COMPARISON OF COLLECTION DEVELOPMENT IN UK UNIVERSITY LIBRARIES AND INDIAN INSTITUTE OF TECHNOLOGY LIBRARIES
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta; Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
Abstrak
Artikel ini akan membahas mengenai pengembangan koleksi yang ada di perpustakaan perguruan tinggi, dengan menggunakan perbandingan studi kasus Perpustakaan UK Inggris dan Perpustakaan Institut Teknologi Timur India. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui bagaimana proses pengemabngan koleksi pada perpustakaan. Metode yang digunakan yaitu studi literatur seperti buku dan jurnal serta bahan bacaan lain yang memuat tentang pengembangan koleksi perpustakaan. Penelitian ditinjau berdasarkan teori yang berkaitan dengan pengembangan koleksi yakni prinsip pengembangan koleksi yang dianut oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Hasil dari penelitian ini yaitu, pertama pada perpustakaan UK Inggris melakukan pengembangan koleksi dengan menekankan pada pengembangan konten dengan melibatkan beberapa proses seleksi pengembangan koleksi yang biasanya pengadaannya melalui pembelian dan juga Kerjasama dengan Lembaga NSS atau National Student Survey. Kedua dari perpustakaan Institut Teknologi Timur India melakukan pengembangan koleksi, perpustakaan ini terdapat di dua lokasi yang dinamai perpustakaan IIT Guwahati dan IIT Patna.Aspek pengembangan koleksi, yaitu seleksi, akuisisi, keuangan dan manajemen koleksi, memainkan peran penting dalam pengembangan koleksi untuk melayani penggunanya. Sumber daya yang diperoleh di IIT yang dipilih diidentifikasi oleh opsi harga dan meninjau lisensi sumber daya elektronik tetapi dengan mode akuisisi lain yang berbeda.
Abstract
This article discusses the development of existing collections in college libraries, using a comparison of case studies in the UK Library and the Indian East Institute of Technology Library. The purpose of this study is to find out the process of developing collections in libraries. The method used is a study of literature such as jurnals and books as well as other reading materials that contain the development of library collections. Research is reviewed based on theories related to collection development, namely the principle of collection development adopted by the National Library of the Republic of Indonesia. The results obtained are first in the UK library to develop collections by emphasizing content development by involving several collection development selection processes which are usually procured through purchase and also Cooperation with nss institutions or National Student Surveys. Secondly from the library of the Eastern Institute of Technology of India carried out collection development, the library is located in two locations named after IIT Guwahati library and IIT Patna.Aspects of collection development, namely selection, acquisition, finance and management of collections, play an important role in the development of collections to serve their users. The resources acquired in the selected IIT are identified by the pricing option and review the license of the electronic resource but with other different modes of acquisition.
Keywords:
development
· collections
· library
Introduction
Perpustakaan adalah suatu unit yang menghimpun informasi bagi kebutuhan pengguna yang beragam, baik koleksi cetak maupun non cetak. Menurut International of Library Associationsand Institutions (IFLA) dalam Palupi (2012:18) perpustakaan ialah tempat kumpulan bahan-bahan baik itu non cetak maupun cetak serta sumber informasi yang terkumpul dalam komputer dan tersusun secara sistematis untuk memenuhi kebutuhan informasi dari pemustaka. Kemudian Sutarno dalam Palupi (2012:18) menyatakan perpustakaan adalah suatu bagian dari gedung atau ruangan maupun sebuah gedung sendiri yang didalamnya berisi berbagai koleksi buku yang diatur dan disusun secara rapid an teratur agar memudahkan pencarian informasi jika suatu saat digunakan atau dibutuhkan oleh pemustaka. Perpustakaaan merupakan suatu tempat sumber informasi yang sekarang ini tidak hanya berupa ruangan dalam gedung saja, yang diisi koleksi koleksi bahan pustaka buku maupun bahan non buku lainnya. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007(2007:2) Perpustakaan merupakan badan atau lembaga yang mengolah karya tercetak, maupun karya rekam yang berguna untuk memenuhi kebutuhan pemustaka dalam hal pendidikan, pelestarian, penelitian, rekreasi dan informasi dengan profesional menggunakan sistem yang baku untuk memenuhi kebutuhan. Pengembangan koleksi yaitu suatu kegiatan dengan tujuan memberikan perlindungan terhadap koleksi-koleksi dari perpustakaan agar slalu mutakhir dan mampu memenuhi kebutuhan pemustaka, sedangkan kebijakan pengembangan koleksi perpustakaan merupakan suatu kebijakan yang dituangkan dalam tulisan untuk menjadi acuan dan dasar bagi pustakawan dalam menentukan bahan perpustakaan yang akan memberikan dampak bagi pengembangan koleksi di perpustakaan (Kepala Pusat Pengembangan Koleksi dan Pengolahan Bahan Pustaka, 2018). Perpustakaan yang berada di perguruan tinggi dalam melakukan pengembangan koleksinya tidak berbeda jauh dengan perpustakaan