Evaluasi Sumber Daya Manusia (SDM) serta Implikasinya Terhadap Kualitas Layanan di Perpustakaan SMKN 2 Bandung
Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untukmengevaluasi kinerja dan kapasitas sumber dayamanusia serta pengaruhnya terhadap kualitas layanan yang diberikandi Perpustakaan SMKN 2 Bandung dengan menggunakan pendekatan model Balanced Scoredcard. Metodologiyang diterapkan adalah kualitatif deskriptifmenggunakan pendekatan Balanced Scorecard, yang mencakupempat sudut pandang: aspek finansial, kepuasan pelanggan, proses internal, serta aspek pembelajaran dan perkembangan.Data diperoleh melalui wawancara dengantiga kelompok informan,yaitu kepala sekolah, pustakawan yang mencakup kepala dan staf, serta pemustaka yang terdiri atas guru dan siswa. Hasil data diperkuat dengan observasi dan dokumentasi.Temuan dari penelitian menunjukkan bahwa perpustakaan hanya memiliki dua staf pustakawanyangberasal dari latar belakang yang tidaksesuai, yang berakibat pada beban kerja yang berlebihan dan ketidakefisienan dalam layanan, terutama dalam proses katalogisasi, sirkulasi, dan referensi. Meskipun anggaran terbatas, pihak sekolah tetap menyelenggarakan pelatihan rutin untuk meningkatkan keterampilan pustakawan. Dari perspektif pelanggan, sebagian besar pengguna merasa cukup mendapatkan bantuan meskipun layanan yang tersedia belum maksimal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ketidakidealan dalam sumber daya manusia berpengaruh langsung terhadap kualitas layanan perpustakaan di Sekolah Menengah Kejuruan.
Abstract
This study aims to evaluate the performance and capacity of human resources and their impact on the quality of services provided at the library of SMKN 2 Bandung by employing the Balanced Scorecard model. A descriptive qualitative method was adopted, utilizing the Balanced Scorecard approach, which includes four perspectives: financial, customer satisfaction, internal processes, and learning and growth. Data were collected through interviews with three groups of informants: the principal, librarians (including the head and staff), and library users (comprising teachers and students). The findings were triangulated through direct observation and document analysis. The results indicate that the library is staffed by only two librarians, both of whom lack relevant educational backgrounds, leading to excessive workloads and inefficiencies in core services, particularly cataloging, circulation, and reference. Despite limited funding, the school consistently provides training programs to enhance librarians’ competencies. From the customer perspective, most users report receiving adequate assistance, although the services are not yet optimal. The study concludes that inadequacies in human resources have a direct and significant impact on the quality of library services in vocational high schools.
Keywords:
Sumber Daya Manusia
· Kualitas Layanan
· Perpustakaan Sekolah
· Balanced Scorecard
· Evaluasi Kinerja
Introduction
Dalam lingkungan perpustakaan sekolah, adanya staf yang memadai dan memiliki kualifikasi yang baik dapat memberikan pengaruh positif terhadap kualitas layanan informasi yang diberikan kepada pemustaka, baik itu siswa maupun guru. Namun keadaan sesungguhnya di lapangan menunjukkan bahwa perpustakaan di sekolah, terutama di SMK, masih menghadapi permasalahan mengenai keterbatasan sumber daya manusia. Seperti yang ditemukan dalam penelitian Hafid dkk. (2024)menunjukkan bahwa terdapat kekurangan sumber daya manusia untuk pengelolaan perpustakaan digital sehingga produktivitas tenaga kerja sangat menurun.Kurangnya jumlah staf pustakawan dapat menghambat kelancaran kegiatan sehari-hari di perpustakan dan berdampak negatif pada layanan, aksesibilitas koleksi, serta kepuasan pemustaka (Effendi & Krismayani, 2016).Sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu faktor kunci dalam menentukan keberhasilan pengelolaan serta kualitas layanan perpustakaan (Kobat dkk., 2024). Pengelolaan sumber daya manusia yang efektif tidak hanya melibatkan