RANCANGAN INDEKS NAMA-NAMA MOTIF SONGKET KHAS UNGGAN KECAMATAN SUMPUR KUDUS KABUPATEN SIJUNJUNG
Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang; Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang; Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Abstrak
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena kurangnya informasi masyarakat mengenai macam-macam motif khas Unggan dan filosofinya, disamping itu tidak terdapat alat telusur informasi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dalam menelusur macammacam motif songket yang ada. Tujuan dari penelitian ini adalah merancang dan menghasilkan indeks nama-nama motif songket khas Unggan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode pengembangan dengan membuat sebuah produk yaitu buku indeks yang akan membantu masyarakat dalam menelusur macam-macam motif songket yang ada. Produk yang dihasilkan divalidasi oleh validator ahli dan melakukan uji coba secara terbatas melalui perseorangan dan kelompok. Hasil dari pengembangan produk adalah sebuah indeks yang efektif. Hasil uji coba juga membuktikan bahwa produk yang dihasilkan valid dan praktis. Dapat disimpulkan bahwa dari penelitian ini telah dihasilkan sebuah produk berupa indeks nama-nama motif songket khas Unggan Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung sebagai sumber informasi bagi masyarakat.
Abstract
This research is motivated by the phenomenon of the lack of public information about the various motifs typical of Unggan and its philosophy, besides that there is no information search tool that can be used by the public in searching for various existing songket motifs. The purpose of this study was to design and produce an index of the names of the typical songket motifs of Unggan. The method used in this research is the development method by making a product, namely an index book that will help the public in tracing the various existing songket motifs. The resulting product is validated by expert validators and conducts limited trials through individuals and groups. The result of product development is an effective index. The test results also prove that the resulting product is valid and practical. It can be concluded that from this research a product has been produced in the form of an index of the names of the typical songket motifs of Unggan, Sumpur Kudus District, Sijunjung Regency as a source of information for the community. Keyword: Index, Songket Motif, Unggan, Minangkabau
Keywords:
Index
· Songket Motif
· Unggan
· Minangkabau
Introduction
Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman seni dan budaya. Songket merupakan suatu hasil karya seni tenun berupa kain yang dibuat dengan benang dan dimasukkan ke dalam alat tenun. Teknik menenun pada dasarnya hampir sama dengan menganyam, perbedaannya terdapat pada alat yang digunakan. Untuk anyaman cukup melakukannya dengan tangan dan hampir tanpa mengunakan alat bantu, sedangkan pada kerajinan tenun songket biasanya menggunakan alat yang disebut lungsi (benang yang disusun sejajar) dan pakan (benang yang melintang). Kain songket berasal dari istilah sungkit dalam bahasa Melayu dan bahasa Indonesia yang berarti “mengait” atau “mencungkil”. Hal ini berkaitan dengan cara pembuatannya yaitu dengan mengaitkan dan mengambil kain tenun, dan kemudian menyalipkan benang emas atau perak. Kain songket adalah kain yang ditenun dengan menggunakan benang emas atau benang perak dan dihasilkan dari daerah-daerah tertentu disebagian besar wilayah Indonesia. Aneka warna songket dilihat dari penggunaan jenis benangnya. Benang tersebut kemudian dipergunakan untuk mengisi permukaan kain tenun, bentuknya seperti sulaman dan dibuat pada waktu yang bersamaan dengan menenun dasar tenunnya (Kartiwa, 1989). Songket adalah kain yang biasanya dikenakan saat perayaan atau pesta. Songket bisa dikenakan meliliti tubuh seperti sarung, disampirkan di bahu, sebagai destar, atau hiasan ikat kepala. Kain songket di Indonesia mengandung nilai-nilai yang tinggi khususnya bila ditinjau dari segi-segi kemampuan teknis, estetis, dan kadar makna simbolik dan falsafahnya. Dari segi teknik pembuatan, ragam hias, jenis bahan dan pewarnaannya songket Indonesia telah melewati perjalanaan sejarah pengaruh Hindu sampai pengaruh Barat dan masa kini (Kartiwa. 