DESAIN INTERIOR PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS INDONESIA DALAM PERSEPSI PEMUSTAKA
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta; Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Abstrak
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh desain interior futuristik dan fasilitas menarik di Perpustakaan Universitas Indonesia (UI), yang menciptakan lingkungan nyaman. Namun, data statistik menunjukkan penurunan signifikan dalam kunjungan mahasiswa pada periode September-Desember 2023. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mengenai faktor-faktor yang memengaruhi pengalaman pengguna, khususnya persepsi mereka terhadap desain interior perpustakaan, yang seharusnya dapat meningkatkan kunjungan dan kenyamanan. Penelitian ini menjadi penting untuk memahami bagaimana desain interior berperan dalam memengaruhi persepsi dan tingkat kunjungan, serta untuk memberikan rekomendasi perbaikan yang dapat meningkatkan daya tarik perpustakaan di kalangan mahasiswa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Data dikumpulkan melalui kuesioner, observasi, studi pustaka, dan dokumentasi. Populasi penelitian adalah 15.190 mahasiswa pemustaka Perpustakaan UI, dan dengan menggunakan rumus Isaac dan Michael, diperoleh sampel sebanyak 284 orang. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi pemustaka terhadap elemen desain interior memperoleh nilai rata-rata 3, sedangkan prinsip desain interior mendapatkan rata-rata 3,33. Secara keseluruhan, persepsi pemustaka mengenai desain interior mencapai nilai rata-rata 3,29, yang berada dalam rentang "sangat baik" (3,28-4,03). Meskipun persepsi secara umum positif, terdapat skor terendah pada aspek suhu udara (2,63) dalam elemen desain, dan proporsi (3,09) dalam prinsip desain. Oleh karena itu, sebaiknya pustakawan meningkatkan kualitas pada aspek-aspek yang mendapat skor terendah untuk memperbaiki kenyamanan dan persepsi pemustaka.
Abstract
This study is motivated by the futuristic interior design and attractive facilities of the University of Indonesia (UI) Library, which create a comfortable environment. However, statistical data show a significant decline in student visits between September and December 2023. This phenomenon raises questions about the factors influencing users' experiences, particularly their perceptions of the library's interior design, which should ideally enhance comfort and increase visitation. This research is essential to understand how interior design affects user perception and visit rates, and to provide recommendations for improvements that could boost the library's appeal among students. This study employs a descriptive method with a quantitative approach. Data were collected through questionnaires, observations, literature review, and documentation. The population consists of 15,190 student users of UI Library, and based on Isaac and Michael's formula, a sample of 284 respondents was obtained. Accidental sampling was used as the sampling technique. The results show that users' perceptions of the interior design elements averaged 3, while the interior design principles received an average score of 3.33. Overall, the users' perception of the library's interior design averaged 3.29, falling within the "very good" range (3.28-4.03). Although the general perception is positive, the lowest scores were found in the air temperature aspect (2.63) of the design elements and in the proportion aspect (3.09) of the design principles. Therefore, it is recommended that librarians improve the aspects with the lowest scores to enhance user comfort and maintain the positive perceptions of the library.
Keywords:
Desain Interior
· Perpustakaan Universitas Indonesia
· Persepsi Pemustaka
Introduction
Perpustakaan menjadi salah satu pusat sumber informasi sebagai sandaran institusi terutama dalam bidang pendidikan, perpustakaan sebagai tempat tuntutan untuk beradaptasi dengan perkembangan informasi yang sangat tinggi. Perpustakaan menyediakan berbagai informasi mulai dari bahan tercetak, terekam ataupun dengan berbagai media atau buku, majalah, surat kabar, film, kaset, tape recorder, video, komputer, dan lainnya yang dapat digunakan oleh pemustaka untuk mengutip ide dari para penulis, memperoleh informasi dalam berbagai macam bidang serta memiliki kesempatan untuk memilih informasi sesuai dengan kebutuhannya (Anwar dan Jailani, 2019, p. 7). Tingkat keberhasilan sebuah perpustakaan tidak hanya dilihat dari pengelolaan perpustakaan dalam upaya pencapaian tujuannya dengan memanfaatkan dan memerhatikan unsur-unsur yang di antaranya meliputi koleksi, sumber daya manusia, pengolahan sumber informasi, pengguna, sumber dana, serta layanan. Desain interior sebuah perpustakaan juga menjadi salah satu aspek penting dalam menunjang tingkat keberhasilan suatu perpustakaan. Persepsi merupakan proses ketika seseorang menerima dan menafsirkan segala sesuatu yang diperoleh dari pandangan atau yang dirasakan di lingkungannya dan akan memberikan berbagai respon dalam sensorik (Swarjana, 2021, p. 28). Seseorang akan menghasilkan persepsi baik positif maupun negatif yang dipengaruhi oleh suatu tindakan yang tampak. Ketika terdapat tindakan yang positif maka akan menciptakan persepsi yang positif. Sebaliknya, tindakan negatif akan menciptakan persepsi yang negatif juga (Sari et al., 2021, p. 2). Persepsi menjadi alat dari individu dalam menggambarkan pengetahuannya yang diperoleh dari pandangan serta yang ia rasakan pada suatu objek (Robbins, 2003, p. 160). Stigma yang masih melekat bahwa perpustakaan merupakan gedung yang membosankan dan terkesan kuno (Mustar, 2019, p. 374). Namun dengan desain interior yang indah dengan memperhatikan nilai estetika dan mengutamakan kenyamanan pemustaka, akan menjadi daya tersendiri bagi sebuah perpustakaan. Oleh sebab itu, perancangan desain interior sangat berpengaruh pada tingkat keberhasilan suatu perpustakaan, karena akan memengaruhi data statistik pengunjung suatu perpustakaan. Dengan memiliki tatanan ruangan yang tidak monoton serta sarana prasarana yang disediakan dapat memberikan kepuasan dan kenyamanan yang akan menjadi salah satu alasan data statistik kunjungan semakin meningkat. Pada dasarnya, desain interior terikat dengan proses merencanakan, menata, dan merancang ruang dalam sebuah bangunan untuk mendapatkan tatanan fisik guna pemenuhan kebutuhan dasar manusia dalam penyediaan sarana bernaung dan berlindung. Desain interior akan memengaruhi