KAJIAN LITERATUR: IMPLEMENTASI PERPUSTAKAANDIGITAL DI PERGURUAN TINGGI
Universitas Indonesia
Abstract
This study aims to describe the implementation of digital libraries in universities. This research is a descriptive study with aliterature review method. Five articles were selected that discussed thedifferences and similarities in user satisfaction between undergraduateand postgraduate students regarding the existence of digital libraries. This study discusses similarities, dissimilarities, provides views,compares and summarizes selected articles. It was found that there aredifferences and similarities in user perceptions in the use of highereducation digital libraries, factors that influence user satisfaction withdigital libraries such as system quality, information, and services,digital library affinity, perceived ease and satisfaction felt by users. The five selected articles stated that in a group of academics in whichthere were undergraduate and postgraduate students had different perceptions of digital libraries. Undergraduate students tend to emphasize speed of access, while postgraduate students prioritize thevalidity and up-to-date of an information source to meet their needs forinformation. The results of this study are expected to be a materialconsideration for policy makers in planning the development of digitallibraries so that they are right on target so that their utilization can bemaximized.
Keywords:
College Digital Library
· DigitalLibrary
· Library
· Services
Introduction
Kemajuan teknologi informasi membawa pengaruh besar dalam segala bidangkehidupan, termasuk untuk perpustakaan. Perpustakaan menghadapi tantangan darikompetitor, tuntutan dan harapan baru dari pemustaka. 1 Perpustakan perlu mendesain ulang produk layanan untuk menambah nilai lebih perpustakaan agar eksistensinya tetapterjaga di tengah kemajuan teknologi yang pesat. Perpustakaan digital adalah layanan perpustakaan yang mengandalkan teknologiinformasi, hampir setiap tahap pengembangan perpustakaan digital disertai denganperubahan teknologi. Pengembangan perpustakaan digital secara langsung berkaitandengan pengembangan teknologi informasi, khususnya teknologi Internet.2 Perpustakaandigital mulai populer, diterapkan dan dikembangkan di seluruh dunia pada dua dekade ini. 3 Disisi lain ntuk saat ini perpustakaan di Indonesia belum semua berkembangdengan pesat hanya ada diberbagai kota perpustakaan yang sudah digital.4 Contohnya eResources milik Perpustakaan nasional Republik Indonesia merupakan perpustakaandigital modern bahkan sangat layak untuk dijadikan rujukan bagi penulis-penulis artikelilmiah. 5 Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menekankan untuk adanya upaya mempertahankan eksistensi perpustakaan digital akan meningkat. Pustakawan harus membaca tantangan tersebut dan menciptakan peluang untukmengembangkan layanan kepada pemustaka. Akan selalu ada perubahan pada lingkungan,yang tentunya akan mempengaruhi pustakawan, contohnya peran mereka, peluang kerja,citra diri, motivasi, dan eksistensi dari pustakawan. 6 Perpustakaan digital menjadi gerbang untuk mengakses sumber informasi. Untukmenyediakan layanan diperlukan adanya kajian untuk memahami faktor-faktor yangmempengaruhi persepsi, ekspektasi pemustaka. 7 Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi dan internet, kebutuhan informasi dan perilaku pemustaka telah banyak berubah, termasuk menekankan kenyamanan dan kelancaran akses ke sumber daya informasinamun tetap ada harapan untuk berinteraksi dengan penyedia informasi.8Mayoritas mahasiswa saat ini termasuk mahasiswa sarjana dan pascasarjana adalahdigital natives yang telah lahir dan dibesarkan di lingkungan digital, terbiasa menggunakanperangkat digital dan dapat menciptakan dan berbagi informasi baru dalam ruang virtual. 9 Cara mereka menemukan, memperoleh, dan menggunakan informasi pada dasarnyaberbeda dari generasi sebelumnya, yaitu digital immigrant. 10 Fakta penting lain yang harus diperhatikan adalah bahwa saat ini mahasiswa,terlepas dari tingkat pendidikan seperti sarjana atau pascasarjana, telah mendapatkanlayanan perpustakaan digital yang seragam. Keseragaman ini mungkin tidak memenuhikebutuhan beragam dan preferensi sesuai perilaku masing-masing mahasiswa dengankebutuhan pendidikan dan pembelajaran yang berbeda. Mahasiswa sarjana danpascasarjana memiliki perbedaan besar dalam tujuan, tugas belajar dan penelitian, literasiinformasi, kebutuhan informasi dan aspek lainnya, yang dapat mempengaruhi kepuasanmereka dengan perpustakaan digital universitas. 11 Kajian literatur ini dilakukan untuk melihat perbedaan dan persamaan kepuasanpemustaka antara mahasiswa tingkat sarjana dan pascasarjana atas eksistensi perpustakaandigital yang didasari dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan sepanjang sepuluhtahun terakhir di beberapa tempat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjadi bahanpertimbangan bagi para pengampu kebijakan dalam perencanaan pembangunanperpustakaan digital agar tepat sasaran sehingga pemanfaatannya dapat maksimal.
