INOVASI PUSTAKAWAN DINAS PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN KOTA PADANG MASA PANDEMI COVID-19: MEMBANGUN BUDAYA BACA MASYARAKAT MELALUI PENDEKATAN MESJID
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang
Abstrak
Artikel ini ditulis untuk mengetahui apa saja inovasi yang dilakukan oleh pustakawan membangun budaya baca masyarakat melalui pendekatan ke masjid, serta untuk mengetahui inovasi dan perubahan apa yang terjadi melalui pendekatan masjid ini. Artikel ini dibuat berdasarkan kondisi dilapangan yang memprihatinkan khususnya generasi muda terutama para pelajar tingkat sekolah dasar. Observasi dan wawancara untuk melakukan pengumpulan data inovasi diperlukan menyelesaikan permasalahan ini, maka dari itu, program ini perlu dilakukan sebagai wujud inovasi dalam mengembangkan solusi membangun budaya baca masyarakat dengan pendekatan masjid dan kunjungan pustaka oleh generasi muda. Berdasarkan hasil kondisi dilapangan dan wawancara yang penulis lakukan adalah, dengan metode pendekatan bersama pengurus masjid sebagai salah satu bentuk untuk melakukan membangun budaya baca masyarakat dengan inovasi yang dilakukan oleh pustakawan, salah satunya adalah pendekatan dengan pengurus masjid dan membagikan buku kepada masyarakat khusunya pelajar dan orang tua. Hal ini dilakukan karena kondisi saat ini tidak baik, dan COVID-19 tak kunjung hilang, serta mengurangi kecanduan masyarakat dengan gadget. Inovasi membagikan buku kepada masyarakat mendekatkan pengetahuan secara efektif dan bisa menikmatinya dirumah saja
Abstract
This article was written to find out what innovations were made by librarians to build a community reading culture through an approach to the mosque, as well as to find out what innovations and changes occurred through this mosque approach. This article was written based on the worrisome conditions in the field, especially the younger generation, especially elementary school students. Observations and interviews to collect innovation data are needed to solve this problem, therefore, this program needs to be carried out as a form of innovation in developing solutions to build community reading culture with a mosque approach and library visits by the younger generation. Based on the results of field conditions and interviews that the authors did, the method of approach with mosque administrators as a form of building a community reading culture with innovations made by librarians, one of which was an approach with mosque administrators and distributing books to the community, especially students and people old. This is done because the current conditions are not good, and COVID-19 is not going away, and it reduces people's addiction to gadgets. The innovation of distributing books to the community brings knowledge closer effectively and can enjoy it at home
Keywords:
Innovation
· building a reading culture
· librarian
Introduction
Bermula dari kata Wuhan tepatnya , virus jenis baru ini telah menyebar ke berbagai belahan negara di dunia yang menyebabkan timbulnya penyakit coronavirus disease 2019 atau yang disebut juga dengan COVID-19. Tentunya kondisi ini tidak boleh dianggap dan dibiarkan begitu saja. World Health Organization (WHO) pun juga sudah menetapkan pandemic COVID-19 sejak 11 Maret 2020 yang lalu. Pandemic itu sendiri merupakan sebuah epidemic yang telah menyebar ke berbagai benua dan negara, umumnya menyerang banyak orang. Sementara epidemic sendiri adalah sebuah istilah yang telah digunakan untuk mengetahui peningkatan jumlah kasus penyakit secara tiba-tiba pada suatu populasi area tertentu. Pasalnya, istilah pandemic tidak digunakan untuk menunjukan tingginya tingkat suatu penyakit, melainkan hanya memperlihatkan tingkat penyebaranya saja. Perlu diketahui, dalam kasus pandemic COVID-19 ini menjadi yang pertama dan disebabkan oleh virus corona yang telah ada sejak akhir tahun lalu. Pandemic COVID-19 melanda Indonesia berdampak berbagai pundi kehidupan dalam segala hal baik disegi perekonomian dan pendidikan. Dengan kondisi pandemic ini terbitlah intruksi dari empat mentri untuk dinas pendidikan, memerintahkan seluruh pelajar ditiadakan tatap muka dan proses belajar dan mengajar secara daring. Surat keputusan empat mentri No.4/KB/2020 tentang Panduan