1989). Salah satu daerah penghasil kerajinan kain songket adalah Sumatera Barat. Terdapat beberapa daerah yang memiliki kain songket seperti songket Silungkang di kota Sawahlunto, songket Nagari Pandai Sikek di Kabupaten Tanah Datar, songket Kubang di Kota Payakumbuh dan songket Unggan di Kabupaten Sijunjung, dan masih banyak lagi daerah-daerah pengrajin songket di Sumatera Barat dengan ciri khas yang berbeda dari masingmasing daerahnya. Nagari Unggan adalah salah satu daerah penghasil kain songket yang ada di Sumatera Barat tepatnya di Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung dengan luas wilayah 20.932 H, Nagari Unggan berbatasan dengan: sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Tanah Datar, sebelah timur berbatasan dengan Provinsi Riau, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Lima Puluh Kota, dan sebelah utara berbatasan dengan Nagari Silantai Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung. Dalam perkembangannya, songket Unggan dapat menyatukan antara kehalusan songket Pandai Sikek dengan songket Silungkang, dan dimodifikasi oleh pengrajin sehingga dapat menciptakan songket khas nagari Unggan dengan motif Unggan seribu bukit. Motif Unggan seribu bukit merupakan pembeda antara motif nagari Unggan dengan motif songket dari daerah lainnya. Dari hasil wawancara dengan Ibu Enita Widia Citra orang yang pertama kali membawa kerajinan songket ke nagari Unggan pada Tanggal 25 Februari 2021, diketahui Songket Unggan pada awalnya dikembangkan di kenagarian Unggan pada Tahun 2007, kerajinan songket ini dipelajari dari nagari Pandai Sikek, kemudian songket dikembangkan di nagari Unggan dengan perpaduan songket Pandai Sikek dengan Songket Silungkang sehingga menghasilkan songket yang khas dan berbeda dari songket yang ada di daerah lain, baik dari segi motif maupun tingkat kehalusan kainnya. Sebelum dikenal oleh masyarakat, usaha songket ini hanya dikerjakan oleh beberapa orang saja, karena kurangnya perhatian dan dukungan dari masyarakat maupun pemerintahan nagari dengan alasan kendala dalam proses pemasaran. Namun dengan usaha dan tekat yang kuat Ibu Enita Widia Citra menemui Bapak Bupati Kabupaten Sijunjung, yang pada waktu itu dipimpin oleh Bapak Darius Apan dan Bapak Yuswir Arifin selaku Wakil Bupati. Dengan usahanya, Ibu Enita Widia Citra mendapat dukungan dari pemerintah dan diberi modal berupa uang sektira Rp800.000 untuk pembelian bahan yang dibutuhkannya. Sejak Tahun 2010 songket nagari Unggan semakin mendapat perhatian dari pemerintah daerah Kabupaten Sijunjung sehingga diperoleh anggaran untuk pembangunan Gedung Sentra Unggan untuk menunjang usaha masyarakat dalam memproduksi kain songket di kenagarian Unggan yang sampai saat ini masih berfungsi. Sampai sekarang kain songket nagari Unggan adalah salah satu usaha produk yang dibanggakan oleh Kabupaten Sijunjung saat ini dan sudah masuk pameran sampai ke tingkat nasional serta telah mengharumkan nama baik Kabupaten Sijunjung yang dijuluki Lansek Manih. Dalam perkembangannya songket Unggan mampu mengombinasikan kehalusan songket Pandai Sikek dengan songket Silungkang yang dinamis dan terciptalah songket corak Unggan. kain Songket Unggan juga memiliki motifmotif yang beragam dan berbeda dari tenun songket yang lain, pembuatan motifnya bisa muncul dari pemikiran dan kreativitas para penenun itu sendiri dan jenis motif yang dibuat tidak mencontoh motif- motif tenun yang ada didaerah lain. Dari segi motif, Tenun Songket nagari Unggan memiliki motif yang sangat berbeda dari songket lain, songket nagari Unggan menggunakan motif dengan ciri khas nagari Unggan seperti Unggan Seribu Bukit, Lansek Manih, Pitunah Unggan, Enggan Barajo, serta Unggan Marantau. Tenun Songket nagari Unggan juga memiliki motif lain, ada sekitar 35 motif yang berbeda, dan tentu motif-motif nya berbeda dengan daerah pengrajin songket lain. Dari bentuk motif sogket yang beragam, cara pembuatan atau alat yang digunakan dari berbagai tempat di Indonesia juga bervariasi. Songket nagari Unggan sendiri dibuat menggunakan alat tradisional yang proses pengerjaannya mengunakan tangan tanpa bantuan mesin. Songket Unggan dibuat dengan alat yang sederhana, pembuatan kain songket Unggan ini tergantung pada kecepatan dan keterampilan pekerjanya, dan proses pengerjaannya sekitar 4 sampai 5 hari untuk satu buah songket. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka judul dari tugas akhir ini adalah “Rancangan Indeks Nama-nama Motif Songket Khas Unggan Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung”. Dari banyak macam alat telusur untuk mengemas informasi, penulis ingin membuat alat telusur berupa indeks, karena produk yang akan penulis buat adalah daftar nama- nama motif songket Unggan yang dibuat berdasarkan abjad, dan dengan adanya alat telusur jenis indeks ini dapat memudahkan pengguna dalam penelusuran informasi tentang macammacam motif songket Unggan yang ada di Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung. Alat telusur berbentuk indeks ini penulis buat agar adanya kemas informasi dari macam-macam motif songket Unggan. Hingga nama, bentuk motif, serta filosofi dari motif songket khas Unggan ini tetap ada dan tidak dilupakan oleh masyarakat karena kerajinan songket Unggan ini adalah salah satu kesenian yang dibanggakan oleh Nagari Unggan hingga saatini. 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Indeks Indeks adalah salah satu bahan rujukan atau referense book. Sementara yang dimaksud dengan bahan rujukan adalah buku acuan atau buku rujukan atau reference collection yakni koleksi yang memberikan informasi tentang sesuatu secara singkat menyeluruh dalam lingkupnya. Koleksi ini tidak perlu dibaca secara keseluruhan sebagaimana pada buku teks (Hafiah, 2011). Hal ini diperkuat oleh pendapat Tambusai (2007) yang menyatakan: Koleksi rujukan atau koleksi referensi adalah kumpulan bahan pustaka yang berupa karya-karya referensial, yang disusun sebagai alat konsultasi atau petunjuk mengenai informasi-informasi tertentu. Koleksi rujukan dimaksudkan untuk mencari data atau informasi khusus mengenai topik- topik tertentu atau konsultasi saja. Koleksi referensi tidak perlu dibaca seperti buku biasa dan juga tidak perlu dibawa keluar perpustakaan, disamping koleksi ini diperlukan setiap waktu konsultasi. Menurut Sulistyo-Basuki, (2005: 81) indeks adalah daftar orang, tempat dan atau subyek yang dirujuk dalam sebuah dokumen atau sarana bantu disertai dengan lokasi rujukan, biasanya disusun menurut urutan abjad. Indeks merupakan suatu daftar artikel-artikel dalam bidang atau subyek tertentu dari hari-harian, majalah-majalah,naskahnaskah, dan sejenisnya. Dari kutipan diatas dapat dipahami bahwa, indeks merupakan daftar istilahistilah, angka, huruf atau tanda lain dalam bidang tertentu untuk memberikan informasi lebih lengkap yang disusun secara sistematis supaya pengguna lebih mudah dalam menemukan informasi mengenai namanama motif songket yang ada di nagari Unggan Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung. 2.2 Songket Unggan Songket adalah jenis kain tenun tradisional rumpun melayu di Indonesia, malaysia, dan Brunei. Songket digolongkan dalam keluarga tenunan brokat. Songket ditenun dengan tangan menggunakan benang emas. Songket berkembang dalam budaya rumpun Melayu di Sumatera, seperti songket palembang dan Songket Minangkabau. Kata songket berasal dari istilah sungkit dalam bahasa Melayu dan bahasa Indonsia yang berarti “mengait” atau “mencungkil”. Hal ini berkaitan dengan metode pembuatannya yaitu dengan mengaitkan dan mengambil kain tenun kemudian menyelipkan benang emas atau perak. Kain songket adalah kain yang ditenun dengan menggunakan benang emas atau benang perak dan dihasilkan dari daerah-daerah tertentu disebagian besar wilayah Indonesia. Aneka warna songket dilihat dari penggunaan jenis benangnya. Benang tersebut kemudian dipergunakan untuk mengisi permukaan kain tenun, bentuknya seperti sulaman dan dibuat pada waktu yang bersamaan dengan menenun dasar tenunnya (Kartiwa, 1989). Kerajinan kain songket Unggan dipelajari dari pengrajin songket Pandai Sikek dan pengrajin songket Silungkang. Dalam perkembangannya songket Unggan mampu mengkombinasikan kehalusan songket Pandai Sikek dengan songket Silungkang yang dinamis dan terciptalah songket corak Unggan. kain Songket Unggan juga memiliki motifmotif yang beragam dan berbeda dari tenun songket yang lain, pembuatan motif nya bisa muncul dari pemikiran dan kreatifitas para penenun itu sendiri dan jenis motif yang dibuat tidak mencontoh motif-motif kain songket yang ada didaerah lain. kain Songket Unggan juga memiliki motif-motif yang beragam dan berbeda dari tenun songket yang lain, hingga sekarang sudah mencapai 35 lebih macam motif, pembuatan motif nya bisa muncul dari pemikiran dan kreatifitas para penenun itu sendiri dan jenis motif yang dibuat tidak mencontoh motif motif tenun yang ada didaerah lain. Hingga saat ini kain songket di nagari Unggan adalah salah satu usaha produk yang dibanggakan oleh Kabupaten Sijunjung dan sudah masuk pameran sampai ke tingkat nasional serta telah mengharumkan nama baik Kabupaten Sijunjung yang dijuluki Lansek Manih.
