Kembali
16
1
2023 Inkunabula: Journal Of Library Science And Islamic Information Vol 2 · 2 ISSN 2829-9531

Analisis Pengelolaan dan Pemanfaatan Koleksi Braille di SLB-ABCD Muhammadiyah Palu

Universitas Islam Negeri Datokarama Palu; Universitas Islam Negeri Datokarama Palu; Universitas Islam Negeri Datokarama Palu

Abstrak

Penelitian ini mengkaji tentang “Analisis Pengelolaan dan Pemanfaatan Koleksi Braille di SLB-ABCD Muhammadiyah Palu” dimana rumusan masalah pada penelitian ini yaitu bagaimana pengelolaan koleksi braille di Perpustakaan SLB-ABCD Muhammadiyah Palu? dan bagaimana pemanfaatan koleksi braille di perpustakaan SLB-ABCD Muhammadiyah Palu? Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Dalam penelitian ini yang menjadi informan adalah kepala sekolah SLB-ABCD Muhammadiyah Palu, guru pengejar siswa penyandang tunanetra dan siswa penyandang tunanetra. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa pengelolaan koleksi braille di Perpustakaan SLB-ABCD Muhammadiyah Palu terdiri dari pengadaan yang diperoleh melalui hadiah dan terbitan sendiri, inventarisasi dan katalogisasi yang masih dilakukan secara manual, dan klasifikasi dengan pengelompokan berdasarkan abjad. Koleksi braille yang terdapat di perpustakaan SLB-ABCD Muhammadiyah Palu meliputi majalah braille, buku pelajaran braille, Al-Qur’an braille, atlas braille, peta taktual (peta timbul) dan peraga gunung Merapi 3 dimensi. Koleksi braille yang sering dimanfaatkan siswa yaitu buku pelajaran braille, majalah braille dan AL-Qur’an braille. Adapun yang menjadi kendala dalam pemanfaatan koleksi braille yaitu apabila siswa tersebut penyandang tunaganda, dimana mengalami tunanetra juga tunaganda sehingga kesulitan dalam memahami penggunaan koleksi braille. Perlu adanya perekrutan pustakawan dan staf yang membantu agar pengelolaan koleksi di perpustakaan dapat dilaksanakan, sehingga mempermudah siswa atau guru dalam menemukan koleksi sesuai kebutuhan mereka dan perlunya pengadaan koleksi braille yang sesuai dengan kebutuhan siswa agar dapat dimanfaatkan dengan baik, contohnya koleksi audiobook bagi sehingga dapat dimanfaatkan oleh siswa tunanetra yang kesulitan dalam memanfaatkan buku braille.

Abstract

This research examines the "Analysis of Management and Utilization of Braille Collections at SLB-ABCD Muhammadiyah Palu," where the research problem formulation includes how the management of braille collections is carried out at the Library of SLB-ABCD Muhammadiyah Palu, and how these braille collections are utilized. This study employs a qualitative approach with a descriptive research design. Data collection techniques include observation, interviews, and documentation. Data analysis techniques used are data reduction, data presentation, and data verification. The informants in this research include the head of SLB-ABCD Muhammadiyah Palu, teachers of visually impaired students, and the visually impaired students themselves. The research findings explain that the management of braille collections at the Library of SLB-ABCD Muhammadiyah Palu involves acquisition through gifts and self-publishing, manual inventory and cataloging, and classification based on alphabetical order. The braille collection at the library includes braille magazines, braille textbooks, Braille Qur'an, braille atlases, tactile maps, and 3D models of Mount Merapi. The braille collections most frequently utilized by students are braille textbooks, braille magazines, and the Braille Qur'an. One challenge in utilizing braille collections is when students have both visual and hearing impairments, making it difficult for them to comprehend the use of braille collections. It is necessary to recruit librarians and staff to assist in the management of collections in the library, making it easier for students or teachers to find collections that meet their needs. There is also a need for the acquisition of braille collections tailored to the students' needs, such as audiobooks, to benefit visually impaired students who struggle with braille books.
