PENERAPAN “KNOWLEDGE SHARING” DALAM KEGIATAN “OVERNIGHT STAY AT LIBRARY” BERSAMA PEGIAT LITERASI DI SUMATERA BARAT Studi Kasus Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat
Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Abstrak
Kesadaran akan pentingnya informasi dan pengetahuan dirasakan individu karena adanya kebutuhan yang selalu digerakkan oleh informasi. Pengetahuan menjadi aset penting untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan bertahan hidup dalam aktivitas yang dinamis. Munculnya berbagai komunitas ataupun gerakan seperti pegiat literasi di perpustakaan bertujuan sebagai upaya untuk menjadi masyarakat pembelajar dalam memanfatkan informasi menjadi pengetahuan yang berguna bagi kehidupan masyarakat. Artikel ini membahas terkait dengan penerapan “knowledge sharing” dalam kegiatan “Overnight Stay at Library” bersama pegiat literasi di Sumatera Barat. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus. Metode studi kasus digunakan untuk melihat bagaimana penerapan “knowledge sharing” pegiat literasi dan peran Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat dalam mendukung dan memfasilitasi komunitas pegiat literasi dalam meningkatkan indeks literasi di Sumatera Barat. Hasil penelitian iniadalah Proses transfer informasi lebih didominasi oleh kegiatan pada proses sosialisasi. Hal itu terlihat pada “knowledge sharing” yang dilakukan oleh Pak Kadis, pustakawan, dan peserta acara “Overnight Stay at Library” selama pelaksanaan dalam dua hari satu malam di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat. Dengan adanya proses “knowledge sharing” atau berbagi pengetahuan, pengetahuan yang berasal dari tacit masing-masing peserta ternyata banyak terungkap dan tersampaikan. Peran Perpustakaan sangat berpengaruh terhadap tumbuhnya informasi dan pengetahuan masyarakat Sumatera Barat.
Abstract
Awareness of the importance of information and knowledge is felt by individuals because of the need that is always driven by information. Knowledge is an important asset to improve abilities and survival skills in dynamic activities. The emergence of various communities or movements such as literacy activists in the library aims as an effort to become a learning community in utilizing information into useful knowledge for people's lives. This article discusses the implementation of "knowledge sharing" in the "Overnight Stay at Library" activity with literacy activists in West Sumatra. This type of research is qualitative using case study method. The case study method is used to see how the implementation of “knowledge sharing” of literacy activists and the role of the Department of Archives and Libraries of West Sumatra Province in supporting and facilitating the community of literacy activists in increasing the literacy index in West Sumatra. The result of this research is that the information transfer process is dominated by activities in the socialization process. This can be seen in the "knowledge sharing" carried out by the Head of the Department, librarians, and participants in the "Overnight Stay at Library" event during the two days and one night event at the Archives and Library Office of West Sumatra Province. With the "knowledge sharing" process, the knowledge that comes from the tacit knowledge of each participant turns out to be widely revealed and conveyed. The role of the library is very influential on the growth of information and knowledge of the people of West Sumatra.
