Kembali
16
1
2023 Jurnal Al- Ma'arif : Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam Vol 3 · 2 ISSN 2797-9393

ANALISIS KEBUTUHAN INFORMASI DAN UPAYA PEMENUHAN KEBUTUHAN INFORMASI KOMUNITAS TULI LANCANG KUNING (KUTILANG) PEKANBARU

Universitas Lancang Kuning; Universitas Lancang Kuning; Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Abstrak

Artikel “Analisis Kebutuhan Informasi dan Upaya Pemenuhan Kebutuhan Informasi Komunitas Tuli Lancang Kuning”bertujuan untuk mengetahui bagaimana kebutuhan informasi dan upaya pemenuhan kebutuhan informasi di Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG) Pekanbaru.. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Subjek pada penelitian ini adalah anggota Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG) Pekanbaru. Pengumpulan data yang digunakan dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini merupakan identifikasi terhadap berbagai kebutuhan informasi pada anggota Komunitas Tuli Lancang Kuning dan upaya pemenuhan kebutuhan informasinya yang dapat di lihat bahwa kebutuhan informasi Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG) masih belum terpenuhi. Hambatan atau kesulitan yang dialami oleh penyandang disabilitas tunarungu mengakibatkan terbentuknya ciri informasi yang dibutuhkan oleh mereka. Upaya Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG) dalam memenuhi kebutuhan informasi rata-rata melakukan pencarian informasi melalui gawai atau secara online serta dengan membaca gerak bibir lawan bicara.

Abstract

The article "Analysis of Information Needs and Efforts to Fulfill the Information Needs of the Lancang Kuning Deaf Community" aims to find out how information needs and efforts to provide information needs exist in the Lancang Kuning Deaf Community (KUTILANG) Pekanbaru. This research uses qualitative methods. The subjects in this research were members of the Pekanbaru Lancang Kuning Deaf Community (KUTILANG). Data collection used was interviews, observation and documentation. The results of this research are an identification of the various needs of members of the Lancang Kuning Deaf Community and efforts to provide their information needs. It can be seen that the information needs of the Lancang Kuning Deaf Community (KUTILANG) are still not met. The obstacles or difficulties experienced by deaf people result in the formation of the characteristics of the information they need. The efforts of the Lancang Kuning Deaf Community (KUTILANG) to meet their information needs include searching for information via gadgets or online and by reading the lips of the person they are talking to.
Keywords: Information · Information Needs · Lancang Kuning Deaf Community

Introduction

Kebutuhan informasi sudah menjadi salah satu hal yang sangat penting bagi masyarakat pada era teknologi informasi pada saat ini. Hal ini mendorong manusia untuk mencari informasi dari berbagai sumber agar dapat memenuhi semua kebutuhan dan kepentingannya untuk memperluas pengetahuannya. Masa kejayaan teknologi seperti saat ini menjadikan informasi semakin hari semakin cepat berkembang dan berganti, sehingga masyarakat bisa tertinggal akan informasi dalam hitungan menit atau bahkan detik. Kebutuhan informasi akan terus bertambah bagi setiap orang setiap kali ia memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap sesuatu dan memiliki tujuan yang ingin dicapainya. Tidak ada seorangpun yang tidak membutuhkan informasi, apapun jenis pekerjaan orang itu. Kebutuhan informasi dapat terjadi pada siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Informasi tersedia untuk semua orang atau untuk orang tertentu yang sesuai dengan kebutuhannya. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa informasi adalah milik semua orang, tidak terkecuali para penyandang disabilitas khususnya tunarungu. Dalam (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas., 2016) menjelaskan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia menjamin kelangsungan hidup setiap warga negara, termasuk para penyandang disabilitas yang mempunyai kedudukan hukum dan memiliki hak asasi manusia yang sama sebagai Warga Negara Indonesia dan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari warga negara dan masyarakat Indonesia. Penyandang cacat berhak memperoleh pendidikan formal maupun informal seperti layanan di perpustakaan dan pendidikan di sekolah. Dapat dikatakan bahwa perpustakaan sebagai organisasi pengelola dan penyedia informasi tidak hanya boleh memperhatikan kebutuhan informasi, fasilitas, layanan dan koleksi bagi orang normal saja, tetapi juga harus melihat kondisi lingkungan dan keberagaman jenis karakter pengguna informasi. Menurut Abdurrahman (2003) dalam (Winarsih, 2010) tunarungu adalah istilah yang menggambarkan keadaan kemampuan dengar yang kurang jelas atau tidak berfungsi secara normal sehingga tidak memungkinkan lagi diandalkan untuk belajar bahasa dan wicara tanpa dibantu dengan metode dan peralatan khusus. Hal tersebut berdampak terhadap kehidupannya secara kompleks terutama pada kemampuan berbahasa sebagai alat komunikasi yang sangat penting. Bahasa isyarat adalah bahasa yang mengutamakan komunikasi manual, bahasa tubuh dan gerak bibir, bukannya suara untuk berkomunikasi. Kaum tunarungu adalah kelompok utama yang menggunakan bahasa ini. Bahasa isyarat biasanya merupakan pengkombinasian dari bentuk, orientasi dan gerak tangan, lengan, tubuh serta ekspresi wajah untuk mengungkapkan isi pikiran (Hardjana, 2003 dalam Jannata Zuhir, 2019). Ketersediaan informasi bagi penyandang tunarungu sangat terbatas. Hal tersebut dapat dilihat dari informasi tercetak seperti buku dan jurnal yang terdapat di perpustakaan. Sedikit koleksi perpustakaan dalam bentuk cetak yang dapat memenuhi kebutuhan informasi penyandang tunarungu. Karena penyandang tunarungu memiliki keterbatasan dalam berbicara dan mendengar, maka mereka memerlukan suatu alat peraga dalam proses komunikasi nya untuk memperkaya perbendaharaan bahasa yang dimilikinya. Alat-alat peraga yang dibutuhkan meliputi miniatur