Kembali
16
1
2022 Jurnal Al- Ma'arif : Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam Vol 2 · 2 ISSN 2797-9393

MANAJEMEN PENGETAHUAN: PEMEBELAJARAN ORGANISASI DAN IMPLEMENTASI DI PERPUSTAKAAN

Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Abstrak

Manajemen pengetahuan (MP) menjadi isu penting dalam menciptakan inovasi dan peningkatan kinerja dari sebuah organisasi. Kemunculan MP membawa tantangan dan persoalan baru bagi pustakawan dalam mendefinisikan manajemen informasi dan pengetahuan sebagai objek yang dikelolanya. Tulisan ini berupaya mengeksplorasi berbagai cara perpustakaan untuk berperan sebagai perangkat pembelajaran organisasi sekaligus mengidentifikasi cara menerapkan konsep MP dalam pengelolaan perpustakaan sebagai sebuah organisasi. Pendekatan studi literatur dan bibliometrika digunakan dalam penelitian ini berdasarkan sumber literatur yang berkaitan dengan implementasi MP di perpustakaan. Penelitian ini menemukan bahwa MI merupakan bagian dari konsep MP yang berfokus pada pengelolaan pengetahuan explicit, sedangkan secara keseluruhan MP mengelola aset pengetahuan tacit dan explicit. Dalam mendukung pengelolaan aset pengetahuan organisasi secara efektif, perpustakaan perlu melakukan perluasan peran pengelolaan terhadap kedua bentuk pengetahuan tersebut, sehingga perpustakaan dapat menjadi pusat MP sekaligus sebagai pembelajaran organisasi. Lebih lanjut, perpustakaan dapat mengadopsi konsep MP dalam penciptaan inovasi dan peningkatan kualitas layanan. Perpustakaan digital mendorong MP dalam pengelolaan aset pengetahuan organisasi. Implementasi MP di perpustakaan dapat diterapkan pada aktifitas rutinitas seperti administrasi, perencanaan strategis, layanan referensi, dan pemanfaatan knowledge management system (KMS) untuk mendukung kolaborasi dalam penyelesaian sebuah proyek tertentu di perpustakaan.

Abstract

Knowledge management (KM) is an important issue in creating innovation and improving the performance of an organization. The emergence of KM brings new challenges and problems for librarians in defining information and knowledge management as the object they manage. This paper seeks to explore various ways for libraries to act as organizational learning tools while at the same time identifying ways to apply the concept of KM in library management as an organization. Literature study approach and bibliometrics are used in this study based on literature sources related to the implementation of KM in the libraries. This study found that MI is part of the KM concept that focuses on managing explicit knowledge, while overall KM manages tacit and explicit knowledge assets. In supporting the effective management of organizational knowledge assets, libraries need to expand the management role of the two forms of knowledge, so that the library can become a center for KM as well as organizational learning. Furthermore, the library as an organization can adopt the concept of KM in creating innovation and improving service quality. Digital libraries encourage KM in the management of organizational knowledge assets. The implementation of KM in the library can be applied to routine activities such as administration, strategic planning, reference services, and the use of knowledge management systems (KMS) to support collaboration in completing a particular project in libraries.
