Literasi Kesehatan Dalam Pencegahan Covid-19 (Studi Kasus: Universitas Lancang Kuning)
Universitas Lancang Kuning; Universitas Lancang Kuning; Universitas Lancang Kuning
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat literasi kesehatan dosen dan karyawan di Universitas Lancang Kuning salah satu langkah dalam pencegahan covid-19, selain itu penelitian mengkaji prilaku dalam penerapan protokol kesehatan untuk kesadaran pentingnya pencegahan covid-19. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan jumlah populasi 420 responden dan sampel 80 responden instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner yang sudah di uji validitas dengan jumlah 30 pertanyaan dengan hasil alpha cronbach 0.926, terdapat 3 indikator dalam penelitian ini yaitu literasi kesehatan fungsional, literasi kesehatan interaktif dan literasi kesehatan kritis. Hasil penelitian ini dari 3 indikator, literasi kesehatan fungsional dengan jumlah 72%, literasi kesehatan interaktif 76% dan literasi kesehatan kritis 77% secara keseluruhan tingkat literasi kesehatan dosen dan karyawan Universitas Lancang Kuning ada pada persentase 76% berada dalam rentang 76%-100% yang termasuk dalam kategori sangat baik. Artinya literasi kesehatan dosen dan karyawan Universitas Lancang Kuning sangat baik.
Abstract
The aims of this study to determine the level of health literacy of lecturers and employees at Lancang Kuning University, one of the steps in preventing covid-19, in addition to studying the behavior in implementing health protocols for awareness of the importance of preventing covid-19. This study uses a quantitative descriptive method with a population of 420 respondents and a sample of 80 respondents. This study instrument uses a questionnaire that has been tested for validity with a total of 30 questions with a Cronbach alpha result of 0.926, there are 3 indicators in this study, namely functional health literacy, interactive health literacy and critical health literacy. Criticality of this study from those 3 indicators, functional health literacy by 72%, interactive health literacy 76% and critical health literacy 77% overall the level of health literacy of Lancang Kuning University lecturers and employees is 76% in the 76%-100% range. which is included in the very good category. This means that the health literacy of Lancang Kuning University lecturers and employees is very good.
Keywords:
Health literacy
· covid-19
· health literacy level
· health protocol
· lecturers
· and employees
Introduction
Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) di belahan dunia, termasuk Indonesia saat ini menjadi wabah yang mematikan, melumpuhkan banyak sektor mulai dari ekonomi, kehidupan kesehatan, keagamaan, sosial maupun dunia pendidikan. Sampai saat ini Virus Corona belum dapat di atasi dan ini menjadi masalah di dunia. COVID-19 (corona varius disease) di temukan pertama kali di sebuah provinsi di Cina yaitu Wuhan dengan nama corona virus 2019 (2019-nCoV) disebabkan oleh virus Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS Cov-2) disebutkan oleh World Health Organization (WHO) (Nurain, Pradana, 2020). Pada tanggal 15 Desember 2021 satu orang petugas kebersihan wisma atlit teridentifikasi COVID-19 varian baru yaitu varian Omicro, Mentri Kesehatan Indonesia mengatakan penyebaran varian Omicron ini sangat cepat, di Inggris dari 10 kasus tanggal 15 Desember 2021 menjadi 70.000 kasus/Hari (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2021). Dalam hal ini pemerintah membuat suatu kebijakan untuk memutuskan rantai penyebaran COVID-19 dengan berlakukan social distancing atau sering disebut menjaga jarak di masyarakat, juga pemberlakuan PSBB (Pembatasan Sosial Berkala Besar) di beberapa kota di Indonesia sesuai dengan kebijakan pemerintah terdapat di dalam PP Nomor 21 Tahun 2020. Kebijakan ini di berlakukan untuk memutuskan rantai penyebaran termasuk aktivitas belajar mengajar, berlakunya aturan pembelajaran harus secara daring agar dapat memutuskan penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19) melalui Surat Edaran Mendikbud Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 (Rita Kusumah, n.d.). Dengan adanya kebijakan tersebut perguruan tinggi seluruh Indonesia melakukan pembelajaran secara daring. Namun bagi dosen dan pegawai Universitas Lancang Kuning harus ke kampus untuk melaksanakan Tri Darma Perguruan Tinggi dengan begitu Protokol kesehatan di Universitas Lancang Kuning diberlakukan untuk pencegahan penyebaran virus corona di Universitas Lancang Kuning dari social distancing, WFH (Work From Home), pengecekan suhu, menggunakan masker, dan tempat pencuci tangan. Pada saat ini pemerintah memberikan himbauan untuk melakukan 3T (testing, tracing, treatment) untuk