BUDAYA KERJA DI PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI DENGAN KONSEP KNOWLEDGE MANAGEMENT MODEL WIIG
Universitas Islam Mulia Yogyakarta; Sekolah Dasar Islam Terpadu Jabal Nur Gamping
Abstrak
Pendahuluan: penelitian ini membahas mengenai budaya kerja diperpustakaan menggunakan konsep manajemen pengetahuan dengan tujuan mengelola dan menciptakan pengetahuan serta budaya kerja di perpustakaan perguruan tinggi. Metode Pengumpulan Data: penelitian ini yaitu penelitian studi literatur dengan pengumpulan data-data yang berkaitan dengan tema penelitian berupa buku dan jurnal. Analisis Data: analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan sedangkan uji keabsahan dilakukan dengan meningkatkan ketekunan dengan mendalami literatur yang digunakan dalam penelitian. Hasil dan Pembahasan: Hasil penelitian ini yaitu menunjukkan konsep budaya kerja yang dikolaborasikan dengan manajemen pengetahuan. Pentingnya manajemen pengetahuan yakni sebagai aset yang akan membuat sebuah organisasi akan menjadi lebih teratur. Dalam hal ini juga perlu membuat aturan, nilai, norma yang ada pada budaya kerja yang kemudian nilai ini menjadi aset. Aset yang dimaksud merupakan sumber daya manusia dan sumber daya pendukung lainnya seperti pengetahuan eksplisit. Pengetahuan eksplisit yaitu membuat pengetahuan tersebut menjadi lebih tertata dan terorganisasi dengan efektif. Dengan ini perlu bagi perpustakaan perguruan tinggi menerapkan manajemen pengetahuan salah satunya yaitu model Wiig, model ini menyebutkan empat proses yaitu menciptakan pengetahuan, memegang pengetahuan, menyimpan pengetahuan, dan menggunakan pengetahuan untuk mengelola pengetahuan baik pengetahuan tacit maupun pengetahuan eksplisit. kontribusi tulisan ini yaitu memberikan konsep penerapan manajemen pengetahuan model Wiig pada perpustakaan perguruan tinggi dalam rangka mengelola pengetahuan yang ada di perpustakaan agar selalu berkembang dan dapat terdokumentasi dengan baik sehingga muncul budaya kerja yang terorganisasi. Kesimpulan: konsep budaya kerja yang dibangun dengan manajemen pengetahuan akan melahirkan budaya kerja berbasis hasil yaitu output pengetahuan yang dihasilkan dalam perpustakaan perguruan tinggi akan lebih efektif dan terorganisir.
Abstract
This research discusses work culture in libraries using the concept of knowledge management with the aim of managing and creating knowledge and work culture in university libraries. Data Collection Method: this research is literature study research by collecting data related to the research theme in the form of books and journals. Data Analysis: data analysis is carried out through data reduction, data presentation and drawing conclusions, while validity testing is carried out by increasing diligence by studying the literature used in the research. Results and Discussion: The results of this research show the concept of work culture in collaboration with knowledge management. The importance of knowledge management is as an asset that will make an organization more organized. In this case, it is also necessary to create rules, values, norms that exist in the work culture which then these values become assets. The assets in question are human resources and other supporting resources such as explicit knowledge. Explicit knowledge means making that knowledge more organized and effectively organized. With this, it is necessary for university libraries to implement knowledge management, one of which is the Wiig model. This model states four processes, namely creating knowledge, holding knowledge, storing knowledge, and using knowledge to manage knowledge, both tacit knowledge and explicit knowledge. The contribution of this paper is to provide the concept of implementing the Wiig model of knowledge management in university libraries in the context of managing knowledge in the library so that it always develops and can be well documented so that an organized work culture emerges. Conclusion: the concept of work culture built with knowledge management will give birth to a results-based work culture, namely the knowledge output produced in higher education libraries will be more effective and organized.
