promosi Kesehatan", dimana promosi kesehatan ialah proses pemberdayaan penduduk supaya sanggup memelihara serta menaikkan kondisi kesehatannya. Proses pemberdayaan bisa dicoba dengan pelatihan seperti upaya buat tingkatkan pemahaman, keinginan serta keahlian dalam bidang kesehatan. Pelaksanaan promosi kesehatan dalam program kesehatan pada dasarnya ialah wujud pelaksanaan dari strategi global yang dijabarkan menjadi bermacam-macam aktivitas. Sehingga pada kasus kegiatan mendukung ibu menyusui, pendekatan strategi promosi kesehatan dilakukan dalam upaya yang cenderung ke arah perubahan perilaku. Berdasarkan World Health Organization (2017), strategi global terdiri dari advokasi, dukungan sosial dan pemberdayaan masyarakat. Pelaksanaan literasi kesehatan di Ayah ASI Indonesia menggunakan media sosial dalam upaya meningkatkan literasi kesehatan seorang ayah. Dimana Ayah ASI Indonesia bisa menunjukkan bahwa ayah dapat membagikan pengaruh yang besar terhadap pemahaman dini mengenai proses pemberian ASI sepanjang kegiatan menyusui. Selain itu, posisi ayah ini dapat menolong tenaga kesehatan dalam meningkatkan strategi kesehatan secara proaktif untuk mencari serta mengaitkan ayah dari bermacam latar belakang selama proses support aktivitas ibu menyusui (Ningsih, 2018). Adanya kesadaran yang tumbuh dalam diri pengikut maupun pengelola akan pentingnya informasi kesehatan dapat meningkatkan literasi kesehatan terhadap keberhasilan pemberian ASI. Maka, selama pelaksanaannya, Ayah ASI Indonesia berperan dalam menyampaikan informasi kesehatan yang mudah dan dimengerti oleh ayah. Sehingga ayah dapat berperan aktif dan berpartisipasi dalam membantu ibu menyusui. Tidak hanya itu, Ayah ASI Indonesia juga menjawab berbagai pertanyaan pengikutnya untuk memenuhi kebutuhan informasi kesehatan. Penelitian terdahulu yang dilakukan Annisa and Swastiningsih (2015), menjelaskan bahwa pemberian dukungan sosial yang diberikan ayah berdampak positif terhadap ibu. Hal ini dirasakan oleh ibu yaitu dengan semakin lancarnya ASI, meningkatnya semangat dalam memberikan ASI kepada buah hati, serta merasakan kenyamanan dan berkurangnya masalah yang dihadapi. Adapun salah satu dukungan yang dapat diberikan, yaitu dukungan informasi. Sebagaimananya hal tersebut, Ayah ASI Indonesia berperan dengan memberikan dukungan informasi seputar pengetahuan kesehatan ASI dan ibu menyusui. Berdasarkan uraian tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai bagaimana penggunaan media sosial dalam meningkatkan literasi kesehatan di Ayah ASI Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami penggunaan media sosial serta dalam meningkatkan literasi kesehatan di Ayah ASI Indonesia.