Method
Penelitian ini merupakan sebuah literature review. Kajian literatur merupakansebuah metodologi yang bertujuan memberikan dasar ketika akan membangun model atau konsep baru untuk memetakan atau mengembangankan bidang penelitian tertentu dariwaktu ke waktu. Literature review juga dapat digunakan ketika peneliti ingin mengevaluasiteori atau bukti pada bidang tertentu ataupun untuk memeriksa validitas dan keakuratanteori tertentu.12 Penelitian ini mengulas secara komprehensif 5 artikel yang membahas mengenaikepuasan pemustaka perpustakaan digital pada bidang akademik (perguruan tinggi) di Cina dengan membandingkan perbedaan dan persamaan antara pemustaka yang memilikikarakteristik berbeda, pemustaka di sini adalah mahasiswa tingkat sarjana danpascasarjana. Kajian literatur ini membahas lima artikel berikut: 1. A comparative study of digital library use: factors, perceived influences, andsatisfaction, oleh Ziming Liu & Lili Luo. 2. Examining differences and similarities between graduate and undergraduatestudents’ user satisfaction with digital libraries, oleh Fang Xu &Jia Tina Du3. Factors influencing users’ satisfaction and loyalty to digital libraries in Chineseuniversities, oleh Fang Xu & Jia Tina Du. 4. A survey of user perceptions of digital library E-quality and affinity, oleh Zha, X. J., Xiao, Z. L., & Zhang, J. C. 5. Information Resource, Interface, and Tasks as User Interaction Componentsfor Digital Library Evaluation, oleh Li, Y.L. & Liu, C. Kajian ini akan ditampilkan secara deskriptif, membahas kesamaan (compare),ketidaksamaan (contrast), memberikan pandangan (criticize), membandingkan(synthesize) dan meringkas (summarize) untuk artikel-artikel yang telah dipilih. Justifikasipengambilan contoh penerapan perpustakaan digital di Cina karena kesamaanlatarbelakang kawasan Asia. Karakteristik sumber daya manusianya tidak berbeda jauhjika dibandingkan dengan negara-negara di barat
Result & Discussion
1. Perbedaan Pemustaka dalam Penggunaan Perpustakaan Digital Liu & Luo mengidentifikasi tiga faktor utama yang meningkatkan penggunaanperpustakaan digital yaitu fitur interface, konteks organisasi informasi dan perbedaan kemampuan individual (mis. pengalaman menggunakan komputer).13 Ditambahkan daripenelitian sebelumnya, Kim et al. menemukan bahwa self-efficacy untuk komputerpemustaka laki-laki dan perempuan sangat berbeda.14 Hal ini akan membuat merekamemiliki persyaratan dan ekspektasi yang berbeda untuk perpustakaan digital. Selain itu,Liu & Luo menemukan bahwa pengaruh yang dirasakan dan kepuasan pemustaka sangatberbeda antara sarjana dan mahasiswa pascasarjana di Cina karena perbedaan penekanandan harapan mereka terhadap informasi.15 Menggunakan sampel spesifik mahasiswa dari berbagai jurusan, Liu & Luomenganalisis tujuan, frekuensi akses dan penggunaan perpustakaan digital oleh mahasiswadari beberapa jurusan dan menemukan bahwa alasan mereka tidak menggunakanperpustakaan digital sebagai sumber rujukan mencari informasi karena ketidaktahuan akanpenggunaan perpustakaan digital dan kelengkapan koleksi atau sumber informasi untukmemenuhi kebutuhan informasi mereka.16 Ada perbedaan signifikan antara mahasiswasarjana dan pascasarjana dalam pengaruh yang dirasakan penggunaan perpustakaan digital:banyak mahasiswa pascasarjana menggunakan perpustakaan digital untuk menemukansumber informasi elektronik. Mahasiswa pascasarjana dalam survei ini percaya bahwapenggunaan perpustakaan digital telah memperluas jangkauan materi yang telah tersediauntuk melihat keterbaruan atau tren penelitian dalam keilmuan yang mereka pelajari untukkebutuhan publikasi. Mahasiswa sarjana tidak menganggap begitu penting untukmengetahui trend dalam bidang keilmuan mereka. 