binatang-binatang, miniatur manusia, alatalat permainan anak, gambar-gambar yang relevan serta salah satu bentuk cetak yang dibutuhkan adalah buku-buku perpustakaan yang bergambar (Cahya, L, 2015). Saat ini koleksi perpustakaan yang dikhususkan untuk penyandang disabilitas kebanyakan merupakan koleksi perpustakaan yang di khususkan bagi penyandang tunanetra. Kurangnya media seperti alat peraga dan buku-buku yang bergambar untuk tunarungu di perpustakaan membuktikan bahwa kebutuhan informasi bagi penyandang tunarungu masih kurang diperhatikan. Robert Baker (1995) dalam (Radissa et al., 2020) juga menyebutkan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar seseorang dapat dibagi menjadi empat bagian yaitu aspek fisik (makanan, tempat tinggal, keamanan, kesehatan dan perlindungan), pemenuhan pribadi (pendidikan, rekreasi, estetika, nilai, agama, prestasi), kebutuhan emosi (rasa saling memiliki, saling peduli, kebersamaan) dan konsep diri yang memadai (kepercayaan diri, harga diri dan identitas). Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG) merupakan sebuah komunitas yang konsen pada pemberdayaan tunarungu di Riau. Kegiatan yang dilakukan Kutilang Pekanbaru antara lain kelas bahasa isyarat, sosialisasi di Car Free Day (CFD), kunjungan komunitas, goes to campus dan seminar. Kelas bahasa isyarat rutin yang dilakukan setiap hari minggu dan terbuka untuk umum. Peserta komunitas bisa berasal dari teman tuli maupun teman dengar yang ingin belajar. Teman dengar yang ingin menjadi anggota Kutilang Pekanbaru harus bisa bahasa isyarat agar tidak mengalami kendala saat berkomunikasi. Kutilang Pekanbaru memberikan pelatihan singkat gratis bagi yang tertarik dengan bahasa isyarat sehingga teman dengar semakin banyak yang sadar dengan keberadaan teman tuli. Kutilang Pekanbaru berharap agar komunitas ini bisa berkembang lebih luas ke berbagai Kabupaten dan Kota di Provinsi Riau sehingga teman tuli yang berada di Provinsi Riau bisa diterima oleh masyarakat dan dipenuhi segala haknya sebagai Warga Negara Indonesia. Andreas Dwidjosumarto (Nofiaturrahamah, 2018) mengemukakan bahwa seseorang yang tidak atau kurang mampu dalam mendengar suara dikatakan sebagai tuli. Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka penulis ingin melakukan penelitian terkait pemenuhan kebutuhan informasi dan upaya pemenuhan kebutuhan informasi yang ada pada Komunitas Tuli Lancang Kuning. Alasan penulis tertarik melakukan penelitian ini karena penulis ingin mengetahui bagaimana cara orang-orang yang memiliki keterbatasan pendengaran yang tidak dapat menyampaikan keinginannya dengan bahasa lisan seperti orang lain dapat mengungkapkan kebutuhan informasinya dan bagaimana cara mereka memenuhi kebutuhan informasinya. Oleh karena itu penulis tertarik membuat penelitian dengan judul “Analisis Kebutuhan Informasi dan Upaya Pemenuhan Kebutuhan Informasi Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG) Pekanbaru”. 2. TINJAUAN PUSTAKA Beberapa penelitian terdahulu yang membahas tentang kebutuhan informasi antara lain; pertama yang dilakukan oleh (Desmara, 2019) dengan judul “Analisis Kebutuhan Informasi Siswa Tunarungu di Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB) Melati Pekanbaru”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan informasi yang dibutuhkan oleh siswa tunarungu di SMALB Melati Pekanbaru adalah kebutuhan akan informasi akademik. Kebutuhan informasi mutakhir yang dibutuhkan siswa tunarungu adalah kebutuhan akan informasi mengenai buku matematika. Kemudian kebutuhan informasi rutin yang dibutuhkan oleh siswa tunarungu adalah kebutuhan informasi penggunaan bahasa dalam sehari-hari, baik itu Bahasa Indonesia maupun Bahasa Asing. Kebutuhan informasi sekilas yang dibutuhkan siswa tunarungu adalah telepon seluler/internet untuk mengakses informasi yang diperlukan. Selanjutnya (Wardani et al., 2018) membahas tentang “Kebutuhan Informasi dan Upaya Pemenuhan Kebutuhan Informasi Pada Komunitas Akar Tuli”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan informasi anggota komunitas didorong oleh sepuluh faktor. Selain sepuluh faktor tersebut, kebutuhan informasi anggota komunitas juga dipengaruhi oleh isi informasi yang disertai dengan gambar untuk memudahkan mereka dalam menerjemahkan dan memahami informasi yang diperoleh. Upaya pemenuhan kebutuhan informasi anggota komunitas dilakukan dengan berbagai cara, yakni pencarian informasi melalui manusia atau bertanya kepada orang lain, pencarian informasi melalui dokumen, pencarian informasi melalui gawai atau secara online serta membaca bibir lawan bicara. Dalam meneliti tentang kebutuhan informasi ada beberapa konsep atau teori yang digunakan seperti: A. Informasi Informasi merupakan sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Para ahli di bidang informasi dan perpustakaan menyebutkan bahwa informasi adalah pengetahuan yang disajikan dan/atau disampaikan kepada seseorang dalam bentuk yang dapat dipahami, atau sebagai data yang telah diproses atau ditata untuk menyajikan fakta yang mengandung arti dalam (Pawit, 2016). Sedangkan menurut Dictionary for Library and Information Science (2004: 355 Ningsih, 2012) informasi adalah semua fakta, kesimpulan, ide dan karya-karya kreatif imajinatif dari hasil kecerdasan manusia yang telah dikomunikasikan secara formal maupun informal dalam bentuk apapun. Dengan dikomunikasikan dan disebarkan kepada masyarakat luas, maka informasi dapat diperoleh dan digunakan oleh setiap orang sesuai dengan kebutuhannya. B. Kebutuhan Informasi (Wilson, 2006) menjelaskan bahwa terdapat hubungan yang membingungkan antara kata “informasi” dan “kebutuhan”. Untuk menjawab kebingungan tersebut, (Nicholas & Herman, 2010) juga menguraikan hubungan kata “kebutuhan informasi” yang berasal dari tiga kebutuhan dasar manusia, yaitu kebutuhan fisiologis (kebutuhan akan makanan, tempat tinggal dan lain-lain); kebutuhan psikologis (kebutuhan akan rasa aman dan lain-lain); kebutuhan kognitif (kebutuhan akan perencanaan sesuatu, belajar tentang suatu keterampilan, dan lain-lain). Kebutuhan