Kembali
16
1
2020 Jurnal El-Pustaka Vol 1 · 1 ISSN 2775-6939

MENINGKATKAN KEMAMPUAN DIRI PUSTAKAWAN BERBASIS SOFT SKILL DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Abstract

The 4.0 industrial revolution changed various fields of human life, starting from their mindset, behavior, even their interesting. Their tendency towards everything refers to the ease and accuracy of access. Their desire to obtain information easily becomes a top priority. Meanwhile, the library as a source of information is required to strive continually to provide the best service and keep spreading of the times. If not, the library will be disrupted in other words will be left by users and they choose sources of information that they think is better and more fun, for example social media, the internet, etc. In fact, all sources of information are not necessarily guarantee the accuracy of the data and the ability to provide what is desired. Only the issue of convenience will be a top priority. The library should be the main source of information and make other places as supporting sources. This is why the important role of librarians as library organizers needs to recognize the concepts of self-defense and self-development based on soft skills and hard skills. In the 4.0 era, artificial intelligence, internet of things, cloud computing, will increasingly become the center of technology development. Everything can be automated through super-smart devices. It seems that this will not happen depending on the way we handle and deal with the challenge, because humans have a soul while robots do not. The sweet and sincere smile of the librarian will not be able to be replaced by even the smartest machines.
Keywords: Soft Skills · Librarians · Industrial Revolution 4.0

Introduction

Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi kini sudah semakin pesat. Teknologi Informasi adalah seperangkat alat yang membantu anda bekerja dengan informasi dan melaksanakan tugas-tugas yang berhubungan dengan pemrosesan informasi. Sedangkan Teknologi Komunikasi adalah sebuah alat atau perangkat yang menggabungkan aspek sosial yang memungkinkan setiap individu dapat memperoleh, mengirimkan, dan saling bertukar informasi dengan individu-individu lainnya. Dengan begitu, setiap individu dapat mencari informasi atau data yang dibutuhkan dengan teknologi komunikasi. Maka dapat disimpulkan bahwa Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah suatu padanan yang tidak terpisahkan yaitu segala kegiatan yang terkait dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, dan transfer/pemindahan informasi antar media. Hal itu dirasakan dangan semakin banyak munculnya peralatan informasi dan komunikasi yang semakin canggih. Komputer sudah dapat ditemui dimanapun, misalnya di sekolah, rumah, apalagi kantor-kantor dan instansi. Kemudian alat komunikasi seperti halnya handphone/telepon genggam, pada masa ini hampir semua orang memilikinya. Hal-hal tersebut kini tidak hanya digunakan untuk mengetik saja, namun sudah digunakan sebagai perangkat yang penting dalam proses pengerjaan suatu pekerjaan hingga dalam proses pengambilan keputusan penting. Maka dari itu teknologi sangat penting dalam kehidupan sehari-hari mengingat sekarang sudah jaman globalisasi yang serba instan, kalau kita tidak mengikutinya atau tidak terpengaruh maka kita akan ketinggalan jaman atau informasi. Soft Skill atau keterampilan hidup, sebuah modal untuk hidup. Sebuah pertanyaan yang muncul bahwa kenapa generasi sekarang mengalami persoalan yang kompleks ketika para sarjana memasuki dunia kerja? Persoalan kompleks dapat berupa malas, menunggu kerja dari orang lain alias kurang inisiatif, kurang percaya diri, kurang pergaulan “kuper” bila bersamaan dengan kawannya yang hidup dan berkembang pada dunia maju. Pertanyaan selanjutnya ialah apakah pendidikan formal mulai sekolah dasar, sampai pendidikan tinggi tidak cukup menghasilkan karakter manusia yang sempurna? Tentunya pertanyaan tersebut mengena untuk mereka yang akan bekerja pada ranah keramahtamahan atau pelayanan. Tentunya termasuk dalam profesi kepustakawanan sebab dalam dunia perpustakaan dibutuhkan keterampilan soft skill yang handal untuk dapat memberikan pelayanan prima bagi para pemustaka. Sebelum kita membahas tentang soft skill secara detail, terlebih dahulu kita membandingkan antara hard skill dan soft skill. Secara garis besar, soft skill merupakan keterampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain (interpersonal skill) serta keterampilan dalam mengatur dirinya sendiri (intra-personal skill) yang mampu mengembangkan produktifitas kerja secara maksimal. Sedangkan hard skill yaitu penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan keterampilan teknis