Keywords:
Knowledge sharing
· The Role of Library
· Literacy activists
Introduction
Saat ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi membawa pengaruh yang cukup signifikan bagi keberlangsungan hidup masyarakat. Informasi dan pengetahuan dapat digenggam dalam kurun waktu beberapa detik saja. Pertukaran dan penyebaran informasi terjadi begitu cepat, sehingga jumlah informasi pun semakin meningkat (Sudarsono, 2006). Berbagai inovasi dari teknologi informasi muncul untuk menggeser cara lama menjadi cara baru yang lebih efektif dan efisien. Dahulu masyarakat masih terbatas untuk mendapatkan informasi, namun di era keterbukaan informasi setiap individu memiliki kesempatan tanpa batas menembus ruang dan waktu dalam memanfaatkan informasi yang dengan mudah diterima melalui teknologi informasi. Kesadaran akan pentingnya informasi dan pengetahuan dirasakan individu karena adanya kebutuhan yang selalu digerakkan oleh informasi dalam berbagai aktivitas sosial dan ekonomi. Banyak perubahan perilaku terjadi dari hasil penerimaan informasi, pengetahuan atau inovasi disebabkan tingkat kepemilikan informasi masing-masing individu yang berbeda-beda. Dengan melimpahnya informasi dari berbagai media, individu memiliki kesempatan besar dalam mengakses informasi, menggali informasi dan mengubah cara pandang individu dalam mengambil keputusan. Selain itu memungkinkan individu untuk berkolaborasi, saling mempengaruhi, berbagi pengetahuan, dan kegiatan lainnya. Agar dapat bertahan, sumber daya manusia membutuhkan perilaku yang dikembangkan berdasarkan informasi dan pengetahuan (Laksmi, 2016). Kebutuhan informasi menuntut individu untuk memiliki kemampuan dalam menerima, menyimpan, menyaring dan mengelola informasi serta menyebarkan informasi secara benar. Adanya kebutuhan akan informasi ini menurut Castell dalam Sugihartati (2014) merupakan bentuk dari sebuah revolusi informasi. Pada era disrupsi dan globalisasi ini, memiliki informasi yang paling mutakhir dan terpercaya dapat meningkatkan kualiatas kehidupan masyarakat. Setiap individu akan selalu bergantung pada informasi dalam aktivitas sosial dan ekonomi dengan memanfaatkan teknologi informasi yang dimiliki. Berbagai tantangan baru pun harus dihadapi untuk mengatasi masalah yang terjadi, termasuk bagi lembaga penyedia informasi seperti perpustakaan. Lembaga Informasi seperti Perpustakaan, merupakan simbol pengetahuan, dan dalam budaya informasi, perpustakaan adalah ruang tumbuhnya peradaban dan kemanusiaan (Toha –Sarumpaet, 2012) Pengetahuan menjadi aset penting dalam meningkatkan kemampuan dan keterampilan bertahan hidup dalam aktivitas yang dinamis saat ini. Pengelolaan pengetahuan tersebut dikenal sebagai pengelolaan pengetahuan atau manajemen pengetahuan(konwledge management). Munculnya berbagai komunitas ataupun gerakan seperti pegiat literasi di perpustakaan bertujuan sebagai upaya untuk menjadi masyarakat pembelajar dalam memanfatkan informasi menjadi pengetahuan yang berguna bagi kehidupan masyarakat. Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas), Deni Kurniadi, menyatakan jumlah capaian koleksi di perpustakaan daerah, jika dibandingkan dengan jumlah penduduk di Indonesia, rasionya adalah 1:90. “Artinya 1 buku ditunggu oleh 90 orang. Ulasan Media Indonesia yang berjudul Budaya Literasi mengatakan, dari 1000 orang di Indonesia, hanya 1 orang yang suka membaca. Bahkan negeri kita menempati peringkat 64 dari 65 negara yang disurvei. Rata-rata orang Indonesia hanya membaca 0 sampai 1 buku per tahunnya. Hal tersebut disampaikan dalam webinar Duta Baca Indonesia dengan tema “Darurat Buku di Indonesia” yang diselenggarakan secara virtual, pada Rabu (25/5/2022) Fakta tersebut menjadi cambuk bagi perpustakaan sebagai lembaga penyedia informasi. Seringkali setiap permasalahan literasi menjadi sorotan. Rendahnya tingkat literasi masyarakat dikarenakan banyak