Keywords:
knowledge management
· work culture in the library
· college library
Introduction
Pengetahuan merupakan aset yang dimiliki personal atau sekelompok orang dalam sebuah organisasi maupun lembaga yang digunakan dalam berbagai hal seperti bekerja, beraktivitas dan melakukan penelitian ataupun pengabdian kepada masyarakat. Melihat pengetahuan yang berkembang saat ini begitu cepat terutama melalui teknologi, maka perlu bagi setiap orang untuk melakukan pengembangan keterampilan untuk mengelola pengetahuan tersebut dengan baik terutama pada lembaga informasi, salah satunya adalah perpustakaan perguruan tinggi. Perpustakaan perguruan tinggi merupakan wadah untuk mengelola informasi dan pengetahuan yang akan digunakan oleh civitas akademika dari perguruan tinggi sebagai penunjang kegiatan tri dharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Perguruan tinggi, sebagai pusat pendidikan dan pengetahuan, memiliki peran sentral dalam menghasilkan dan menyebarluaskan pengetahuan. Dalam konteks ini, perpustakaan perguruan tinggi menjadi elemen kunci yang mendukung misi intelektual lembaga dengan budaya kerja yang baik. Budaya kerja di dalam perpustakaan tidak hanya memengaruhi efisiensi operasional, tetapi juga memainkan peran penting dalam manajemen pengetahuan, yang pada gilirannya memengaruhi kualitas layanan yang diberikan kepada pengguna. Ketika kita berbicara tentang budaya kerja di perpustakaan perguruan tinggi, kita membuka pintu kepada kompleksitas interaksi antara individu, proses, dan teknologi. Perkembangan pesat dalam domain teknologi informasi dan pengetahuan menimbulkan tuntutan baru bagi perpustakaan untuk tidak hanya menyimpan dan mengelola informasi, tetapi juga menjadi pusat kolaborasi dan inovasi. Oleh karena itu, penting untuk memahami dan memperkuat budaya kerja di perpustakaan sebagai bagian integral dari strategi manajemen pengetahuan. Dalam rangka memahami dan meningkatkan budaya kerja di perpustakaan perguruan tinggi, konsep menajemen pengetahuan model Wiig muncul sebagai kerangka kerja yang menjanjikan. Model ini, dikembangkan oleh Karl M. Wiig, menekankan pentingnya pengelolaan pengetahuan sebagai aset organisasi. Dengan menerapkan model ini, perpustakaan dapat lebih efektif mengorganisasi, menyimpan, dan memanfaatkan pengetahuan, yang pada gilirannya dapat memperkuat budaya kerja. Penelitian ini diinisiasi untuk menjembatani pemahaman tentang budaya kerja dan manajemen pengetahuan model Wiig di perpustakaan perguruan tinggi. Memahami bagaimana perpustakaan memanfaatkan model ini dalam mengelola pengetahuan dapat memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana lembaga tersebut dapat lebih efektif dalam mendukung kebutuhan akademik dan penelitian masyarakat akademis. Melalui penelitian ini, kita berharap untuk mengidentifikasi elemen-elemen kunci dalam budaya kerja perpustakaan yang dapat ditingkatkan melalui penerapan model Wiig. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya akan memberikan kontribusi terhadap pemahaman akademis tentang manajemen pengetahuan di perpustakaan perguruan tinggi, tetapi juga memberikan pandangan praktis untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional. pengehuan merupakan aset yang dimiliki personal atau sekelompok orang dalam sebuah organisasi maupun lembaga yang digunakan dalam berbagai hal seperti bekerja, beraktivitas dan melakukan penelitian ataupun pengabdian kepada masyarakat. Melihat pengetahuan yang berkembang saat ini begitu cepat terutama melalui teknologi, maka perlu bagi setiap