Kembali
16
1
2022 Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 6 · 1 ISSN 2598-3040

Pemanfaatan Koleksi Buku Braille Sebagai Sumber Informasi Siswa Penyandang Tunanetra di Sekolah Luar Biasa Bagian A Negeri Semarang

Universitas Diponegoro; Universitas Diponegoro

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami bagaimana pemanfaatan koleksi buku Braille sebagai sumber informasi siswa penyandang tunanetra di Sekolah Luar Biasa Bagian A Negeri Semarang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pemilihan informan dalam penelitian ini menggunakan Teknik purposive sampling. Terdapat 5 informan yang terdiri dari 3 siswa penyandang tunanetra, 1 guru siswa penyandang tunanetra, dan 1 pustakawan. Analisis data yang digunakan adalah data reduction, display data, conclusion drawing / verifying. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koleksi buku Braille menjadi sumber informasi yang dimanfaatkan oleh siswa penyandang tunanetra, koleksi yang tersedia di perpustakaan meliputi koleksi Al-Qur’an Braille, majalah Braille, buku pelajaran (IPA, IPS, dan Bahasa Indonesia), buku cerita (Fiksi dan Fabel). Koleksi buku Braille yang sering dibaca siswa penyandang tunanetra yaitu koleksi buku cerita atau dongeng seperti fabel & fiksi. Kebutuhan informasi siswa penyandang tunanetra lebih ke informasi mengenai cerita atau dongeng seperti fabel dan fiksi. Pustakawan dan guru memiliki peran penting dalam proses pemanfaatan koleksi buku Braille. Adapun kendala yang dialami siswa penyandang tunanetra dalam memanfaatkan koleksi buku Braille diantaranya yaitu kesulitan dalam mengambil dan mengembalikan buku, kesulitan dalam membaca buku Braille, serta masih terdapat koleksi yang belum tersedia di perpustakaan Sekolah Luar Biasa Bagian A Negeri Semarang.

Abstract

This study aims to find out and understand how to use a collection of Braille books as a source of information for students with visual importants as the state A Special School of Semarang. This study use a qualitative method with a case study approach. The important selection technique in this study used purposive sampling technique. There were 5 informants of 3 students with visual impairments, 1 teacher for students with visual impairments, and 1 librarian. Data analysis used is data reduction, data display, conclusion drawing/ verifying. The result show that the collections acailable in the library include a collection of the Braille Qur’an, Braille magazines, textbooks(science, social studies, and Indoenesia Language), story books (fiction and dabels). The collection of Braille books often ready by tudents with visual impairments is a collections of story books or fairy tales such as fabels & fiction. The information needs of students with visual impairments are more aboute information aboaut stories or fairy tales such as fabels and fiction. Librarians and teachers have an important role in the process of utilizing a collection of Braille Books. The obstacles experienced by tsudents with visual impairements in utilizing Braille book collections include difficulites in taking and returing book, difficulties in reading Braille books, and there are still collections that are not yet available in the Semarang State Special School Part A library.
