Kembali
16
1
2025 Inkunabula: Journal Of Library Science And Islamic Information Vol 4 · 2 ISSN 2829-9531

Efektivitas Pembudayaan Gemar Membaca dalam Meningkatkan Minat Baca Masyarakat di Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar

Universitas Islam Negeri Sumatera Utara; Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Abstrak

Minat baca merupakan faktor krusial dalam pembangunan sumber daya manusia yang literat. Namun, rendahnya kebiasaan membaca masih menjadi permasalahan klasik, termasuk di Kota Pematangsiantar. Merespons hal tersebut, Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar melaksanakan kegiatan Pembudayaan Gemar Membaca untuk meningkatkan kesadaran literasi masyarakat melalui kegiatan Perpustakaan Keliling, Sosialisasi Budaya Membaca, dan Lomba Literasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas kegiatan tersebut dalam meningkatkan minat baca masyarakat, mengidentifikasi kendala pelaksanaan, serta merumuskan strategi pengembangan ke depan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalampada tiga informandengan pihak pelaksana kegiatan dan dianalisis menggunakan teknik analisis interaktif Miles dan Huberman yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan ini memberikan dampak signifikan terhadap perubahan perilaku membaca, peningkatan kunjungan ke perpustakaan, dan terbentuknya kebiasaan literasi di kalangan pelajar. Meski terdapat hambatan teknis seperti keterbatasan fasilitas dan waktu, kegiatan tetap terlaksana secara efektif berkat koordinasi dan strategi penyampaian yang adaptif. Kesimpulannya, kegiatan Pembudayaan Gemar Membaca terbukti efektif dalam membangun budaya membaca, serta dapat menjadi model yang layak diterapkan di daerah lain dengan pendekatan strategis berbasis teori dan partisipasi komunitas.

Abstract

Reading interest is a crucial factor in the development of literate human resources. However, a low reading habit remains a persistent issue, including in Pematangsiantar City. In response, the Pematangsiantar City Archives and Library Office implemented the Reading Culture Development Program to enhance public literacy awareness through activities such as mobile library services, reading culture campaigns, and literacy competitions. This study aims to analyze the effectiveness of these activities in increasing reading interest among the public, identify the challenges encountered during implementation, and propose strategies for future development. A qualitative approach with a descriptive design was employed. Data were collected through in-depth interviewswith three key informants involved in program implementation and analyzed using Miles and Huberman’s interactive model, encompassing data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that the program has significantly influenced reading behavior, increased library visits, and fostered literacy habits among students. Despite technical barriers such as limited facilities and time constraints, the program was effectively executed through strong coordination and adaptive delivery strategies. In conclusion, the Reading Culture Development Program has proven effective in cultivating a reading culture and holds potential as a replicable model for other regions through strategic, theory-based, and community-participatory approaches.
Keywords: Minat Baca · Pembudayaan Gemar Membaca · Perpustakaan Keliling · Literasi Masyarakat · Efektivitas Kegiatan

Introduction

Minat baca merupakan aspek fundamental dalam pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas (Artana, 2015). Membaca tidak hanya berfungsi sebagai sarana memperoleh informasi, tetapi juga sebagai media pembentukan pola pikir, peningkatan kecakapan literasi, serta penguatan daya kritis masyarakat (Fhadillah, 2020) Minat baca yang kuat mampu menciptakan individu yang lebih adaptif dan kreatif dalam menghadapi perubahan zaman. Dalam konteks ini, minat baca memegang peran penting sebagai pendorong terbentuknya budaya literasi yang kokoh di tengah masyarakat (Hermawan dkk., 2020). Sebagaimana dikemukakan oleh Amalia & Dewi (2023), minat membaca adalah ketertarikan yang besar terhadap aktivitas membaca, disertai rasa senang dan dorongan untuk melakukannya secara berkelanjutan. Namun, dalam kenyataannya, minat baca di Indonesia masih menjadi persoalan klasik yang terus berulang hingga saat ini. Meskipun tingkat melek huruf di Indonesia tergolong tinggi, kebiasaan membaca belum sepenuhnya melekat dalam keseharian masyarakat (Priasti & Suyatno, 2021). Hal ini mengindikasikan adanya kesenjangan antara kemampuan membaca dengan minat membaca yang dimiliki masyarakat. Rendahnya minat baca menjadi salah satu hambatan dalam mewujudkan masyarakat yang literat dan berdaya saing global (Fatmawati, 2022). Fenomena ini tidak hanya berdampak pada aspek pendidikan, tetapi juga pada perkembangan sosial dan ekonomi masyarakat secara keseluruhan (Lestari, 2021). Kurangnya minat membaca menyebabkan informasi dan pengetahuan yang diperoleh bersifat dangkal dan tidak berkelanjutan (Artana, 2017). Oleh sebab itu, upaya peningkatan minat baca menjadi agenda penting dalam pembangunan manusia dan budaya literasi nasional. Fenomena rendahnya minat baca juga tercermin dalam kondisi di Kota Pematangsiantar. Berdasarkan data dari Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar, jumlah pengunjung perpustakaan pada tahun 2024 tercatat sebanyak 60.224 orang. Angka ini hanya mewakili sekitar 21,6% dari total penduduk Kota Pematangsiantar yang mencapai 279.198 jiwa. Meskipun terdapat peningkatan signifikan dibandingkan tahun 2022 yang hanya mencatat 41.406 pengunjung, dan tahun 2020 sebanyak 20.695 orang, capaian ini tetap menunjukkan bahwa pemanfaatan layanan perpustakaan belum optimal (Pematangsiantar, 2022) Ketimpangan ini menegaskan bahwa budaya membaca belum sepenuhnya mengakar dalam masyarakat, sehingga memerlukan perhatian dan pendekatan strategis (Holik, 2013). Kondisi ini menggambarkan bahwa perpustakaan sebagai pusat literasi masih belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat luas. Berbagai faktor mempengaruhi rendahnya minat baca tersebut, mulai dari keterbatasan akses bahan bacaan yang relevan dan menarik, kurangnya fasilitas pendukung yang memadai, hingga minimnya motivasi intrinsik dari individu dan lingkungan (Mansyur, 2020). Anak-anak dan remaja yang merupakan sasaran utama program literasi sering kali lebih tertarik pada aktivitas digital yang bersifat hiburan daripada membaca (Safitri dkk., 2021). Oleh sebab itu, pembudayaan gemar membaca harus melibatkan berbagai strategi inovatif agar dapat mengatasi hambatanhambatan tersebut. Peningkatan kualitas dan kuantitas bahan bacaan serta kemudahan akses menjadi faktor kunci dalam menumbuhkan minat baca (Maulida, 2016). Pendekatan yang holistik dan berkelanjutan juga dibutuhkan agar budaya literasi dapat tumbuh dan berkembang (Achmad & Asmas, 2021). Pemerintah dan lembaga terkait memiliki peran strategis dalam menggerakkan inisiatif tersebut. Sebagai respons atas kondisi tersebut, pemerintah daerah Kota Pematangsiantar melalui Dinas Arsip dan Perpustakaan telah melaksanakan berbagai upaya untuk membudayakan gemar membaca. Salah satu program unggulannya adalah Pembudayaan Gemar Membaca, yang menjadi bagian dari sub kegiatan Pembinaan Perpustakaan. Program ini meliputi kegiatan Perpustakaan Keliling yang bertujuan menjangkau masyarakat yang memiliki keterbatasan akses layanan baca. Selain itu, terdapat kegiatan Sosialisasi Budaya Membaca yang fokus pada peningkatan kesadaran literasi di berbagai kalangan. Lomba-lomba literasi juga rutin diadakan sebagai sarana motivasi dan meningkatkan ketertarikan masyarakat terhadap membaca. Ketiga bentuk kegiatan ini menyasar berbagai segmen, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa, agar dampak program dapat dirasakan secara luas. Sejumlah penelitian sebelumnya telah membahas program literasi di berbagai daerah. Misalnya, penelitian oleh Damanik & Ali (2024) menyoroti efektivitas program literasi perpustakaan umum dalam menghadapi tantangan era digital. Sementara itu (Melfan & Batubara (2023) mengkaji keberhasilan layanan anak di perpustakaan umum Kabupaten Deli Serdang. Namun demikian, sebagian besar penelitian tersebut berfokus pada konteks pendidikan formal atau hanya menyoroti satu bentuk kegiatan tertentu. Masih jarang ditemukan penelitian yang mengevaluasi secara menyeluruh berbagai bentuk kegiatan Pembudayaan Gemar Membaca yang dilaksanakan oleh lembaga pemerintah daerah, khususnya dalam konteks lokal seperti Kota Pematangsiantar. Hal ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk penelitian yang lebih komprehensif dan kontekstual. Penelitian ini hadir untuk mengisi celah tersebut dengan pemetaan sistematis seluruh bentuk kegiatan Pembudayaan Gemar Membaca dan penilaian efektivitasnya dalam meningkatkan minat baca masyarakat. Tidak hanya mendeskripsikan kegiatan, penelitian ini juga berusaha menilai dampak program, mengidentifikasi kendala yang dihadapi, serta merumuskan strategi pengembangan berdasarkan realitas lapangan. Fokus utama penelitian ini adalah pada pelaksanaan oleh lembaga formal pemerintahan daerah, yang membedakannya dari studi-studi sebelumnya yang lebih banyak menyoroti inisiatif komunitas atau sekolah. Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan gambaran lengkap mengenai dinamika pelaksanaan program pembudayaan membaca. Dengan demikian, hasil penelitian dapat menjadi landasan untuk perbaikan dan pengembangan program lebih efektif ke depan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis efektivitas kegiatan Pembudayaan Gemar Membaca yang dilaksanakan oleh Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar dalam meningkatkan minat baca masyarakat. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi berbagai kendala yang menghambat pelaksanaan program tersebut. Hasil temuan juga diharapkan dapat menjadi dasar bagi perumusan strategi pengembangan yang aplikatif dan berkelanjutan. Penelitian ini akan memberikan rekomendasi yang dapat digunakan oleh pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait dalam mengoptimalkan program pembudayaan membaca. Dengan capaian tersebut, diharapkan minat baca di Kota Pematangsiantar dapat meningkat secara signifikan. Sehingga pada akhirnya, pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas dapat terwujud melalui budaya literasi yang kuat. Secara lebih luas, peningkatan minat baca juga berdampak pada penguatan masyarakat yang berdaya saing dan mampu menghadapi tantangan global. Dengan budaya membaca yang kuat, masyarakat dapat mengakses pengetahuan terbaru dan mengembangkan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan zaman. Hal ini berkontribusi positif pada perkembangan ekonomi, sosial, dan budaya di tingkat lokal maupun nasional. Oleh karena itu, pembudayaan gemar membaca bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat. Peran keluarga, sekolah, komunitas, dan media massa menjadi pendukung utama dalam membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan. Penelitian ini menjadi salah satu langkah strategis untuk mendorong sinergi tersebut demi kemajuan bersama. 2. Tinjauan Pustaka 2.1. Minat Baca dan Pentingnya dalam Pembangunan Sumber Daya Manusia Minat baca merupakan salah satu faktor utama yang memengaruhi kualitas sumber daya manusia dalam suatu masyarakat. Menurut Mitra (2024), membaca tidak hanya berfungsi sebagai media untuk memperoleh informasi, tetapi juga sebagai sarana untuk membentuk pola pikir, meningkatkan keterampilan literasi, dan mengasah kemampuan berpikir kritis. Menurut Febianti (2021) mendefinisikan minat baca sebagai ketertarikan individu terhadap aktivitas membaca yang disertai dengan rasa senang dan dorongan untuk melakukannya secara konsisten. Dalam konteks pembangunan nasional, minat baca yang tinggi akan mendorong terbentuknya masyarakat yang literat dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman (Fatimah dkk., 2021). Namun, minat baca di Indonesia masih menunjukkan angka yang kurang memuaskan meskipun tingkat melek huruf cukup tinggi. Hal ini menjadi tantangan besar dalam upaya menciptakan budaya literasi yang kuat di masyarakat. 