Kembali
16
1
2024 Librarianship in Muslim Societies Vol 3 · 1 ISSN 2961-8339

Pengaruh Kebiasaan Membaca Komik Digital di Platform Line Webtoon terhadap Kemampuan Critical Reading Pada Generasi Z

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta; Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Abstrak

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kebiasaan membaca komik digital di platform Line Webtoon terhadap kemampuan critical reading pada generasi Z. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif asosiatif. Analisis data menggunakan uji analisis regresi linear sederhana, koefisien determinasi, dan analisis korelasi dengan bantuan software SPSS V21. Teknik pengumpulan data yang menggunakan kuesioner dan studi kepustakaan. Sampel yang digunakan sebanyak 100 responden pembaca komik digital di Line Webtoon berusia 18-24 tahun dengan teknik pengambilan sampel accidental. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif antara kebiasaan membaca komik digital di Line Webtoon dengan kemampuan critical reading pada generasi Z dengan nilai korelasi sebesar 0,697 beserta nilai signifikansi 0,000. Hasil R Square menunjukkan bahwa kebiasaan membaca komik digital di Line Webtoon memberikan pengaruh terhadap kemampuan critical reading pada generasi Z sebesar 0,486 atau 48,6%. Besaran pengaruh tersebut termasuk rentang interval koefisien 0,40 – 0,599 (sedang). Kesimpulannya, kebiasaan membaca komik digital di platform Line Webtoon memiliki pengaruh yang sedang dan signifikan terhadap kemampuan critical reading pada generasi Z.

Abstract

The purpose of this study was to determine how much the influence of reading habits of digital comics on the Line Webtoon platform on critical reading skills in generation Z. The research method used is associative quantitative. Data analysis uses simple linear regression analysis test, coefficient of determination, and correlation analysis with the help of SPSS V21 software. The data collection techniques used were questionnaires and literature studies. The sample used was 100 respondents of digital comic readers on Line Webtoon aged 18-24 years with accidental sampling technique. The results showed a positive relationship between reading habits of digital comics on Line Webtoon with critical reading skills in generation Z with a correlation value of 0.697 along with a significance value of 0.000. The results of R Square show that the habit of reading digital comics on Line Webtoon has an influence on critical reading skills in generation Z with a value of 0.486 or 48.6%. The amount of influence includes the coefficient interval range of 0.40 - 0.599 (moderate). It is concluded that reading habits of digital comics on the Line Webtoon platform have a moderate and significant influence on critical reading skills in generation Z.
Keywords: Reading Habits · Critical Reading Skills · Digital Comics · Line Webtoon · Generation Z

Introduction

Dalam era globalisasi saat ini, akses dan penyebaran informasi melalui internet menjadi lebih mudah. Masyarakat modern terintegrasi secara menyeluruh dengan keberadaan internet. Dilansir dari hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) (2022, hlm. 11) menunjukkan adanya peningkatan pengguna internet pada masyarakat Indonesia, terutama pada usia 18-34 tahun, dengan tingkat penetrasi 98,64% dan kontribusi 25,68%. Hal ini membuat terjadinya perubahan paradigma dalam kebiasaan membaca, dari media cetak menjadi terbiasa membaca dalam format digital internet. Kebiasaan membaca sendiri merupakan sebuah perilaku yang mencerminkan minat individu terhadap jenisjenis bacaan dan preferensi membaca (Chettri, 2013, hlm. 13). Menurut teori kebiasaan membaca Gaona dan Gonzalez (2011, hlm. 59), suatu kebiasaan membaca dapat terbentuk karena adanya beberapa indikator, seperti attitude toward reading (sikap dalam membaca), reading frequency (frekuensi membaca), books read (jumlah buku yang telah dibaca), time spent on reading (waktu yang dihabiskan dalam membaca), dan motivation in reading (motivasi dalam membaca). Kebiasaan membaca