yang berhubungan dengan disiplin ilmunya. LANDASAN TEORI Konsep Dasar Soft Skill Soft skill adalah perilaku personal dan interpersonal yang mengembangkan dan memaksimalkan kinerja humanis, transferable skills, general skill. Sementara hard skills adalah penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan keterampilan teknis yang berhubungan dengan bidang ilmunya. Keduanya sangat dibutuhkan di era revolusi industri keempat, tetapi penulis hanya fokus pada pembahasan soft skill pada tulisan ini.1 Wikipedia (2005) memaparkan sebagai berikut: “Soft skills merupakan istilah sosiologis yang merujuk pada sekumpulan karakteristik kepribadian, daya tarik sosial, kemampuan berbahasa, kebiasaan pribadi, kepekaan atau kepedulian, serta optimisme. Keterampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain dan keterampilan dalam mengatur dirinya sendiri (Intra-personal Skills) yang mampu mengembangkan unjuk kerja secara maksimal. Secara garis besar soft skills bisa digolongkan ke dalam dua kategori yaitu Intra-personal skill dan Interpersonal skill. Intra-personal skill mencakup : self-awareness (self-confident, self-control, trust, worthiness, time/source management, proactivity, conscience). Interpersonal skill mencakup social awareness (political awareness developing others, leveraging diversity, service orientation, empathy dan social skill (leadership, influence, communication, conflict management, cooperation, team work, synergy)”. Soft skill merupakan bagian keterampilan seseorang yang lebih bersifat pada kehalusan atau sensitifitas perasaan seseorang terhadap lingkungan di sekitarnya. Dikarenakan soft skill lebih mengarah kepada keterampilan psikologis, maka dampak yang diakibatkan lebih tidak kasat mata namun tetap bisa dirasakan. Akibat yang bisa dirasakan adalah perilaku sopan, disiplin, keteguhan hati, kemampuan kerjasama, membantu orang lain dan lainnya. Menurut Patrick S. O’Brien dalam bukunya Marking College Count, soft skill dapat dikategorikan ke dalam 7 area yang disebut winning Characteristics,2 yaitu, (1) communication skills, (2) organizational skills, (3) leadership, (4) logic, (5) effort, (6) group skills, dan (7) ethics. Kemampuan nonteknis yang tidak terlihat wujudnya (intangible) namun sangat diperlukan itu disebut soft skill. Soft skill yaitu pengembangan dari kecerdasan EQ yang dimiliki oleh tiap manusia dan juga perlu ditumbuhkan dalam diri kita masing-masing agar kita dapat memotivasi diri dan orang lain, bertanggung jawab, membangun relasi, berkomunikasi, negosiasi, beradaptasi dengan lingkungan, berekreasi, berinovasi dan berwirausaha, memimpin, membangun kerjasama, mengelola sumber daya dan lain sebagainya. 3 Pentingnya Soft Skill Yang menjadi persoalan utama adalah mengisi dimensi emosional, serta segala yang diperlukan untuk kecakapan hidup seseorang. Soft skill sebagai keterampilan dan kecakapan hidup, baik untuk diri sendiri, berkelompok atau bermasyarakat. Dengan mempunyai soft skill akan membuat keberadaan seseorang akan semakin terasa di tengah masyarakat. Adapun keterampilan soft skill meliputi: a. Keterampilan berkomunikasi dengan baik b. Keterampilan mengelola emosional c. Keterampilan berbahasa serta menempatkan situasi dan kondisi d. Keterampilan berkelompok atau berorganisasi e. Memiliki etika dan moral serta santun f. Keterampilan spiritual. Hasil penelitian psikologi sosial menunjukkan bahwa orang yang sukses di dunia ditentukan oleh peranan ilmu sebesar 18%. Sisanya sebesar 82% ditentukan oleh kecerdasan soft skill dan sejenisnya. Para ahli manajemen percaya bahwa seandainya ada beberapa orang yang memiliki keunggulan hard skill yang sama maka yang akan sukses di masa mendatang adalah mereka yang memiliki soft skill yang lebih baik, sebab mereka tidak hanya mengandalkan hard skill yang unggul tetapi juga didukung oleh soft skill yang tangguh.4 Banyak contoh di sekitar kita membuktikan bahwa orang yang memiliki pendidikan tinggi belum tentu sukses berkiprah di dunia pekerjaan. Seringkali mereka yang berpendidikan formal lebih rendah, ternyata lebih berhasil di dunia pekerjaan. Saat ini banyak orang berpendidikan yang tampak menjanjikan mengalami kemandekan dalam kariernya. Menurut survei nasional di Amerika Serikat tentang apa yang diinginkan oleh para pemberi kerja menyatakan bahwa keterampilan teknik tidak seberapa penting bila dibandingkan dengan keterampilan dasar untuk beradaptasi dalam pekerjaan antara lain: a. Kemampuan mendengar dan berkomunikasi secara lisan b. Kemampuan adaptasi c. Pandai dalam berkreativitas d. Memiliki ketahanan mental terhadap kegagalan, e. Memiliki kepercayaan diri yang tinggi f. Motivasi diri yang baik g. Kerjasama tim serta keinginan memberi konstribusi terhadap organisasi/ perusahaan.