2.2. Budaya Membaca dan Pembudayaan Gemar Membaca Budaya membaca merupakan kebiasaan yang melekat dan dilakukan secara berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Pembudayaan gemar membaca merupakan upaya sistematis dan berkelanjutan untuk menumbuhkan minat baca dan membangun kebiasaan membaca sebagai bagian dari budaya masyarakat (Alfina, 2012). Program pembudayaan membaca biasanya dilakukan melalui berbagai kegiatan seperti perpustakaan keliling, sosialisasi literasi, dan lomba literasi yang melibatkan berbagai kelompok usia (Pramudyo dkk., 2018). Melalui pembudayaan ini, diharapkan dapat terjadi perubahan sikap dan perilaku masyarakat menjadi lebih aktif dalam membaca dan memanfaatkan sumber bacaan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa program pembudayaan membaca dapat meningkatkan frekuensi dan kualitas aktivitas membaca masyarakat (Atmi dkk., 2022). Namun, keberhasilan program ini sangat bergantung pada pelaksanaan yang tepat sasaran dan berkelanjutan. 2.3. Peran Perpustakaan dalam Meningkatkan Minat Baca Perpustakaan memiliki peran strategis sebagai pusat sumber informasi dan literasi bagi masyarakat. Menurut Lestari (2021), perpustakaan tidak hanya menyediakan koleksi buku, tetapi juga menyelenggarakan berbagai program literasi yang inovatif untuk menarik minat baca masyarakat, terutama anak-anak dan remaja. Pelayanan perpustakaan yang ramah dan akses yang mudah menjadi faktor penting dalam mendorong masyarakat untuk memanfaatkan perpustakaan secara optimal (Maulida, 2016). Di era digital, perpustakaan juga harus bertransformasi dengan menyediakan layanan digital dan bahan bacaan elektronik guna memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin beragam. Hal ini diperkuat oleh penelitian Budirman, Mas’ud Muhammadiah (2024) yang menunjukkan bahwa perpustakaan yang mampu beradaptasi dengan teknologi informasi lebih efektif dalam meningkatkan minat baca. Namun, di banyak daerah, pemanfaatan layanan perpustakaan masih belum maksimal karena berbagai kendala seperti keterbatasan akses dan kurangnya sosialisasi. 2.4. Efektivitas Program Pembudayaan Gemar Membaca Efektivitas program pembudayaan gemar membaca dapat diukur dari sejauh mana program tersebut mampu meningkatkan minat baca dan membentuk budaya literasi di masyarakat. Alfina (2012) menilai bahwa program literasi perpustakaan yang terintegrasi dengan teknologi digital mampu menjawab tantangan era globalisasi dan memberikan dampak positif pada peningkatan minat baca. Studi lain oleh Febianti (2021) menemukan bahwa lomba literasi dan perpustakaan keliling efektif dalam menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini sulit diakses oleh layanan perpustakaan konvensional. Namun, efektivitas tersebut dipengaruhi oleh faktor internal seperti kualitas pelaksanaan, ketersediaan sumber daya, dan dukungan pemerintah daerah (Budirman, Mas’ud Muhammadiah, 2024). Penelitian oleh Achmad & Asmas (2021) juga menegaskan pentingnya evaluasi secara menyeluruh terhadap program-program literasi yang dilakukan oleh instansi pemerintah agar dapat melakukan perbaikan berkelanjutan. Dengan demikian, evaluasi efektivitas menjadi langkah penting dalam memastikan bahwa program pembudayaan gemar membaca dapat memberikan hasil optimal.

Method

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif (Sugiyono, 2020). Pendekatan ini dipilih untuk memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai efektivitas kegiatan Pembudayaan Gemar Membaca yang dilaksanakan oleh Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar. Penelitian dilakukan di Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar yang beralamat di Jalan Merdeka No. 3, Kecamatan Siantar Barat, Kota Pematangsiantar. Narasumber utama dalam penelitian ini adalah Yoginasari Tamba, S.Si, M.Si selaku Kepala Bidang Pengembangan Tenaga Perpustakaan dan Pembudayaan Kegemaran Membaca, serta staf perpustakaan yang terlibat langsung dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. Data diperoleh melalui wawancara mendalam yang dilakukan kepada narasumber yang pernah melaksanakan kegiatan Pembudayaan Gemar Membaca. Wawancara tidak dilakukan saat kegiatan berlangsung, melainkan pada waktu terpisah, dengan menggali pengalaman masa lalu terkait proses pelaksanaan kegiatan, bentuk kegiatan, strategi yang digunakan, serta evaluasi dan dampaknya terhadap minat baca masyarakat. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan teknik analisis interaktif model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan (Abdussalamad, 2015) Reduksi data dilakukan untuk memilih informasi relevan yang sesuai dengan fokus penelitian. Penyajian data dilakukan secara sistematis dalam bentuk narasi tematik, sementara penarikan kesimpulan dilakukan melalui verifikasi silang antara hasil wawancara dan dokumen pendukung, guna memastikan keabsahan data. Validasi data dilakukan melalui triangulasi antar teknik dan sumber, agar temuan bersifat objektif dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis (Sulistyawati, 2023).

Result & Discussion