lainnya, dimana dalam proses pengembangannya diperlukan suatu pedoman atau acuan dalam melaksanakannya agar pengembangan koleksi di perpustakaan mampu berjalan sesuai dengan tujuan dan ketentuan, pedoman ini disebut dengan kebijakan pengembangan koleksi. Kegiatan inti di perpustakaan diantaranya yaitu pengembangan koleksi hal ini dilakukan dengan memperbarui dan mengembangkan serta mengadakan koleksi atau bahan pustaka sesuai dengan kebijakan yang telah ditulis dan ditetapkan (Sasmita & Primadesi, 2014). Menyediakan informasi yang dibutuhkan dan terus berusaha melaksanakan tugas organisasi induknya dibidang penyediaan informasi merupakan suatu keharusan perpustakaan oleh karena itu diperlukan suatu pernyataan tertulis yang disebut dengan kebijakan pengembangan koleksi agar mampu menjadi pedoman dalam melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik. Beberapa fungsi dari kebijakan pengembangan koleksi adalah : (1) perencanaan, fungsi ini yang akan menjadi pedoman dalam penggunaan sumber daya atau dana yang tersedia, agar dapat digunakan sesuai dengan tujuan dan prioritas tujuan dari perpustakaan; (2) komunikasi internal, yang dimaksud komunikasi disini adalah komunikasi yang terjadi didalam masyarakat perpustakaan itu sendiri baik antara pemimpin atau penanggung jawab perpustakaan dengan pimpinan entitas induk, komunikasi antara pestakawan dengan siswa, guru, peneliti dan sebagainya; (3) komunikasi eksternal, fungsi ini merupakan suatu fungsi yang akan menjalin kerjasama antar perpustakaan dan membuat fungsi pertama atau fungsi perencanaan dapat berjalan dengan efektif dan efisien karena dalam fungsi ini perpustakaan akan menjalin komunikasi dengan perpustakaan lainnya termasuk didalamnya akan dikomunikasikan prioritas pengadaan yang akan menunjang pengembangan bidang ilmu dan solusi atas kendala dalam proses pengadaan, hal ini akan berdampak baik kepada setiap perpustakaan (Sasmita & Primadesi, 2014). Seperti yang telah dijelaskan diatas dapat dianalisis bahwa kebijakan pengembangan koleksi merupakan suatu hukum yang harus diadakan di perpustakaan untuk menunjang keterbaruan informasi dalam upaya pemenuhan kebutuhan koleksi pemustaka, dan hal ini berkaitan juga dengan keputusan dan kebijakan masing-masing instansi yang berbeda disesuaikan dengan fasilitas, kemampuan, dan keadaan di lapangan. Kebutuhan koleksi yang diperlukan pemustaka tentunya harus dikelola dengan baik, hal ini membutuhkan suatu pengelolaan khusus bidang koleksi yang biasanya disebut sebagai manajemen koleksi. Menurut Eva (2020:15) manajemen pengembangan koleksi ialah serangkaian kegiatan yang tersusun secara sistematis yang bertujuan untuk menentukan kebutuhan pemustaka berkaitan dengan jenis dan jumlah koleksi di suatu perpustakaan dengan mengutamakan prinsip efektif dan efisien. Pengembangan koleksi adalah kegiatan inti dalam perpustakaan perguruan tinggi, pembuatan kebijakan pengembangan koleksi yang mencerminkan kebutuhan komunitas masing-masing untuk mendukung misi pendidikan dan penelitian lembaga induk atau perguruan tinggi, dan dalam banyak kasus hal ini juga untuk memberikan penekanan keunikan koleksi local dari masing- masing perguruan tinggi, Pengembangan koleksi secara rutin dilakukan, meskipun tidak selalu harus diartikulasikan secara eksplisit (Kurniawan, 2020). Didasari oleh hal tersebut, peneliti bertujuan untuk mencari tahu tentang pengembangan koleksi dengan mengambil contoh dari perpustakaan yang ada di Perpustakaan UK Inggris dan Perpustakaan Institut Teknologi Timur guna nantinya mengambil hal-hal yang berguna yang dapat dicontoh dari kedua perpustakaan tersebut, peneliti menyadari tentang pentingnya Langkah pengembangan koleksi dalam akses layanan informasi yang optimal kepada pemustaka, dimana pengembangan koleksi tentu berpengaruh terhadap konten informasi yang mana semakin bagus pengembangan koleksi maka semakin memadai pemenuhan kebutuhan informasi pemustaka. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat berguna dan menjadi rujukan dalam proses pengembangan koleksi bagi perpustakaan terkhusus ditingkat perpustakaan perguruan tinggi.
Method
Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi literatur dengan melakukan pengkajian terhadap 2 karya tulis ilmiah yang membahas proses pengembangan koleksi, penelitian ini mengacu kepada perbandingan pengembangan koleksi yang ada di perpustakaan UK Inggris dan pengembangan koleksi pada Perpustakaan Institut Teknologi Timur India. Menurut Simanjuntak (2014:8) Studi kepustakaan ini merupakan penelitian yang banyak mengambil hasil dari buku, jurnal, dokumentasi, dan catatan lainnya yang penelitiannya telah terdahulu dilakukan. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan bagi pustakawan baik yang ada di perguruan tinggi atau pustakawan di berbagai perpustakaan lainnya dalam proses pengembangan koleksi diperpustakaannya. Metode pengumpulan data dan analisis adalah metode yang digunakan untuk menjawab permasalahan dalam tulisan ini. Pada bagian metode, penulis harus memaparkan jenis penelitian, subjek dan objek penelitian, waktu dan lokasi penelitian, teknik pengambilan sampel dan pengumpulan data, serta analisis data secara singkat jelas dan padat.