menekan penyebaran COVID-19, protokol kesehatan 5M juga diterapkan yaitu (memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, serta membatasi mobilitas dan interaksi) serta seruan untuk melakukan vaksin. Dosen dan pegawai Universitas Lancang Kuning harus memiliki informasi dalam pencegahan COVID 19, berkembangnya Informasi dalam mengatasi persoalan COVID-19 (Muhammmad farhansyah, Riza astuti, 2020) Informasi terkait bagaimana seharusnya masyarakat menghadapi virus COVID-19 banyak beredar termasuk di media sosial, juga informasi yang disampaikan oleh WHO. Penyebaran informasi ini ternyata banyak informasi yang palsu serta tidak akuratnya informasi yang didapat salah satunya ialah adanya pernyataan “apabila berada di udara bersuhu 26-27 °C, virus corona akan mati, sehinga tidak hidup di daerah panas. Di samping itu, minum air panas dan berjemur di bawah sinar matahari sudah cukup sebagai pencegahan”. Hal ini harus lebih di cermati oleh para pekerja di lingkungan Universitas Lancang Kuning dalam pencegahan COVID-19. Individu yang mendapat Informasi yang salah saat masa pandemi ini menyebabkan timbulnya ketakutan, paronia, dan stigmatisasi. Dalam hal seperti informasi yang tepat sangat perlu untuk individu tersebut, supaya setiap individu waspada dan melaksanakan protokol kesehatan untuk pencegahan COVID-19. Literasi kesehatan yang rendah terhadap seseorang bisa lebih rentan tertular COVID-19 (Prem, Y, 2020). Apa lagi literasi di Indonesia masih rendah, indeks minat baca di Indonesia yang di catat oleh data terbaru januari 2020, UNESCO menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca masyarakat sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca.Rata-rata masyarakat di Indonesia membaca nol sampai satu buku per tahun (Suharmono, 2015). Literasi kesehatan ialah bagaimana seseorang mampu dalam menerima, membaca juga memahami informasi serta dalam mengambil keputusan kesehatan yang tepat dan mengikuti instruksi perawatan kesehatan. Konsep literasi kesehatan sudah dikembangkan oleh Sorensen, dkk (2012) di dalam (Rianti Kesumawati, Kusman Ibrahim, 2019) literasi kesehatan memiliki beberapa komponen penting yaitu terdapat tiga bagian kesehatan. Tiga komponen itu ialah bagaimana kemampuan perawatan kesehatan, upaya melakukan pencegahan penyakit serta pendidikan atau promosi kesehatan yang akan menghasilkan pengetahuan dan keterampilan dalam perawatan kesehatan. Melihat Kondisi di lapangan saat ini informasi yang beredar masih banyak masyarakat belum dapat memilah informasi yang diberikan, aktivitas di kampus Universitas Lancang Kuning yang mengharuskan dosen dan pegawai untuk hadir di kampus. Adanya beberapa kasus dosen dan pegawai teridentifikasi terkena COVID-19 dan ada yang sampai meninggal dunia, ini menjadi kendala dalam pemutusan rantai penyebaran COVID-19 padahal kampus sudah melakukan protokol kesehatan ini menjadi tanda tanya maka tujuan peneliti ingin mengetahui bagaimana tingkat literasi kesehatan dosen dan pegawai Universitas Lancang Kuning dalam pencegahan covid-19 serta bagaimana penerapan literasi kesehatan dalam pencegahan covid-1.
Method
Penelitian ini metode deskriptif kuantitatif. Variabel yang di gunakan dalam penelitian ini literasi kesehatan dengan tiga indikator variabel yaitu, literasi kesehatan fungsional sebagai ketarampilan dasar terhadap kesehatan, literasi kesehatan interaktif ketarampilan pribadi terhadap informasi kesehatan, dan literasi kesehatan kritis kemampuan dan pengembangan keterampilan kesehatan tersebut (Ramadhan, 2017). Penelitian ini dilakukan dari bulan November 2021 sampai Februari 2022 di Universitas Lancang Kuning untuk mengetahui tingkat literasi kesehatan dosen dan karyawan dalam pencegahan covid-19, instrumen penelitian ini menggunakan non tes yaitu kuesioner tertutup yang menggunakan skala likert. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan proportionate stratifed random sampling, sampel ini dipilh sesuai dengan jumlah dosen setiap fakultasnya, sampel tersebut menggunakan rumus Yamane atau Slovin (Sugiyono, 2016). dari hasil rumus tersebut di dapatkan sebanyak 80 sampel. Pengumpulan data menggunakan kuesioner literasi kesehatan dengan tiga indikator literasi kesehatan fungsional, literasi kesehatan interaktif, literasi kesehatan kritis yang sudah tervalidasi dengan nilai uji validitas dan reliabilitas 0,926 dari 34 pertanyaan. Analisis data yang dilakukan menggunakan hitungan berdasarkan distribusi frekuensi relatif dari vandalisme yang ada. Kemudian data diolah dengan rumus persentase, berdasarkan skor yang telah ditetapkan, jawban responden akan dihitung selanjutnya akan dibandingkan dengan skor ideal ( Kriterium) untuk seluruh item dan disajikan secara kontium.