faktor. Sejak meningkatnya kecanggihan teknologi informasi, informasi beredar dalam jumlah yang sangat besar. Namun, tidak banyak yang tau bagaimana memanfaatkan informasi tersebut dengan baik dan bijaksana. Salah satu lembaga informasi yang memliki perhatian besar terhadap peningkatan literasi masyarakat adalah Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat terus berbenah diri. Kehadiran lembaga Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat memiliki peran penting dan tanggungjawab cukup besar dalam menyediakan akses informasi, menghimpun memelihara, dan memberbudayakan yang dimilikinya. Hal ini dapat dilihat dari berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Sumatera Barat setiap minggunya. Beberapa komunitas seringkali memanfaatkan fasilitas Perpustakaan untuk membaca koleksi, mendongeng, belajar bersama, berbagi pengetahuan mengenai karya yang telah dibuat dan diskusi tentang berbagai permasalahan. Munculnya berbagai komunitas ataupun gerakan seperti pegiat literasi di perpustakaan bertujuan sebagai upaya untuk menjadi masyarakat pembelajar dalam memanfatkan informasi menjadi pengetahuan yang berguna bagi kehidupan masyarakat. Menurut Tang (2000) manajemen pengetahuan membutuhkan pertalian informasi dengan informasi, informasi dengan aktivitas, dan informasi dengan manusia untuk mewujudkan sharing pengetahuan. Salah satu aktivitas yang menarik yang ingin penulis eksplor adalah kegiatan “Overnight Stay at Library” yang terinspirasi dari dari kisah Night at The Museum. Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat Novrial, SE. MA. Ak bersama Mardhiyan Novita, MZ dan beberapa pegiat literasi lainnya akhirnya berkolaborasi dan bersinergi untuk membuat sebuah kegiatan berbagi pengetahuan disebabkan keresahan yang sama mengenai tingkat rendahnya literasi pada masyarakat. Oleh karena itu, peneliti ingin menggali lebih lanjut bagaimana peran Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Sumatera Barat dalam penerapan knowledge management/ knowledge sharing sebagai lembaga informasi dan bagaimana proses “knowledge sharing” yang dilakukan komunitas pegiat literasi Sumatera Barat. 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lembaga Informasi Richard E. Rubhe (2004) lembaga informasi, mencakup di dalamnya perpustakaan dan pusat-pusat informasi, yaitu organisasi yang mempunyai tujuan dan memfokuskan diri pada pengelolaan material dan sumber-sumber informasi yang berasal dari hasil kehidupan manusia (human resources) yang diperuntukkan untuk public (masyarakat umum), menyediakan keanekaragaman terbitan, yang berbantuan computer, dan sekaligus melakukan pengawasan bibliografis. Fokus lembaga informasi terbagi dua. Pertama, pengelolaan arus informasi mulai dari perolehan informasi ke dalam lembaga, pengolahan, hingga penyebarannya ke luar lembaga. Kedua mengelola layanan publik dalam memenuhi kebutuhan informasi (Laksmi, 2016), 2.2 Peran Perpustakaan Perpustakaan umum menurut (Sulistyo-Basuki, Pengantar Ilmu Perpustakaan, 1993) merupakan perpustakaan yang dibiayai dari dana umum, baik sebagian maupun seluruhnya, terbuka untuk umum tanpa membeda -bedakan, jenis kelamin, kepercayaan, agama, ras, pekerjaan, keturunan, serta memberikan layanan cuma-cuma untuk umum. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan merupakan salah satu pusat informasi dan perpustakaan umum yang ada di daerah Sumatera Barat. UNESCO Public Library Manifesto (1994) menyebutkan bahwa perpustakaan umum merupakan pusat informasi local yang bertujuan agar semua jenis pengetahuan dan informasi mudah diakses dan digunakan oleh masyarakat. Tujuan pendiriannya adalah menciptakan kebiasaan dan kegemaran membaca pada anak-anak sedini mungkin, menunjang kegiatan belajar masyarakat baik formal ataupun informal, memberikan kesempatan untuk mengembangkan kreatifitas, bertindak selaku agen cultural atau sebagai pusat utama kehidupan budaya bagi masyarakat sekitarnya dan mendukung buta huruf semua umur. Peran perpustakaan pada dasarnya terbagi dalam tiga bagian yaitu menunjang pendidikan, menyediakan akses informasi, dan menjadi agen kebudayaan (McMenemy, 2009). Peran atau tugas pokok tersebut dirinci dalam beberapa fungsi yaitu pendidikan, penelitian, informasi, pembudayaan, pelestarian dan kreasi. Fungsi-fungsi tersebut dalam penerapannya : 1. Fungsi informatif menunjukkan bahwa perpustakaan didirikan untuk menyediakan informasi-informasi yang dibutuhkan masyarakat. 