Result & Discussion
Bagian ini akan menjelaskan tentang pengembangan koleksi yang dilakukan oleh dua perpustakaan yaitu perpustakan UK Inggris dan perpustakaan Institut Teknologi Timur India, Adapun hasilnya dipaparkan sebagai berikut: Prinsip-Prinsip Kebijakan Pengembangan Koleksi Prinsip-prinsip kebijakan yang dianut oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dapat menjadi acuan bagi perpustakaan lainnya, terdiri dari beberapa kebijakan yang menjadi patokan dalam pengambilan keputusan yakni : 1. Sumber Daya Manusia Proses pengembangan koleksi agar dapat berjalan optimal sebaiknya melibatkan beberapa pihak, diantaranya: 1) Penanggung Jawab: Penanggungjawab dalam proses pengembangan adalah Kepala Pusat Pengembangan Koleksi dan Pengelolaan Bahan Pustaka. 2) Pelaksana: Pelaksana dapat berupa : Pustakawan, koordinator lapangan, tim seleksi dan sebagainya. 2. Alat Bantu Seleksi dan Verifikasi Alat bantu seleksi dan verifikasi ini diantaranya yaitu : katalog, bibliografi, brosur, resensi buku, direktori, pangkalan data, desiderata, daftar bahan Pustaka yang dipesan, dan lain sebagainya. 3. Tahap kegiatan Kebutuhan pemustaka dapat kita ketahui dengan mengadakan survey, cara yang dilakukan yaitu dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan dalam bentuk quesioner kepada pemustaka yang berisi pertanyaan apa saja literatur yang dibutuhkan oleh pemustaka, hal lain yang bisa dilakukan yaitu dengan mencari koleksi-koleksi terbaru dengan mengunjungi penerbit, toko-toko buku, pamera buku, kegiatan beda buku dan sebagainya. Selanjutnya kita juga bisa bertanya dan mendapatkan masukan terkait hasil kajian dari kebutuhan pemustaka dari perpustakaan lain, organisasi profesi dan lembaga swasta ataupun pemerintah. Visi dan misi perpustakan akan menentukan alat seleksi berupa sarana dan prasarana yang diperlukan untuk mimilih bahan perpustakaan yang akan diadakan terlebih dahulu, Seleksi bahan perpustakaan, Administrasi Pemberkasan, dan Pengadaan. 4. Pendanaan 5. Ketentuan Pengadaan Bahan Perpustakaan 6. Jenis Bahan Perpustakaan 7. Hubungan dengan unit kerja terkait (Kepala Pusat Pengembangan Koleksi dan Pengolahan Bahan Pustaka, 2018) Pengembangan Koleksi Di Perpustakaan Uk Inggris / Collection Development In Uk University Libraries Pengembangan koleksi adalah kegiatan inti dalam perpustakaan akademik Inggris. Perpustakaan akademik Inggris telah membuat kebijakan pengembangan koleksi yang mencerminkan kebutuhan komunitas masing-masing untuk mendukung misi pendidikan dan penelitian lembaga induk mereka dan, dalam banyak kasus, untuk menekankan keunikan koleksi lokal mereka. Pengembangan koleksi secara rutin dilakukan, meskipun tidak selalu harus diartikulasikan secara eksplisit. Pembahasan ini berisikan tentang pengembangan koleksi di perpustakaan UK Inggris yang dilihat dari artikel Collection development in UK university libraries yang ditulis oleh Stuart Hunt (Hunt, 2017) ditinjau dari prinsip pengembangan koleksi perpustakaan nasional Indonesia (Kepala Pusat Pengembangan Koleksi dan Pengolahan Bahan Pustaka, 2018) yaitu : Sumber Daya Manusia Sumber daya manusia berfungsi sebagai penggerak dan pengolah dalam proses pengembangan koleksi pada suatu instansi, perpustakaan UK Inggris juga tentunya memiliki sember daya manusia yang ditugaskan langsung untuk menangani bagian pengembangan koleksi. 1. Penanggung Jawab Pelaksanaan kegiatan pengembangan koleksi pada perpustakaan ini tentunya diketuai oleh kepala perpustakaan pusat. 2. Pelaksana Perpustakaan Universitas Inggris, sama dengan institusi di tempat lain, secara historis melakukan pengembangan koleksi. Kegiatan pengembangan koleksi telah dinilai sebagai kegiatan profesional bagi pustakawan, pustakawan melakukan pengembangan koleksi merupakan suatu bentuk dari dedikasi yang tinggi terhadap pengguna dalam membantu menunjang koleksi yang dibutuhkan. Pustakawan dibantu oleh pengajar atau dosen yang ada di UK Inggris, dosen-dosen yang ada pada fakultas masing-masing melaporkan koleksi apa yang dibutuhkan oleh mahasiswanya untuk diadakan di perpustakaan. Selama beberapa tahun terakhir di universitas-universitas Inggris, telah terjadi perubahan yang diperkenalkan melalui penataan ulang staf yang telah menghilangkan peran pustakawan subjek tradisional atau mengubah fokusnya. Ini memiliki efek yang tak terhindarkan pada perkembangan koleksi lokal. Alat Bantu Seleksi