Result & Discussion

Kombinasi Antara Hard Skill Dan Soft Skill Perbedaan secara mendasar antara hard skill dan soft skill terletak pada teknik penerapannya. Hard skill merupakan sebuah keterampilan teknis yang didapatkan melalui pelajaran, teori-teori yang mendukung keterampilan kerja sesuai bidang yang digeluti sedangkan soft skill lebih mengarah pada keterampilan hidup dan kemampuan mengatur yang mendukung tercapainya tujuan hard skill. Soft skill merupakan pendukung yang sangat berperan nantinya. Seorang ilmuan sekalipun jika ia tidak memiliki kepandaian berkomunikasi akan mudah tersisih dari sebuah kelompok seprofesi. Meskipun penguasaan ilmu sudah mumpuni namun tidak disertai dengan kemampuan mengambil inisiatif, berkreasi dan berinovasi, maka ilmunya tidak akan terpakai secara maksimal. Sebagai contoh pada perekrutan karyawan pada sebuah perusahaan, maka kompetensi teknis dan akademis (hard skill) lebih mudah untuk diseleksi. Kompetensi ini dapat langsung dilihat pada daftar riwayat hidup, pengalaman kerja, indeks prestasi, dan keterampilan yang dikuasai. Sedangkan soft skill-nya biasanya dievaluasi melalui psikotes dan wawancara mendalam. Para pimpinan perusahaan berprinsip bahwa untuk apa hard skill yang hebat namun kemampuan soft skill misalnya team work, kemampuan berkomunikasi dan interpersonal relationship yang buruk. Hal tersebut menunjukkan bahwa hard skill merupakan faktor penting dalam bekerja, namun keberhasilan seseorang dalam bekerja lebih ditentukan oleh soft skill yang baik. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa seorang yang terampil bekerja namun tidak memiliki komunikasi yang baik, maka keterampilan yang dimilikinya tidak dapat diketahui oleh banyak orang. Keterampilan yang hebat namun tidak mampu bekerja secara berkelompok maka akan sia-sia. Olehnya itu, untuk siap terjun ke dunia kerja, apapun profesi yang kita geluti perlu adanya kombinasi antara hard skill dan soft skill termasuk dalam profesi pustakawan yang berhubungan dengan pelayanan pada masyarakat. Kombinasi antara hard skill dan soft skill tentu akan melahirkan kinerja yang luar biasa. Apabila hal ini diterapkan dalam pengelolaan perpustakaan, maka tujuan perpustakaan sebagai sumber belajar yang menyenangkan akan terwujud. Neil Richard Gaiman, penulis terkenal asal Inggris, pernah mengungkapkan pernyataan yang sangat menarik tentang kaitan antara Google dengan pustakawan. Neil menyatakan bahwa “Google can bring you back 100,000 answers, a librarian can bring you back the right one (google dapat membawa anda pada 100.000 jawaban sedangkan seorang pustakawan dapat membawa anda kepada jawaban yang benar)”. 5 Dari apa yang diungkapkan Neil Richard Gaiman tersebut setidaknya menunjukkan bahwa keberadaan pustakawan masih (dan akan terus) dibutuhkan, dengan catatan pustakawan juga mempunyai kemauan dan kemampuan untuk dapat memanfaatkannya. Terlebih pustakawan sebagai manusia mempunyai sisi humanis yaitu dapat bersikap ramah dan hangat, sesuatu yang tidak dipunyai oleh mesin dan teknologi secanggih apapun. Jadi, keberadaan teknologi justru harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk memperkuat posisi pustakawan. Maka dari itu, untuk menghadapi tantangan-tantangan di era revolusi industri 4.0. pustakawan hendaknya mengasah baik Hard skill maupun soft skill yang menurut penulis antara lain sebagai-berikut: 1. Hard skill dalam hal pengelolaan informasi, yaitu: a. Memahami dan menguasai berbagai metode atau model literasi informasi yang berguna untuk memilih dan memilah informasi serta memecahkan masalah dan mengambil keputusan seperti metode The Big6, Seven Pillars of Information Literacy Core Models, Empowering 8, The Seven Faces of Information Literacy dan sebagainya. b. Mempunyai akses yang baik terhadap sumber-sumber informasi terkini (mempunyai akses internet) dan juga menguasai cara penelusuran informasi menggunakan sumber-sumber informasi lain pada umumnya (seperti ensiklopedi, jurnal, buku-buku referensi dan sebagainya). c. Menguasai metode pencarian yang baik menggunakan mesin pencari, semisal Google dengan metode logika Boolean (AND, OR, NEAR, NOT) untuk mempersempit hasil pencarian, sehingga tingkat ketepatannya dapat lebih signifikan. d. Menguasai teknik pengklasifikasian dan ilmu-ilmu perpustakaan yang berkaitan lainnya sebagai prasyarat untuk mempermudah proses temu kembali (retrieval) informasi. e. Memahami (setidaknya dasar-dasar) database agar dapat mudah menyimpan dan menemukan kembali data-data dan karya-karya ilmiah yang berbentuk digital. f. Menguasai bahasa asing, terutama bahasa Inggris menjadi nilai lebih, karena banyak informasi disajikan dalam bahasa Inggris. 