Kembali
16
1
2023 Librarianship in Muslim Societies Vol 2 · 1 ISSN 2961-8339

Tanggapan Pemustaka Terhadap Desain Interior (Studi Deskriptif di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan)

Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin; Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin; Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Abstrak

Desain gedung Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tanah Laut sudah terlihat menarik dilihat dari desain yang artistik dan modern. Namun, kenyataannya masih ada permasalahan desain interior yang perlu dibenahi karena masih ada permasalahan yang menyebabkan ketidaknyamanan bagi pemustaka yang berkunjung. Oleh karena itu, desain interior Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tanah Laut perlu dilihat dari persepsi atau tanggapan pemustaka. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan metode kuantitatif. Populasi penelitian yaitu berjumlah 432 pemustaka. Penentuan sampel pada penelitian ini menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 10 % diperoleh sampel sebanyak 82 responden. Hasil penelitian dengan penyebaran angket menunjukkan bahwa tanggapan pemustaka terhadap desain interior di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tanah Laut dapat diketahui berdasarkan indikator elemen-elemen desain interior. Tanggapan pemustaka terhadap elemen tata ruang, warna, dan sirkulasi udara nilai skor rata-rata 3.73, 3.97, dan 3.44 yang berada pada kategori setuju. Tanggapan pemustaka terhadap elemen pencahayaan dan tata ruang skor rata-rata 2.96, dan 2,91 berada dalam kategori cukup setuju. Meskipun nilai skor rata-rata total keseluruhan 3.49 berada pada kategori setuju untuk pencahayaan dan tata ruang perlu ditingkatkan lagi karena masih dalam kategori cukup setuju yang menunjukkan masih adanya ketidaknyamanan pemustaka berada di perpustakaan.

Abstract

The design of the Tanah Laut Regency Library and Archives Service building looks attractive in terms of its artistic and modern design. However, in fact there are still interior design problems that need to be addressed because there are still problems that cause inconvenience to visiting users. Therefore, the interior design of the Tanah Laut Regency Library and Archives Service needs to be seen from the perceptions or responses of users. The type of research used is descriptive research with quantitative methods. The research population is 432 users. Determination of the sample in this study using the Slovin formula with an error rate of 10% obtained sample of 82 respondents. The results of the study by distributing questionnaires showed that the responses of users to interior design at the Tanah Laut District Library and Archives Service could be identified based on indicators of interior design elements. The user's response to the elements of spatial planning, color, and air circulation has an average score of 3.73, 3.97, and 3.44 which are in the agree category. The user's response to the elements of lighting and spatial planning averaged 2.96, and 2.91 was in the quite agree category. Even though the overall average score of 3.49 is in the agree category for lighting and spatial planning it needs to be improved again because it is still in the quite agree category which shows that there is still some inconvenience for users to be in the library.
Keywords: Interior Design · Libraries · Users · Responses · Perceptions

