PENGGUNAAN DAN PENYEBARAN PENGETAHUAN TENTANG TANAMAN OBAT PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI NAGARI SALO KECAMATAN BASO, KABUPATEN AGAM, SUMATERA BARAT
Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Abstrak
Tulisan ini membahas tentang bagaimana penggunaan pengetahuan tradisional tentang tanaman obat dan bagaimana pula pengetahuan tentang itu tersebar di tengah masyarakat Nagari Salo, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Di masa Pandemi Covid-19 penyakit demam panas, flu dan batuk yang relatif mirip dengan gejala Covid-19 membuat kebanyakan masyarakat terlihat ragu-ragu untuk segera ke dokter. Mereka lebih cendrung mengobati diri sendiri (self medication) dengan menggunakan pengetahuan tradisionalnya. Artikel ini menyimpulkan temuan bahwa pengetahuan tradisional tersebut merupakaj tacit kowledge yang unik dan khas masyarakat lokal setempat. Lazimnya tacit knowledge, pengetahun itu sulit mereka jelaskan dan bahkan sebagian kalangan rasionalis perkotaan menganggap itu sebagai hoax di bidang kesehatan. Meskipun demikian, tacit knowledge itu telah turut mendorong masyarakat memelihara kesehatan secara mandiri dan ikut berperan dalam meningkatkan daya imunitas secara mandiri dari bahaya covid-19.
Abstract
This paper discusses how to use traditional knowledge about medicinal plants and how knowledge about it is spread among the people of Nagari Salo, Baso District, Agam Regency, West Sumatra. During the Covid-19 pandemic, fever, flu and coughs, which are relatively similar to Covid-19 symptoms, make most people seem hesitant to immediately go to the doctor. They tend to self-medicate using their traditional knowledge. This article concludes the findings that traditional knowledge is a unique tacit kowledge that is unique to the local community. Usually, tacit knowledge is difficult for them to explain and even some urban rationalists consider it a hoax in the health sector. However, this tacit knowledge has helped encourage people to maintain their health independently and play a role in increasing their immunity power independently from the dangers of COVID-19. Keywords: traditional medicine, self medication, tacit knowledge, covid-19
Keywords:
traditional medicine
· self medication
· tacit knowledge
· covid-19
Introduction
Penelitian ini berawal dari percakapan ringan, panjang dan berulang-ulang dengan salah seorang praktisi pengobatan tradisional di Nagari Salo, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Salah satu topik yang sering didiskusikan dengan yang bersangkutan adalah tentang tanaman obat yang sering digunakan masyarakat untuk mengatasi beberapa jenis penyakit yang sering dialami masyarakat, misalnya demam panas, sakit perut, luka, infeksi, sakit gigi dan sebagainya. Tanaman obat yang sering disebutkan antara lain bungo rayo, daun sirih, daun jambu biji, kunyit, bawang putih, bawang merah, daun santo atau tembakau, daun lidah buaya, daun pucuk ubi kayu, dan sebagainya. Semua tanaman obat tersebut di atas, menurut Tan Rajo merupakan jenis tanaman yang tersedia di nagari tersebut. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa obat bagi setiap penyakit yang diderita masyarakat setempat dipastikan tersedia di alam sekitar tempat masyarakat itu tinggal. Selanjutnya akan tergantung pada masyarakat setempat, apakah mereka mau belajar kepada alam dan mau berguru kepada pengalaman yang sudah diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang mereka. Terakhir, selama pandemi covid-19 berlangsung juga populer penggunaan daun sungkai sebagai bahan obat penambah daya tahan tubuh. Masyarakat Nagari Salo juga ikut mengkonsumsi daun sungkai ini saat merasakan gejala sakit panas atau demam. Informasi di atas sangat menarik untuk dicermati karena terkait dengan pengetahuan masyarakat tentang penggunaan tanaman obat dan bagaimana pengetahuan itu diperoleh dan disebarkan di kalangan masyarakat. Oleh sebab