perencanaan, perekrutan, pengembangan karir, hingga evaluasi kinerja, tetapi juga memastikan bahwa staf yang tersedia memiliki kualifikasi dan kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan operasional perpustakaan (Azkiya, 2022). Termasuk pengelolaan sumber daya manusia di Perpustakaan SMKN 2 Bandung.Dalam melakukan upaya evaluasi kinerja sumber daya manusia di perpustakaan sekolah, peneliti menggunakan model Balanced Scorecard (BSC) yang menjadi salah satu model yang dinilai relevan dan komprehensif, terutama untuk organisasi non-profit seperti perpustakaan sekolah. Model Balanced Scorecard ini merupakan metode evaluasi kinerja yang paling populer digunakan untuk mengukur kinerja sebuah organisasi (Putri & Hadiguna, 2023). Model Balanced Scorecard ini menekankan pada empat perspektif untuk mengukur kinerja organisasi. Penggunaan model Balanced Scorecard ini dapat relevan untuk menilai serta meningkatkan kapabilitas sumber daya manusia di perpustakaan.Penelitian terdahulu telah menegaskan pentingnya sumber daya manusia di perpustakaan sekolah. Penelitian yang dilakukan oleh Sari & Hanum (2019)di Perpustakaan SMKN 1 Pontianak menunjukkan bahwa manajemen SDM dinilai kurang optimal, terutama dalam aspek perencanaan dan pelatihan, mengakibatkan pekerjaan di perpustakaan menjadi tidak terorganisir serta berdampak pada kualitas layanan yang kurang memuaskan. Dalam penelitian yang dilakukan oleh (Salsabila dkk., 2024)juga menemukan bahwa pada Perpustakaan SMKN 1 Daha Selatan juga memiliki masalah salah satunya adalah kurangnya tenaga perpustakaan khususnya di bagian sehingga mengakibatkan terjadinya antrean yang panjang serta memperlambat proses peminjaman buku. Berdasarkan hasil penelitian terdahulu tersebut dapat dikatakan bahwa penting untuk memperhatikan sumber daya manusia yang dimiliki khususnya di perpustakaan sekolah agar pekerjaan yang ada dapat berjalan dengan lancar.Kebaruan dari penelitian ini terletak pada penerapan model Balanced Scorecard (BSC) sebagai kerangka evaluasi yang menyeluruh serta menyatukan pandangan mengenai proses internal, kepuasan pengguna, serta pembelajaran dan perkembangan SDM. Dengan begitu penelitian ini dapat mengisi kurangnya kajian evaluasi SDM di perpustakaan sekolah terutama di SMK yang masih jarang diterapkan di perpustakaan sekolah Indonesia. Adapun tujuan utama dari dilakukannya penelitian ini yaitu untuk mengevaluasi kinerja dan kapasitas sumber daya manusia serta pengaruhnya terhadap kualitas layanan yang diberikan di Perpustakaan SMKN 2 Bandung dengan menggunakan pendekatan model Balanced Scoredcard. 2.Tinjauan Pustaka2.1.Balanced ScorecardModel Balanced Scorecard diperkenalkan oleh dua orang ahli bernama Robert S. Kaplan dan David P. Norton pada awal tahun 1990 di Amerika Serikat. Konsep dari model Balanced Scorecard ini merupakan sebuah metode dalam manajemen yang strategis guna untuk menilai kinerja pada organisasi dari beragam perspektif Kulsum dkk. (2024). Model Balanced Scorecard memiliki fungsi untuk mengukur empat perspektif yakni keuangan, pelanggan, proses bisnis internal serta pembelajaran dan pertumbuhan (Musfah, 2023). Sehingga dalam model Balanced Scorecard ini memiliki empat perspektif yang harus ditinjau sebagai acuan ketika akan melakukan evaluasi pada suatu objek. Adapun penjelasan macam-macam empat perspektif dalam model Balanced Scoredcard yaitu sebagai berikut.2.1.1.Perspektif KeunganPerspektif ini mengukur kinerja suatu organisasi berdasarkan aspek keuangan yang dimiliki, seperti keuntungan, tumbuhnya pendapatan, serta pengeluaran yang tepat guna. Adanya pengukuran aspek keuangan ini dapat menjadi bahan evaluasi apakah perencanaan, implementasi dan pelaksanaan serta strategi dapat membawa perbaikan yang signifikan. Secara garis besar perspektif ini dapat memberikan wawasan mengenai seberapa efektif sebuah organisasi dalam menciptakan nilai untuk pemilik saham dan pihak yang berkepentingan lainnya.2.1.2.Perspektif PelangganPada perspektif pelanggan ini suatu organisasi penting untuk menentukan