Keywords: knowledge management · information management · organizational learning · libraries · implementation

Introduction

Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, merubah cara, sudut pandang dan prilaku manusia untuk bertahan hidup dan menghadapi tantangan yang dinamis. Perubahan masyarakat menurut seorang sosiolog bernama Daniel Bell dalam bukunya berjudul “The Coming of Post-Industrial Society” menyatakan tahapan perkembangan masyarakat dalam konteks sejarah sosio-ekonomi dapat dibagi dalam tiga bagian, pertama masyarakat pra-industri, masyarakat industri, dan masyarakat pasca-industri. Pada kelompok masyarakat yang disebut terakhir masyarakat ini tidak bergantung pada sumber daya alam ataupun industri, namun mengandalkan informasi atau pengetahuan dalam aktifitas ekonomi dan sosial, selain itu ketergantungan dengan teknologi informasi menjadi ciri masyarakat (1999). Alvin Toffler juga membagi perubahan peradaban manusia dalam tiga gelombang yaitu, gelombang pertama disebut masyarakat agraria yang telah dimulai semenjak tahun 2000 S.M; kedua adalah masyarakat industri dimulai tahun 1750; dan gelombang ketiga masyarakat informasi, yang diawali pada tahun 1950 (1980). Masyarakat informasi memandang pengetahuan sebagai sumber ekonomi utama yang mendorong inovasi dan kreativitas manusia (Bell, 1999; Drucker, 1992). Corak masyarakat informasi semakin terlihat jelas ketika memasuki abad 21, dengan kemunculan industri informasi seperti industri perangkat IT dan jaringan, tumbuhnya penyedia jaringan komunikasi, sehingga berdampak maraknya peningkatan jasa-jasa layanan berbasis online seperti e-commerce, e-government, e-learning dan sebagainya. Fenomena penggunaan informasi dan teknologi secara efektif oleh organisasi menjadi hal yang mutlak meningkatkan kinerja mereka. Pada saat ini banyak perusahaan atau organisasi tidak mampu bersaing dan bertahan oleh karena tidak mampu beradaptasi dengan perubahan tuntutan masyarakatnya dan kurang mampu berinovasi. Dengan kata lain, kemampuan belajar sebuah organisasi (organization learning) sangat menentukan keberlangsungan organisasi dalam menghadapi berbagai permasalahan. Pembelajaran organisasi adalah organisasi yang terampil dalam menciptakan, memperoleh, dan mentransfer pengetahuan, dan memodifikasi perilaku untuk mencerminkan pengetahuan dan wawasan baru (Garvin, 1994). Konsep pembelajaran sangat erat kaitannya dengan ketersediaan pengetahuan, informasi, data yang valid sebagai dasar analisis dan riset untuk memperoleh pengetahuan yang digunakan untuk mengambil kebijakan yang akurat sesuai dengan permasalahan organisasi. Permasalahan hadir ketika pengetahuan dan pengalaman induvidu yang dimiliki oleh organisasi sulit untuk diidentifikasi dan diformalkan sehingga menjadi kendala dalam proses pembelajaran organisasi. Kondisi ini menjadi perhatian banyak ahli untuk memberikan solusi bagaimana pengetahuan di dalam organisasi dapat terkelola dengan baik, konsep ini disebut dengan manajemen pengetahuan (selanjutnya istilah ini disingkat MP). Penerapan konsep MP dalam organisasi bertujuan untuk mendukung pembelajaran organisasi dengan cara mendokumentasikan pengetahuan serta memfasilitasi sharing pengetahuan dalam organisasi tersebut. Implementasi MP pada saat ini tidak hanya dilakukan oleh organisasi bisnis, namun sudah merambah pada lembaga non-profit seperti lembaga pemerintahan, universitas, badan penelitian dan pengembangan dan lainnya. MP bukanlah sebuah disiplin tunggal. Namun, dibangun berdasarkan pendekatan multidisipliner dari berbagai bidang yang terkait seperti ilmu organisasi, kognitif, linguistik, teknologi informasi, pendidikan, komunikasi dan perpustakaan (Dalkir, 2005). Walaupun MP menggunakan pendekatan ilmu perpustakaan, konsep MP relatif masih baru di kalangan pustakawan, apalagi selama ini perpustakaan berkutat dalam domain manajemen informasi (MI) yang berorientasi pada aktifitas pencarian informasi, seleksi, klasifikasi, kemas ulang, menyebarluaskan dan melayani pengguna. Kemunculan MP membawa tantangan dan persoalan baru bagi pustakawan dalam mendefinisikan informasi dan pengetahuan sebagai objek yang dikelolanya. Pada saat ini cukup banyak perpustakaan melabelkan organisasi mereka dengan sebutan pusat pengetahuan (knowledge center), apakah perbedaan label itu menunjukkan peran yang berbeda atau sekedar perluasan aktifitas perpustakaan dalam konteks pembelajaran organisasi dimana perpustakaan itu berada?, sebaliknya bagimana juga menajemen pengetahuan dapat diterapkan dalam pengelolaan perpustakaan sebagai sebuah organisasi?. Kedua pokok persolan itu menjadi fokus dalam makalah ini. Namun, sebelumnya tulisan terlebih dahulu mengeksplorasi perbedaan konsep MI dan MP dalam perspektif pustakawan. Bagian akhir dari tulisan akan mengidentifikasi implementasi MP dalam lingkup aktifitas pengelolaan perpustakaan melalui pendekatan studi literatur dan bibliometrika berdasarkan literatur ilmiah yang relevan. 2. TINJAUAN PUSTAKA Isu penelitian terkait MP di perpustakaan cukup banyak dilakukan oleh para peneliti untuk melihat bagaimana perpustakaan dapat bertransformasi menjadi pengelola pengetahuan serta upaya perluasan peran perpustakaan dalam mendukung misi dari organisasi yang menaunginya (Adelia, 2020; Haryanto, 2018; Siregar, 2005). Selain itu, beberapa peneliti mencoba eksplorasi tren penelitian MP di perpustakaan dengan fokus menggunakan metode bibliometrika (Jain, 2020; Tupan & Setiorini, 2020). Namun demikian, masih sedikit peneliti yang mencoba memfokuskan untuk mengeksplorasi dan mengidentifikasi aktifitas-aktifitas dalam pengelolaan perpustakaan yang dapat didukung melalui impelemntasi konsep MP di perpustakaan. Penelitian ini mencoba menggunakan dua pendekatan survei literatur baik tradisional maupun dengan persepktif bibliometrik untuk melihat sejauhmana penerapan MP dalam pengelolaan perpustakaan.