itu, penulis mencoba menelusuri lebih lanjut informasi tersebut dengan memperluas informan ke kelompok masyarakat yang lebih luas. Hasil wawancara awal penulis terhadap 19 (sembilan belas) warga nagari itu menunjukkan bahwa penggunaan daun sungkai sebagai salah satu alternatif pengobatan panas dan demam berawal informasi yang viral di media sosial. Dari 19 orang tersebut 1 orang (5%) menyatakan pernah membaca informasi di group WhatsApp, 7 orang menyatakan pernah mendengar, tetapi tidak ingat entah dari mana (37%), 9 orang menyatakan pernah mendapatkan informasi dari mulut ke mulut (47%) dan 2 orang lagi (10%) menyatakan tidak tahu persis dari mana asal informasi itu. Berikutnya, masyarakat juga menyatakan selama Pandemi Covid-19 mereka juga mengkonsumsi berbagai jenis tanaman yang diyakini sebagai obat saat menderita suatu gejala penyakit. Penyakit yang paling umum yang mereka alami adalah demam panas, flu, batuk dan pilek. Penyakitpenyakit tersebut selama pandemi Covid-19 membuat masyarakat paranoid dan menduga itu merupakan gejala Covid-19. Jika gejala penyakit tersebut muncul, masyarakat setempat sering mengungkapkan dalam istulah lokal Minangkabau, lai ndak kanai pulo korona ko? (apakah gejala ini karena terpapar covid-19?). Karena kekhawatiran tersebut, masyarakat setempat mulai mengantisipasi dengan menggunakan pengobatan tradisional yang bersumber dari bahan tanaman obat yang pada umumnya tersedia sebagai bahan bumbu masak di dapur mereka. Data yang diperoleh, tanaman yang disebutkan bungo rayo, daun sirih, jeruk nipis, daun jambu biji, kunyit, bawang putih dan bawang merah. Menurut mereka, tanaman itu sangat mudah didapatkan di sekitar mereka, dan yang terdekat ada di dapur mereka. Selain itu, tanaman-tanaman tersebut sejak zaman dahulu sudah dijadikan oleh leluhur sebagai bahan-bahan pengobatan. Tanaman tersebut diolah dengan cara direbus, diperas dan ambil sarinya untuk kemudian dikonsumsi dengan cara diminum. Menariknya, mereka tidak dapat menjelaskan mengapa tanaman tertentu harus direbus, harus diseduh atau mengapa harus diperas dan diminum sarinya. “sepertinya harus begitu caranya, dan sejak zaman dahulu jeruk nipis harus diperas dan diseduh dengan air hangat atau langsung diminum sarinya,” kata salah seorang responden. Berdasarkan cerita di atas, pengetahuan masyarakat tentang tanaman yang dinilai memiliki kandungan obat-obatan sepertinya masih lestari. Hal ini didasarkan pada keyakinan masyarakat setempat bahwa setiap penyakit yang diderita masyarakat pasti ada obatnya dan obat-obatan tersebut sudah tersedia di alam. Berikutnya, pengetahuan tentang adanya khasiat tanaman-tanaman tertentu bagi pengobatan didapatkan melalui pengetahuan yang diwariskan secara turun temurun, dan cara pengolahannya pun sudah menjadi pengetahuan yang sifatnya common sense. Dalam khazanah pengetahuan, model pengetahuan masyarakat seperti diuraikan di atas dapat disebut sebagai tacit knowledge. Pengetahuan seperti itu biasanya tidak terstruktur, susah untuk didefinisikan dan diberitahukan dengan bahasa formal. Sebagian besar pengetahuan dalam model ini berisi pengetahuan yang bersumber dari pemahaman pribadi. Pada umumnya, pemilik pengalaman cendrung sulit menjelaskannya. Karena itu, tacit knowledge adalah pengetahuan yang memang sulit dijelaskan,meskipun pada kesehariannya pemilik pengalaman sudah mempraktikkannya secara berulang-ulang. Mencermati keadaan tersebut, penulis tertarik menghimpun informasi bagaimana tacit knowledge ini digunakan dalam mengatasi masalah kesehatan masyarakat dan bagaimana pula cara penyebaran pengetahuan ini di kalangan masyarakat. 