4.1. Bentuk dan Ragam Kegiatan Pembudayaan Gemar Membaca Kegiatan Pembudayaan Gemar Membaca yang dijalankan oleh Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar merupakan suatu inisiatif strategis yang dirancang untuk meningkatkan kesadaran literasi dan membentuk budaya membaca dalam masyarakat. Setiap bentuk kegiatan memiliki karakteristik, pendekatan, dan sasaran yang berbeda, namun terintegrasi dalam tujuan utama membudayakan aktivitas membaca secara luas. Kegiatan ini mencakup tiga bentuk kegiatan utama yang saling melengkapi, yaitu: 4.1.1. Perpustakaan Keliling Dalam rangka mendukung upaya peningkatan budaya literasi masyarakat, Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar telah menjalankan berbagai program strategis melalui kegiatan Pembudayaan Gemar Membaca. Program ini mencakup sejumlah kegiatan seperti Perpustakaan Keliling, Sosialisasi Budaya Membaca, dan Lomba-Lomba Literasi, yang secara sistematis dilaksanakan dengan prinsip efektivitas, efisiensi, dan akuntabilitas. Untuk menggali lebih dalam mengenai pelaksanaan kegiatan tersebut, wawancara dilakukan dengan Yoginasari Tamba, S.Si., M.Si., selaku Kepala Bidang Pengembangan Tenaga Perpustakaan dan Pembudayaan Kegemaran Membaca, yang menjelaskan berbagai aspek pelaksanaan program beserta tantangan dan dampaknya bagi masyarakat, khususnya pelajar. Gambar 1 Kegiatan Perpustakaan Keliling Sumber: Peneliti, 2025 Dalam wawancaranya, Yoginasari Tamba menjelaskan, “Perpustakaan Keliling adalah salah satu inovasi kami yang sangat berdampak. Kami jadwalkan kunjungan hingga tiga kali dalam seminggu ke sekolah-sekolah seperti TK, SD, SMP, dan SMA di Pematangsiantar. Buku-buku yang kami bawa dipilih sesuai kebutuhan anak-anak. Selain memberi akses bacaan, anak-anak juga diajak berinteraksi, membaca bersama, dan bermain sambil belajar.” Ia juga menambahkan, “Untuk kegiatan sosialisasi budaya membaca, kami menggunakan pendekatan yang lebih interaktif, seperti kuis, diskusi santai, dan simulasi membaca. Kegiatan ini kami lakukan di sekolah, komunitas, atau dalam event publik agar lebih menjangkau masyarakat luas.” Mengenai lomba-lomba literasi, ia menyampaikan, “Kami rutin mengadakan lomba pidato, mendongeng, membaca puisi, dan pemilihan Duta Baca. Kegiatan ini bukan hanya kompetisi, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan minat baca peserta. Kami libatkan sekolah-sekolah dan guru agar ada keterhubungan yang kuat dalam membangun budaya literasi.” Berdasarkan hasil wawancara, dapat disimpulkan bahwa ketiga subkegiatan Perpustakaan Keliling, Sosialisasi Budaya Membaca, dan Lomba-Lomba Literasi telah dirancang dengan pendekatan yang terencana dan berkelanjutan. Perpustakaan Keliling menjadi solusi konkret untuk menjangkau wilayah yang kurang akses terhadap fasilitas literasi permanen, sejalan dengan gagasan Fatimah (2021) mengenai perpustakaan mobile sebagai upaya menjembatani ketimpangan literasi. Sosialisasi literasi dilakukan dengan metode yang komunikatif dan partisipatif, selaras dengan temuan Amalia (2023) mengenai pentingnya pendekatan persuasif dalam membangun kesadaran literasi masyarakat. Sementara itu, lomba-lomba literasi terbukti menjadi sarana efektif untuk mengembangkan potensi peserta dan menanamkan nilai-nilai literasi sejak dini. Kegiatan ini tidak hanya mendekatkan masyarakat dengan bacaan, tetapi juga menciptakan ekosistem literasi yang kolaboratif antara lembaga pendidikan, keluarga, dan komunitas. 4.1.2. Sosialisasi Budaya Membaca Sosialisasi Budaya Membaca merupakan salah satu strategi penting dalam mendukung keberhasilan program Pembudayaan Gemar Membaca yang dilaksanakan oleh Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar. Kegiatan ini bertujuan untuk membangun kesadaran literasi masyarakat secara luas melalui pendekatan yang persuasif, komunikatif, dan edukatif (Febianti, 2021). Pelaksanaannya dilakukan di berbagai setting, mulai dari institusi pendidikan, komunitas, hingga kegiatan publik yang melibatkan berbagai kalangan. Pesan utama yang disampaikan dalam sosialisasi ini adalah pentingnya membaca sebagai kebutuhan hidup dan sebagai bekal untuk menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks. Dengan pendekatan yang menyenangkan dan interaktif, kegiatan sosialisasi menjadi salah satu media yang efektif dalam membangun budaya membaca secara kolektif. Gambar 2 Kegiatan Sosialisasi Sumber: Peneliti, 2025 Dalam wawancaranya, Yoginasari Tamba menyampaikan, “Kami menyadari bahwa literasi tidak bisa dibangun hanya dari penyediaan buku, tetapi juga harus disertai dengan edukasi yang menyentuh kesadaran masyarakat. Oleh karena itu, sosialisasi budaya membaca kami lakukan secara masif, menyasar berbagai kelompok usia dan latar belakang.” Ia melanjutkan, “Kami gunakan berbagai media seperti presentasi visual, pembagian leaflet, serta kegiatan menarik seperti kuis dan simulasi membaca. Kami ingin sosialisasi ini menjadi pengalaman yang menyenangkan, bukan sekadar ceramah satu arah. Misalnya, saat kami masuk ke sekolahsekolah, kami ajak siswa dan guru berdiskusi tentang manfaat membaca dan bagaimana menjadikan aktivitas membaca sebagai bagian dari rutinitas harian.” Beliau juga menekankan, “Kami libatkan komunitas, organisasi perempuan, bahkan tokoh masyarakat agar pesan literasi ini lebih kuat dan luas jangkauannya. Intinya, kami ingin menanamkan bahwa membaca bukan pilihan, tapi kebutuhan.” Sosialisasi budaya membaca yang dilaksanakan oleh Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga transformatif. Strategi yang diterapkan mengacu pada prinsip komunikasi dua arah dan partisipatif, sehingga audiens tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi juga terlibat aktif dalam proses penyampaian pesan literasi. Hal ini sejalan dengan pemikiran Qurbi (2024) yang menekankan pentingnya pendekatan persuasif dan kontekstual dalam menyebarkan kesadaran literasi. Dengan melibatkan berbagai lapisan masyarakat dari pelajar hingga komunitas dewasa—dan menggunakan media yang sesuai dengan karakteristik peserta, kegiatan ini telah berhasil menciptakan ruang dialog yang edukatif dan inklusif. Sosialisasi ini juga memperkuat sinergi antara pemerintah, sekolah, dan komunitas dalam menanamkan budaya membaca sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat modern. 4.1.3. Lomba-Lomba Literasi Lomba-Lomba Literasi merupakan salah satu bentuk konkret dari upaya pembudayaan gemar membaca yang tidak hanya berorientasi pada penyediaan bahan bacaan, tetapi juga pada peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat, khususnya generasi muda. Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar mengemas kegiatan ini dalam format kompetisi yang menarik dan edukatif, mencakup lomba pidato, mendongeng (storytelling), membaca puisi, hingga pemilihan Duta Baca. Setiap kegiatan dirancang untuk menumbuhkan keberanian berekspresi, kreativitas, serta apresiasi terhadap literasi sebagai bagian dari kehidupan. Lebih dari sekadar kompetisi, lomba-lomba ini juga menjadi ruang pembelajaran yang menyenangkan dan membangun. Melalui pelibatan pelajar dari tingkat dasar hingga menengah, serta keterlibatan aktif sekolah dan guru, kegiatan ini menciptakan atmosfer kolaboratif yang memperkuat jaringan literasi di lingkungan pendidikan maupun komunitas. Gambar 3 Kegiatan Lomba Sumber: Peneliti, 2025 Yoginasari Tamba menjelaskan, “Kami menyadari bahwa untuk menumbuhkan budaya literasi, anak-anak dan remaja perlu dilibatkan secara aktif dalam kegiatan yang menyenangkan dan menantang. Lomba-lomba literasi kami rancang agar tidak hanya sebagai ajang kompetisi, tapi juga sebagai sarana ekspresi dan pengembangan diri.” Ia menambahkan, “Setiap tahun kami adakan lomba mendongeng, membaca puisi, dan pidato. Salah satu yang paling menarik minat adalah pemilihan Duta Baca. Anak-anak yang terpilih bukan hanya mendapat penghargaan, tapi juga jadi inspirasi di sekolah mereka. Kami juga libatkan guru sebagai pendamping, sehingga ada proses pembinaan berkelanjutan.” Lebih lanjut, ia menyampaikan, “Kami ingin lomba ini jadi sarana untuk membentuk kepercayaan diri, kemampuan berpikir kritis, dan kecintaan terhadap bacaan. Selain itu, kami berharap siswa-siswa ini bisa menjadi agen literasi yang menyebarkan semangat membaca ke lingkungan sekitarnya.” Berdasarkan wawancara yang dilakukan, teridentifikasi bahwa lomba-lomba literasi memberikan kontribusi yang signifikan dalam membentuk karakter literat di kalangan pelajar. Tidak hanya meningkatkan minat baca, kegiatan ini juga mendorong kemampuan berbahasa, berpikir kritis, dan komunikasi publik peserta. Konsep lomba yang diusung oleh Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar membuktikan efektivitasnya sebagai media edukasi dan motivasi yang menyenangkan. Kegiatan ini juga menciptakan ekosistem pembelajaran yang kolaboratif antara siswa, guru, dan institusi pendidikan, yang pada akhirnya memperkuat komunitas literasi secara menyeluruh. Sejalan dengan pemikiran Alfina (2012), lomba-lomba literasi bukan hanya instrumen kompetisi, tetapi juga wadah pengembangan nilai, keterampilan, dan semangat kolektif untuk mencintai membaca sebagai bagian dari pembentukan karakter dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Pelaksanaan kegiatan Pembudayaan Gemar Membaca sebagai bagian dari Program Pembinaan Perpustakaan yang dijalankan oleh Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar disusun secara sistematis dengan memperhatikan prinsip efektivitas, efisiensi, dan akuntabilitas. Setiap sub kegiatan seperti Perpustakaan Keliling, Sosialisasi Budaya Membaca, dan Lomba-Lomba Literasi diatur dalam kerangka kerja yang terstruktur mulai dari tahap perencanaan hingga evaluasi. Mekanisme pelaksanaan ini dijalankan dengan mengikuti Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah ditetapkan serta melibatkan koordinasi lintas sektor, khususnya dengan lembaga pendidikan dan pemangku kepentingan lainnya. 4.1.1. Perencanaan Kegiatan Tahap awal dari pelaksanaan kegiatan diawali dengan penyusunan Rencana Kerja Tahunan yang dilakukan oleh Bidang Pengembangan Tenaga Perpustakaan dan Pembudayaan Kegemaran Membaca. Rencana ini mencakup penjabaran kegiatan Pembudayaan Gemar Membaca ke dalam sub kegiatan yang spesifik, lengkap dengan sasaran, jadwal pelaksanaan, alokasi anggaran, serta indikator pencapaian. Penyusunan rencana dilakukan dengan mempertimbangkan data capaian tahun sebelumnya, hasil evaluasi kegiatan terdahulu, serta dinamika kebutuhan masyarakat terhadap layanan literasi. Koordinasi internal dilakukan secara intensif, mencakup pembagian tugas antar staf, penyusunan jadwal kegiatan, serta persiapan logistik dan media. Selain itu, koordinasi eksternal juga dilakukan bersama Dinas Pendidikan dan pihak sekolah sebagai mitra pelaksanaan, terutama dalam penjadwalan lokasi kegiatan dan penentuan peserta sasaran. Dokumen-dokumen administratif, seperti surat tugas, proposal kegiatan, dan permohonan izin pelaksanaan, disiapkan secara formal sebagai bagian dari akuntabilitas lembaga. 4.1.2. Pola Kerja dan SOP Pelaksanaan Setiap kegiatan dilaksanakan berdasarkan alur kerja yang telah ditetapkan dalam SOP. Untuk Perpustakaan Keliling, misalnya, terdapat standar dalam pemilihan koleksi buku berdasarkan segmentasi usia, prosedur pengiriman kendaraan layanan, serta standar pelayanan pustakawan di lapangan. Dalam kegiatan Sosialisasi, prosedur penyampaian materi, metode komunikasi interaktif, dan evaluasi pemahaman peserta telah dirancang secara sistematis. Sementara itu, dalam kegiatan lomba-lomba, panitia mengikuti standar mulai dari proses pendaftaran, seleksi administrasi, pelaksanaan lomba, hingga penilaian dan pemberian penghargaan. 4.1.3. Media dan Metode Penyampaian Strategi pelaksanaan juga mencakup penggunaan media yang variatif serta metode penyampaian yang disesuaikan dengan karakteristik peserta. Dalam Perpustakaan Keliling, media utama adalah koleksi buku fisik yang dipilih secara selektif serta perangkat pendukung seperti papan informasi dan brosur mini. Metode penyampaian bersifat personal dan informal, seperti diskusi ringan antara pustakawan dan pembaca, atau pengenalan buku baru secara langsung. Dalam Sosialisasi Budaya Membaca, media presentasi digital, poster edukatif, dan materi cetak digunakan untuk mendukung penyampaian informasi secara visual. Pendekatan interaktif seperti kuis literasi, permainan edukatif, dan sesi tanya jawab dilakukan untuk meningkatkan partisipasi peserta. Sementara dalam Lomba-Lomba Literasi, media yang digunakan lebih bersifat ekspresif, seperti naskah pidato, teks puisi, panggung pentas, dan perangkat audio-visual untuk menilai penampilan peserta. 