pandangan, perilaku, suasana hati dan psikologis penghuninya. Hal ini sesuai dengan tujuan desain interior untuk memperbaiki fungsi, memperkaya nilai estetika, serta meningkatkan aspek psikologis sebuah ruangan (Wicaksono, A. A. dan Tisnawati, E., 2014, p. 6). Perancangan desain interior tidak hanya seputar rancangan penataan bentuk bangunan dengan mementingkan nilai estetika. Desain interior dapat dikatakan berhasil jika ia dapat memenuhi persepsi penggunanya mulai dari penglihatan hingga terciptanya kenyamanan serta keamanan yang didapatkan dari bangunan tersebut. Suatu ruangan akan berfungsi secara maksimal jika desain interiornya disesuaikan dengan aktivitas penggunanya (Wicaksono, A. A. dan Tisnawati, E., 2014, p. 8). Desain interior memiliki sepuluh unsur yang dapat membentuknya di antaranya yakni ruang, variasi, hierarki, area personal, pencahayaan, tata surya, suhu udara, perawatan, kualitas udara, serta style dan fashion (Rahman dan Jumino, 2020, p. 84). Selain itu, ada beberapa prinsip suatu desain interior yang harus dipertimbangkan dalam menyusun komposisi desain. Adapun prinsip tersebut diantaranya adalah keselarasan, keseimbangan, perlawanan (kontras), proporsi, fokus, irama (Ramadhani et al., 2023, p. 54). Salah satu perpustakaan perguruan tinggi yang memiliki desain interior yang unik ialah Perpustakaan Universitas Indonesia yang berlokasi di jalan Letjen DR. Sjarif Thajeb, Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat. Perpustakaan pusat Universitas Indonesia yang menempati lahan 2,5 hektar dengan luas bangunan 33.000m ini telah dibangun sejak Juni 2009 dan diresmikan pada 13 Mei 2011 (Halim, 2023.). Perpustakaan UI memiliki 8 lantai dengan terbagi menjadi dua fasilitas, yakni fasilitas umum dan fasilitas perpustakaan. Fasilitas umum dikelola oleh direktorat fasilitas yang terdiri dari ruang apung, cinema, gym, studio musik, broadcast, ruangan pada lantai 5-8 serta tenant di area sekitar gedung. Sedangkan fasilitas perpustakaan dikelola oleh Perpustakaan UI yang terdiri dari ruang sirkulasi, loker, layanan pengunjung, ruang internet, executive lounge, meja informasi, ruang koleksi buku teks, koleksi buku naskah dan klasik, ruang baca, ruang baca khusus, ruang multimedia, ruang diskusi, ruang kubikus, Korean corner, ruang koleksi UI-ana (skripsi, tesis, disertasi), ruang koleksi rujukan, ruang koleksi jurnal/majalah, ruang koleksi cina. Berdasarkan observasi awal, Perpustakaan Universitas Indonesia (UI) terlihat menarik, dengan desain interior yang futuristik, memiliki berbagai fasilitas yang menarik, serta memiliki kondisi tata ruang yang nyaman. Perpustakaan Universitas Indonesia termasuk 8 perpustakaan dengan desain terunik di dunia, dengan mengangkat konsep ecofriendly yang menjadikan perpustakaan ini berbeda dari konsep perpustakaan pada umumnya. Namun belum diketahui apakah dengan keunikan yang dimiliki dari desain interior Perpustakaan Universitas Indonesia tersebut dapat memenuhi kepuasan pemustaka dan dapat mengubah stigma bahwa perpustakaan merupakan bangunan yang membosankan dan terkesan kuno. Berdasarkan data statistik kunjungan Perpustakaan UI tahun 2023 pada bulan SeptemberDesember tingkat kunjungan mahasiswa menurun secara signifikan. Berdasarkan hasil statistik Perpustakaan UI tahun 2023 diperoleh data kunjungan mahasiswa pada bulan September sebesar 19.193 orang, Oktober 19.193 orang, November 15.273 orang, dan Desember 10.265 orang. Menurunnya tingkat kunjungan tersebut bisa disebabkan oleh kondisi interior yang kurang memadai ataupun tidak memenuhi Standar Nasional Perpustakaan (SNP), yang menyebabkan pemustaka merasa ketidaknyamanan dalam melakukan kegiatan di perpustakaan. Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana persepsi pemustaka yang diambil berdasarkan perspektif dari mahasiswa UI mengenai desain interior yang ada di Perpustakaan Universitas Indonesia. Penelitian mengenai desain interior perpustakaan telah banyak diteliti, di antaranya oleh Adriyana (2015), Irmayani (2020), serta Nita dan Afrina (2023). Adriyana (2015) meneliti mengenai persepsi dan kepuasan pemustaka terhadap desain interior di Perpustakaan Universitas Negeri Malang. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa pemustaka memiliki persepsi dan kepuasan yang kurang terhadap sirkulasi udara pada perpustakaan, hal ini ditunjukkan pada hasil dari nilai sirkulasi udara rendah yaitu (2,71). Irmayani (2020) meneliti mengenai persepsi orang tua terhadap desain interior layanan anak pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa responden menyatakan rasa puas dan nyaman dengan tatanan desain interior di Perpustakaaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta. Akan tetapi, perlu dilakukan perbaikan pada lantai, peredam suara, warna dinding, serta karpet. Nita dan Afrina (2023) meneliti mengenai hubungan desain interior terhadap kenyamanan pemustaka di Perpustakaan Umum Kabupaten Solok. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa adalah terdapat hubungan yang positif pada variabel desain interior perpustakaan dan tingkat kenyamanan pemustaka. Dengan demikian, desain interior Perpustakaan Umum Kabupaten Solok dipengaruhi oleh tingkat kenyamanan pemustaka. Penelitian ini akan memfokuskan persepsi pemustaka Perpustakaan Universitas Indonesia mengenai desain interior perpustakaan berdasarkan elemen-elemen serta prinsip-prinsip desain interior. II. TINJAUAN PUSTAKA Desain Interior Desain interior merupakan pengetahuan yang memahami serta memecahkan permasalahan manusia mengenai proses, struktur, dan elemen penting untuk penentuan sebuah karya seni dalam sebuah bangunan (Permana, 2020, p. 14). Desain interior merupakan rancangan, perencanaan, penataan dalam sebuah bangunan yang akan di bentuk (Permana, 2020, p. 14). Desain interior biasanya dimulai dengan pembuatan rancangan sketsa sebuah bangunan dengan memperhatikan elemen penting seperti ruang, garis, bentuk, pencahayaan, warna, serta pola yang akan diimplementasikan pada bangunan. Tujuan dari desain interior adalah memperbaiki dan menambahkan pemanfaatan sebuah ruang, menambah nilai estetika, serta mampu meningkatkan aspek psikologis dari sebuah perancangan atau penataan sebuah ruangan (Wicaksono, A. A. dan Tisnawati, E., 2014, p. 6). Sebuah ruangan yang dibuat tidak hanya digunakan untuk berlindung dari segala cuaca yang ada, akan tetapi dapat digunakan untuk tempat penyimpanan barang, tempat melakukan aktivitas dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, perancangan