terlebih dahulu segmen pasar dan juga pelanggan yang akan menjadi target. Kemudian pada langkah selanjutnya petinggi dapat menentukan alat ukur untuk menjadi pengukur kinerja setiap unit yang beroperasi guna mencapai target finansial yang telah ditentukan. Tentunya fokus utama perspektif pelanggan adalah memenuhi kepuasan serta komitmen dari pelanggan sebagai tolak ukur keberhasilan sebuah organisasi. Sehingga sedari awal penting untuk menentukan segmen pasar agar dapat memahami keinginan pasar telah sesuai terhadap produk atau jasa yang ditawarkan.2.1.3.Perspektif Proses Bisnis InternalDalam perspektif proses bisnis internal menunjukkan langkah-langkah penting yang memungkinkan suatu organisasi untuk menawarkan nilai yang menarik serta mempertahankan pelanggan di segmen pasar sesuai yang diinginkan serta memenuhi harapan para pemilik saham. Hal ini untuk memastikan agar hasil akhir yang dituju dapat mencapai target strategis.2.1.4.Perspektif Pembelajaran dan PertumbuhanMengukur kinerja suatu organisasi untuk berupaya dalam mengembangkan target dan ukuran yang dapat mendorong proses pembelajaran dan pertumbuhannya. Perspektif ini terdapat cakupan evaluasi yakni terhadap keterampilan karyawan, mengembangkan sumber daya manusia, serta berinvestasi dalam inovasi dan juga teknologi. Sehingga dapat memastikan bahwa karyawan yang dimiliki dapat meningkatkan kualitas dan memenuhi kualifikasi sesuai target yang ditentukan.2.2.Sumber Daya Manusia dalam Layanan Perpustakaan SekolahPenerapan manajemen sumber daya manusia yang efisien mencakup langkah-langkah seperti perencanaan, pemilihan, pengujian, pelatihan, dan juga evaluasi (Sukinawan, 2024). Perencanaan pada sumber daya manusia serta kemampuan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja karyawan, baik secara sebagian maupun bersamaan (Sukesi & Ida Rindaningsih, 2023). Sumber daya manusia dalam konteks pengelolaan perpustakaan sekolah adalah komponen penting yang berkontribusi langsung pada pemberian layanan informasi yang bermutu. Sumber daya manusia di perpustakaan yang terampil dan berpengalaman dapat memperbaiki efisiensi dalam pengelolaan koleksi, interaksi dengan pengunjung, dan penciptaan program perpustakaan yang responsif terhadap permintaanpemustaka (Sari & Hanum, 2019). Dengan demikian, manajemen sumber daya manusia yang efektif dapat menghasilkan tenaga kerja perpustakaan yang berkualitas, yang mana pada akhirnya akan memperbaiki mutu layanan perpustakaan di sekolah.
Method
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dan menggunakan studi literature untuk mendukung hasil data yang disajikan dalam penelitian ini. Penelitian kualitatif deskriptif adalah penelitian yang berupaya untuk melakukan identifikasi fakta atau fenomena melalui pemahaman para ahli yang terlibat dalam studi yang dilakukan (Lestari & Mustika, 2021). Pemilihan metode tersebut didasarkan padakebutuhan untuk menganalisis manajemen SDM di Perpustakaan SMKN 2 Bandung secara keseluruhan.Subjek penelitian dalam penelitian ini merupakan seorang kepala sekolah SMKN 2 Bandung, kepala perpustakaan dan staf perpustakaan yang ada di Perpustakaan SMKN 2 Bandung, serta pemustaka yang merupakan seorang guru dan juga siswa. Sedangkan objek penelitian yang dikaji adalah menganalisis evaluasi manajemen SDM di Perpustakaan SMKN 2 Bandung. Metode teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu melakukan kegiatan observasi secara langsung selama dua kali, lalu melakukan wawancara yang mendalam dengan informan, analisis dokumen terkait SDM, serta studi literatur yang lebih banyak menggunakan artikel ilmiah.Penelitian ini dilakukan berdasarkan penggunaan model Balanced Scorecard (BSC) untuk melakukan kegiatan Monitoring dan Evaluasi di Perpustakaan SMKN 2 Bandung khususnya pada manajemen sumber daya manusia di Perpustakaan SMKN 2 Bandung. Pada analisis datanya peneliti melakukan kategorisasi data dengan empat perspektif yang dimiliki oleh model Balanced Scorecard dan menyesuaikannya dengan hasil data yang didapatkan saat wawancara.