Method
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, sebab peneliti ingin memahami lebih dalam mengenai penggunaan media sosial di Ayah ASI Indonesia untuk meningkatkan literasi kesehatan. Maka dari itu, penelitian kualitatif dipilih karena peneliti merasa ada suatu permasalahan perlu dieksplorasi dengan beragam metode yang digunakan dan membutuhkan pemahaman mendetail serta komprehensif. Creswell and Poth (2016) mengatakan bahwa "metode kualitatif adalah penelitian yang menggunakan berbagai cara untuk menemukan dan memahami makna yang dianggap berasal dari masalah sosial atau kemanusiaan." Selain itu, permasalahan ini lebih tepat dapat diteliti melalui metode kualitatif karena metode ini dapat menguraikan dan menjelaskan berbagai aspek mengenai penggunaan media di Ayah ASI Indonesia. Hal ini sesuai dengan pendapat Sugiyono and Lestari (2021) yang mengatakan bahwa "metode kualitatif dilaksanakan saat situasi yang alamiah dengan peneliti sebagai instrumen kuncinya (key informant) serta data yang diperoleh dan diolah untuk menggambarkan dan menjelaskan dalam bentuk kata atau gambar." Berdasarkan Creswell and Poth (2016), bahwa metode kualitatif merupakan suatu proses penelitian ilmiah yang lebih ditujukan untuk memahami masalah-masalah manusia dalam konteks sosial dengan menciptakan gambaran menyeluruh dan kompleks serta melaporkan secara terperinci yang bersumber dari pelaku kegiatan. Penelitian dilaksanakan tanpa mengubah apapun dan tanpa adanya campur tangan dari peneliti, sehingga terjadi secara alamiah. Oleh karena itu, peneliti menggunakan metode kualitatif, dimana penggunaan media sosial di Ayah ASI Indonesia dapat dideskripsikan dan dijelaskan secara terperinci sesuai kondisi yang terjadi dilapangan. Maka, pendekatan yang sesuai untuk digunakan adalah pendekatan studi kasus. Dimana pendekatan studi kasus merupakan salah satu jenis pendekatan kualitatif yang memahami suatu "kasus" tertentu dalam konteks atau diatur sesuai kehidupan nyata kontemporer. Menurut Creswell and Poth (2016), proses utama pada studi kasus ialah melibatkan suatu kasus dengan memilih yang dianggap pokok, lalu dilanjutkan dengan kasus tersebut yang dideskripsikan secara terperinci atas pola-pola situasi kasus yang ditemukan. Hal ini agar memperoleh informasi mengenai objek penelitian. Berdasarkan Nur’aini (2020), studi kasus sendiri terbagi menjadi tiga jenis, yaitu: (1) studi kasus eksploratoris; (2) studi kasus eksplanatoris; dan (3) studi kasus deskriptif. Pada penelitian ini menggunakan tipe studi kasus deskriptif, dengan bertujuan untuk memberikan gambaran mendalam mengenai media sosial Ayah ASI Indonesia dalam meningkatkan literasi kesehatan. Tipe ini juga di dalamnya disertai konsep-konsep komunikasi. Selain itu, kesimpulan dari output penelitian ini tidak berlaku secara umum, melainkan hanya terbatas pada kasus-kasus tertentu yang memiliki kesamaan dengan kasus yang diteliti. Hingga hasil penelitian ini dapat membantu mengembangkan teori yang lebih relevan dengan kondisi penelitian. Subjek yang diperoleh dalam penelitian ini adalah informan yang bisa dimintai keterangan yang berkaitan dengan penelitian. Ada pula informan penelitian dipilih secara nonprobabilitas sampling, yakni secara tidak acak, serta memakai metode purposive sampling. Metode purposive sampling merupakan cara penarikan sampel dengan memastikan kelompok partisipan yang jadi informan cocok kriteria terpilih yang relevan dengan permasalahan yang berlangsung (Sugiyono & Lestari, 2021). Maka, kriteria subjek ditentukan sebagai informan, yaitu seorang ayah yang telah mengetahui dan mengikuti media sosial Ayah ASI Indonesia, serta mengetahui dari awal mula gagasan dan tujuan dibentuknya gerakan sosial tersebut. Subjek penelitian ini terdiri dari 4 orang diantaranya, yaitu dua orang selaku pendiri dan dua orang selaku anggota Ayah ASI Indonesia. Subjek tersebut dijadikan sebagai informan yang dapat mendukung melengkapi data dan informasi mengenai penggunaan media sosial di Ayah ASI Indonesia. Sedangkan, pemilihan objek penelitian ini dikarenakan terdapat isu, tema atau permasalahan yang dapat diangkat. Objek ini ialah penggunaan media sosial dalam meningkatkan literasi kesehatan di Ayah ASI Indonesia, sebagaimana objek merupakan sarana informasi kesehatan yang perlu ditinjau kembali untuk mengetahui pelaksanaannya. Metode pengumpulan informasi yang digunakan yaitu wawancara, observasi serta studi pustaka. Wawancara dilakukan lewat tanya jawab antara pewawancara dengan informan ataupun orang yang diwawancarai agar memperoleh data maupun informasi sesuai kebutuhan penelitian. Sedangkan, observasi dilakukan ialah menjelaskan, memberi dan merinci masalah yang terjadi di lapangan. Pada saat observasi ini, peneliti tidak terlibat dalam pelaksanaan kegiataan, namun hanya sebatas mengamati saja. Selain itu, terdapat metode studi pustaka yang berupa rujukan-rujukan ilmiah dari sumber-sumber digital dalam menunjang penelitian. Studi pustaka ini membantu dalam memperkuat argumen pada saat analisis data. Sementara itu, teknik analisis data yang digunakan yaitu sebuah analisis data dikelompokkan menjadi tiga langkah sesuai yang dikemukakan oleh Miles, Huberman and Saldaña (2018), yaitu: (1) Reduksi data (data reduction), dimana yang dilakukan ialah merangkum, menentukan pokok penelitian, memfokuskan pada masalah yang penting, serta mencari tema dan polanya; (2) Penyajian data (data display), yaitu dibuat dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan lainnya; dan (3) Penarikan kesimpulan (conclusion), berupa temuan baru yang sebelumnya tidak ditemukan. Temuan penelitian tersebut dapat berbentuk deskripsi atau gambaran objek yang sebatas masih kasar serta tidak terstruktur sehingga dapat diteliti menjadi jelas.