17 Di Cina, perpustakaan digital berkembang dengan pesat setelah dirilisnya program The China Academic Library and Information System (CALIS) pada tahun 1998. Saat ini,hampir semua universitas di Cina memiliki situs web untuk perpustakaan digital. Dalambeberapa tahun terakhir, karena popularitas komputer, ponsel pintar dan alat pembacakoleksi digital lainnya (contoh : kindle), perpustakaan digital membuat inovasi baru untuk menyediakan layanan yang berbasis seluler untuk memenuhi beragam kebutuhanpemustaka. 18 Dengan kajian lebih spesifik dari di Liu & Luo, Zha et al. menemukan bahwamahasiswa lebih suka menggunakan mesin pencari seperti Google dan Baidu (mesinpencari paling populer di Cina) daripada situs web perpustakaan digital untukmendapatkan sumber informasi, karena yang pertama lebih nyaman dan lebih mudahdigunakan, dan memiliki fungsi saran istilah pencarian dan peringkat hasil pencarian. Meskipun mahasiswa menganggap sumber informasi perpustakaan digital lebih kredibel,namun mereka lebih suka untuk menggunakan mesin pencarian untuk mencari informasiyang mereka butuhkan karena kecepatannya. 19 Memiliki hasil kajian yang mirip dengan Lio & Luo mengenai penggunaan perpustakaan digital, Li & Liu mengemukakan bahwa mahasiswa sarjana dan pascasarjanamemiliki perbedaan besar dalam tujuan, tugas belajar, penelitian, kemampuan literasiinformasi, kebutuhan informasi dan aspek lainnya, yang dapat mempengaruhi kepuasanmereka terhadap perpustakaan digital universitas. Dijabarkan juga bahwa tingkatpendidikan dan disiplin ilmu secara signifikan mempengaruhi keinginan untukmenggunakan perpustakaan digital, ini bisa dilihat dari tujuan para pemustaka. Adanyaperbedaan persepsi antara pemustaka tentang kegunaan perpustakaan digital, stafakademik dan mahasiswa pascasarjana lebih mementingkan kelengkapan dan kebaruansumber informasi, sedangkan mahasiswa sarjana cenderung menekankan akses cepat. 20 Secara spesifik membedakan kepuasan pemustaka perpustakaan digital Xu & Dumenyatakan bahwa perbedaan demografi secara signifikan mempengaruhi kepuasanpemustaka.21 Pustakawan dan penyedia layanan harus sepenuhnya mempertimbangkanperbedaan antar individu pemustaka ketika menggunakan perpustakaan digital dalammenyediakan sumber dan layanan informasi. Misalnya, mengingat perbedaan usia danjenis kelamin, fungsi pengaturan yang dipersonalisasi dari web perpustakaan digital sehingga dapat diadopsi untuk memenuhi preferensi individu dari kelompokpemustakayang berbeda. Selain itu, frekuensi pengalaman dan penggunaan adalah duavariabel terkait yang mempengaruhi kepuasan pemustaka. Data survei menunjukkanbahwa 69,1% mahasiswa sarjana menggunakan perpustakaan digital satu kali seminggu. Frekuensi penggunaan ini sangat rendah. Oleh karena itu, pustakawan dan penyedialayanan harus menyediakan perpustakaan digital yang dirancang dengan baik dan mudahdigunakan untuk menarik lebih banyak sarjana untuk menggunakan sumber daya danlayanan informasi. Hanya dengan cara ini mereka dapat merasakan bahwa perpustakaandigital mudah digunakan, nyaman dan bermanfaat, sehingga dapat merasakan afinitasperpustakaan digital dan pada akhirnya meningkatkan kepuasan mereka. 