2. Fungsi edukatif, perpustakaan dibangun untuk menyediakan pembelajaran seumur hidup bagi masyarakat. 3. Fungsi kultural, perpustakaan berfungsi melestarikan kultur atau kebudayaan yang ada di dalam literatur sebagai salah satu bentuk hasil karya manusia. 4. Fungsi rekreatif, menawarkan masyarakat untuk bersantai sambil melakukan biblioterapi melalui bacaanbacaan ringan menghibur, seperti majalaj, novel atau komik. (Laksmi, 2011) 2.3 Manajemen Pengetahuan Manajemen pengetahuan adalah perilaku informasi dalam mengelola informasi, yang dimulai dari transfer pengetahuan didefinisikan sebagai suatu kegiatan bertukar gagasan, hasil penelitian, pengalaman dan keterampilan diantara individu di dalam suatu organisasi, bisnis, sektor publik atau komunitas yang lebih luas untuk memungkinkan pengembangan produk dan kebijakan baru yang inovatif (Dhiman & Sharma, 2009, p.123). 2.4Konsep Knowledge Sharing Setiap orang memiliki pengetahuan yang berbeda dengan yang dimilki oranglain. Alavi dan Leidner dalam Fernandez et.al (2004) menyatakan bahwa berbagi pengetahuan dapat dilakukan tidak hanya dalam lingkup orang per orang tetapi juga antarkelompok. Bagi sebuah organisasi, berbagi pengetahuan menjadi pentnig karena tanpa ada komunikasi antar individu dan antarkelompok, sulit bagi organisasi untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Pengetahuan yang menjadi objek dalam manajemen pengetahuan ada dua, yaitu tacit knowledge dan explicit knowledge (Debowski: 2006, p.16). Tacit bersifat personal, prosedural, tersimpan di otak, informal, dan biasanya mengenai kecakapan dan keterampilan. Explicit pengetahuan manusia yang berada diluar kepala. Bentuknya seperti dokumen, buku, jurnal dll. Bersifat tercetak dalam kodekode, deklaratif, formal dan keras. Dalam manajemen pengetahuan dikenal dengan model SECI, yaitu model transfer pengetahuan dimana terjadi empat .proses transfer pengetahuan (Nonaka & Takeuchi: 2000). 1. Sosialisasi adalah proses mentransfer pengalaman untuk menciptakan pengetahuan tacit melalui aktivitas pengamatan, imitasi, dan praktik. 2. Eksternalisasi adalah konversi dari pengetahuan tacit ke pengetahuan explicit. Proses mengungkapkan dan menerjemahkan pengetahuan tacitkedalam konsep eksplisit seperti buku, manual, laporan, dan sebagainya. 3. Kombinasi adalah konversi dari pengetahuan explicit ke pengetahuan explicit. Proses ini terjadi mengkombinasikan pengetahuan eksplisit yang berbeda menjadi pengetahuan eksplisityang baru melalui analisis, pengelompokan, dan penyusunan kembali. 4. Internalisasi adalah konversi dari pengetahuan explicitke pengetahuan tacit. Proses penyerapan pengetahuan explicit terjadi ketika pengetahuan ini dimanfaatkan bersama (sharing) melalui organisasi dan jaringan informasi untuk memperluas, membuat kembali (reframe) dan mengembangkan pengetahuan tacit. Proses transfer berlangsung secara berulang-ulang hingga membentuk siklus. Hal ini yang menyebabkan bahwa pengetahuan akan selalu berkembang. Jadi menurut konsep SECI pengetahuan akan terus berkembang dan berputar. Konsep manajemen pengetahuan digunakan untuk membangun sistem yang bagus antara komuniats dengan perpustakaan. Manajemen pengetahuan memiliki korelasi dengan fungsi perpustakaan sebagai media untuk melakukan transfer informasi dan pengetahuan.