Keywords: Pengelolaan Koleksi Braille · Pemanfaatan Koleksi Braille · Buku Pelajaran Braille · dan SLB-ABCD Muhammadiyah Palu

Introduction

Perpustakaan merupakan salah satu sumber informasi dan sarana pembelajaran yang dapat mencerdaskan anak bangsa. Perpustakaan sangat berperan penting, apabila dikelola dengan baik dan dapat menjadi sumber ilmu pengetahuan dan dapat menjadi tempat yang disenangi oleh pengunjung. Perpustakaan berperan sebagai jantung pada sebuah lembaga pendidikan sebab perpustakaan tempat untuk menyimpan koleksi yang diatur secara sistematis dan menyajikan berbagai tulisan baik dari karya ilmiah atau informasi lainnya. Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Perpustakaan bertujuan memberikan layanan kepada pemustaka, meningkatkan kegemaran membaca, serta memperluas wawasan dan pengetahuan untuk mencerdasakan kehidupan bangsa (Hartono, 2020). Era globalisasi yang modern seperti saat ini peran perpustakaan sangatlah penting. Perpustakaan menjadi tempat untuk menyimpan dan meminjam bahan pustaka juga sebagai pusat penyebarluasan informasi, salah satunya adalah perpustakaan sekolah. Dasar pembentukan perpustakaan sekolah di Indonesia adalah Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 2 Tahun 1989, yang isinya menyatakan bahwa setiap sekolah harus menyediakan sumber belajar (perpustakaan). Perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang terdapat di setiap jenjang pendidikan, mulai jenjang sekolah dasar hingga ke jenjang sekolah menengah atas, baik negeri maupun swasta. Perpustakaan sekolah berperan dan memiliki fungsi di dalam sekolah untuk mendukung semua proses kegiatan belajar mengajar. Keberadaan perpustakaan dan bahan pustaka di dalamnya sangat membantu para tenaga pengajar, siswa, maupun seluruh civitas sekolah dalam rangka memenuhi kebutuhan informasi sesuai kebutuhannya. Perpustakaan sekolah sebagai organisasi mikro dari sekolah merupakan organisasi otonom yaitu dapat mengambil kebijakan dan keputusan sendiri untuk pengembangan perpustakaan tanpa harus melalui persetujuan pihak sekolah. Pengelolaan koleksi di perpustakaan merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan layanan perpustakaan. Unsur-unsur yang yang ada di dalam pengelolaan koleksi perpustakaan yaitu sumber daya manusia terdiri dari pustakawan dan pemustaka, sarana dan prasarana serta berbagai fasilitas pendukung yang disusun dengan sistem tertentu. Perpustakaan akan dapat dikelola dengan baik jika pengelolaannya sesuai dengan standar yang berlaku, seperti yang telah dijelaskan dalam peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Perpustakaan Sekolah Luar Biasa, bahwa Standar Nasional Perpustakaan adalah kriteria minimal yang digunakan sebagai acuan penyelenggaraan, pengelolaan, dan pengembangan Perpustakaan di wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia (Perpustakaan Nasional, 2021). Dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan, mengamanatkan bahwa setiap sekolah/madrasah menyelenggarakan perpustakaan yang memenuhi standar nasional perpustakaan dengan memperhatikan standar nasional pendidikan. Standar nasional perpustakaan tersebut terdiri atas standar koleksi perpustakaan, standar sarana dan prasarana, standar pelayanan perpustakaan, standar tenaga perpustakaan, standar penyelenggaraan, dan standar pengelolaan (Perpustakaan Nasional, 2007). Berbicara mengenai perpustakaan Sekolah Luar Biasa, dalam peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2021 bahwa, Sekolah Luar Biasa merupakan satuan pendidikan khusus formal bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Dalam mendukung tercapainya tujuan pendidikan Sekolah Luar Biasa, perpustakaan SLBABCD Muhammadiyah Palu harus menyediakan koleksi sesuai dengan kebutuhan pemustaka. Adapun jenis kelainan fisik, emosional dan mental yang berhubungan dengan kesulitan dalam mengikuti proses belajar juga dalam mengakses informasi yang ada di SLB-ABCD Muhammadiyah Palu, meliputi : tunanetra, tunarugu, tunagrahita, dan tunadaksa. Dari beberapa jenis penyandang disabilitas yang ada di SLB-ABCD Muhammadiyah Palu, peneliti tertarik untuk mempelajari lebih lanjut tentang bagaimana penyandang tunanetra dalam memperoleh informasi. Alasan peneliti tertarik sebab kemampuan membaca penyandang tunanetra tentunya akan berbeda dengan kemampuan membaca orang normal pada umumnya. Penyandang tunanetra merupakan individu yang mengalami kelainan pada penglihatan, sehingga seorang tunanetra