informasi bisa jadi terjadi karena adanya kesenjangan pengetahuan yang dimiliki, atau dengan kata lain keadaan dimana seseorang merasakan suatu kekurangan dan berupaya untuk memenuhi kekurangan tersebut. Menurut Kuhlthau kebutuhan informasi terjadi karena kesenjangan dalam diri manusia, yaitu antara pengetahuan yang dimiliki dengan pengetahuan yang dibutuhkan. Menurut Belkin dalam (Ningsih, 2012) kebutuhan informasi muncul ketika seseorang menyadari kesenjangan antara pengetahuan dan harapan untuk memecahkan masalah. Kebutuhan informasi muncul ketika seseorang menyadari adanya kesenjangan antara pengetahuan dan harapan untuk memecahkan masalah (Belkin dalam Ningsih, 2012). Oleh karena itu kebutuhan informasi merupakan pengakuan tentang adanya ketidakpastian dalam diri seseorang yang mendorong seseorang untuk mencari informasi. Kebutuhan informasi terdiri dari tiga macam, yaitu kebutuhan informasi yang diekspresikan, tidak dapat diekspresikan dan tidak disadari. Kebutuhan yang diekspresikan (expressed information needs) merupakan kebutuhan informasi terhadap kesenjangan antara pengetahuan dengan pekerjaan seharihari. Kebutuhan yang tidak disadari (dormand needs atau unrecognized needs) ditujukan bagi orang-orang yang sering kali tidak mengetahui informasi apa yang mereka butuhkan. Mereka tidak menyadari kesenjangan informasi. Mereka tidak tahu bahwa informasi baru memberikan sesuatu tentang apa yang mereka ketahui. Pengetahuan yang tidak diekspresikan (unexpressed needs) ditujukan bagi pengguna informasi yang sadar bahwa mereka membutuhkan informasi, tetapi tidak melakukan apa-apa untuk memenuhinya karena tidak bisa dan tidak mau (Nicholas & Herman, 2010). Menurut Katz Gurevitch dan Haas yang dikutip Pawit M. Yusup dalam bukunya yang berjudul Ilmu Informasi, Komunikasi dan Kepustakaan (2016:142-143) jenis kebutuhan informasi dapat dibagi menjadi 5 (lima) jenis yaitu sebagai berikut: 1. Kebutuhan kognitif, kebutuhan ini berkaitan erat dengan kebutuhan untuk memperkuat atau menambah informasi, pengetahuan dan pemahaman seseorang akan lingkungannya. Kebutuhan ini didasarkan pada hasrat seseorang untuk memahami dan menguasai lingkungannya. Hal ini memang benar bahwa orang menurut pandangan psikologis kognitif mempunyai kecenderungan untuk mengerti dan menguasai lingkungannya. Di samping itu kebutuhan ini juga dapat memberi kepuasan atas hasrat keingintahuan dan penyelidikan seseorang. 2. Kebutuhan Afektif, kebutuhan ini dikaitkan dengan penguatan estetis, hal yang dapat menyenangkan dan pengalaman-pengalaman emosional. Berbagai media, baik media cetak maupun media elektronik sering dijadikan alat untuk mengejar kesenangan dan hiburan. Orang membeli radio, televisi, menonton film dan membaca buku-buku bacaan ringan dengan tujuan mencari hiburan. 3. Kebutuhan Integrasi Personal (Personal Integrative Needs), kebutuhan ini sering dikaitkan dengan penguatan kredibilitas, kepercayaan, stabilitas, dan status individu. Kebutuhan-kebutuhan ini berasal dari hasrat seseorang untuk mencari harga diri. 4. Kebutuhan Integrasi Sosial (Social Integrative Needs), kebutuhan ini dikaitkan dengan penguatan hubungan dengan keluarga, teman dan orang lain di dunia. Kebutuhan ini didasari oleh hasrat seseorang untuk bergabung atau berkelompok dengan orang lain. 5. Kebutuhan Berkhayal (Escapist Needs), kebutuhan ini dikaitkan dengan kebutuhankebutuhan untuk melarikan diri, melepaskan ketegangan dan hasrat untuk mencari hiburan dan pengalihan (diversion). C. Tuli Tuli merupakan suatu keadaan kehilangan pendengaran yang mengakibatkan seseorang tidak dapat menangkap rangsangan terutama pada indera pendengarannya. Berdasarkan hasil survei di tempat umum yang dilakukan oleh (Thohari, 2014) dalam penelitiannya yang berjudul “Pandangan Disabilitas dan Aksesibilitas Fasilitas Publik bagi Penyandang Disabilitas di Kota Malang” didapatkan data adapun jenis disabilitas yang sering dijumpai di tempat umum adalah tuna daksa yaitu 46,24% disusul tuna netra 31,18, tunarungu 10,75%, tunagrahita 4,30% dan autis 7,53%. Dari data tersebut menunjukkan bahwa tuli menduduki posisi ke 3 yang sering dijumpai di tempat umum. Andreas Dwidjosumarto dalam (Nofiaturrahamah, 2018) mengemukakan bahwa seseorang yang tidak atau kurang mampu dalam mendengar suara dikatakan sebagai tuli. Ketulian dibedakan menjadi dua kategori yaitu tuli (deaf) dan kurang mendengar (low of hearing). Tuli adalah mereka yang indra pendengarannya mengalami kerusakan dalam taraf berat sehingga pendengaran tidak berfungsi lagi, sedangkan kurang dengar adalah mereka yang indra pendengarannya mengalami kerusakan tetapi masih dapat berfungsi untuk mendengar, baik dengan ataupun tidak menggunakan alat bantu (Somantri 2006:93) dalam (Rahmawati et al., 2019). Tuli menjadi kondisi dimana individu memiliki gangguan dalam pendengaran, baik permanen maupun tidak permanen. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tuli merupakan keadaan dimana individu atau seseorang yang mengalami gangguan pada pendengaran, meliputi: seluruh gradasi ringan, sedang dan berat. Dalam hal ini ketulian dapat dikelompokkan menjadi dua golongan yaitu kurang dengar dan tuli, yang menyebabkan terganggunya proses perolehan informasi atau bahasa sebagai alat komunikasi. Besar kecilnya kehilangan pendengaran sangat berpengaruh terhadap kemampuan komunikasinya dalam kehidupan sehari-hari, terutama bicara dengan artikulasi yang jelas dan benar. Ketulian dapat terjadi sejak lahir dan bersifat bawaan, atau terjadi ketika masa pertumbuhan. Ketulian yang terjadi sebelum masa penguasaan Dapat ditarik kesimpulan bahwa minimnya penguasaan bahasa bagi anak tuli bukan semata-mata dipengaruhi oleh kerusakan pada indera pendengaran namun juga karena tidak adanya dukungan dari lingkungan sekitar untuk memberikan input bahasa melalui media lain misalnya melalui isyarat, gestural teknik, memberikan bahan bacaan yang mudah dipahami serta memodifikasi pola komunikasi dan metode pengajaran yang sesuai dengan pola komunikasi yang paling cocok bagi setiap anak tuli.