Result
Tabel. 1 Distribusi Frekuensi Indikator Literasi Kesehatan Fungsional Keterangan F Persentase Sangat Setuju 123 26% Setuju 227 47% Tidak Setuju 79 16% Sangat Tidak Setuju 51 11% Jumlah 480 100% Tabel dan gambar diatas merupakan responden terhadap kemampuan literasi kesehatan fungsional yang mencerminkan keterampilan dasar pendidikan kesehatan tradisional atau sederhana. Tingkat literasi kesehatan fungsional dosen dan karyawan Universitas Lancang Kuning memiliki kemampuan literasi yang bagus dilihat dengan persentase tabel dan gambar di atas 47% setuju dan 26% sangat setuju. Literasi kesehatan fungsional dosen dan karyawan menentukan langkah awal pencegahan covid-19 di lingkungan kampus dengan literasi kesehatan fungsional yang bagus dengan persentase sangat signifikan, didukung juga pihak kampus Universitas Lancang Kuning memberikan informasi terkait protokol kesehatan di media,lingkungan kampus dll, dengan literasi kesehatan fungsional dosen dan karyawan yang bagus menentukan tingkat literasi kesehatan yang lainnya. Tabel 2. Distribusi Frekuensi Indikator Literasi Kesehatan Interaktif Keterangan F Persentase Sangat Setuju 200 25% Setuju 449 56% Tidak Setuju 138 17% Sangat Tidak Setuju 13 2% Jumlah 800 100% Tabel dan gambar di atas merupakan tanggapan responde terhadap kemampuan literasi kesehatan interaktif, dari hasil di atas kemampuan literasi dosen dan karyawan memiliki literasi yang baik persentase menunjukkan 56% setuju serta 25% sangat setuju persentase ini mentukan tingkat litersi kesehatan dosen dan karyawan dalam pencegahan covid-19 di Universitas Lancang Kuning. Literasi Kesehatan Interaktif memberikan dampak kepada individu dalam mencari informasi untuk pencegahan serta motivasi dan keyakinan individu dalam melakukkan pencegahan covid-19 dari informasi yang telah didapatkan, dari hasil ini dosen dan karyawan memilikin tingkat literasi kesehatan interaktif yang baik dengan mengikuti protokol kesehatan mencuci tangan, memakai masker, vaksin dan menggunakan aplikasi peduli lindungi yang di terapkan oleh kampus. Tabel 3. Distribusi Frekuensi Indikator Literasi Kesehatan Kritis Keterangan F Persentase Sangat Setuju 257 23% Setuju 707 63% Tidak Setuju 146 13% Sangat Tidak Setuju 10 1% Jumlah 1120 100% Tabel dan Gambar di atas merupakan tanggapan responden terhadap kemampuan literasi kesehatan kritis. Dari hasil di atas Sebanyak 63% menyatakan setuju dan 23% sangat setuju disini bisa kita lihat kemampuan literasi kesehatan kritis dosen dan karyawan Universitas Lancang Kuning cukup tinggi. Literasi keshatan kritis ini adalah mencerminkan kemampuan dan pengembangan keterampilan pribadi atas hasil yang dapat direalisasikan untuk mencapai tujuan dalam berorientasi kedepannya literasi kesehatan kritis memberikan dampak untuk individu lainnya dalam menyampaikan informasi serta berperan untuk masyarakat untuk mencegah covid-19. Tabel 4. Distribusi Frekuensi Literasi Kesehatan Universitas LancangKuning Keteranagan F Persentase Sangat Setuju 580 24% Setuju 1383 58% Tidak Setuju 363 15% Sangat Tidak setuju 74 3% Jumlah 2400 100% Tabel 4 dan 4 gambar di atas merupakan hasil rekapitulasi keseluruhan tanggapan responden terhadap hasil angket literasi kesehatan dalam pencegahan covid-19 Universitas Lancang Kuning. Berdasarkan tabel dan diagram tersebut, terlihat bahwa jawaban tertinggi ada pada responden yang menanggapi setuju dengan persetase 58% hampir separuh kemampuan literasi kesehatan dosen dan karyawan Universitas Lancang Kuning Baik, dan yang memilih sangat setuju sekitaran 24% kemampuan literasi kesehatan sangat baik. Sementara yang kemampuan literasi kesehatannya dibawah yaitu 15% tidak