Method

Penelitian ini berbasis survei literatur untuk eksplorasi berbagai gagasan dan konsep terkait manajemen pengetahuan dalam perspektif perpustakaan baik sebagai perangkat pembelajaran organisasi maupun implementasi MP di organisasi perpustakaan itu sendiri. Berdasarkan berbagai literatur penelitian, akan di identifikasi bagaimana para pustakawan memahami penerapan konsep MP di perpustakaan. Selanjutnya, digunakan pendekatan bibliometrika untuk mengidentifikasi akifitas-aktifitas perpustakaan berdasarkan analisa kedekatan kata kunci dari penelitian MP di perpustakaan.

Result & Discussion

Perbedaan MI dan MP Kunci dari perbedaan konsep MI dan MP adalah bagaimana mendefinisikan dengan jelas antara informasi dan pengetahuan itu sendiri. Berbagai literatur menyatakan terdapat hubungan hirarki antara data, informasi dan pengetahuan. Data dapat didefinisikan sebagai fakta obyektif tentang peristiwa tanpa makna yang melekat (Davenport & Prusak, 1998), informasi merupakan data yang telah diolah menjadi bentuk yang bernilai atau bermakna bagi penerima dan berguna untuk pengambilan keputusan saat ini atau masa yang akan datang (Davis & Olson, 1985). Pengetahuan adalah gabungan dari pengalaman yang dibingkai, nilai-nilai, informasi kontekstual, dan ahli wawasan yang menyediakan kerangka kerja untuk mengevaluasi dan menggabungkan pengalaman baru dan informasi (Davenport & Prusak, 1998). Pengetahuan merupakan manifestasi tertinggi dari hirarki yang memiliki nilai tambah dari sisi makna, kegunaan, kompleksitas lebih dibandingkan informasi dan data. Perbedaan esensi dari data, informasi dan pengetahuan adalah bahwa ketika kita kehilangan data atau informasi, kita sering kehilangan sesuatu yang dapat kita miliki secara fisik, tetapi ketika kita kehilangan pengetahuan, kita kehilangan kemampuan untuk melakukan sesuatu (Blair, 2002). Dalam konteks organisasi, pengetahuan dapat dikelompokkan dalam pengetahuan explicit dan pengetahuan tacit yang diperkenalkan pertama kali oleh sorang filsuf bernama Michael Polanyi tahun 1966 dalam karyanya berjudul “The tacit dimension”(Polanyi & Sen, 2009). Kemudian kedua istilah ini dipopulerkan oleh Ikujiro Nonaka pada tahun 1991 (Semertzaki, 2011). Pengetahuan tacit merupakan pengetahuan dipersonalisasi dan dibagi melalui interaksi antara orang ke orang melalui dialog dan jejaring sosial, sedangkan explicit tersimpan, dijelaskan, disebarluaskan melalui teknologi informasi dan prosedur formal (Choo dkk., 2006). Explicit dapat didokumentasikan sedangkan tacit yang berada dalam pikiran, budaya, dan pengalaman dalam organisasi (Rowley, 2003). Pengetahuan tacit merupakan pengetahuan informal; sulit untuk ditangkap dan dikodifikasikan; dan sulit untuk dikomunikasikan atau dibagi kepada orang lain (Nazim & Mukherjee, 2016). Istilah pengetahuan tacit ini pad umumnya dapat direfleksikan dalam bentuk kemahiran, gagasan, persepsi dan sudut pandang seseorang, yang cenderung mudah ditransfer kepada orang lain melalui komunikasi langsung atau praktek. Pengetahuan yang dikomunikasikan dalam bentuk formal, tercatat terekam dalam media tertentu menjadikan pengetahuan tacit tersebut telah menjadi explicit. Pemahaman terhadap definisi dan perbedaan dari pengetahuan tacit dan explicit, menjadi pemisah dan perkuat perbedaan antara MI dan MP. iSchool (sekolah informasi Universitas Washington) mendefinisikan manajemen informasi merupakan infrastruktur yang digunakan untuk mengumpulkan, mengelola, menyimpan, dan mengirim informasi, yang memungkinkan informasi tersedia untuk orang yang tepat dan waktu yang tepat, dan memandang semua informasi baik digital maupun tercetak sebagai aset di sebuah organisasi (ISchool, 2018). MI terkait dengan keterampilan dalam mengelola terkait