secara digital seringkali melibatkan interaksi dengan teks yang lebih dinamis, seperti animasi, gambar, dan hyperlink yang mengarahkan ke sumber tambahin (Salmerón et al., 2018, hlm. 2). Selain itu, pembaca digital seringkali memiliki akses ke berbagai fitur tambahan, seperti berbagi konten, memberikan komentar, atau berinteraksi dengan sesama pembaca. Masyarakat saat ini cenderung terbiasa mengonsumsi bacaan dan konten digital dengan menjadi e-readers yang mudah diakses melalui perangkat elektronik, seperti ponsel, komputer, atau tablet (Packialakshmi et al., 2021, hlm. 2421), khususnya pada Generasi Z. Generasi Z sendiri merupakan generasi yang terlahir di akhir tahun 1995 hingga awal tahun 2010, yang mengintegrasikan ponsel mereka ke dalam kehidupan sehari-hari, sehingga sering dianggap sebagai generasi ‘digital native’ yang tumbuh dengan teknologi sejak kecil (Alfaruqy, 2022, hlm. 85). Generasi Z juga memiliki preferensi membaca yang lebih beragam dibanding dengan generasi lainnya. Dalam mengeksplorasi jenis bacaan yang lebih beragam, berdasarkan hasil survey Wattpad (2022), sebanyak 83% pembaca Generasi Z memilih jenis bacaan yang bisa diakses secara online seperti komik digital, e-books, webnovel dengan bermacam-macam genre untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih beragam. Salah satu jenis bacaan yang populer pada generasi Z adalah komik digital, yaitu serangkaian gambar yang disusun secara berurutan untuk mengkomunikasikan informasi dan menciptakan respons estetika dari para pembaca (Cohn, 2005, hlm. 9). Platfrom Line Webtoon menjadi platform penyedia komik digital yang sangat diminati di Indonesia, ditunjukkan dari data Google Play Store per bulan Agustus 2023 yang berada di posisi 1 kategori Komik dengan rating 4.7 bintang dari 3,224,567 ulasan. Kemudian dari hasil traffic website SEO SimiliarWeb (2023), Indonesia menjadi pengguna terbesar ke-3 pada platform Line Webtoon, dengan mayoritas pengguna usia 18-24 tahun (generasi Z). Berdasarkan data tersebut, dapat diketahui bahwa komik digital di platform Line Webtoon sangat diminati dan digemari oleh masyarakat Indonesia, terutama kalangan generasi Z, sebagai salah satu bentuk bacaan yang menggabungkan visual dan teks untuk memberikan hiburan dan wawasan informasi. Dalam membaca, pilihan bacaan seseorang dan cara mereka mengkonsumsi informasi dapat berdampak pada cara berpikir, bersikap, dan bertindak, sesuai dengan kutipan ‘you are what you read’ yang dikemukakan oleh Kenneth E. Hagin (Hagin, 1982, hlm. 23). Karena alasan ini, sangat penting bagi seorang pembaca untuk memilih bacaan yang sesuai dengan tujuan, kebutuhan, dan preferensi pribadi untuk menghindari bacaan yang berpotensi memberikan dampak negatif pada diri mereka sendiri seperti stereotip, tindakan agresif, bahkan kekerasan yang berpotensi memengaruhi pandangan pembacanya (Kirsh & Olczak, 2002, hlm. 1161), khususnya dalam membaca komik digital. Komik dapat mengandung unsur negatif jika tidak dibarengi dengan kemampuan critical reading. Kemampuan ini penting agar pembaca dapat terbiasa memahami pesan yang disampaikan komik, termasuk pesan negatif. Dengan kemampuan critical reading, pembaca dapat menganalisis dan mengevaluasi informasi di balik visual dan teks. Critical reading atau membaca kritis adalah jenis membaca yang melibatkan kemampuan berpikir kritis terhadap isi bacaan bacaan (Yono et al., 2017, hlm. 61). Kemampuan berpikir kritis menjadi pondasi penting dalam mengembangkan keterampilan membaca kritis. Berkaitan dengan proses kognitif yang dilibatkan tersebut, kemampuan membaca kritis dapat dibagi menjadi enam tingkatan berdasarkan taksonomi critical thinking Facione (2013, hlm. 9), yaitu kemampuan menginterpretasi, kemampuan menganalisis, kemampuan menginferensi, kemampuan mengevaluasi, kemampuan mnengeksplanasi, dan kemampuan meregulasi diri. Menurut Kurland dalam Priyatni dan Nurhadi (2017, hlm. 32), proses membaca kritis dimulai dari membaca secara teliti, memperhatikan dengan cermat dan tepat tiap isi bacaan dan gagasan. Membaca kritis membutuhkan pelaksanaan