2. TINJAUAN PUSTAKA Tacit Knowledge dalam konteks kebudayaan merupakan sebuah sistem pengetahuan. Sistem pengetahuan merupakan unsur universal kebudayaan yang dipastikan berkembang dalam masyarakat kebudayaan manapun. Sistem pengetahuan sangat luas batasannya karena mencakup pengetahuan manusia tentang berbagai unsur yang digunakan dalam kehidupannya, dan bagaimana pengetahuan digunakan manusia untuk mempertahankan hidupnya. Tacit knowledge sebagai sebuah pengetahuan merupakan aset intelektual yang unik dan khas. Menurut Nonaka dan Takeuchi, terdapat dua jenis pengetahuan (aset intelektual) yaitu explisit knowledge dan tacit knowledge. Explisit knowledge yaitu pengetahuan yang sudah dikumpulkan serta diterjemahkan ke dalam suatu bentuk dokumentasi (tertulis) seperti buku, artikel ilmiah dan sebagainya. Sedangkan tacit knowledge adalah pengetahuan yang terdapat di dalam pikiran seseorang sesuai dengan pemahaman dan pengalaman orang itu sendiri, sehingga inilah yang membuat pengetahuan jenis ini unik dan khas. Pengetahuan merupakan rangkaian informasi yang tersusun dalam sebuah sistem yang terstruktur yang disampaikan dalam berbagai media, baik dalam bentuk lisan, tulisan atau bentuk simbolik lainnya yang dapat dimengerti oleh manusia. Konsepsi pengetahuan pada umumnya masih konsep abstrak dan belum tersambung ke referensi tertentu. Sedangkan, informasi menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik adalah Keterangan, pernyataan, gagasan, serta tanda-tanda yang mengandung nilai, makna, dan pesan, baik data, fakta, maupun penjelasannya yang dapat dilihat, didengar, dan dibaca yang disajikan dalam berbagai kemasan dan format sesuai dengan perkembangan teknologi informasi serta komunikasi secara elektronik ataupun nonelektronik. Dalam konsep filsafat ilmu, pengetahuan termasuk dalam pembahasan epistemologi lebih terfokus pada sumber pengetahuan (the origin of knowledge) dan teori tentang kebenaran (the theory of truth) pengetahuan. Dalam konteks ini, tacit knowledge adalah salah satu bentuk pengetahuan yang belum memiliki sumber referensi yang jelas. Bagaimanapun, pengetahuan tentang tanaman obat, penggunaan dan tata cara penyebarannya merupakan fakta sosial yang terkait dengan pengetahuan masyarakat dan sudah digunakan untuk kehidupan mereka. Sebagai sumbangan pengetahuan, bagaimana pengetahuan tentang tanaman obat itu itu diperoleh, digunakan dan dikelola oleh masyarakat, perlu diberi perhatikan sebagai bagian dari khazanah dan aset intelektual nusantara yang bersumber dari kearifan lokal. Pada bagian ini penulis memaparkan 1) bagaimana penggunaan pengetahuan tentang tanaman obat dan 2) bagaimana pula pengetahuan tentang itu tersebar di tengah masyarakat Nagari Salo, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Penyakit yang digunakan sebagai sampel antara lain penyakit demam panas, flu dan batuk. Di tengah pandemi virus corona, banyak orang yang merasakan gejala penyakit ini dan kebanyakan masyarakat terlihat raguragu untuk segera ke dokter. Selain karena alasan takut divonis covid-19, mereka menganggap penyakit tersebut bukanlah penyakit yang membahayakan. Untuk alasan pertama cukup relevan dengan gejala Covid-19 yang dirilis oleh kementrian kesehatan RI. Gejala umumnya berupa demam 380C, batuk kering, dan sesak napas. Hal ini membuat masyarakat khawatir untuk memeriksakan diri. Dari 19 responden itu, 12 di antaranya mengaku pernah mengalami demam, batuk dan pilek. Di antara yang 12 orang itu, hanya 3 orang saja yang pernah memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan, yaitu ke bidan desa yang ada di puskesmas pembantu di Nagari Salo. Untuk alasan kedua, mereka menyatakan, sebelum adanya covid-19, penyakit ini juga sudah ada sejak dahulu. Mereka lebih memilih untuk bertahan dalam pengetahuan tradisional mereka, bahwa ini hanyalah penyakit biasa yang tidak membahayakan hidup mereka. Meskipun demikian, masyarakat tetap memilih untuk melakukan antisipasi dengan menggunakan obat-obatan tradisional yang bersumber dari pengetahuan lokal yang mereka peroleh dari kearifan masyarakat setempat. Pengetahuan lokal menurut Saputra, bisa saja tersimpan dalam sikap, pandangan, prilaku dan aktivitas masyarakat lokal yang pada umumnya tersebar melalui budaya lisan.