desain interior perlu memperhatikan segala elemen penting seperti dinding, lantai, plafon, furniture, estetika ruang, pewarnaan ruang, serta pencahayaan ruang agar dapat menghasilkan keseimbangan dalam tata ruang (Wicaksono, A. A. et al., 2014, p. 18). Elemen-Elemen Desain Interior Desain interior memiliki beberapa unsur yang dapat membentuknya, yaitu (Rahman dan Jumino, 2020, p. 84): 1) Ruang (Tata Letak) Fungsi dan kegiatan yang ada dalam perpustakaan harus memiliki perbedaan dalam tata ruang, terdapat beberapa komponen yang dapat ditekankan seperti lantai, dinding, furniture, ukuran serta penempatan ruang. Hal ini bertujuan agar perpustakaan dapat beroperasi dengan baik tanpa harus bergantung pada ketersediaan petunjuk arah. 2) Variasi (Keberagaman Jenis Ruang) Perpustakaan perlu meningkatkan berbagai jenis preferensi pengguna, dengan menyediakan berbagai jenis ruangan dalam memenuhi kebutuhan pengguna baik individu ataupun kelompok. Terdapat keinginan/kenyamanan pengguna dalam memilih tempat duduk, gaya belajar, dan lainnya yang dapat menunjang kenyamanan pengguna saat berada di perpustakaan. 3) Hierarki Dengan adanya hierarki visual yang dapat berfungsi untuk membantu pengunjung perpustakaan dalam memisahkan setiap ruanganruangan yang ada di perpustakaan. Penekanan atau perbedaan yang dapat dibuat seperti, membedakan jenis lantai, dinding, furniture, ukuran ruangan, serta peletakan ruangan. 4) Area Personal Manusia merupakan makhluk yang memiliki kebutuhan sosiologis serta psikologis dalam menciptakan suatu tempat dan suasana yang diinginkan. Agar terpenuhinya area individual, perpustakaan perlu menyediakan penggunaan tempat secara personal ataupun berkelompok. Hal ini agar pengguna perpustakaan dapat merasakan rasa tenteram, tenang serta nyaman ketika berada di perpustakaan. 5) Pencahayaan Pencahayaan keseluruhan ruang yang ada di perpustakaan sebaiknya cenderung lebih terang. Pentingnya sebuah perpustakaan memperhatikan tingkat pencahayaan yang membantu pengguna dalam melakukan kegiatannya saat berada di perpustakaan serta dapat menentukan jumlah lampu yang akan memberikan dampak besar terhadap kenyamanan visual pengguna perpustakaan. 6) Tata Suara Permasalahan umum yang sering terjadi di perpustakaan salah satunya ialah pengaturan tata suara, khususnya di area ruang layanan sirkulasi serta ruang referensi. Ketika perpustakaan memiliki penggunaan tata suara yang tidak tepat akan menyebabkan area perpustakaan menjadi bising. Akan tetapi, jika ruangan terlalu hening akan menyebabkan masalah lain seperti membuat ruangan menimbulkan gema ketika terjadi percakapan dalam perpustakaan. Oleh sebab itu, perpustakaan perlu memperhatikan penyesuaian ruangan yang dapat digunakan oleh pemustaka untuk berdiskusi, berbicara ataupun pemustaka yang memiliki keinginan suasana perpustakaan yang hening serta tenang agar dapat fokus dengan kegiatan yang dilakukan. 7) Suhu Udara Kontrol suhu udara dalam sebuah ruangan menjadi salah satu elemen pendukung dalam kenyamanan pemustaka. dengan keadaan suhu yang baik bagi manusia berkisar ± 20°C. Temperatur yang disesuaikan dengan kebutuhan suhu manusia akan berdampak positif bagi seseorang dalam melakukan kegiatannya saat berada dalam perpustakaan. 8) Perawatan Pustakawan perlu mengetahui bagaimana cara yang tepat dalam mengatur keuangan, hal ini dikarenakan akan menciptakan dasar ekonomi yaitu dengan biaya yang minimum namun dapat memberikan hasil yang maksimal. Hal yang dilakukan seperti mendistribusikan ulang furniture yang ada, dengan mengecat kembali lemari dan rak jika anggaran masih memungkinkan, dapat digunakan untuk membeli furniture lainnya. 9) Kualitas udara Pentingnya menjaga kualitas udara yang baik untuk menjaga kestabilan ruangan, seperti dari alam ataupun sistem ventilasinya. Aroma dapat secara langsung menghubungkan kondisi ruangan dengan aspek psikis pengguna perpustakaan. Dapat dilihat saat ini, terdapat beberapa perpustakaan menggunakan aroma bunga atau kopi sebagai pengharum ruangan agar tercipta kondisi ruangan yang tenang serta nyaman, karena jika sebuah ruangan memiliki bau yang tidak sedap akan membuat penghuni merasa tidak nyaman. 10) Style and Fashion Gaya dan fesyen merupakan bagian dari budaya populer masa kini. Saat ini pengguna banyak menginginkan perpustakaan tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan informasi akan bahan pustakanya, tetapi pengguna juga menginginkan sebuah ruangan yang memiliki visual menarik. oleh sebab itu, perpustakaan perlu memperhatikan nilai estetika dalam perencanaan interior meskipun gaya dan fesyen tersebut bersifat dinamis. Prinsip – Prinsip Desain Interior Prinsip suatu desain interior menjadi faktor yang harus dipertimbangkan dalam menyusun komposisi desain. Adapun prinsip-prinsip desain interior, yaitu (Ramadhani et al., 2023, p. 54): 1) Keselarasan Setiap unsur desain haruslah saling mendukung, menyatu, serta terlihat harmonis. Dari kesatuan dan harmonisasi setiap unsur desain akan membuat semuanya tampak sempurna sesuai dengan konsep yang telah dirancang. Adapun unsur-unsur desain yang meliputi, yakni: ruang, garis, bentuk, warna, pencahayaan, tekstur, dan pola. 2) Keseimbangan Prinsip kesimbangan desain interior meliputi simetris, asimetris, dan radial. Simetris merupakan keseimbangan yang berulang pada setiap sisinya, diperlukan menampilkan kesan yang tidak membosankan atau tidak monoton. Asimetris merupakan bentuk, warna dan tekstur yang memiliki keserasian yang sama tanpa adanya kesan monoton. Sedangkan radial merupakan letak keseimbangan berada di tengah unsur dan tampak memancar. 3) Perlawanan (Kontras) Perlawanan (kontras) yang dimaksud dalam prinsip desain ialah cara untuk membuat tampilan ruangan tampak lebih hidup, estetika, dan berkarakter. 4) Proporsi Penerapan proporsi dalam prinsip desain akan berkaitan dengan skala serta komposisi yang melibatkan denah. Hal ini berfungsi agar ruangan tidak terkesan dan terasa sempit melainkan ruangan akan terasa luas. 5) Fokus Titik fokus merupakan tempat yang akan menjadi sorotan dalam sebuah ruangan dan bertujuan untuk memberikan kesan pandangan pertama ketika memasuki ruangan. Ruangan yang memiliki titik fokus akan tampak lebih berkesan. 6) Irama Irama dalam prinsip desain ialah urutan penataan yang terlihat harmonis. Prinsip irama sangatlah berperan penting, karena berfungsi untuk meningkatkan kenyamanan dan keindahan sebuah ruangan (Ramadhani et al., 2023, p. 54).