22 Xu & Du menemukan perbedaan antara mahasiswa sarjana dan pascasarjana untukkepuasan mereka dengan perpustakaan digital karena kebutuhan dan harapan informasiyang berbeda.23 Mahasiswa pascasarjana menggunakan perpustakaan digital lebih seringdaripada mahasiswa sarjana. Ini mungkin salah satu alasan mahasiswa pascasarjana lebihpuas dengan perpustakaan digital daripada sarjana. Pustakawan dan penyedia layananharus secara akurat menemukan alasan untuk fenomena ini dari aspek tujuan program,kebutuhan informasi dan preferensi perilaku informasi, harapan untuk layananperpustakaan digital dari mahasiswa sarjana. Sedikit berbeda dari penelitian sebelumnya yang hanya membedakan antarademografi pemustaka, Li & Liu membandingkan persamaan dan perbedaan antarapersepsi peneliti, pustakawan, dan mahasiswa mengenai pentingnya standar evaluasi yangberbeda untuk setiap kategori pemustaka untuk mengatasi ketidaksepakatan atauketimpangan antara kebutuhan dari pemustaka.24 Penelitian ini membantu kita lebihmemahami perbedaan pemustakadalam penggunaan perpustakaan digital dan alasanperbedaan serta memberikan referensi untuk penelitian mengenai persamaan danperbedaan antara mahasiswa sarjana dan pascasarjana dalam penggunaan perpustakaandigital. Zha et al. menemukan bahwa terdapat perbedaan signifikan pada persepsipemustaka tentang kualitas dan afinitas pemustaka. Mahasiswa doktoral dan akademisimemiliki tingkat persepsi yang lebih tinggi kepada perpustakaan digital.25 Perbedaansignifikan ditemukan di antara pemustaka yang memiliki pengalaman yang berbedadengan perpustakaan digital mengenai kualitas dan afinitas. Pemustaka denganpengalaman yang lebih banyak menggunakan perpustakaan digital akan cenderungmemiliki ketertarikan terhadap perpustakaan digital, dan pemustaka dengan lebih sedikitpengalaman dengan perpustakaan digital cenderung tidak memiliki afinitas. Dalam hal ini, sebatas menyediakan perpustakaan digital tidak dapat menjaminpemanfaatan yang maksimal oleh pemustaka. Ini merupakan tantangan besar bagipustakawan di perpustakaan universitas karena setiap tahun pemustaka yangberpengalaman karena telah lulus dan pemustaka yang baru terdaftar yang tidak memilikipengalaman dengan perpustakaan digital tiba. Zha et al. merekomendasikan bahwapendidikan pemustaka perlu dilakukan baik untuk pemustaka baru yang perlu mengambillangkah pertama dalam menggunakan perpustakaan digital maupun untuk pemustakadengan pengalaman yang relatif sedikit dengan perpustakaan digital yang mungkin dapatmeninggalkan perpustakaan digital. 26 2. Persamaan Pemustaka dalam Penggunaan Perpustakaan Digital Diantara kelima artikel yang dikaji, hanya Liu & Luo dan Xu & Du yang membahasmengenai bagian ini. Xu & Du menyatakan bahwa faktor-faktor yang menyebabkanpemustaka enggan mengakses perpustakaan digital adalah karena kurangnya koleksi yangrelevan dengan kebutuhan mereka, tidak ada publikasi tahun tua, lambatnya akses webdan pengunduhan sumber informasi. 27 Selain itu beberapa faktor yang paling mendasar, seperti: kenyamanan, aksesibilitas, persepsi kemudahan penggunaan, adalah hal-hal yangmutlak diinginkan oleh para pemustaka dalam sebuah layanan perpustakaan digital. Penelitian Liu dan Luo menggunakan bidang yang sedikit berbeda yaitu spesifikmembahas mengenai layanan referensi perpustakaan digital. Ditemukan faktor yangmembuat pemustaka enggan mengakses perpustakaan digital adalah ketidaktahuan akan layanan, kepuasan dengan sumber lain (contoh : google), dan kurangnya kepercayaan diriuntuk melakukan konsultasi dengan pustakawan. Selain itu, adanya kekhawatiran akanprivasi mereka.28 Lebih lanjut, penelitian ini mengemukakan bahwa sebagian besar mahasiswasarjana dan pascasarjana dalam survei ini (lebih dari 70%) berpendapat bahwa penggunaanperpustakaan digital telah sangat menghemat waktu dalam pencarian sumber informasiyang mereka butuhkan. Mayoritas responden merasa bahwa penggunaan sumber dayadigital membuat berkurangnya kunjungan ke perpustakaan fisik. Dari mahasiswa sarjana,hampir 56% melaporkan bahwa penggunaan perpustakaan digital telah menurunkankunjungan perpustakaan fisik. 