Result & Discussion
4.1.Perspektif KeuanganPada Perpustakaan SMKN 2 Bandung tentunya memiliki pengelolaan anggaran yang dimiliki, baik untuk sumber koleksi pustaka, peningkatan kompetensi pustakawan, serta untuk fasilitas sarana dan prasarana perpustakaan. Karena bahwasanya anggaran ataupun dana adalah salah satu aspek yang penting demi berjalannya aktivitas pada sebuah perpustakaan (Nukhbatillah dkk., 2023). Terutama pada anggaran yang diberikan untuk kepentingan pustakawan. Akan tetapi, anggaran yang diberikan dinilai masih jauh darikata mencukupi. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara bersama kepala perpustakaan yang mengatakan bahwa anggaran yang ada jauh dari mencukupi padahal banyak kebutuhan kita perharinya, perminggunya, perbulannya. Adanya kekurangan anggaran ini kemudian berdampak pada jumlah pustakawan yang diadakan dalam perekrutan karyawan. Oleh karena itu dalam evaluasi pada perspektif keuangan mengenai jumlah sumber daya manusia di Perpustakaan SMKN 2 Bandung dapat dikatakan kurang.Namun dari hasil penelitian lainnya ditemukan pula bahwa terdapat anggaran khusus untuk memberikan pelatihan kepada pustakawan yang ada di Perpustakaan SMKN 2 Bandung. Anggaran khusus tersebut diberikan langsung oleh pihak sekolah untuk para pustakawanagarmelakukan pelatihanguna meningkatkan keterampilan. Sehingga dari penjelasan temuan tersebut dapat dikatakan bahwa untuk evaluasi sumber daya manusia dalam perspektif keuangan untuk memenuhi target meningkatkan kemampuan pustakawan mengenai ilmu perpustakaan dinilai telah memenuhi standar.4.2.Perspektif PelangganDari perspektif pengguna, kurangnya sumber daya manusia secara langsung dapat memengaruhi mutu layanan serta kepuasan yang dirasakan oleh siswa dan guru sebagai pihak yang paling terlibat. Karena sumber daya manusia di Perpustakaan SMKN 2 Bandung diketahui hanya memiliki dua staf pustakawan yang sudah mencakup kepala perpustakaan.Meski begitu, terbatasnya jumlah pustakawan seharusnya tidak menghalangi kualitas layanan yang diberikan. Dalam hasil wawancara bersama pemustaka yang merupakan seorang guru serta beberapa siswa telah didapatkan hasil bahwa sebagian besar menganggap kinerja pelayanan yang diberikan dirasa telah cukup membantu. Sebagai pustakawan sudah semestinya untuk memberikan layanan secara maksimal kepada pemustaka dalam memenuhi informasi yang dibutuhkannya. Karena kepuasan pemustakadapat dipengaruhi oleh kualitas layanan yang disampaikan oleh para pustakawan (Pahlevy & Hasan, 2021).4.3.Perspektif Proses Bisnis InternalDari sudutpandang proses bisnis internal, jumlah pustakawan yang terbatas yaitu hanya dua orang memiliki dampak besar terhadap efisiensi operasional di berbagai aspek layanan perpustakaan.Pada hasil wawancara kedua pustakawan di Perpustakaan SMKN 2 Bandung mengatakan telahmenangani semua tahap, mulai dari pengolahan koleksi seperti katalogisasi, layanan sirkulasi, hingga layanan referensi secara bersamaan, yang menghasilkan beban kerja yang tidak seimbang. Tidak adanya spesialisasi dalam penugasan tugas mengakibatkan proses yang bergerak lambat dan tidak terstandarisasi, terutama dalam mengelola koleksi baru dan pencarian informasi untuk pengguna. Selain itu salah satu pustakawan mengatakan bahwa pekerjaan yang dilakukan cukup berat sehingga merasakan bekerja sendirian karena kurangnya jumlah pustakawan. Sehingga pustakawan tersebut terkadangmembawa pekerjaannya dan dikerjakan di luar jam kerja. Hal ini menunjukkan bahwa beban kerja dalam proses bisnis internal di Perpustakaan SMKN 2 Bandung dinilai kurang berjalandengan baik. Karena bagaimanapun pustakawan memiliki beban kerja yangmemerlukan tingkat kesabaran yang tinggi dalam menjalankan fungsi mereka, sebab pekerjaan ini mewajibkan mereka untuk melayani serta memastikan kepuasan pengunjung. Ditambah, untuk menyelesaikan tanggung jawab mereka, seringkali harus dilakukan di luar waktu