dan Verifikasi Alat bantu seleksi dan verifikasi yang ada di perpustakaan UK inggris yakni : buku pedoman kebijakan pengembangan koleksi, trik strategi konten, katalog penerbit, daftar harga koleksi serta daftar buku yang sudah disetujui untuk diadakan. Tahap Kegiatan 1. Survei Kebutuhan Pemustaka Pekerjaan membangun koleksi melalui seleksi terfokus ini dilakukan pada tingkat mata pelajaran oleh pustakawan yang ditunjuk untuk mendata mata pelajaran yang setara, dalam yang berhubungan dengan fakultas akademik untuk memastikan bahwa sumber daya yang memadai mendukung pengajaran, pembelajaran dan penelitian. Pustakawan mata pelajaran bertanggung jawab atas dana untuk koleksi buku mata pelajaran, yang telah dialokasikan menurut formula lokal, termasuk jumlah mahasiswa dan biaya rata-rata untuk buku-buku dalam mata pelajaran tertentu. Pustakawan setelah melakukan pendataan kemudian berhak menentukan berapa jumlah judul dan eksemplar yang akan diadakan. 2. Mengumpulkan alat seleksi Alat seleksi yang digunakan perpustakaan inggris adalah masukan dari para dosen, mahasiswa serta akademika selingkup, saran mahasiswa ditampung dan dianlisis tetapi belum menggunakan koesioner yang disebarkan secara luas tetapi menggunakan NSS atau National Student Survey , NSS memiliki satu pertanyaan tentang perpustakaan, Pertanyaan 16, “Sumber daya dan layanan perpustakaan cukup baik untuk kebutuhan saya”, yang ditandai oleh responden survei pada skala setuju atau tidak setuju. seleksi selanjutnya dengan melihat konten serupa dengan mempertimbangkan judul buku, keterbaruan informasi, tahun terbit dan deskripsi bibliografinya. 3. Seleksi bahan perpustakaan Pustakawan menentukan tentang berapa koleksi yang diperlukan untuk setiap bahan ajar dan bahan bacaan, serta menentukan jumlah judul buku dan jumlah salinan. Keputusan tentang pengembangan koleksi ini dapat lebih mudah dibuat dengan berbasis formula oleh staf akuisisi atau pengadaan. Perubahan peran dan meningkatnya variasi keperluan koleksi di akademik yang menyertakan manajemen hubungan, pengembangan koleksi semakin harus disingkirkan dari pustakawan subjek. Perubahan ini telah memberi perpustakaan peluang baru, terutama untuk bergerak menuju pengambilan keputusan berbasis data dan dalam menggunakan data dengan cara yang baru bagi pustakawan. cara yang dilakukan yaitu dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan dalam bentuk quesioner kepada pemustaka yang berisi pertanyaan apa saja literatur yang dibutuhkan oleh pemustaka, hal lain yang bisa dilakukan yaitu dengan mencari koleksi-koleksi terbaru dengan mengunjungi penerbit, toko-toko buku, pamera buku, kegiatan beda buku dan sebagainya. Selanjutnya kita juga bisa bertanya dan mendapatkan masukan terkait hasil kajian dari kebutuhan pemustaka dari perpustakaan lain, organisasi profesi dan lembaga swasta ataupun pemerintah. Pengembangan konten bergerak melampaui batas perpustakaan dan keluar ke komunitas perpustakaan. Peran pustakawan subjek, sebagai penghubung dan mediator dalam proses pengembangan konten, telah terkikis, dan pengambilan keputusan dipindahkan dari pusat. Perpustakaan inggris bekerjasama dengan skema rekomendasi untuk judul tertentu, penawaran layanan baru dan penggerak kelembagaan yang lebih luas memperkenalkan perkembangan baru. National Student Survey (NSS), diselesaikan setiap tahun oleh mahasiswa sarjana. NSS telah berperan dalam membawa perubahan pada praktik pengembangan konten perpustakaan. NSS memiliki satu pertanyaan tentang perpustakaan, Pertanyaan 16, “Sumber daya dan layanan perpustakaan cukup baik untuk kebutuhan saya”, yang ditandai oleh responden survei pada skala setuju atau tidak setuju. Skor institusional yang merupakan hasil dari survey melalui tingkatan pertanyaan dan menurut disiplin akademik menjadi patokan dalam pengembangan koleksi. Komentar teks bebas juga tersedia untuk institusi, dimana mahasiswa dapat berkomentar tentang pendapatnya terhadap kebutuhan koleksi pada suatu instansi. Tanggapan-tanggapan ini digunakan oleh universitas Inggris untuk mengidentifikasi area-area yang kinerjanya kurang baik dan untuk mengembangkan strategi-strategi respons yang luas dan berbasis disiplin. Tanggapan khas di seluruh sektor adalah menargetkan pengeluaran sumber daya, baik dari dalam sumber daya yang ada atau sebagai sumber daya tambahan yang disediakan oleh universitas induk, di bidang studi yang kinerjanya kurang baik. Tanggapan termasuk membeli salinan tambahan dari judul tertentu, membeli konten baru tambahan dan secara selektif menggunakan akuisisi yang didorong oleh patron atau berbasis bukti. Respons ini, pada dasarnya, menggeser pengembangan konten dari perpustakaan kepada mahasiswa. 