4.2. Efektivitas Program dalam Meningkatkan Minat Baca Efektivitas kegiatan Pembudayaan Gemar Membaca yang dijalankan oleh Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar dapat dilihat dari dua indikator utama: perubahan perilaku membaca peserta program dan peningkatan interaksi masyarakat dengan perpustakaan. Program ini, yang mencakup kegiatan seperti Perpustakaan Keliling, Sosialisasi Budaya Membaca, dan Lomba-Lomba Literasi, tidak hanya memberikan akses terhadap bahan bacaan tetapi juga menciptakan pengalaman literasi yang menyenangkan dan membangun. Berdasarkan temuan lapangan melalui observasi, dokumentasi, serta wawancara dengan pihak pelaksana, program ini telah berhasil menumbuhkan minat baca di kalangan pelajar, membentuk rutinitas membaca, dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya literasi. Selain itu, keberhasilan program juga tercermin dari lonjakan signifikan jumlah kunjungan ke perpustakaan dari tahun ke tahun, yang menandakan semakin tingginya keterlibatan masyarakat dalam kegiatan literasi. Dalam wawancara, Yoginasari Tamba menjelaskan, “Kami melihat dampak nyata dari program ini, terutama di sekolah-sekolah. Setelah Perpustakaan Keliling datang, banyak anak yang jadi penasaran dan mulai bertanya buku lain yang serupa. Bahkan ada sekolah yang rutin mengajak muridnya datang langsung ke perpustakaan kota.” Ia melanjutkan, “Kegiatan sosialisasi juga memberi hasil positif. Beberapa guru memberi testimoni bahwa murid mereka mulai membawa buku sendiri ke sekolah dan membaca di waktu istirahat. Itu menunjukkan ada perubahan cara pandang terhadap membaca, dari yang sebelumnya kewajiban jadi kebiasaan.” Terkait interaksi dengan perpustakaan, beliau menyampaikan, “Jumlah pengunjung meningkat drastis dari tahun ke tahun, tapi yang paling penting adalah bagaimana mereka mulai merasa nyaman berada di perpustakaan. Mereka berdiskusi, ikut kegiatan, bahkan ada yang jadi relawan dalam program literasi anak-anak.” Berdasarkan hasil wawancara dengan pelaksana program, kegiatan Pembudayaan Gemar Membaca dinilai efektif dalam menumbuhkan perilaku literasi yang positif di masyarakat, terutama di kalangan pelajar. Perubahan tersebut terlihat dari kebiasaan baru seperti membawa buku bacaan secara mandiri, aktif berdiskusi mengenai isi buku, serta meningkatnya keterlibatan dalam kegiatan literasi sekolah maupun komunitas. Strategi pendekatan yang digunakan dalam kegiatan sosialisasi yang interaktif dan kontekstual berhasil menggeser persepsi membaca dari tugas akademik menjadi kebutuhan pribadi. Sementara itu, peningkatan signifikan dalam kunjungan ke perpustakaan, dari 20.695 pada tahun 2020 menjadi 60.224 pada tahun 2024, menunjukkan bahwa perpustakaan semakin diterima sebagai ruang belajar terbuka. Interaksi masyarakat yang semakin aktif dengan pustakawan, fasilitas digital, serta program komunitas menunjukkan bahwa perpustakaan kini telah menjelma menjadi pusat aktivitas literasi yang hidup dan inklusif. 4.2.1. Perubahan Perilaku Membaca Salah satu indikator utama efektivitas kegiatan Pembudayaan Gemar Membaca adalah adanya perubahan positif dalam perilaku membaca peserta program, terutama di kalangan pelajar. Kegiatan seperti Perpustakaan Keliling, Sosialisasi Budaya Membaca, dan Lomba Literasi tidak hanya memberikan akses terhadap bacaan, tetapi juga menciptakan pengalaman literasi yang menyenangkan, membangun, dan memotivasi. Program-program ini dirancang untuk menyasar aspek emosional dan sosial peserta, sehingga membaca tidak lagi dipandang sebagai kewajiban akademik, melainkan menjadi bagian dari gaya hidup. Melalui pendekatan yang bersifat interaktif dan kontekstual, peserta tidak hanya belajar memahami pentingnya membaca secara teoritis, tetapi juga mulai membentuk kebiasaan membaca dalam rutinitas harian mereka. Indikasi lain yang juga terlihat adalah peningkatan keaktifan peserta dalam berdiskusi tentang buku, meminjam bacaan tambahan, hingga berani mengekspresikan diri dalam bentuk literasi ekspresif seperti puisi dan pidato. Yoginasari Tamba mengungkapkan dalam wawancara, “Kami sangat senang melihat perubahan perilaku siswa setelah mengikuti kegiatan kami. Misalnya, setelah kunjungan Perpustakaan Keliling, guru-guru bercerita bahwa anak-anak jadi lebih sering bertanya soal buku dan mulai membawa bacaan sendiri ke sekolah.” Ia melanjutkan, “Salah satu sekolah bahkan mengadakan waktu khusus di pagi hari sebelum pelajaran dimulai, hanya untuk membaca bersama. Itu ide dari guru, tapi didorong oleh semangat siswa yang meningkat.” Terkait kegiatan sosialisasi, ia menyampaikan, “Kami sengaja menyampaikan materi dengan pendekatan yang relevan, agar siswa merasa membaca itu dekat dengan kehidupan mereka. Beberapa siswa bahkan mengaku mulai menyisihkan waktu di rumah sekitar 15–20 menit untuk membaca, walau tanpa tugas dari sekolah.” Mengenai lomba-lomba literasi, ia menambahkan, “Anak-anak yang ikut lomba pidato dan puisi jadi lebih percaya diri. Mereka tidak hanya membaca teks, tapi juga mulai paham cara menyampaikan ide dan isi bacaan dengan cara yang menarik.” Hasil wawancara dengan pelaksana program menunjukkan bahwa kegiatan Pembudayaan Gemar Membaca telah berhasil menumbuhkan perubahan perilaku membaca yang signifikan di kalangan peserta, terutama siswa. Mereka mulai membangun kebiasaan membawa buku bacaan ke sekolah, terlibat dalam diskusi buku, dan secara sukarela merekomendasikan bacaan kepada teman-temannya. Ini menunjukkan bahwa kegiatan tidak hanya menciptakan akses terhadap bacaan, tetapi juga membentuk ikatan emosional dan sosial terhadap kegiatan membaca. Dalam kegiatan sosialisasi, penyampaian materi yang relevan dan berbasis konteks kehidupan sehari-hari mendorong peserta untuk memandang membaca sebagai kebutuhan intelektual. Adanya kebiasaan membaca di rumah, meskipun dalam durasi singkat, menjadi cikal bakal terbentuknya habitus literasi yang kuat. Sementara itu, kegiatan lomba seperti membaca puisi dan pidato tidak hanya membangun minat baca, tetapi juga mengasah soft skills peserta dalam berpikir kritis, menyusun argumen, serta menyampaikan pesan secara efektif. Dengan demikian, kegiatan ini turut mendorong pembentukan karakter literat yang adaptif dan percaya diri di tengah perkembangan zaman. Kegiatan Lomba Literasi juga turut mendorong peserta menjadi lebih aktif dan percaya diri dalam mengembangkan keterampilan literasi ekspresif. Siswa yang mengikuti lomba membaca puisi atau pidato, misalnya, menunjukkan peningkatan dalam hal pemahaman teks dan kemampuan menyampaikan pesan dengan baik. Hal ini menandakan bahwa minat baca juga berkaitan erat dengan pengembangan keterampilan lain seperti berpikir kritis, menyusun argumen, dan berkomunikasi secara efektif. Kegiatan lomba ini dengan demikian tidak hanya membangun minat baca, tetapi juga memperkuat soft skills yang sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan dan kehidupan sosial. 