kerja yang ditentukan (Romadhoni dkk., 2015).4.4.Perspektif Pembelajaran dan PertumbuhanDiketahui identitas pada staf pustakawandi Perpustakaan SMKN 2 Bandung bukan berlatar belakang ilmu perpustakaan. Kedua pustakawan memiliki latar belakang yang berbeda-beda yakni untuk kepala perpustakaan merupakan seorang guru pengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia.Sehingga kepala perpustakaan ini termasuk seorang guru pustakawan. Tetapi kepala perpustakaan ini dalam hasil wawancaraya diketahui juga mengikuti pelatihan untuk pembelajarannya. Seorang guru pustakawan yang memperoleh wawasan tentang perpustakaan melalui program pelatihanperlu membagiperan dan tanggung jawabnya. Selain menjadi pengajar di kelas, mereka juga harus bertanggung jawab untuk menjadikan perpustakaan sekolah sebagai tempat belajar utama dalam mendukung siswa menjadi pembelajar yang mandiri sepanjang hayat (Lusianai dkk., 2022).Namun staf pustakawan lainnya bukanlah seorang guru pustakawan melainkan hanya staf pustakawan biasa yang tidak berlatar belakang perpustakaan.Meskipun staf pustakawan di Perpustakaan SMKN 2 Bandung keduanya tidak memiliki latar belakang pengetahuan perpustakaan, seperti yang telahdisebutkan bahwa dari pihak sekolah sendiri tetap memberikan pelatihan khusus untuk meningkatkan keterampilan dalam ilmu perpustakaan. Karena sumber daya yang dimiliki diharuskan untuk selalu produktif dan terus belajar agar memiliki keterampilan (Lukman Effendy dkk., 2020).Berdasarkan hasil wawancara dijelaskan bahwa Perpustakaan SMKN 2 Bandung ini mengadakan beberapa kali pelatihan untuk para staf pustakawan. Pelatihan yang diikutsertakan biasanya selama beberapa hari dan di beberapa tempat dan dilakukan sebanyak sekali dalam setahun. Jenis pelatihan itu sendiri berupa pelatihan teknis serta keterampilan, yaitu pelatihan penggunaan SLIMS untuk pustakawan. Sehingga evaluasi dalam perspektif pertumbuhan untuk pengembangandan pertumbuhansumber daya manusia di Perpustakaan SMKN 2 Bandung dapat dinilai cukup baik.
Conclusion
Berdasarkan hasil penilaian menggunakan metode Balanced Scorecard, disimpulkan bahwa kondisi tenaga kerja di Perpustakaan SMKN 2 Bandung belum memenuhi standar ideal untuk mendukung layanan informasi dengan baik. Jumlah pustakawan yang terbatas dan kurangnya kualifikasi yang tepat mengakibatkan proses layanan internal tidak berjalan secara efisien, terutama dalam pengelolaan koleksi, layanan referensi, dan penggunaan sistem perpustakaan. Walaupun pihak sekolah telah mengadakan pelatihan, minimnya latar belakang bidang perpustakaan tetap cukup menghalangi peningkatan kualitas layanan. Ketidakseimbangan dalam beban kerja dan kurangnya kompetensi turut memengaruhi kepuasan pengguna, meskipun beberapa pemustaka merasa bahwa layanan yang ada sudah cukup membantu. Temuan ini menunjukkan perlunya perencanaan dan pelaksanaan strategi pengembangan sumber daya manusia yang berkelanjutan agar perpustakaan sekolah dapat menjalankan fungsinya sebagai pusat sumber belajar dalam dunia pendidikan kejuruan.Penelitian ini terbataspada satu kasus di lingkungan Sekolah Menegah Kejuruan Negeri dan menyoroti penilaian sumber daya manusia dari perspektif internal. Oleh karena itu, untuk penelitian di masa depan, disarankan agar cakupan penelitian diperluas ke beberapa institusi yang serupa untuk memperoleh gambaran yang lebih komparatif serta generalisasi yang lebih kuat. Penelitian selanjutnya juga bisa memasukkan pendekatan kuantitatif melalui pengukuran kinerja pustakawan yang didasarkan pada indikator layanan dan analisis kepuasan pengguna dengan cara statistik. Selain itu, kajian lebih dalam mengenai pengaruh gaya kepemimpinan kepala perpustakaan, kultur organisasi sekolah, dan motivasi kerja pustakawan juga merupakan bidang yang menjanjikan untuk diteliti demi memperkaya pemahaman tentang pengelolaan sumber daya manusia di perpustakaan pendidikan.