4. Administrasi Pemberkasan Administrasi mengenai pemberkasan sepenuhnya dikendalikan oleh perpustakaan UK Inggris. 5. Pengadaan Pengembangan koleksi yang didorong oleh patron telah muncul melalui adopsi yang luas dari akuisisi yang didorong oleh patron (atau didorong oleh permintaan). Ini telah menyerahkan pemilihan konten kepada pengguna perpustakaan daripada spesialis yang berpotensi terpusat di dalam perpustakaan. Setelah kesibukan awal dari aktivitas patron driven acquisition (PDA) di perpustakaan akademik Inggris, telah terjadi penarikan kembali atau pendefinisian ulang tentang bagaimana PDA digunakan. Ini tidak sedikit karena pertimbangan keuangan dan model penetapan harga yang tersedia. Akuisisi biasanya melalui pembelian dan juga Kerjasama berbasis bukti meningkat di Inggris, karena model penerbit lebih cocok untuk penganggaran yang dapat diprediksi oleh perpustakaan yang melihat ini sebagai cara untuk meningkatkan kepuasan mahasiswa dan luasnya penyediaan konten. Seperti PDA, keputusan pengembangan didasarkan pada penggunaan judul tertentu tetapi mempertahankan mediasi di pusat dari perpustakaan untuk keputusan pembelian akhir. Sejauh ini, akuisisi berbasis bukti memainkan peran yang lebih berhati-hati dan lebih menghindari risiko dalam pengembangan konten. Perpustakaan dan pengembangan kontennya harus sesuai dengan kebutuhan institusional. tentu saja, ini bukan hal yang buruk, karena memastikan bahwa perpustakaan menyediakan akses ke konten yang sesuai untuk mendukung mahasiswa dalam menjalani pendidikan mereka. Perkembangan ini berbobot mendukung tri darma pendidikan yakni kebutuhan penelitian, Pengajaran, dan pengalaman pendidikan. Selain itu memberikan dampak yang signifikan melalui daftar bacaan koleksi yang diajarkan, tugas perpustakan juga memastikan bahwa bacaan yang direkomendasikan tersedia untuk mahasiswa, penekanan yang nyata secara lebih lanjut dengan mengadopsi perangkat lunak daftar bacaan dalam skala luas di perpustakaan universitas Inggris. Pendanaan Perpustakaan sering menghabiskan banyak anggaran mereka untuk PDA (patron driven acquisition), permintaan pengembangan koleksi tentunya diseimbangkan dengan anggaran rutin dan melihat dalam beberapa kasus, apa yang mereka yakini sebagai pengembalian yang sangat kecil dari investasi itu. Ini khususnya kasus di mana pinjaman jangka pendek telah menyumbang sebagian besar pengeluaran PDA, dan perpustakaan tidak melihat adanya kepemilikan setelah biaya ini. Namun, mungkin, ini juga merupakan sisa dari pendekatan penjaga konten, yang masih ingin melihat kepemilikan sebagai misi utama perpustakaan. Ini mungkin belum tentu selaras dengan pengalaman pengguna yang ingin mengakses konten pada waktu dan tempat yang mereka pilih. Hanya model penetapan harga penerbit yang menahan adopsi PDA yang lebih luas karena, meskipun perpustakaan mengakui manfaat yang jelas, mereka tidak melihat model keuangan berkelanjutan untuk mendukungnya. Pengenalan PDA untuk artikel jurnal, yang sampai batas tertentu hanya perpanjangan dari pendekatan untuk pembelian artikel individu, berpotensi akan tarif yang sama dan belum, menerima pengambilan skala luas. Di perpustakaan akademik Inggris. Ketentuan Pengadaan Bahan Perpustakaan Perangkat lunak daftar bacaan memungkinkan akademisi untuk mengkompilasi daftar bacaan mereka secara online dan membaginya dengan perpustakaan untuk tujuan pengadaan konten, seringkali dalam konteks khusus hal ini diperlukan dalam lingkungan belajar virtual mereka. Meningkatnya penekanan pada daftar bacaan dan penyediaan bacaan kursus mengubah fokus pengembangan konten atau koleksi, menggeser penekanan dari pengembangan untuk kepentingannya sendiri, dan menggantikannya sebagai kegiatan instrumental yang secara langsung mendukung kebutuhan pendidikan. Tanggung jawab diambil dari perpustakaan dan ditempatkan pada individu akademik. Daftar bacaan, dan perangkat lunak daftar bacaan, adalah siklus yang terus-menerus di mana meningkatkan adopsi di seluruh universitas. Di beberapa universitas di Inggris, ada mandat institusional untuk penggunaan daftar