tidak dapat menggunakan penglihatannya sebagai sumber utama dalam memperoleh informasi (Haiqal, 2021). Sehingga, dalam mengakses dan memperoleh informasi penyandang tunanetra menggunakan dua indra, yaitu indra pendengaran melalui suara, dan indra perabaan melalui buku teks atau huruf timbul (Braille). Braille menurut pusat bahasa berarti sistem tulisan dan cetakan (berdasarkan abjad latin) untuk para tunanetra berupa kode yang terjadi dari enam titik dan berbagai kombinasi yang ditonjolkan pada kertas sehingga dapat diraba. Untuk mendapatkan informasi melalui koleksi buku Braille, siswa tunanetra harus membaca dari awal (Tumirah, 2013). Perpustakaan SLB-ABCD Muhammadiyah Palu yang beralamatkan di Jl. Tompi No. 15 RT 05 RW 05 Kelurahan Lere Kecamatan Palu Barat Kota Palu, Sulawesi Tengah, merupakan salah satu tempat untuk memenuhi kebutuhan informasi yang dapat dimanfaatkan oleh siswa penyandang disabilitas termasuk penyandang tunanetra. Perpustakaan SLB-ABCD Muhammadiyah Palu menyediakan koleksi buku Braille sebagai sumber informasi bagi siswa penyandang tunanetra. Perpustakaan SLB-ABCD Muhammadiyah Palu memiliki nilai penting sebab menyediakan koleksi buku Braille yang dapat dimanfaatkan siswa penyandang tunanetra. Dari latar belakang tersebut, maka peneliti perlu mengetahui lebih lanjut tentang proses pengelolaan koleksi Braille di Perpustakaan SLB-ABCD Muhammadiyah Palu, juga bagaimana pemanfaatannya sebagai sumber informasi bagi penyandang tunanetra, untuk itu penulis mengambil judul “Analisis Pengelolaan dan Pemanfaatan Koleksi Braille di Perpustakaan SLBABCD Muhammadiyah Palu. 2. Tinjauan Pustaka 2.1. Perpustakaan Sekolah Luar Biasa Perpustakaan sekolah terbagi menjadi 2 macam, yaitu perpustakaan sekolah untuk siswa normal dan perpustakaan sekolah untuk anak luar biasa. Dari segi pengguna yang berbeda namun memiliki defenisi yang sama, yakni perpustakaan yang tergabung dalam sebuah sekolah dan dikelola sepenuhnya oleh sekolah yang bersangkutan. Kedua perpustakaan ini pada umumnya memiliki tujuan untuk menjadikan penggunanya menjadi manusia yang berkualitas, menjadi pemikir yang kritis dan mempunyai kemampuan literasi informasi yang menjadi pembeda adalah penggunanya, koleksi, dan fasilitas yang tersedia. Hampir semua koleksi yang ada di perpustakaan Sekolah Luar biasa dikhususkan untuk pemustaka berkebutuhan khusus, sementara buku yang berhuruf biasa relatif sedikit jumlahnya (Asmawardah, 2018, hlm. 6). Umumnya, Sekolah Luar Biasa tidak memiliki ruang khusus untuk menyimpan buku-buku dalam perpustakaan khusus. Baik bagi sekolah yang telah atau akan mulai diakreditasi, keberadaan ruang perpustakaan sudah mulai diprioritaskan. Namun demikian, masih banyak ditemukan sekolah-sekolah yang belum memprioritaskan atau belum menganggap penting keberadaan area ini (Asmawardah, 2018, hlm. 6). Beberapa Sekolah Luar Biasa yang telah memiliki area yang luas dengan ruangan yang memadai, buku-buku bagi kebutuhan siswa di sekolah dapat ditempatkan dalam perpustakaan sekolah, dan dikelola dengan baik. Sehingga memiliki kegiatan sirkulasi yang teratur. Adapun bagi sekolah yang masih memiliki keterbatasan area dalam perpustakaan, bisa memanfaatkan sudut kelas menjadi perpustakaan, sesuai dengan kebutuhan siswa didalamnya (Asmawardah, 2018, hlm. 6). Suatu instansi atau perpustakaan sekolah yang merupakan tempat menyimpan koleksi bahan pustaka, dikelola dan diatur berdasarkan sistem tertentu agar dapat digunakan dalam menunjang kegiatan belajar mengajar di sekolah. Keberadaan perpustakaan sekolah secara umum memiliki tujuan agar dapat meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang memiliki rasa percaya diri, bersikap dan berprilaku kreatif sehingga mampu mewujudkan manusia-manusia pembangunan yang tentunya dapat membangun dirinya sendiri serta memiliki tanggung jawab atas pembangunan bangsa(Asmawardah, 2018, hlm. 6). 