Strategi Pemanfaatan Microsoft Stream sebagai Layanan Audio Visual (AVA) di Perpustakaan ISI Padang Panjang
Institut Seni Indonesia Padangpanjang
Abstrak
Perkembangan teknologi yang terjadi saat ini memberikan pengaruh terhadap perubahan layanan kepada perpustakaan. Layanan yang berbentuk audio visual yang ada sekarang ini dilayankan dalam bentuk CD atau DVD. Sehingga perlu dilakukan inovasi dalam pelayanan dalam bentuk layanan digital. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemanfaatan microsoft stream sebagai layanan audio visual di ISI Padang Panjang. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan deskriptif menggunakan teknik observasi, wawancara dan literatur. Hasil penelitian menunjukan bawah pemanfaatan microsoft stream ini sangat bermanfaat, sangat mudah, dan desain yang baik sehingga pemustaka sangat antusias dalam menggunakannya.
Abstract
Technological developments that occur at this time have an influence on changes in services to libraries. The current audio-visual services are served on CD or DVD. So it is necessary to innovate in services in the form of digital services. The purpose of this study was to determine the use of Microsoft Stream as an audio-visual service at ISI Padang Panjang. The method used is qualitative with descriptive using observation, interview and literature techniques. The results of the study show that the use of Microsoft Stream is very useful, very easy, and has a good design so that users are very enthusiastic about using it.
Keywords:
Microsoft Stream
· Audio Visual Service
· Library ISI Padang Panjang
Introduction
Perkembangan teknologi yang terjadi pada saat ini banyak mengubah tatanan hidup sebuah aturan atau sistem tertentu. Merujuk pada perkembangan teknologi tersebut tentunya layanan sebuah informasi pada perpustakaan dibuat modern dan lebih memudahkan pemustaka nantinya. Perpustakaan merupakan kumpulan bahan informasi yang terdiri dari bahan buku dan nonbuku yang disusun dengan sistem tertentu dipersiapkan untuk diambil manfaatnya, tidak untuk dimiliki sebagian atau keseluruhan. Perpustakaan adalah sebuah tempat yang digunakan untuk menyimpan informasi baik berupa cetak (buku, koran, jurnal, majalah, karya tulis, karya lukisan) maupun elektronik (pita kaset, film, slide,) yang biasanya disimpan menurut tatanan tertentu yang digunakan pengunjung untuk dibaca atau dipinjam dan bukan untuk dijual (Basuki, 1991). Undang-Undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 45 (Ayat 1) yang menyebutkan bahwa setiap satuan pendidikan formal dan non formal menyediakan sarana dan prasarana yang yeng memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosional, dan kejiwaan peserta didik. Sarana yang dimaksud meliputi perpustakaan, laboratorium,dan sarana lain untuk menunjang kelancaran proses belajar mengajar. Sebagai salah satu unsur penunjang penyelenggaraan kegiatan pendidikan, perpustakaan merupakan pusat informasi, sumber ilmu pengetahuan dan teknologi, rekreasi serta pelestarian khasanah budaya bangsa. Sebagian besar perpustakaan kondisinya sangat menyedihkan. Perkembangan perpustakaan belum optimal karena faktor dana, budaya membaca di kalangan masyarakat serta tenaga perpustakaan yang kurang kompeten. Perpustakaan diharapkan sebagai pusat kegiatan pengembangan minat baca masyarakat supaya gemar membaca. Lebih lanjut Sinaga, menambahkan bahwa perpustakaan berfungsi sebagai pusat edukasi berarti perpustakaan harus berfungsi sebagai guru atau sebagai pusat sumber belajar yang menyajikan berbagai kebutuhan para pemustaka perpustakaan