akuisisi, pengorganisasian, penyimpanan, keamanan, temu kembali, dan penyebaran sumber daya informasi termasuk juga dalam hal ini, dokumentasi, manajemen arsip, dan infrastruktur teknis (Reitz, 2004). Dua definisi yang telah disebut tidak menyentuh ranah pengetahuan tacit, MI berfokus pada pengelolaan bahan terekam dan formal yang cenderung merujuk pada karakteristik dari pengetahuan explicit. Selanjutnya, Konsep MP muncul selama pertengahan 1990-an dan mendapat perhatian dari akademisi dan praktisi di beberapa bidang. Istilah MP pertama kali digunakan oleh Carl Wiig pada tahun 1986 pada konferensi Swiss yang disponsori oleh PBB - Organisasi Perburuhan Internasional (Nazim & Mukherjee, 2016). MP didefinisikan sebagai sebuah sistem penerapan pengetahuan yang sistematis untuk memaksimalkan kinerja yang berhubungan dengan pengetahuan organisasi dan kembali pada aset pengetahuan itu sebagai sebuah pembelajaran (Wiig, 1999). MP berkenaan dengan aktifitas menangkap dan mengelola keahlian kolektif organisasi yang terdapat dalam basis data, dokumen maupun yang ada di dalam pikiran manusia dan mendistribusikannya untuk meningkatkan kinerja organisasi (Dubey, 2003). Deskripsi dari konsep MP tersebut menunjukkan konsep yang lebih luas dibandingkan MI, dikarenakan pengetahuan tacit dan explicit masuk dalam pengelolaan MP. Sesuai dengan Shashi Prabha Singh yang menyimpulkan bahwa MI berfokus pada temu kembali informasi terekam dan pengetahuan explicit, MP adalah proses dimana organisasi menghasilkan nilai dari modal intelektual mereka atau aset berbasis pengetahuan (2007). lebih lanjut, Singh memaparkan perbedaan konsepsi MI dan MP seperti yang terlihat pada tabel 1. Tabel 1. Perbedaan antara MI dan MP Manajemen informasiManajemen pengetahuan MI berhubungan dengan pengetahuan explicit yang tersedia dalam bentuk buku, jurnal, paten, basis data dan lainnya. MP berkaitan dengan pengetahuan yang tersimpan dalam pikiran individu. MP berpandangan holistik seperti mengumpulkan pengalaman dari individu maupun organisasi, mengukur best practice, mengumpulkan troubleshooting pernah dilakukan di dalam organisasi. Dalam MI, ketepatan waktu, akurasi, ketelitian, kecepatan, biaya, keamanan, efisiensi, ruang, penyimpanan, pengambilan, pengiriman dan manipulasi data dan informasi adalah masalah perhatian pusat IM berkaitan dengan pengelolaan informasi terstruktur dan diformalkan, yang dapat mudah diidentifikasi, diatur, dan didistribusikan.Dalam MP penciptaan, inovasi, pembelajaran, pemahaman merupakan isu inti , yang pada dasarnya berkaitan dengan pemikiran kritis, berbagi pengalaman, kegagalan dan praktik terbaik. MP berurusan dengan pengetahuan tidak terstruktur, informal dan tersembunyi, yang tidak dapat dengan mudah dikelola karena berada dalam pikiran seseorang. Informasi dikelola digunakan untuk pengguna individu maupun organisasi. MI cenderung tidak memperhatikan proses penciptaan pengetahuan atau inovasi.Pengetahuan dikelola untuk mendukung pembelajaran induvidu maupun kelompok dalam organisasi. MP berkaitan dengan proses penciptaan pengetahuan, inovasi, berbagi pengetahuan, dan pemanfaatannya untuk meningkatkan komunikasi di antara orang-orang yang ada di dalam organisasi. MI memainkan peran penting di perpustakaan dan pusat informasi yang berfokus pada rencana dan kegiatan, terkait dengan kontrol dan akses ke informasi terekam.Konsep MP berasal dari sektor korporasi, dimana memainkan peran penting dalam meningkatkan penciptaan dan pengetahuan perusahaan. MI menggunakan dan mengembangkan berbagai perangkat untuk organisasinya seperti klasifikasi, katalog, daftar tajuk subjek atau tesaurus dll.MP tidak terorganisasi dengan baik karena pengetahuan tacit sulit untuk diidentifikasi dan di ekstraksi. Dalam