Strategi Menumbuhkan Minat Baca Pada Taman Bacaan Masyarakat Inara Desa Kubang Jaya Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar
Universitas Riau; Universitas Riau; Universitas Riau
Abstrak
Salah satu upaya yang dapat secara efektif menumbuhkan minat baca masyarakat adalah melalui kegiatan TBM (Taman Bacaan Masyarakat). Penelitian ini bertujuan untuk menemukan strategi menumbuhkan minat baca melalui kegiatan khususnya di masyarakat Dusun IV, Desa Kubang Jaya, Kabupaten Kampar. Data pengkajian dalam riset ini meliputi data literatur, observasi lapangan dan keterangan narasumber yang terdiri dari pemuka masyarakat, pemuda, orangtua, anak usia dini (Paud dan TK), siswa SD dan SMP sederajat, serta anak SMA sederajat. Data teoritis digali melalui berbagai penelitian terdahulu dan referensi pendukung, serta keterangan ahli (pustakawan dan pegiat TBM di Provinsi Riau). Melalui pendekatan kualitatif menggunakan analisis SWOT, ditemukan beberapa strategi yang dapat diimplementasikan, yakni: (1). Melakukan pendataan kondisi lingkungan masyarakat untuk pembangunan lingkungan membaca, (2). Menyelenggarakan kegiatan baca buku dan lomba cerita, (3). Mengadakan kegiatan lomba resensi buku bersama Forum TBM, dan (4). Menyelenggarakan kegiatan dongeng. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk meningkatkan minat baca masyarakat di Dusun IV, Desa Kubang Jaya, Kabupaten Kampar, perlu dilakukan pelaksanaan keempat strategi tersebut dalam program yang terintegrasi dengan TBM Inara sebagai pusat kegiatan penumbuhan minat baca di area tersebut.
Abstract
One effort that can effectively foster people's interest in reading is through TBM (Community Reading Gardens) activities. This research aims to find strategies to foster interest in reading through activities, especially in the Dusun IV community, Kubang Jaya Village, Kampar Regency. The study data in this research includes literature data, field observations and information from sources consisting of community leaders, youth, parents, early childhood (preschool and kindergarten), elementary and middle school students and equivalent, as well as high school students and equivalent. Theoretical data was extracted through various previous research and supporting references, as well as expert information (librarians and TBM activists in Riau Province). Through a qualitative approach using SWOT analysis, several strategies were found that could be implemented, namely: (1). Collecting data on community environmental conditions for the development of a reading environment, (2). Organizing book reading activities and story competitions, (3). Holding book review competition activities with the TBM Forum, and (4). Organizing fairy tale activities. The results of the research show that to increase people's reading interest in Dusun IV, Kubang Jaya Village, Kampar Regency, it is necessary to implement these four strategies in an integrated program with TBM Inara as the center for activities to increase reading interest in the area.
Keywords:
minat baca
· taman bacaan masyarakat
· perpustakaan
· bahan pustaka
Introduction
Minat baca dianggap sebagai kunci untuk memajukan bangsa, dan untuk mencapai hal tersebut, penting untuk terus mengembangkan minat baca dalam masyarakat. Taman Bacaan Masyarakat (TBM) menjadi pusat literasi yang berperan sebagai tempat bermain, belajar, dan pengembangan minat baca (Ayuningtyas et al., 2021). Program literasi melalui TBM, mendapat dukungan dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) dan telah diatur dalam Undang-Undang No 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan. Dalam pasal 14 dinyatakan pemerintah wajib membina TBM, di antaranya meliputi: a. Pendidikan pelatihan, b. Penyediaan koleksi, c. Promosi membaca, d. Sarana prasarana, serta e. Sinergi dan kerjasama. TBM Inara, sebagai salah satu institusi mandiri di Desa Kubang Jaya, Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar Provinsi Riau, bertujuan mendukung program pemerintah dalam menumbuhkan minat baca di tengah-tengah masyarakat. Kegiatan yang dilakukan meliputi: a. Penyediaan koleksi, b. Promosi membaca melalui kegiatan pekan ceria, c. Donasi buku, serta d. Kegiatan lomba terkait literasi seperti