4.2.2. Peningkatan Kunjungan dan Interaksi dengan Perpustakaan Efektivitas kegiatan juga tercermin dari data kuantitatif mengenai peningkatan kunjungan masyarakat ke perpustakaan setelah pelaksanaan kegiatan. Berdasarkan laporan Dinas Arsip dan Perpustakaan, terjadi peningkatan signifikan jumlah pengunjung perpustakaan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2020 tercatat sebanyak 20.695 pengunjung, meningkat menjadi 41.406 pada tahun 2022, dan mencapai 60.224 pengunjung pada tahun 2024. Kenaikan ini tidak hanya menunjukkan keberhasilan dalam menjangkau lebih banyak individu, tetapi juga menegaskan bahwa kegiatan literasi yang dilakukan berhasil menarik masyarakat untuk kembali menjadikan perpustakaan sebagai ruang belajar dan sumber informasi. Peningkatan jumlah kunjungan dan intensitas interaksi masyarakat dengan perpustakaan menjadi salah satu indikator penting dalam menilai efektivitas kegiatan Pembudayaan Gemar Membaca di Kota Pematangsiantar. Berdasarkan data dari Dinas Arsip dan Perpustakaan, tercatat peningkatan pengunjung yang signifikan, dari 20.695 pada tahun 2020 menjadi 41.406 pada 2022, dan mencapai 60.224 pengunjung pada tahun 2024. Data ini menunjukkan bahwa perpustakaan semakin dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai ruang belajar yang terbuka dan inklusif. Tidak hanya dari sisi kuantitas, kualitas interaksi juga menunjukkan kemajuan, di mana pengunjung mulai memanfaatkan berbagai fasilitas yang tersedia seperti ruang baca, akses internet, hingga keterlibatan dalam komunitas literasi. Keberhasilan ini tidak terlepas dari strategi program yang tidak hanya menunggu masyarakat datang, tetapi secara aktif menjangkau mereka melalui pendekatan lapangan seperti Perpustakaan Keliling. Dalam wawancara, Yoginasari Tamba menyampaikan, “Kami sangat merasakan dampak dari kegiatan yang sudah berjalan. Data kunjungan dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan yang cukup besar. Tapi yang lebih menggembirakan adalah perubahan perilaku pengunjung. Sekarang, anak-anak dan orang tua tidak hanya datang untuk meminjam buku, tapi juga ikut membaca di tempat, menggunakan komputer, atau bergabung dalam kegiatan komunitas baca.” Ia menambahkan, “Perpustakaan Keliling juga punya peran besar. Saat kami datang ke sekolah atau komunitas, mereka jadi tahu bahwa perpustakaan kota ini ada, dan penasaran untuk datang langsung. Bahkan beberapa guru dan kepala sekolah mengajak siswa berkunjung ke perpustakaan sebagai bagian dari kegiatan belajar.” Lebih lanjut, ia menjelaskan, “Kami juga melihat peningkatan partisipasi dari masyarakat. Ada yang jadi relawan, ada yang mau bantu jadi mentor baca. Ini luar biasa, karena menunjukkan bahwa masyarakat mulai merasa memiliki dan bagian dari gerakan literasi ini.” Lonjakan jumlah kunjungan ke perpustakaan bukan sekadar peningkatan statistik, melainkan bagian dari perubahan budaya literasi masyarakat. Masyarakat kini tidak hanya menggunakan perpustakaan sebagai tempat meminjam buku, tetapi juga menjadikannya sebagai ruang belajar bersama yang menyenangkan. Peningkatan kualitas interaksi juga terlihat dari cara pengunjung memanfaatkan fasilitas yang ada dan keterlibatan mereka dalam kegiatan literasi. Adanya program Perpustakaan Keliling secara strategis membuka akses literasi bagi masyarakat yang sebelumnya kurang terjangkau, sekaligus menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan layanan perpustakaan yang lebih luas. Dalam konteks ini, perpustakaan tidak lagi bersifat pasif, tetapi aktif menjemput dan membangun hubungan dengan masyarakat. Kehadiran relawan dan mentor baca dari kalangan masyarakat menandakan munculnya rasa kepemilikan dan keterlibatan yang lebih tinggi, menjadikan perpustakaan sebagai ruang publik yang inklusif, partisipatif, dan berdaya transformasi. Peningkatan jumlah dan kualitas interaksi ini tidak lepas dari konsistensi pelaksanaan program dan adaptasi strategi oleh pelaksana kegiatan. Tim perpustakaan tidak hanya bertugas secara administratif, tetapi juga membangun hubungan sosial dengan pengunjung. Hal ini penting untuk menciptakan iklim perpustakaan yang ramah dan inklusif. Dampaknya, perpustakaan bukan lagi tempat yang dianggap membosankan atau hanya untuk siswa berprestasi, melainkan menjadi ruang bersama yang mendukung tumbuhnya komunitas belajar lintas usia dan latar belakang. Kegiatan Pembudayaan Gemar Membaca telah memberikan dampak positif yang signifikan dalam dua aspek utama: perubahan perilaku membaca dan peningkatan interaksi masyarakat dengan perpustakaan. Pertama, terjadi pergeseran perilaku membaca, terutama di kalangan pelajar, yang ditandai dengan meningkatnya minat terhadap buku, kebiasaan membawa bacaan ke sekolah, dan partisipasi aktif dalam diskusi atau lomba literasi. Kegiatan seperti Perpustakaan Keliling, sosialisasi literasi, dan lomba-lomba telah berhasil mengubah pandangan peserta bahwa membaca bukan sekadar kewajiban sekolah, melainkan kebutuhan intelektual dan sosial. Kedua, data kuantitatif menunjukkan lonjakan signifikan dalam jumlah kunjungan ke perpustakaan, dari 20.695 pengunjung pada 2020 menjadi 60.224 pada 2024. Peningkatan ini disertai dengan kualitas interaksi yang membaik, di mana pengunjung tidak hanya meminjam buku, tetapi juga aktif menggunakan fasilitas perpustakaan dan terlibat dalam kegiatan literasi. Faktor-faktor seperti pendekatan interaktif, perluasan layanan melalui Perpustakaan Keliling, dan hubungan sosial yang dibangun oleh staf perpustakaan turut mendorong transformasi perpustakaan menjadi ruang publik yang inklusif dan partisipatif. 