orang untuk melakukan pengembangan keterampilan untuk mengelola pengetahuan tersebut dengan baik terutama pada lembaga informasi, salah satunya adalah perpustakaan perguruan tinggi. Perpustakaan perguruan tinggi merupakan wadah untuk mengelola informasi dan pengetahuan yang akan digunakan oleh civitas akademika dari perguruan tinggi sebagai penunjang kegiatan tri dharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Perguruan tinggi, sebagai pusat pendidikan dan pengetahuan, memiliki peran sentral dalam menghasilkan dan menyebarluaskan pengetahuan. Dalam konteks ini, perpustakaan perguruan tinggi menjadi elemen kunci yang mendukung misi intelektual lembaga dengan budaya kerja yang baik. Budaya kerja di dalam perpustakaan tidak hanya memengaruhi efisiensi operasional, tetapi juga memainkan peran penting dalam manajemen pengetahuan, yang pada gilirannya memengaruhi kualitas layanan yang diberikan kepada pengguna. Ketika kita berbicara tentang budaya kerja di perpustakaan perguruan tinggi, kita membuka pintu kepada kompleksitas interaksi antara individu, proses, dan teknologi. Perkembangan pesat dalam domain teknologi informasi dan pengetahuan menimbulkan tuntutan baru bagi perpustakaan untuk tidak hanya menyimpan dan mengelola informasi, tetapi juga menjadi pusat kolaborasi dan inovasi. Oleh karena itu, penting untuk memahami dan memperkuat budaya kerja di perpustakaan sebagai bagian integral dari strategi manajemen pengetahuan. Dalam rangka memahami dan meningkatkan budaya kerja di perpustakaan perguruan tinggi, konsep menajemen pengetahuan model Wiig muncul sebagai kerangka kerja yang menjanjikan. Model ini, dikembangkan oleh Karl M. Wiig, menekankan pentingnya pengelolaan pengetahuan sebagai aset organisasi. Dengan menerapkan model ini, perpustakaan dapat lebih efektif mengorganisasi, menyimpan, dan memanfaatkan pengetahuan, yang pada gilirannya dapat memperkuat budaya kerja. Penelitian ini diinisiasi untuk menjembatani pemahaman tentang budaya kerja dan manajemen pengetahuan model Wiig di perpustakaan perguruan tinggi. Memahami bagaimana perpustakaan memanfaatkan model ini dalam mengelola pengetahuan dapat memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana lembaga tersebut dapat lebih efektif dalam mendukung kebutuhan akademik dan penelitian masyarakat akademis. Melalui penelitian ini, kita berharap untuk mengidentifikasi elemen-elemen kunci dalam budaya kerja perpustakaan yang dapat ditingkatkan melalui penerapan model Wiig. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya akan memberikan kontribusi terhadap pemahaman akademis tentang manajemen pengetahuan di perpustakaan perguruan tinggi, tetapi juga memberikan pandangan praktis untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional.
Method
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu literatur review dengan pendekatan kualitatif dengan cara mengumpulkan data-data yang dibuat atau telah didokumentasikan oleh pihak lain yang sesuai dengan tema penelitian ini (Laksmi, 2022). Subjek dalam penelitian adalah sumber informasi seperti, buku, jurnal dan literatur yang berkaitan dengan budaya kerja, manajemen pengetahuan, terutama model WIIG. Analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahan data dilakukan dengan mendalami sumber penelitian yang menjadi subjek penelitian
Discussion