lomba membaca, lomba cerita, lomba resensi dan sebagainya. Berdasarkan observasi lapangan ditemukan bahwa TBM Inara selalu membuka layanan kunjung TBM setiap hari sabtu dan minggu. TBM tersebut juga beberapa kali melakukan kegiatan literasi yang melibatkan berbagai pihak, seperti kegiatan Pengabdian masyarakat di bukan Agustus 2022, kegiatan Pekan Ceria mendatangkan Kampung Dongeng Indonesia pada tanggal 30 Juli 2023, Lomba membaca tanggal 3 September 2023, Lomba resensi tanggal 10 September 2022, serta lomba dongeng pada tanggal 24 September 2023. Meskipun TBM Inara dihadapkan pada berbagai keterbatasan, termasuk sumber daya yang minim, namun berbagai kegiatan yang dilakukan berlangsung dengan semarak dan mendapat dukungan warga. Berdasarkan keterangan dari pemuka masyarakat, yaitu Ketua RT. 02 Dusun IV Kasang Kulim, diperoleh gambaran bahwa warga Dusun ini mayoritas adalah keluarga muda yang memiliki anak rentang usia PAUD sampai dengan SMA sederajat. Kondisi ini memberi corak tersendiri dalam membentuk perilaku generasi muda menghadapi hadirnya TBM di tengah-tengah mereka. Berdasarkan kondisi tersebut menurut peneliti penting dilakukan strategi yang paling sesuai. Dalam menentukan strategi yang paling sesuai, tim peneliti memanfaatkan analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, threat) metode untuk menentukan strategi prioritas. Strategi yang dihasilkan melalui analisis SWOT diduga akan turut membantu TBM Inara menentukan program yang paling relevan untuk menumbuhkan minat baca masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan strategi menumbuhkan minat baca melalui kegiatan khususnya di masyarakat Dusun IV, Desa Kubang Jaya, Kabupaten Kampar, yang di dalamnya terdapat TBM Inara. Dengan penelitian strategi menumbuhkan minat baca pada TBM Inara, diharapkan akan memberikan kontribusi positif terhadap upaya pemerintah dalam menumbuhkan minat baca. Manfaat lainnya adalah untuk menjadi referensi penting bagi peneliti selanjutnya dalam penumbuhan minat baca masyarakat melalui TBM. Penelitian ini penting sekali untuk dilakukan, mengingat saat ini pemerintah dan para pegiat literasi tengah gencar-gencarnya mencari strategi yang efektif dalam menumbuhkan minat baca masyarakat (Rohim & Rahmawati, 2020). Tujuan akhirnya adalah untuk meningkatkan kebudayaan kegemaran membaca (Pasal 13 UU No. 43 Tahun 2007), yang menyatakan bahwa pembudayaan kegemaran membaca dapat dilakukan melalui: penyediaan koleksi beragam serta berkualitas, penyelenggaraan layanan perpustakaan, meningkatkan kapasitas serta kompetensi para pustakawan, bekerjasama dengan berbagai pihak, juga sosialisasi serta kampanye gemar membaca. Dalam upaya menumbuhkan kegemaran membaca tersebut, penelitian ini berperan menemukan strategi penumbuhan kegemaran membaca tersebut yang paling sesuai dengan kondisi masyarakat, terutama di Dusun IV Kasang Kulim. Jika strategi yang ditemukan sesuai, diharapkan akan membantu upaya pencapaian penumbuhan kegemaran membaca secara efektif dan tepat sasaran. Tinjauan Pustaka Minat baca sebagai sebuah konsep, yang telah berkembang sejak pertengahan abad ke-20, yang merupakan landasan penting bagi pertumbuhan peradaban manusia (Firman at al., 2021). Kesadaran akan urgensi penumbuhan minat baca muncul seiring terbuktinya korelasi positif antara tingkat peradaban yang tinggi dan masyarakat yang gemar membaca. Guthrie dan Perencevich memperkenalkan konsep ini pada tahun 2004, dengan mengemukakan gagasan bagaimana minat baca mendorong perkembangan sosial dan intelektual masyarakat. Salah satu referensi penting pada saat itu adalah artikel berjudul "Motivating Reading Comprehension: Concept-Oriented Reading Instruction," yang memberikan penjelasan mengenai faktor-faktor yang memotivasi kelompok orang untuk membaca. Artikel tersebut menyoroti pentingnya memahami konsep-konsep membentuk perilaku membaca, merangsang minat baca dan motivasi membaca secara konsisten serta berkesinambungan. Dengan menginternalisasi nilai-nilai motivasi tersebut, terbentuk budaya minat baca yang kuat, yang akan pendorong kemajuan peradaban (Rokmana at al., 2021). Motivasi untuk membaca tidak hanya untuk merangsang pertumbuhan individu, tetapi juga bagi keseluruhan masyarakat