2.2. Koleksi Braille Koleksi Braille merupakan terbitan khusus yang disediakan bagi pemustaka penyandang tunanetra. Lembaran-lembaran dalam buku bertuliskan huruf Braille, dengan lubang-lubang yang didesain khusus untuk dibaca oleh pemustaka tunanetra dengan cara diraba menggunakan jari. Koleksi Braillle menjadi jembatan akses informasi bagi penyandang tunanetra. Sebab, ketunanetraan yang dimiliki seseorang berdampak pada kemampuannya dalam mengakses sebuah informasi. Maka dari itu, para penyandang tunanetra membutuhkan layanan khusus seperti koleksi Braille. Kehadiran koleksi Braille menjadi buku-buku harapan bagi penyandang tunanetra, sebab buku Braille merupakan modal bagi penyandang tunanetra untuk mengembangkan diri agar lebih mandiri. Dapat dikatakan buku Braille menjadi buku yang sangat efektif bagi pengunjung perpustakaan penyandang tunanetra untuk menjadi jembatan keterbatasan akses informasi bagi tunanetra (Husna dan Arum, 2020, hlm. 33). Braille merupakan huruf khusus bagi para tunanetra, huruf-huruf Braille menggunakan kombinasi antara titik dan ruang kosong atau spasi. Bentuk Braille sangat sederhana, sekilas seperti kertas yang tertulis, huruf Braille seperti sablonan embos, atau mirip simbol pada kartu domino. Meskipun bentuknya sederhana bagi penyandang tunanetra itu justru sangat membantu mereka untuk membaca. Angka dalam Braille dituliskan dalam abjad yang dilalui tanda angka. Tanda pugar dituliskan langsung di depan huruf untuk menunjukkan bahwa huruf tersebut tidak termasuk angka. Apabila sebuah huruf harus menggunakan tanda kapital dan tanda pugar sekaligus maka tanda pugar ditulis terlebih dahulu dan tanda kapital dituliskan kemudian langsung di depan huruf. Tanda pugar tidak diperlukan apabila huruf itu dituliskan di depan angka (Husna dan Arum, 2020, hlm. 33). Menulis Braille merupakan keterampilan yang perlu dimiliki siswa tunanetra sejak dini, karena menulis Braille merupakan media penting bagi penyandang tunanetra untuk menerima dan menimba ilmu. Dalam konteks pembelajaran di sekolah, kemampuan siswa tunanetra dalam membaca dan menulis huruf Braille akan sangat mendukung kelancaran pembelajaran. Tunanetra bisa mengakses semua topik yang dikemukakan dengan membaca dan menulis Braille (Husna dan Arum, 2020, hlm. 33). 2.3. Pengelolaan Koleksi Braille 2.3.1. Inventarisasi Inventarisasi adalah kegiatan memeriksa, memberi stempel, dan mencatat atau mendaftar semua koleksi perpustakaan dalam buku induk dan diberi nomor induk setiap satu eksampler satu nomor. Setiap jenis koleksi dicatat dalam buku induk tersendiri, seperti buku induk untuk mencatat koleksi buku, majalah, surat kabar, dan lain-lain (Ritonga, 2015, hlm. 20). 2.3.2. Katalogisasi Katalogisasi adalah kegiatan membuat entri dalam kartu atau daftar mengenai buku dan bahan pustaka lainnya yang ada dalam koleksi perpustakaan yang disusun menurut aturan tertentu. Katalogisasi adalah proses pembuatan daftar pustaka (buku, majalah, compact Disc (CD), film mikro dan sebagainya) milik suatu perpustakaan. Daftar ini berfungsi untuk mencatat koleksi yang dimiliki, membantu proses temu kembali, dan mengembangkan standar-standar bibliografi internasional (Ritonga, 2015, hlm. 20). Katalogisasi diawali dengan kegiatan pengatalogan deskrptif yaitu menentukan tajuk entri utama dan tajuk entri tambahan. Kegiatan ini berpedoman pada peraturan katalogisasi Indonesia edisi yang bersumber pada peraturan pengatalogan standar internasional yaitu “The Anglo American Cataloguing Rules” (AACR). Kegiatan dilanjutkan dengan pembuatan kartu katalog yang kemudian digandakan sesuai kebutuhan (pengarang, judul, subjek, dan jejakan lain) serta shelf dan dijajarkan pada laci-laci katalog (Ritonga, 2015, hlm. 20). 2.3.3. Klasifikasi Klasifikasi adalah pekerjaan mengelompokkan seluruh koleksi menurut kelas atau kelompok tertentu. Tujuannya adalah agar semua subjek yang sama pemberian nomor kode (kelas) semua sumber informasi menurut suatu sistem tertentu. Maksudnya agar semua koleksi dikelompokkan dan tersusun dengan baik dan mudah untuk mengatur ditempat yang sudah disediakan dan mencari kembali pada saat akan dipergunakan. Klasifikasi dengan menggunakan buku pedoman standar seperti Dewey Decimal Classification (DDC), Universal Dewey Classification (UDC), pedoman tajuk subjek, tajuk seragam yang diterbitkan oleh perpustakaan oleh perpustakaan nasional serta pedoman katalogisasi (Jumain, 2020, hlm. 15). Klasifikasi adalah kegiatan menganalisa isi bahan pustaka dan menetapkan kode menurut sistem tertentu yang tepat untuk sebuah buku karangan dalam majalah dan lain-lain. Penetapan nomor klasifiksi bahan pustaka menggunakan sarana bantu “Terjemahan Ringkasan Desimal dan Indeks Relatif: disesuaikan dengan DCC 20”. Sedangkan menurut P. Sumardji dalam Ritonga adalah “Kegiatan pengelompokan bahan pustaka sesuai dengan macam dan bidang ilmu masing-masing” (Ritonga, 2015, hlm. 24). 