Result & Discussion
Pada saat ini media sosial merupakan alat komunikasi publik yang difungsikan sebagai sarana pendukung interaksi sosial. Sebagai media interaktif, media sosial dapat digunakan oleh individu, komunitas maupun organisasi dalam berbagi pengalaman, mendiskusikan sesuatu dan mempromosikan informasi baru. Media sosial juga dapat dengan mudah mengkomunikasikan informasi kesehatan kepada masyarakat (Anisah, Sartika & Kurniawan, 2021). Meskipun dalam memahami informasi kesehatan yang begitu kompleks, diperlukan kemampuan yang mengerti tentang terminologi, instruksi perawatan kesehatan hingga tindakan yang diperlukan untuk mengelola kondisi penyakit kronis (Batubara, Wang, & Chou, 2020). Kemampuan dalam memahami informasi kesehatan tersebut ialah literasi kesehatan. Lebih lanjut, untuk memahami penggunaan media sosial di Ayah ASI Indonesia serta dalam meningkatkan literasi kesehatan, maka perlu dideskripsikan terlebih dahulu gambaran umum mengenai media sosial tersebut dalam membantu mengetahui perbedaan masing-masing media sosialnya, antara lain sebagai berikut: (1) Instagram, (2) Facebook, (3) Twitter, (4) Youtube, (5) Spotify, dan (6) Tiktok. Pada Instagram, umumnya postingan konten berbentuk gambar maupun video yang sudah dikemas semenarik mungkin agar mudah dipahami oleh pengikut. Penggunanya dapat berinteraksi seperti menyukai dan berkomentar pada sebuah postingan. Selain itu, terdapat fitur siaran langsung (live) yang dapat tersimpan dan ditampilkan kembali pada bagian feed Instagram akun ini dalam mempermudah pengikut untuk membukanya kembali. Instagram Ayah ASI Indonesia (@id_ayahasi) telah memiliki jumlah pengikut sebanyak 104.000 pengikut dan telah memposting sebanyak 889 postingan. Instagram juga merupakan media sosial utama dari Ayah ASI Indonesia, sebab dalam penggunaannya dapat terus berpartisipasi dalam berbagi informasi, berinteraksi hingga berkomunikasi dengan pengikut lainnya. Pada Facebook, umumnya kontennya serupa dengan Instagram. Sebab kontennya hanya diteruskan ke media sosial yang berbeda saja. Facebook Ayah ASI Indonesia (@AyahASI) telah memiliki sebanyak 35.441 pengikut dan jumlah menyukai sebanyak 31.041 orang. Ciri khas dari Facebook, pengguna dapat memberikan pendapat secara terpisah dari postingan Ayah ASI Indonesia melalui fitur ulasan agar orang lain yang mengunjungi akun ini dapat menilai terlebih dahulu sebelum mengikutinya. Pada Twitter, kontennya serupa dengan Instagram namun terkadang terdapat konten berbentuk narasi tulisan mengenai berbagi keresahan atau isu seputar ASI dan kegiatan menyusui. Twitter Ayah ASI Indonesia (@ID_AyahASI) telah memiliki 404.488 pengikut dan 97.583 tweet. Twitter merupakan media sosial pertama yang digunakan dan cikal bakal dari Ayah ASI Indonesia serta memiliki jumlah pengikut terbanyak dari media sosial lainnya. Melalui media sosial Twitter, Ayah ASI Indonesia dapat ikut berpartisipasi secara bebas dalam menanggapi tanggapan pengguna Twitter yang lain, apabila ditemukan pembahasan mengenai pemberian ASI. Pada Youtube, Ayah ASI Indonesia melakukan dokumentasi berbentuk video berdurasi panjang seperti kegiatan kelas Ayah ASI, webinar Ayah ASI dan kegiatan lain-lainnya tersebut yang akan tersimpan pada media sosial ini. Youtube Ayah ASI Indonesia (@AyahASI) telah memiliki 326 subscriber dan telah memposting sebanyak 18 video. Meskipun saat ini Youtube Ayah