Method
Penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif. Menurut Pendit, (2009) istilah kualitatif menekankan pada kualitas dari sesuatu, selain itu juga melihat pada proses dan makna. Peneliti menggunakan dirinya sendiri sebagai perangkat penelitian guna mengupayakan kedekatan dan keakraban antara dirinya dengan objek maupun subjek penelitiannya. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus. Menurut Sugiyono (2016) mengemukakan bahwa : Penelitian metode studi kasus adalah dimana peneliti melakukan eksplorasi secara mendalam terhadap program, kejadian, proses, aktivitas, terhadap satu atau lebih orang.Metode studi kasus digunakan untuk mengetahui bagaimana penerapan knowledge sharing pada kegiatan “Overnight Stay at Library” . Informasi penelitian didapatkan terutama melalui sumber primer yaitu dengan observasi dan wawancara. Informan dalam penelitian ini adalah pustakawan dan dua orang pegiat literasi yang mengikuti kegiatan tersebut.
Result & Discussion
4.1 Peran Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat. Pemanfaatan perpustakaan saat ini tidak lagi sebatas hanya sebagai tempat membaca, meminjam koleksi, dan mengerjakan tugas di lembaga pendidikan, namun bagi sebagian pegiat literasi perpustakaan sudah menjadi wadah atau tempat belajar yang menyenangkan. Tidak hanya itu, perpustakaan di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat menjadi wadah belajar bagi beberapa komunitas literasi yang ingin belajar maupun berbagi pengetahuan. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat merupakan salah satu perpustakaan umum yang ada di wilayah kota Padang, Sumatera Barat. Kehadiharan lembaga informasi ini, sangat berarti bagi sebagian pengguna perpustakaan karena beberapa faktor. Salah satu pegiat literasi yang ikut aktif dalam beberapa komunitas bernama Dari (inisial) menyatakan bahwa dia akan datang ke perpustakaan kapanpun dia inginkan karena perpustakaan sudah menjadi rumah kedua yang nyaman untuk mencari inspirasi. Ketika penulis observasi dan melakukan wawancara, Saudara Dari seringkali disapa oleh staf perpustakaan dan terlihat akrab karena sudah menjadi rutinitas setiap minggunya untuk datang ke perpustakaan. Sesekali dari kejauhan pustakawan juga menanyakan sesuatu yang telah dipelajari bersama pada saat kegiatan rutin dilakukan di perpustakaan. Adanya interaksi antara pegiat literasi dengan staf perpustakaan menunjukkan kedekatan yang dibangun dalam proses “knowledge sharing” sehingga satu sama lain tak sungkan untuk saling membantu ketika ada masalah, sering berkomunikasi dan berdiskusi mengenai hal apa saja. Hal ini membuktikan bahwa transfer informasi dari pustakwan kepada pengguna maupun sebaliknya dapat mempengaruhi kualitas perpustakaan sebagaimana fungsi yang telah dijalankan perpustakaan yaitu fungsi informatif dan rekreatif . Selain itu pemustaka mendapatkan manfaat langsung seperti menambah link pertemanan dengan para staf perpustakaan dan jika ada masalahmasalah yang dialami bisa mendiskusikannya dengan pustakawan perpustakaan, Pemustaka bisa mendapatkan jawaban dari pustakawan yang siap sedia selalu ketika mengalami kesulitan yang ada. Hal inilah yang membuat saudara Dari ingin selalu datang ke perpustakaan. Pustakawan sering membagikan informasi-informasi yang berguna yang mungkin tidak didapatkan di tempat lain. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat telah membentuk iklim keterbukaan, saling berbagi pengetahuan bersama komunitas, sehingga budaya “knowledge sharing” dapat bertumbuh di perpustakaan dan menarik perhatian pengunjung untuk aktif ke perpustakaan. 