Keywords: braille book collection · blind students · school library

Introduction

Salah satu jantung pendidikan dan sumber informasi bagi setiap orang adalah perpustakaan. Semua informasi bisa didapatkan di perpustakaan karena perpustakaan menyimpan berbagai macam bentuk koleksi informasi tercetak maupun noncetak yang bisa dimanfaatkan oleh para penggunanya. Pendidikan telah menjadi kebutuhan mutlak bagi setiap orang untuk menghadapi perkembangan zaman yang semakin maju Menurut Random House Dictionary of the English Language (1987), perpustakaan adalah suatu tempat berupa sebuah ruangan atau gedung yang di dalamnya berisi berbagai sumber informasi seperti buku-buku dan bahan-bahan lain untuk bahan bacaan, studi maupun rujukan (House, 1987). Kegiatan belajar mengajar tentunya tidak terlepas dari kegiatan membaca. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia membaca memiliki arti melihat serta memahami isi arti dari sebuah tulisan (dengan melisankan atau dalam hati). Bagi setiap orang, indera penglihatan menjadi alat vital yang bisa digunakan untuk membaca dan mendapatkan sebuah informasi melalui penglihatannya. Oleh sebab itu seseorang yang memiliki gangguan penglihatan atau lebih dikenal dengan tunanetra keadaan fisik tersebut dapat mempengaruhi tingkat kemampuan dalam mengakses sebuah informasi. Karena sebagian besar informasi diperoleh melalui penglihatan. Bagi setiap orang istilah tunanetra bukanlah hal yang asing lagi. Tunanetra merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan keadaan penderita yang mengalami kelainan indera penglihatan, sehingga mata tersebut tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya (Nahlisa & Christiani, 2015). Sebagai makhluk ciptaan tuhan yang memiliki keterbatasan pada indera penglihatan, penyandang tunanetra juga berhak mendapatkan akses informasi selayaknya manusia normal pada umumnya. Apalagi sekarang informasi sudah menjadi kebutuhan dasar manusia. Buku Braille menjadi sumber informasi yang dapat dimanfaatkan oleh penyandang tunanetra untuk memenuhi kebutuhan informasinya. Menurut (Riga, 2017) Kode Braille diciptakan oleh Louis Braille (1809- 1852). Kode-kode tersebut berisikan informasi seperti isi dalam buku namun khusus bagi tunanetra dan orang yang mengalami gangguan penglihatan. Cara membaca Huruf Braille dilakukan dari kiri ke kanan dan nantinya dapat melambangkan abjad, angka, tanda baca, symbol dan lainnya. Namun di era sekarang ini teknologi sudah berkembang pesat, penyandang tunanetra dapat memenuhi kebutuhan informasinya lewat berbagai cara contohnya seperti melalui digital talking book, yaitu sebuah buku bicara yang berisi rekaman suara yang membacakan isi informasi yang terdapat dalam buku tersebut. Menurut salah satu artikel yang diterbitkan oleh Yayasan Mitra Netra pada tahun 2016 yang berjudul “Digital Talking Book Media Alternatif Masa Depan Bagi Tunanetra” dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa digital talking book atau buku bicara selama ini menjadi salah satu media yang penting bagi penyandang tunanetra dalam mengakses sebuah informasi seperti pendidikan, budaya maupun ilmu pengetahuan lainnya. Selain itu penyandang tunanetra juga dapat memenuhi kebutuhan informasinya melalui youtube atau yang lagi terkenal di zaman sekarang yaitu Podcast, yang merupakan suatu media hasil rekaman audio yang dapat didengarkan oleh masyarakat umum tak terkecuali penyandang tunanetra melalui internet. Berdasarkan hal tersebut dapat menimbulkan suatu permasalahan apakah buku Braille masih dimanfaatkan oleh penyandang tunanetra sebagai salah satu sumber informasi bagi mereka. Perpustakaan SLB/A Negeri Semarang yang beralamatkan di Jl. Elang Raya No. 2, Mangunharjo, Kec. Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah 50272, merupakan salah satu tempat untuk memenuhi kebutuhan informasi yang bisa dimanfaatkan oleh siswa berkebutuhan khusus salah satunya adalah penyandang tunanetra. Perpustakaan SLB/A Negeri Semarang menyediakan koleksi buku Braille sebagai sumber informasi yang dapat dimanfaatkan oleh siswa penyandang tunanetra. Perpustakaan Sekolah Luar Biasa Bagian A Negeri Semarang memiliki nilai lebih bagi peneliti karena memiliki koleksi buku Braille yang bermacam-macam, menurut penuturan salah satu pengelola perpustakaan koleksi buku Braille meliputi buku pelajaran, Al-Qur’an Braille, buku cerita dan majalah Braille. Koleksi buku Braille memiliki peran penting bagi penyandang tunanetra karena merupakan salah satu sumber informasi yang bisa dimanfaatkan oleh mereka. Dengan dimanfaatkannya koleksi buku Braille maka penyandang tunanetra bisa mendapatkan informasi yang diinginkannya sehingga mereka dapat menambah wawasan dan pengetahuannya. Hal tersebut dapat menimbulkan pertanyaan yakni bagaimana proses pemanfaatan koleksi buku Braille oleh penyandang tunanetra, apakah penggunaan koleksi buku Braille sesuai dengan tujuannya yaitu sebagai sumber informasi bagi penyandang tunanetra. Berdasarkan pemaparan tersebut peneliti ingin meneliti terkait bagaimana pemanfaatan koleksi buku Braille sebagai sumber informasi siswa penyandang tunanetra. Maka peneliti mengambil judul “Pemanfaatan Koleksi Buku Braille Sebagai Sumber Informasi Siswa Penyandang Tunanetra di Sekolah Luar Biasa Bagian A Negeri Semarang.” 2. Landasan Teori 2.1 Pemanfaatan Koleksi Buku Braille Sebagai Sumber Informasi Koleksi buku Braille merupakan koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan berupa kumpulan bahan pustaka yang ditulis dengan tulisan Braille yang dilayankan untuk penyandang tunanetra. Koleksi buku Braille terbagi menjadi beberapa jenis antara lain karya cetak, karya non cetak dan karya dalam bentuk elektronik. Koleksi buku Braille mempunyai fungsi untuk memenuhi kebutuhan informasi pengguna tunanetra (Riga, 2017). Huruf Braille adalah sejenis sistem tulisan yang diperuntukan oleh penyandang tunanetra. Menurut Tumirah dalam (Nahlisa & Christiani, 2015) Braille adalah sistem tulisan dan cetakan (berdasarkan abjad latin) untuk para tunanetra berupa kode yang terdiri dari enam titik dan berbagai kombinasi yang ditonjolkan pada kertas sehingga dapat diraba. Kode Braille atau Huruf Braille diciptakan oleh Louis Braille (1809- 1852). Kode-kode atau huruf-huruf tersebut berisikan informasi seperti isi dalam buku, namun khusus bagi tunanetra dan orang yang mengalami gangguan penglihatan. Buku Braille memiliki peran penting bagi penyandang tunanetra. Dengan menggunakan buku Braille seorang penyandang tunanetra dapat mengakses informasi melalui membaca dengan cara diraba. Adapun gambaran dari bentuk abjad Braille dan tanda Braille adalah sebagai berikut : Gambar 1. Contoh Abjad dan Tanda Braille (Soekini Pradopo, 1977) Menurut Shodorsmall (2000 : 17) dalam (Riga, 2017) sistematika penggunaan tulisan Braille yaitu dengan cara diraba dengan menggerakkan jari pada tonjolan kertas Braille untuk mengenali setiap huruf dan menyusun kata kata, dengan ujung jari penyandang tunanetra akan lebih mudah mengenali huruf dikarenakan ujung jari sangat sensitif terhadap tekstur, sehingga bentuk huruf Braille dapat dirasakan oleh penyandang tunanetra. Pemanfaatan koleksi buku Braille, pengguna yang akan memanfaatkan buku Braille akan dibantu oleh pustakawan. Pengguna hanya cukup memberitahukan kepada pustakawan koleksi apa yang ingin dibutuhkan sementara pustakawan nanti akan mengambilkan koleksi sesuai dengan apa yang dibutuhkan pengguna, setelah itu pengguna langsung bisa memanfaatkan koleksi yang sudah didapat dan dibaca di tempat khusus yang telah disediakan oleh perpustakaan. Sebagian besar seseorang mengandalkan indera penglihatan untuk mendapatkan sebuah informasi (Nahlisa & Christiani, 2015). Dengan demikian seseorang yang mengalami gangguan penglihatan atau yang sering disebut dengan tunanetra akan mengalami kesulitan dalam mengakses sebuah informasi. Salah satu sumber informasi yang dapat diakses oleh penyandang tunanetra yaitu buku Braille, dengan buku Braille seoarang tunanetra dapat mengakses dan memperoleh informasi melalui membaca dengan cara diraba. Bagi setiap orang istilah tunanetra bukanlah hal yang asing lagi, bahkan di Indonesia ada organisasi yang diperuntukkan oleh penyandang tunanetra yang bernama Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) yang bertujuan untuk mewujudkan keadaan yang kondusif bagi tunanetra untuk menjalankan kehidupannya sebagai individu dan warga negara yang cerdas, mandiri dan produktif tanpa diskriminasi dalam aspek kehidupan dan penghidupan. Menurut Persatuan Tunanetra Indonesia tunanetra adalah orang yang tidak memiliki penglihatan sama sekali atau buta total serta orang yang memiliki penglihatan tetapi tidak mampu menggunakan