lainnya. Perpustakaan sebagai pusat rekreasi mengandung pengertian bahwa perpustakaan berfungsi sebagai sarana menyediakan bahan-bahan pustaka yang mengandung unsur hiburan yang sehat dan bermanfaat. Perkembangan perpustakaan tidak akan terlepas dari perkembangan teknologi dan perkembangan pengetahuan. Perpustakaan memberikan kontribusi terhadap ilmu pengetahuan melalui penyimpanan berbagai informasi dan sejarah perkembangan ilmu pengetahuan, sedangkan teknologi informasi memberikan dukungan pada kemudahan akses dan sistem informasi dalam sebuah perpustakaan. Seiring dengan perkembangan tersebut, sekarang ini dikenal adanya perpustakaan digital atau (digital library) yang mampu menciptakan wadah yang lebih luas dalam pelayanan informasi. Perkembangan perpustakaan dewasa ini belum banyak perpustakaan yang murni perpustakaan digital, karena yang berkembang saat ini perpustakaan hybrid. Pengertian perpustakaan hybrid yang dijelaskan oleh Brogman dalam skripsi Ahmad Fitri Sahroni menjelaskan (Sahroni, 2016) hybrid libraries are designed to brings of technologies from different sources together in the context of a working library, and also to begin to explore integrated systems and services and services in both the electronic and print environments. Selain itu dalam Fitro Nur Hakim menjelaskan perpustakaan hibrida adalah perpustakaan yang merupakan kelanjutan antara perpustakaan tradisional dan perpustakaan virtual, sumber-sumber informasi elektronik dan tercetak digunakan untuk mendukung satu dengan yang lain (Hakim & Wijayanto, 2021). Perpustakaan Institut Seni Indonesia Padang Panjang (ISI Padang Panjang) merupakan salah satu perpustakaan yang menyediakan koleksi audio-visual terutama dalam bentuk karya dari mahasiswa dan dosen. Perpustakaan ini didirikan seiring dengan berdirinya Institut Seni Indonesia Padang Panjang yang sebelumnya bernama Sekolah Tinggi Seni Indonesia Padang Panjang. Perpustakaan tersebut didirikan sebagai salah satu unit pelayanan yang akan menghimpun, mengolah dan melayankan koleksi untuk dimanfaatkan oleh stakeholder ISI Padang Panjang. Salah satu bentuk layanan yang diberikan perpustakaan ini adalah menyediakan fasilitas layanan nonton film, nonton karya, dan diskusi karya (membuka kelas belajar di ruangan audio visual) Alasan Perpustakaan ISI Padang Panjang dipilih sebagai objek penulisan adalah bahwa koleksi audio visual perpustakaan ISI Padang Panjang karena jenis perpustakaan ini tidak hanya menyediakan koleksi tertulis tapi juga banyak menghasilkan koleksi audio-visual seperti hasil laporan dari mahasiswa dan dosen dalam bentuk film, video pertunjukan tari dan teater, audio musik dan karawitan. Oleh karena itu dengan memanfaatkan teknologi Perpustakaan ISI Padang Panjang memanfaatkan layanan yang diberikan oleh Microsoft 365 yaitu Microsoft Stream. Layanan ini adalah layanan video yang digunakan untuk mengunggah dan membagikan video di seluruh akun Microsoft 365 dengan domain yang sama menggunakan jaringan internet. Beberapa penelitian yang menggunakan dasar penelitian tentang Microsoft 365 secara umum diantaranya Strategi Pemanfaatan Dan Efektifitas Platform Digital Microsoft Office 365 Sebagai Model Pembelajaran Interaktif Di Masa Pandemi Covid19 Di Sekolah Dasar oleh Mutiara Kartika Putri yang lebih menitikberatkan model pembelajaran. Kemudian juga ada penelitian yang hampir sama dengan penelitian diatas yaitu Devy Eka Angelica dengan judul Pengembangan Desain Pembelajaran PAI Berbasis Microsoft 365 dalam Meningkatkan Kemandirian Belajar Siswa. Setelah melihat kondisi, kebutuhan dan penelitian