4.2Penerapan “Knowledge Sharing” dalam kegiatan “Overnight Stay at Library” Gambar 1. Kegiatan “Overnight Stay atLibrary” (https://dap.sumbarprov.go.id/) Dilansir dari penjelasan pustakawan pada website Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat, kegiatan “Overnight Stay at Library” merupakan kegiatan yang bertujuan untuk menampung aspirasi komunitas literasi daerah dan membuat database komunitas literasi se-Sumatra Barat, memberikan pemahaman tentang pentingnya sinergitas, menghasilkan produk berupa tulisan atau prosa yang akan dipublish di website Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat atau media massa, membuktikan bahwa penerapan inklusivitas untuk pemberdayaan itu penting bagi setiap komunitas, membentuk kepercayaan komunitas terhadap peran pemerintah dalam memberantas rendahnya tingkat literasi dan rendahnya minat baca, memperkenalkan program perpustakaan dan room tour perpustakaan agar pegiat literasi makin akrab dengan instansi perpustakaan”. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk kolaborasi antara Dinas Arsip dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat dengan pegiat literasi yang akhirnya membentuk sebuah komunitas bersama yang dinamakan dengan Komunitas Sakasurat (Sahabat Perpustakaan Sumatera Barat). Hasil kolaborasi ini menghasilkan sebuah ide yang terinspirasi dari kisah Night at The Museum. Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat Novrial, SE. MA. Ak bersama Mardhiyan Novita, MZ dan beberapa orang pegiat literasi untuk membuat kisah serupa yang dibuat dan dilakukan di perpustakaan. Akan ada satu malam diakhir pekan dimana aktivitas perpustakaan tetap bisa hidup bahkan bisa menguak permasalahan dan menyatukan para pegiat literasi dari berbagai daerah dalam satu visi yang sama yaitu berusaha secara bersamasama meningkatkan Indeks pembangunan literasi masyarakat dan indeks kegemaran membaca masyarakat Sumatera Barat di tingkat Nasional. Akhirnya kegiatan tersebut bisa terlaksana pada tanggal 15-16 Oktober 2022 dengan 30 peserta dari beberapa daerah di Sumatera Barat. Peserta adalah beberapa orang yang memiliki komunitas literasi dan pegelola TBM berasal dari Kota Padang, Kota Pariaman, Kabupaten Padang Pariaman, Padang Panjang, Bukittinggi, Agam dan Payakumbuh. Hal ini tentu menarik karena kegiatan ini memperlihatkan bahwa Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat dapat mewujudkan penerapan “knowledge sharing” dalam organisasi belajar di perpustakaan. Hal ini sejalan dengan Terkait konsep dari model SECI mengenai “knowledge sharing” yang diterapkan pada kegiatan “Overnight Stay at Library” dapat dilihat implementasinya sebagai berikut : 1. Proses Sosialisasi Dimana proses transfer informasi terjadi melalui interaksi langsung, melalui komunikasi verbal dan nonverbal. Pertama, terjadi proses transfer informasi dari Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Sumatera Barat yang biasa dipanggil “Pak Kadis” pada saat memberikan sambutan saat acara berlangsung, menjelaskan bagaimana peran, fungsi perrpustakaan, dan pentingnya pemanfaatan perpustakaan bagi pengguna dan pegiat literasi untuk belajar. Pak Kadis dan seluruh staf perpustakaan sangat mendukung penuh kegiatan positif yang diinisiasi oleh komunitas. Tidak hanya mendukung namun juga ikut terlibat, dan ikut belajar bersama dengan komunitas yang ada. Kepala Dinas memberikan arahan, pengetahuan dan pengalamannya selama berada di perpustakaan. Proses sosialisasi kedua, dilanjutkan dengan membuat FGD (Forum Group Discussion) dengan peserta pegiat literasi. Tujuannya adalah menggali, mengidentifikasi, dan memetakan masalah-masalah mengenai rendahnya tingkat literasi yang ada pada masyarakat. Hal ini dilakukan karena Dinas Biasa dipanggil “Pak Kadis” memiliki keresahan yang sama dengan pegiat literasi, Perpustakaan siap menampung permasalahan, ide-ide, kritikan dan bersedia menjadi jembatan antara pegiat dan pemerintah, agar tercipta iklim sinergi. Interaksi yang terjadi menjadi bukti kehadiran pemerintah dalam merangkul penggerak literasi negeri melalui kegiatan “Overnight Stay at Library”. Setelah penjabaran dari Pak Kadis mengenai peran perpustakaan, pustakawan juga ikut andil dalam kegiatan tersebut. Ketiga, Proses Sosialisasi juga terjadi saat ada agenda tour library. Pustakawan akan menjelaskan mengenai seluk beluk Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat, semua jenis layanan perpustakaan, dan semua koleksi yang dimiliki serta banyak ilmu pengetahuan dan informasi yang bisa dimanfaatkan oleh pengguna perpustakaan. 