2.3.4. Pelabelan Menurut P. Sumardji dalam Ritonga, pelabelan adalah kegiatan membuat atau menulis nomor penempatan (call number) setiap bahan pustaka pada label tertentu, kemudian menempelkannya pada punggung masing-masing bahan pustaka sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan (Ritonga, 2015, hlm. 20). 2.3.5. Penyelesaian Kegiatan pembuatan dan pemasangan kelengkapan fisik bahan pustaka seperti kantong buku, kartu buku, lembar tanggal kembali, dan label atau tanda buku (nomor panggil) (Ritonga, 2015, hlm. 20). 2.3.6. Pengaturan Koleksi Pengaturan koleksi perpustakaan sekolah diatur sedemikian rupa agar para pengguna mudah mencari koleksi yang diperlukan. 2.4. Pemanfaatan Koleksi Braille Sebagai Sumber Informasi Koleksi Braille merupakan koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan berupa kumpulan bahan pustaka yang ditulis dengan tulisan Braille yang diperuntukkan bagi penyandang tunanetra. oleksi Braille terbagi menjadi beberapa jenis antara lain karya cetak, karya non cetak dan karya dalam bentuk elektronik. Koleksi Braille mempunyai fungsi untuk memenuhi kebutuhan informasi bagi tunanetra. Menurut Tumirah dalam Dzunurain, Braille adalah sistem tulisan dan cetakan (berdasarkan abjad latin) untuk para tunanetra berupa kode yang terdiri dari enam titik dan berbagai kombinasi yang ditonjolkan pada kertas sehingga dapat diraba. Kode Braille atau Huruf Braille diciptakan oleh Louis Braille (1809-1852). Kode-kode atau huruf tersebut berisikan informasi seperti isi dalam buku namun khusus bagi tunanetra dan orang yang mengalami gangguan penglihatan (Dzunurain and Wasisto, 2022, hlm. 59-60). Sebagian besar seseorang mengandalkan indera penglihatan untuk mendapatkan sebuah informasi. Dengan demikian seseorang yang mengalami gangguan penglihatan atau yang sering disebut dengan tunanetra akan mengalami kesulitan dalam mengakses sebuah informasi. Salah satu sumber informasi yang dapat diakses oleh penyandang tunanetra yaitu buku Braille, dengan buku Braille seorang tunanetra dapat mengakses dan memperoleh informasi melalui membaca dengan cara diraba. Bagi setiap orang istilah tunanetra bukanlah hal yang asing lagi, bahkan di Indonesia ada organisasi yang diperuntukkan oleh penyandang tunanetra yang bernama Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) yang bertujuan untuk mewujudkan keadaan yang kondusif bagi tunanetra untuk menjalankan kehidupannya sebagai individu dan warga negara yang cerdas, mandiri, dan produktif tanpa diskriminasi dalam aspek kehidupan dan penghidupan. Menurut Persatuan Tunanetra Indonesia tunanetra adalah orang yang tidak memiliki penglihatan sama sekali atau buta total serta orang yang memiliki penglihatan tetapi tidak mampu menggunakan penglihatannya secara baik ketika membaca tulisan biasa berukuran 12 pt walaupun dalam keadaan cahaya dan jarak yang normal dan dibantu dengan kacamata keadaan tersebut dikenal dengan istilah kurang awas atau low vision (Dzunurain and Wasisto, 2022, hlm. 60-61).

Method

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, karena sangat cocok dengan masalah yang akan diteliti dan sangat membantu peneliti di dalam proses penelitian. Penelitian kualitatif merupakan suatu penelitian yang hasil penelitiannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau metode kuantitatif lain. Peneliti biasanya menggunakan pendekatan naturalistik untuk memahami suatu fenomena tertentu. Penelitian kualitatif berusaha mendapatkan pencerahan, pemahaman terhadap suatu fenomena dan ekstrapolasi pada situasi yang sama (Aggito dan Setiawan, 2018, hlm. 9). Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana kegiatan pengelolaan dan pemanfaatan koleksi Braille di Perpustakaan SLB-ABCD Muhammadiyah Palu. Dalam penelitian ini, menggunakan sumber data primer dan sumber data sekunder. Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi.

Result & Discussion

4.1. Pengelolaan Koleksi Braille di Perpustakaan SLB-ABCD Muhammadiyah Palu 4.1.1. Pengadaan Pengadaan bahan pustaka merupakan salah satu kegiatan untuk memenuhi kebutuhan informasi pemustaka atau penngguna perpustakaan secara tepat waktu dan tepat guna. Pengadaan koleksi Braille dalam hal ini, perpustakaan SLB-ABCD Muhammadiyah Palu melakukan dua cara yaitu penerbitan sendiri dan hibah. Pengadaan koleksi Braille dalam metode ini dilakukan dengan cara mencetak sendiri secara manual menggunakan alat Reglet dan Styllus, reglet alat yang digunakan untuk menjepit kertas braille waktu menulis yang berbentuk 2 plat terhubung sedangkan styllus berbentuk paku kecil yang tajam digunakan untuk menusuk kertas pada reglet, styllus selain memiliki ujung yang tajam juga memiliki ujung yang tumpul yang berfungsi menghapus huruf timbul pada kertas braille jika terjadi kesalahan. Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Syarifuddin Bahrun, S.Pd guru pengajar tunanetra SLB-ABCD Muhammadiyah Palu mengatakan bahwa: “Ada yang saya cetak sendiri jika bahan ajar yang dibutuhkan tidak tersedia”. (Wawancara, 05 Mei 2023) Hal yang sama dikatakan oleh Ibu Rini Kurniaini, S.Pd. Kepala Sekolah SLB-ABCD Muhammadiyah Palu mengatakan bahwa : “Bermacam-macam ada yang beli kalau sekiranya ada kekurangan dan permintaan dari guru-guru, buku-buku apa saja yang diperlukan tapi sebagian kurikulum 2013 dari dinas provinsi, kalau koleksi Braille ada sebagian bikin sendiri, sekarang ini kan ada materimateri baru itu dibuat sendiri”. (Wawancara, 22 Mei 2023) Selain dengan menerbitkan sendiri koleksi Braille jika dibutuhkkan, pengadaan koleksi Braille di Perpustakaan SLB-ABCD Muhammadiyah Palu melalui hibah berdasarkan permintaan kebutuhan, hibah atas permintaan dapat diajukan kepada lembaga yang diinginkan. Pada perpustakaan SLB-ABCD Muhammadiyah Palu hibah koleksi Braille berasal dari Balai Literasi Braille Indonesia (BLBI) “ABIYOSO”. Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Syarifuddin Bahrun, S.Pd guru pengajar tunanetra SLB-ABCD Muhammadiyah Palu mengatakan bahwa: “Pengadaan koleksi Braille ada yang saya datangkan dari Balai Literasi Braille Indonesia (BLBI) “ABIYOSO” jadi sebagian besar koleksi Braille yang ada disini itu saya datangkan dari sana”. (Wawancara, 05 Mei 2023) Berdasarkan hasil wawancara diatas bahwa pengadaan koleksi Braille di SLB-ABCD Muhammadiyah Palu menggunakan dua cara yaitu dengan menerbitkan sendiri koleksi Braille jika ada materi baru, dan hibah melalui permintaan yang dibutuhkan sebagai bahan ajar siswa tunanetra. Adapun jumlah koleksi Braille di SLB-ABCD Muhammadiyah palu 4.1.2. Inventarisasi Sebelum melakukan proses katalogisasi dan klasifikasi, terlebih dahulu dilakukan inventarisasi. Inventarisasi merupakan bagian memeriksa dan memberi stempel pada setiap koleksi. Pemeriksaan koleksi Braille dalam inventarisasi merupakan proses memeriksa dan mencatat setiap item dalam koleksi atau inventaris untuk memastikan keberadaan dan kondisi koleksi. Pemeriksaan ini sangat penting untuk menjaga integritas dan keandalan inventaris. Koleksi Braille dari hasil kegiatan pengadaan diperiksa terlebih dahulu baik dari segi fisik maupun isinya. Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya koleksi yang mengalami kerusakan atau terdapat sebagian halaman yang hilang. Selain itu juga memeriksa kesesuaian antara jumlah judul dan eksampler yang dipesan dan diterima. Koleksi Braille yang diterima di perpustakaan baik melalui hibah maupun terbitan sendiri, setelah diperiksa bentuk fisiknya kemudian diberi cap atau stempel sebagai tanda milik perpustakaan. Stempel juga digunakan untuk menandai atau mengidentifikasi benda-benda dalam koleksi sehingga dapat diidentifikasi dengan mudah dan cepat. Stempel dibubuhkan pada halaman judul, adapun pada halaman judul terdapat stempel perpustakaan dan stempel inventarisasi. Berdasarkan pengamatan peneliti di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan inventarisasi koleksi Braille yang ada di perpustakaan SLB-ABCD Muhammadiyah Palu dilakukan dengan dua cara yaitu melakukan pemeriksaan koleksi baik secara fisik maupun isinya dan memberi stempel pada halaman judul setiap koleksi braille secara manual. 4.1.3. Katalogisasi Katalogisasi merupakan proses pengorganisasian dan penyuusunan informasi mengenai koleksi seperti buku, majalah dan koleksi lainnya. Tujuan utama dari katalogisasi yaitu untuk memudahkan akses dan temuan informasi bagi para pengguna perpustakaan. Proses katalogisasi Koleksi Braille yang sudah masuk ke perpustakaan SLB-ABCD yang sudah diberi stempel, kemudian dilakukan katalogisasi secara manual dengan mencatat delapan daerah deskripsi bibliografi berdasarkan AACR2 (Anglo-American Cataloguing Rules) ke dalam buku induk. Perpustakaan SLB-Muhammadiyah Palu telah melakukan katalogisasi terhadap koleksi yang ada di perpustakaan termasuk koleksi Braille namun peneliti tidak dapat menyertakan dokumentasi, buku induk yang terdapat catatan koleksi perpustakaan SLB-ABCD Muhammadiyah Palu sebab arsip perpustakaan SLB-ABCD Muhammadiyah Palu hilang usai pembenahan kembali setelah gempa 28 September 2018 dan setelah