Method
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Untuk memperoleh data, penulis melakukan interaksi langsung dengan responden dan narasumber penelitian. Bentuk interaksi yang lebih memungkinkan untuk mendapatkan informasi, penulis menggunakan teknik wawancara mendalam (dept interview) yang dikemas dalam bentuk percakapan informal. Pada bagian tertentu penulis melakukan observasi dan menggunakan sumber-sumber literatur untuk menyelaraskan informasi yang diperoleh di lapangan dengan kajian-kajian sejenis, terutama tentang peristilahan yang terkait dengan dunia pengobatan, tanaman obat dan kesehatan masyarakat. Penelitian dilakukan di Nagari Salo, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada ketersediaan tanaman obat dan kebiasaan penggunaan tanaman obat sebagai alternatif pengobatan yang digunakan masyarakat setempat untuk mengatasi masalah kesehatan. Sedangkan jenis penyakit yang dialami masyarakat yang akan dijadikan sampel adalah penyakit demam panas, influenza dan batuk.
Result & Discussion
4.1 Penggunaan Pengetahuan Bagian awal, penulis mencoba menghimpun beberapa tanaman obat yang digunakan untuk pengobatan penyakit demam panas, flu dan batuk. Penyakit ini dipilih berdasarkan informasi dari responden yang menyatakan inilah jenis penyakit yang paling banyak mereka alami sejak pandemi Covid-19 berlangsung. a. Demam Panas Istilah demam panas diambil dari masyarakat setempat. Mereka menyebutnya damam paneh. Gejala umum yang dirasakan antara lain panas tinggi, kepala terasa berdenyut (sakit), kadang diiringi rasa menggigil ketika kena angin atau kena air, persendian terasa sakit dan badan terasa lemas. Panas tinggi menurut ukuran masyarakat setempat adalah ketika suhu di kening mereka lebih panas dari keadaan biasanya. Cara mengukur kadar panasnya adalah dengan cara meletakkan punggung tangan di atas kening. Cara ini merupakan bentuk pengetahuan lokal dalam mengukur panas. Pengetahuan tentang gejala ini hampir sama dengan yang diungkapkan situs alodokter.com. Dalam situs tersebut disebutkan bahwa demam ditandai dengan meningkatnya suhu tubuh hingga lebih dari 380 C dari suhu tubuh normal, yaitu antara 36,10 C sampai 37,20 C. Demam merupakan gejala dari beragam kondisi dan penyakit. Biasanya, demam akan disertai gejala lain akibat kondisi yang mendasarinya. Beberapa di antaranya adalah sakit kepala, berkeringat, menggigil, lemas, nyeri otot, dan kehilangan nafsu makan. Perbedaan antara pengetahuan masyarakat lokal dengan gejala yang diungkapkan secara medis berkisar sekitar penyebabnya. Masyarakat lokal lebih cendrung menggunakan peristiwa tertentu sebagai penyebabnya. Misalnya karano paneh (karena terlalu lama bekerja di temopat yang panas), atau kanai hujan (terkena hujan). Sementara secara medis, penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, jamur dan parasit. Beberapa tanaman yang sering digunakan masyarakat Salo untuk pengobatan demam antara lain, daun Bungo Rayo, batang pisang batu (pisang kepok), serta campuran kunyit dan beras. Penggunaannya sudah berlangsung sejak lama dan dijadikan sebagai pertolongan pertama saat keadaan demam. Namun tidak jarang ini dijadikan tindakan penanganan pertama dan terutama. Berdasarkan informasi dari responden, penggunaan jenis tanaman tersebut dalam pengobatan demam adalah sebagai berikut: 1) Bungo Rayo Bungo Rayo atau dalam bahasa Indonesia