tindakan membaca dengan antusiasme dan minat yang besar untuk dapat memahami dan mempelajari gagasan yang disampaikan. Oleh karena itu, membaca harus dilakukan secara berkelanjutan. Dengan demikian, individu yang telah terbiasa membaca dapat menilai bacaan dengan efektif dan kritis, serta mempertahankan kecerdasan pikirannya (Odabaş et al., 2008, hlm. 434-435). Dikemukakan dalam konsep teori sosial kognitif Bandura, proses pembelajaran dapat terjadi menggunakan kemampuan kognitif individu, melalui pengamatan dan interaksi dengan lingkungan, sehingga dapat merubah dan mempengaruhi perilaku individu. Faktor-faktor yang saling berinteraksi dalam proses pembelajaran adalah karakteristik personal, lingkungan (environment), dan perilaku (behaviour) (Bandura, 1991, hlm. 267). Dalam konteks kebiasaan membaca dan kemampuan critical reading, ketika seseorang memutuskan untuk membaca, kemudian menjadi terbiasa mengonsumsi suatu konten/bacaan, maka terjadi proses belajar dan penyesuaian diri, sehingga terbentuklah perilaku dalam menginternalisasi pola membaca yang lebih efektif dan kritis. Melalui paparan terus-menerus terhadap lingkungan membaca yang positif, individu dapat mengembangkan kebiasaan membaca yang kuat dan turut mampu meningkatkan kemampuan membaca kritisnya. Pembelajaran melalui pengamatan dengan konsep observational learning dalam teori sosial kognitif bermakna bahwa manusia dapat berpikir, mempelajari, dan mempengaruhi tingkah lakunya sendiri melalui pengamatan (Suwartini, 2016, hlm. 39). Proses pembelajaran ini menciptakan keterampilan membaca yang lebih mendalam dan memungkinkan individu untuk membaca tidak hanya secara harfiah, tetapi juga secara kritis. Keyakinan bahwa kemampuan membaca kritis seseorang dapat terbentuk dari adanya kebiasaan membaca yang dilakukan secara rutin. Interaksi dengan berbagai jenis bacaan juga membantu pembentukan kebiasaan membaca dan berpengaruh terhadap kemampuan membaca kritis, salah satunya dalam membaca komik digital. Komik digital memberikan dimensi tambahan dalam memahami teks, karena tidak hanya melibatkan unsur kata-kata, tetapi juga gambar visual yang mendukung narasi. Dalam hal ini, peran lingkungan seperti keluarga juga tetap menjadi faktor krusial untuk dapat mengembangkan kecintaan terhadap berbagai jenis bacaan, memberikan contoh positif (Rolina, 2006, hlm. 214) dan memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan kebiasaan membaca dan kemampuan membaca kritis sejak dini. Kemampuan membaca kritis perlu untuk dimiliki setiap orang di era digital saat ini untuk dapat merespon secara kritis dalam menyaring sekaligus memanfaatkan informasi dari berbagai sumber, dimana individu perlu menganalisis dan mengevaluasi informasi dalam bentuk yang lebih dinamis dan interaktif. Memiliki kemampuan critical reading sangat penting bagi pembaca komik digital, khususnya bagi generasi Z yang hidup di era informasi. Dengan kemampuan critical reading, pembaca komik digital dapat lebih memahami pesan dan makna yang disampaikan oleh pembuat komik, mampu membedakan fakta dan opini, lebih kritis terhadap isu-isu sosial dan budaya yang ditampilkan dalam komik, serta lebih kreatif dalam mengembangkan ide dan imajinasi mereka. Terdapat beberapa penelitian terdahulu terkait topik penelitian kebiasaan membaca dan kemampuan critical reading. Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Fatih Can dan Nurşat Biçer pada tahun 2021 dalam Journal of Language and Linguistic Studies (JLLS) dengan judul "An Examination of Relationship between Preservice Teachers’ Reading Habits and Critical Reading Skills" bertujuan untuk mengukur hubungan kebiasaan membaca dan keterampilan membaca kritis pada mahasiswa calon guru serta menilai faktor pendukung seperti umur, jenis kelamin, jurusan, dan jumlah buku yang dibaca per tahun. Dengan metode korelasi dan survei pada 255 mahasiswa di Amasya University, Turki, serta analisis menggunakan Mann-Whitney U dan Kruskall Wallis H, menghasilkan adanya korelasi positif antara kebiasaan membaca dan keterampilan membaca kritis, dimana kebiasaan membaca