Penyelenggaran pada tahun ajaran 2020/2021 dimasa pandemic COVID-19 diantaranya adalah. a. Peraturan Walikota No./2020 tentang pelaksanaan pembelajaran pada masa pandemic COVID-19 b. Instruksi Walikota Nomor 421.1/10299.a/Pendidikan dasar 01/2020 c. Tentang pelaksanaan pembelajaran tatapsemester genap tahun pelajaran 2020/2021 d. Surat edaran finas pendidikan No.421.1/1.0522/DP. Dinas 01/2020 tentang pelaksanaan pembelajaran tatap muka semester genap tahun pelajaran 2020/2021. Pembelajaran secara daring diera digitalisasi ini berdampak negative karena pengetahuan melibatkan gadget, para milenial banyak menghabiskan waktunya bermain game onlinedari pada belajar. Budaya baca dari fisik buku yang tercetak makin berkurang beralih ke media elektronik. Kecanduan menggunakan gadget dalam dunia informasi menjadi solusi. Perpustakaan muaranya pengetahuan sebagai institusi pengelola karya tulis, karya cetak dan karya rekam secara professional dengan system yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian,pelestarian informasi dan rekreasi para pemustaka makin berkurang. Pustakawan sebagai agen informasi berinovasi ikut berperan memajukan dan berkembangnya sebuah Perpustakaan. Oleh karena itu profesi seorang pustakawan dituntut mengembangkan inovasinya menjadi mediator dan fasilitator membangun budaya baca bagi masyarakat. Dengan begitu diharapkan profesi seorang pustakawan akan menjadi profesi yang dihargai dan harapan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Membangun budaya baca itu memegang peranan penting dalam memajukan suatu masyarakat melalui pendidikan. Dapat diwujudkan cita-cita kemerdekaan sebagaimana yang dituangkan dalam pembukaan UUD 1945 yaitu “ mencerdaskan kehidupan bangsa…”. Didukung dengan masifnya perkembangan teknologi dan informasi saat ini menyebabkan akses akan ilmu pengetahuan yang lebih mudah. Sebagai sumber pengetahuan , buku dapat diibaratkan sebagai jendela dunia diakses pada berbagai perpustakaan baik secara online maupun . Namun dewasa ini perpustakaan semakin ditinggalkan yang berdampak pada berkurangnya akses generasi muda kepada ilmu pengetahuan. Kunjungan dari tahun ketahun makin berkurang, msyarakat secara khusus generasi muda lebih tertarik dengan literasi digital ketimbang berkunjung dan membaca di perpustakaan. Perpustakaan seharusnya menjadi pendongkrak pengetahuan masyarakat sebagai sumber belajar sepanjang hayat berada di ujung tanduk perlahan mulai ditinggalkan dengan berbagai alasan.Salah satu alasan lainnya adalah masyarakat secara khusus pelajar yang lebih tertarik menghabiskan waktu liburannya dengan bermain game di gadget dari pada berkunjung keperpustakaan mencari sumber pengetahuan. Sebagai solusi untuk membangun budaya baca masyarakat pustakawan mencoba berinovasi melakukan pendekatan secara langsung kepada masyarakat dengan berbagi cerita dan motivasi lain. Pustakawan mencoba meningkatkan keinginantahuan masyarakat secara khusus generasi muda dengan merekomendasikan berbagai bacaan yang menarik. Untuk menghadapi era digital ini ibarat pisau bermata dua, disatu sisi dapat berdampak positif melalui perkembangan akses ilmu pengetahuan, tetapi di lain sisi memiliki dampak negative berupa meningkatnya kriminalitas dan akses kepada informasi yang berbahaya kepada generasi muda. Sebagai jendela dunia maka sudah seharusnya buku dapat menjadi jawaban dari permasalahan ini. Salah satu program yang memanfaatkan potensi fasilitas yang kaya akan nilai-nilai pengetahuan dan agama yaitu masjid.Inovasi pustakawan sangat membantu dalam membangun budaya baca masyarakat dengan pendekatan kemasjid. Maka dari itu melalui makalah ini penulis mencoba mengetahui lebih lanjut apa saja inovasi yang dilakukan oleh Pustakawan dalam membangun budaya baca masyarakat melalui pendekatan kemesjid Imaduddin dan mesjid Darul Huda Kecamatan Nanggalo Kota Padang. Tujuan dari inovasi yang penulis lakukan ini untuk mengetahui apa-apa saja perobahan yang dilakukan oleh pustakawan dalam membangun budaya baca melalui pendekatan masjid. Manfaat dengan inovasi ini dalam membangun budaya baca bagi masyarakat. 