Introduction

Perpustakaan diselenggarakan tidak hanya sebagai pusat informasi tetapi juga sebagai pusat pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan dari berbagai kalangan masysarakat. Hal ini selaras dengan pengertian perpustakaan dalam UndangUndang No. 43 tahun 2007 bahwa perpustakaan adalah “institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka (PP No. 24 Tahun 2014 Tentang Pelaksanaan UU No. 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan, 2014). Semakin banyak informasi yang melimpah dan makin banyak pula masyarakat yang haus akan ilmu pengetahuan, maka perpustakaan tentunya selalu berbenah diri dalam menyediakan informasi dan memberikan pelayanan yang terbaik dari berbagai aspek. Keberhasilan pengelolaan sebuah perpustakaan ditentukan oleh pemberian layanan yang berkualitas. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Puspa (2016) bahwasanya kualitas pemberian layanan yang tepat guna bisa memberikan kepuasan kepada pemustaka merupakan tolak ukur dari keberhasilan pengelolaan sebuah perpustakaan. Mewujudkan layanan yang berkualitas pustakawan harus terus menambah koleksi yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka dan juga menyediakan sarana dan prasarana terutama fasilitas ruangan yang membuat nyaman serta khususnya penataan desain interior yang indah agar pemustaka menjadi betah berada di perpustakaan dan perpustakaan tidak terlihat membosankan. Semua perpustakaan hendaknya memiliki desain interior yang tertata rapi. Desain interior perpustakaan merupakan suatu rencana mengenai bagian dalam dari gedung perpustakaan dengan tujuan membuat suasana ruangan menjadi nyaman dan indah yang mencakup tata ruang, pencahayaan, warna, sirkulasi udara, serta suara/bunyi (Panjaitan, 2016). Perpustakaan umum sebagai perpustakaan yang melayani pemustaka yang beragam semestinya lebih memikirkan desain interior yang sesuai bagi pemustakanya tersebut. Desain interior yang diterapkan di perpustakaan umum hendaknya menarik keinginan pemustaka untuk datang memanfaatkan perpustakaan. Desain interior seperti yang disampaikan Susanti dan Budiono (2014) dalam hasil penelitiannya bahwa rancangan desain interior khususnya desain ruang salah satu yang sangat penting dalam membentuk suasana yang nyaman sehingga membangun kondisi belajar yang mampu mempengaruhi psikologi pemustaka agar senang dalam belajar dan semakin meningkat minat bacanya. Selain itu seperti yang diungkapkan oleh Rifauddin dan Halida (2018) dalam tulisannya desain interior merupakan hal penting yang wajib diperhatikan oleh pustakawan. Desain interior yang menarik dapat membangun citra baik perpustakaan karena berpengaruh pada meningkatnya minat baca pemustaka dan menambah rasa puas bagi pemustaka terhadap layanan yang diberikan. Desain interior yang diterapkan hendaknya desain yang sesuai perkembangan zaman, menurut Aisjah dan Fahriyah (2021) desain interior modern saat ini mengikuti tren gaya kontemporer yang memanfaatkan seluruh ruangan perpustakaan agar berfungsi maksimal sebagai tempat mencari informasi, tempat membaca, pembelajaran, seminar, dan hiburan. Ketika peneliti melakukan observasi awal ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tanah Laut, terlihat desain gedung yang diterapkan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tanah Laut sudah menarik terlihat dari desain yang artistik dan modern. Namun, kenyataannya masih ada permasalahan desain interior yang perlu dibenahi seperti kurangnya pendingin ruangan pada ruangan baca sehingga menimbulkan rasa gerah, adanya berbagai sumber suara yang membuat bising sehingga menimbulkan ketidaknyamanan, tidak adanya ventilasi guna pertukaran udara dan adanya pencahayaan yang tidak merata sebab terdapat lampu penerangan yang tidak berfungsi. Padahal ketika perencanaan desain interior diperhatikan dan dikelola dengan baik maka akan membuat pemustaka nyaman, hal tersebut tentunya berdampak pada persepsi pemustaka sebagai indikator kepuasan pemustaka terhadap desain interior perpustakaan. Selaras dengan paparan dari Islamy dkk (2016) bahwa dari keseluruhan kegiatan yang dilakukan oleh perpustakaan pada akhirnya akan bermuara pada nilai yang akan diberikan oleh pemustaka mengenai tanggapan pemustaka yang dirasakan, diperlukan adanya suatu pengukuran untuk mengetahui tanggapan pemustaka yang mencakup semua aspek layanan perpustakaan. Perpustakaan sebagai penyedia informasi bagi masyarakat memerlukan tanggapan pemustaka agar perpustakaan dapat memperbaiki desain yang ada dan membuat pemustaka nyaman berada di perpustakaan. Kehadiran pemustaka sangatlah penting dalam sebuah perpustakaan, sebab perpustakaan tidak dapat hidup jika tidak adanya pemustaka yang menjalankan aktivitas di perpustakaan selain pustakawan. Tolak ukur keberhasilan perpustakaan dapat dilihat dari tanggapan pemustaka terhadap perpustakaan. Hal -hal yang kurang maksimal di perpustakaan dapat diketahui dari tanggapan pemustaka, sebab pemustaka merupakan pengguna langsung yang dapat menilai atau mengukur layanan, fasilitas, dan lain sebagainya yang ada di perpustakaan dalam hal ini yaitu desain interior. Hasil penelitian desain interior Dinas Kabupaten dan Kearsipan Kabupaten Tanah Laut yang meliputi elemen tata ruang, warna, pencahayaan, sirkulasi udara dan suara/bunyi memiliki manfaat yang penting agar pengelola perpustakaan atau pustakawan bersama unsur pimpinan dapat menganalisa penerapan desain interior yang sudah ada agar menjadi lebih baik lagi untuk memberikan kenyamanan khususnya bagi pemustaka sebagai pengguna informasi utama di perpustakaan. Oleh karena itu penelitian tentang seberapa besar tingkat tanggapan pemustaka terhadap desain interior Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tanah Laut ini perlu dilakukan.