Method

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini penulis lakukan di Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG) yang beralamat di Perumahan Pesona, Jl. Berdikari No. 46 RT 006 RW 003, Umban Sari, Kec. Rumbai, Kota Pekanbaru, Riau 28265. Informan penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan mempertimbangkan kriteria tertentu. Adapun karakteristik yang ditentukan adalah: Teman tuli yang aktif dalam organisasi, Teman tuli yang bisa diajak berkomunikasi (bahasa isyarat) dan mengerti bahasa lisan, dan Teman tuli yang memiliki kemampuan berpikir. Jumlah informan dalam penelitian ini berjumlah 8 orang. Teknik Pengumpulan Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Sumber Data: data primer yang diambil peneliti melalui observasi, wawancara dan dokumentasi, dan Data sekunder merupakan data yang berasal dari perpustakaan seperti buku, laporan bulanan, tahunan, skripsi, profil perpustakaan, dan literatur. Penelitian ini menggunakan analisis data menurut Mile dan Huberman dalam (Ningsih, 2012) dengan aktivitas analisis data sebagai berikut: Reduksi Data (Data Reduction), Penyajian Data (Data Display), dan Kesimpulan (Conclusion Drawing).

Result & Discussion

4.1 Kebutuhan Informasi Kebutuhan informasi merupakan sebuah kebutuhan yang dimiliki oleh tiap individu. Setiap manusia membutuhkan informasi guna melengkapi pengetahuan akan suatu hal. Untuk mengetahui perlu tidaknya suatu informasi menurut Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG). Berdasarkan hasil wawancara 8 informan mengungkapkan bahwa informasi diperlukan untuk Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG). Menurut Case (2007:42) dalam (Ningsih, 2012) istilah informasi digunakan untuk menunjukkan konsep yang berbeda-beda. Istilah informasi digunakan dalam berbagai disiplin untuk merefleksikan berbagai hal seperti rangsangan sensori, representasi mental, pemecahan masalah, pembuatan keputusan, aspek dari permintaan dan pembelajaran manusia, proses komunikasi, penilaian tentang relevansi informasi untuk kebutuhan informasi. Dari jawaban infoman peneliti menyimpulkan bahwa informasi merupakan sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan manusia baik disabilitias maupun orang normal. A.Kebutuhan Kognitif (Cognitive Needs) Menurut Katz Gurevitch dan Haas yang dikutip Pawit M. Yusup dalam bukunya yang berjudul Ilmu Informasi, Komunikasi dan Kepustakaan (2016:142143) tentang bentuk kognitif yakni kebutuhan ini berkaitan erat dengan kebutuhan untuk memperkuat atau menambah informasi, pengetahuan dan pemahaman seseorang akan lingkungannya. Kebutuhan ini didasarkan pada keinginan untuk memahami lingkungan serta memuaskan rasa penasaran dan keingintahuan. Hasil wawancara pada penelitian ini berdasarkan pertanyaan “Informasi apa saja yang anda butuhkan? Baik dalam pekerjaan atau dalam kehidupan sehari-hari?”. Tujuan dari pertanyaan ini untuk mengetahui adanya kebutuhan kognitif (Cognitive Needs) menurut 8 informan Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG). 8 Informan yang terpilih merupakan informan yang dapat menjawab pertanyaan tersebut. Berdasarkan hasil wawancara peneliti menemukan bahwa ketika 8informan mencari informasi kebutuhan kognitif terdiri dari cara membuat video, tutorial make up, resep makanan, bisnis UMKM, parenting, cara membinah keluarga, cara produktif, cara senam, tentang pekerjaan, otomotif, tutorial cara bongkar dan cat mobil, mengerjakan tugas, dan info bola. Dari jawaban infoman peneliti menyimpulkan untuk mencari informasi kebutuhan kognitif untuk komunitas tuli lancang kuning (Kutilang) kebanyakan untuk menambah skill baik untuk pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.Kemudian untuk mengetahui lebih detail tentang pengetahuan Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG). Peneliti menanyakan “apa yang anda dapatkan setelah anda mencari informasi?” Berdasarkan hasil wawancara peneliti menemukan bahwa ketika 8 informan setelah mendapatkan informasi berupa pengetahuan. Informan Komunitas Lancang Kuning (KUTILANG) dapat mengedit video, memasak, make up, olahraga, mendidik anak (parenting), mendapatkan pengetahuan tentang mobil, mengerjakan tugas, dan bisa berpengetahuan lebih luas. Lalu untuk mengetahui tentang Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG) peneliti menanyakan “Bagaimana cara anda paham dengan informasi tersebut?” Berdasarkan hasil wawancara peneliti menemukan bahwa ketika 8 informan mendapatkan informasi. Cara informan paham dengan informasi tersebut sebagai berikut ; 2 informan membaca teks dan bertanya dengan orang yang dekat dengan informan, 3 informan membaca teks, 3 informan membaca teks dan melihat gerakan bibir dan 1 informan membaca teks, melihat gerak bibir, dan bertanya orang yang dekat dengan informan. Dari jawaban 8 informan cara komunitas tuli lancang kuning paham dengan informasi tersebut dengan membaca teks, melihat gerak bibir pemberi informasi, dan bertanya langsung orang yang dekat dengan informan. Jadi dapat dikatakan bahwa kebutuhan kognitif anggota Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG) kebanyakan untuk menambah skill baik untuk pekerjaan dan kehidupan seharihari. Cara Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG) paham dengan informasi tersebut dengan membaca teks, melihat gerak bibir pemberi informasi, dan bertanya langsung orang yang dekat dengan informan. B.Kebutuhan Afektif (Affektive Needs) Menurut Katz Gurevitch dan Haas yang dikutip Pawit M. Yusup dalam bukunya yang berjudul Ilmu Informasi, Komunikasi dan Kepustakaan (2016:142143) tentang kebutuhan afektif yakni kebutuhan ini dikaitkan dengan penguatan estetis, hal yang dapat menyenangkan dan pengalamanpengalaman emosional. Berbagai media, baik media cetak maupun media elektronik sering dijadikan alat untuk mengejar kesenangan dan hiburan. Hasil wawancara penelitian ini berdasarkan pertanyaan “Apa yang anda lakukan ketika waktu luang?”. Tujuan dari pertanyaan ini untuk mengetahui adanya kebutuhan afektif (Affektive Needs) menurut 8 informan Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG). 