merupakan prediktor signifikan dari keterampilan critical reading (Can & Biçer, 2021). Kemudian penelitian terdahulu terkait topik ini yang kedua dilakukan Fadilah Desy Anggraini, Hery Sawiji, dan Susantiningrum pada tahun 2020, yang dipublikasikan di Jurnal Informasi dan Komunikasi Administrasi Perkantoran (JIKAP), berjudul "Pengaruh Kebiasaan Membaca dan Konsep Diri Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa PAP Pada Mata Kuliah SIM". Penelitian ini menyelidiki pengaruh kebiasaan membaca dan konsep diri terhadap kemampuan berpikir kritis mahasiswa Pendidikan Administrasi Perkantoran di Universitas Sebelas Maret pada mata kuliah Sistem Informasi Manajemen (SIM) tahun 2017. Metode yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan kuesioner kepada 65 mahasiswa. Hasilnya menunjukkan pengaruh positif kebiasaan membaca dan konsep diri terhadap kemampuan berpikir kritis mahasiswa (Anggraini et al., 2020). Adanya kesamaan tujuan antara penelitian ini dan penelitian sebelumnya, yakni untuk mengkaji hubungan dan pengaruh kebiasaan membaca terhadap kemampuan critical reading, dimana menghasilkan korelasi dan pengaruh positif antara kedua variabel tersebut. Kebiasaan membaca dapat membangun inspirasi, mendorong analisis kritis dalam membaca secara kritis, dan mengembangkan informasi secara detail. Perbedaannya terletak pada lokasi dan subjek dimana penelitian sebelumnya berfokus pada kebiasaan membaca informasi dan relevansinya dengan kemampuan critical reading terhadap mahasiswa pra guru di Amasya University, Turki dan mahasiswa mahasiswa Pendidikan Administrasi Perkantoran di Universitas Sebelas Maret. Berdasarkan penjelasan sebelumnya, peneliti akan melakukan penelitian untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kebiasaan membaca komik digital di platform Line Webtoon terhadap kemampuan critical reading pada generasi Z.

Method

Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian kuantitatif asosiatif. Penelitian kuantitatif melibatkan penggunaan populasi atau sampel sebagai subjek penelitian, pengumpulan data memanfaatkan instrumen penelitian yang telah dirancang, lalu analisis data dilakukan secara kuantitatif dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan sebelumnya (Sugiyono, 2022, hlm. 15). Penelitian asosiatif ialah penelitian yang bertujuan untuk memberikan penjelasan bagaimana kedudukan variabel-variabel penelitian dan bagaimana pengaruh atau hubungan terjadi antara variabel dependen dan independent melalui pengujian hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2013, hlm. 37). Adapun variabel-variabel pada penelitian ini adalah variabel independent yaitu kebiasaan membaca dan variabel dependen yaitu kemampuan critical reading. Peneliti mengadopsi teori kebiasaan membaca Gaona dan Gonzales (2011, hlm. 59) untuk meneliti variabel kebiasaan membaca dengan indikator attitude toward reading, reading frequency, books read, time spent on reading, dan motivation in reading. Untuk variabel kemampuan critical reading, peneliti mengadopsi teori critical thinking milik Facione (2013, hlm. 9) dengan indikator kemampuan interpretasi, kemampuan menganalisis, kemampuan menginferensi, kemampuan mengevaluasi, kemampuan mengeksplanasi, dan kemampuan meregulasi diri. Populasi merupakan keseluruhan elemen yang akan menjadi landasan generalisasi (Sugiyono, 2022, hlm. 130). Adapun populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengguna Line Webtoon dari wilayah Indonesia dengan data Google Play Store per bulan Agustus 2023, yaitu sebanyak 3,224,567 orang. Dari populasi tersebut, dilakukan penarikan ukuran sampel menggunakan rumus slovin, yang menghasilkan sampel sebanyak 100 responden. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Accidental Sampling yang diambil secara kebetulan dari individu yang peneliti temui (Sugiyono, 2013, hlm. 85), yaitu pembaca komik digital di platform Line Webtoon dan berusia 18-24 tahun. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dengan skala likert dan studi kepustakaan. Dalam situasi dimana jumlah responden banyak dan tersebar di wilayah luas, maka teknik pengumpulan data yang cocok adalah kuesioner (Sugiyono, 2022, hlm. 219). Skala likert digunakan sebagai alat pengukuran dalam kuesioner untuk menilai pandangan, persepsi, sikap seseorang, atau kelompok terhadap fenomena yang ditetapkan peneliti (Sugiyono, 2013, hlm. 93). Skala penilaian yang digunakan dimulai dari angka 1 sebagai angka terendah hingga 4 sebagai angka tertinggi untuk setiap pertanyaan. Dalam pengukuran data menggunakan skala likert sebagai instrumen penelitian, nilai ratarata atau mean dari setiap jawaban responden akan dikategorikan ke dalam kelas interval (Wijaya, 2016, hlm. 229) yang diperoleh dengan cara sebagai berikut. Dengan demikian, skala distribusi dari jawaban responden dapat diklasifikasikan sebagai berikut. 1. Nilai 1,00 – 1,74 = sangat rendah 2. Nilai 1,75 – 2,49 = rendah 3. Nilai 2,50 – 3,24 = tinggi 4. Nilai 3,25 – 4.00 = sangat tinggi Untuk menganalisis data pada penelitian ini dilakukan serangkaian uji. Uji kualitas data seperti uji validitas product moments pearson dan reliabilitas Cronbach’s alpha dilakukan untuk menilai seberapa akurat dan reliabel suatu instrumen dalam melakukan fungsi pengukurannya pada variabel independent dan variabel dependen. Selain itu dilakukan uji asumsi klasik seperti uji normalitas, uji linearitas, dan uji heteroskedastisitas untuk menganalisis lebih dalam apakah distribusi data berbentuk normal, linear, dan signifikan. Untuk membuktikan hipotesis alternatif (Ha) pada penelitian ini, yaitu ‘terdapat pengaruh kebiasaan membaca komik digital di platform Line Webtoon terhadap kemampuan critical reading pada generasi Z’, peneliti melakukan analisis data menggunakan analisis regresi linear sederhana. Regresi linear sederhana merupakan teknik yang digunakan untuk menetapkan hubungan atau pengaruh yang positif antara satu variabel X dan satu variabel Y yang matematis (Sugiyono, 2017, hlm. 261). Kemudian dilakukan analisis korelasi untuk melihat apakah terdapat hubungan antara variabel yang telah ditentukan dalam penelitian dan apakah bersifat positif atau negatif. Terdapat kriteria hubungan antar dua variabel untuk memastikan seberapa kuat atau lemah korelasi antara kedua variabel tersebut, yaitu sebagai berikut. 1. 0 – 0,24 = korelasi sangat lemah 2. > 0,25 – 0,5 = korelasi cukup kuat 3. > 0,5 – 0,75 = korelasi kuat 4. > 0,75 – 1 = korelasi sangat kuat Selanjutnya, dilakukan uji koefisien determinasi (R2 ) untuk menilai sejauh mana variabel independen memberikan kontribusi terhadap variasi variabel dependen. Berikut adalah parameter yang dapat digunakan sebagai pedoman untuk menafsirkan hasil koefisien korelasi (Sugiyono, 2018, hlm. 274). 1. 0,00 – 0,199 = sangat rendah 2. 0,20 – 0,399 = rendah 3. 0,40 – 0,599 = sedang 4. 0,60 – 0,799 = kuat 5. 0,80 – 1,000 = sangat kuat Dan yang terakhir, dilakukan uji signifikansi parsial (uji T) untuk menentukan signifikansi besaran pengaruh secara individual suatu variabel independen terhadap variabel dependen, dimana jika nilai kurang dari 0,05 maka hipotesis diterima (Priyanto, 2010, hlm. 86).

Result & Discussion

Karakteristik Profil Responden Untuk mengetahui karakteristik dari tiap-tiap responden, pada penelitian ini dibagi menjadi kategori berdasarkan jenis kelamin, usia, status, lama waktu sebagai berikut. Tabel 1. Jenis Kelamin Responden Tabel 1 menjelaskan karakteristik responden yang dikategorikan berdasarkan jenis kelamin. Diketahui bahwa dari 100 orang responden, diketahui bahwa sebagian besar responden adalah perempuan, yaitu sebanyak 95 orang, dan 5 orang merupakan laki-laki. Tabel 2. Usia Responden Tabel 2 di atas menjelaskan karakteristik profil responden berdasarkan usia. Rentang usia responden dimulai dari 18 hingga 24 tahun karena termasuk ke dalam generasi Z. Hasilnya, diketahui bahwa reponden terbanyak berada pada usia 21 dan 22 tahun yang masing-masing berjumlah 24 responden, diikuti usia 20 tahun berjumlah 16 responden, usia 18 tahun berjumlah 13 responden, usia 23 dan 19 tahun berjumlah 9 responden, dan usia 24 tahun berjumlah 5 responden. Tabel 3. Status Responden