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sejarah Perpustakaan Islam Pada zaman ketika Nabi Muhammad Hijrah dari Mekkah ke Madinah, hal pertama kali yang beliau lakukan adalah membangun mesjid. Mesjid pada waktu itu digunakan sebagai markas besar tentara dan pusat gerakan pembebasan umat dari penghambaan kepada manusia,berhala,atautaghut. Mesjid digunakan sebagai pusat pendidikan yang mengajak manusia pada keutamaan, kecintaan pada pengetahuan,kesadaran social dan lain sebagainya (Nahlawi, 1995). Laugu (2006) menyebutkan bahwa pada abad ke-7 merupakan kelahiran Islam yang menimbulkan suatu perubahan menyeluruh dalam hampir semua fase kehidupan. Pengajaran agama baru ini mampu menarik perhatian besar masyarakat terhadap ilmu pengetahuan. Pengajaran ini memperjelas bahwa mendidik bukanlah hak prerogatif yang akan dilakukan oleh segelintir orang saja, tetapi menjadi tanggung jawab setiap individu pada suatu wilayah. Hal ini dapat dilihat dalam masa awal kenabian Muhammad SAW, yaitu dalam wahyu pertama yang diturunkan kepadanya adalah perintah untuk membaca. Kemudian disebutkan bahwa sejumlah perpustakaan masjid dimulai sebagai maktabah, khazain al-maktabah, atau perpustakaan Al Qur’an. Kebiasaan umum yang terdapat dalam masyarakat Islam bahwa koleksi-koleksi Al Qur’an telah disajikan di berbagai masjid. Contohnya, pada perpustakaan masjid Qairawan di Tunisia telah berkembang dengan hadiah kitabkitab yang besar atau koleksi-koleksi Al Qur’an, dan buku-buku lainnya di serahkan ke masjid oleh ilmuwan kota dan keluarga-keluarga yang terkenal. Laugu (2006) menyebutkan bahwa masjid dipakai sebagai tempat untuk melaksanakan ibadah. Untuk menjalankan ibadah tersebut seorang muslim harus melalui suatu cara yang harus dipahami secara baik dan benar. Untuk mendapatkan pemahaman yang benar tersebut, harus ada suatu proses pembelajaran bisa melalui seorang guru atau ustazd dengan cara belajar mandiri melalui koleksikoleksi Al Qur’an ataupun hadis. Perpustakaan masjid muncul untuk menyediakan sarana yang bisa mendukung proses pembelajaran tersebut sehingga pengadaan berbagai koleksi dalam masjid menjadi suatu aktivitas yang sangat penting, menjadi suatu fenomena tersendiri yang disebut sebagai perpustakaan masjid. Masjid yang pada awalnya dianggap sebagai rumah atau perpustakaan Al Qur’an, telah berkembang sebagai tempat berbagai literatur dan khasanah pemikiran para tokoh dan masyarakatnya. Perpustakaan masjid pada akhirnya menjadi pusat informasi masyarakat Islam saat itu dan hingga saat ini. Hal ini mendasari adanya perpustakaan masjid sebagai perpustakaan Islam dan umat Islam. 2.2 Pengertian Perpustakaan Mesjid karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem baku, guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, preservasi, informasi, dan rekreasi. Mengacu pengertian tersebut, perpustakaan rumah ibadah adalah lembaga atau unit kerja yang mengelola karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem baku, yang dibentuk dan dikembangkan oleh rumah ibadah guna memenuhi kebutuhan penelitian, pengetahuan, informasi, keagamaan, dan rekreasi. Kamarudin dkk (2014) dalam artikelnya yang berjudul Library: Roles and Issues, menyatakan “What is mosque library? as stated by Ministry of Religious Affairs, Brunei, the mosque library is a building or a space in a mosque building where it places the variety of information sources such as books, magazines, reports, and audiovisuals or else in order to be as a reference, research on muslim or non-muslim society in the particular area”. 2.3 Peran Perpustakaan Mesjid Peran Perpustakaan Masjid Tujuan perpustakaan rumah ibadah seperti disebutkan Perpustakaan Nasional dalam Pedoman Umum Penyelenggaraan Rumah Ibadah bahwa secara umum perpustakaan rumah ibadah bertujuan menyediakan layanan informasi dalam rangka memenuhi kebutuhan informasi bagi jemaah dan masyarakat di lingkungan rumah ibadah, baik informasi untuk kecerdasan spiritual, intelektual, maupun kecerdasan emosional. Keberadaan masjid sebagai pusat komunitas, masjid berfungsi untuk kegiatan masyarakat pada tiga peran dasar, yaitu sosial, politik, dan pendidikan (Laugu 2006). Tingkat prioritas pada setiap peran tersebut berbeda dari satu tempat ke tempat lainnya. Namun dalam banyak kasus, masjid menyediakan setiap kebutuhan dan keperluan masyarakatnya. Perpustakaan masjid muncul menjadi suatu bagian penting dari masjid yang berfungsi mendukung jalannya peran yang di