Covid-19. Berdasarkan wawancara dengan ibu Rini Kurniaini, S.Pd Kepala sekolah SLB-ABCD Muhammadiyah palu, bahwa : “Arsip perpustakaan itu lengkap, perpustakaan terkelola dengan baik oleh pustakawan yang mengelola sebelum kejadian gempa, lalu karena pustakawan itu terangkat jadi PNS akhirnya pindah dan digantikan oleh salah satu guru disini tetapi masih kepala sekolah yang nomor dua setelah itu gempa, kepala sekolah yan nomor 2 pindah lalu digantikan dengan kepala sekolah ketiga atau yang menjabat sebelum saya, saat beliau menjabat bertepatan dengan covid-19 jadinya sekolah lama kosong karena pembelajaran dari rumah dan guru yang mengelola perpustakaan juga lulus P3K jadinya pindah juga. Setelah itu pergantian kepala sekolah dan sekarang saya jadi baru dilakukan pembenahan semua barang-barang rongsokan itu dikumpulkan dan dibuang kemungkinan arsip perpustakaan termasuk buku induk inventarisasi itu ikut terbuang juga”. (Wawancara, 22 Mei 2023) Berdasarkan hasil pengamatan peneliti dan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa proses katalogisasi koleksi braille di SLB-ABCD Muhammadiyah Palu masih dilakukan secara manual. Adapun kegiatan katalogisasi yang belum dilaksananakan lagi saat ini dikarenakan belum adanya yang mengelola perpustakaan SLB-ABCD Muhammadiyah Palu. 4.1.4. Klasifikasi Klasifikasi koleksi di perpustakaan merupakan proses mengelompokkan dan menempatkkan koleksi pada kategori tertentu berdasarkan karakteristik koleksi tersebut. Klasifikasi koleksi berperan penting dalam pengelolaan koleksi di perpustakaan dengan menggunakan sistem klasifikasi yang konsisten, pengguna dapat mengakses koleksi secara efisien dan memperoleh informasi yang dibutuhkan. Metode yang digunakan untuk mengklasifikasi koleksi di perpusttakaan SLB-ABCD Muhammadiyah Palu yaitu klasifikasi berdasarkan abjad atau klasifikasi alfabetis. Metode ini digunakan untuk mengurutkan dan mengorganisasi koleksi diperpustakaan SLB-ABCD Muhammadiyah Palu termasuk koleksi Braille berdasarkan urutan alfabetis huruf-huruf pada judul buku. Klasifikasi berdasarkan abjad digunakan di perpustakaan SLB-ABCD Muhammadiyah Palu agar dapat memudahkan penggunakan menemukan koleksi yang diinginkan sebab abjad relatif mudah dipahami dan digunakan oleh pengguna perpustakaan terutama siswa SLB-ABCD Muhammadiyah Palu selain itu, metode klasifikasi dengan menggunakan abjad memberikan fleksibilitas dalam memasukkan koleksi baru yang didatangkan di perpustakaan, hal ini memudahkan pustakawan untuk menempatkan koleksi baru tanpa mengganggu urutan koleksi yang sudah ada. Berdasarkan wawancara dengan Ibu Rini Kurniaini, S.Pd Kepala sekolah SLB-ABCD Muhammadiyah palu, mengatakan bahwa: “Kalau disini susunan buku di rak perpustakaan menggunakan abjad agar lebih mudah jika mencari buku dan menyusun buku yang baru masuk di perpustakaan”. (Wawancara, 22 Mei 2023) Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa untuk memudahkan siswa SLB-ABCD Muhammadiyah Palu untuk mendapatkan buku sesuai kebutuhan mereka dan untuk memudahkan pustakawan memasukkan koleksi baru sesuai urutannya namun berdasarkan pengamatan peneliti bahwa koleksi di perpustakaan SLB-ABCD Muhammadiyah Palu termasuk koleksi Braille susunannya di rak masih tidak sesuai dengan abjad. 4.2. Pemanfaatan Koleksi braille di Perpustakaan SLB-ABCD Muhammadiyah Palu 4.2.1. Koleksi Braille di Perpustakaan SLB-ABCD Muhammadiyah Palu Perpustakaan SLB-ABCD Muhammadiyah Palu memiliki total keseluruhan 412 koleksi Braille yang dapat dimanfaatkankan oleh siswa penyandang tunanetra. Koleksi tersebut terdiri dari 448 majalah braille dan buku pelajaran braille, 28 Al-Quran braille, 3 atlas braille, 2 peta taktual (peta timbul), globe braille dan 1 peraga gunung merapi 3 dimensi braille. 4.2.2. Pemanfaatan Koleksi braille sebagai Sumber Informasi Siswa Penyandang Tunanetra di Perpustakaan SLB-ABCD Muhammadiyah Palu Siswa SLB-ABCD Muhammadiyah Palu menjadikan koleksi Braille sebagai sumber utama memperoleh informasi, sebab perpustakaan hanya menyediakan koleksi braille. Walaupun sumber memperoleh informasi siswa tunanetra hanya melalui koleksi braille, utamanya buku pelajaran braille siswa dapat meningkatkan kemampuannya terutama kemampuan membaca melalui bimbingan guru. Untuk dapat memanfaatkan koleksi braille siswa harus diajarkan terlebih dahulu mengenal huruf braille. Berdasarkan wawancara dengan bapak Siddiek, S.Pd., M.Pd guru pengajar tunanetra mengatakan bahwa: “Seperti pembelajaran