ASI Indonesia sudah tidak aktif. Sedangkan pada Spotify, Ayah ASI Indonesia juga membuat podcast yang mempermudah pengikutnya untuk memperoleh informasi. Konten berbentuk audio ini mempermudah pengikut yang tidak memiliki banyak waktu maupun lebih menyukai informasi berbentuk audio. Pembahasan podcast ini berasal dari percakapan antara ayah dalam berbagi pengalaman selama mendampingi ibu menyusui. Spotify Ayah ASI Indonesia telah memiliki lima episode dengan durasi dari 2 menit hingga 8 menit. Mengikuti perkembangan zaman, maka Ayah ASI Indonesia juga melakukan berbagi informasi melalui media sosial Tiktok. Di mana kontennya berbentuk video singkat berdurasi kurang lebih dari satu menit yang berisi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan pengikut seputar menyusui. Tiktok Ayah ASI Indonesia (@id_ayahasi) telah memiliki 69.100 pengikut dan jumlah menyukai sebanyak 342.600 orang. Media sosial Tiktok mempermudah pihak Ayah ASI Indonesia dalam menyampaikan informasi menyusui secara jelas dan singkat. Hal ini karena media sosial Tiktok semua kontennya berbentuk video singkat dan didukung juga tools yang mudah dalam proses editing video. Berdasarkan deskripsi media sosial tersebut, penggunaan media sosial di Ayah ASI Indonesia terbilang beragam. Meskipun diantaranya terdapat media sosial yang sudah tidak aktif lagi, seperti Youtube dan Spotify. Namun, untuk Instagram dan Tiktok masih menjadi media sosial yang populer digunakan masyarakat saat ini dalam mencari informasi kesehatan. Berdasarkan dari jumlah pengikut yang mengikuti akun media sosial Ayah ASI Indonesia dengan jumlah terbanyak dan terus terjadi penambahan pengikut pada kedua platform tersebut. Selain itu, pada proses penggunaan media sosial tersebut, peneliti akan lebih cenderung ke salah satu media sosial saja untuk diteliti, yakni Instagram. Menurut Anisah et al. (2021), Instagram memiliki perbedaan dari media sosial lainnya yang disebabkan karena sentralitas gambar. Terdapat juga pertimbangan memilih media sosial Instagram ini atas hasil wawancara yang diperoleh dari salah satu pendiri Ayah ASI Indonesia, sebagai berikut: "Kebanyakkan kegiatannya lewat media sosial ya, awalnya banyak di Twitter, ada Facebook, website juga dan sekarang lebih aktifnya di Instagram. Sebab, new parent kebanyakan di Instagram" (S. Pontoh, wawancara, 30 Desember 2022). Media sosial sebagai platform edukasi mengenai kesehatan erat kaitannya dengan literasi kesehatan. Hal ini karena literasi kesehatan sendiri merupakan keahlian dalam memperoleh, memahami serta menggunakan informasi kesehatan. Menurut Mulyana (2018) berpendapat bahwa informasi kesehatan hadir di ranah publik, dari dulu sampai sekarang, bahkan hingga kelak. Di mana informasi kesehatan secara terorganisir dan sistematis dengan menyebarluaskan informasi menjadi tiga fokus, yaitu pendidikan, kesehatan, dan lingkungan (Pratiwi, Komariah, & Anwar, 2021). Maka, penggunaan media sosial di Ayah ASI Indonesia dalam meningkatkan literasi kesehatan dapat dilihat dari pengetahuan diperoleh ayah melalui media sosialnya dalam membantu ibu memberikan ASI dan pengasuhan anak. Hasil tersebut dapat dilihat dari sebagaimana hal yang sering ditanyakan beberapa ayah kepada Ayah ASI Indonesia di media sosialnya, antara lain: 1) cara suami mendukung istri; 2) cara terhindar dari masalah kesehatan ibu saat menyusui; dan 3) cara berkomunikasi maupun mendengarkan istri. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab dengan pemahaman dimiliki Ayah ASI Indonesia melalui penggunaan berbagai media sosial yang dilakukan sebelumnya sudah disebutkan. Selain itu, Ayah ASI Indonesia menjadi sarana untuk ayah bertemu dengan ayah lainnya yang berkeinginan sama dalam membantu ibu memberikan ASI kepada anak. Hal ini didukung dengan kemudahan berinteraksi melalui media sosial. Sebab, media sosial menawarkan penggunanya untuk mudah terhubung satu sama lain. Dimana Ayah ASI Indonesia sendiri menjadi forum diskusi online yang dapat diakses kapan dan dimana saja oleh siapa pun. Ayah ASI Indonesia juga mengemas konten pada media sosial berdasarkan pendekatan sudut pandang laki-laki. Sehingga menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh laki-laki tentang informasi kesehatan ibu menyusui tersebut. Sebagaimana yang diperoleh dari hasil wawancara dengan salah satu pendiri Ayah ASI Indonesia, sebagai berikut: "Kita kemas kontennya untuk pasarnya bapak-bapak. Dilihat dari followers, mereka tertarik dengan informasi yang kita berikan" (R. Hidayat, wawancara, 12 Agustus 2022). Melalui fitur Instagram story yakni question box. Di mana mimin (admin Instagram Ayah ASI Indonesia) biasanya melempar isu mengenai kesehatan ibu menyusui tiap minggunya, nantinya setiap pengikut dapat merespon dengan mengisinya sesuai keresahan atau pengalaman yang dialami sebagai bentuk membantu sama lainnya. Pengikut yang lain dapat melihat keresahan atau pengalaman yang dibagikan, termasuk ayah yang belum pernah mengalami hal tersebut dapat memperoleh pengetahuan baru untuk mencegah hal tidak diinginkan yang mungkin dapat terjadi selama proses menyusui. Sebagaimana yang diperoleh dari hasil wawancara dengan salah satu pendiri Ayah ASI Indonesia, sebagai berikut: "Mereka langsung bertanya dan kita juga bikin pertanyaan untuk mereka terlibat juga. Tapi umumnya, inisiatif mereka luar biasa kok ikut konten dan diskusi" (S. Pontoh, wawancara, 30 Desember 2022). Penggunaan media sosial di Ayah ASI Indonesia dalam meningkatkan literasi kesehatan sesuai dengan konsep strategi promosi kesehatan bertujuan untuk upaya mengajak ayah terlibat aktif dalam mendukung ibu menyusui. Hal ini karena kurangnya literasi kesehatan di kalangan ayah mengenai pemahaman dalam kegiatan menyusui. Sehingga tingkat keberhasilan dalam pemberian ASI di Indonesia meningkat serta menurunkan jumlah balita yang mengalami gizi buruk. Promosi kesehatan merupakan salah satu bagian domain dari literasi kesehatan. Pada penelitian ini hanya akan berfokus pada satu domain saja, yakni strategi promosi kesehatan untuk melihat penggunaan media sosial Berdasarkan Kementerian kesehatan Republik Indonesia dalam Susilowati (2016), bahwa promosi kesehatan didefinisikan sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengendalikan faktor-faktor kesehatan melalui proses belajar dari siapapun, supaya mereka bisa membantu dirinya sendiri, dan meningkatkan aktivitas yang bersumberdaya manusia, yang cocok dengan sosial budaya setempat serta didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan. Sebagai gerakan sosial, Ayah ASI Indonesia melalui media sosialnya dapat ditinjau pelaksanaan dalam upaya mendukung ibu menyusui menggunakan teori strategi promosi kesehatan yang dikemukakan Susilowati (2016) seperti pada gambar 4. Berdasarkan strategi promosi