Method

Metode penelitian yang diterapkan adalah metode kuantitatif. Metode kuantitatif adalah penelitian empiris yang datanya berbentuk angka-angka. Menurut Sugiyono (2015) metode kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme yang digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu dan analisis datanya bersifat statistik untuk menguji hipotesis penelitian. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif. Pendekatan deskriptif memberikan gambaran yang lebih detail mengenai suatu gejala (Priyono, 2016). Menurut Sugiyono (2015) pendekatan deskriptif digunakan untuk menganalisa data dengan cara memaparkan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum. Jadi jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif yaitu bahwasanya dalam penelitian ini peneliti melakukan pengukuran terhadap gejala yang ada pada saat penelitian dilakukan, kemudian digambarkan secara deskriptif mengenai tanggapan pemustaka terhadap elemen desain interior yaitu ruang, warna, pencahayaan, sirkulasi udara, dan tata suara di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tanah Laut. Populasi penelitian meliputi seluruh pemustaka yang berkunjung berkunjung di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tanah Laut pada tahun 2021. Jumlah populasi dalam penelitian ini didapatkan dari rata-rata jumlah pemustaka yang berkunjung selama tiga bulan seperti dalam tabel berikut. Sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik accidental sampling yaitu teknik kebetulan. Orang yang diambil sebagai sampel adalah pemustaka yang kebetulan ditemukan atau pemustaka yang sedang melakukan kunjungan ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tanah Laut. Pengambilan sampel ini menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 10 %. Dari rumus tersebut diperoleh sampel penelitian sebanyak 81 orang pemustaka. Teknik pengumpulan data yang diterapkan adalah penyebaran angket/ kuesioner kepada sampel penelitian yang berisi tentang indikator-indikator tanggapan pemustaka terhadap desain interior yaitu ruang, warna, pencahayaan, sirkulasi udara, dan tata suara; selain itu digunakan juga teknik observasi, dan dokumentasi. Pemberian skor untuk setiap item soal menggunakan skala likert untuk menentukan skor kriteria penelitian dengan tingkatan “sangat setuju” dengan skor 5, “setuju” dengan skor 4, “cukup setuju” dengan skor 3, “tidak setuju” dengan skor 2, dan “sangat tidak setuju” dengan skor 1 (Priadana & Sunarsi, 2021). Sebelum angket disebarkan diuji terlebih dahulu validitas dan realibilitas item-item soal tersebut ke 30 responden uji dan dihitung menggunakan SPSS versi 24 yang menghasilkan ada 2 soal yang tidak valid dari 24 soal yang tidak valid s. Kemudian angket yang sudah teruji tersebut baru disebarkan dan datanya diolah dengan tahapan pengolahan data editing, coding, dan tabulating. Sedangkan untuk analisis data menggunakan rumus skror rata-rata X= [( )+( )+( )+( )+( )]/ . Agar analisa menjadi lebih luas, skala ordinal diubah menjadi skala interval untuk menentukan kategori dari hasil perhitungan dengan interval kelas 0,8 (Sangat Setuju: 4,24-5,04; Setuju: 3,43-4,23; Cukup Setuju: 2,62-3,42; Tidak Setuju: 1,81-2,61; Sangat Tidak Setuju: 1.00-1,80).