emban oleh masjid tersebut dalam kehidupan masyarakat secara luas. Laugu (2006) menjelaskan posisi perpustakaan masjid dalam konteks peran sosial lebih diarahkan pada penyediaan informasi untuk menunjang jalannya kegiatan sosial masyarakat. Sebagai contoh, kegiatan yang berkenaan dengan orasi, perpustakaan mencoba untuk mengumpulkan informasi tentang orasi tersebut. Para orator kemungkinan besar mendapatkan bacaan yang tersedia dalam koleksi perpustakaan masjid yang digunakan untuk menambah wawasan mereka terhadap topik yang disampaikan tersebut. Pada kegiatan yang berkenaan dengan pengobatan, misalnya perpustakaan mempunyai fungsi mengumpulkan informasi pengobatan atau menyediakan buku-buku koleksi yang menunjang pembuatan obat-obatan untuk mengobati penyakit masyarakat. Di bidang politik, perpustakaan masjid berperan mendukung kontinuitas pengetahuan masyarakat Islam yang berkenaan dengan politik, dengan cara menyediakan koleksi tentang ilmu politik. Selain itu, masjid memiliki citra sebagai pusat pendidikan dan peribadatan. Dua peran ini menurut Laugu (2006) terus berlanjut selama masa Umaiyah, Abbasiyah, dan periode berikutnya. Di sinilah perpustakaan masjid menjadi sangat penting dan dibutuhkan untuk menunjang jalannya aktivitas pendidikan dan pengajaran. Pengajaran dengan intensitas petemuan yang sangat terbatas, menjadikan keberadaan koleksi-koleksi perpustakaan masjid menjadi sangat signifikan dalam membantu tercapainya tujuan pendidikan yang dilaksanakan di masjid.
Method
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang bertujuan untuk mendiskripsikan atau menggambarkan hasil penelitian secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat hubungan antara fenomena yang diselidiki. Metode kualitatif yaitu dimana diusahakan untuk mencari gambaran dan penjelasan mengenai permasalahan yang dibahas(Sugiyono, 2009: 14) Di dalam penelitian ini, peneliti berusaha untuk menggali data deskriptif selengkap mungkin yang berupa ucapan hasil wawancara nantinya, ataupun dari datadata tertulis lainnya yang mendukung terhadap kepentingan penulis, yang berkaitan dengan kreativitas membangun budaya baca masyarakat melalui pendekatan masjid serta dengan sendirinya akan menumbuhkan minat dan meningkatkan budaya baca itu sendiri di Mesjid Imanuddin dan Mesjid Darul Huda. Data adalah keterangan atau bahan nyata yang dapat dijadikan bukti dan bahan dasar kajian. Sedangkan sumber data adalah subjek dimana data diperoleh (Suharsimi, 2003: 79).Dalam penelitian ini data yang dibutuhukan adalah data bagaimana membangun budaya baca masyarakat melalui pendekatan mesjid dalam meningkatkan budaya baca di mesjid Imanuddin dan mesjid Darul Huda Kota Padang. Lokasi Penelitian ini bertempat di Kota Padang Provinsi Sumatera Barat khususnya di Mesjid Imanuddin dan Mesjid Darul Huda Kota. Waktu penelitian ini dilakukan pada tanggal 26 April sampai dengan 29 April tahun 2021. Pengumpulan data adalah caracara untuk memperoleh data-data yang lengkap, objektif dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya sesuai dengan permasalahan penelitian. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah 3.1 Observasi ( Pengamatan) Observasi menurut Hadi dalam Sugiyono (Sugiyono, 2009: 310) merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses. Sedangkan menurut ( Sarwono, 2006: 224), observasi adalah melakukan pencatatan secara sistematik kejadian-kejadian, perilaku, objekobjek yang dilihat dan hal-hal lain yang diperlukan dalam mendukung penelitian yang sedang dilakukan.Teknik ini dengan mengunakan pengamatan langsung terhadap objek, yaitu yang sedang dilakukan dan sudah dilakukan oleh mesjid 3.2 Wawancara Wawancara adalah bentuk komunikasi antara dua orang, melibatkan seseorang yang ingin memperoleh informasi dari orang lainnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan berdasarkan tujuan tertentu (Mulyana, 2004) 3.3 Dokumentasi Dokumentasi merupakan suatu teknik pengumpulan data melalui catatan lapangan dalam bentuk dokumentasi berupa fotofoto yang dikumpulkan pada saat penelitian (Sugiyono, 2009)
Result & Discussion