penglihatannya secara baik ketika membaca tulisan biasa berukuran 12 pt walaupun dalam keadaan cahaya dan jarak yang normal dan dibantu dengan kacamata keadaan tersebut dikenal dengan istilah kurang awas atau low vision. Menurut Purwanto dalam (Riga, 2017) Tunanetra adalah kondisi dimana hilangnya indra penglihatan seseorang yang akan berdampak secara mekanis maupun psikologis, indra penglihatan adalah indra pemadu segala rangsang yang diterima oleh individu. Secara garis besar tunanetra adalah kondisi dimana seseorang mengalami hambatan atau gangguan pada indra penglihatannya sehingga mereka tidak bisa melihat dengan jelas atau bahkan buta. Berdasarkan tingkat penglihatannya tunanetra terbagi menjadi dua yaitu buta total (total blind) dan yang kedua yaitu dengan kondisi penglihatan yang tidak sempurna tetapi tidak sepenuhnya buta atau dengan kata pandangan yang lemah (low vision), akibat adanya kekurangan pada indra penglihatannya maka tunanetra menggunakan fungsi indra lainnya seperti penciuman, peraba dan pendengaran, walaupun memiliki keterbatasan tidak sedikit penyandang tunanetra mempunyai bakat yang luar biasa contohnya di bidang musik dan pengetahuan (Riga, 2017). 2.2 Sekolah Luar Biasa (SLB) Sekolah Luar Biasa (SLB) merupakan lembaga pendidikan yang diperuntukkan untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Menurut Encyclopedia of Disability (2005) tentang pendidikan luar biasa dikatakan bahwa “Special education means specifically designed instruction to meet the unique needs of a child with disability” (Gary, 2005). Menurut Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Sekolah Luar Biasa (SLB) terbagi menjadi beberapa jenis sesuai dengan kelainan yang dimiliki oleh peserta didik, antara lain yaitu: (1) SLB Bagian A yaitu diperuntukan untuk peserta didik dengan kelainan pada penglihatan atau yang sering disebut dengan tunanetra. (2) SLB Bagian B yaitu diperuntukan untuk peserta didik dengan kelainan pada pendengaran atau tunarungu. (3) SLB Bagian C yaitu diperuntukan untuk peserta didik dengan keterbelakangan mental ringan atau penyandang tunagrahita ringan, lalu ada SLB Bagian C1 yaitu untuk penyandang tunagrahita sedang. (4) SLB Bagian D yaitu diperuntukan untuk peserta didik dengan gangguan gerak atau penyandang tunadaksa tanpa adanya gangguan kecerdasan, lalu ada SLB Bagian D1 yang diperuntukan untuk peserta didik penyandang tunadaksa disertai dengan gangguan kecerdasan. (5) SLB Bagian E yaitu diperuntukan untuk peserta didik dengan gangguan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial atau lebih dikenal dengan penyandang tunalaras. (6) SLB Bagian G yaitu diperuntukan untuk peserta didik dengan kelainan gabungan dalam segi fisik, mental, emosi dan sosial disebut penyandang tunaganda.

Method

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif untuk mengidentifikasi bagaimana pemanfaatan koleksi buku braille sebagai sumber informasi siswa penyandang tunanetra di Sekolah Luar Biasa Bagian A Negeri Semarang. Metode kualitatif dapat diartikan sebagai suatu metode penelitian yang bermaksud untuk menjelaskan suatu fenomena yang dialami oleh subjek penelitian dengan cara deskriptif dengan menggunakan metode ilmiah dengan memanfaatkan berbagai pendekatan (Moleong, 2007). Pendekatan studi kasus digunakan guna untuk mengeksplorasi fenomena atau kasus yang diteliti dalam konteks, situasi dan waktu tertentu, sehingga didapatkan hasil yang dapat menjabarkan bagaimana proses yang terjadi dalam penelitian ini. Perekrutan informan dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kriteria tertentu teknik ini juga bisa disebut teknik purposive sampling (Cohen et al., 2007). Total informan yang berpartisipasi dalam penelitian ini terdiri dari 5 informasn dengan rincian 3 siswa penyandang tunanetra, 1 pustakawan, dan 1 guru kelas tunanetra. Data yang telah diperoleh dalam penelitian ini kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis data dari (Miles & Huberman, 1992) berupa reduksi data, display data dan verifikasi data. Menjaga kualitas penelitian perlu dilakukan agar penelitian yang dilakukan mendapat kepercayaan dari orang lain dan dianggap sebagai penelitian yang bersifat ilmiah, dalam hal ini peneliti menggunakan beberapa pengujian yang meliputi uji credibility, transferability, dependability, dan confirmanility (Sugiyono, 2014).