8 Informan yang terpilih merupakan informan yang dapat menjawab pertanyaan tersebut. Berdasarkan hasil wawancara ketika informan sedang ada waktu luang. 8 informan menonton youtube, instagram, dan membaca artikel di google. Dapat disimpulkan bahwa Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG) ketika mencari informasi kebutuhan afektif dengan menonton youtube, instagram, dan mencari berita tentang K-POP. Setelah mengetahui tentang hal yang dilakukan informan ketika terdapat waktu luang. Kemudian peneliti menanyakan tentang” Sebutkan konten apa saja yang ditonton atau dibaca ketika waktu luang?”. Berdasarkan hasil wawancara peneliti menemukan bahwa ketika 8 informan memiliki waktu luang. Informan menonton konten vlog Ria ricis dan Atta Halilintar di youtube, acara memasak Arnoeld Poernomoe dan Official Ussy Andika di youtube, tutorial make up Jefree star, Tasya Farasya, dan Rachel Goddard di youtube, Konten youtube random Raditya Dika, Bapau Family, Rans Entertainment, dan Korea Roemit, Podcast di youtube Dedy Corbuzier dan Kuy Entertainment, Konten pengetahuan tentang mobil YPT2 Chanel, BM Teknik, dan Ridwan Hanafi di youtube, nonton film netflix dari Amerika dan Korea, nonton story instagram random, nonton reels random, artikel BTS dan main game mobile legends. Setelah mengetahui konten ditoton atau artikel yang dibaca oleh informan. Lalu peneliti bertanya tentang “Konten apa yang paling anda suka?” Berdasarkan hasil wawancara peneliti menemukan 8 informan menyukai konten di youtube dan instagram, film netflix, dan artikel. Konten youtube yang disukai tentang podcast, pembahasan tentang Korea, masak, dan make up. Film netflix yang disukai tentang drama Korea. Artikel yang disukai tentang Idol K-POP yakni BTS. Setelah mengetahui konten yang disukai informan, peneliti menanyakan tentang “Mengapa Anda menyukai konten tersebut” kepada 8 informan. Berdasarkan hasil wawancara peneliti menemukan alasan 8 informan menyukai konten tersebut. Sebanyak 3 informan menyukai konten tersebut karena terdapat komedi pada konten tersebut. Sebanyak 2 informan menyukai konten tersebut karena suka memasak. Sebanyak 1 informan menyukai konten tersebut karena mendapatkan bisa mendapatkan ilmu yang banyak. Sebanyak 1 informan menyukai konten tersebut karena suka menonton mobil tanpa membeli. Dan sebanyak 1 informan menyukai artikel tersebut karena fans dari K-POP tersebut. Dari jawaban 8 informan menyukai konten tersebut karena terdapat komedi, memang hobinya, mendapatkan ilmu yang banyak, melihat mobil tanpa membeli, dan fans K-POP tersebut. Jadi dari hasil wawancara yang telah dilakukan kepada 8 informan terlihat bahwa kebutuhan afektif dari anggota Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG) adalah dengan menonton youtube, instagram, dan membaca artike di google. Konten yang paling di sukai anggota komunitas lancang kuning yakni konten yang ada di youtube yang disukai tentang podcast, pembahasan tentang Korea, masak, dan make up. Film netflix yang disukai tentang drama Korea. Artikel yang disukai tentang Idol K-POP yakni BTS. Alasan anggota komunitas lancang kuning menyukai konten tersebut karena terdapat komedi, memang hobinya, mendapatkan ilmu yang banyak, melihat mobil tanpa membeli, dan fans K-POP tersebut. C.Kebutuhan Integrasi Personal (Personal Integrative Needs) Menurut Katz Gurevitch dan Haas yang dikutip Pawit M. Yusup dalam bukunya yang berjudul Ilmu Informasi, Komunikasi dan Kepustakaan (2016:142143) tentang kebutuhan integrasi personal yakni kebutuhan ini sering dikaitkan dengan penguatan kredibilitas, kepercayaan, stabilitas, dan status individu. Kebutuhan-kebutuhan ini berasal dari hasrat seseorang untuk mencari harga diri. Hasil wawancara penelitian ini berdasarkan pertanyaan “Media sosial apa saja yang anda punya? Apakah di dalam media sosial tersebut anda memberikan informasi bahwa anda memiliki keterbatasan?”. Tujuan pertanyaan ini untuk mengetahui adanya kebutuhan personal (Personal Integrative Needs) menurut 8 informan Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG). Berdasarkan hasil wawancara bahwa kebutuhan integrasi personal yakni 8 informan Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG) yang membagikan informasi tentang keterbatasan mendengar (tuli) lewat media sosial seperti instagram, facebook youtube, dan tiktok dan whatsapp. Dapat disimpulkan bahwa Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG) ketika mencari informasi kebutuhan integrasi personal dengan membagikan informasi tentang keterbatasan mendengar (tuli) lewat media sosial. Setelah mengetahui informan memiliki media sosial dan membagikan informasi tentang tuli. Lalu peneliti menanyakan tentang “Apa yang anda sampaikan di media sosial tersebut?” Berdasarkan hasil wawancara peneliti menemukaan konten yang disampaikan 8 informan di media sosial. Tiap informan memiliki konten yang berbeda. Konten yang disampaikan di media sosialnya adalah memperkenalkan tentang apa itu tuli atau tuna rungu, cara berinteraksi dengan orang tuli, cara menegur dengan orang tuli atau tuna rungu, cara memberi informasi pada orang tuli atau tuna rungu, menjelaskan perbedaan tuli dan tuna rungu, mengenalkan bahasa isyarat, berkenalan dengan bahasa isyarat, mengucapkan selamat pada hari-hari nasional dengan bahasa isyarat, menyanyi menggunakan bahasa isyarat, menyebutkan pancasila dengan bahasa isyarat, dan membagikan kehidupan sehari-hari menggunakan bahasa isyarat. Setelah mengetahui tentang konten yang dibagikan di media sosial informan. Kemudian peneliti menanyakan tentang “Bagaimana cara anda memberikan informasi di media sosial?” Berdasarkan hasil wawancara peneliti menemukan cara 8 informan ketika memberikan informasi. Sebanyak 3 informan memberikan informasi lewat media sosial dengan menggunakan teks dan isyarat. Sebanyak 2 informan memberikan informasi lewat media sosial dengan mengunakan teks. Dan sebanyak 3 informan memberikan informasi lewat media sosial dengan menggunakan isyarat. Dari 8 