Method
Dalam penelitian ini menggunakan penelitian pengembangan (Research & Development). Penelitian pengembangan adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut (Sugiyono, 2016: 297). Dalam penelitian ini akan menghasilkan sebuah produk yaitu Rancangan Indeks Nama-nama Motif Songket Unggan Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung. Adapun alur penelitian sebagai berikut: Tabel 1. Alur Penelitian (Sumber: buku pedoman penulisan tugas akhir: Program Diploma Tiga (D3) ilmu perpustakaan 2016)
Result & Discussion
Bagian ini merupakan hasil atau temuan yang diperoleh setelah kegiatan observasi atau penelitian yang dilakukan. Pada bagian ini terdapat 4 (empat) bagian yaitu analisis kebutuhan, rancangan model (produk), pembuatan atau pengembangan model (produk) dan evaluasi atau pengujian model (produk). A. Analisis Kebutuhan Analisis kebutuhan adalah analisis tingkat kebutuhan pengguna terhadap produk yang akan dibuat. Pada indeks namanama motif songket khas Unggan ini, datanya dikumpulkan melalui penelitian langsung ke lapangan guna untuk melengkapi data yang terkumpul. Rancangan Indeks Nama-nama Motif Songket Khas Unggan Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung ini bertujuan untuk memudahkan pengguna informasi untuk menelusuri informasi yang dibutuhkan secara cepat, akurat, dan efektif. Buku rancangan indeks nama-nama motif songket khas Unggan ini nantinya akan digunakan oleh masyarakat umum, mahasiswa, pelajar, dan para individu yang ingin mengetahui filosofi sebuah motif songket khas Unggan. Proses pembuatan Indeks Nama-nama Motif Kain Songket Unggan Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung membutuhkan nama-nama dan filosofi dari motif kain songket tersebut. Selain itu deskripsi dari ragam motif songket dan pemanfaatan kain songket. Judul, dalam pembuatan produk ini bertujuan untuk memudahkan pengguna mencari motif-motif songket yang ada di kenagarian Unggan tersebut. Wawancara pertama dilakukan dengan pengrajin kain songket Unggan yang bernama Hasniati (Informan1) pada 11 Juni 2021. Dalam wawancara tersebut, didapat data bahwa informan 1 tersebut tidak mengetahui secara keseluruhan mengenai macammacam motif songket Unggan dan filosofinya, Untuk membuat buku berupa indeks macam- macam motif songket khas Unggan Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung dibutuhkan nama, gambar, serta penjelasannya. Sehingga dengan adanya data tersebut masyarakat mengetahui yang mana motif songket Unggan serta mengetahui dengan tenunan nagari Unggan. Wawancara kedua dilakukan dengan pegawai kantor Wali Nagari Unggan yang bernama Mimi Efrida (Informan II) pada tanggal 11 Juni 2021. Dalam wawancara tersebut Informan II menyarankan dalam pembuatan buku indeks ini bahwa informasi membutuhkan data tentang penjelasan motif yang dilengkapi dengan gambarnya. Menurut informan II, indeks berupa buku ini perlu dibuatkan agar masyarakat atau pelajar ahu mana motif songket khas Unggan dan mengetahui jenis motifnya. Wawancara ketiga dilakukan dengan seorang yang bekerja pada bagian pengadaan bahan songket di Gedung Sentra Unggan yang bernama Delpa Wardi (Informan III) pada tanggal 12 Juni 2021. Berdasarkan hasil wawancara dengan informan III, bahwa untuk membuat buku berupa indeks nama-nama motif songket khas nagari Unggan dibutuhkan namanama motif, dan bentuk motifnya agar masyarakat yang mencari informasi dapat dengan mudah menemukan informasi mengenai macam- macam motif songket khas nagari Unggan Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung. Wawancara keempat yaitu dilakukan dengan seorang yang bekerja di Koperindag nagari Unggan Kabupaten Sijunjung pada bagian penjagaan Gedung Sentra Unggan yang bernama Sri Janestu (informan IV) pada tanggal 12 Juni 2021. Berdasarkan hasil wawancara tersebut informasi meminta untuk dibuatkan alat telusur berbentuk tercetak untuk memudahkan masyarakat mengetahui informasi tentang motif songket khas nagari Unggan. Menurut informasi aspekaspek yang dibutuhkan untuk membuat indeks motif songket khas Unggan yaitu berupa nama motif, bentuk motif, penjelasan mengenai motif, serta bentuk cover yang menarik. Berdasarkan wawancara dari ke 4 (empat) informan di atas, dapat disimpulkan bahwa masih banyak dari informan yang tidak mengetahui macam-macam motif kain songket khas nagari Unggan dan makna motifnya. Oleh karena itu, perlu dibuatkan Rancangan Indeks Nama-nama Motif Songket Khas Unggan Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung. Tabel 2. Analisis Kebutuhan Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa informasi membutuhkan nama motif, gambar motif, serta filosofi atau makna motifnya. Dalam pembuatan produk indeks namanama motif songket khas Unggan mengacu pada buku yang berjudul Tenun Ikat Indonesia yang ditulis oleh Dra. Hj. Suhardini Chalid tahun 2000. Dalam buku pedoman tersebut memuat informasi mengenai sejarah, teknik pembuatan, bentuk motif, dan perkembangan kain tenun ikat di Indonesia. Sedangkan pada produk Tugas Akhir Rancangan Indeks Nama-nama Motif Songket Khas Unggan Kecamtan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung, memuat informasi mengenai nama motif, bentuk motif, filosofi motif, dan informasi lain yang dibutuhkan B. Rancangan Model Produk Rancangan model produk dibuat dalam bentuk buku Rancangan Indeks Nama-nama Motif Songket Khas Unggan Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung. Buku indeks ini dibuat dari kertas HVS ukuran A5 dengan gaya tulisan TW Cen MT dan ukuran tulisan 12, dan akan divalidasi oleh Ibu Fadhila Nurul Husna Zalmi M. Hum selaku validator ahli dalam bidang Perpustakaan. Langkah yang akan dilakukan dalam merancang produk indeks berupa nama-nama motif songket khas Unggan Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung adalah sebagai berikut: 1. Mengumpulkan data tentang macam-macam motif songket khas Unggan Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung. Mengumpulkan data dengan cara langsung turun ke lapangan dan mendokumentasikan hasil wawancara tersebut dalam bentuk rekaman audio dengan masyarakat yang masih bekerja membuat kerajinan songket di Nagari Unggan. 2. Setelah informasi didapatkan, kemudian peneliti menulis pada Ms. Publisher 2010. Akan dicantumkan model rancangan indeks tersebut. Data yang akan dicantumkan terdiri dari beberapa unsur yaitu: a. Nama motif songket b. Gambar motif songket c. Anotasi dari motif tersebut Setelah unsur diatas terpenuhi maka akan dilakukan penyusunan terhadap buku indeks sesuai arahan dari validator. Gambar 1. Rancangan Sketsa Cover Produk C. Pembuatan atau Pengembangan Model (Produk) Dalam pembuatan produk berupa Rancangan Indeks MacamMacam Motif Songket Khas Unggan Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung ini disusun berdasarkan abjad untuk memudahkan pengguna menemukan dimana letak motif songket yang akan dicari. Bentuk buku Rancangan Indeks Nama-nama Motif Songket Khas Unggan Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung. Buku indeks ini dibuat dari kertas HVS ukuran A5 dengan gaya tulisan TW Cen MT dan ukuran tulisan 12, dan akan divalidasi oleh Ibu Fadhila Nurul Husna Zalmi M. Hum selaku validator ahli dalam bidang Perpustakaan. Gambar 2 Cover Produk D. Evaluasi atau Pengujian Model (Produk) Produk yang telah dibuat kemudian diuji cobakan kehandalan dan kepraktisannya. Uji coba ini merupakan tahap akhir dari produk sebelum produk digandakan atau produk dipublikasikan. Dalam