1. Budaya Kerja Di Perpustakaan Perguruan Tinggi Budaya kerja di perpustakaan merupakan salah salah satu upaya yang dilakukan setiap pustakawan untuk mencapai tujuan perpustakaan tersebut. Sehingga perlu bagi perpustakaan untuk menanamkan nilai budaya kepada pustakawan dan pegawai yang ada pada perpustakaan agar memiliki tujuan yang sama dalam mencapai hasil kinerja yang diinginkan. Melalui penciptaan lingkungan kerja yang sehat dan memiliki rasa cinta terhadap pekerjaan yang dilakukan. Dalam menggali lebih dalam tentang budaya kerja di perpustakaan perguruan tinggi, maka langkah awal yang dilakukan yaitu melibatkan nilai-nilai inti yang membentuk landasan interaksi dan kolaborasi di antara pekerja. Inklusivitas, sebagai salah satu nilai utama dalam menciptakan atmosfer yang mendukung keragaman dan penerimaan perbedaan di kalangan pekerja perpustakaan. Selanjutnya, nilai pembelajaran berkelanjutan menjadi pendorong untuk adaptasi terhadap perubahan teknologi yang cepat dalam dunia perpustakaan akademik. Menurut (Rodin, 2017) penerapan budaya kerja akan memberikan manfaat yang baik yaitu meningkatkan jiwa gotong royong, meningkatkan rasa kebersamaan, saling terbuka dalam bekerja, membentuk jiwa dan semangat kekeluargaan, akan terbina komunikasi yang baik sesama pegawai, meningkatkan rasa tanggung jawab dalam bekerja, dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain mendapat manfaat dari penerapan budaya kerja yang baik tentu juga dibekali dengan norma-norma yang memiliki peran penting. Norma-norma kerja yang berkembang dalam budaya ini menonjolkan kolaborasi sebagai elemen kunci. Kolaborasi di antara pekerja dan departemen tidak hanya diinginkan tetapi juga diapresiasi sebagai norma kerja. Pustakawan merasa memiliki tanggung jawab bersama terhadap tujuan kolektif, menciptakan pondasi untuk pertukaran pengetahuan dan pengalaman yang substansial. Praktik kerja juga menjadi sorotan dalam analisis ini. Penggunaan teknologi, sebagai aspek penting dalam operasional perpustakaan, mencerminkan sejauh mana pekerja dapat memanfaatkannya untuk meningkatkan efisiensi dan akses terhadap informasi. Fleksibilitas kerja juga muncul sebagai praktik yang signifikan, memungkinkan pustakawan untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja yang dinamis. Menerapkan norma yang baik akan membuat seseorang mempunyai budi pekerti yang baik, sikap yang baik, taat dengan ajaran agama, maka akan bisa mencipatakan budaya kerja yang baik di lingkungan kerjanya sehingga tujuan suatu organisasi akan tercapai (Elekmida Sinaga, 2020). Praktik tersebut akan membawa pola komunikasi yang membuat kolaborasi dalam bekerja semakin efektif. Interaksi antarpersonal, terutama melalui komunikasi, menjadi pondasi untuk kolaborasi yang sukses. Saluran komunikasi yang efektif memastikan pertukaran ide dan informasi yang lancar, yang merupakan kunci untuk memecahkan masalah dan merespons perubahan dengan cepat. Namun, dalam menganalisis budaya kerja, resistensi terhadap perubahan juga muncul sebagai faktor yang perlu dipertimbangkan. Resistensi ini dapat muncul terutama terkait dengan pengenalan teknologi baru, dan strategi perpustakaan untuk mengatasi kegelisahan atau kecemasan terhadap perubahan menjadi penting. Perbedaan hierarki dalam struktur organisasi juga memainkan peran dalam membentuk budaya kerja. Evaluasi terhadap sejauh mana struktur organisasi mendukung komunikasi dan kolaborasi dapat membantu mengidentifikasi area di mana perubahan mungkin diperlukan. Analisis ini menyimpulkan bahwa budaya kerja di perpustakaan perguruan tinggi melibatkan nilai inklusivitas, norma-norma yang mendorong kolaborasi, praktik kerja yang memanfaatkan teknologi, dan interaksi antarpersonal yang efektif. Resistensi terhadap