Method
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Metode deskriptif merupakan penelitian yang memberikan gambaran pada suatu objek secara nyata, reakistis, dan aktual dengan tujuan memberikan deskripsi secara sistematis faktual dan akurat mengenai fakta, sifat serta hubungan antarobjek yang diteliti (Rukajat, 2018). Sedangkan pengertian penelitian kuantitatif merupakan sebuah penelitian yang menguraikan dengan rinci bagaimana variabel yang digunakan dalam penelitian saling memengaruhi satu sama lain (Veronica et al., 2022, p. 6). Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan melalui kuesioner, observasi, studi pustaka, dan dokumentasi. Populasi dalam penelitian ini adalah pemustaka Perpustakaan UI dari kalangan mahasiswa. Populasi diambil dari jumlah kunjungan mahasiswa UI perbulan saat penelitian berlangsung (November 2023), yakni berjumlah 15.190 orang. Berdasarkan rumus Isaac dan Michael, maka diperoleh sampel sejumlah 284 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling. Dalam penelitian ini penulis menggunakan analisis data deskriptif dengan skala likert. Penulis hanya menggunakan analisis skala likert 1 sampai 4, dengan menghilangkan pilihan ragu-ragu (netral). Hal ini dilakukan untuk menghindari ketidakpastian antara setuju dengan tidak setuju dalam jawaban responden. Adapun rincian skala 1 sampai 4 yang digunakan dalam penelitian ini, adalah (Noor, 2022, p. 26): 1) Sangat setuju (SS) = 4 2) Setuju (S) = 3 3) Tidak setuju (TS) = 2 4) Sangat tidak setuju (STS) = 1 Skala likert ini kemudian diubah menjadi skala interval dengan rincian sebagai berikut: 1) 3,28 – 4,03 = Sangat baik 2) 2,52 – 3,27 = Baik 3) 1,76 – 2,51 = Buruk 4) 1,00 – 1,75 = Sangat buruk Dari skor persentase jawaban responden berdasarkan skala likert tersebut kemudian ditafsirkan ke dalam parameter sebagai berikut: 1) 0% = Tidak sama sekali 2) 1 – 25% = Sebagian kecil 3) 26 – 49% = Hampir setengahnya 4) 50% = Setengahnya 5) 51–75% = Lebih dari setengahnya 6) 76 – 99% = Hampir seluruhnya 7) 100% = Seluruhnya Setelah data melalui kuesioner sudah terkumpul, selanjutnya dilakukan uji validitas dan reliabilitas dengan menggunakan aplikasi IBM SPSS Statistics. Hasil uji validitas menunjukkan bahwa dari setiap butir-butir pernyataan pada indikator elemen dan indikator prinsip menghasilkan nilai r hitung > rtabel, maka pernyataan tersebut dinyatakan valid. Dengan demikian, seluruh pernyataan pada kuesioner indikator elemen dan variabel prinsip desain interior dapat dikatakan valid dan layak digunakan dalam penelitian. Hasil uji reliabilitas pada indikator elemen desain interior menghasilkan nilai sebesar 0,828 dan indikator prinsip desain interior sebesar 0,806. jadi, dapat disimpulkan bahwa item pernyataan dalam kuesioner dapat dinyatakan reliable karena menunjukkan nilai Cronbach Alpha lebih besar dari 0,7. Dengan demikian, item pernyataan yang disajikan pada kuesioner akan diperoleh data yang konsisten serta pernyataan yang diajukan kembali akan memperoleh jawaban yang relatif sama dengan jawaban dari sebelumnya.
Discussion
A. Karakteristik Responden Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden pada penelitian ini adalah perempuan sebanyak 194 orang (68,3%), dengan rentang usia 18-25 tahun, dan mayoritas berasal dari Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya dengan frekuensi kunjungan sebanyak 3-6 kali dalam sebulan. Gambar 1. KARAKTERISTIK RESPONDEN BERDASARKAN JENIS KELAMIN Gambar 1 menggambarkan distribusi responden berdasarkan jenis kelamin. Laki-laki mencakup 31,7% (90 orang), sedangkan perempuan mencakup 68,3% (194 orang). Berdasarkan usia, responden pada penelitian ini berada pada rentang 18-25 tahun. Berdasarkan fakultas, responden pada penelitian ini diketahui terdapat 13 fakultas, Program Pendidikan Vokasi, serta Sekolah Kajian Stratejik dan Global. TABEL 1. KARAKTERISTIK RESPONDEN BERDASARKAN USIA Usia (Tahun) Frekuensi Persentase 18 26 9,2% 19 34 12,0% 20 34 12,0% 21 54 19,0% 22 41 14,4% 23 17 6,0% 24 13 4,6% 25 65 22,9% Total 284 100% TABEL 2. KARAKTERISTIK RESPONDEN BERDASARKAN FAKULTAS Fakultas Frekuensi Persentase F. Farmasi 5 18% F. Hukum 20 7,0% F. Ilmu Administrasi 18 6,3% F. Ilmu Pengetahuan dan Budaya 78 27,5% F. Ekonomi dan Bisnis 18 6,3% F. Ilmu Keperawatan 15 5,3% F. lmu Komputer 14 4,9% F. Ilmu Sosial dan Politik 26 9,2% F. Kedokteran 2 0,7% F. Kedoteran Gigi 1 0,4% F. Kesehatan Masyarakat 18 6,3% F. Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam 34 12,0% F. Teknik 19 6,7% Program Pendidikan Vokasi 13 4,6% Sekolah Kajian Stratejik dan Global 3 1,1% Total 284 100% B. Elemen-Elemen Desain Interior Terdapat 10 elemen yang dapat membentuk desain interior, yaitu ruang (tata letak), variasi (keberagaman jenis ruang), hierarki, area personal, pencahayaan, tata suara, suhu udara, perawatan, kualitas udara, serta style and fashion. Adapun persepsi pemustaka mengenai unsur elemen desain interior yang dimiliki Perpustakaan UI, adalah sebagai berikut: 1) Persepsi pada Ruang (Tata Letak) Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari setengah (53,9%) responden menyatakan sangat setuju dan hampir setengah (40,8%) responden menyatakan setuju bahwa Perpustakaan UI telah ditata dan disesuaikan dengan fungsi ruangan, jumlah pengguna serta aktivitasnya. TABEL 3. PERSEPSI PEMUSTAKA MENGENAI RUANG (TATA LETAK) PERPUSTAKAAN Pernyataan Bobot F S P Sangat setuju 4 153 612 53,9% Setuju 3 116 348 40,8% Tidak setuju 2 12 24 4,2% Sangat tidak setuju 1 3 3 1,1% Jumlah 284 987 100% Skor rata-rata X = 987/284 = 3,48 Ruang perpustakaan dapat dikatakan baik apabila beroperasi tanpa bergantung dengan adanya petunjuk arah. Elemen interior sebuah ruangan seperti lantai, dinding, furniture, ukuran, serta penempatan harus dapat dibedakan sesuai dengan fungsi dan kegiatan pada setiap ruang (Rahman dan Jumino, 2020, p. 84). Berdasarkan hasil penelitian dan teori tersebut, Perpustakaan UI memiliki fasilitas ruangan yang dapat disesuaikan dengan fungsi ruangan, jumlah pengguna serta aktivitasnya. Hal ini dapat disimpulkan bahwa ruang (tata letak) Perpustakaan UI dapat memenuhi persepsi baik dari pemustaka. 