3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Pemustaka Akan Perpustakaan Digital 3.1. Kualitas Sistem, Informasi, dan Layanan Xu & Du menemukan bahwa sistem kualitas, informasi dan layanan adalah tiga penentu nilai kepuasan pemustaka pada sistem e-learning di perpustakaanperguruan tinggi.29 Demikian pula, Zha et al. menerapkan teori ini untukmengeksplorasi efek kualitas perpustakaan digital pada afinitas atau ketertarikanakan perpustakaan digital.30 Tidak ada pembahasan lanjut mengenai faktor-faktorlain di dalam penelitian ini. Kualitas sistem dan kualitas layanan berdampak pada persepsi kemudahanpenggunaan. Pustakawan harus meningkatkan kualitas desain interface untuk webdan menyediakan sistem yang memberikan materi pelatihan di situs web perpustakaan digital sehingga mahasiswa, terutama bagi mahasiswa sarjana, dapatmemahami dan memiliki persepsi kemudahan dalam menggunakan perpustakaandigital. Pustakawan dan penyedia layanan perlu mengatur layanan dan kegiatan seperti bimbingan pemustaka, tips dan trik dalam temu balik informasi yang efektifdan efisien. 31 Lebih lanjut, Xu & Du menyatakan bahwa perpustakaan digital di universitas perlu memaksimalkan layanan agar para pemustaka merasa yakinbahwa informasi dapat dengan mudah ditemukan di web perpustakaan digital, daneksistensi dari platform ini dapat membantu dalam memenuhi kebutuhan informasimereka.32 Pustakawan dan penyedia layanan harus berusaha semaksimal mungkinuntuk meningkatkan kepuasan pemustaka sehingga loyalitas pemustaka dapatditingkatkan dan pemustaka bersedia menggunakan perpustakaan digital secaraterus menerus. Pustakawan harus memperkuat komunikasi dengan pemustaka danmemperoleh data pengalaman pemustaka untuk meningkatkan kualitas layanan. Misalnya, pustakawan dapat memberikan respon real-time dengan menggunakanonline chat atau sosial media seperti WeChat, Facebook, Twitter, WhatsApp, atau“Ask Librarian”. Pustakawan juga dapat memanfaatkan lokasi, preferensi, dan datacookie pemustaka untuk memberikan layanan yang dipersonalisasi kepada pemustaka, yang dapat meningkatkan manfaat yang dirasakan mereka. Meskipundemikian, pustakawan harus mendapatkan izin sebelumnya dari pemustaka untukmenghindari kemungkinan pelanggaran privasi pemustaka. Selain itu, pustakawandan penyedia layanan perlu menyediakan sumber daya informasi yang profesionaldan personal untuk pemustaka karena perbedaan antara perpustakaan digital yangbaik dan yang tidak memadai adalah kualitas sumber daya informasi dan layananyang disediakan oleh mereka. 33 Zha et al. mengukur kualitas layanan dengan menggunakan indikator reliability, responsiveness, empathy, dan assurance.34 Reliabilitas mencerminkanakurasi dan ketergantungan para pemustaka akan tim layanan perpustakaan digital. Responsif mencerminkan kesediaan tim layanan perpustakaan digital untukmemberikan layanan yang cepat. Empati mencerminkan perhatian pada setiapindividu dan layanan spesifik yang telah dilayankan oleh tim layanan perpustakaan digital kepada pemustaka. Assurance mencerminkan pengetahuan dan kemampuantim layanan perpustakaan digital untuk menanamkan kepercayaan pada pemustakaterhadap kredibilitas layanan dan informasi yang ada di perpustakaan digital. Dengan demikian, untuk kualitas layanan perpustakaan digital dalam penelitian ini, keempat item itu masing-masing mencerminkan empat aspek denganempat frasa: layanan yang dapat diandalkan, layanan yang cepat, layanan yangdipersonalisasi, dan layanan profesional. Lebih lanjut, hasil penelitian dari Zha etal. ditemukan bahwa kualitas layanan dapat mengalahkan efek dari kualitas sistemdan juga merupakan penentu paling penting untuk pembentukan daya tarikperpustakaan digital. 