bacaan dan pembuatan daftar dalam aplikasi daftar bacaan tertentu yang digunakan di universitas. Adopsi perangkat lunak daftar bacaan secara luas, dan dalam banyak kasus, pembelian otomatis berdasarkan daftar, juga dapat memiliki implikasi penganggaran untuk perpustakaan dan bagaimana anggaran konten tradisional dibagi. Dengan meningkatnya penekanan pada pemenuhan persyaratan pendidikan, langkah logis berikutnya adalah beralih dari anggaran mikro, di mana masing-masing subjek memiliki anggaran sendiri. Sebaliknya apa yang sekarang muncul adalah pergerakan menuju penganggaran di tingkat kategori yang lebih tinggi, dibagi dengan persyaratan yang berbeda seperti daftar bacaan dan kebutuhan penelitian. Penerbitan monografi Open Access (OA) meningkat baik dengan pers universitas baru atau yang baru bangkit kembali di Inggris. Knowledge Unlatched, yang menawarkan perpustakaan untuk secara kolektif “membuka” monograf menjadikannya OA, menyajikan model yang menarik. Ini, pada dasarnya, adalah pengembangan konten kolaboratif, karena Knowledge Unlatched membutuhkan banyak institusi untuk menjanjikan uang di muka untuk mendapatkan dana yang signifikan untuk merilis judul. Jumlah judul meningkat dari tahun ke tahun, dengan tahun 2016 terdiri dari 343 judul. Ini merupakan peningkatan yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun mengakui ini sebagai pengembangan konten kolaboratif, hal itu menimbulkan pertanyaan apakah perpustakaan berkomitmen pada konten, karena mereka percaya pada prinsip-prinsip dasar OA di atas dan di luar konten aktual yang tersedia. Jenis Bahan Perpustakaan Koleksi yang ada pada perpustakaan inggris tidak hanya berbentuk buku saja, perpustakaan ini lebih fokus kepada koleksi konten informasi, Koleksi adalah artefak fisik, atau koleksi artefak, yang dipahami sebagai totalitas yang dimiliki dan dikuratori oleh perpustakaan, juga terdepat koleksi dan arsip khusus baik cetak maupun digital. Untuk digital, perpustakaan bukan penjaga tetapi hanya fasilitator, memungkinkan akses ke konten. Oleh karena itu, tugas perpustakaan digeser ke akses dan fasilitasi yang jauh dari kustodian dan kurasi, yaitu, di mana konten komersial terlibat, ditangani oleh pihak ketiga. Bahkan konten digital lokal, dari konten repositori, data penelitian hingga koleksi digital. Hubungan dengan Unit Kerja Terkait Perpustakaan UK inggris memiliki suatu badan yang disebut UK Research Reserve (UKRR) bertujuan untuk membuat koleksi penelitian nasional terdistribusi untuk kepemilikan serial: UK Research Reserve (UKRR) adalah koleksi penelitian nasional terdistribusi kolaboratif yang dikelola oleh kemitraan antara sektor Pendidikan Tinggi dan British Library. Hal ini memungkinkan perpustakaan Perguruan Tinggi untuk menghilangkan duplikasi kepemilikan jurnal mereka dari sebuah judul jika dua salinan dipegang oleh anggota UKRR lainnya, memastikan akses berkelanjutan ke jurnal yang jarang digunakan, sementara memungkinkan perpustakaan untuk melepaskan ruang untuk memenuhi kebutuhan pengguna mereka yang bervariasi (UKRR, 2016). Program ini hanya melibatkan sekelompok kecil perpustakaan universitas intensif penelitian di Inggris, bersama dengan British Library. Meskipun tahap awal proyek ini didukung oleh Higher Education Funding Council for England (HEFCE), skema ini sekarang menghadapi persyaratan untuk mandiri. Program ini telah memungkinkan perpustakaan untuk secara signifikan mengurangi kepemilikan serial lokal mereka dan untuk mengidentifikasi judul-judul, volume dan isu-isu yang perlu dipertahankan. Ada ketegangan yang melekat dalam UKRR antara misi untuk membuat koleksi penelitian terdistribusi nasional di tingkat “lembaga di atas”, sedangkan lembaga individu menggunakan skema untuk membuang seri yang, dalam banyak kasus, tidak berguna dan menempati sejumlah besar ruang rak. UKRR mensyaratkan bahwa dua perpustakaan lain memiliki judul sebelum mengkonfirmasikan bahwa suatu lembaga individu dapat membuang judul yang dipegang secara lokal. Langkah selanjutnya yang sangat jelas untuk UKRR, dan yang sedang diselidiki secara aktif (mulai Musim Panas 2016), adalah memperluas skema untuk memasukkan monografi. Ini adalah permintaan lama dari akademisi Inggris dan perpustakaan anggota UKRR dan, jika itu berhasil, akan sangat populer. Sekali lagi, ketegangan UKRR yang telah diidentifikasi sebelumnya akan tetap ada dengan retensi dan