kesehatan tersebut, diketahui bahwa target dari Ayah ASI Indonesia, ialah ayah yang istrinya mengalami masalah menyusui. Ketika ayah ini mau mengatasi masalah tersebut, maka Ayah ASI Indonesia berperan dalam memfasilitasinya sebagai sarana informasi melalui media sosialnya untuk mereka memenuhi kebutuhan informasi kesehatannya. Setelah memperoleh informasi, maka pelatihan (practice) dapat dilakukan berbagai cara. Salah satunya seperti membantu dalam mengajarkan mengenai information skills (Priatmojo, 2022). Hal ini dengan tujuan membuat para ayah menjadi melek akan informasi kesehatan. Pada konteks penggunaan media sosial, dapat dilihat melalui Instagram Story Ayah ASI Indonesia. Dimana kontennya berbentuk ujian singkat agar pengetahuan yang sudah diperoleh diulang kembali oleh pengikut (Gambar 3) melalui interaksi komunikasi tidak langsung. Sehingga pengetahuan tersebut tidak cepat pudar dan mampu memberikan edukasi lebih mengenai bagaimana mendukung ibu menyusui apabila masih sulit untuk memahami informasi yang diberikan sebelumnya. Sesuai dengan pendapat Limilia and Pratamawaty (2018), bahwa penggunaan media sosial di masa kini juga berpengaruh terhadap bagaimana individu dalam mengekspresikan keterampilan yang dimilikinya melalui media lain. Selain itu, untuk mengajak para ayah untuk terlibat aktif, maka Ayah ASI Indonesia membuat poster undangan mengajak pengikut Ayah ASI Indonesia untuk berpartisipasi dalam kegiatannya yang disebarkan melalui media sosialnya. Dimana sesuai dengan konsep strategi promosi kesehatan yang sebelumnya dijelaskan, yaitu untuk mengajak ayah terlibat aktif dalam mendukung ibu menyusui. Kebutuhan akan informasi kesehatan sangat penting untuk setiap individu. Sejalan dengan pendapat Rachmawati and Agustine (2021), bahwa literasi kesehatan berkaitan dengan faktor dan hubungan yang mempengaruhi kemampuan individu dalam mencari, memahami dan menggunakan informasi pelayanan dan kesehatan secara keseluruhan. Hal ini dapat dilihat pada saat ibu dalam kondisi sehat, maka ibu akan membutuhkan, mencari dan menggunakan informasi kesehatan dalam rangka untuk melindungi diri agar tetap sehat serta pemakaian informasi kesehatan sebagai bentuk pencegahan (preventif). Pada kondisi sakit, maka yang akan dilakukan ialah mencari serta menggunakannya informasi kesehatan yang bersifat tindakan (kuratif). Tindakan preventif yang dilakukan sebelumnya inilah masuk dalam penggunaan media sosial di Ayah ASI Indonesia dalam meningkatkan literasi kesehatan. Sebab, literasi kesehatan adalah tentang cara mengkomunikasikan informasi kesehatan agar dapat dimengerti orang lain (Anisah et al., 2021) Ayah ASI Indonesia berperan dalam memberikan sarana informasi kesehatan agar suami dapat mendukung istrinya pada saat menyusui. Selama prosesnya, Ayah ASI Indonesia menggunakan media sosial dalam menjalankan peran tersebut. Sesuai penjelasan WHO, bahwa terdapat 80% dari negara bagian WHO menggunakan media sosial untuk promosi kesehatan. Untuk mengetahui seberapa efektif peranan Ayah ASI Indonesia dalam meningkatkan literasi kesehatan, maka dapat dilihat dari level pengetahuan pengikutnya (World Health Organization, 2017). Menurut Fitroh and Oktavianingsih (2020), bahwa pada level pengetahuan, individu dapat menyebutkan, mengingat dan memahami serta mengulang informasi. Hal ini dapat diperhatikan dari kegiatan yang dilaksanakan oleh Ayah