2. Proses Eksternalisasi Proses eksternalisasi merupakan konversi dari pengetahuan tacit ke dalam konsep eksplicit. Hal ini terlihat ketika proses FGD telah dilaksanakan. Dikarenakan keterbatasan waktu yang dimiliki karena hanya semalam dua hari di perpustakaan, maka untuk membahas lebih lanjut, akhirnya setiap peserta diminta untuk menuliskan semua permasalahan-permasalahan di sebuah sticky note atau kertas kecil yang ditulis tanpa nama, kemudian kertas tersebut ditempelkan di papan tulis perpustakaan sehingga semua peserta dapat membacanya. Gambar 2. Sticky note peserta “Overnight Stay at Library” (Sumber : dokumentasi pustakawan) Lanjutan dari kegiatan ini, pada hari kedua para peserta jalan pagi dari perpustakaan melewati pantai Padang, melewati masjid Al Hakim dan terus berlanjut ke Jembatan Siti Nurbaya sambil mencari inspirasi dan ide sembari melihat aktivitas masyarakat kota Padang di pagi hari. Apa yang mereka lihat dan rasakan nantinya akan mereka tulis dalam sebuah artikel pendek. Tulisan ini akan diposting setiap hari di website Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat. Dan saat ini telah terlihat beberapa tulisan dari para peserta dapat dibaca di website dan menjadi inspirasi bagi banyak orang terkhususnya pengguna perpustakaan di Sumatera Barat. Gambar 3. artikel pegiat literasi pada web (https://dap.sumbarprov.go.id/). 3. Proses Kombinasi Proses transfer pengetahuan ini mengkonversikan pengetahuan eksplisit ke bentuk pengetahuan eksplisit lainnya. Pada saat kegiatan transfer informasi diadakan agenda “pentas literasi” dimana para peserta menampilkan sesuatu nilai yang dimiliki berkaitan dengan literasi. Ada yang berpuisi, mini teataer dan lainnya. Kemudian ada agenda bernama “konten literasi”, dimana para peserta akan membagikan pengetahuannya mengenai setiap layanan di perpustakaan. Selanjutnya peserta akan mebuat video mengenai layanan tersebut dan dibagikan ke instagram pribadi. Semua kegiatan itu merupakan proses yang dilakukan secara reflektif, melibatkan proses analisis dan sintesis. Terlihat dari apa yang ditampilkan, individu dapat mengalihkan pengetahuan eksplisit yang diperolehnya dari membaca beberapa buku, atau referensi, pengetahuan yang dimiliki kemudian menuangkan pengetahuan barunya tersebut ke dalam sebuah karya yang baru buatan dirinya sendiri. 4. Proses Internalisasi Proses transfer informasi terjadi dari pengetahuan eksplicit ke pengetahuan tacit. Proses ini dilakukan melalui proses pembelajaran, melibatkan perasaan, kepribadian serta pengalaman empiris individu. Proses ini terlihat setelah kegiatan “Overnight Stay at Library” telah dilakukan dua hari satu malam. Para peserta pegiat literasi mendapatkan pengalaman yang sangat berharga setelah melalui interaksi secara langsung, berkomunikasi, berbagi pengetahuan dan pengalaman yang menyenangkan selama belajar di perpustakaan. Hal yang paling penting didapatkan para peserta adalah wawasan baru dan jaringan komunitas literasi dalam membangun sinergisitas dan belajar sepanjang hayat. Implementasi dari proses transfer pengetahuan tersebut adalah output yang dihasilkan dari acara “Overnight Stay at Library”. Kegiatan ini berlanjut yang akan diadakan kembali dalam waktu 3bulan sekali. Para peserta yang telah mengikuti sangat bersemangat dan menyatakan kegiatan tersebut adalah kegiatan perdana yang pernah dilaksanakan perpustakaan di Sumatera Barat. Kegiatan literasi di Sumatera Barat semakin menyala dan sangat berdampak. Terbukti setelah acara tersebut dilakukan, ada komunitas yang langsung bergerak cepat dan berkolaborasi mengadakan kegiatan semisal : yaitu Ruang Baca Rimba Bulan Padang Panjang dengan Balai Baco SIkola (BBS) Agam, seperti yang disampaikan oleh salah satu peserta dalam wawancara. Pengetahuan yang telah didapatkan dalam acara “Overnight Stay at Library” kemudian diinternalisasikan ke dalam perilaku menjadi pengetahuan tacit yang ada pada pegiat literasi.