pelepasan sebagai pendorongnya. Banyak institusi memiliki toko atau toko fisik lokal mereka sendiri yang seringkali dapat menimbulkan investasi keuangan berulang yang signifikan. Tantangan yang terus berkembang dari toko fisik diperparah untuk institusi dengan lokasi berbasis kota atau di area dengan biaya real estat utama. Biaya real estat pusat kota membuat penggunaan real estat utama untuk penyimpanan menjadi penggunaan keuangan yang buruk dan tidak tepat. Biaya real estat regional yang tinggi dapat mengakibatkan toko. Pengembangan Koleksi di Perpustakaan Institut Teknologi Timur/Collection Develoment Practice In Indian Institute OF Technology Libraries Of Eastern India Indian Institutes of Technology (IITs) adalah lembaga bergengsi untuk pendidikan teknik dan penelitian teknologi. Selama bertahun-tahun, Pemerintah India telah membentuk IIT baru untuk mengatasi tantangan teknologi di bidang penelitian dan memenuhi kebutuhan manusia akan pendidikan di bidang teknik. Sebagai Lembaga Pendidikan tentunya peran perpustakaan sangat penting dalam menunjang kebutuhan koleksi pengguna dalam pemenuhan kebutuhan informasi, maka dari itu perpustakaan IITS memiliki suatu aturan pengembangan koleski (Gulnaz & Fatima, 2019:26), pengembangan koleksi yang ada pada perpustakaan Institut teknologi timur india dapat dipahami menggunakan prinsip perpustakaan nasional republik Indonesia (Kepala Pusat Pengembangan Koleksi dan Pengolahan Bahan Pustaka, 2018) sebagai berikut : Sumber Daya Manusia Perpustakaan ini terdapat di dua tempat yakni perpustakaan IIT Guwahati dan Perpustakaan Pusat IIT Patna. 1. Penanggung jawab Kepala Pusat Pengembangan Koleksi dan Pengolahan Bahan Pustaka bertangung jawab dalam proses pelaksanaan pengembangan koleksi. 2. Pelaksana Pelaksana kegiatan ini adalah pustakawan yang mempertimbangkan berbagai tanggapan yang berbeda mengenai pemilih/ rekomendasi koleksi, preferensi diberikan untuk pemilihan koleksi, dan faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan koleksi. Di perpustakaan IIT Patna, komite perpustakaan bertanggung jawab atas kebijakan pengembangan koleksi serta merekomendasikan pemilihan sumber daya, sedangkan di perpustakaan IIT Guwahati panitia bertanggung jawab atas kebijakan pengembangan koleksi dan pemilihan sumber daya atas rekomendasi dosen. Alat Bantu Seleksi dan Verifikasi Proses pengembangan koleksi di perpustakaan IIT dilakukan melalui seleksi, perolehan sumber daya sesuai permintaan pengguna melalui survei, kebijakan pengembangan koleksi dan anggaran yang dialokasikan untuk perpustakaan dari institusi induk. Tahap Kegiatan 1. Survei Kebutuhan Pemustaka Dilakukan dengan menyebarkan angkt survei kepada pemustaka, dan dosen yang ada di lingkungan institute teknologi India. 2. Mengumpulkan alat seleksi Perpustakaan IIT Patna dan IIT Guwahati mempertimbangkan “umpan balik pengguna” untuk pemilihan sumber daya di perpustakaan.Bersamaan dengan itu, IIT Patna juga mempertimbangkan rekomendasi fakultas untuk pemilihan sumber koleksi. Namun, di kedua perpustakaan IIT, "kebutuhan pengguna" adalah faktor utama dalam pemilihan koleksi. Hal ini didapat dari hasil survei tahunan yang diselenggarakan oleh pihak institusi. 3. Seleksi bahan perpustakaan Manajemen koleksi adalah proses mengembangkan dan memelihara sumber daya yang ada untuk melayani kebutuhan pengguna. pengelolaan koleksi meliputi akses pemeliharaan sumber daya, verifikasi stok, penyiangan, keamanan perpustakaan dan pelestarian sumber daya. Untuk aksesibilitas sumber daya, hanya OPAC yang digunakan di perpustakaan IIT Patna, sedangkan di IIT Guwahati, akses terbuka dan OPAC Web digunakan. Mengenai verifikasi stok di perpustakaan IIT Patna, sumber dayanya diverifikasi setiap tahun. Berbeda sehubungan dengan proses penyiangan; misalnya IIT Patna melakukan penyiangan setiap tahun sementara IIT Guwahati melakukan penyiangan sesekali karena penggunaan sumber daya yang tinggi oleh pengguna. Untuk keamanan perpustakaan, kedua perpustakaan menggunakan identifikasi frekuensi radio. Kedua perpustakaan tidak melestarikan koleksi umum tetapi melestarikan sumber daya langka. 4. Administrasi Pemberkasan Kajian ini mengungkapkan bahwa penilaian IIT terkait pengembangan koleksi diambil oleh komite perpustakaan/panitia penasehat untuk mengikuti kebijakan pengembangan koleksi sesuai dengan tuntutan/kebutuhan pengguna. Pemilihan sumber daya sepenuhnya tergantung pada rekomendasi dari anggota fakultas dan pengguna. 