jawaban informan memberikan informasi lewat media sosial menggunakan teks & isyarat, teks, dan isyarat. Setelah mengetahui cara informan membagikan informasi lewat media sosial. Lalu peneliti menanyakan kepada informan tentang “Mengapa anda memberikan informasi ke media sosial lebih dari satu?” Berdasarkan hasil wawancara peneliti menemukan alasan 7 informan memberikan informasi ke media sosial lebih dari satu. Setiap informan memiliki alasan yang berbedabeda. Alasannya isi dan pemakainnya berbeda-beda jadi bisa memberi pengalaman yang beda, media sosial yang dipakai bisa menjangkau secara luas, dan banyak temannya yang memakai media sosial tersebut, agar tidak ketinggalan zaman. Sebaliknya sebanyak 2 informan hanya memiliki satu sosial media. Kemudian peneliti menanyakan tentang “Kenapa Anda hanya memberikan informasi ke satu sosial media?” Berdasarkan hasil wawancara peneliti menemukan alasan 1 informan memberikan informasi ke satu media sosial. Alasan informan memberikan informasi ke satu sosial media yakni agar tidak ribet dan karena temannya juga membagikan ke satu media sosial. Jadi dari hasil wawancara yang telah dilakukan kepada 7 informan terlihat bahwa kebutuhan integrasi personal dari anggota Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG) adalah dengan membagikan informasi tentang keterbatasan mendengar (tuli) lewat media sosial seperti instagram, facebook youtube, dan tiktok dan whatsapp. D. Kebutuhan Integrasi Sosial (Social Integrative Needs) Menurut Katz Gurevitch dan Haas yang dikutip Pawit M. Yusup dalam bukunya yang berjudul Ilmu Informasi, Komunikasi dan Kepustakaan (2016:142143) tentang kebutuhan integrasi sosial yakni kebutuhan ini dikaitkan dengan penguatan hubungan dengan keluarga, teman dan orang lain di dunia. Kebutuhan ini didasari oleh hasrat seseorang untuk bergabung atau berkelompok dengan orang lain. Hasil wawancara penelitian ini berdasarkan pertanyaan “Cara berkomunikasi dengan orang tuli maupun orang dengar seperti apa?”. Tujuan dari pertanyaan ini untuk mengetahui adanya kebutuhan sosial (Social Integrative Needs) menurut 8 informan Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG). Berdasarkan hasil wawancara bahwa kebutuhan integrasi sosial yakni 8 informan mencari informasi dengan orang dengar dan orang tuli guna memperkuat hubungan dengan keluarga, kelompok, dan orang lain. Ketika dengan orang dengar komunitas menggunakan bahasa isyarat. Ketika dengan orang dengar memakai bahasa isyarat untuk orang dengar yang bisa bahasa isyarat, BISINDO, berbicara dengan pelan-pelan, dan menulis di note telepon seluler. Dapat disimpulkan bahwa Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG) mencari informasi kebutuhan integrasi sosial dengan orang dengar dan tuli dengan cara yang berbeda. Terkadang dengan cara tersebut masih ada orang yang tidak paham dengan apa yang dikatakan informan. Peneliti menanyakan tentang “Ketika orang dengar tidak paham dengan yang anda katakan apa yang Anda lakukan?” Berdasarkan hasil wawancara peneliti menemukan cara 8 informan berkomunikasi jika orang dengar tidak paham. Sebanyak 6 informan ketika berkomunikasi dengan orang dengar yang tidak paham dengan cara menulis di note telepon seluler dan kertas. Sebanyak 1 informan ketika berkomunikasi dengan orang dengar yang tidak paham dengan cara berbicara pelan-pelan. Dan terdapat 1 informan memakai keduanya yakni menulis di note telepon seluler dan berbicara pelanpelan. Jadi dari hasil wawancara yang telah dilakukan kepada 8 informan terlihat bahwa kebutuhan integrasi sosial dari anggota Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG) adalah mencari informasi dengan orang dengar dan orang tuli guna memperkuat hubungan dengan keluarga, kelompok, dan orang lain. Ketika dengan orang dengar komunitas menggunakan bahasa isyarat. Ketika dengan orang dengar memakai bahasa isyarat untuk orang dengar yang bisa bahasa isyarat, BISINDO, berbicara dengan pelan-pelan, dan menulis di note ponsel. E. Kebutuhan Berkhayal (The Needs of Imagining) Hasil wawancara penelitian ini berdasarkan pertanyaan “Setelah menyelesaikan suatu pekerjaan, apakah anda memerlukan informasi yang bersifat hiburan? Kalau iya, informasi seperti apa? (Misal melihat snapgram di ig, menonton vlog raditya dika di youtube, menonton moto gp di tv)”. Tujuan pertanyaan ini untuk mengetahui adanya kebutuhan berkhayal (The Needs of Imagining) menurut 8 informan Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG). Berdasarkan hasil wawancara bahwa ketika 8 informan mencari informasi bentuk afektif dan bentuk berkhayal terdiri dari menonton youtube, netflix, tiktok, instagram, membaca artikel di google, dan video call dengan teman tuli. Menurut Katz Gurevitch dan Haas yang dikutip Pawit M. Yusup dalam bukunya yang berjudul Ilmu Informasi, Komunikasi dan Kepustakaan (2016:142-143) tentang kebutuhan berkhayal adalah kebutuhan ini dikaitkan dengan kebutuhankebutuhan untuk melarikan diri, melepaskan ketegangan dan hasrat untuk informasi kebutuhan afektif dan pengalihan (diversion). Dapat disimpulkan bahwa Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG) ketika mencari kebutuhan afektif dan kebutuhan berkhayal dengan cara menonton, membaca, dan video call. Sebanyak 8 informan ketika sedang membutuhkan hiburan menonton youtube, netflix, tiktok, instagram, membaca artikel di google, dan video call dengan teman tuli. Maka dari itu peneliti menanyakan tentang “Informasi apa yang bisa menghibur Anda?” Berdasarkan hasil wawancara peneliti menemukan informasi yang membuat 8 informan terhibur. Para informan memiliki hal yang membuat informan terhibur secara berbeda-beda yakni menonton postingan instagram langsung di explore, menonton reels instagram langsung di explore, membaca berita di twitter, menonton serial netflix, menonton youtube tentang memasak, tutorial make up, hal-hal tentang mobil, vlog kehidupan, podcast, dan membaca berita tentang bola. Jadi dari hasil wawancara yang telah dilakukan kepada 8 informan terlihat bahwa kebutuhan berkhayal dari anggota komunitas tuli lancanng kuning adalah dengan menonton youtube, netflix, tiktok, instagram, membaca artikel di google, dan video call dengan teman tuli. Kemudian informasi yang dapat menghibur anggota komunitas lancang kuning yakni menonton postingan instagram langsung di explore, menonton reels instagram langsung di explore, membaca berita di twitter, menonton serial netflix, menonton youtube tentang memasak, tutorial make up, hal-hal tentang mobil, vlog kehidupan, podcast, dan membaca berita tentang K-POP. 4.2 Upaya Pemenuhan kebutuhan Informasi Menurut Apsari dalam Radissa aspek memenuhi kebutuhan adalah ketika individu mampu untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang menunjang kebutuhannya agar terpenuhi. Hasil wawancara penelitian ini berdasarkan pernyataan “Apa kebutuhan informasi anda sudah terpenuhi?”