Masjid sebagai rumah ibadah dapat dijadikan sumber belajar, sumber pengetahun dan informasi mendekatkan dengan pengetahuan, beberapa inovasi yang dilakukan oleh pustakawan untuk menumbuhkan minat dan kesadaran masyarakat akan cintanya terhadap literat. Adapun inovasi yang telah dilakukan oleh Masjid diantaranya adalah : a. Tertariknya pengurus akan membuka perpustakaan masjid sebagai sumber pengetahuan bagi seluruh Jemaah nantinya b. Pengkaderan pustakawan cilik sesuai dengan disiplin ilmu perpustakaan yang dibina langsung oleh penulis nantinya baik disegi pengolahan dan pelayanan perpustakaan bertujuan terkelolanya koleksi tersusun rapi di rak sebagai sarana temu kembali informasi c. Dengan hadirnya perpustakaan masjid akan menjadi contoh bagi masjid yang lainnya, baik dari segi Visi, Misi dan layanannya. d. Dalam masa pandemic COVID-19 ini, sekolah –sekolah diliburkan, bahkan perpustakaan umumpun juga ikut libur kecuali orang yang bekerja ditempat tersebut. Untuk mengatasi masalah tersebut maka perpustakaan masjid jadi solusi buat masyarakat khususnya bagi anak sekolah dasar menjadi kerinduan mendapatkan pengetahuan dengan berbagai koleksi yang tersedia sesuai dengan golongan usianya. e. Adanya kerjasama masjid dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang disegi layanan perpustakaan keliling. b. Salah satu warga dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan setelah ditawarkan bahan bacaan sesuai dengan peluang usaha yang digelutinya yaitu budidaya ikan gurami c. Setelah melakukan beberapa inovasi yang telah dijelaskan sebelumnya, maka saatnya melakukan membangun budaya baca masyarakat di masjid. Inovasi pustakawan juga dapat dilakukan sebagai bentuk membangun budaya baca masyarakat melalui pendekatan masjid. Salah satu contohnya adalah masjid Imadudin, dan masjid Darul Huda. Kita bisa melihat bahwa inovasi yang dilakukan oleh pustakawan juga menjadi media membangun budaya baca masyarakat melalui pendekatan masjidkhususnya anak sekolah dasar Seperti membagikan buku islami dan majalah bobo pada saat pandemic COVID-19, serta membuat resensi dari bahan bacaan, dan memberikan reword bagi yang membuatnya kemudian inovasi tersebut mendapatkan aspirasi dari pengurus,maka pengurus merancang akan membuka perpustakaan masjid. d. Masjid sebagai rumah ibadah dapat dijadikan sumber belajar bagi masyarakat khususnya pelajar TPQ dan majlis Taklim dengan memanfaatkan koleksi sesuai dengan golongan usianya serta dapat menjalin kerjasama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota padang dan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat, dan dapat membina para pelajar menjadi pustakawan cilik berdasarkan ilmu displin pustakanya serta memberikan pengetahuan kepada warga melalui menawarkan buku meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dari usaha yang digelutinya dari buku yang dibacanya.
Conclusion
Berdasarkan hasil uraian diatas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa masjid Imanuddin dan Masjid Darul Huda memiliki beberapa inovasi pustakawan seperti: Adanya ketertarikan pengurus untuk membuka perpustakaan masjid. Dengan hadirnya perpustakaan masjid dengan sendirinya para pelajar TPQ dapat meningkatkan pengetahuannya dalam membaca dan menulis dan paham dengan informasi yang dibacanya akhirnya bisa membuat sebuah karya yang dihasilkan. Hadirnya perpustakaan masjid salah satu solusi mengurangi generasi kecanduan dalam permainan game. Dan pengurus masjid menjalin hubungan kerjasama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang dan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Sumatera Barat. Ini bertujuan, dengan membangun budaya baca menumbuhkan minat dan kesadaran akan cintanya terhadap literat . Disaat kondisi pandemic ini, tentunya masyarakat sangat sulit untuk keluar rumah, bahkan pemerintah daerah juga telah menggalakan bahwa selama pandemic COVID-19 ini masyarakat tetap berada dirumah saja kecuali yang ada urusan penting. Akibat dari pandemic ini sekolah-sekolah perpustakaan umum yang tutup kecuali pustakawan yang bekerja di Perpustakaan tersebut. Oleh karena itu, pustakawan harus berinisiatif mencari solusinya agar layanan di perpustakaan tetap bisa berjalan seperti biasanya dan dapat juga diakses dan dinikmati oleh masyarakat. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka muncullah sebuah inovasi pustakawan, yaitu membagikan buku ke masyarakat sesuai dengan kebuuhan usia dan golongannya.