Conclusion
Berdasarkan hasil analisis yang telah dijabarkan, terlihat bahwa peran Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat menjadi sangat penting dan berpengaruh terhadap keberlangsungan aktivitas masyarakat Sumatera Barat. Informasi dan pengetahuan harus ditumbuhkan dalam perpustakaan. Kesadaran bahwa informasi yang ada pada diri individu akan bermanfaat dan bertambah jika dibagikan kepada orang lain melalui interasksi secara langsung. Ketika pengetahuan saling dibagikan maka akan tercipta budaya sharing dan berdampak pada sisi pembentukan karakter generasi penerus seperti pegiat literasi yang peduli demi kemajuan bangsa. Tanpa disadari aktivitas berbagi pengetahuan dapat mempengaruhi tingkat literasi masyarakat. Adanya karya-karya baru yang muncul seperti melalui tulisan yang bisa menginspirasi banyak orang dan aktivitas komunitas positif yang berjalan menunjukkan peran perpustakaan yang berdampak dan sangat bermanfaat. Mengacu pada konsep SECI model (Nonaka, 2000) dapat dilihat bahwa 1. Proses transfer informasi lebih didominasi oleh kegiatan pada proses sosialisasi. Hal itu terlihat pada “knowledge sharing” yang dilakukan oleh Pak Kadis, pustakawan, dan peserta acara “Overnight Stay at Library” selama pelaksanaan dalam dua hari satu malam di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat. Dengan adanya proses “knowledge sharing” atau berbagi pengetahuan, pengetahuan yang berasal dari tacit masing-masing peserta ternyata banyak terungkap dan tersampaikan di forum diskusi. Banyak inspirasi dan pengalaman mendapatkan pengetahuan baru yang bisa diambil dari kegitan tersebut. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan dan para pegiat literasi sesungguhnya hadir dan nyata diantara masyarakat untuk tujuan yang sama, yaitu sama-sama membantu masyarakat menjadi lebih cerdas dengan berbagi pengetahuan literasi dengan memfasilitasi kegiatan positif menggunakan metode yang unik dan menarik. Perpustakaan juga menciptakan iklim keterbukaan informasi yang selalu siap sedia membantu masyarakat untuk mendapatkan informasi sesuai kebutuhannya. 2. Proses transfer informasi juga terjadi dengan baik karena didukung oleh beberapa faktor. Adanya komunikasi, sarana dan prasarana yang mendukung, ruangan, kesempatan, waktu serta teknologi informasi membuat tujuan diawal untuk berbagi pengetahuan kepada masyarakat dapat dicapai etalah melalui proses sosialisasi, eksternalisasi, kombinasi dan internalisasi. 3. Hubungan sosial antara individu dengan individu lainnya, perpustakaan dengan masyarakat terbangun dengan baik karena adanya pemanfaatan pengetahuan dan transfer informasi dengan cara yang berkesinambungan. Dengan demikian kesejahteraan hidup masyarakat dirasakan dan pembelajaran sepanjang hayat dapat diimplementasikan