2. Soft skill untuk meningkatkan profesionalitas, yaitu: a. Listening skills, kemampuan mendengarkan pendapat, masukan-masukan dan ide-ide dari pemustaka. Kemampuan ini membutuhkan tingkat kesabaran tinggi karena ada kalanya pemustaka bertindak “kurang ramah” (terlalu rewel, minta dilayani serba cepat atau semacamnya). b. Communication skills, kemampuan berkomunikasi yang memadai, efektif dan menyenangkan untuk membina hubungan baik dengan orang lain khususnya dengan pemustaka, melalui komunikasi verbal maupun komunikasi non verbal. Oleh karena itu penting bagi pustakawan untuk menguasai cara berbicara ataupun berdiskusi, termasuk menyampaikan pemikiran dan ide-idenya dalam bentuk tulisan (makalah, artikel, essai, buku dan lain-lain). c. Public relation skill, kemampuan membangun relasi dan kerja sama dengan pemustaka, dengan pustakawan maupun dengan perpustakaan dan organisasiorganisasi lainnya untuk meningkatkan kualitas diri dan pekerjaannya. Prinsip “tidak ada satu pun perpustakaan yang lengkap” serta “tidak ada satu pun manusia (pustakawan) yang sempurna” berlaku di sini, maka dari itu salah satu cara untuk menutupi kekurangan itu adalah banyak-banyak berdiskusi, berbagi informasi (sharing), serta berorganisasi supaya dapat menjadi lebih baik. Jadi, “sharing untuk memberikan yang terbaik”, bukan “bersaing untuk menjadi yang terbaik”. Lagi pula, knowledge sharing juga merupakan salah satu tuntutan Library 4.0. Penguasaan soft skill yang erat kaitannya dengan EQ sebagaimana diuraikan di atas, memang sangat diperlukan pustakawan. Hanya sayangnya kurikulum pendidikan di Indonesia pada umumnya mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi kebanyakan lebih mengutamakan penguasaan hard skill (IQ) dari pada soft skill (EQ). Padahal menurut penelitian para ahli, seseorang dengan kemampuan EQ yang lebih tinggi dapat mencapai kesuksesan lebih baik dari pada orang yang hanya mempunyai IQ tinggi saja sedangkan tingkat EQ-nya rendah. Namun tentunya lebih baik lagi jika pustakawan menguasi keduanya. Semua itu tentu saja membutuhkan kesadaran, stimulasi dan melakukan perbaikan diri secara terus menerus. Apabila diringkas, konsep hard skill dan soft skill pustakawan adalah sebagaimana contoh dalam bagan berikut ini: Tabel 1: Perbandingan Hard skill (IQ) dan Soft skill (EQ) Pustakawan6 Hard skill (IQ) Pustakawan Soft skill (EQ) Pustakawan Menguasai teori pencarian informasi dan metode penyelesaian masalah Sabar mendengarkan dan menyimak (listening skill) Menguasai teknologi, teori komunikasi dan bahasa Inggris Ramah, hangat dan menyenangkan dalam berkomunikasi dan bertutur kata (communication skill) Menguasai TIK (mesin pencari, jejaring sosial, email, OPAC, website perpustakaan, dan lain-lain) Mempunyai kemampuan menuliskan ide, pendapat secara tertulis dengan santun dan menggunakan gaya bahasa yang baik (communication skill) Menguasai teori dan ilmu-ilmu perpustakaan pada umumnya Dapat bekerja sama dengan siapa saja (public relation skill) Dalam dunia kerja, terdapat beberapa contoh hard skill yang dibutuhkan. Dengan memilikinya, seorang pelamar akan lebih mudah mendapat tempat di suatu perusahaan atau lembaga lain. Contoh 1: Kemampuan Bahasa Asing Menguasai bahasa asing akan baik terutama jika CV ditulis dalam Bahasa Inggris. Selain Bahasa Inggris, jika seorang pelamar mampu berbahasa asing maka tentu lebih diprioritaskan. Contoh 2: Akta, Sertifikat dan Piagam Bagaimanapun juga, kemampuan yang banyak juga harus diiringi dengan banyaknya jumlah akta, sertifikat maupun piagam milik seseorang. Karena banyak perusahaan yang melakukan teknik eliminasi di tahap pertama filtering pegawai baru, maka bukti dokumen sangat penting sebagai referensi sebelum bertemu dalam sesi wawancara. Contoh 3: Kecepatan Mengetik Seiring dengan berkembangnya teknologi, kecepatan mengetik menjadi alasan yang cukup masuk akal mengapa perusahaan menginginkan karyawan dengan kecepatan mengetik tinggi. Adakalanya proposal proyek harus diselesaikan secepat dan sebagus mungkin. Oleh karena itu, kecepatan mengetik juga bisa mengantarkan seseorang menuju kesuksesan. Contoh 4: Mampu Mengoperasikan Komputer Atau Alat Elektronik Lainnya Komputer merupakan sarana yang digunakan paling dominan dalam dunia kerja zaman ini. Dengan kemampuan mengoperasikan komputer, printer, scanner, atau LCD, maka bukan tidak mungkin atasan lebih memperhatikan kinerja seorang karyawan. Contoh 5: Up To Date Terhadap Teknologi Software Banyaknya software baru yang digunakan di dunia perkantoran tentu cukup membingungkan. Namun jika seseorang mempelajarinya secara kontinyu tidak akan ada program yang terlalu rumit. Selain melalui kursus, video tutorial yang bisa diunduh dengan mudah juga dapat membantu. Kompetensi Pustakawan Yang Perlu Ditingkatkan Di Era Rvolusi Industri Keempat Era revolusi industri 4.0 telah di depan mata, era itu ditandai dengan pemanfaatan