perubahan dan perbedaan hierarki juga perlu diakui sebagai faktor-faktor yang memengaruhi dinamika budaya kerja. Dengan memahami elemen-elemen ini, dapat mengeksplorasi cara di mana budaya kerja dapat memengaruhi implementasi manajemen pengetahuan model Wiig di perpustakaan perguruan tinggi. Langkah selanjutnya adalah mengintegrasikan temuan ini untuk membangun pemahaman yang holistik tentang budaya kerja dan konsep manajemen pengetahuan dalam konteks perpustakan perguruan tinggi 2. Konsep Manajemen Pengetahuan Model Wiig Dalam Budaya Kerja Manajemen pengetahuan merupakan alat manajemen yang memberikan kepercayaan bahwa pengetahuan merupakan aset untuk meningkatkan kapasitas organisasi agar mampu bekerja lebih efektif (Nonaka & Hirotaka, 1995). Sehingga perlu bagi perpustakaan perguruan tinggi untuk mengelola pengetahuan agar tidak hilang dari organisasi tersebut yang ada dalam perpustakaan. Manajemen pengetahuan model Wiig menyajikan kerangka kerja yang kokoh untuk mengelola pengetahuan di dalam organisasi. Model ini terdiri dari beberapa elemen kunci, termasuk identifikasi pengetahuan (knowledge identification), penyimpanan pengetahuan (knowledge storage), distribusi pengetahuan (knowledge distribution), dan pemanfaatan pengetahuan (knowledge utilization). Identifikasi pengetahuan melibatkan proses mengenali dan mengklasifikasikan pengetahuan yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Penyimpanan pengetahuan menentukan cara terbaik untuk menyimpan dan mengelola pengetahuan tersebut. Distribusi pengetahuan melibatkan cara menyebarkan pengetahuan ke individu atau unit yang membutuhkannya. kemudian, pemanfaatan pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan digunakan untuk mencapai tujuan organisasi melalui siklus membangun pengetahuan, memegang pengetahuan, menyimpan pengetahuan dan menggunakan pengetahuan. Adapun siklus manajemen pengetahuan tersebut dapat dilihat pada gambar 1. Gambar I Siklus Management Pengetahuan Wiig (Kimiz, 2011) Budaya kerja bisa diterapkan secara formal ke dalam tugas dan kewajiban pegawai untuk membentuk karakter pegawai yang baik sehingga tujuan organisasi tercapai (Elekmida Sinaga, 2020). Dalam melihat budaya kerja di perpustakaan perguruan tinggi, pertama-tama kita harus mengidentifikasi nilai-nilai inti dan norma-norma yang membentuk dasar interaksi di antara pustakawan. Dalam banyak kasus, perpustakaan di perguruan tinggi menjadi lingkungan yang mendukung kolaborasi dan pencarian pengetahuan. Nilai-nilai seperti inklusivitas, pembelajaran berkelanjutan, dan pelayanan pelanggan mungkin menjadi elemen-elemen sentral dalam budaya kerja. Namun, juga penting untuk mengidentifikasi apakah ada ketegangan atau hambatan yang mungkin menghambat perkembangan budaya ini, seperti perbedaan hierarki atau resistensi terhadap perubahan. Implementasi manajemen pengetahuan model Wiig di perpustakaan perguruan tinggi mencakup beberapa tahap kunci. Pertama-tama, perlu dilakukan audit pengetahuan untuk mengidentifikasi sumber daya pengetahuan yang ada di perpustakaan. Dalam impikasi strategis budaya organisasi menawarkan tahapan dalam menumbuhkan budaya yang positif yang pertama (1) yaitu perlu mendifinisikan budaya yang diinginkan, yang kedua (2) menilai keadaan budaya saat ini, ketiga (3) mendiagnosis budaya yang ada menurut perilaku berbagi pengetahuan yang diinginkan, keempat (4) mengkaji toleransi untuk berubah, kelima (5) mengidentifikasi perubahan yang dapat dilakukan dan hambatan-hambatannya, keenam (6) mengkaji tingkat kedewasaan manajemen