Result & Discussion

Penelitian ini membahas mengenai pemanfaatan koleksi buku Braille sebagai sumber informasi siswa penyandang tunanetra di Sekolah Luar Biasa Bagian A Negeri Semarang. Berdasarkan hasil analisis yang ada, ditemukan bahwa: 4.1 Koleksi Buku Braille di Perpustakaan Sekolah Luar Biasa Bagian A Negeri Semarang Perpustakaan Sekolah Luar Biasa Negeri Semarang memiliki beberapa macam koleksi buku Braille yaitu meliputi Al-Qur’an Braille, majalah Braille, buku pelajaran, dan buku cerita Braille seperti fiksi dan fabel. Pernyataan tersebut sesuai dengan apa yang disampaikan pustakawan dalam wawancara beliau menuturkan “Ada buku cerita dongeng, terus ada majalah Braille dari Abiyoso, ada Al-Qur’an Braille dan buku pelajaran seperti IPA, IPS dan Bahasa Indonesia” (informan). Perpustakaan Sekolah Luar Biasa Bagian A Negeri Semarang memiliki total keseluruhan buku yaitu 95 koleksi buku Braille yang dapat dimanfaatkan oleh siswa penyandang tunanetra. Koleksi tersebut terdiri dari 35 % Al-Qur’an Braille, 30 % majalah Braille, 20 % buku pelajaran Braille, dan 15 % buku cerita Braille Hal tersebut sesuai dengan yang disampaikan oleh informan seperti berikut ini: “Kalau koleksi braille di perpustakaan itu ga nyampe 100 buku, kemaren terakhir itu 95 buku mas, sebenernya dulu itu banyak mas tapi karena habis renovasi bukunya banyak yang rusak dan akhirnya yang rusak-rusak tidak dilayankan lagi. Sekarang ini juga belum di inventarisasi lagi jadi saya tidak bisa mengupdate jumlahnya tapi seinget saya itu terakhir ada 95 buku mas. Kalau secara persentase itu 35 % Al-Qur’an Braille, 30% majalah Braille, 20% buku pelajaran dan 15% sisanya buku cerita Braille mas.” (Fadillah, 5 Mei 2021). Secara keseluruhan koleksi buku Braille di perpustakaan Sekolah Luar Biasa Bagian A Negeri Semarang didominasi oleh koleksi Al-Qur’an Braille. Hal tersebut terjadi karena perpustakaan mendapatkan bantuan dari sebuah Yayasan yang bernama Raudlatul Makfufin berupa Al-Qur’an Braille yang jumlahnya sangat banyak, dari pihak perpustakaan melalui pustakawannya tidak bisa menyebutkan secara rinci jumlah bukunya dikarenakan belum di inventarisasi tetapi pustakawan menyebutkan bahwa kalau dihitung dengan persentase koleksi Al-Qur’an Braille memiliki persentase 35% dari jumlah keseluruhan buku yang ada di perpustakaan Sekolah Luar Biasa Bagian A Negeri Semarang. 4.2 Pemanfaatan Koleksi Buku Braille Sebagai Sumber Informasi Siswa Penyandang Tunanetra di Perpustakaan Sekolah Luar Biasa Bagian A Negeri Semarang Sumber informasi adalah sarana penyimpanan informasi baik tercetak ataupun non cetak. Menurut Abdul Rahman Saleh sumber informasi terbagi menjadi beberapa jenis yaitu sumber informasi primer, sumber informasi sekunder, sumber informasi tersier, sumber informasi referensi, dan sumber informasi dari komputer atau internet (Rahman Saleh & Sujana, 2009). Koleksi buku Braille termasuk ke dalam sumber informasi sekunder, yaitu informasi dari sumber primer yang disusun secara sistematis supaya mudah diakses. Huruf Braille pertama kali ditemukan atau diciptakan oleh Louis Braille (1809- 1852) setelah itu dikembangkan dan disusun secara sistematis sehingga bisa menjadi sebuah buku Braille sehingga para pengguna bisa dengan mudah mengakses buku Braille tersebut, oleh karena itu maka buku Braille termasuk ke dalam sumber informasi sekunder. Alasan siswa penyandang tunanetra memilih koleksi buku Braille sebagai sumber informasi dikarenakan perpustakaan hanya menyediakan koleksi