di sekitarnya (Falk-Ross, 2020), serta bukan proses yang sebentar, melainkan tumbuh berkelanjutan (Firman at al., 2021). Seiring berjalannya waktu, konsep minat baca terus berkembang dan menjadi landasan penting dalam upaya penumbuhan minat baca secara keseluruhan (Firman et al., 2021). Nursalina (2014) mendefinisikan minat baca sebagai kecenderungan untuk menyadari, mengetahui dan memahami akan pentingnya kandungan bahan bacaan. Kecenderungan itu tergambar melalui perhatian terhadap aktivitas membaca buku, pengungkapan kegemaran dan ketertarikan yang tinggi terhadap membaca buku, serta rasa senang yang tergambar ketika melakukan aktivitas membaca. Indikator lain adalah tingginya frekuensi membaca, yang terbangun dari aktivitas yang terus menerus dan berkesinambungan. Minat baca merupakan kecenderungan atau keinginan seseorang untuk terlibat dalam aktivitas membaca secara sukarela dan tanpa paksaan (Skaalvik, 2018). Dalam penelitian minat baca, penting untuk memahami konsep membaca, serta instruksi yang mendorong masyarakat menumbuhkan keinginan membaca (Falk-Ross, 2020). Konsep membaca mengalami perkembangan, yang awalnya hanya berkenaan dengan membaca dalam arti melek huruf, menjadi lebih luas lagi, yaitu memahami secara mendalam kandungan bahan bacaan. Perkembangan makna membaca mengarah kepada keinginan orang untuk mengetahui sesuatu dan menginterpretasikan isi dari pengetahuan yang didapatkan. Terkait hal ini, Gambrell & Morrow (2016) mempublikasikan “Best practices in literacy instruction”, yang menggambarkan arah pengembangan saat ini untuk memicu motivasi membaca, serta praktik terbaik dalam memberikan instruksi literasi membaca, termasuk strategi membangun dan mempertahankan kegemaran baca di kalangan anak-anak dan remaja. Sejak saat itu, beberapa konsep literasi membaca digalakkan di berbagai tempat, sampai merambah ke banyak negara termasuk Indonesia. Perkembangan tersebut sejalan dengan program pemerintah berupa Gerakan Pemasyarakatan Minat Membaca (GBMP) yang dicanangkan melalui Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas). Pemerintah Indonesia telah menunjukkan perhatian yang besar dalam upaya peningkatan minat baca melibatkan masyarakat, terutama setelah diundangkan melalui UU No 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan. Dalam undang-undang tersebut dinyatakan dalam Pasal 49 bahwa Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat mendorong tumbuhnya taman bacaan masyarakat dan rumah baca untuk menunjang pembudayaan kegemaran membaca. Pada pasal 50 dinyatakan bahwa Pemerintah dan pemerintah daerah memfasilitasi dan mendorong pembudayaan kegemaran membaca dengan menyediakan bahan bacaan bermutu, murah, dan terjangkau serta menyediakan sarana dan prasarana perpustakaan yang mudah diakses. Penumbuhan minat baca melalui Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Peran TBM yang dijelaskan oleh undang-undang meliputi kegiatan menyediakan bahan bacaan bermutu, murah, dan terjangkau serta menyediakan sarana dan prasarana perpustakaan yang mudah diakses (UU No. 43 Tahun 2007 Pasal 50). Konsep penumbuhan minat baca melalui TBM melibatkan kegiatan penumbuhan minat individu atau kelompok dalam membaca dan berinteraksi dengan buku di lingkungan TBM disediakan untuk masyarakat umum. Minat ini tercermin secara jelas pada keinginan dan motivasi seseorang untuk terlibat dalam kegiatan membaca sendiri maupun bersama (Kurniawan et al., 2021). Merga (2016) menjelaskan peran taman bacaan masyarakat dalam membangun kebiasaan membaca pada anak, sehingga menciptakan budaya membaca di lingkungannya. Lingkungan membaca memiliki pengaruh yang signifikan terhadap minat anak-anak untuk membaca, karena lingkungan yang mendorongnya untuk membaca akan mengubah perilaku seluruh masyarakat di dalamnya untuk aktif membaca. Model taman bacaan yang ramah anak dan ditata menarik akan mengakomodasi minat dan preferensi individu dalam memenuhi kebutuhannya terhadap suasana ruang baca. Dengan demikian, suatu strategi untuk mendapatkan model taman bacaan yang mendukung pertumbuhan minat baca akan penting untuk dikaji dan diteliti. Di dalam riset yang lain, Kim & Song (2019) menyoroti faktor-faktor yang mempengaruhi dorongan kesenangan orang