disebut Kembang Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis) adalah tanaman semak perdu yang banyak tumbuh di sekitar nagari Salo. Tanaman ini juga sering ditanam sebagai tanaman pagar atau juga sering ditanam terpisah dengan tujuan spesifik, yaitu untuk obat-obatan. Menurut masyarakat setempat, menanamnya gampanggampang susah. Bahkan lebih sering tumbuh dengan cara yang tak kami ingat, apakah kami pernah menanamnya atau tidak. Sebagai tanaman yang dipercaya sebagai obat demam, Bungo Rayo diolah dengan cara diremas untuk diambil sarinya. Saat pengolahan, Bungo Rayo dicampur dengan segelas air dingin yang sudah matang (dimasak). Sari Bungo Rayo ini akan keluar serupa lendir berwarna kekuning-kuningan. Sari bunga ini kemudian diminum oleh penderita demam. Tidak hanya sari bunganya, daun hasil remasan bunga ini juga dapat digunakan sebagai alat kompres yang diletakkan di kening atau diusapkan ke kulit kepala. 2) Batang Pisang Batu Pisang Batu atau Pisang Kepok (Musa paradisiaca) adalah sejenis tanaman buah yang ada di Nagari Salo. Namun keberadaannya saat ini mulai langka akibat penyakit layua (layu) pada batang atau pada tandan buah yang masih muda. Sebagai obat demam, batang Pisang Batu ini diolah dengan cara ditumbuk untuk dapat diambil sarinya. Sama halnya dengan Bungo Rayo, ampas hasil tumbukan batang Pisang Batu ini juga dapat dijadikan alat malampok (kompres) pada bagian kepala. “Namun, karena baunya yang kurang sedap, agak jarang yang menjadikannya sebagai lampok.” Air batang Pisang Batu ini agak istimewa dibandingkan dengan air Bungo Rayo. Menurut masyarakat setempat, air batang Pisang Batu ini digunakan sebagai tindakan kedua setelah air Bungo Rayo. “Secara dosis, ini mungkin lebih tinggi. 3) Kunyit dan Beras Kunyit dan Beras merupakan leksikon yang akrab dengan dapur masyarakat setempat. Kunyit merupakan bahan dapur yang populer di tengah masyarakat Minangkabau yang suka sekali menggulai. Selain bermanfaat untuk cita rasa, kunyit juga diperlukan aroma dan efek warnanya pada masakan. Kunyit dalam khazanah pengetahuan pengobatan lokal juga sering digunakan untuk bahan obat-obatan, termasuk obat demam. Hanya saja dalam kasus demam, kunyit dipadukan dengan bahan lainnya, yaitu beras. Sebagai obat demam, sepotong kunyit seukuran ibu jari diiris-iris kemudian dimasukkan ke dalam gelas yang berisi segenggam beras. Kedua bahan ini kemudian dipadukan dengan air dingin matang. Padu padan kedua bahan ini kemudian didiamkan beberapa lama hingga didapatkan aroma khas kunyit pada air. Air rendaman kunyit dan beras ini kemudian diminum. Untuk mendapatkan perisa, bahan ini juga dapat ditambah sedikit garam. Rendaman kunyit dan beras ini merupakan alternatif pengobatan. Menurut masyarakat setempat, air rendaman kunyit ini dapat menurunkan panas sekaligus untuk memicu selera makan bagi penderita demam. Cubolah, kalau diminum wakatu damam, salero capek tabik. Bareh no bisa lo dikunyah, panuka salero nan paik (Coba minum air rendaman kunyit dan beras ini waktu demam, selera makan akan segera timbul dan rasa pahit di mulut akan segera hilang). b. Flu Flu atau influenza adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus di saluran pernafasan. Masyarakat setempat menyebutnya dengan salemo. Salemo adalah bahasa lokal untuk menyebu ingus atau cairan lendir yang keluar dari hidung. Pada bagian ini memang agak