buku Braille. Akan tetapi dengan adanya buku Braille selain membuat siswa mendapatkan informasi siswa penyandang tunanetra juga dapat meningkatkan kemampuan bacanya. Dalam memanfaatkan koleksi buku Braille umumnya para siswa datang langsung ke perpustakaan untuk memanfaatkan koleksi buku Braille yang tersedia. Di dalam perpustakaan terdapat tempat baca yang disediakan untuk siswa penyandang tunanetra ketika mereka ingin membaca buku Braille. Berdasarkan temuan yang peneliti dapatkan secara umum yang dilakukan siswa ketika ingin memanfaatkan buku Braille yaitu yang pertama datang langsung ke perpustakaan setelah itu izin dengan pustakawan atau guru pendamping, lalu mereka mengambil buku yang mereka inginkan ke rak buku yang ada di perpustakaan, setelah mendapatkan buku yang mereka inginkan mereka menuju ke tempat baca untuk membaca buku yang telah mereka pilih dengan cara meraba titik – titik yang terdapat di dalam buku untuk mengetahui huruf / kata kata yang terdapat dalam buku Braille, huruf Braille diciptakan untuk para tunanetra berupa kode yang terdiri dari enam titik dan berbagai kombinasi yang ditonjolkan pada kertas sehingga dapat diraba (Tumirah (2012 : 5) dalam (Nahlisa & Christiani, 2015). Hal tersebut sesuai dengan yang disampaikan salah satu informan berikut ini: “Oh iya bisa kak. Jadi pertama datang ke perpustakaan izin sama guru atau pustakawan setelah itu ambil buku di rak setelah itu ke meja baca setelah itu buka bukunya habis itu kita raba titik-titik yang ada di buku itu untuk mengetahui huruf kak, setelah itu baru kita ucapkan” (Rafa, 4 Mei 2021). Kegiatan yang paling dominan dilakukan oleh siswa penyandang tunanetra ketika mereka berkunjung ke perpustakaan yaitu kegiatan membaca. Kegiatan membaca menjadi kegiatan paling favorit yang dilakukan siswa penyandang tunanetra ketika berkunjung ke perpustakaan, kegiatan membaca dapat menjadikan sarana hiburan bagi siswa saat merasa jenuh di kelas, kegiatan tersebut juga dapat melatih untuk semakin mahir dalam membaca buku Braille selain itu dapat menambah wawasan atau pengetahuan bagi siswa. Waktu yang sering digunakan siswa ketika berkunjung ke perpustakaan yaitu pada saat waktu istirahat. Tetapi terdapat penjadwalan sendiri oleh guru terhadap siswa penyandang tunanetra untuk datang ke perpustakaan dan itu masuk dalam jam pelajaran hal tersebut dilakukan untuk membiasakan para siswa tunanetra berkunjung ke perpustakaan untuk memanfaatkan koleksi buku Braille, seperti yang disampaikan oleh informan berikut ini “Seringnya pas waktu istirahat mas, tapi kan kadang ada guru yang menjadwalkan siswanya untuk ke perpustakaan gitu mas, jadi pas jam pelajaran gitu disuruh guru untuk ke perpustakaan baca buku Braille gitu mas” (Fadillah, 5 Mei 2021). Sedangkan koleksi yang jarang dimanfaatkan oleh siswa penyandang tunanetra yaitu koleksi buku pelajaran Braille dan Al-Qur’an Braille. Faktor utama yang membuat kedua koleksi tersebut jarang dimanfaatkan karena siswa tidak tertarik dengan koleksi tersebut. Untuk koleksi buku pelajaran terdapat faktor lainnya yaitu siswa sudah mendapatkan informasi mengenai pelajaran ketika jam pelajaran siswa mendapatkan penjelasan dari guru secara langsung, hal tersebut membuat siswa ketika datang ke perpustakaan untuk memanfaatkan koleksi buku Braille siswa tidak tertarik dengan koleksi buku pelajaran Braille, seperti yang disampaikan oleh informan “..Kalau buku pelajaran aku jarang membacanya kak. Soalnya kalau pelajaran biasanya dengerin guru dikelas udah dijelasin sama gurunya, kalau informasi tentang pelajaran saya dapatnya dari guru kak” (Rafa, 4 Mei 2021). Faktor yang membuat siswa tidak tertarik membaca buku pelajaran ketika berkunjung ke perpustakaan karena siswa sudah mendapatkan informasi terkait pelajaran dari guru ketika jam pelajaran di kelas. Oleh karena itu siswa lebih tertarik membaca koleksi buku Braille lain seperti buku cerita dan majalah Braille ketika berkunjung ke perpustakaan. 