2) Persepsi pada Variasi (Keberagaman Jenis Ruang) Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan hampir setengahnya (39,1%) responden menyatakan sangat setuju dan hampir setengahnya (42,3%) menyatakan setuju bahwa Perpustakaan UI menyediakan berbagai jenis ruang untuk pemenuhan kebutuhan penggunanya. TABEL 4. PERSEPSI PEMUSTAKA MENGENAI VARIASI (KEBERAGAMAN JENIS) RUANG PERPUSTAKAAN Pernyataan Bobot F S P Sangat setuju 4 111 444 39,1% Setuju 3 120 360 42,3% Tidak setuju 2 42 84 14,8% Sangat tidak setuju 1 11 11 3,9% Jumlah 284 899 100% Skor rata-rata X = 899/284 = 3,17 Perpustakaan perlu menyediakan berbagai jenis ruangan yang dapat disesuaikan dengan karakteristik kebutuhan penggunanya, seperti individu maupun kelompok serta mempertimbangkan juga gaya belajar dan kenyamanan untuk memenuhi keinginan penggunanya (Rahman dan Jumino, 2020, p. 84). Berdasarkan hasil penelitian dan teori tersebut, Perpustakaan UI memiliki berbagai jenis ruangan yang dapat digunakan pemustaka sesuai dengan kebutuhannya. Hal ini dapat disimpulkan bahwa variasi (keberagaman jenis ruang) Perpustakaan UI dapat memenuhi persepsi baik dari pemustaka. 3) Persepsi pada Hierarki Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan lebih dari setengahnya (54,9%) responden menyatakan sangat setuju dan hampir setengah (40,1%) responden menyatakan setuju bahwa terdapat pembatas tembok atau sekat antarruang yang dapat memudahkan pemustaka membedakan ataupun mencari ruang yang dituju. TABEL 5. PERSEPSI PEMUSTAKA MENGENAI HIERARKI PERPUSTAKAAN Pernyataan Bobot F S P Sangat setuju 4 156 624 54,9% Setuju 3 114 342 40,1% Tidak setuju 2 12 24 4,2% Sangat tidak setuju 1 2 2 0,7% Jumlah 284 992 100% Skor rata-rata X = 992/284 = 3,49% Penciptaan hierarki pada suatu interior memiliki fungsi untuk membantu pemustaka untuk membedakan setiap ruangan yang ada di perpustakaan (Rahman dan Jumino, 2020, p. 84). Berdasarkan hasil penelitian dan teori tersebut, Perpustakaan UI telah membedakan antarruangan dengan adanya sekat atau pembatas untuk membedakan setiap ruangan yang ada. Hal ini dapat disimpulkan bahwa hierarki Perpustakaan UI dapat memenuhi persepsi baik dari pemustaka. 4) Persepsi pada Area Personal Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan lebih dari setengah (74,6%) responden menyatakan sangat setuju dan Sebagian kecil (21,5%) responden menyatakan setuju bahwa Perpustakaan UI telah menyediakan tempat yang dapat digunakan secara personal maupun berkelompok. TABEL 6. PERSEPSI PEMUSTAKA MENGENAI AREA PERSONAL PERPUSTAKAAN Pernyataan Bobot F S P Sangat setuju 4 212 848 74,6% Setuju 3 61 183 21,5% Tidak setuju 2 8 16 2,8% Sangat tidak setuju 1 3 3 1,1% Jumlah 284 1.050 100% Skor rata-rata X = 1.050/284 = 3,70% Setiap manusia memiliki kebutuhan sosiologis dan psikologis dalam menciptakan tempat dan suasana yang diinginkan. Oleh sebab itu, perpustakaan sudah semestinya menyediakan tempat khusus yang dapat digunakan secara personal maupun berkelompok (Rahman dan Jumino, 2020, p. 85). Berdasarkan hasil penelitian dan teori tersebut, Perpustakaan UI telah menyediakan ruangan yang dapat digunakan secara personal ataupun berkelompok. Hal ini dapat disimpulkan bahwa area personal Perpustakaan UI dapat memenuhi persepsi baik dari pemustaka. 5) Persepsi pada Pencahayaan Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan hampir setengah (41,5%) responden menyatakan sangat setuju dan hampir setengahnya (39,8%) menyatakan setuju bahwa penggunaan cahaya lampu dengan cahaya yang masuk dari luar ruangan (matahari) sudah tepat sehingga tidak mengganggu aktivitas pemustaka di dalam perpustakaan. TABEL 7. PERSEPSI PEMUSTAKA MENGENAI PENCAHAYAAN PERPUSTAKAAN Pernyataan Bobot F S P Sangat setuju 4 118 472 41,5% Setuju 3 113 339 39,8% Tidak setuju 2 45 90 15,8% Sangat tidak setuju 1 8 8 2,8% Jumlah 284 909 100% Skor rata-rata X = 909/284 = 3,20 Penggunaan cahaya dalam ruang perpustakaan pada umumnya cenderung lebih terang. Pentingnya tingkat pencahayaan pada perpustakaan untuk membantu pengguna dalam melakukan kegiatan serta memberikan dampak kenyamanan visual pengguna di perpustakaan (Rahman dan Jumino, 2020, p. 85). Berdasarkan hasil penelitian dan teori tersebut, Perpustakaan UI memiliki bangunan dengan konsep terbuka yang menjadikan cahaya matahari dapat menerangi area perpustakaan Hal ini dapat disimpulkan bahwa pencahayaan Perpustakaan UI dapat memenuhi persepsi baik dari pemustaka. Namun, hal ini tidak sesuai dengan yang ditemukan penulis di lapangan yang menunjukkan bahwa terdapat ruangan yang dapat dikatakan masih minim akan pencahayaannya, seperti pada ruang komputer dan lorong menuju ruang belajar. Selain itu, ditemukan juga beberapa lampu yang sudah mati. 6) Persepsi pada Tata Suara Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan hampir setengahnya (37,3%) responden menyatakan sangat setuju dan hampir setengah (44,0%) responden menyatakan setuju bahwa ruang perpustakaan memiliki kedap suara yang baik, sehingga pemustaka merasa tenang dan tidak terganggu suara bising dari luar ruangan. TABEL 8. PERSEPSI PEMUSTAKA MENGENAI TATA SUARA PERPUSTAKAAN Pernyataan Bobot F S P Sangat setuju 4 106 424 37,3% Setuju 3 125 375 44,0% Tidak setuju 2 45 90 15,8% Sangat tidak setuju 1 8 8 2,8% Jumlah 284 897 100% Skor rata-rata X = 897/284 = 3,16 Tata suara pada setiap ruangan yang kurang tepat akan mengakibatkan ruang menjadi bising, sebaliknya jika ruang terlalu hening akan menimbulkan gema suara ketika terjadi percakapan atau timbul suara lainnya. Perpustakaan perlu memperhatikan penyesuaian tata suara pada setiap ruangan, seperti ruangan yang dapat digunakan untuk berdiskusi, berbicara, ataupun pengguna yang menginginkan suasana yang lebih tenang (Rahman dan Jumino, 2020, p. 85). Berdasarkan hasil penelitian dan teori tersebut, Perpustakaan UI memiliki struktur tembok yang baik, sehingga pemustaka tidak terganggu dengan suara bising dari luar ruangan. Hal ini dapat disimpulkan bahwa tata suara Perpustakaan UI dapat memenuhi persepsi baik dari pemustaka. 