membingungkan, apakah yang dimaksud dengan Salemo dalam bahasa lokal sama dengan Selesma, atau mungkin influenza. Namun untuk kepentingan tulisan ini, Salemo yang dimaksud adalah keadaan saat penderita merasa demam ringan diiringi dengan gejala batuk (biasanya kering), sakit kepala, nyeri otot, lemas, kelelahan dan hidung berair. Bagi masyarakat setempat, flu dianggap sebagai varian demam. Beberapa tanaman yang kerap dijadikan obat antara lain adalah asam jawa dan jeruk nipis. Kedua bahan ini tidak digunakan secara tunggal, namun dipadu dengan bahan lainnya, misalnya madu, gula merah/gula aren atau kecap. Pengobatan flu dengan menggunakan bahan tanaman tidak begitu populer. Tetapi yang menarik dari praktik pengobatan ini adalah alasan mereka mengkonsumsinya, yaitu sebagai pengencer dahak, pelega tenggorokan dan penambah selera makan. Pengobatan flu terbaik memurut masyarakat setempat adalah dengan cara tidur atau mengirup uap air rebusan cengkeh. Hal itu terkait dengan gejala yang dominan dirasakan di sekitar saluran pernafasan. Asam jawa atau populer disebut Tamarin digunakan bersamaan dengan madu atau gula merah. Kedua bahan itu diseduh dengan air mendidih secara bersamaan. Air rendaman bahan tersebut kemudian diminum saat hangat-hangat kuku. Demikian juga halnya dengan jeruk nipis. Jeruk nipis dimanfaatkan airnya, kemudian diseduh dengan air panas. Air campuran jeruk nipis ini boleh ditambahkan dengan gula pasir atau gula merah. Uniknya, semua responden hampir tak mengetahui manfaatnya untuk pengobatan flu, kecuali untuk melegakan tenggorokan saja. c. Batuk Batuk yang dimaksud di sini adalah batuk dengan gejala tenggorokan gatal, terkadang hidung mampet, dan kepala sakit. Menurut responden, gejala batuk seperti ini dapat ditangani sendiri tanpa harus berobat ke klinik kesehatan atau rumah sakit. Beberapa tanaman yang sering dijadikan obat antara lain jeruk nipis, asam jawa, daun sirih dan buah cengkeh. Dalam urut prioritas, tanaman yang menempati posisi terdepan dalam pengobatan batuk adalah jeruk nipis. Jeruk nipis dalam sebutan lokal adalah asam kapeh (asam kapas). Rasanya yang asam dan segar dipercaya dapat melegakan tenggorokan atau menghilangkan gatal pada tenggorokan, serta mengurangi dahak (bila batuk berdahak). Biasanya jeruk nipis diperas dan diseduh dengan air panas. Air perasan jeruk nipis ini juga dapat ditambah dengan gula merah atau asam jawa. Bagi yang dapat menahan sensasi asam dan kecut, mereka dapat memeras langsung dan meniriskannya ke dalam mulut. Atau dapat juga dengan membubuhkan kecap pada potongan jeruk yang dibelah dua, kemudian diperas langsung di atas mulut. Urutan berikutnya adalah asam jawa yang diseduh bersama air panas dan diminum saat hangat-hangat kuku. Perlakuan yang sama untuk daun sirih dan buah cengkeh. Hanya saja, karena daun sirih dan buah cengkeh sangat sulit mendapatkannya, maka jeruk nipis dan asam jawa adalah jenis yang paling sering digunakan. 