4.3 Peran Pustakawan dan Guru dalam Proses Pemanfaatan Koleksi Buku Braille Pustakawan tentunya memiliki peran dalam pemanfaatan koleksi buku Braille, tanpa adanya pustakawan siswa penyandang tunanetra akan kesulitan dalam memanfaatkan koleksi buku Braille. Berdasarkan temuan yang telah didapatkan oleh peneliti secara umum pustakawan memiliki tugas untuk membantu siswa tunanetra dalam memanfaatkan koleksi buku Braille seperti mengarahkan, mengawasi, mengambilkan buku, mengembalikan buku dan membantu membacakan buku. Hal tersebut sesuai dengan apa yang dikatakan oleh salah satu informan, yang menyatakan sebagai berikut “Ya dibantu mengarahkan pas mau ambil buku dan mau ngembaliin buku terus kalau misal ada kesulitan pas mau membaca biasanya dibantu dijelasin” (Fitriyani, 4 Mei 2021). Sedangkan informan lain menegaskan sebagai berikut “Ya saya bantu arahkan mas biasanya itu kesulitannya pas mau mengambil buku karena mungkin belum hafal tempat atau rak bukunya karena kan siswa tunanetra ke perpustakaan bukan hanya untuk membaca buku tetapi mereka juga berlatih untuk menghafal jalannya ya intinya untuk bisa tahu oh rak buku di sini oh meja baca di sini gitu mas. Terus ada juga yang kesulitan membaca itu biasanya saya bantu bacakan mas” (Fadillah, 5 Mei 2021). Berdasarkan beberapa hasil wawancara ditemukan bahwa peran pustakawan dalam pemanfaatan koleksi buku Braille oleh siswa penyandang tunanetra adalah, membantu mengarahkan siswa ketika mereka ingin memanfaatkan koleksi buku Braille seperti memberikan penjelasan dimana letak rak buku lalu dimana letak tempat baca, mengawasi siswa penyandang tunanetra ketika memanfaatkan koleksi buku Braille, membantu siswa penyandang tunanetra saat kesulitan dalam mengambil dan mengembalikan koleksi buku Braille, dan membantu membacakan buku saat siswa penyandang tunanetra mengalami kesulitan dalam membaca buku Braille atau ada salah satu huruf yang kurang jelas. Selain pustakawan guru juga memiliki peran dalam pemanfaatan koleksi buku Braille. Sedikit berbeda dengan pustakawan peran guru disini lebih ke memotivasi siswa untuk datang ke perpustakaan tetapi tidak hanya itu guru juga membantu mengarahkan, mengawasi, mengambilkan dan mengembalikan buku, serta membantu membacakan buku sama halnya yang dilakukan oleh pustakawan dikarenakan ada hari tertentu siswa berkunjung rutin ke perpustakaan bersama dengan guru untuk memanfaatkan koleksi buku Braille disitu guru memiliki peran penting yang dibantu juga oleh pustakawan. Adapun peran guru dalam proses pemanfaatan koleksi buku Braille adalah dengan cara memberikan motivasi kepada siswa penyandang tunanetra untuk lebih semangat berkunjung ke perpustakaan untuk memanfaatkan koleksi buku Braille, memberikan pengarahan kepada siswa penyandang tunanetra seperti memberitahukan peraturan yang ada di perpustakaan, memberitahukan dimana letak rak buku, memberitahukan buku Braille apa saja yang tersedia di perpustakaan, membantu siswa penyandang tunanetra saat kesulitan dalam mengambil dan mengembalikan buku Braille, membantu mengajarkan dan membacakan buku saat siswa penyandang tunanetra mengalami kesulitan dalam membaca buku Braille. 