terdahulu maka dilakukan penelitian di Perpustakaan ISI Padang Panjang dengan memanfaatkan Microsoft Stream sebagai layanan AVA yang sebelumnya bentuk layanan ini hanya dilakukan di ruang AVA Perpustakaan ISI Padang Panjang. Berdasarkan latar belakang tersebut maka judul penelitian kualitatif ini adalah “Strategi Pemanfaatan Microsoft Stream sebagai layanan Audio Visual di Perpustakaan ISI Padang Panjang” 2. TINJAUAN PUSTAKA a. Microsoft Stream Microsoft Stream adalah layanan video yang digunakan untuk mengunggah dan membagikan video di seluruh akun Microsoft 365 dengan domain yang sama menggunakan jaringan internet. Stream seringkali digunakan untuk membagikan konten berupa video pelatihan, presentasi, atau pertemuan besar. Karena Stream merupakan bagian dari layanan Microsoft 365 maka dapat berintegrasi dengan SharePoint dan Teams yang mengizinkan penggunanya untuk memberikan komentar pada video tersebut dan membagikannya dengan seseorang atau suatu kelompok (Guilmette, 2020). Fasilitas yang diberikan dari Stream adalah sebagai berikut, 1) Menjadi tempat penyimpanan video pengguna dengan cara langsung mengunggah langsung dari perangkat. Pengguna dapat pula mengunduh video dari pengguna lain. 2) Sebagai layanan rekaman untuk suatu acara live meeting yang biasanya terintegrasi dengan SharePoint dan Teams. 3) Pengguna dapat mengorganisasi konten ke dalam kategori kategori yang disebut dengan channels. Channels dapat digunakan untuk konten grup berdasarkan topik, peserta atau parameter lain yang diidentifikasi oleh organisasi pengguna. 4) Konten dapat dipublikasikan dan pengguna dapat membuat konten tersebut available atau tersedia untuk semua pengguna di organisasi (domain akun Microsoft 365) yang sama untuk menemukan dan melihat, atau konten tersebut dapat dibatasi sesuai dengan kebutuhan grup. 5) Saat membuat channel, pengguna dapat memilih channel tersebut bersifat company wide (terbuka untuk digunakan semua orang) atau grup (hanya pengguna yang mendapatkan izin yang dapat mengorganisasikan). 6) Pengguna dapat membuat dan memberikan live streaming kepada pengguna dengan organisasi yang sama. Saat melakukan meeting di Teams, Stream dapat menyiarkan konten webcast atau broadcast baik ke pengguna yang satu organisasi atau tidak. 7) Pengguna dapat membagikan video dengan tautan, email, dan kode embed. Saat membagikan video, pengguna dapat mengkostumisasi mulai dari detik atau menit ke berapa pengguna lain dapat melihat video tersebut. 8) Stream menyediakan fitur Trim Video untuk memotong bagian dari video yang akan diunggah sesuai dengan keinginan pengguna 9) Terdapat fitur Record Screen agar pengguna dapat merekam layar b. Audio Visual Pengertian media audio visual diartikan sendiri-sendiri maka pengertian media audio adalah segala macam bentuk media yang berkaitan dengan indera pendengaran, termasuk dalam kelompok media audio. Media audio dalam pengertian lain yaitu penyajian pengajaran atau pengetahuan melalui pendidikan audio atau pengalaman mendengar (Sanaky, 2013). Jenis-jenis alat yang di kategori dalam media audio yaitu seperti audio kaset, piringan hitam, laboratorium bahasa dan radio. Media audio adalah segala macam bentuk media yang berkaitan dengan indera pendengaran, termasuk dalam kelompok media audio (Sanaky, 2013). Karena media audio berkaitan dengan indera pendengaran, maka pesan yang akan disampaikan dituangkan ke dalam lambang-lambang auditif, baik verbal (kata-kata atau bahasa lisan) maupun non verbal. Audio visual adalah media yang penyampaian pesannya dapat diterima oleh indra pendengar