7) Persepsi pada Suhu Udara Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan sebagian kecil (21,5%) responden menyatakan sangat setuju, hampir setengah (33,8%) responden menyatakan setuju bahwa pengaturan suhu dalam ruangan sangat tepat, sehingga tidak menyebabkan pemustaka merasakan kepanasan atau kedinginan. Namun demikian, hampir setengah (31,0%) responden menyatakan tidak setuju. TABEL 9. PERSEPSI PEMUSTAKA MENGENAI SUHU UDARA PERPUSTAKAAN Pernyataan Bobot F S P Sangat setuju 4 61 244 21,5% Setuju 3 96 288 33,8% Tidak setuju 2 88 176 31,0% Sangat tidak setuju 1 39 39 13,7% Jumlah 284 747 100% Skor rata-rata X = 747/284 = 2,63 Kontrol suhu udara dalam sebuah ruangan menjadi salah satu elemen pendukung dalam kenyamanan pemustaka dengan, dengan keadaan suhu normal bagi manusia yang berkisar 20°C. Kesesuaian temperatur ruangan dengan kebutuhan suhu tubuh manusia akan memberikan dampak positif bagi seseorang dalam melakukan kegiatannya pada saat berada dalam perpustakaan (Rahman dan Jumino, 2020, p. 86). Berdasarkan hasil penelitian dan teori tersebut, pada beberapa ruangan di Perpustakaan UI telah memenuhi pedoman Perpustakaan Nasional yaitu suhu berkisar 20°C. Hal ini dapat disimpulkan bahwa suhu udara ruangan di Perpustakaan UI dapat memenuhi persepsi baik dari pemustaka. Namun, hal ini tidak sesuai dengan yang ditemukan di lapangan, hasil menunjukkan bahwa pengaturan pendingin ruangan yang tidak merata, yang menjadikan beberapa ruangan terasa panas. 8) Persepsi pada Perawatan Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan sebagian kecil (19,7%) responden menyatakan sangat setuju dan hampir setengah (42,6%) responden menyatakan setuju bahwa ruangan serta furnitur di dalam Perpustakaan UI terlihat dalam kondisi yang baik dan sangat terawat. Namun demikian, hampir setengahnya (28,5%) responden menyatakan tidak setuju. TABEL 10. PERSEPSI PEMUSTAKA MENGENAI PERAWATAN PERPUSTAKAAN Pernyataan Bobot F S P Sangat setuju 4 56 224 19,7% Setuju 3 121 363 42,6% Tidak setuju 2 81 162 28,5% Sangat tidak setuju 1 26 26 9,2% Jumlah 284 775 100% Skor rata-rata X = 775/284 = 2,73 Pustakawan perlu mengetahui bagaimana cara yang tepat dalam mengatur keuangan, hal ini dikarenakan akan menciptakan prinsip ekonomi yaitu dengan biaya minimum dapat memberikan hasil yang maksimal. Hal yang dilakukan seperti mendistribusikan ulang furnitur yang ada seperti mengecat kembali lemari dan rak, jika anggaran masih memungkinkan dapat digunakan untuk membeli furnitur lainnya (Rahman dan Jumino, 2020, p. 86). Berdasarkan hasil penelitian dan teori tersebut, Perpustakaan UI telah mengatur perawatan pada beberapa interiornya dengan baik. Hal ini dapat disimpulkan bahwa perawatan Perpustakaan UI dapat memenuhi persepsi baik dari pemustaka. Namun, hal ini tidak sesuai dengan yang ditemukan di lapangan yang menunjukkan kurangnya perawatan Perpustakaan UI terutama pada bagian atap yang mengalami kebocoran, sehingga beberapa wadah besar yang digunakan sebagai alat tampung kebocoran itu menghalangi atau mengganggu jalan para pemustaka. 9) Persepsi pada Kualitas Udara Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan lebih dari setengah (57,4%) responden menyatakan sangat setuju dan hampir setengahnya (34,5%) menyatakan setuju bahwa udara dalam ruangan perpustakaan cukup bersih, tidak terkontaminasi oleh asap rokok atau aroma tidak sedap lainnya. TABEL 11. PERSEPSI PEMUSTAKA MENGENAI KUALITAS UDARA PERPUSTAKAAN Pernyataan Bobot F S P Sangat setuju 4 163 652 57,4% Setuju 3 98 294 34,5% Tidak setuju 2 21 42 7,4% Sangat tidak setuju 1 2 2 0,7% Jumlah 284 990 100% Skor rata-rata X = 990/284 = 3,49 Pentingnya menjaga kualitas udara yang baik untuk menjaga kestabilan ruangan, seperti dari alam ataupun sistem ventilasinya. Aroma dapat secara langsung menghubungkan kondisi ruangan dengan aspek psikis (emosi) pengguna perpustakaan (Rahman dan Jumino, 2020, p. 86). Berdasarkan hasil penelitian dan teori tersebut, kualitas udara di Perpustakaan UI tidak tercemar dengan asap rokok maupun bau yang tidak sedap lainnya. Hal ini dapat disimpulkan bahwa kualitas udara ruangan Perpustakaan UI dapat memenuhi persepsi baik dari pemustaka. 10) Persepsi pada Style dan Fashion Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan hampir setengah (49,3%) responden menyatakan sangat setuju dan hampir setengahnya (41,4%) responden menyatakan setuju bahwa desain interior Perpustakaan UI memiliki konsep yang modern serta mengikuti perkembangan zaman. TABEL 12. PERSEPSI PEMUSTAKA MENGENAI STYLE DAN FASHION DESAIN PERPUSTAKAAN Pernyataan Bobot F S P Sangat setuju 4 140 560 49,3% Setuju 3 117 351 41,2% Tidak setuju 2 24 48 8,5% Sangat tidak setuju 1 3 3 1,1% Jumlah 284 962 100% Skor rata-rata X = 962/284 = 3,38 Gaya dan fesyen menjadi bagian dari budaya populer masa kini. Saat ini pengguna banyak menginginkan perpustakaan tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan informasi akan bahan pustakanya, tetapi pengguna juga menginginkan sebuah ruangan yang memiliki visual menarik. Oleh sebab itu, perpustakaan perlu memperhatikan nilai estetika dalam perencanaan interior meskipun gaya dan fesyen tersebut bersifat dinamis (Rahman dan Jumino, 2020, p. 87). Berdasarkan hasil penelitian dan teori tersebut, Perpustakaan UI memiliki