teknologi digital yang mendorong automasi dan pertukaran data dalam teknologi manufaktur. Era ini kerap menimbulkan kekhawatiran bagi banyak pihak soal pekerjaan manusia yang akan digantikan dengan teknologi mutakhir. Saat ini kita hidup dalam obesitas informasi bahkan tsunami informasi, karena informasi datang ibarat seperti air laut yang datangnya tidak terbendung. Sementara teknologi akan terus datang seperti ombak di lautan yang akan terus menggempur. Agar tidak tergulung ombak maka harus mengendarai ombak, artinya tidak hanya bertahan menjadi penyedia informasi saja tetapi pustakawan harus ikut menjadi stimulator. Jadi tidak ada gunanya kita untuk membendungnya namun lebih baik kita memikirkan bagaimana kita bisa berselancar di atasnya. Gelombang disruption kategori teknologi, misalnya terjadi pada kejutan global sewaktu penyebarluasan smartphone (tahun 2006) dan media sosial (tahun 2007). Secara makro, kita semua mengetahui bahwa presiden Joko Widodo juga telah meresmikan peta jalan (roadmap) yang disebut “making Indonesia 4.0” yang diharapkan bisa menyumbang penciptaan lapangan kerja lebih banyak dan investasi baru yang berbasis teknologi. Apabila masuk ke dalam lingkup perpustakaan, disadari atau tidak bahwa saat ini juga telah terjadi perubahan di beragam aspek, misalnya pergeseran pemustaka digital immigrants ke digital natives, layanan berbasis koleksi ke layanan berbasis pemustaka, kebutuhan informasi cetak ke kebutuhan informasi digital, dan lain sebagainya. Jika diidentifikasi, saat ini kita sering mendengar istilah-istilah baru yang berhubungan dengan perkembangan teknologi internet, ada perpustakaan intelligen, pertumbuhan data yang masif, disruptif, big data, mobilisasi pengetahuan, dan lain sebagainya.7 Laporan World Economic Forum yang diterbitkan pada september 2015 mengidentifikasi 21 titik kritis yakni momen ketika suatu pergeseran teknologis berbenturan dengan masyarakat arus utama yang akan membentuk dunia digital dan hiperkoneksi kita dimasa mendatang.8 Semua titik kritis itu diperkirakan muncul dalam sepuluh tahun ke depan dan oleh karenanya menangkap dengan jelas pergeseran pergeseran mendalam yang dipicu oleh revolusi industri keempat. Titik-titik ini diidentifikasi melalui sebuah survei yang dibuat oleh Global Agenda Council on The Future Of Software and Society, suatu konsul dalam World Economic Forum di mana lebih dari 800 eksekutif dan ahli di bidang teknologi informasi dan komunikasi ikut serta.9 Revolusi industri 4.0 pertama kali diperkenalkan oleh Klaus Schwab pada tahun 2016 dalam bukunya “Revolusi Industri Keempat” dan disampaikan pada pertemuan Davos pada tahun yang sama. Kata “revolusi” menunjukkaan perubahan yang radikal dan mendadak. Sepanjang ejarah manusia, revolusi terjadi ketika teknologi-teknologi mutakhir dan cara-cara baru dalam melihat dunia memicu perubahan mendalam pada sistem ekonomi serta struktur sosial. Revolusi industri pertama berlangsung dari tahun 1760-an sampai tahun 1840an. Dipicu oleh pengembangan jalur kereta api dan penemuan mesin uap, revolusi industri kedua, yang dimulai pada akhir abad ke-19 hingga akhir abad ke-20, memungkinkan dilakukannya produksi massal, yang berkembang dengan ditemukannya listrik dan sistem perakitan. Revolusi industri ketiga dimulai sekitar tahun 1960. Revolusi ini biasa disebut revolusi komputer atau digital karena dorongan pengembangan semikonduktor, komputer bingkai utama (1960-an), komputer pribadi (1970-an dan 1980-an), serta internet (1990-an).10 Peranan pustakawan di era revolusi industri 4.0 saat ini mengalami pergeseran. Dari yang semula perpustakaan hanya berbasis pada layanan konvensional sedikit demi sedikit bergeser pada layanan yang berbasis pada teknologi informasi. Sebagaimana perpustakaan 3.0 yang berbasis digital dan automasi dalam pengelolaan administratif dan penelusuran informasi, maka pada era 4.0 perpustakaan harus mengikuti tuntutan zaman untuk mempersiapkan generasi yang “digital natives”. Perpustakaan 4.0 akan berorientasi pada inti revolusi industri yang bertumpu pada prinsip kerja IoT (Internet Of Things) atau internet untuk segalanya serta AI (Artificial Intelligent) atau kecerdasan buatan. Artinya, sistem penyelenggaraan perpustakaan bertransformasi semaksimal mungkin menggunakan sistem internet. Artificial Intellegent atau kecerdasan buatan adalah bidang ilmu komputer yang menekankan pada penciptaan mesin cerdas yang bekerja dan bereaksi seperti manusia sebagaimana dikatakan oleh Astrid Savitri dalam bukunya yang berjudul revolusi industri 4.0, yang membahas mengenai cara mengubah tantangan menjadi peluang di era disrupsi.11 Jika sebelumnya, perpustakaan cukup berbangga dengan sistem pengelolaan administratif dan penelusuran informasi secara online, kini perpustakaan harus berbenah