dan indera penglihatan, akan tetapi hasil gambar yang dihasilkannya adalah gambar diam atau memiliki unsur gerak (Chamdani, 2013). Koleksi audio visual yang biasanya dikoleksi oleh perpustakaan adalah karya seni, grafik, diorama, filmstrip, flashcard, mainan bola dunia, bentuk mikro seperti aperture card, mikrofis, mikrofilm, slide mikroskop, model, gambar bergerak, foto, poster, realia, slide, rekaman suara, gambar teknik, transparansi dan rekaman video. Saat ini dengan berkembangnya teknologi dan informasi yang begitu pesat, audio visual di perpustakaan pun bertambah yaitu jenis CD dan DVD. Audio visual dikoleksi di perpustakaan dengan beberapa tujuan. Pertama, bahan tercetak di perpustakaan tidak sepenuhnya efektif dalam penyampaian pesan. Misalnya saja dalam pembelajaran yang membutuhkan grafik atau gambar. Audio visual dapat menyempurnakan informasi yang ada dalam bentuk tercetak. Kedua, bahwa perpustakaan bukanlah hanya sekedar berurusan dengan buku, tetapi perpustakaan urusannya dengan informasi. Perpustakaan harus memberitahukan kepada masyarakat luas bahwasanya perpustakaan adalah semua yang berhubungan dengan informasi, bukan hanya informasi yang berasal dari buku saja. Ketiga, media audio visual berperan penting dalam pembelajaran yang bersifat rekreasi. Audio visual menjalankan fungsi perpustakaan yaitu fungsi rekreatif untuk pembelajaran. c. Layanan Audio Visual (Multimedia Perpustakaan) Tujuan utama setiap perpustakaan adalah mengusahakan agar koleksi yang dimiliki dimanfaatkan secara maksimal oleh pemustaka. Hal ini merupakan kegiatan layanan perpustakaan.. Para pemakai jasa perpustakaan dapat memperoleh kesempatan dan fasilitas semaksimal mungkin untuk menelusur dan mempelajari informasi sesuai dengan kebutuhan. Jadi pengertian layanan perpustakaan adalah Layanan perpustakaan adalah adalah penyediaan bahan pustaka dan sumber informasi secara tepat serta penyediaan berbagai layanan dan bantuan kepada pengguna sesuai kebutuhan pengguna perpustakaan. menyajikan bahan pustaka dan sumber informasi sesuai dengan pengguna, artinya bahwa dalam layanan perpustakaan, pustakawan perlu mencermati dan meminta masukan dari pengguna atas kebutuhan bahan pustaka atau informasinya (Istiana, 2014). Teknologi komputasi multimedia merupakan suatu era baru dalam dunia informasi di perpustakaan modern yang telah berkembang pesat beberapa tahun terakhir ini. Multimedia telah mampu menciptakan sistem layanan di perpustakaan, komunikasi yang interaktif antar pemakai komputer dengan komputer itu sendiri. Tujuan layanan media menurut (Syam, 2016) adalah: 1. Membuat penggunaan alat menjadi simple dan mudah digunakan. Pengguna dapat memfokuskan perhatian mereka pada informasi yang disajikan daripada menghabiskan waktu untuk mengoperasikan alat. Hal ini terjadi dikarenakan di masa lalu sebelum berkembangnya layanan multimedia di perpustakaan beberapa alat sangat sulit untuk dimanfaatkan, sehingga pengguna menolak untuk mempelajari bagaimana cara mengoperasikannya. 2. Layanan media mengintegrasikan materi dengan koleksi yang lainnya. Seperti contoh OPAC di perpustakaan, OPAC memberikan semua koleksi yang ada di perpustakaan dengan berbagai format yang ada. Misalnya ingin mencari subjek tentang pembuatan batik, OPAC akan memberikan daftar buku, jurnal, video, rekaman suara, dan sejarah lisan. 3. Untuk mengumpulkan dan menyediakan akses ke semua format yang sesuai. Pustakawan harus dapat menghargai dan menilai semua format koleksi yang ada. Pustakawan juga harus mengetahui bagaimana mengoperasikan alat untuk akses ke masyarakat.