MI, fokus pada pengelolaan informasi atau pengetahuan dari terbitan luar organisasinya.Dalam MP, fokus pada pengetahuan internal (tacit) yang ada di pikiran individu. Dengan demikian, “elemen manusia” jauh lebih penting karena memainkan peran kunci sebagai pencipta, pembawa, dan pembagi pengetahuan Proses MI cukup sederhana terlebih didukung dengan teknologi informasi.Proses MP mulai dari penciptaan, berbagi, dan kodifikasi pengetahuan individu/kelompok dikategorikan cukup rumit dan teknologi informasi mempercepat proses tersebut. Sumber: Singh, 2007 Dari beberapa definisi oleh para ahli menunjukkan bahwa pengetahuan explicit banyak digunakan sinonim dengan istilah “informasi”. Informasi terekam baik tercetak maupun digital menjadi bagian penting dalam aktifitas MI, sedangkan MP fokus pada pengelolaan pengetahuan tacit. Namun, pendapat lain menyatakan bahwa MI merupakan salah satu komponen dalam MP mengingat MP melibatkan banyak faktor manusia yang terkait dengan pengetahuan, tidak hanya mengelola pengetahuan explicit tapi juga “know-how” dan “know-who” dan pengetahuan tacit. “know-how” dan “know-who” dapat ditangkap dan didokumentasikan sebagai informasi. pengetahuan tacit sendiri hanya dapat ditransfer melalui sosialisasi dan interaksi (Al-Hawamdeh, 2003). Posisi Ilmu perpustakaan dan informasi dalam Disiplin MP Meskipun tidak semua orang dalam komunitas ilmu perpustakaan dan informasi (IP&I) condong ke arah MP (cenderung berpendapat bahwa MI adalah ranah mereka dan MP melanggar batas wilayah, seperti yang ditunjukkan dalam tabel 1), yang lain melihat MP sebagai sarana untuk memperbesar ruang lingkup kegiatan yang dapat diikuti oleh para profesional perpustakaan. Ghandi (2004) mencatat bahwa organisasi pengetahuan selalu menjadi bagian dari kurikulum inti dan perangkat profesional LIS; dan Martin dkk. (2006) menunjukkan bahwa para profesional IP&I juga ahli dalam manajemen konten. Pendapat ahli lain menyatakan perpustakaan dan pusat informasi akan terus menyediakan akses dan peran sebagai perantara tidak hanya ke manajemen informasi namun juga manajemen pengetahuan (Henczel, 2004). Peran tradisional yang selama ini yang dilakukan oleh perpustakaan belum secara signifikan memberikan kontribusi kepada organisasi, sehingga perlu diperluas peran tersebut melalui aktifitas menangkap pengetahuan tacit dan mengubah pengetahuan tersebut menjadi pengetahuan organisasi yang dapat dibagikan secara luas melalui perpustakaan dan diterapkan dengan cepat oleh organisasi. Blair (2002) mencatat bahwa terdapat penambahan peran antara manajemen informasi tradisional dengan manajemen pengetahuan yang dilakukan oleh komunitas IP&I yang mengarah pada pembelajaran kolaboratif, transformasi pengetahuan tacit menjadi eksplisit, dan pendokumentasian praktik terbaik. Penulis sering menggunakan frase “connecting people to content and connecting people to people” dengan menyoroti penambahan peran perpustakaan yang mengelola sumber daya berbasis non-dokumen yang memainkan peran penting dalam MP. Seperti halnya MP itu sendiri, tidak ada perspektif terbaik atau lebih baik; Sebaliknya, nilai tambah potensial adalah untuk menggabungkan dua perspektif untuk mendapatkan hasil maksimal dari MP. Salah satu cara termudah untuk melakukannya adalah memastikan bahwa kedua perspektif dan kedua jenis keahlian, diwakili dalam tim MP (Dalkir & Liebowitz, 2011). Lebih lanjut Dalkir & Liebowitz menjelaskan bahwa MP dalam pengelolaannya melibatkan banyak disiplin ilmu seperti yang diperlihatkan pada gambar 2. Gambar 2. Interdisiplin dalam manajemen pengetahuan Sumber: Dalkir & Liebowitz, 2011 Perpustakaan sebagai perangkat MP dan pembelajaran organisasi Seperti organisasi lainnya, perpustakaan juga dianggap sebagai