setuju dan 3% sangat tidak setuju. Dari hasil di atas menunjukkan tingkat literasi kesehatan dosen dan karyawan Universitas Lancang Kuning berada di persentase yang sangat baik. Tabel 5. Rekapitulasi Perhitungan Data Angket Literasi Kesehatan Dalam Pencegahan Covid-19 Unilak No. Indikator Frekuensi Nilai Max Skor Max Skor Ideal % Kategori 1 Fungsional 480 4 1920 1382 72% Cukup Baik 2 Interaktif 800 4 3200 2436 76% Sangat Baik 3 Kritis 1120 4 4480 3451 77% Sangat Baik Total 2400 4 9600 7269 76% Sangat Baik Berdasarkan tabel 5 dan gambar 5 di atas, terlihat bahwa persentase tertinggi ialah indikator Literasi Kesehatan Kritis yaitu sebesar 77% hal ini berarti kemampuan responden dalam mengumpulkan informasi, menilai informasi, mengkritisi pencegahan penyakit, menguasai informasi,mengkomunikasikan informasi dan implementasi informasi yang didapat tergolong sangat baik. Jawaban tertinggi yang ke-2 ada pada indikator interaktif dengan persentase 76%, hal ini berarti kemampuan responden dalam literasi kesehatan interaktif yaitu pemilihan jenis sumber informasi, reaksi terhadap permaslahan, memanfaatkan pelayanan kesehatan dan memahami informasi tergolong sangat baik. Indikator yang terakhir yaitu literasi kesehatan fungsional dengan persentase 72% hal ini kemampan responden terhadap permasalahan awal,membaca informasi, pendidikan dasar kesehatan tradisional ada pada kategori cukup baik. Jadi secara keseluruhan , literasi kesehata pada dosen dan karyawan Universitas Lancang Kuning ada pada persentase 76% dan ada pada rentang nilai 76 -100% serta termasuk dalam kategori sangat baik. Dari hasil tersebut literasi kesehatan dosen dan karyawan sangat baik memberikan dampak yang baik terhadap lingkungan kampus di Universitas Lancang Kuning dalam melakukan pencegahan covid-19 serta informasi protokol kesehatan dan informasi di media kampus tetap berjalan.
Discussion
Literasi kesehatan ialah keterampilan individu dalam dua hal yaitu pengelolaan kognitif dan sosial. Dua komponen tersebut akhirnya dapat menjadikan individu memiliki kompetensi untuk mengakses, memahami, mengambil, dan menerapkan informasi kesehatan dalam berbagai aspek kesehatan mulai dari konsep pencegahan sampai pada aspek pengobatan/kuratif. Kompetensi tersebut diwujudkan dengan kemampuan menemukan fakta, berpikir kritis, pemecahan isu kesehatan, dan pengambilan keputusan dan kemampuan dalam berkomunikasi, (Latif, Antinah riana, 2019) . Menurut Nutbeam di dalam (Ramadhan, 2017) terdapat pertimbangan dalam program pendidikan kesehatan dan komunikasi yang menunjang tingkat literasi kesehatan sebagai berikut : Literasi Kesehatan Fungsional, Mencerminkan dari keterampilan dasar dalam pendidikan kesehatan tradisional atau sederhana, seperti membaca nama obat yang didasarkan pada komunikasi informasi yang dapat diakses melalui media media dan dengan melakukan kebiasaan berbagi informasi dengan masyarakat lain mengenai risiko kesehatan dan penggunaan pelayanan kesehatan. Dari tindakan tersebut untuk membatasi tujuan ke arah meningkatkan pengetahuan tentang risiko kesehatan, pelayanan kesehatan, dan kepatuhan dengan tindakan yang ditentukan. Berdasarkan hasil penelitian ini, literasi kesehatan fungsional Universitas Lancang Kuning baik, karena rata-rata setuju (47%) dan sangat setuju (26%) kemampuan responden mencermikan bagaimana keterampilan dasar serta pendidikan kesehatan tradisional yang di tunjukan dengan prilaku responden terahadap virus covid-19 dan mengetahui gejala awal covid-19 informasi yang didapat mengenai resiko kesehatan serta penyebab terinfeksinya virus covid-19 dengan hasil ini responden melakukan akses informasi yang baik untuk mencegah