. Tujuan dari pertanyaan ini untuk mengetahui tentang sudah terpenuhi atau belum menurut 8 informan Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG). Berdasarkan hasil wawancara kebutuhan informasi di Indonesia 8 informan Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG) menjawab belum terpenuhi. Dapat disimpulkan bahwa kebutuhan informasi di Indonesia belum terpenuhi untuk para disabilitas khususnya penyandang tuna rung (tuli). Hasil wawancara penelitian ini berdasarkan pertanyaan “Kendala apa yang sering ditemui ketika sedang mencari informasi?”. Tujuan pertanyaan ini untuk mengetahui adanya kendala ketika mencari informasi menurut 8 informan Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG). Berdasarkan hasil wawancara terdapat kendala saat 8 informan Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG) mencari informasi. Kendalanya yakni ketika orang dengar tidak bisa bahasa isyarat, kadang orang dengar tersebut tidak paham yang dikatakan Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG), ketika mencari informasi atau menonton video kebanyakan tidak ada teks dan ketika membaca tidak ada gambar. Yang dilakukan Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG) saat berbicara dengan orang dengar yang tidak paham menggunakan tulisan di telepon seluler.Ketika informan mendapat kendala dalam mencari komunikasi, informan harus memiliki cara untuk mendapatkan informasi tersebut. Peneliti menanyakan tentang “Dengan adanya kendala tersebut bagaimana usaha anda agar mendapatkan informasi yang Anda butuhkan?” kepada 8 informan. Berdasarkan hasil wawancara peneliti menemukan informasi tentang usaha 8 informan untuk mendapatkan informasi. Sebanyak 8 informan ketika terdapat kendala ketika mencari informasi agar mendapatkan informasi tersebut. Dengan bertanya dengan orang terdekatnya tetapi ketika tidak ada orang terdekat maka bertanya dengan orang yang ada disekitarnya. Hasil wawancara penelitian ini berdasarkan pertanyaan “Pernah terjadi miss komunikasi ketika sedang berkomunikasi?”. Tujuan dari pertanyaan ini untuk mengetahui miss komunikan terhadap 8 informan Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG). Berdasarkan hasil wawancara sebanyak 3 informan Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG) tidak pernah mengalami miss komunikasi dengan orang dengar. Tapi sebaliknya sebanyak 5 informan Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG) mengalami miss komunikasi dengan orang dengar. Informan Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG) biasanya miss komunikasi dengan orang baru dan keluarga baru. Cara informan Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG) mengatasi miss komunikasi dengan bahasa BISINDO dan menulis di note telepon genggam. Menurut Robert Baker (1995) dalam (Radissa et al., 2020) menyebutkan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar seseorang dapat dibagi menjadi empat bagian yaitu aspek fisik (makanan, tempat tinggal, keamanan, kesehatan dan perlindungan), pemenuhan pribadi (pendidikan, rekreasi, estetika, nilai, agama, prestasi), kebutuhan emosi (rasa saling memiliki, saling peduli, kebersamaan) dan konsep diri yang memadai (kepercayaan diri, harga diri dan identitas). Hasil wawancara pada penelitian ini berdasarkan pertanyaan “Ketika anda sedang menonton suatu tayangan seperti tayangan di tv tapi tidak ada teks dan tidak ada penerjemah bahasa isyarat, bagaimana cara anda memenuhi kebutuhan informasi?”. Tujuan pertanyaan ini untuk mengetahui cara 8 informan Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG) ketika melihat suatu tayangan yang tidak ada teks dan juru bahasa isyarat. Berdasarkan hasil wawancara 8 informan menonton TV yang ada teks dan juru bahasa, menonton youtube yang ada teksnya, dan membaca artikel. Dapat disimpulkan bahwa adanya teks pada tayangan baik di youtube dan TV merupakan pemenuhan kebutuhan dasar seseorang. A. Pencarian Informasi melalui Manusia Menurut (Nicholas & Herman, 2010) pencarian informasi melalui manusia, adalah informasi atau pengetahuan seseorang yang diucapkan atau disampaikan secara lisan. Hasil wawancara pada penelitian ini berdasarkan pertanyaan “Ketika anda sedang membutuhkan informasi dengan cara berkomunikasi dengan orng dengar, bagaimana cara anda berkomunikasi dengan orang dengar tersebut? Misal ada perantara (orang yang membantu) atau dengan tulisan atau dengan bahasa isyarat”. Tujuan pertanyaan ini untuk mengetahui pencarian informasi melalui manusia menurut 8informan Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG). Beradasarkan hasil penelitian 8 informan Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG) ketika mencari informasi melalui manusia biasanya dibantu oleh sahabat sebanyak dan orang terdekatnya sebanyak 5 informan namun ada yang tidak memakai perantara sebanyak 3 informan. Informan Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG) ketika tidak bersama perantaranya untuk mencari informasi menggunakan bahasa isyarat, berbicara dengan pelan-pelan, dan menulis perkataannya di note telepon seluler. Dapat disimpulkan bahwa informan Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG) mendapatkan informasi dengan perantara sahabat dan orang terdekat namun ketika tidak ada perantara informan menggunakan bahasa isyarat, berbicara dengan pelan-pelan, dan menulis perkataannya di note telepon seluler. Menurut (Nicholas & Herman, 2010) informasi dalam bentuk lisan adalah pengetahuan yang diucapkan seseorang melalui diskusi, rapat, dan sebagainya yang diperoleh melalui teman, orang tua, maupun orang lain yang dipercaya untuk memberikan jawaban atau memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam bidang yang diketahui. Hasil wawancara pada penelitian ini berdasarkan pertanyaan “Jika ada perantara, bagaimana cara anda menyampikan nya kepada orang tersebut? Apakah dengan bahasa isyarat atau ada bahsa khusus sendiri?”