Result & Discussion

Bagian ini peneliti melampirkan data hasil penelitian kuantitatif selama penelitian tentang tanggapan pemustaka terhadap desain interior Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tanah Laut. Kuesioner yang disebar sebanyak 82 responden disajikan datanya dalam tabel kemudian dilakukan analisis pada hasil jawaban responden. Elemen tata ruang dengan skor rata-rata termasuk kategori setuju. Sebagian besar responden setuju dengan luasnya ruang baca dan ruang koleksi, peletakan rak-rak, meja, dan kursi tertata dengan rapi, teratur dan baik, pembagian ruang perpustakaan sudah ideal dengan terdapat sekat antar ruang, dan peletakan kafe perpustakaan berdampingan dengan ruang koleksi dan ruang baca sudah sesuai. Namun, sebagian besar responden cukup setuju terhadap terdapatnya peta area atau penunjuk arah di dalam perpustakaan. Berdasarkan pengamatan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tanah Laut, tidak adanya peta area atau denah ruangan guna memudahkan pemustaka agar tidak kebingungan berada di dalam perpustakaan. Hanya terdapat beberapa penunjuk arah di dalam perpustakaan yang ditempel di dinding. Rambu-rambu menunjukkan elemen paling dasar dari publisitas perpustakaan guna memudahkan pemustaka (Koontz & Gubbin, 2018). Elemen yang mempunyai nilai rata-rata tertinggi yaitu warna dengan persepsi pemustaka terhadap warna yang diterapkan yaitu setuju. Warna menjadi salah satu yang berperan penting dalam membangun kenyamanan pemustaka yang berada di perpustakaan. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tanah Laut menerapkan warna dinding di ruang koleksi dewasa dan ruang baca sesuai dengan pedoman dan tata ruang perpustakaan umum, yaitu warna krem dan putih yang memberikan kesan netral untuk pemustaka remaja dan dewasa kemudian ada tambahan beberapa warna cerah pada tiang dan pojok ruang guna memberikan aksen dan menjadikan ruang lebih hidup dan menyenangkan. Berdasarkan hasil penelitian, hal tersebut sesuai dengan pemilihan warna dapat mempengaruhi kondisi seorang pemustaka menurut Majidah, dkk (2019) penggunaan warna yang sesuai mampu memberikan motivasi kepada pemustaka agar merasa nyaman dengan suasana perpustakaan sehingga bisa belajar dengan kondusif. Kemudian Melanira dan Wibowo (2021) menegaskan warna adalah unsur dasar yang memberikan makna yang ekspresif dan memunculkan karakteristik pada tiap ruang perpustakaan. Elemen selanjutnya yaitu pencahayaan diperoleh dengan skor rata-rata termasuk kategori cukup setuju. Pencahayaan lantai 2 di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tanah Laut bersumber dari pencahayaan buatan yaitu berupa lampu-lampu sedangkan pencahayaan alami dari adanya kaca besar dan jendela. Namun, sebagian besar responden memilih cukup setuju terdapat lampulampu di ruang baca yang redup dan tidak berfungsi lagi. Selaras dengan pengamatan yang dilakukan, pencahayaan lampu di ruang baca tidak semuanya menyala sebab terdapat beberapa lampu yang tidak berfungsi.Pencahayaan lampu di ruang baca di desain dengan diletakkan berderet pada langit-langit keseluruhan ruang koleksi umum dewasa dan diberi jarak ± 2,5 meter sehingga memberikan kesan cahaya yang terpancar ke semua arah dan pada umumnya bebas sorotan. Jika terdapat beberapa lampu yang tidak menyala sebab tidak berfungsi tentunya mempengaruhi penerangan di ruang baca dan ruang koleksi, akhirnya pencahayaannya akan menimbulkan bayang-bayang, kontras cahaya yang tidak seragam, dan pencahayaan yang kurang terang. Hal ini sejalan dengan apa yang dinyatakan Pahlevi dan Muliadi (2022) pencahayaan yang memenuhi standar merupakan aspek yang berguna sekali bagi pustakawan dan pemustaka agar aman dan nyaman dalam melakukan pekerjaan atau aktivitas di perpustakaan. Elemen selanjutnya yaitu sirkulasi udara dengan skor rata-rata responden yaitu setuju. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tanah Laut sudah berupaya agar pengudaraan di lantai 2 tidak terasa gerah. Namun, sebagian besar responden merasa cukup setuju bahwa kurangnya pendingin ruangan seperti AC dan kipas angin sehingga menimbulkan rasa panas dan gerah ketika berada di lantai 2 Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tanah Laut. Berdasarkan pengamatan, hanya aula perpustakaan dan ruang pengolahan yang memiliki AC sedangkan ruang baca dan ruang koleksi hanya terdapat 2 buah kipas angin yang berfungsi. Pertukaran udara di lantai 2 Dispusip Tanah Laut hanya terdapat pada pintu belakang dan jendela belakang yang dibuka, sedangkan ventilasi tidak diterapkan di ruang baca, ruang koleksi, dan