4.3. Kendala dalam Pelaksanaan Program Pelaksanaan kegiatan Pembudayaan Gemar Membaca di bawah koordinasi Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar secara umum berjalan dengan lancar dan efektif. Berdasarkan hasil wawancara dengan narasumber utama, tidak ditemukan kendala besar yang bersifat sistemik maupun struktural dalam implementasi kegiatan ini. Hambatan yang dihadapi bersifat teknis dan operasional, seperti tumpang tindih jadwal dengan kegiatan sekolah, keterbatasan waktu pelaksanaan, serta kondisi cuaca yang kadang tidak mendukung kegiatan lapangan seperti Perpustakaan Keliling. Namun demikian, hambatan-hambatan ini dapat diatasi melalui koordinasi yang baik dan fleksibilitas tim pelaksana dalam menyusun ulang jadwal atau menyesuaikan teknis kegiatan di lapangan. Untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai potensi tantangan dalam pelaksanaan kegiatan gemar membaca secara umum (baik di tingkat lokal, regional, maupun nasional), terdapat beberapa kendala umum yang sering kali menjadi hambatan dalam pelaksanaan kegiatan literasi masyarakat di berbagai wilayah. Kendala-kendala ini perlu diwaspadai dan dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam pengembangan kegiatan ke depan. 4.3.1. Keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) Salah satu kendala umum yang sering dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan literasi adalah keterbatasan jumlah dan kapasitas pustakawan atau tenaga pelaksana kegiatan. Tidak semua perpustakaan daerah memiliki SDM yang memadai dari segi jumlah, pelatihan literasi, maupun kemampuan komunikasi (Melfan & Batubara, 2023) 4.3.2. Keterbatasan Fasilitas dan Sarana Pendukung Program literasi membutuhkan dukungan fasilitas yang layak, seperti kendaraan perpustakaan keliling, koleksi buku yang up to date, perlengkapan presentasi, dan ruang kegiatan yang representatif. Di banyak daerah, keterbatasan fasilitas sering kali menjadi kendala utama. Koleksi buku yang terbatas, tidak bervariasi, atau tidak relevan dengan minat pembaca juga menjadi hambatan dalam menumbuhkan ketertarikan masyarakat terhadap kegiatan membaca. 4.3.3. Keterbatasan Anggaran Pembiayaan kegiatan literasi seringkali menjadi tantangan tersendiri. Meski kegiatan memiliki rancangan yang baik, namun tanpa dukungan anggaran yang memadai, kegiatan sulit dilaksanakan secara optimal. Pembiayaan mencakup banyak aspek, seperti operasional kendaraan keliling, penyediaan hadiah lomba, penggandaan materi sosialisasi, hingga honorarium narasumber. Ketergantungan terhadap anggaran pemerintah membuat beberapa kegiatan menjadi tidak berkelanjutan ketika alokasi dana berkurang. 4.3.4. Rendahnya Respons dan Kesadaran Masyarakat Dalam beberapa kasus, rendahnya tingkat literasi masyarakat berdampak pada kurangnya respons atau partisipasi dalam kegiatan literasi. Budaya membaca yang belum mengakar menyebabkan sebagian masyarakat masih memandang kegiatan membaca sebagai aktivitas yang tidak menarik atau kurang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Sikap pasif ini menjadi tantangan besar, terutama di wilayah yang belum terpapar kegiatan literasi secara intensif Hasil temuan menunjukkan bahwa pelaksanaan kegiatan literasi di berbagai daerah masih menghadapi tantangan signifikan, yang dapat dikelompokkan ke dalam empat aspek utama. Pertama, keterbatasan sumber daya manusia, baik dari segi jumlah maupun kompetensi pustakawan, menjadi kendala dalam pelaksanaan program literasi secara efektif. Kedua, minimnya fasilitas dan sarana pendukung, seperti koleksi buku yang relevan, kendaraan perpustakaan keliling, serta ruang kegiatan yang layak, turut menghambat terciptanya lingkungan literasi yang kondusif. Ketiga, masalah keterbatasan anggaran menjadi penghalang utama dalam menjaga kesinambungan program, karena sebagian besar kegiatan sangat bergantung pada dana pemerintah. Terakhir, rendahnya kesadaran dan partisipasi masyarakat terhadap pentingnya membaca menunjukkan bahwa tantangan literasi bukan hanya bersifat struktural, tetapi juga kultural. Keempat aspek ini saling terkait dan membentuk lingkaran hambatan yang perlu diatasi secara simultan agar program literasi dapat berjalan secara optimal dan berkelanjutan.

Conclusion

Berdasarkan hasil dan pembahasan dalam artikel ini, dapat disimpulkan bahwa kegiatan Pembudayaan Gemar Membaca yang dilaksanakan oleh Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar terbukti efektif dalam meningkatkan minat baca masyarakat, khususnya pelajar, melalui tiga bentuk kegiatan utama yaitu Perpustakaan Keliling, Sosialisasi Budaya Membaca, dan Lomba Literasi. Ketiga kegiatan ini telah menunjukkan dampak positif terhadap perubahan perilaku membaca, peningkatan interaksi masyarakat dengan perpustakaan, serta pencapaian indikator formal seperti jumlah kunjungan dan partisipasi kegiatan. Meskipun terdapat kendala teknis seperti keterbatasan waktu, fasilitas, dan partisipasi, namun pelaksanaan kegiatan berjalan cukup optimal dan mendapat dukungan dari berbagai pihak. Dengan pendekatan strategis berbasis teori dan partisipasi aktif masyarakat, kegiatan ini mampu menjadi jawaban atas rumusan masalah tentang efektivitas upaya peningkatan minat baca melalui intervensi institusional yang terstruktur dan berkelanjutan. Untuk mendukung keberlanjutan dan peningkatan efektivitas program Pembudayaan Gemar Membaca, disarankan agar Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Pematangsiantar memperkuat kolaborasi dengan sekolah, komunitas literasi, dan sektor swasta dalam hal pendanaan, penyediaan sumber daya, serta inovasi media literasi. Selain itu, penting untuk memperluas jangkauan program ke masyarakat umum melalui kampanye literasi digital dan integrasi teknologi informasi, agar minat baca tidak hanya tumbuh di kalangan pelajar tetapi juga merata di seluruh lapisan masyarakat.