5. Pengadaan Akuisisi dan pengadaan sumber daya di perpustakaan IIT. Mengenai langkahlangkah yang diikuti dalam akuisisi, setiap perpustakaan mengikuti langkahlangkah yang sama sekali berbeda. Misalnya, di IIT Patna, "mengidentifikasi berbagai pilihan harga," "meninjau lisensi" dan "memverifikasi statistik pengguna" diamati, sedangkan di IIT Guwahati, "memverifikasi konten setelah menerima sumber daya", "mengidentifikasi berbagai harga opsi jika diskon diberikan oleh penerbit" dan "meninjau lisensi jika diperlukan untuk berlangganan" diamati. Ada berbagai mode pembelian/langganan sumber daya oleh IIT. Tanggapannya berbeda sehubungan dengan mode pembelian/langganan sumber daya. Di IIT Patna, pembelian/langganan sumber daya melalui kutipan dari vendor/distributor dan berlangganan atas dasar persetujuan diamati, sedangkan di IIT Guwahati, sumber daya yang dibeli melalui kutipan dari penerbit dan dari vendor/distributor, pesanan online dan dasar persetujuan Komite perpustakaan memiliki tanggung jawab untuk pengembangan koleksi e-resources dan hibah kelembagaan. Hal ini juga menyelidiki bahwa sumber daya telah diperoleh melalui vendor. Masalah dana yang tidak mencukupi merupakan salah satu masalah utama dalam pengembangan koleksi. Pendanaan Sumber daya yang diperoleh di IIT yang dipilih diidentifikasi oleh opsi harga dan meninjau lisensi sumber daya elektronik tetapi dengan mode akuisisi lain yang berbeda. Sungguh aneh bagaimana perpustakaan IIT Patna tidak memiliki masalah dalam memperoleh sumber daya, sementara IIT Guwahati menghadapi masalah yang sangat umum saat ini di setiap jenis perpustakaan, yaitu kekurangan dana, ledakan informasi dan literatur yang tersebar,keduanya telah menerima “anggaran rutin” dari “hibah lembaga” dan juga anggaran yang memadai karena dianggap sebagai Lembaga penting di India, IIT Patna menerima “anggaran terpisah untuk jurnal/database online”, tetapi IIT Guwahati tidak. IIT Perpustakaan Patna tidak menghadapi masalah saat memperoleh sumber daya; Namun, perpustakaan IIT Guwahati menghadapi tiga masalah mendasar, yaitu, “kekurangan dana”, “ledakan informasi”, dan “literatur berserakan”. Ketentuan Pengadaan Bahan Perpustakaan Ketentuan pengadaan bahan Pustaka dilakukan secara rutin sesuai dengan jadwal pengganggaran yang dikeluarkan oleh institute teknologi India, kegiatan pengadaan juga berdasarkan kebijakan pengembangan koleksi. Jenis Bahan Perpustakaan Perpustakaan IIT berada di bawah lingkup akademik dan perpustakaan khusus. Perpustakaan-perpustakaan ini memiliki koleksi yang memadai untuk mendukung penelitian yang lebih tinggi, baik secara teknis dan ilmiah. Koleksinya tidak hanya terbatas pada buku dan majalah, seperti di perpustakaan akademik, tetapi juga mencakup dokumen lain yang relevan bagi pengguna. Beberapa studi penelitian di India telah berfokus pada perpustakaan ini karena koleksi, kualitas layanan, infrastruktur, dan staf yang berkualitas. Hubungan dengan Unit Kerja Terkait Perpustakaan ini bekerjasama dengan seluruh perpustakaan yang ada di India baik dari Institut teknologi india maupun instansi lain dalam pemenuhan kebutuhan koleksi.
Conclusion
Kesimpulan dari penelitian ini yaitu perpustakaan melakukan kegiatan pengembangan koleksi agar keberlangsungan kegiatan inti di perpustakaan yaitu pemenuhan kebutuhan informasi bagi pemustaka dapat slalu terpenuhi dan pemustaka mampu mendapatkan beragam bahan pustaka yang dibutuhkannya. Kegiatan pengembangan koleksi tentunya memiliki suatu pedoman yang disebut pedoman kebijakan pengembangan koleksi, dimana setiap instansi mempunyai formatnya tersendiri yang dirasa sesuai dengan keadaan perpustakaan tersebut, baik ditinjau dari kemampuan sumber daya, kemampuan pendanaan, dan juga faktor pendukung lainnya. Pengadaan juga berpengaruh penting dalam pengembangan koleksi, pengadaan bisa dilakukan melalui pembelian, Kerjasama, tukar-menukar, maupun hibah yang sudah disepakati masing-masing perpustakaan, perawatan dan penyiangan koleksi juga termasuk dalam hal pengembangan koleksi karena untuk meminimalisir keusangan informasi. Dari paparan di atas diharapkan proses pengembangan koleksi yang ada diseluruh perpustakaan tetap konsisten dan terus diperbaiki sistemnya termasuk sistem penganggaran karena hal ini menjadi penentu dalam kelancaran pengembangan koleksi.