ruang aula perpustakaan. Penataan ruang perpustakaan umum harus dapat memungkinkan kondisi pengudaraan yang baik, sehingga memberikan kenyamanan bagi pengguna yang berkegiatan. Hal ini juga terutama menjadi penting karena kondisi udara yang sirkulasinya baik bisa mengatasi udara yang lembap yang berpengaruh terhadap terlindunginya fisik koleksi yang ada di perpustakaan (Rifauddin & Halida, 2018). Tidak ada tata tertib yang diterapkan bagi pemustaka khususnya tata tertib untuk tidak merokok di lantai 2, sehinggga membuat pemustaka sesuka hati merokok. Aktivitas perokok menyebabkan ketidaknyamanan pengunjung (Simulingga, 2016). Elemen terakhir yaitu tata suara dengan skor rata-rata termasuk kategori cukup setuju. Responden cukup setuju dengan banyaknya sumber suara yang mengganggu kenyamanan pemustaka berkunjung baik dari suara yang dihasilkan oleh pemustaka itu sendiri, pustakawan, kegiatan di aula perpustakaan, hingga suara yang ditimbulkan oleh kafe perpustakaan. Namun suara tersebut tidak dapat sepenuhnya diredam sebab kurangnya bahan-bahan yang dapat meredam suara seperti karpet, busa, hingga bahan-bahan peredam suara yang dapat diterapkan di langit-langit ruangan hingga dinding. Hanya terdapat dinding kaca yang memisahkan ruang baca dan koleksi dengan ruangan lainnya guna mengurangi kebisingan yang ditimbulkan. Masalah kebisingan suara ini menurut Sistarina dan Kartikasari (2018) dapat diatasi dengan memasang alat peredam suara pada masing-masing ruangan di perpustakaan sehingga pustakawan dan khususnya pemustaka menjadi lebih nyaman berada di perpustakaan. Tabel 6. Tanggapan Pemustaka Terhadap Indikator Desain Interior Tata Suara Penilaian Rata-Rata Keterangan Saya terganggu dengan suara kegiatan yang ada di aula perpustakaan sehingga membuat saya tidak nyaman 2.91 Cukup Setuju Selama berkunjung saya mendengar suarasuara yang menyebabkan konsentrasi saya buyar. 3.00 Cukup Setuju Terdapat peredam suara di ruang baca untuk mengurangi kebisingan 2.87 Cukup Setuju Saya terganggu dengan suara berisik dari kafe perpustakaan di samping ruang baca. 2.84 Cukup Setuju ∑ 11.62/4 = 2.91 (Cukup Setuju) Tabel 7. Rekapitulasi Nilai Tanggapan Terhadap Desain Interior Penilaian Rata-Rata Tata Ruang 26,09 Warna 19,87 Pencahayaan 8,88 Sirkulasi Udara 10,33 Tata Suara 11,62 Jumlah skor keseluruhan ∑ 11.62/22 = 76,78 Skor rata-rata keseluruhan 3.49 (Setuju) Mengenai rekapitulasi persepsi pemustaka terhadap desain interior yang mencakup 5 elemen, elemen yang mempunyai rata rata paling tinggi yaitu elemen warna (3.97). Nilai tersebut berada di kelas interval tinggi. Data tersebut menunjukkan bahwa pemustaka merasa nyaman terhadap elemen tata ruang yang dijabarkan dengan item-item pernyataan yang terdapat pada kuesioner. Sedangkan elemen yang mempunyai rata-rata paling rendah yaitu elemen tata suara (2,91), meskipun berada di interval cukup setuju, namun dibandingkan dengan elemen lainnya, tata suara menempati tingkat terendah. Hal ini disebabkan karena pemustaka banyak yang merasa kurangnya peredam suara guna mengurangi kebisingan dan banyak suara-suara yang mengganggu. Hasil penelitian skor rata-rata keseluruhan yaitu setuju atau baik. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemustaka Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tanah Laut merasa nyaman berada di perpustakaan karena desain interior yang meliputi tata ruang, warna, pencahayaan, sirkulasi udara, dan tata suara dapat memenuhi kebutuhan dan kenyamanan pemustaka. Meskipun disisi lain berdasarkan semua pernyataan yang diajukan, masih terdapat responden yang memilih cukup setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju sehingga harus tetap dilakukan perbaikan.

Conclusion

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa tanggapan pemustaka terhadap desain interior di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tanah Laut dengan skor rata-rata nilai keseluruhan adalah 3.49 termasuk kategori setuju, hal tersebut menunjukkan bahwa pemustaka merasa nyaman dengan desain interior yang diterapkan sebagai indikator kepuasan pemustaka. Namun, masih terdapat beberapa hal yang menyebabkan pemustaka kurang nyaman sehingga memilih tidak setuju bahkan sangat tidak setuju seperti kurangnya penunjuk arah di dalam perpustakaan, terdapat pencahayaan lampu yang tidak berfungsi, kurangnya pendingin ruangan dan kurangnya peredam suara untuk mengurangi kebisingan. Oleh sebab itu hendaknya perpustakaan memperbaiki hal-hal yang masih kurang tersebut agar menambah kenyamanan pemustaka berada berlama-lama di perrpustakaan.