pengetahuan dalam organisasi, ketujuh (7) mengidentifikasi manajemen pengetahuan yang dapat dilakukan dan hambatan-hambatannya, kedelapan (8) melakukan gap analysis untuk menghasilkan peta tentang cara membawa budaya organisasi yang sekarang ke budaya yang diinginkan (Khoe Yao Tung, 2018). Hal ini dapat diimplementasikan pada organisasi yang ada pada perpustakaan perguruan tinggi. Ada beberapa sumber pengetahuan di perpustakaan, yang pertama (1) adalah koleksi yang ada di perpustakaan. Ada bermacam jenis koleksi yang ada diperguruan tinggi mulai dari tercetak hingga elektronik, dari koleksi hiburan hingga koleksi hasil penelitian. Pada saat ini, koleksi perpustakaan tidak hanya benda mati, melainkan juga saat ini ada yang namanya human collection atau koleksi manusia, koleksi manusia sudah diterapkan pada perpustakaan perguruan tinggi contohnya adalah perpustakaan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakrta. Sumber pengetahuan yang kedua (2) adalah pustakawan atau sumber daya yang bekerja di perpustakaan perguruan tinggi. Sumber daya diperpustakaan memiliki pengetahuan tentang mengelola sebuah koleksi hingga layak untuk diberikan kepada pemustaka, selain itu juga sesuai dengan tugas dan fungsinya pustakawan memiliki tugas untuk melayani pemustakanya ada dua pengetahuan yang ada pada sumber daya diperpustakaan, yaitu tentang koleksi yang ada diperpustakaan maupun pengetahuan mengenai proses pengolahan perpustakaan. Dalam implementasi management pengetahuan model Wiig yaitu yang pertama membangun pengetahun, dalam hal ini membangun atau menciptkan sebuah pengetahuan itu sangat minim sekali dilakukan oleh pustakawan, melihat kegiatan pustakawan yang fokus terhadap pekerjaan administratif dan pelayanan. Sehingga memiliki kekurangan waktu terhadap kegiatan membangun atau menciptakan pengetahuan. Dalam menciptakan pengetahuan baru, pustakawan dapat mengikuti kegiatan seminar ilmiah, lokakarya, bedah buku, diskusi ilmiah dan kegiatan-kegiatan ilmiah lainnya yang bersifat memberikan dampak positif terhadap pemikiran dan pengetahuan baru. Kemudian yang kedua yaitu memgang pengetahuan, dalam tahap ini yaitu pengetahuan yang berbentuk fisik dan dapat dilihat secara langsung seperti buku, jurnal, prosiding, standar operasional sistem, buku tahunan atau sumber sumber pengetahuan yang lainnya yang ini menjadi bukti bahwa pengetahuan tersebut dapat digunakan oleh orang lain, dengan begitu pengetahuan yang ada akan lebih bermanfaat. Ketiga yaitu strategi penyimpanan dan manajemen pengetahuan dapat dikembangkan untuk memastikan pengetahuan tersedia secara efisien dan dapat diakses. Proses distribusi pengetahuan dapat melibatkan pengembangan sistem berbagi pengetahuan dan pelatihan pustakawan untuk memastikan pengetahuan didistribusikan secara merata. Kemudian yang keempat menggunakan atau memanfaatakan pengetahuan oleh pustakawan lainnya atau dalam pelayanan yaitu kepada pemustaka, kemudian dapat diukur juga melalui evaluasi kinerja dan dampak inovasi dalam layanan perpustakaan. Penerapan model Wiig dapat memberikan dampak signifikan pada budaya kerja perpustakaan perguruan tinggi. Pertama, model ini dapat meningkatkan kolaborasi antarpekerja dengan memfasilitasi pertukaran pengetahuan dan pengalaman. Hal ini dapat menciptakan lingkungan yang lebih terbuka terhadap ide-ide baru dan inovasi. Selain itu, penggunaan pengetahuan yang lebih efisien dapat membantu meningkatkan efektivitas operasional perpustakaan, meningkatkan kualitas layanan, dan memberikan nilai tambah kepada pengguna. Meskipun