. Tujuan pertanyaan ini untuk mengetahui 8 informan Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG) ketika menyampaikan suatu informasi pada perantara, informan memiliki cara sendiri. Berdasarkan hasil wawancara 3 informan tidak memakai perantara dan 5 informan memakai perantara. Ketika 5 informan menyampaikan suatu perkataan kepada perantara. Informan menggunakan bahasa isyarat lalu perantara menyampaikan ke orang secara lisan. Dapat disimpulkan untuk bahwa perantara menyampaikan perkataan informan secara lisan kepada orang yang ingin informan tanya. Hasil wawancara dari penelitian ini berdasarkan pertanyaan “Dimasa pandemi covid seperti saat ini, bagaimana cara anda memenuhi kebutuhan informasi secara langsung? Kan dimasa sekarang orang diwajibkan memakai masker, bagaimana cara penyampaian informasi baik dari anda sendiri atau dari orang dengar tersebut?”. Tujuan pertanyaan ini untuk mengetahui cara 8 informan Komunitas Lancang Kuning (KUTILANG) berkomunikasi ketika masa pandemi covid 19. Berdasarakan hasil wawancara, 8 informan menjelaskan cara berkomunikasi dengan orang dengar saaat pandemi. Sebanyak 4 informan memakai aplikasi live transkip dan sebanyak 4 informan menyuruh orang dengar untuk menuls di note telepon seluler. B. Pencarian Informasi melalui Dokumen Menurut (Nicholas & Herman, 2010)) pencarian informasi melalui dokumen adalah informasi yang terdapat pada sumber informasi tercetak seperti jurnal, buku, koran, majalah dan sebagainya. Hasil wawancara penelitian ini berdasarkan pertanyaan “Dimana bisanya anda mendapatkn informasi-informasi tersebut?”. Untuk mengetahui pencarian informasi melalui dokumen menurut 8 informan Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG). Berdasarkan hasil wawancara 8 informan menjelaskan bahwa informasi melalui dokumen di dapat dari sumber radio, korana majalah, dan media sosial seperti instagram, youtube, tiktok, twitter, google. Dapat disimpulkan bahwa mencari informasi melalui dokumen tidak hanya menggunakan sumber dari jurnal, buku, koran, majalah melainkan bisa didapatkan dari radio dan media sosial. Lalu untuk mengetahui alasan informan kebanyakan mencari informasi untuk memenuhi kebutuhan informasi nya menggunakan internet maka peneliti menanyakan “kenapa anda lebih tertarik menggunakan media online (digital) untuk pemenuhan kebutuhan informasi anda dari pada media teretak?” Berdasarkan hasil wawancara 8 informan menjelaskan bahwa alasan informan lebih tertarik menggunakan media online (digital) karena hemat waktu, informasi lebih mudah untuk dicari, tidak ribet, mudah pencariannya, bisa memilih informasi yang ada gambarnya, informasi lebih update, praktis, hemat biaya serta informasi yang ditemukan sesuai dengan kebutuhan informasi anggota komunitas. Jadi dari hasil wawancara yang telah dilakukan kepada 8 informan terlihat bahwa pemenuhan kebutuhan informasi dari anggota Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG) belum terpenuhi. Kendala anggota komunitas lancang kuning (Kutilang) yakni ketika orang dengar tidak bisa bahasa isyarat, kadang orang dengar tersebut tidak paham yang dikatakan Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG), dan ketika mencari informasi atau menonton video kebanyakan tidak ada teks. Dari semua informan yang diwawancarai mereka paling sering mencari informasi di internet dan bertanya pada teman atau keluarga.

Conclusion

Dari penelitian terhadap anggota Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG) tentang kebutuhan informasi dan upaya pemenuhan kebutuhan informasi, maka penulis menarik kesimpulan yaitu kebutuhan informasi untuk para disabilitas penyandang tuna rungu (tuli) di Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG) belum terpenuhi. Kendala anggota komunitas lancang kuning (Kutilang) yakni ketika orang dengar tidak bisa bahasa isyarat, kadang orang dengar tersebut tidak paham yang dikatakan anggota Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG), dan ketika mencari informasi atau menonton video kebanyakan tidak ada teks. Hambatan atau kesulitan yang dialami oleh penyandang disabilitas tunarungu mengakibatkan terbentuknya ciri informasi yang dibutuhkan oleh mereka. Cara memperoleh informasi yang dibutuhkan oleh setiap individu berbeda-beda. Individu pada umumnya (orang dengar) akan mencari informasi yang sesuai dengan kebutuhannya meskipun tidak disertai gambar maupun teks jika pencarian informasi tersebut berupa tayangan. Berbeda dengan individu pada umumnya (orang dengar), individu penyandang disabilitas tunarungu memiliki cara pencarian informasi yang berbeda untuk memenuhi kebutuhan informasinya. Cara tersebut terdapat pada informasi yang harus disertai gambar pada teks, maupun informasi yang harus disertai tulisan jika pada suatu tayangan untuk memudahkan mereka dalam memahami dan memaknai informasi yang dimaksud. Upaya Komunitas Tuli Lancang Kuning (KUTILANG) dalam memenuhi kebutuhan informasi nya kebanyakan melakukan pencarian informasi melalui gawai atau secara online. Pencarian informasi melalui media online dirasa lebih efisien dari segi waktu, dan anggota komunitas dapat mengambil informasi yang sesuai dengan kebutuhannya, yakni informasi yang disertai dengan gambar maupun tulisan. Upaya lain yang dilakukan anggota komunitas untuk dapat memahami informasi yang disampaikan oleh orang lain yaitu dengan membaca gerak bibir lawan bicara