terhadap perpustakaan, termasuk taman bacaan, serta dampaknya terhadap keinginan untuk kembali membaca. Secara umum mereka menjelaskan tentang hubungan antara kepuasan pengguna taman bacaan dengan pertumbuhan minat baca. Faktor tersebut meliputi tersedianya bahan bacaan yang cukup, suasana yang mendukung serta aktifitas orang lain yang ada di lingkungan tersebut. Orang yang berada dalam lingkungan yang banyak orang sedang membaca akan menarik individu untuk turut membaca, begitu juga sebaliknya. Dalam melakukan riset menumbuhkan minat baca aspek penting yang harus menjadi perhatian utama adalah aspek motivasi membaca. Aspek motivasi membaca ini merupakan variabel yang sangat menentukan keberhasilan menumbuhkan minat baca. Berkaitan dengan aspek motivasi ini, Mikkelsen & Lund (2018) menjelaskan bahwa faktor budaya mempunyai peran besar dalam mempengaruhi motivasi seseorang untuk membaca. Terkait peran TBM, ia menyoroti bahwa TBM memiliki peran yang besar dalam menciptakan budaya membaca pada masyarakat yang berbeda (Kurniawan et al., 2021). Dalam kondisi masyarakat lintas budaya (masyarakat yang memiliki perbedaan budaya), penyesuaian pendekatan akan mempengaruhi hasil pembentukan budaya tersebut. Oleh karena itu, strategi yang tepat perlu dicari agar sesuai dengan kondisi masyarakat yang ada, karena berbeda kondisi berbeda strategi yang dapat dilakukan. Yang & Wu (2019) menemukan fakta bahwa budaya lahir dari tengah keluarga. Dalam menumbuhkan budaya baca bagi anak-anak, faktor budaya dalam keluarga menjadi salah satu penentu keberhasilan menumbuhkan minat baca pada anak (Mehta et al., 2018). Ia menjelaskan bahwa ada pengaruh signifikan antara lingkungan keluarga dan minat baca anak-anak. Ia menjelaskan pentingnya faktor keluarga dalam membangun budaya baca anak-anak dalam jangka panjang. Budaya baca dalam keluarga akan mendorong kepala keluarga menjadi contoh dan fasilitator dalam kegiatan membaca (Mumpuni, 2019). Kepala keluarga akan mengarahkan anak untuk pergi ke taman baca untuk memenuhi kebutuhan membaca, bahkan kepala keluarga akan mendorong pengembangan taman bacaan di dalam rumahnya sendiri (Yang & Wu, 2019). Dalam konteks ini, kepala keluarga memiliki peran sebagai fasilitator dan motivator dalam membentuk taman baca di rumahnya, sedangkan TBM menjadi perluasan taman bacaan keluarga yang telah ada, yang akhirnya akan mempengaruhi keluarga lain melakukan hal yang sama (Yang & Wu, 2019). Keluarga memiliki peran dalam menumbuhkan minat baca sedari usia dini. Melalui penelitiannya, Falk-Ross (2020) menemukan bahwa ada faktor penting yang mempengaruhi minat baca pada awal perkembangan anak dan implikasinya terhadap kegemaran baca setelah dewasa. Ia menjelaskan bahwa ada kecenderungan anak-anak yang telah mendapatkan budaya baca dari rumah akan terdorong menjadi pegiat taman bacaan masyarakat di masa dewasanya. Penelitian ini memperkuat peran keluarga dalam membentuk budaya baca dan membangun lingkungan membaca yang semakin luas. Strategi umum menumbuhkan minat baca melalui TBM Minat baca yang baik akan mendorong orang untuk pengembangan literasi dan pengetahuan yang dimilikinya menjadi karya yang berguna bagi dirinya dan bagi orang lain (Ayuningtyas et al., 2021). Minat baca tidak hanya membantu meningkatkan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mengembangkan daya pikir kritis, kreativitas, dan pemahaman dunia. Salah satu pendekatan yang telah terbukti efektif dalam meningkatkan minat baca adalah pendekatan tutur, baca, dan tulis. Pendekatan ini melibatkan interaksi sosial dan aktivitas yang mendukung perkembangan literasi pada semua tingkatan usia. Secara mendasar, minat baca yang dikembangkan oleh berdirinya TBM adalah meliputi peningkatan kemampuan membaca, bertutur, dan kemudian kemampuan menulis. Tiga kemampuan inilah yang diyakini menjadi akar kemampuan literasi, yang akan mendorong seseorang atau masyarakat untuk berkarya. Membangun keterampilan lisan merupakan langkah penting dalam menumbuhkan minat baca. Diskusi, cerita, dan dialog dengan teman, keluarga, atau guru akan membantu anak-anak memahami konsep dan kosakata yang berhubungan dengan dunia pengetahuan. Melalui tutur, anak-anak dapat mengembangkan pemahaman mereka tentang