penelitian ini, penulis melakukan uji coba kelompok kecil dan uji kelompok besar. Setelah data terkumpul, data dianalisis menggunakan metode statistik. Hasil analisis berupa angka dan dijelaskan dalam satu uraian. Perhitungan presentasenya penulis menggunakan rumus. (Sugiyono 2017) sebagai berikut: P = f/n x 100% Keterangan: P = Persentase F = Jumlah poin yang diberikan n = Jumlah Responden Gambar 3 Grafik Hasil Uji Coba Kelompok Kecil Dalam penelitian ini, penulis melakukan uji coba kelompok kecil terhadap 2 (dua) orang pembeli songket, 2 (dua) orang mahasiswa Ilmu Perpustakaan, dan 1 (satu) orang pengrajin songket. Berdasarkan hasil uji coba kelompok kecil yang telah dilakukan diketahui bahwa dari pernyataan pertama, skor tertinggi yaitu 60% responden menyatakan “setuju”. Pernyataan kedua, skor tertinggi yang diperoleh yaitu 60% responden menyatakan “setuju”. Pernyataan ketiga, skor tertinggi yang diperoleh yaitu 60% responden mengatakan “sangat setuju”. Pernyataan keempat, skor tertinggi yang diperoleh yaitu 80% responden menyatakan “sangat setuju”. Pernyataan kelima, skor tertinggi yang diperoleh yaitu 80% responden yang menyatakan “sangat setuju”. Pernyataan keenam, skor tertinggi yang diperoleh yaitu 60% yang menyatakan “setuju”. Pernyataan ketujuh, skor tertinggi yang diperoleh yaitu 60% responden yang menyatakan “sangat setuju”. Berdasarkan uji coba terhadap kelompok kecil bahwa 60% menyatakan sangat setuju dan 40% menyatakan setuju. Jadi dapat disimpulkan bahwa Rancangan Indeks Nama-nama Motif Songket Khas Unggan Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijinjung ini sudah layak digunakan serta memudahkan pengguna dalam memperoleh informasi yang mereka butuhkan. Gambar 4 Grafik Hasil Uji Coba Kelompok Besar Dalam uji coba kelompok besar Penulis melakukan uji coba angket lapangan terhadap 50 orang yang terdiri dari masyarakat umum, mahasiswa, para guru pengajar seni budaya, dan pelajar. Angket yang penulis uji cobakan sama dengan angket kelompok kecil. Berdasarkan hasil uji coba kelompok kecil yang telah dilakukan diketahui bahwa dari pernyataan pertama, skor tertinggi yaitu 54% responden menyatakan “sangat setuju”. Pernyataan kedua, skor tertinggi yang diperoleh yaitu 52% responden menyatakan “setuju”. Pernyataan ketiga, skor tertinggi yang diperoleh yaitu 54% responden mengatakan “setuju”. Pernyataan keempat, skor tertinggi yang diperoleh yaitu 62% responden menyatakan “setuju”. Pernyataan kelima, skor tertinggi yang diperoleh yaitu 64% responden yang menyatakan “sangat setuju”. Pernyataan keenam, skor tertinggi yang diperoleh yaitu 54% yang menyatakan “sangat setuju”. Pernyataan ketujuh, skor tertinggi yang diperoleh yaitu 56% responden yang menyatakan “setuju”. Jadi kesimpulan dari data hasil uji coba kelompok besar, 88% menyatakan setuju dan 71% menyatakan sangat setuju, dapat disimpulkan bahwa buku rancangan Indeks Nama-nama Motif Songket Khas Unggan Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung sudah layak untuk digunakan dan mempermudah pengguna dalam penelusuran informasi yang mereka butuhkan. Buku rancangan indeks ini dapat digunakan sebagai alat telusur informasi yang sangat sederhana dan mudah dipahami oleh pengguna dalam mencari informasi mengenai Nama-nama Motif Songket Khas Unggan Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung.
Conclusion
Berdasarkan bab-bab sebelumnya dapat disumpulkan bahwa tujuan penelitian sudah tercapai yaitu membuat Indeks Nama-nama Motif Songket Khas Unggan Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung yang dapat digunakan untuk mempermudah masyarakat dalam menemukan informasi tentang macammacam motif songket khas Unggan. Produk ini sudah dinyatakan valid, efektif dan praktis.