35 3.2. Afinitas Perpustakaan Digital Xu & Du menemukan bahwa afinitas atau daya tarik untuk perpustakaan digital adalah salah satu variabel paling akurat untuk menguji efektivitaskeberhasilan perpustakaan digital.36 Dalam penelitian ini, teori afinitas digunakanuntuk menjelaskan dampak kualitas perpustakaan digital pada kepuasan pemustaka, dan pada saat yang sama untuk mengeksplorasi perbedaan persepsikelompok-kelompok pemustaka yang berbeda terhadap afinitas perpustakaandigital. Afinitas perpustakaan digital dikonseptualisasikan sebagai persepsi yangdirasakan pemustaka akan perpustakaan digital termasuk perannya dalam membantu menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran dan penelitian mereka. Ketikapemustaka merasakan bahwa kualitas sistem, informasi dan layanan perpustakaandigital melebihi ekspektasi mereka, kebutuhan informasi mereka terpuaskan, danmereka juga mendapatkan pengalaman menyenangkan dalam menggunakan perpustakaan digital. Dalam jangka panjang mereka akan merasakan perpustakaandigital memainkan peran yang penting dalam studi dan kehidupan mereka, merekajuga akan merasakan afinitas perpustakaan digital. Loyalitas pemustaka terhadap perpustakaan digital akan didapatkan dalambeberapa cara yaitu melalui penggunaan perpustakaan digital yang berkelanjutan,rekomendasi perpustakaan digital kepada orang lain dan tidak ada upaya untuk mencari pengganti alat atau platform sumber informasi yang lain (misal : google). Studi sebelumnya telah mengeksplorasi faktor-faktor seperti kualitas koleksi, nilaiyang dirasakan, kepuasan pelanggan, fasilitas, efek layanan, dan aksesibilitas yangmempengaruhi loyalitas pemustaka di perpustakaan akademik dan perpustakaanumum. 37 Xu & Du menyimpulkan bahwa kepuasan pemustaka berpengaruh pada loyalitas pemustaka.38 Efek kemudahan penggunaan yang dirasakan pada kepuasanpemustaka perpustakaan digital dijembatani sepenuhnya oleh manfaat yangdirasakan. Oleh karena itu, Xu & Du tidak mempertimbangkan dampak langsungdari kemudahan penggunaan yang dirasakan pada kepuasan pemustaka perpustakaan digital dalam model konseptual yang dikembangkan dalam penelitianmereka.39 3.3. Persepsi Kemudahan dan Kepuasan yang Dirasakan oleh Penggunaan Persepsi kemudahan penggunaan dan persepsi manfaat dianggap dua faktorutama yang mempengaruhi kepuasan pemustaka. Pustakawan dan penyedia layanan harus meningkatkan kualitas sistem perpustakaan digital, informasi danlayanan, membuat mahasiswa sarjana dan pascasarjana merasa perpustakaandigital mudah digunakan, sangat membantu untuk kegiatan pembelajaran dankehidupan mereka, sehingga meningkatkan PEoU (Perceived Ease of Use) dan PU(Perceived Usefulness) mereka perpustakaan digital, dan dengan demikianmeningkatkan kepuasan mereka akan perpustakaan digital. 40 Lebih lanjut, penelitian ini menunjukkan bahwa sistem dan kualitas layanan memiliki pengaruh signifikan terhadap kepuasan pemustaka melaluipersepsi kemudahan penggunaan, persepsi manfaat, dan afinitas (persepsikepentingan). Kegunaan yang dirasakan adalah penentu paling penting yangmempengaruhi kepuasan pemustaka, dan kepuasan pemustaka secara signifikanmempengaruhi loyalitas pemustaka. Pustakawan dan penyedia layanan harusmemastikan persepsi pemustaka tentang perpustakaan digital mudah digunakan, bermanfaat dan penting untuk meningkatkan kepuasan dan loyalitas pemustakaterhadap perpustakaan digital. Misalnya, pustakawan di perpustakaan digital universitas dapat mengembangkan rencana pencarian literatur untuk tugas kursus atau proyekpenelitian, dan menawarkan informasi pelatihan pengambilan informasi. Ini tidakhanya memungkinkan mahasiswa untuk belajar menggunakan perpustakaan digital, tetapi membantu mereka memahami kegunaan dan perpustakaan digitaldalam proses belajar mereka. Selain itu, pustakawan dapat berupaya menyederhanakan tampilan perpustakaan digital dan membuat layanan perpustakaan digital lebih menarik