bagaimana kata-kata digunakan dalam berbagai konteks (Mehta et al., 2018). Strategi untuk meningkatkan kemampuan tutur merupakan salah satu strategi yang banyak dilakukan oleh TBM, yang implementasinya dilakukan dengan kegiatan membaca dan bercerita. Strategi berikutnya adalah mendorong minat baca aktif, yaitu menciptakan lingkungan yang aktif membaca. Strategi ini dapat dilakukan dengan menciptakan lingkungan yang kaya materi bacaan, yaitu adanya koleksi yang bervariasi dan menarik untuk dibaca. Dalam mengimplementasikan strategi ini, TBM melakukan penyediaan buku-buku, majalah, komik, dan materi bacaan lainnya yang sesuai dengan minat masyarakat, serta berupaya agar koleksi tersebut dapat diakses dengan mudah. Agar masyarakat terutama anak-anak menjadi pembaca aktif, TBM mengajak anak-anak untuk membaca cerita, baik bersama-sama maupun sendiri, membantu mereka menemukan kesenangan dalam eksplorasi dunia kata-kata. Strategi umum selanjutnya adalah mengaktifkan kreativitas menulis, yang merupakan strategi penting, karena keterampilan menulis merupakan ekstensi dari keterampilan membaca. Memberi kesempatan kepada anak-anak untuk mengekspresikan pemikiran dan ide mereka dalam bentuk tulisan, akan mendorong kreativitas dan pemahaman anak tentang struktur bahasa dan ilmu pengetahuan. Ajang menulis dapat diimplementasikan dalam bentuk jurnal pribadi, cerita pendek, atau blog sederhana, yang dapat menjadi sarana bagi anak-anak untuk mengembangkan kemampuan menulis mereka. Sesuai dengan pandangan strategi di atas, National Reading Campaign (2013) menjelaskan bahwa dalam kaitannya dengan eksistensi TBM, maka secara umum strategi yang dapat dilakukan meliputi: (1). Lingkungan membaca, yaitu menciptakan lingkungan yang kaya dengan bahan bacaan yang beragam di rumah, sekolah, dan perpustakaan. (2). Kegiatan baca bersama, yaitu untuk membantu mereka merasa terlibat dan membuat pengalaman membaca menyenangkan. (3). Diskusi buku, yaitu mengadakan diskusi tentang buku-buku yang telah dibaca untuk memahami dan menganalisis isi bacaan. (4). Berkisah, yaitu mengajak anak-anak untuk menceritakan cerita-cerita dengan kata-kata mereka sendiri membantu mereka memahami struktur narasi. (5). Pilihan bacaan, yaitu memberikan pilihan bahan bacaan yang sesuai dengan minat individu anak, sehingga mereka merasa memiliki kendali atas pengalaman membaca mereka. Strategi menumbuhkan minat baca berbasis TBM memberikan pendekatan yang holistik dalam mengembangkan literasi pada anak-anak. Melalui interaksi lisan, membaca, dan menulis, anak-anak dapat membangun fondasi yang kokoh dalam mengembangkan pengetahuan yang dimilikinya. Implementasi strategi ini dalam lingkungan pendidikan dan keluarga akan membantu menciptakan generasi yang memiliki kemampuan literasi yang kuat dan kemauan untuk terus belajar melalui taman bacaan (Ramandanu, 2019).
Method
Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif (Creswell, 2016). Metode ini merupakan pendekatan penelitian yang datanya bersifat kualitatif, dari sumber data primer maupun sekunder, yaitu orang, objek, atau peristiwa yang menjadi objek penelitian (Sugiyono, 2018). Data yang dikumpulkan dalam penelitian kualitatif bersifat non-numerik dan dapat berupa kata-kata, gambar, atau video. Menurut Creswell (2016), ada beberapa teknik pengumpulan data yang dapat dilakukan, meliputi: (1). Wawancara, yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara tanya jawab langsung antara peneliti dan narasumber. (2). Observasi, yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati secara langsung fenomena yang diteliti. Observasi dapat dilakukan secara terstruktur (structured observation) atau tidak terstruktur (unstructured observation). (3). Dokumentasi, yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengumpulkan dokumen-dokumen yang relevan dengan fenomena yang diteliti. Dokumen-dokumen tersebut dapat berupa catatan, foto, video, artikel, atau laporan. Dokumentasi dapat digunakan untuk melengkapi informasi yang diperoleh dari wawancara atau observasi. Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis SWOT, yaitu analisis yang memberikan gambaran tentang kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan. Analisis SWOT dapat diimplementasikan dengan pendekatan kuantitatif maupun kualitatif. Dalam penelitian ini, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif yaitu tidak bersifat matematis. Untuk melakukan analisis, peneliti mengumpulkan data dari beberapa metode pengumpulan data. Sumber data diperoleh melalui kegiatan observasi lapangan dan wawancara dengan berbagai pihak yang terlibat. Secara garis besar kerangka pikir dalam penelitian ini terdiri dari perumusan masalah, yaitu mahalnya harga buku yang memicu rendahnya akses terhadap masyarakat terhadap buku. Masalah lain adalah dalam aspek perilaku dan budaya, yaitu belum adanya budaya membaca serta rendahnya motivasi membaca. Solusi yang ideal untuk dilakukan suatu strategi untuk menumbuhkan minat baca masyarakat, yang nantinya akan mendorong budaya, motivasi, serta penyediaan koleksi yang memadai. Untuk mendapatkan strategi tersebut penelitian ini menggunakan analisis SWOT untuk menggambarkan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman. Dari hasil analisis akan ditemukan strategi yang paling ideal untuk dilakukan disesuaikan dengan kondisi yang ada. Secara umum kerangka pikir penelitian tersebut digambarkan dalam bentuk diagram (gambar 1). Gambar 1. Kerangka berpikir Penelitian Metode analisis SWOT secara kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini meliputi proses identifikasi faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi. Faktor internal meliputi kekuatan dan kelemahan, sedangkan faktor eksternal meliputi peluang dan ancaman. Tahapan analisis SWOT kualitatif dibagi menjadi empat langkah, yaitu: (1). Identifikasi faktor-faktor internal dan eksternal; Langkah pertama adalah mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi suatu fenomena atau peristiwa. Faktor internal dapat diidentifikasi melalui observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Faktor eksternal dapat diidentifikasi melalui analisis lingkungan, termasuk lingkungan politik, ekonomi, sosial, dan teknologi. (2). Penilaian faktor-faktor internal dan eksternal; Setelah faktor-faktor internal dan eksternal teridentifikasi, langkah selanjutnya adalah menilai setiap faktor. Penilaian dapat dilakukan dengan menggunakan skala atau kriteria tertentu. Misalnya, kekuatan dapat dinilai berdasarkan tingkat keunggulannya, sedangkan ancaman dapat dinilai berdasarkan tingkat keparahannya. (3). Pemetaan faktor-faktor internal dan eksternal; Setelah faktor-faktor internal dan eksternal dinilai, langkah selanjutnya adalah memetakan faktor-faktor tersebut ke dalam matriks SWOT. Matriks SWOT adalah alat visual yang memudahkan untuk melihat hubungan antara faktor-faktor internal dan eksternal. (4). Interpretasi hasil analisis; Langkah terakhir adalah menginterpretasi hasil analisis SWOT. Interpretasi dapat dilakukan dengan mengidentifikasi strategi-strategi yang dapat digunakan untuk memanfaatkan kekuatan dan peluang, serta mengurangi kelemahan dan ancaman.
Result & Discussion
Identifikasi faktor-faktor internal dan eksternal Dalam analisis SWOT, langkah pertama yang dilakukan adalah mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi suatu fenomena atau peristiwa. Faktor internal dapat diidentifikasi melalui observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Proses pengumpulan data untuk keperluan identifikasi diperoleh dari wawancara dengan narasumber. Nara sumber dalam penelitian ini meliputi pemuka masyarakat (Ketua RT.02 Dusun IV Kasang Kulim), pemuda setempat 2 orang, tokoh masyarakat 2 orang, perwakilan ibu rumah tangga 3 orang, perwakilan kepala keluarga 3 orang, anak usia dini (PAUD/TK) 4 orang (didampingi), anak usia SD dan SMP 4 orang, serta anak remaja (SMA) 3 orang. Setelah dilakukan pengumpulan data, diperoleh rumusan identifikasi sebagai berikut: 1. Faktor internal a. Faktor kekuatan (strength), meliputi: (1). Tersedianya fasilitas TBM mandiri, (2). Tersedianya sumber daya untuk mengelola, (3). Semangat pengelola untuk melayani, (4). Fokus pengelola untuk melayani. b. Faktor kelemahan (weaknesses), meliputi: (1). Kurangnya jumlah buku, (2). Minimnya dana operasional, (3). Keterbatasan waktu pelayanan, (4). Kurangnya kenyamanan ruangan 2. Faktor eksternal a. Faktor peluang (opportunity), meliputi: (1). Dukungan moril Perpusnas dan Dinas Perpustakaan, (2). Adanya pembinaan dari Forum TBM, (3). Dukungan pejabat RT dan RW, (4). Antusiasme warga. b. Faktor ancaman (threats), meliputi: (1). Rutinitas beberapa warga menghalangi dirinya untuk datang, (2). Ada warga yang menganggap kegiatan ini tidak begitu penting, (3). Minat warga untuk membaca beragam, (4). Sumber dana bantuan dari luar tidak pasti. Matriks SWOT Berdasarkan hasil identifikasi faktor internal dan eksternal, selanjutnya dilakukan pemetaan, yaitu memetakan faktor-faktor dalam sebuah matriks SWOT. Guna dari matriks tersebut adalah untuk memberikan gambaran faktor-faktor kekuatan (S), kelemahan (W), peluang (O), serta tantangan (T). Dari faktor kekuatan dan peluang akan dapat dirumuskan suatu strategi SO, yaitu strategi yang dapat meningkatkan kekuatan dan memaksimalkan pemanfaatan peluang. Dari faktor kelemahan dan peluang akan dapat dirumuskan suatu strategi WO, yaitu strategi yang dapat mengurangi kelemahan dan memaksimalkan pemanfaatan peluang. Dari faktor kekuatan dan ancaman akan dapat dirumuskan suatu strategi ST, yaitu strategi yang dapat meningkatkan kekuatan dan mengurangi ancaman. Dari faktor kelemahan dan ancaman akan dapat dirumuskan suatu strategi WT, yaitu strategi yang dapat mengurangi kelemahan dan mengurangi tantangan. Setelah dilakukan diskusi ilmiah pada tanggal 27 Agustus 2023, yang melibatkan pustakawan 4 orang, pemuka masyarakat 2 orang, anak usia SMP 3 orang, anak usia remaja 3 orang, pegiat literasi dari Forum TBM Provinsi Riau serta 2 orang pemuda setempat, diperoleh hasil butir-butir strategi yang ideal untuk dilakukan. Diskusi ini menindaklanjuti temuan faktor-faktor internal dan eksternal. Sebagai hasil penggalian informasi tersebut oleh peneliti disusun matriks SWOT berisi faktor dan strategi sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, seperti terlihat pada tabel 1. Tabel 1. Matriks SWOT penumbuhan minat baca masyarakat Internal Eksternal Strengths (S) 1. Semangat pengelola untuk melayani. 2. Tersedianya fasilitas TBM mandiri. 3. Tersedianya sumber daya untuk mengelola. 4. Fokus pengelola untuk melayani. Weakness (W) 1. Kurangnya jumlah buku 2. Minimnya dana operasional 3. Keterbatasan waktu pelayanan 4. Kurangnya kenyamanan ruangan Opportunities (O) 1. Dukungan moril Perpusnas dan Dinas Perpustakaan 2. Adanya pembinaan dari Forum TBM 3. Dukungan pejabat RT dan RW 4. Antusiasme warga Strategi SO 1. Melaksanakan kegiatan yang mengajak untuk mengenali pentingnya membaca. 2. Melakukan kegiatan bersama dengan Forum TBM dalam hal peningkatan minat baca. 3. Mengajak seluruh masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan literasi berbasis masyarakat. Strategi WO 1. Melakukan kegiatan perpustakaan bersama melalui taman bacaan. 2. Melakukan kegiatan bersama dengan sederhana. 3. Mengajak seluruh masyarakat untuk terlibat membantu terselenggaranya kegiatan TBM. Treats (T) 1. Ada warga yang menganggap kegiatan ini tidak begitu penting 2. Rutinitas beberapa warga menghalangi dirinya untuk datang 3. Minat warga untuk membaca beragam 4. Sumber dana bantuan dari luar tidak pasti Strategi ST 1. Memasukkan materi pentingnya kegiatan literasi masyarakat. 2. Melaksanakan kegiatan pada hari libur kerja. 3. Melakukan pengelompokan pemustaka sesuai level-nya. Strategi WT 1. Mengoptimalkan waktu pelayanan yang terbatas. 2. Menata ruang TBM agar menarik dan lebih nyaman. 3. Mengemas kegiatan TBM dengan menarik. Gambar di atas memperlihatkan beberapa strategi yang layak untuk dilakukan dalam menumbuhkan minat baca masyarakat di Dusun IV Kasang Kulim. Langkah terakhir setelah didapatkan matriks adalah menginterpretasi hasil analisis SWOT. Interpretasi dilakukan dengan mengidentifikasi strategi-strategi yang dapat digunakan untuk memanfaatkan kekuatan dan peluang, serta mengurangi kelemahan dan ancaman. Berdasarkan matriks yang digambarkan maka strategi yang dapat dilakukan meliputi: (1). Melaksanakan kegiatan yang mengajak untuk mengenali pentingnya membaca, (2). Kegiatan bersama dengan Forum TBM dalam upaya peningkatan minat baca, (3). Mengajak seluruh masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan literasi, (4). Melakukan kegiatan perpustakaan