4.2Penyebaran Pengetahuan Penyebaran pengetahuan tentang tanaman yang mengandung obat, tatacara pengolahan dan khasiatnya berlangsung secara alami dan sulit dijelaskan. Menurut masyarakat setempat, mereka tidak tahu persis siapa yang memberi pengetahuan tentang semua itu. Mereka mendapat pengetahuan itu tanpa belajar secara khusus. Sesuatu yang mereka pahami adalah, bahwa pengetahuan itu didapatkan saat mereka menderita sakit demam, flu dan batuk melalui saran dari orangorang sekitar. Meskipun ada saran, mereka menilai saran itu hanya sekadar mengingatkan mereka agar segera berobat dengan menggunakan bahan-bahan yang sebelumnya sudah mereka ketahui bentuknya, cara pengolahannya dan khasiatnya secara umum. “Yang kami ingat hanya jika ada yang demam panas, kami akan buat air remasan bungo rayo. Jika tidak ingat, sudah pasti ada yang ingatkan.” Meskipun demikian, ada beberapa kemungkinan kesimpulan yang dapat diambil melalui wawancara dengan beberapa responden. Di antaranya: a. Masyarakat setempat tidak mengetahui apa kandungan dari tanaman yang mereka jadikan obat tersebut dan apa kaitannya dengan penyakit yang mereka alami serta untuk gejala apa dari penyakit yang mereka alami. b. Pengetahuan tentang tata cara pengolahan bahan obat tersebut seperti diperoleh begitu saja tanpa dapat mereka jelaskan. Hal ini diistilahkan masyarakat setempat dengan ungkapan “bak si bisu barasian” atau ibarat si bisu yang telah bermimpi, namun untuk menceritakannya mereka tidak mampu. Andaipun pengetahuan itu diperoleh melalui belajar, maka proses memperolehnya didapatkan melalui praktik pengobatan yang pernah dilakukan oleh anggota keluarga ataupun anggota masyarakat lainnya.
Conclusion
Uraian di atas menunjukkan bahwa pengetahuan tentang tanaman obat, tata cara pengolahan dan cara perolehan pengetahuannya merupakan sejenis tacit knowledge. Informasi yang diperoleh masyarakat tidak bersumber dari bahan yang tertulis dan terstruktur dengan baik. Pengetahuan itu terbentuk melalui praktik-praktik yamg berjalan natural sesuai dengan irama kehidupan masyarakat. Dalam masyarakat tradisional ilmu pengetahuan lebih banyak diperoleh dengan cara mewarisinya secara turuntemurun. Dengan demikian, sebagai warga masyarakat yang mengalami proses sosialisasi dan interaksi dalam arena pergaulan sehari-hari. Selain itu lingkungan kehidupan masyarakat lokal (pedesaan) yang terbuka memungkinkan terjadinya tukar-menukar informasi dan pengalaman sebagai warisan dari generasi pendahulunya dengan cara yang alami dan tanpa disadari oleh anggota masyarakatnya. Sunassee menggambarkan tacit knowledge sebagai 1) bentuk pengetahuan yang dipahami dan digunakan sebagian, tidak mudah untuk diartikulasikan. 2) Tacit knowledge dikembangkan dari pengalaman langsung dan pencapaian. 3) tacit knowledge dibagikan melalui percakapan interaktif, bercerita, dan berbagi pengalaman, 4) tacit knowledge disimpan oleh orang-orang di kepala mereka. Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan pengobatan tradisonal masyarakat nagari Salo adalah produk dari pikiran, pengalaman, dan keterampilan yang berkembang di tengah masyarakat.meskipun pengetahuan dapat dibagikan tetapi itu dilakukan dalam bentuk yang kurang kongkrit sehingga beberapa bagian dari pengetahuan itu sulit diartikulasikan. Sesuatu yang positif dari tacit knowledge ini antara lain, pada masa pandemi Covid-19, pengetahuan tentang bahan dan tatacara pengobatan tradisional untuk beberapa jenis penyakit yang mirip dengan gejala Covid-19 telah turut menyumbang upaya masyarakat dalam mengobati penyakit mereka secara mandiri (self medication). Begitu juga penggunaan bahan-bahan yang bersumber dari tanaman herbal meskipun sedang tidak mengalami gejala sakit telah berperan dalam meningkatkan daya imunitas masyarakat secara mandiri dari dari bahaya covid-19.