style dan fashion desain interior yang unik dan modern. Hal ini dapat disimpulkan bahwa style dan fashion Perpustakaan UI dapat memenuhi persepsi baik dari pemustaka. Hasil rekapitulasi persepsi pemustaka mengenai desain interior perpustakaan berdasarkan elemenelemen desain interior dapat dilihat pada tabel 13 berikut ini: TABEL 13. REKAPITULASI PERSEPSI PEMUSTAKA MENGENAI ELEMEN DESAIN INTERIOR PERPUSTAKAAN No Indikator Skor Rata-rata 1. Ruang (Tata Letak) 3,48 2. Variasi (Keberagaman Jenis Ruang) 3,17 3. Hierarki 3,49 4. Area Personal 3,70 5. Pencahayaan 3,20 6. Tata Suara 3,16 7. Suhu Udara 2,63 8. Perawatan 2,73 9. Kualitas Udara 3,49 10. Style and Fashion 3,39 Jumlah Skor Rata-Rata 32,44/10= 3,24 (baik) Tabel 13 tersebut menunjukkan bahwa skor ratarata tertinggi terdapat pada indikator area personal (3,70) dan skor rata-rata terendah terdapat pada indikator suhu udara (2,63). Adapun jumlah skor rata-rata secara keseluruhan diperoleh skor 3,24 yaitu berada pada skala interval 2,52-3,27 yang artinya secara keseluruhan persepsi pemustaka berdasarkan aspek elemen-elemen desain interior sudah berada pada rentang baik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Perpustakaan UI sudah memenuhi elemen-elemen yang membentuk desain interior, yakni ruang, variasi, hierarki, area personal, pencahayaan, tata surya, suhu udara, perawatan, kualitas udara, serta style dan fashion (Rahman dan Jumino, 2020, p. 84). C. Prinsip-Prinsip Desain Interior Ada beberapa prinsip dalam suatu desain interior yang harus dipertimbangkan dalam menyusun komposisi desain interior, yaitu keselarasan, keseimbangan, perlawanan (kontras), proporsi, fokus, dan irama (Ramadhani et al., 2023, p. 54). Adapun persepsi pemustaka pada prinsip-prinsip desain interior Perpustakaan UI, adalah: 1) Persepsi pada Keselarasan Keselarasan merupakan satu-kesatuan dan harmonisasi dari setiap unsur desain serta menciptakan konsep yang terancang tampak sempurna (Ramadhani et al., 2023, p. 54). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan hampir setengahnya (36,3%) responden menyatakan sangat setuju dan lebih dari setengah (52,5%) responden menyatakan setuju bahwa pemilihan warna ruangan serta furnitur (rak buku, meja, kursi, dll) selaras dan mendukung suasana di dalam perpustakaan. TABEL 14. PERSEPSI PEMUSTAKA MENGENAI KESELARASAN PADA RUANG PERPUSTAKAAN Pernyataan Bobot F S P Sangat setuju 4 103 412 36,3% Setuju 3 149 447 52,5% Tidak setuju 2 28 56 9,9% Sangat tidak setuju 1 4 4 1,4% Jumlah 284 919 100% Skor rata-rata X = 919/284 = 3,24 Perpustakaan UI telah memadukan warna antarinterior dan furnitur dengan baik. Hal ini dapat disimpulkan bahwa keselarasan ruangan Perpustakaan UI dapat memenuhi persepsi baik dari pemustaka. 2) Persepsi pada Keseimbangan Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan hampir setengahnya (41,5%) responden menyatakan sangat setuju dan hampir setengah (46,5%) responden menyatakan setuju bahwa bangunan Perpustakaan UI memiliki keserasian (warna, tekstur, pola) sehingga ruangan tidak terkesan monoton. TABEL 15. PERSEPSI PEMUSTAKA MENGENAI KESEIMBANGAN PADA RUANG PERPUSTAKAAN Pernyataan Bobot F S P Sangat setuju 4 118 472 41,5% Setuju 3 132 396 46,5% Tidak setuju 2 31 62 10,9% Sangat tidak setuju 1 3 3 1,1% Jumlah 284 933 100% Skor rata-rata X = 933/284 = 3,29 Prinsip kesimbangan desain interior meliputi simetris, asimetris, dan radial. Simetris merupakan keseimbangan yang berulang pada setiap sisinya, diperlukan menampilkan kesan yang tidak membosankan atau tidak monoton. Asimetris merupakan bentuk, warna dan tekstur yang memiliki keserasian yang sama tanpa adanya kesan monoton. Sedangkan radial merupakan letak keseimbangan berada di tengah unsur dan tampak memancar (Ramadhani et al., 2023, p. 54). Berdasarkan hasil penelitian dan teori tersebut, Perpustakaan UI memiliki kesan interior yang tidak membosankan atau tidak monoton. Hal ini dapat disimpulkan bahwa keseimbangan ruangan Perpustakaan UI dapat memenuhi persepsi baik dari pemustaka. 3) Persepsi pada Perlawanan (Kontras) Kontras merupakan cara untuk membuat tampilan ruangan tampak lebih hidup, estetika, dan berkarakter (Ramadhani et al., 2023, p. 54). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan lebih dari setengah (63,4%) responden menyatakan sangat setuju dan hampir setengahnya (29,6%) menyatakan setuju bahwa bangunan Perpustakaan UI tampak megah dari kejauhan, ditambah dengan hamparan bukit rumput hijau menyelimuti punggung bangunan yang menciptakan tampilan estetis serta dapat mengurangi suhu ruangan dalam perpustakaan. TABEL 16. PERSEPSI PEMUSTAKA MENGENAI PERLAWANAN (KONTRAS) PADA RUANG PERPUSTAKAAN Pernyataan Bobot F S P Sangat setuju 4 180 720 63,4% Setuju 3 84 252 29,6% Tidak setuju 2 18 36 6,3% Sangat tidak setuju 1 2 2 0,7% Jumlah 284 1.010 100% Skor rata-rata X = 1.010/284 = 3,55 Berdasarkan hasil penelitian dan teori tersebut, Perpustakaan UI menciptakan bangunan yang estetis dengan bangunan megahnya. Hal ini dapat disimpulkan bahwa perlawanan (kontras) ruangan Perpustakaan UI dapat memenuhi persepsi baik dari pemustaka. 4) Persepsi pada Proporsi Proporsi dalam prinsip desain akan berkaitan dengan skala serta komposisi yang melibatkan denah. Hal ini berfungsi agar ruangan tidak terkesan dan terasa sempit melainkan ruangan akan terasa luas (Ramadhani et al., 2023, p. 54). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan hampir setengahnya (37,3%) menyatakan sangat setuju dan hampir setengah (38,0%) responden menyatakan setuju bahwa dengan mengedepankan konsep interior yang terbuka menjadikan gedung Perpustakaan UI tampak lebih luas. TABEL 17. PERSEPSI PEMUSTAKA MENGENAI PROPORSI PADA RUANG PERPUSTAKAAN Pernyataan Bobot F S P Sangat setuju 4 106 424 37,3% Setuju 3 108 324 38,0% Tidak setuju 2 59 118 20,8% Sangat tidak setuju 1 11 11 3,9% Jumlah 284 877 100% Skor rata-rata X = 877/284 = 3,09 Berdasarkan hasil penelitian dan teori tersebut, Perpustakaan UI memiliki bangunan dengan Konsep terbukanya menjadikan bangunan tampak lebih luas. Hal ini dapat disimpulkan bahwa proporsi ruangan Perpustakaan UI dapat memenuhi persepsi baik dari pemustaka. 