implementasi Model Wiig menjanjikan berbagai manfaat, tantangan juga mungkin muncul. Salah satu tantangan utama adalah mengubah budaya kerja yang sudah mapan menjadi lebih terbuka terhadap konsep manajemen pengetahuan. Resistensi terhadap perubahan, kekurangan keterampilan dalam pengelolaan pengetahuan, dan kurangnya dukungan dari pihak pimpinan dapat menjadi hambatan utama. Namun, melalui pelatihan yang tepat dan komunikasi efektif, hambatan-hambatan ini dapat diatasi. Peluang yang muncul dari implementasi ini melibatkan peningkatan efisiensi dan efektivitas operasional perpustakaan, peningkatan pelayanan kepada pengguna, dan menciptakan budaya kerja yang lebih inovatif dan adaptif. Selain itu, model ini dapat menciptakan dasar untuk pertumbuhan profesional pekerja melalui pembagian pengetahuan dan pelatihan. Untuk meningkatkan implementasi Model Wiig dalam budaya kerja perpustakaan perguruan tinggi, beberapa rekomendasi dapat diajukan. Pertama, perlu dilakukan sosialisasi dan pelatihan intensif untuk membiasakan pekerja dengan konsep manajemen pengetahuan. Pimpinan perpustakaan juga harus mendukung inisiatif ini dengan memberikan dukungan dan sumber daya yang diperlukan. Selain itu, evaluasi berkala dan umpan balik dari pekerja dapat digunakan untuk terus meningkatkan implementasi dan mengatasi hambatan yang muncul. Sebagai wujud penerapan ada salah satu perpustakaan universitas memainkan yang memiliki peran penting dalam organisasi manajemen pengetahuan semua peserta dalam proses pendidikan dan ilmiah. Memiliki program LibGuides/ panduan pustakawan yang merupakan alat yang efektif dalam praktik manajemen pengetahuan, yang mencakup pekerjaan pustakawan dengan teknologi baru, menghasilkan pengetahuan baru, dan berbagi pengetahuan tanpa batasan geografis (Krytska & Fandikova, 2023). Di indonesia, LibGuides/ panduan pustakawan sudah terimplementasi pada beberapa perpustakaan. Hal ini juga disebut dengan menterjemahkan pengetahuan tacit pada pengetahuan eksplisit. Gambar 2 Konsep Manajemen Pengetahuan berbasis budaya kerja dalam mencapai tujuan perpustakaan perguruan tinggi
Conclusion
Dari hasil di atas dapat disimpulkan bahwa menciptakan budaya kerja melalui konsep manajemen pengetahuan di perpustakaan perguruan tinggi akan memberikan dampak yang efektif dalam memperoleh, mempertahankan dan menerapkan pengetahuan yang ada dalam sebuah organisasi yang dalam penelitian ini adalah perpustakaan perguruan tinggi. Melalui budaya kerja dapat dimulai dengan memiliki nilai, norma, dan komunikasi dalam organisasi perpustakaan. untuk meningkatkan implementasi Model Wiig dalam budaya kerja perpustakaan perguruan tinggi, menawarkan konsep yaitu, perlu dilakukan sosialisasi dan pelatihan intensif untuk membiasakan pekerja dengan konsep manajemen pengetahuan. Kemudian pimpinan lembaga dan pimpinan organisasi dalam perpustakaan juga harus mendukung inisiatif ini dengan memberikan dukungan dan sumber daya yang diperlukan seperti peningkatan skills pustakawan. Selain itu, evaluasi berkala dan umpan balik dari pustakawan kepada pimpinan ataupun pengguna perpustakaan kepada pustakawan dapat digunakan untuk terus meningkatkan implementasi dan mengatasi hambatan yang muncul. Seperti yang muncul pada model Wiig yaitu membangun pengetahuan, memegang pengetahuan, menyimpan pengetahuan, dan menggunakan pengetahuan. Manajemen pengetahuan yang terorganisir akan berdampak pada budaya kerja di perpustakaan perguruan tinggi sehingga akan menciptakan konsep budaya kerja pustakawan berbasis manajemen pengetahuan