covid-19. Literasi Kesehatan Interaktif, di fokuskan pada pengembangan keterampilan pribadi yang dimiliki seseorang dalam lingkungan yang mendukung. Umumnya dilakukan dengan cara mencari informasi dari berbagai sumber yang diketahui dan sesuai dengan saran yang di terima. Dalam pendidikan diarahkan untuk meningkatkan kapasitas pribadi untuk bertindak secara independen pada pengetahuan, untuk meningkatkan motivasi dan keyakinan diri untuk bertindak atas saran diterima (Ramadhan, 2017). Hasil penelitian menunjukkan responden mencari informasi yang valid dan juga berbagi dengan sumber informasi yang didapat, memeliki reaksi terhadap informasi tersebut untuk tindakan pribadi dalam pencegahan covid-19 dari persentase didapat (56%) setuju dan (25%) sangat setuju hasi ini menunjukkan literasi kesehatan Interaktif Universitas Lancang Kuning sangat baik, tindakan responden di tunjukkan sumber informasi yang didapat melakukan apabila dosen dan karyawan mengalami gejala covid-19 Unilak memberikan izin untuk isolasi mandiri serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Literasi kesehatan interaktif mengembang kemampuan pribadi dengan melihat lingkungan sekitar dan informasi yang didapat sesuai dengan kejadian di lapangan. Literasi Kesehatan Kritis, disasarkan pada literasi fungsional dan interaktif yang mencerminkan kemampuan dan pengembangan keterampilan pribadi atas hasil yang dapat direalisasikan untuk mencapai tujuan dalam berorientasi kedepannya, Secara umum, seseorang yang memiliki tingkat literasi kesehatan kritis ini mampu memfasilitasi pengembangan masyarakat (Ramadhan, 2017). Dari hasil ini literasi kesehatan kritis Universitas Lancang Kuning baik dengan persentase (63%) setuju dan (23%) sangat setuju dengan ini responden mampu mengaplikasikan informasi yang didapat saat dilapangan, responden melakukan pencegahan covid-19 dan di dukung oleh pihak kampus dengan adanya tempat mencuci tangan,informasi penggunaan masker,menjaga jarak,melakukan vaksinisasi dan penggunaan aplikasi peduli lindungi untuk mengatasi angka covid 19 di lingkungan Universitas Lancang Kuning. Dari hasil keseluruhan dapat dilihat tingkat literasi kesehatan Universitas Lancang Kuning sangat baik dari total keseluruhan indikator didapatkan persentase (76%) di tabel 5 dengan cara di ukur pada garis kontinum pada gambar 5, karena literasi kesehatan Universitas Lancang Kuning di dukung dengan tindakan pencegahan covid-19 serta informasi informasi yang diberikan oleh pihak kampus serta melakuakan pencepatan vaksinasi untuk mengurangi angkat covid-19 juga penggunaan aplikasi peduli lindungi dibeberapa titik yang ada di kampus. Responden dapat mengakses,memahami,mengambil serta menerapkan informasi kesehatan serta pencegahan covid-19 dilingkungan kampus Universitas Lancang Kuning.
Conclusion
Berdasarkan hasil analisis data pada bagian Hasil dan Pembahasan dengan tabel rekapitulasi data angket secara keseluruhan, literasi kesehatan dosen dan karyawan Universitas Lancang Kuning termasuk pada kategori sangat baik dengan rata-rata persentase seluruh indikator yang digunakan sebesar 76% yang dapat diartikan bahwa seluruh dosen dan karyawan Universitas Lancang Kuning memiliki tingkat literasi kesehatan yang sangat baik. Dengan hasil ini, pengetahuan yang didapatkan dari penelitian ini bisa bermanfaat untuk seluruh dosen dan karyawan Univeritas Lancang Kuning agar tetap mempersiapkan diri dan terus membudayakan literasi Kesehatan dalam kondisi baik buruk contohnya seperti keadaan pandemi covid-19 yang mengharuskan kita untuk terus melakukan literasi kesehatan agar tetap dapat berjuang hidup dan beradaptasi selama pandemi covid 19 ini.