pada umumnya diajar membaca untuk dasar dulu, mengenal huruf, lalu merangkai, kemudian penggunaan tanda baca dan seterusnya”. (Wawancara, 05 Mei 2023) 4.2.3. Kendala yang Dialami Siswa dalam Memanfaatkan Koleksi Braille memiliki keterbatasan utamanya pada penglihatan membuat siswa penyandang tunanetra harus mempunyai bahan bacaan khusus yaitu buku braille. Pemanfaatan koleksi braille bagi penyandang tunanetra tentunya memiliki kendala, untuk dapat memperkenalkan huruf abjad pada siswa penyandang tunanetra tidak semudah memperkenalkan huruf ke siswa normal pada umumnya. Adapun yang menjadi kendala dalam mempelajari koleksi braille itu adalah siswa penyandang tunaganda, dimana siswa tersebut memiliki kelainan baik dua jenis maupun lebih seperti, siswa penyadang tunanetra juga tunagrahita. Siswa yang menjadi penyandang tunaganda ini akan kesulitan memahami pelajaran yang diberikan, tunagrahita sendiri berarti memiliki kemampuan intelektual dan kognitif yang berada di bawah rata-rata dibandingkan orang pada umumnya sehingga lebih lambat dalam memahami. Berdasarkan wawancara dengan bapak Syarifuddin Bahrun, S.Pd selaku guru pengajar siswa tunanetra, mengatakan bahwa: “Jika siswa mengalami kesulitan dalam belajar jelas kita dari guru akan membantu, yang sulit itu kalua siswanya tunanetra juga penyandang tunagrahita jadinya tunaganda kan. Jadi jika dia tunanetra juga tunagrahita siswanya itu kesulitan membaca, menulis. Kita pernah punya siswa penyandang tunaganda yang tidak bisa berbicara tidak bisa melihat grahita juga, hanya bertahan beberapa bulan belajar disini kemudian dikembalikan ke orang tuanya sebab kami juga dari guru kesulitan dalam mengajar”. (Wawancara, 05 Mei 2023) Berbeda halnya dengan siswa yang hanya penyandang tunanetra, mereka memperlajari braille tidak mengalami kesulitan seperti penyandang tunaganda. Siswa penyandang tunanetra mempelajari braille seperti siswa normal pada umumnya, tingkat dasar mulai mengenal huruf braille hingga saat tingkat menengah mampu membaca majalah dan Al-Qur’an secara lancar. Berdasarkan wawancara dengan Muhammad Abid At Thariez siswa penyandang tunanetra kelas IV SDLB, mengatakan bahwa: “tidak susah, sekarang sudah bisa membaca dengan lancar, membaca Al-Qur’an surah pendek juga sudah bisa”. guru pengajar siswa penyandang tunanetra bapak Siddieq. S.Pd., M.Pd mengatakan bahwa: “Ini hanya soal waktu, sama seperti belajar siswa pada umumnya di kelas satu tingkat dasar kita mulai perkenalkan dengan huruf braille beserta cara perabaannya, selanjutnya sampai sekarang kelas empat sudah dapat diperkenalkan dengan kalimat yang lebih banyak juga diajarkan membaca Al-Qur’an”. (Wawancara, 05 Mei 2023) Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa dalam memanfaatkan koleksi braille penyandang tunanetra tidak memiliki kesulitan, sebab dapat membaca koleksi braille memiliki beberapa tahap dan sesuai dengan tingkatan sekolah mereka. Berbeda halnya dengan penyandang tunaganda yakni tunanetra juga tunagrahita yang memiliki keterlambatan dalam memahami, itu menjadi kendala dalam memanfaatkan koleksi braille untuk memperoleh informasi.

Conclusion

Pengelolaan koleksi braille di perpustakaan SLB-ABCD Muhammadiyah Palu terdiri dari empat tahapan proses, yaitu pengadaan koleksi yang diperoleh melalui hibah dan terbitan sendiri, inventarisasi yang masih dilaksanakan secara manual, pelaksanaan kegiatan katalogisasi yang juga masih dilakukan secara manual dengan mencatat delapan daerah deskripsi berdasarkan AACR (Anglo American Cataloguing Rules) ke dalam buku induk dan klasifikasi koleksi braille yang dikelompokkaan berdasarkan abjad agar memudahkan pemustaka dalam menemukan koleksi yang diinginkan serta memudahkan pustakawan dalam memasukkan koleksi baru. Koleksi braille yang dapat dimanfaatkan pada perpustakaan SLB-ABCD Muhammadiyah Palu berjumlah 448 koleksi braille secara keseluruhan, terdiri dari 412 majalah braille dan buku pelajaran braille, 28 Al-Qur’an braille, 3 Atlas braille, 2 Peta taktual (peta timbul), globe braille dan 1 peraga gunung Merapi 3 dimensi braille. Koleksi braille yang kerap digunakan yaitu AlQur,an Braille, buku pelajaran braille dan majalah braille. Pada pemanfaatan koleksi braille, siswa memiliki kendala apabila siswa tersebut penyandang tunaganda yaitu tunanetra juga tunagrahita, siswa penyandang tunagrahita memiliki kemaampuan memahami lebih lambat sehingga kesulitan dalam memanfaatkan koleksi braille sebagai sumber informasi.