4.5 Kendala yang dialami Siswa dalam Memanfaatkan Koleksi Buku Braille Dalam pemanfaatan koleksi buku Braille siswa penyandang tunanetra pastinya memiliki kendala, Berdasarkan temuan yang telah peneliti dapatkan ditemukan beberapa kendala yang dialami siswa penyandang tunanetra. Kendala tersebut antara lain seperti kesulitan dalam mengambil buku karena berbagai alasan seperti letak buku terlalu tinggi, buku masih berantakan dan tidak hafal tempat bukunya, selain itu juga terdapat kendala lain yaitu kesulitan dalam membaca buku namun dalam hal ini siswa memiliki alasan yang berbeda-beda antara lain seperti kesulitan jika membaca tulisan bergambar, terdapat titik kode braille yang kurang jelas, dan sulit memahami tulisan Braille yang terlalu panjang. Hal tersebut juga disampaikan informan, yang menyatakan bahwa: “Kalau kendalanya itu kebanyakan kalau mereka pas mau mengambil buku kadang mereka kesulitan dalam menemukan bukunya mas, kadang ya masih sering salah atau lupa lokasi rak bukunya, terus ada juga siswa yang pingin baca buku cerita tertentu tapi di perpustakaan tidak ada, pas waktu itu ada siswa yang mau baca buku cerita tentang asal usul kota semarang tapi pas waktu itu di perpustakaan tidak ada bukunya” (Rafa, 4 Mei 2021). Berdasarkan data yang telah ditemukan siswa mengelami kendala dalam memanfaatkan koleksi buku Braille disebabkan karena faktor Kesulitan dalam mengambil buku dikarenakan beberapa hal seperti letak buku terlalu tinggi, buku tidak tertata rapi atau berantakan, dan siswa belum menghafal tempat rak buku, Kesulitan dalam membaca buku Braille dikarenakan beberapa hal seperti kesulitan jika membaca tulisan bergambar, terdapat titik kode huruf Braille yang kurang jelas, sulit memahami tulisan Braille yang terlalu panjang, Kendala ketersediaan koleksi buku Braille, masih terdapat koleksi yang belum tersedia di perpustakaan Sekolah Luar Biasa Bagian A Negeri Semarang. Seperti kurangnya koleksi buku cerita.

Conclusion

Pemanfaataan koleksi buku Braille sebagai sumber informasi siswa penyandang tunanetra di Sekolah Luar Biasa Bagian A Negeri Semarang. Berdasarkan hasil temuan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa, koleksi buku Braille menjadi sumber informasi yang dimanfaatkan oleh siswa penyandang tunanetra, koleksi yang tersedia di perpustakaan meliputi koleksi Al-Qur’an Braille, majalah Braille, buku pelajaran (IPA, IPS, dan Bahasa Indonesia), buku cerita (Fiksi dan Fabel). Adapun cara siswa penyandang tunanetra dalam memanfaatkan koleksi buku Braille yaitu dengan datang langsung ke perpustakaan setelah itu mengambil buku Braille yang mereka inginkan di rak buku yang tersedia setelah itu siswa penyandang tunanetra menuju ke meja baca untuk membaca buku yang telah dipilih, kegiatan tersebut mendapat pengawasan dari pustakawan dan guru untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan. Koleksi yang sering dimanfaatkan siswa penyandang tunanetra yaitu koleksi buku cerita (fiksi dan fabel). Adapun kendala yang dialami siswa penyandang tunanetra dalam proses pemanfaatan koleksi buku Braille antara lain kesulitan dalam mengambil dan mengembalikan buku Braille, kesulitan dalam membaca buku Braille, kendala lainnya yaitu masih terdapat koleksi yang belum tersedia di perpustakaan Sekolah Luar Biasa Bagian A Negeri Semarang yaitu koleksi buku cerita seperti fabel dan fiksi yang jumlahnya masih sedikit.