Tabel 3 di atas menjelaskan karakteristik responden berdasarkan status pekerjaan yang tengah dijalankan saat ini. Berdasarkan status saat ini, sebagian besar responden berstatus sebagai mahasiswa dengan jumlah 90 responden dan paling sedikit yaitu lainnya (fresh graduate) sebanyak 1 responden. Tabel 4. Lama Waktu sebagai Pembaca di Line Webtoon Status Frekuensi Persentase Pelajar 2 2% Mahasiswa 90 90% Bekerja 7 7% Lainnya 1 1% Jumlah 100 100 % Usia Frekuensi Persentase 18 13 13% 19 9 9% 20 16 16% 21 24 24% 22 24 24% 23 9 9% 24 5 5% Jumlah 100 100% Lama waktu sebagai pembaca Line Webtoon Frekuensi Persentase 1-6 bulan 5 5% 7-12 bulan 10 10% 1-2 tahun 6 6% >2 tahun 79 79% Jumlah 100 100% Tabel 4 menjelaskan karakteristik responden berdasarkan seberapa lama responden telah menjadi pembaca aktif komik digital di Line Webtoon. Berdasarkan hasil tersebut, diketahui sebagian besar menjadi pembaca di Line Webtoon lebih dari 2 tahun dengan jumlah 79 responden, dan paling sedikit sebanyak 5 responden menyatakan telah aktif sebagai pembaca selama 1-6 bulan. Tabel 5. Genre Yang Diminati Tabel 5 di atas merupakan karakteristik responden berdasarkan genre komik digital di Line Webtoon yang paling diminati. Berdasarkan hasil survei, diketahui bahwa genre Romantis menjadi yang paling banyak dipilih oleh 20 responden, dan yang paling sedikit dipilih oleh 1 responden adalah genre Webnovel. Secara keseluruhan, preferensi genre pilihan pembaca cukup merata. Hasil Uji Analisis Regresi Linear Sederhana Analisis regresi linear sederhana merupakan teknik untuk menentukan kebenaran hipotesis yang sudah ditentukan sebelumnya dan melihat seberapa besar tingkat pengaruh antar kedua variabel, yaitu kebiasaan membaca dan kemampuan critical reading. Selain itu juga dimaksudkan untuk mengetahui apakah hubungan tersebut bersifat positif atau negatif. Dalam langkah pengujian regresi, terdapat beberapa pengujian selanjutnya untuk menganalisis lebih dalam. Berikut adalah hasil uji analisis regresi linear sederhana. Tabel 6. Hasil Uji Analisis Regresi Sederhana Tabel 6 di atas merupakan hasil pengujian analisis regresi linear sederhana menggunakan SPSS versi 21. Dalam isi tabel pengujian regresi linear sederhana di atas, terlihat bahwa nilai koefisien konstanta senilai 12,876 dengan nilai koefisien variabel kebiasaan membaca yaitu 0,746. Dari hasil tersebut, maka persamaan regresi linear sederhana menjadi: Dengan keterangan: Y = Kemampuan Critical Reading X = Kebiasaan Membaca, maka model persamaan regresi menjadi: Y = 12,876 + 0,746X Yang dapat diterjemahkan bahwa konstanta sebesar 12,876 merupakan nilai a dimana variabel kemampuan critical reading belum dipengaruhi oleh variabel kebiasaan membaca. Lalu, nilai-nilai tersebut memiliki skenario, dimana jika terdapat kenaikan satuan pada variabel kebiaaan membaca, maka akan berpengaruh pada kemampuan critical reading dengan nilai sebanyak 0,746. Selain itu, nilai b yaitu 0,746 bernilai positif sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel kebiasaan membaca berkontribusi dalam memberikan pengaruh positif terhadap kemampuan critical reading. Selanjutnya dilakukan analisis korelasi untuk menemukan ada atau tidaknya hubungan atau korelasi antara dua variabel, yaitu variabel independen (kebiasaan membaca) dan variabel dependen (kemampuan critical reading), serta menganalisis seberapa kuat korelasi antar variabel, apakah bersifat positif atau negatif. Tabel 7. Hasil Uji Analisis Korelasi Tabel 7 menjelaskan hasil uji analisis korelasi dengan menggunakan metode Pearson Correlation menggunakan SPSS versi 21. Hasil analisis korelasi di atas memperlihatkan nilai korelasi atau hubungan sebesar 0,697, yang diartikan bahwa variabel kebiasaan membaca memiliki hubungan dengan variabel kemampuan critical reading, dan termasuk berada di rentang > 0,5 – 0,75 (korelasi kuat). Kemudian hasil signifikansi sebesar 0,000 yang berada di bawah 0,05 menunjukkan adanya hubungan signifikan antara variabel. Selain itu nilai korelasi tersebut positif, sehingga dapat diartikan bahwa hubungan yang terjadi searah dan mengikuti, dimana jika nilai variabel kebiasaan membaca tinggi maka nilai variabel kebiasaan critical reading pun tinggi. Setelah dilakukan uji analisis korelasi, dilakukan uji koefisien determinasi (R2 ) untuk melihat besaran pengaruh variable kebiasaan membaca terhadap variabel kemampuan critical reading. Tabel 8. Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2 ) Tabel 8 di atas menjelaskan hasil uji koefisien determinasi yang diolah menggunakan SPSS versi 21. Terlihat bahwa hasil dari R2 (R Square) bernilai 0,486, dimana nilai ini merupakan hasil kuadrat dari koefisien korelasi R, yaitu 0,697 x 0,697 = 0,486 (48,6%.) Hal ini dapat diartikan bahwa variabel kebiasaan membaca sebagai variabel independent memberikan sumbangan sebesar 48,6%. Adapun sisa sebesar 51,4% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diselidiki dalam penelitian ini. Dengan demikian, pengaruh kebiasaan membaca komik digital terhadap kemampuan critical reading termasuk ke dalam interval koefisien 0,40 – 0,599 (kategori sedang). Selanjutnya dilakukan uji signifikansi parsial (uji T) untuk mengevaluasi pengaruh dari variabel kebiasaan membaca terhadap variabel kemampuan critical reading secara parsial. Keputusan diambil dengan memperhatikan nilai signifikansi T yang kurang dari 0,05, yang mengindikasikan terdapat pengaruh secara individual dari variabel independent terhadap variabel dependent, sehingga Ha diterima dan Ho ditolak. Tabel 9. Hasil Uji Signifikan Parsial T Tabel 9 di atas menjelaskan hasil pengujian signifikansi parsial T yang diolah menggunakan SPSS 21. Hasilnya, terlihat bahwa nilai signifikansi pada variabel kebiasaan membaca pada uji T sebesar 0,000 yang mana berada di bawah batas 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa variabel independen (kebiasaan membaca) berpengaruh terhadap variabel dependen (kemampuan critical reading). Kebiasaan Membaca Komik Digital di Platform Line Webtoon pada Generasi Z Berdasarkan pengambilan data dari 100 orang responden, jawaban dari variabel independent yaitu kebiasaan membaca mendapatkan hasil sebagai berikut. Tabel 10. Indikator Variabel Kebiasaan Membaca Tabel 10 di atas menjelaskan hasil analisis data dari lima indikator variabel independent (kebiasaan membaca) yang diadopsi dari teori reading habits Gaona dan Gonzalez (2011), dimana hasilnya masing-masing indikator memiliki skor berbeda. Berdasarkan hasil analisis data di atas, total skor rata-rata yang didapatkan adalah sebesar 3,46, (sangat tinggi). Pada indikator pertama yaitu attitude toward reading (sikap dalam membaca), skor rata-rata yang didapatkan adalah sebesar 3,58 (sangat tinggi). Temuan ini menggambarkan bahwa pembaca merasakan pengalaman membaca komik digital di platform Line Webtoon yang menyenangkan, yakin terhadap informasi yang disajikan, dan menikmatinya sebagai rutinitas sehari-hari. Hal ini relevan dengan teori yang mengemukakan bahwa sikap positif berkontribusi pada keberhasilan pemahaman dalam membaca (Alsaeedi et al., 2021). Kemudian pada indikator kedua yaitu reading frequency (frekuensi membaca), skor rata-rata yang didapatkan adalah sebesar 3,27 (sangat tinggi). Temuan ini menggambarkan bahwa frekuensi membaca yang tinggi mencerminkan tingkat keterlibatan kuat oleh pembaca, yang menjadi faktor penting dalam meningkatkan kebiasaan membaca (Vermont, 2022). Lalu pada indikator ketiga yaitu books read (bacaan yang telah dibaca), skor rata-rata yang didapatkan adalah sebesar 3,60 (sangat tinggi). Temuan ini menggambarkan bahwa pembaca tidak hanya mengeksplorasi banyak judul komik, tetapi juga memberikan perhatian khusus pada kualitas isi komik yang mereka nikmati, yang menjadi salah satu faktor penting untuk meningkatkan kebiasaan membaca (Abid et al., 2023). Selanjutnya pada indikator keempat yaitu time spent on reading (waktu yang dihabiskan dalam membaca), skor rata-rata yang didapatkan adalah sebesar 3,48 (sangat tinggi). Temuan ini menggambarkan bahwa kepuasan dan kebahagiaan yang dirasakan pembaca dalam menghabiskan waktu dan intensitas tinggi dalam membaca komik di Line Webtoon menjadi