dan mudah digunakan sehingga memicupemustaka untuk terus menggunakan layanan perpustakaan digital, secara bertahapmenumbuhkan loyalitas pemustaka terhadap perpustakaan digital.41 Pustakawan dan penyedia layanan harus lebih meningkatkan SYSQ (system quality) dan INFQ (information quality) dari perpustakaan digital, sepertimengumpulkan pendapat dari pemustaka melalui wawancara dan umpan balikonline, sehingga dapat meningkatkan desain interface, mengoptimalkan fungsinavigasi dan meningkatkan INFQ. Selain itu, mereka juga harus mencari tahualasan mengapa pemustaka paling tidak puas dengan SERQ (system quality) danmengambil langkah-langkah yang ditargetkan untuk meningkatkan SERQ perpustakaan digital. Misalnya, pustakawan dan penyedia layanan dapat menggunakan alat pesan instan online seperti WeChat, WhatsApp untuk mempercepat respons terhadap feedback pemustaka. Hal ini dapat membuatpemustaka merasa mereka bisa mendapatkan bantuan dari pustakawan secara cepatsetelah mereka menghadapi kesulitan saat menggunakan perpustakaan digital,sehingga dapat meningkatkan kepuasan pemustaka dengan layanan perpustakaandigital.42 Xu & Du menyatakan bahwa kepuasan pemustaka perpustakaan digital merupakan akumulatif perasaan yang dikembangkan selama proses pengalamanpenggunaan dan interaksi pemustaka dengan perpustakaan digital.43 Memiliki hasil penelitian yang hampir serupa Liu & Luo menyatakan hal ini juga dapat dianggapsebagai kesenjangan antara kualitas yang dirasakan dan kualitas yang diharapkanoleh pemustaka perpustakaan digital.44 Ketika kualitas yang dirasakan melampauiekspektasi, pemustaka akan benar-benar puas dan mereka akan mendapatkanpengalaman yang menyenangkan. Pemustaka memiliki harapan perpustakaan digital mudah untuk digunakan, bermanfaat, dan dapat diandalkan. Ketika harapanmereka dipenuhi oleh perpustakaan digital, pemustaka akan puas dengan perpustakaan digital. Manfaat yang dirasakan dan kemudahan penggunaan telahditemukan mempengaruhi kepuasan pemustaka perpustakaan digital.
Conclusion
Kemajuan teknologi membawa pengaruh terhadap perpustakaan. Munculnya perpustakaan digital adalah salah satu bentuk inovasi perpustakaan sebagai lembagainformasi untuk mempertahankan eksistensinya di era digital ini. Dalam perkembangandan implementasinya, perpustakaan digital menjumpai banyak permasalahan. Diantaranyasinggungan mengenai penggunaan perpustakaan digital yang tidak maksimal. Dalam satukelompok akademisi yang didalamnya ada mahasiswa sarjana dan pascasarjana mempunyai kecenderungan persepsi yang berbeda mengenai perpustakaan digital. Adanya persepsi pemustaka tentang perpustakaan digital dari perspektif kualitasdan afinitas, dengan harapan bahwa hasilnya dapat menyelesaikan kesenjangan di Cinaakan persepsi terhadap perpustakaan digital. ualitas layanan adalah penentu paling pentingdalam memprediksi persepsi ketertarikan pemustaka terhadap perpustakaan digital, danmereka membuat rekomendasi untuk praktisi perpustakaan digital yang sesuai. Mengingattantangan bahwa pencari informasi sekarang ini cenderung mengabaikan kualitas sumberdemi kemudahan, kecepatan, penggunaan dan kenyamanan. Kekurangan penelitian ini adalah hanya mengkaji lima literartur yang sampelkurang keragaman lintas nasional dan budaya. Perilaku pemustaka dipengaruhi olehbudaya dari setiap negara mereka, sehingga hasil penelitian ini tidak dapatdigeneralisasikan untuk negara lain. Perlu ada kajian lebih lanjut untuk kondisi di Indonesia. Dengan adanya kajian literatur ini, penulis berharap tulisan ini dapat menjadi bahan pertimbangan para pengampu kebijakan dalam mengambil keputusan saat inginmembangun perpustakaan digital agar tepat sasaran dan termanfaatkan secara maksimaloleh semua pemustaka.