mengikuti tuntutan zaman. Perpustakaan kedepannya tidak tertutup kemungkinan akan melakukan berbagai inovasi-inovasi yang dapat meningkatkan pelayanan perpustakaan. Inovasi yang kemungkinan terjadi adalah: 1. Inovasi layanan dari segi pengelolaan koleksi Inovasi layanan dari segi pengelolaan koleksi yakni, perpustakaan di era 4.0 berbasis AI (Artificial Intelligent) dengan menggunakan sistem yang dapat menginventarisasi secara otomatis dan mendeteksi judul buku secara otomatis, mencatat serta memberi nomor induk serta nomor klasifikasi dan bahkan melabel secara otomatis. Hal ini tentu semakin memudahkan pekerjaan pustakawan pada bagian pengolahan dengan hanya melakukan controlling terhadap sistem dan mengawasi kemungkinan adanya kesalahan yang terjadi. Namun yang menjadi kekhawatiran adalah pustakawan pada bagian pengolahan akan tergeser oleh mesin yang tentu mengurangi jumlah pegawai dalam pengoperasiannya. Namun yang dibutuhkan dalam hal ini tentu pustakawan yang mampu menguasai tidak hanya secara teknis namun juga punya kecakapan dalam teknologi dan terus mengikuti perkembangan zaman serta memiliki keinginan untuk upgrade pengetahuan. Maka untuk dapat bertahan dalam era disrupsi 4.0, maka pustakawan pada bagian pengolahan yang notabene memiliki keahlian di bidang pengklasifikasian, pengkatalogan bahan koleksi, mereka harus mempersiapkan diri mengikuti segala perkembangan yang ada. Hard skill secara teknologi adalah hal yang tak dapat dipungkiri, demikian pula soft skill dari segi kedisiplinan, ketelitian, kecermatan, kesabaran, dan berbagai macam pengembangan karakter kepribadian perlu ditingkatkan. 2. Inovasi layanan sirkulasi Inovasi layanan sirkulasi yakni, perpustakaan di era 4.0 berbasis AI adalah layanan secara otomatis yang semakin mudah bagi pustakawan maupun bagi pemustaka. Kedepannya, pustakawan pada bagian sirkulasi tidak lagi memegang buku untuk melayani peminjam maupun yang mengembalikan buku untuk melakukan scanning barcode. Namun pemustaka dapat secara mandiri dibantu oleh sistem yang telah disiapkan dan diprogram secara otomatis ketika pemustaka melewati pintu keluar maka buku yang mereka bawa tercatat pada sistem yang ada tanpa harus menunggu. Pustakawan cukup mengontrol sistem tersebut dalam layar monitor apakah berfungsi secara baik atau pun tidak sembari memberikan senyuman manis dan sapaan ramah kepada para pemustaka yang mereka temui. Hal inilah yang tidak dimiliki oleh robot yakni senyum keikhlasan yang lahir dari hati. Itulah pentingnya soft skill yang menjadi modal bagi pustakawan. 3. Inovasi kegiatan shelving koleksi Kemajuan apapun yang terjadi dimasa yang akan datang, tentu kegiatan shelving akan ikut terpengaruh. Shelving adalah proses penataan kembali koleksi di rak sesuai dengan nomor panggil pun tak akan luput dari sistem otomatisasi. Boleh jadi dimasa yang akan datang, yang menata buku di rak bukan lagi pustakawan tetapi dilakukan oleh AI (artificial intelligent). Alat yang sedemikian rupa dirancang khusus yang telah terkoneksi dengan kode yang dipasang pada setiap buku dan telah terintegrasi dengan rak, sehingga secara otomatis setiap buku dapat tertata dengan baik dan memungkinkan bagi pemustaka untuk dapat langsung menemukan koleksi yang diinginkan dengan cepat dan tepat serta mudah. 4. Populernya layanan online koleksi fisik perpustakaan Untuk memenuhi keinginan pemustaka di masa yang digital natives, perpustakaan dimasa depan tentu mengupayakan pelayanan pengantaran koleksi. Pemustaka semakin terbiasa dengan pelayanan yang serba instan dan mudah. Sejak dulu telah ada perpustakaan keliling namun belum berbasis aplikasi. Kedepannya pustakawan dirasa perlu menyediakan aplikasi khusus layanan perpustakaan berbasis pengantaran layaknya jasa transportasi gojek dan grab. Dimasa depan, tentunya banyak inovasi-inovasi layanan yang perlu dilakukan oleh pustakawan di perpustakaan, namun yang terpenting adalah mengembangkan kemampuan soft skill dan hard skillnya terlebih dahulu. Tentunya dengan tuntutan yang demikian diharapkan pustakawan semakin menyadari bahwa tugas yang diemban penuh dengan tantangan, kompetensi dan juga permasalahan yang kompleks. Pengembangan diri dan profesionalisme pustakawan diharapkan terus meningkat. Perubahan yang ada tidak untuk dihindari tetapi harus dihadapi. Derasnya gelombang tsunami informasi yang terus-menerus menggempur menjadi tantangan tersendiri bagi pustakawan untuk terus berfikir untuk mencari inovasi-inovasi baru dalam mengolah, mengemas ulang, atau bahkan menyaring informasi yang layak dan tidak layak bagi para pemustaka. Sebelum perkembangan teknologi informasi dan adanya ledakan informasi, pustakawan masih bertugas sebagai penunggu informasi berarti menunggu sumber informasi (koleksi bahan pustaka) yang ada di perpustakaan