sistem kegiatan terpadu dan proses bisnis yang bekerja bersama secara kolaboratif untuk mencapai tujuan organisasi secara keseluruhan. Perpustakaan tidak hanya terlibat dalam mengumpulkan, menyimpan, dan menyebarkan pengetahuan, tetapi pengetahuan baru juga dibuat di perpustakaan. Peran perpustakaan dan pustakawan dalam penciptaan pengetahuan baru telah diakui secara resmi oleh Davenport dan Prusak (1998), serta Sinotte (2007), keduanya sepakat bahwa penciptaan pengetahuan oleh pustakawan melalui berbagai kegiatan, seperti manajemen konten, organisasi pengetahuan dan mengevaluasi validitas dan reliabilitas informasi yang diperoleh dari sumber yang tidak dikenal. Figueroa dan González (2006) menganggap perpustakaan sebagai organisasi pembelajaran. Lebih lanjut, mereka berpendapat bahwa perpustakaan sebagai organisasi pembelajar harus mengembangkan kemampuan untuk menciptakan, memperoleh, dan mengubah pengetahuan dan secara berkelanjutan merangsang anggotanya untuk meningkatkan kapasitas mereka. Menurut Daneshgar dan Parirokh (2007), “jika pustakawan dapat secara konseptual menghargai penciptaan pengetahuan dan pembelajaran sebagai pendekatan yang berguna untuk pengembangan pribadi dan kelembagaan mereka, mereka akan mengubah cara berpikir mereka” Manajemen pengetahuan dan pembelajaran organisasi bertujuan menggabungkan pengetahuan baru, memulihkan pengetahuan lain yang sudah dimiliki, mengintegrasikan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang ada dan akhirnya menempatkan pengetahuan untuk penggunaan di masa yang akan datang, semua langkah ini adalah fondasi dari semua jenis pembelajaran yang berarti pemanfaatan pengetahuan yang ada dan penciptaan pengetahuan baru (Nazim & Mukherjee, 2016). Keberadaan perpustakaan menjadi kebutuhan mutlak bagi sebuah organisasi yang mengadopsi konsep organisasi pembelajar, perpustakaan sebagai salah satu wadah dalam mendukung konsep organisasi pembelajar, dengan menciptakan dan mendukung iklim pembelajaran bagi setiap individu-individu yang terdapat dalam organisasi tersebut (Rowley, 1997). Konsep organisasi pembelajar bertujuan agar organisasi dapat bertahan hidup dari perubahan-perubahan radikal yang terjadi pada masyarakat dan dampak globalisasi. Secara teknis perpustakaan dapat berperan aktif dalam mendukung program manajemen pengetahuan sekaligus sebagai sarana pembelajaran organisasi. Dengan demikian, perpustakaan merupakan unit atau lembaga dari komunitas masyarakat tertentu yang terlibat dalam akuisisi, organisasi, distribusi dan pemanfaatan pengetahuan untuk penciptaan pengetahuan baru. Perpustakaan berperan penting dalam menciptakan pengetahuan dan mereplikasi pengetahuan sehingga dapat digunakan secara terus menerus oleh organisasi untuk belajar dari pengalaman-pengalaman yang ada, sehingga organisasi tersebut dapat menghasilkan keputusan, kebijakan yang akurat dan efektif. Implementasi MP di Perpustakaan Secara tradisional, perpustakaan memiliki fungsi terbatas pada identifikasi dan pengumpulan informasi untuk memuaskan kebutuhan informasi pengguna. Penerapan MP di perpustakaan difokuskan pada pengelolaan aset pengetahuan yang dimiliki oleh setiap pustakawan, dalam artian penerapan MP di perpustakaan yang dimaksud adalah dalam konteks perpustakaan sebagai sebuah organisasi. Tujuan penerapan MP di perpustakaan akademik adalah untuk secara efektif memanfaatkan sumber daya pengetahuan yang tersedia untuk membantu pustakawan untuk mengelola tugas-tugas mereka secara efisien dan efektif (Nazim & Mukherjee, 2016). Ini bertujuan untuk memperluas peran pustakawan untuk mengelola semua jenis informasi dan pengetahuan untuk kepentingan perpustakaan. MP dapat mengubah perpustakaan menjadi organisasi berbagi pengetahuan yang lebih