Method
Metode Penelitian yang digunakan adalah berbentuk kualitatif dengan desain deskriptif untuk memberikan gambaran pemanfaatan aplikasi Microsoft Stream sebagai layanan AVA. Penelitian menggunakan metode observasi yaitu mencermati cara kerja Microsoft Stream, wawancara dengan pustakawan dan pemustaka serta dokumentasi dan juga studi literatur. Data yang didapatkan kemudian dijabarkan secara deskriptif.
Result & Discussion
Hasil analisis observasi terhadap layanan Audio Visual di Perpustakaan ISI Padang Panjang yang terhenti sejak tahun 2015 hal ini dikarenakan proses renovasi ruangan dan juga di terpa dengan Covid 19 serta maraknya layanan yang lebih canggih dari Internet seperti Youtube. Kemudian untuk menjelaskan konsep layanan ini perlu dilakukan tahapan-tahapan yang harus dilakukan yaitu: 4.1 Analisis Kebutuhan Analisis kebutuhan merupakan alat yang digunakan untuk menganalisis data. Dengan demikian perlu dipersiapkan dengan sebaikbaiknya. Layanan AVA ini nantinya akan sangat bermanfaat bagi pemustaka untuk mendapatkan layanan AVA yang sempat terhenti beberapa tahun ini. Hasil observasi lapangan yang dilakukan didapatkan keluhan dari pemustaka dalam mengakses koleksi AVA di perpustakaan terutama karya hasil penelitian dosen maupun karya tugas akhir mahasiswa. Kemudian juga dilakukan wawancara dengan Kepala Perpustakaan yang memberikan tantangan kepada pustakawan untuk melakukan inovasi terhadap layanan ini karena zaman sekarang ini perpustakaan bersaing dengan media lain untuk memberikan informasi, dan kita sebagai perpustakaan yang bersifat khusus karena memiliki koleksi yang spesifik bisa memberikan layanan yang berbeda kepada pemustaka. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bawa pemustaka memang perlu layanan AVA yang inovatif dan sesuai dengan perkembangan zaman sekarang ini. 4.2 Rancangan Model Produk Proses perancangan model layanan yang akan dilakukan. Rancangan produk yang dibuat memanfaatkan layanan aplikasi Microsoft Stream yang memang sudah dilanggan oleh ISI Padang Panjang. Layanan ini berbentuk video streaming dan dilengkapi dengan bibliografi koleksi yang dilayankan. Kelebihan layanan ini adalah koleksi yang di tonton itu tidak bisa diakses oleh pemustaka tanpa disetujui oleh pustakawan sehingga, koleksi tersebut tidak bisa di sebar sembarangan. Strategi yang digunakan dalam pembuatan layanan ini adalah sebagai berikut: a. Mengumpulkan semua koleksi AVA yang ada di perpustakaan ISI Padang Panjang yang sebelumnya masih berbentuk CD atau DVD. b. Mengalihmediakan koleksi tersebut kedalam bentuk file digital dan disimpan dalam Cloud yang dilanggan ISI Padang Panjang yaitu Office 365. 4.3 Pengembangan Model Produk Produk yang dibuat ini adalah memanfaatkan layanan yang diberikan oleh Microsoft Stream itu sendiri sehingga perpustakaan tidak perlu membuat aplikasi lagi. Namun perpustakaan ISI Padang Panjang melakukan integrasi layanan dengan OPAC dan Repository sehingga nantinya pemustaka akan mendapatkan layanan yang maksimal dengan hanya mencari di salah satu aplikasi yang digunakan. Langkah pembuatan layanan dilakukan dengan sebagai berikut: a. Proses penyusunan data koleksi dilakukan dengan menyusun data AVA ke dalam aplikasi Onedrive. Penyusunan data ini