dan apabila ada pengguna datang, barulah pustakawan melayani. Bukan tidak mungkin bahwa pencarian suatu informasi akan mengacu pada internet dibandingkan perpustakaan. Para pustakawan saat ini dituntut untuk bisa melek teknologi dan harus aktif dalam memberikan suatu sosialisasi, promosi, dan penyuluhan bagi masyarakat untuk dapat menggunakan kembali perpustakaan serta para pustakawan pun dituntut untuk dapat aktif bukan lagi statis. Pustakawan merupakan sebuah profesi. Sebagaimana profesi lainnya, pustakawan merujuk pada pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian, tanggung jawab, dan kesetiaan. Suatu profesi tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang yang tidak dilatih atau dipersiapkan untuk melakukan profesi tersebut. Sulistyo-Basuki menjelaskan mengenai pustakawan sebagai profesi mempunyai syarat, antara lain:12 1. Adanya sebuah asosiasi atau organisasi keahlian. 2. Adanya struktur dan pola pendidikan yang jelas. 3. Adanya kode etik. 4. Adanya tingkat kemandirian. 5. Profesi pustakawan berorientasi pada jasa. Sementara itu, Undang-Undang nomor 43 TAHUN 2007 tentang perpustakaan menyebutkan bahwa pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan, serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan. Secara umum kompetensi pustakawan yang harus dimiliki adalah: 1. Penguasaan ilmu perpustakaan dan informasi sebagai kemampuan dasar yang mewarnai ciri profesionalisme dalam bidang yang amat khusus. 2. Penguasaan bidang ICT sebagai kemampuan untuk memudahkan dan mengoptimalkan kerja organisasi dalam mencapai tujuan dan sarana untuk mengembangkan diri. 3. Penguasaan manajemen sebagai kemampuan untuk mengorganisasikan dan menjalankan institusi perpustakaan. 4. Penguasaan berkomunikasi termasuk penguasaan bahasa asing sebagai alat komunikasi serta kemampuan dalam menyampaikan ide dan gagasan baik secara lisan maupun tertulis. Berdasarkan tinjauan kualifikasi dari beberapa pendapat dan tren dalam era digital sebagaimana yang telah dipaparkan di atas, penulis berpendapat bahwa pustakawan di era revolusi industri 4.0 antara lain harus memiliki kualifikasi sebagai berikut: 1. Kemampuan Profesional Kemampuan profesional adalah kemampuan profesi yang harus dimiliki setiap pustakawan dan professional informasi lainnya dalam menjalankan perannya di era digital. 2. Kemampuan Umum Kemampuan umum bagi professional informasi mencakup kemampuan di bidang manajemen dan organisasi informasi serta penggunaan teknologi informasi. Secara spesifik kemampuan umum ini antara lain : a. Kemampuan menjadikan ruang digital sebagai ruang pembelajaran virtual yang efektif. b. Kemampuan konseptual dan teknis dalam teknologi informasi dan manajemen informasi (manajemen pengetahuan) sesuai dengan tingakatan tanggung jawab pekerjaan. c. Kemampuan berkomunikasi, terutama komunikasi interpersonal dan komunikasi antarbudaya serta komunikasi bermedia komputer/ internet mengingat dunia digital menjangkau dunia tanpa batas dengan beragam latar belakang budaya para pengakses layanan informasi. d. Memahami etika dunia maya dan UU ITE termasuk pendistribusian informasi karena akan selalu berhubungan dengan hak cipta atau hak akan kekayaan intelektual dari sebuah informasi yang ditawarkan. e. Kemampuan menulis karena pustakawan digital akan selalu behadapan dengan update data setiap saat, termasuk reportase real-time. f. Kemampuan bekerja sama. Dunia digital membuka peluang kolaborasi yang lebih luas baik antar perpustakaan maupun antar pustakawan. g. Kemampuan bahasa, baik bahasa ibu maupun bahasa internasional. h. Kemampuan dalam organisasi dan distribusi informasi. 3. Kemampuan Khusus Kemampuan khusus akan sangat beragam karena berkaitan dengan tempat pustakawan bekerja. Misalnya kemampuan Bahasa Asing selain Bahasa Inggris atau kemampuan analisa sesuai dengan bidang kajian yang ditanganinya. 4. Kemampuan Personal Kemampuan personal mencakup kemampuan yang seharusnya melekat pada diri pustakawan atau sering disebut sebagai soft skills seseorang apalagi pustakawan. Kemampuan personal antara lain mencakup kemampuan analisa, kemampuan bernegosiasi, kemampuan beradaptasi, bersosialisasi, bekerja sama, kreativitas dan motivasi diri untuk terus belajar. Menurut Marion seorang pustakawan akademik haruslah memiliki keterampilan dasar berupa kemampuan interpersonal, kolegial, kerja tim, layanan publik, inovatif, kepemimpinan, pemahaman pada lingkungan, pemahaman pada keberagaman, energik, mandiri dan menguasai website.13 Untuk sistem informasi yang terintegrasi, seorang pustakawan akademik harus memiliki keterampilan pada sistem automasi perpustakaan dan bibliografi. Dan terakhir dalam hal kemampuan teknis komputer, seorang pustakawan akademis harus memiliki kemampuan pada bahasa pemograman, hardware komputer dan sumber-sumber elektronik. Hashim dan Mokhtar membagi kemampuan pustakawan agar berhasil di era digital ke dalam dua kategori besar, yaitu professional dan personal.14 1. Kemampuan professional mencakup isi pengetahuan dan kemampuan untuk mengevaluasi dan memfilter kepatutan, kemampuan mengembangkan biaya layanan informasi yang efektif, kemampuan mendesain layanan teknologi informasi berdasarkan kebutuhan dan nilai, kemampuan mengorganisasikan dan menyebarkan informasi kepada pengguna, menilai dan mengevaluasi luaran penggunaan informasi dan meningkatkan pelayanan yang sesuai. 