bersama melalui taman bacaan, (5). Melakukan kegiatan bersama dengan sederhana, (6). Mengajak seluruh masyarakat untuk terlibat membantu terselenggaranya kegiatan TBM, (7). Memasukkan materi pentingnya kegiatan literasi masyarakat, (8). Melaksanakan kegiatan pada hari libur kerja, (9). Melakukan pengelompokan pemustaka sesuai level-nya, (10). Mengoptimalkan waktu pelayanan yang terbatas, (11). Menata ruang TBM agar menarik dan lebih nyaman, (12). Mengemas kegiatan TBM dengan menarik. Dari dua belas strategi yang diperoleh kemudian dilakukan Forum Discussion Group (FGD) lanjutan yang melibatkan pustakawan, perwakilan warga, perwakilan anak-anak (pemustaka), perwakilan aparat pemerintah (Ketua RT), serta perwakilan Forum TBM. Berdasarkan hasil diskusi disimpulkan strategi yang dapat dilaksanakan agar mencakup kriteria di atas adalah melakukan serangkaian kegiatan yang bersifat mengenalkan TBM, mengajak membaca, mengajak bercerita, mengajak menulis, serta kegiatan bersama yang melibatkan pihak-pihak yang kompeten. Sebagai implementasinya, disepakati untuk melakukan kegiatan melibatkan seluruh warga dan anak-anak di lingkungan tersebut, beserta tim pengabdian masyarakat Perpustakaan UNRI, serta melibatkan profesional yaitu Forum TBM Provinsi Riau dan Kampung Dongeng Indonesia. Kegiatan bersama tersebut meliputi: (1). Melakukan survei dan pendataan situasi dan kondisi lingkungan masyarakat untuk persiapan pembangunan lingkungan membaca, (1). Melakukan kegiatan baca buku dan lomba cerita bersama Forum TBM Riau, (2). Melakukan kegiatan lomba resensi buku bersama Forum TBM Riau, (3). Melakukan kegiatan nonton bareng bersama Forum TBM Riau, (4). Melakukan kegiatan dongeng bersama Kampung Dongeng Indonesia. Berdasarkan hasil diskusi tersebut, terbentuklah rencana pelaksanaan empat kegiatan di atas, yang dilaksanakan pada tanggal 27 Agustus s.d 24 September 2023, seperti dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2. Kegiatan bersama Pustakawan UNRI, TBM Inara serta Forum TBM Prov. Riau No Hari / Tanggal Kegiatan 1 Minggu / 27-08-2023 Kunjungan pertama : Survei lokasi dan kondisi lingkungan tempat berkaitan dengan penumbuhan minat baca masyarakat melalui TBM, bersama TBM Inara dan Forum TBM 2 Minggu / 3-09-2023 Kunjungan kedua : Pekan ilmu I : Baca buku dan lomba cerita. 3 Minggu / 10-09-2023 Kunjungan ketiga : Pekan ilmu II : Lomba resensi buku bersama Forum TBM Riau. 4 Minggu / 17-09-2023 Kunjungan keempat : Pekan ilmu III : Nonton bareng bersama Forum TBM Riau 5 Minggu / 24-09-2023 Kunjungan kelima : Pekan ilmu IV : Dongeng bersama Kampung Dongeng Indonesia. Hasil akhir pelaksanaan kegiatan memperlihatkan bagaimana strategi telah berhasil dilakukan. Berdasarkan observasi lapangan pada setiap kegiatan yang telah dilakukan, ditemukan bahwa antusias masyarakat sangat tinggi dalam setiap kegiatan. Kondisi ini menunjukkan bahwa kepedulian warga terbangun setelah dilakukan serangkaian kegiatan. Saat ini hampir seluruh warga mengetahui eksistensi TBM melalui kegiatan-kegiatannya, warga senang untuk mengantarkan anak-anak menghadiri kegiatan TBM serta muncul gagasan-gagasan baru dari warga yang hadir dan menginginkan TBM tumbuh semakin besar. Sampai dengan tahap ini, peneliti telah berhasil merumuskan strategi yang dapat diimplementasikan dan mendapatkan respon positif dari seluruh warga. Peneliti merekomendasikan kepada peneliti selanjutnya untuk mengevaluasi lebih lanjut hasil temuan ini, agar strategi yang dilakukan menjadi lebih baik dan lebih tepat sasaran.
Conclusion
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa strategi yang dilakukan dalam menumbuhkan minat baca masyarakat pada TBM Inara Dusun IV Desa Kubang Jaya Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar meliputi : melakukan kegiatan baca buku dan lomba cerita, kegiatan lomba resensi buku, kegiatan nonton bareng dan kegiatan dongeng bersama. Rangkaian kegiatan tersebut adalah upaya yang mencakup beberapa strategi untuk menumbuhkan minat baca, terutama di tempat penelitian. Penelitian ini merekomendasikan perlunya dilakukan penelitian lanjutan yang mengukur keberhasilan strategi yang telah dirumuskan dalam mengimplementasikan untuk menumbuhkan minat baca masyarakat di daerah tersebut.