5) Persepsi pada Fokus Titik fokus merupakan tempat yang akan menjadi sorotan dalam sebuah ruangan dan bertujuan untuk memberikan kesan pandangan pertama ketika memasuki ruangan. Ruangan yang memiliki titik fokus akan tampak lebih berkesan (Ramadhani et al., 2023, p. 54). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan lebih dari setengah (53,9%) responden menyatakan sangat setuju dan hampir setengahnya (40,8%) responden menyatakan setuju bahwa dengan memiliki bangunan yang terbuat dari batu alam andesit berwarna hitam dapat menambahkan kesan nuansa natural pada Perpustakaan UI. TABEL 18. PERSEPSI PEMUSTAKA MENGENAI FOKUS PADA RUANG PERPUSTAKAAN Pernyataan Bobot F S P Sangat setuju 4 153 612 53,9% Setuju 3 116 348 40,8% Tidak setuju 2 12 24 4,2% Sangat tidak setuju 1 3 3 1,1% Jumlah 284 987 100% Skor rata-rata X = 987/284 = 3,48 Berdasarkan hasil penelitian dan teori tersebut, Perpustakaan UI memiliki desain pada bangunan gedungnya dengan batu alam andesit berwarna hitam yang menjadikan bangunan tersebut tampak ikonis. Hal ini dapat disimpulkan bahwa fokus ruangan Perpustakaan UI dapat memenuhi persepsi baik dari pemustaka. 6) Persepsi pada Irama Irama pada desain merupakan urutan penataan yang terlihat harmonis. Prinsip irama sangatlah berperan penting, karena berfungsi untuk meningkatkan kenyamanan dan keindahan sebuah ruangan (Ramadhani et al., 2023, p. 54). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan hampir setengahnya (44,0%) responden menyatakan sangat setuju dan hampir setengahnya (45,8%) responden menyatakan setuju bahwa Perpustakaan UI tampak harmonis dengan memadukan nilai estetika, nilai fungsional serta kenyamanan dari pengguna. TABEL 19. PERSEPSI PEMUSTAKA MENGENAI IRAMA PADA RUANG PERPUSTAKAAN Pernyataan Bobot F S P Sangat setuju 4 125 500 44,0% Setuju 3 130 390 45,8% Tidak setuju 2 27 54 9,5% Sangat tidak setuju 1 2 2 0,7% Jumlah 284 946 100% Skor rata-rata X = 946/284 = 3,33 Berdasarkan hasil penelitian dan teori tersebut, Perpustakaan UI tidak hanya mementingkan nilai estetika, akan tetapi juga memenuhi nilai fungsional serta kenyamanan pemustaka. Hal ini dapat disimpulkan bahwa irama ruangan Perpustakaan UI dapat memenuhi persepsi baik dari pemustaka. Hasil rekapitulasi persepsi pemustaka mengenai desain interior perpustakaan berdasarkan prinsip desain interior dapat dilihat pada tabel berikut ini: TABEL 20. REKAPITULASI PERSEPSI PEMUSTAKA MENGENAI PRINSIP DESAIN INTERIOR PERPUSTAKAAN No Indikator Skor 1. Keselarasan 3,24 2. Keseimbangan 3,29 3. Perlawanan (Kontras) 3,56 4. Proporsi 3,09 5. Fokus 3,48 6. Irama 3,33 Jumlah Skor Rata-Rata 19,99/6= 3,33 (sangat baik) Jumlah skor rata-rata secara keseluruhan diperoleh dengan skor 3,33 yaitu berada pada skala interval 3,28-4,03 yang artinya secara keseluruhan persepsi pemustaka berdasarkan aspek prinsipprinsip desain interior sudah berada pada rentang sangat baik. Secara keseluruhan, persepsi pemustaka mengenai desain interior perpustakaan berdasarkan elemen dan prinsip desain interior dapat dilihat pada tabel berikut ini: TABEL 21. HASIL REKAPITULASI INDIKATOR PENELITIAN No Indikator Penelitian Skor 1. Persepsi pemustaka berdasarkan elemen desain interior 3,24 2. Persepsi pemustaka berdasarkan prinsip desain interior 3,33 Jumlah Skor Rata-Rata 6,57/2= 3,29 (sangat baik) Tabel 21 menunjukkan skor tertinggi terdapat pada indikator persepsi pemustaka berdasarkan prinsip desain interior (3,33), dan skor terendah terdapat pada indikator persepsi pemustaka berdasarkan elemen desain interior (3,24). Adapun jumlah skor rata-rata secara keseluruhan indikator penelitian ini adalah 3,29 yaitu berada pada skala interval 3,28-4,03 yang artinya secara keseluruhan persepsi pemustaka mengenai desain interior Perpustakaan Universitas Indonesia sudah berada pada rentang sangat baik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Perpustakaan UI telah mempertimbangkan prinsip-prinsip desain interior dalam menyusun komposisi desainnya, yakni prinsip keselarasan, keseimbangan, perlawanan (kontras), proporsi, fokus, dan irama (Ramadhani et al., 2023, p. 54).
Conclusion
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai desain interior Perpustakaan UI ini dapat disimpulkan bahwa pemustaka dari kalangan mahasiswa UI memiliki persepsi yang baik mengenai desain interior Perpustakaan UI, baik berdasarkan elemen maupun prinsip desain interior. Persepsi pemustaka berdasarkan elemen desain interior memperoleh nilai rata-rata 3,24 sedangkan persepsi pemustaka berdasarkan prinsip desain interior memperoleh nilai rata-rata 3,33. Dengan demikian, secara keseluruhan persepsi pemustaka mengenai desain interior memperoleh nilai rata-rata 3,29 atau berada pada skala interval 3,28-4,03 yang berarti bahwa rata-rata persepsi berada pada rentang sangat baik. Akan tetapi, masih terdapat nilai skor terendah pada indikator elemen desain interior khususnya mengenai suhu udara dengan skor 2,63. Pustakawan sebaiknya lebih memperhatikan mengenai suhu udara pada setiap ruangan yang ada, suhu udara sebaiknya berada pada rentang 20-24°C. Pada beberapa ruangan masih ada yang terasa cukup panas, hal ini dikhawatirkan dapat mengganggu kenyamanan pemustaka. Pada prinsip desain interior, terdapat elemen dengan skor terendah, yaitu elemen proporsi dengan skor 3,09. Oleh sebab itu, pustakawan sebaiknya perlu memaksimalkan proporsi pada ruang perpustakaan. Dalam hal ini pustakawan dapat membuat denah ruang yang membuat ruangan tersebut tidak terkesan sempit.