efisien. Perpustakaan mengelola aset pengetahuan mereka untuk menghindari duplikasi upaya dan usaha. Beberapa peneliti melakukan riset dengan mencoba mengidentifikasi praktik MP di perpustakaan yang bersinggungan pada area dan lingkup yang berbeda-beda. Riset-riset ini pada umumnya berkaitan dengan persepsi-persepsi pustakawan dan termasuk sudut pandang dari sarjana bidang ilmu perpustakaan dan informasi terhadap definisi dan aktifitas dari MP di perpustakaan, lebih jelas seperti yang diperlihatkan pada tabel 4. Tabel 4. Penerapan MP di Perpustakaan NoSumberPerpustakaanArea penerapan MP 1(Yi, 2008) 40 Perpustakaan akademik di USA TimurPerencanaan strategis perpustakaan 2(L. Ralph & J. Ellis, 2009) 34 perpustakaan akademik yang menggunakan aplikasi QuestionPoint di USALayanan Referensi (QuestionPoint knowledge base) 3(Hawamdeh & Teng, 2002) Perpustakaan Nasional Singapura-Umpan balik dari pengguna dan pustakawan untuk memperbaiki layanan -Knowledge sharing (best practice) antar pustakawan pusat dan cabang, dan mengundang para ahli. -Knowledge-base layanan referensi (InfoExpress) -Penggunaan Lotus Note (Collaborative software) untuk mencatat kontribusi dan pencapaian anggota tim untuk proyek-proyek yang telah ditugaskan kepada mereka. Ini berharga dalam mengakses kinerja staf dan juga untuk melacak keberhasilan dan kegagalan berbagai inisiatif dan memberikan panduan yang baik 4(Ahmed, Sheikh, & Akram, 2018) Perpustakaan Universitas Punjab (Pakistan)1.Referensi dan layanan infrmasi 2.Jaringan dan berbagi sumber daya 3.Program literasi informasi 4.Manajemen sumber daya 5.Layanan digital dan online (informasi berbasis web dan layanan referensi) 6.Pengambilan keputusan 7.Perencanaan dan kebijakan 8.Layanan teknis 9.Manajemen sumber daya manusia 10.Layanan administrative 5(Düren, Saarti, & Balagué, 2016) 3 Perpustakaan akademik di eropa libraries; IZUS/ Universitätsbibliothek (UB) Stuttgart (Germany), UAB Library Barcelona (Spain) and UEF Library (Finland)Penerapan Sistem MP (Knowledge management system) untuk mendukung berbagi pengetahuan dan kolaborasi tim proyek di antara pustakawan. Aplikasi yang digunakan Media Wiki, dan QSM (Quality System Management) dengan fitur messanging, calendar, time management tools. 6(Islam, Ikeda, & Agarwal, 2015) 17 perpustakaan akademik di 10 negara (UK, USA, Canada, Australia, Bangladesh, Denmark, India, Italy, Malaysia dan Norway)Strategi untuk inovasi layanan perpustakaan: 1.Praktik terbaik/strategi 2.Kolaborasi (antar pustakawan & pustakawan dengan pengguna) 3.Restrukturisasi organisasi 4.Evaluasi dan penilaian pelayanan 5.Pelatihan staff Sumber: Data telah diolah oleh penulis (2020) Aktifitas kolaborasi dan knowledge sharing menjadi aktifitas MP yang dominan yang dilakukan oleh perpustakaan sebagai bentuk usaha untuk meningkatkan kinerja kualitas layanan termasuk perencanaan strategis perpustakaan . Selain itu, area layanan referensi mendapat perhatian yang cukup banyak dalam penerapan manajemen pengetahuan untuk mengurangi duplikasi aktifitas dan efisiensi layanan referensi dari pustakawan dalam rangka menjawab pertanyaan-pertanyaan perpustakaan. Kemajuan teknologi informasi dapat membantu para pustakawan referensi untuk membantu mereka dalam menjawab pertanyaan referensi yang sering diajukan, penggunaan aplikasi knowledge-base membantu mereka mengumpulkan pertanyaan, kemudian mengategorikan memudahkan penemuan kembali. Media Wiki menjadi salah satu aplikasi yang digunakan oleh perpustakaan untuk menciptakan, mengumpulkan, dan berkolaborasi untuk menghadirkan basis pengetahuan yang dapat digunakan oleh pustakawan untuk mengambil pengalaman dan pembelajaran. Pemaparan di atas sedikit gambaran beberapa penelitian studi kasus di perpustakaan dalam