ASI Indonesia. Di mana kegiatan Ayah ASI Indonesia merupakan kegiatan mendukung ibu menyusui yang lebih cenderung mengubah perilaku sebagai upaya pelaksanaan melalui pendekatan strategi promosi kesehatan. Berdasarkan hal tersebut, maka penggunaan media sosial di Ayah ASI Indonesia dalam meningkatkan literasi kesehatan berada di tingkat tinggi, yakni mampu menilai sebuah informasi yang diterima lalu diinformasikan kembali kepada orang lain sebagai bentuk meningkatkan pengetahuan terkait kesehatan. Hal ini didukung oleh pernyataan salah satu anggota Ayah ASI Indonesia sebagaimana yang diperoleh dari hasil wawancara, sebagai berikut: "Jadi ada respon yang positif dari followers walau di awalnya ada sentimen sentimen negatif dari ibu-ibu ‘Lah, ngapain nih laki-laki ngomongin tentang ASI dan segala macamnya.’ Tapi, justru pada akhirnya ibu-ibu ini mendukung keberadaan Ayah ASI karena mereka sendiri merasa terbantu. Mereka ngerasa dengan hadirnya Ayah ASI ini bisa membantu suaminya untuk lebih terbuka wawasannya tentang kalau si para ayah itu juga mempunyai andil yang sangat besar dalam keberhasilan proses menyusui" (R. Oskar, wawancara, 26 Oktober 2022).
Conclusion
Ayah ASI Indonesia berperan dalam menyampaikan informasi kesehatan yang mudah dan dapat dimengerti oleh para ayah. Penelitian ini membahas penggunaan media sosial di Ayah ASI Indonesia dalam meningkatkan literasi kesehatan. Ayah ASI Indonesia menggunakan berbagai media sosial seperti Instagram, Facebook, Twitter, Youtube, Spotify dan Tiktok. Meskipun pada media sosial Youtube dan Spotify sudah tidak aktif, namun pada media sosial Instagram dan Tiktok masih menjadi media sosial yang populer digunakan masyarakat saat ini dalam mencari informasi kesehatan. Penggunaan media sosial di Ayah ASI Indonesia seperti Instagram mampu meningkatkan literasi kesehatan. Hal tersebut dapat dilihat dari pengetahuan yang diperoleh ayah melalui media sosial tersebut dalam mendukung ibu menyusui. Selain itu, pengikut dapat berinteraksi dengan satu sama lainnya mengenai keresahan atau pengalaman yang dibagikan sesama pengikut media sosial Ayah ASI Indonesia. termasuk ayah yang belum pernah mengalami hal tersebut dapat memperoleh pengetahuan baru untuk mencegah hal tidak diinginkan yang mungkin dapat terjadi selama proses menyusui. Hal ini sesuai dengan konsep strategi promosi kesehatan sebagai bagian dari domain literasi kesehatan, dimana tujuannya untuk upaya mengajak ayah terlibat aktif dalam mendukung ibu menyusui. Berdasarkan hal tersebut, maka pengunaan media sosial Ayah ASI Indonesia dalam meningkatkan literasi kesehatan berada di tingkat tinggi, yakni mampu menilai sebuah informasi yang diterima lalu diinformasikan kembali kepada orang lain sebagai bentuk meningkatkan pengetahuan terkait kesehatan. Peneliti berharap kedepannya Ayah ASI Indonesia mulai mengaktifkan lagi media sosial yang sudah lama tidak aktif dan terus memberikan informasi-informasi kesehatan dalam meningkatkan literasi kesehatan kepada banyak ayah, terutama calon ayah yang membutuhkan informasi kesehatan untuk mendukung ibu menyusui. Hal ini karena pengemasan konten literasi kesehatan yang dilakukan sudah baik, sebab disesuaikan dengan target penerima pesan yaitu seorang ayah. Selain itu, Ayah ASI Indonesia juga menerapkan strategi promosi kesehatan dalam upaya mengajak ayah untuk ikut terlibat aktif dalam pemberian ASI.