disesuaikan dengan kebutuhan perpustakaan. Perpustakaan ISI Padang Panjang menyimpan data koleksi ini berdasarkan jurusan dan tahun koleksi seperti di bawah ini: Gambar 1 Daftar Koleksi Sumber: Microsoft OneDrive Gambar 2 Koleksi yang akan ditautkan Sumber: Microsoft OneDrive Proses berikutnya adalah melakukan tautan file agar bisa di akses oleh pemustaka. Proses tautan ini perlu dilakukan pengaturan agar tidak sembarangan bisa di akses. Hal yang perlu dilakukan adalah siapa saja yang boleh akses, tidak bisa di edit, tidak bisa diunduh, diberi kata sandi dan waktu akses yang terbatas. Seperti gambar di bawah ini b. Kemudian hasil tautan tersebut, pustakawan akan melakukan proses pencantuman link tautan ke dalam OPAC Perpustakaan ISI Padang Panjang. Proses pencantuman ini dimaksudkan agar pemustaka bisa memanfaatkan koleksi tersebut. Seperti gambar dibawah ini: Gambar 3 Proses input link tautan Sumber: Bibliografi OPAC Perpustakaan ISI Padang Panjang c. Pemustaka sudah bisa melakukan pencarian koleksi menggunakan OPAC dan jika berhasil menemukan koleksi yang berbentuk laporan karya tulis ilmiah maka akan mendapatkan 3 layanan sekaligus yaitu OPAC dalam bentuk bibliografi, layanan AVA, dan Repository koleksi dengan syarat dan ketentuan berlaku. Seperti gambar di bawah ini: d. Untuk bisa mengakses koleksi tersebut karena diperlukan konfirmasi dulu kepada Perpustakaan ISI Padang Panjang dengan melakukan pengisian form akses AVA online. Seperti gambar berikut: Gambar 5 Form Akses AVA online Sumber: Microsoft Form e. Apabila sudah mendapatkan konfirmasi maka pemustaka sudah bisa melakukan akses layanan AVA Perpustakaan ISI Padang Panjang dengan memasukan kata kunci yang sudah diberikan seperti gambar berikut: dan gambar berikut layanan AVA Perpustakaan ISI Padang Panjang secara online: Gambar 7 Layanan AVA online Perpustakaan ISI Padang Panjang Sumber: Microsoft Stram 5. Pengujian Pada saat pengujian produk dilakukan secara terbatas dengan mengambil beberapa 10 Orang sampel sebagai responden yang terdiri dari Dosen, Tenaga Kependidikan, Mahasiswa dan Masyarakat. Responden menjawab pertanyaan dari penulis tentang Strategi Pemanfaatan Microsoft Stream sebagai layanan Audio Visual di Perpustakaan ISI Padang Panjang. Dari hasil wawancara dengan 10 orang responden ini memberikan penilaian bahwa 10 orang mengatakan layanan ini sangat baik dan perlu dipertahankan, kemudian 7 Orang menyatakan mudah menggunakan layanan ini, kemudian 8 Orang menyatakan tampilan menarik.
Conclusion
Berdasarkan hasil penelitian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa: 1. Layanan AVA Perpustakaan ISI Padang Panjang tidak ada sejak tahun 2015 2. Layanan AVA Perpustakaan ISI Padang Panjang yang secara konvensional berinovasi dengan memanfaatkan Microsoft Stream dan Onedrive 3. Integrasi antara Layanan Opac, Layanan AVA dan Repository memudahkan pemustaka memanfaatkan layanan 4. Layanan AVA secara online ini sangat bermanfaat bagi pemustaka sehingga tidak perlu datang ke perpustakaan untuk menonton atau mendengar koleksi AVA Kemudian untuk kedepannya diharapkan layanan ini di promosikan dan dipertahankan serta ditambah lagi koleksinya agar koleksi-koleksi yang bersifat multimedia bisa tetap dilayankan kepada pemustaka.