menerapkan MP untuk kepentingan organisasi. Dalam cakupan literatur lebih besar dapat menggambarkan kaitan perpustakaan dengan MP dengan melakukan pemetaan terhadap topik-topik yang yang berkaitan dengan bidang perpustakaan dan MP. Pengumpulan data dilakukan dengan seleksi dokumen berdasarkan penelusuran tingkat lanjut dengan query sebagai berikut: “TITLE-ABS-KEY ( ( “knowledge management” AND ( libraries OR library )) AND ( LIMIT TO ( SUBJAREA , "SOCI" ) )”. Dengan rumusan kata kunci tersebut diperoleh sebanyak 567 dokumen. Pengunduhan dokumen sebatas pada data bibliografis dari semua dokumen yang tersimpan dalam format csv. Langkah berikutnya data bibliografis diolah dengan aplikasi VosViewer untuk menghasilkan peta berdasarkan analisis co-word terhadap kata kunci yang mewakili setiap dokumen, hasilnya seperti yang ditunjukkan pada gambar 4 Gambar 4. Peta topik literatur “Perpustakaan-MP” terindeks Scopus Sumber: Pengolahan data VosViewer (2020) Hasil pemetaan yang terlihat pada gambar 4, menunjukkan bahwa isu perpustakaan digital dan perpustakaan akademik menjadi keterkaitan yang kuat dengan MP. Hal ini menegaskan bahwa perpustakaan digital merupakan gerbang sebagai akses pengetahuan eksplisit bagi organisasi. Perpustakaan perguruan tinggi merupakan jenis perpustakaan yang paling berkembang dalam penerapan MP, ada kemungkinan penerapan MP di perpustakaan dipandang sebagai pusat atau bagian dari proses MP dalam konteks organisasi induknya. Isu terkait penerapan MP di perpustakaan sendiri lebih didominasi pada area pustakawan, layanan referensi, penerbitan elektronik, pengarsipan (repositori) di lingkungan perpustakaan perguruan tinggi. Hasil ini menegaskan bahwa praktik-praktik layanan referensi memiliki keterkaitan yang erat dengan penerapan MP pada area tersebut. Topik manajemen informasi (MI) merupakan topik yang banyak juga diangkat beriringan dengan isu MP dalam beberapa literatur, hal ini mengindikasikan adanya perbedaan pandangan terhadap konsep MI dan MP, dimana selama ini MI telah menjadi pusat perhatian dalam komunitas praktisi dan ilmuwan perpustakaan. Disamping itu, beberapa ilmuwan menyepakati bahwa dalam MP tidak dapat melepaskan aspek MI sebagai bentuk pengelolaan manajemen eksplisit.

Conclusion

Dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti telah mengakui pengetahuan sebagai aset penting bagi sebuah organisasi. Pengelolaan pengetahuan yang mendorong penciptaan pengetahuan sebagai modal utama dalam menciptakan inovasi organisasi agar dapat bertahan dan bersaing di era globalisasi. Perpustakaan sebagai sebuah lembaga yang sejak awal merupakan bertanggung jawab dalam pengelolaan pengetahuan, seyogyanya menjadi ujung tombak dan inisiatif dalam membantu organisasi induk untuk membantu mengelola aset pengetahuan hingga memastikan pengetahuan tersebut dapat diakses dan digunakan oleh organisasi tersebut pada masa yang akan datang sebagai pembelajaran. Sebagai upaya peningkatan pengelolaan dan kualitas layanan perpustakaan, penerapan MP di perpustakaan menjadi sangat penting guna mendukung penciptaan inovasi dan peningkatan efektifitas. Penerapan MP di lingkungan perpustakaan dapat dikatakan belum secara jelas dipahami dan dimaknai oleh komunitas perpustakaan. Dengan demikian banyak para peneliti dari komunitas perpustakaan masih berupaya memahami pengelolaan MP di perpustakaan berdasarkan persepsi dan sudut pandang praktisi pustakawan. Penerapan MP di perpustakaan banyak berhubungan pada area administrasi, layanan referensi, perencanaan strategis dan pemanfaatan perangkat MP seperti knowledge management system (KMS) yang digunakan sebagai sarana untuk mendukung berbagi pengalaman dan berkolaborasi dalam penyelesaian sebuah proyek tertentu di perpustakaan.