2. Kemampuan personal mencakup kompetensi yang akan dihadirkan dalam lingkungan layanan pelanggan dan seperangkat keterampilan yang merujuk pada kelangsungan hidup. Kemampuan ini termasuk fleksibilitas, kemampuan komunikasi efektif, perilaku positif, kerja tim, kepemimpinan, keinginan untuk mencari peluang untuk pembelajaran yang sedang berlangsung dan nilai-nilai jaringan professional. Keterampilan bertahan hidup mencakup pemikiran kreatif, pengambilan keputusan dengan cepat, penilaian dan kepercayaan diri. (Hashim & Mokhtar, April 2012). Komite Direktur The Special Libraries Association Board (Hamada & Stavridi, 2013) juga membagi kompetensi pustakawan agar berhasil dalam menjalankan perannya ke dalam dua kategori, yaitu kategori profesional dan personal.15 Kemampuan profesional dibagi ke dalam empat kompetensi, yaitu kemampuan mengatur organisasi informasi, mengatur sumber daya informasi, menerapkan alat serta teknologi informasi. Kompetensi-kompetensi tersebut termasuk di dalamnya kemampuan untuk mengevaluasi sumber-sumber informasi agar sesuai dengan kebutuhan pengguna, membimbing pengguna agar melek terhadap informasi dan teknologi informasi. Sedangkan nilai dan keterampilan personal mencakup kemampuan menghadirkan ide dengan jelas, menghargai keberagaman, berani mengambil resiko, kreatif, fleksibel dan dapat menemukan tantangan peluang. Sementara itu Nonthacumjane (Hamada & Stavridi, 2013) meninjau peranan dan keterampilan pustakawan digital yang ditulis oleh peneliti bidang Ilmu Informasi dan Perpustakaan ke dalam tiga kategori kompetensi teknologi yang berbeda yaitu kemampuan personal, kemampuan umum dan kemampuan pengetahuan khusus.16 Kemampuan personal mencakup kemampuan analisa, refleksi, fleksibilitas, kreativitas, adaptasi, antusias, motivasi diri dan kemampuan untuk berhadapan dengan pengguna yang berbeda. Kemampuan umum mencakup kemampuan yang diperlukan dalam berbagai disiplin seperti literasi informasi, kemampuan berkomunikasi, kerja tim, tanggung jawab etika dan moral, kepemimpinan dan penyelesaian masalah. Pengetahuan disiplin tertentu adalah pengetahuan khusus dalam bidang Ilmu Informasi dan Perpustakaan, antara lain metadata, pengembangan database, arsip dan preservasi digital, pengembangan koleksi dan sistem manajemen isi.

Conclusion

Dengan kemampuan-kemampuan yang dimiliki pustakawan di era revolusi industri sebagaimana yang telah dipaparkan di atas dengan mengacu pada pengembangan kemampuan berbasis soft skill dan hard skill. Soft skill amat dibutuhkan sebab kemampuan ini mustahil dimiliki oleh Artificial Intelligent (AI), Internet of things, maupun komputer kuantum. Soft skill ini diperoleh pustakawan melalui karakter dasar manusiawi yang lahir dari kebiasaan-kebiasaan yang tertanam sejak kecil melalui lingkungan dan diperkuat dengan pendalaman ilmu-ilmu agama yang kuat. Kecerdasan yang mengiringi soft skill adalah EQ (Kecerdasan Emosional) yaitu kemampuan bekerjasama dengan orang lain, kedisiplinan, kemampuan berkomunikasi, kemampuan memahami perasaan orang lain, kemampuan beradaptasi, kejujuran, empati, simpati dan berbagai sifat-sifat positif lainnya. Hal inilah yang menjadi modal penting bagi pustakawan untuk tetap bertahan di era disrupsi. Kemampuan yang kedua adalah hard skill merupakan kemampuan yang diperoleh pustakawan melalui pendidikan formal, misalnya kursus, perkuliahan, bimbingan teknis, seminar, kemampuan berbahasa asing, kemampuan menguasai IT, cerdas dalam menganalisis tantangan, rajin belajar secara autodidak dan lain-lain. Kemampuan ini meliputi kecakapan dalam mengoperasikan AI, menggunakan dan mengelola internet, klasifikasi, katalogisasi, kemampuan dalam tata ruang dan lain-lain terkait peningkatan layanan perpustakaan. Dengan mengasah berbagai kemampuan tersebut, maka diharapkan pustakawan akan mampu beradaptasi dengan perubahan dan dapat menikmati segala perkembangan di masa yang akan datang dengan tujuan menjadikan perpustakan sebagai sumber informasi yang diminati oleh berbagai generasi terutama bagi generasi yang digital natives. Dengan demikian, maka profesi pustakawan akan terus menjadi profesi yang dibutuhkan dan bahkan jauh lebih eksis dimasa yang akan datang.