faktor penting yang dapat meningkatkan kebiasaan membaca. Terakhir, indikator kelima yaitu motivation in reading (motivasi dalam membaca), skor rata-rata yang didapatkan adalah sebesar 3,39 (sangat tinggi). Temuan ini menggambarkan bahwa pembaca komik digital di Line Webtoon memiliki motivasi yang beragam, baik dari preferensi pribadi maupun pengaruh pertemanan/keluarga, yang turut menjadi faktor penting dalam meningkatkan kebiasaan membaca di kalangan Generasi Z. Kemampuan Critical Reading Dalam Membaca Komik Digital Di Platform Line Webtoon Pada Generasi Z Berdasarkan pengambilan data dari 100 orang responden, jawaban dari variabel dependen yaitu kebiasaan membaca mendapatkan hasil sebagai berikut. Tabel 11. Indikator Variabel Kemampuan Critical Reading No Kemampuan Critical Reading Skor Kategori 1. Kemampuan menginterpretasi 3,46 Sangat Tinggi 2. Kemampuan menganalisis 3,40 Sangat Tinggi 3. Kemampuan menginferensi 3,46 Sangat Tinggi 4. Kemampuan mengevaluasi 3,45 Sangat Tinggi 5. Kemampuan mengeksplanasi 3,42 Sangat Tinggi 6. Kemampuan meregulasi diri 3,46 Sangat Tinggi Skor Rata-rata 3,44 Sangat Tinggi Tabel 11 menjelaskan hasil analisis data dari enam indikator variabel dependen (kemampuan critical reading) yang diadopsi dari teori critical thinking Facione (2013), dimana hasilnya masing-masing indikator memiliki skor berbeda. Berdasarkan hasil analisis data di atas, total skor rata-rata yang didapatkan adalah sebesar 3,44, (sangat tinggi). Pada indikator pertama yaitu kemampuan menginterpretasi, skor rata-rata yang didapatkan adalah sebesar 3,46 (sangat tinggi). Temuan ini menggambarkan bahwa pembaca mampu mengenali dan memahami tema serta dinamika karakter tokoh, serta menafsirkan makna tersembunyi pada komik yang mereka baca di Line Webtoon. Dengan demikian, kemampuan menginterpretasi menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan kemampuan critical reading. Kemudian pada indikator kedua yaitu kemampuan menganalisis, skor rata-rata yang didapatkan adalah sebesar 3,40 (sangat tinggi). Temuan ini menggambarkan bahwa bahwa pembaca mampu memahami alur cerita, menganalisis tiap sudut pandang yang berbeda, dan menafsirkan permasalahan utama dalam cerita. Dengan demikian kemampuan menganalisis berperan dalam mendapatkan pemahaman matang terhadap isi cerita dalam komik digital di Line Webtoon. Lalu pada indikator ketiga, yaitu kemampuan menginferensi, skor rata-rata yang didapatkan adalah sebesar 3,46 (sangat tinggi). Temuan ini menggambarkan bahwa pembaca mampu membaca tidak secara harfiah saja, melainkan secara kritis dapat meresapi nuansa emosional, dan memahami motivasi karakter dalam cerita komik di Line Webtoon. Selanjutnya pada indikator keempat yaitu kemampuan mengevaluasi, skor rata-rata yang didapatkan adalah sebesar 3,46 (sangat tinggi). Temuan ini menggambarkan bahwa pembaca memiliki kemampuan mengevaluasi yang tinggi dalam membaca komik digital. Kemampuan mengevaluasi menjadi aspek kritis yang berperan penting dalam kemampuan critical reading, dimana pembaca tidak hanya membaca cerita secara harfiah, tetapi juga secara aktif menafsirkan dan menilai isi komik. Untuk indikator kelima yaitu kemampuan mengeksplanasi, skor rata-rata yang didapatkan adalah sebesar 3,42 (sangat tinggi). Temuan ini menggambarkan bahwa bahwa pembaca cenderung memiliki kemampuan mengevaluasi yang tinggi, dimana pembaca tidak hanya mampu mengevaluasi konten komik, tetapi juga mampu menjelaskan apa yang sudah dibaca dan mengaitkannya dengan pengetahuan mereka sendiri. Dan terakhir pada indikator keenam yaitu kemampuan meregulasi diri, skor rata-rata yang didapatkan adalah sebesar 3,46 (sangat tinggi). Temuan ini menggambarkan bahwa pembaca yang dapat mengatur diri bisa lebih fokus dan efektif dalam membaca, memungkinkan mereka untuk lebih dalam memahami dan mengevaluasi konten komik digital di Line Webtoon yang mereka baca. Dengan demikian, kemampuan meregulasi diri berperan penting dalam meningkatkan kemampuan critical reading, dimana pada kalangan pembaca dari generasi Z. Pengaruh Kebiasaan Membaca Komik Digital Di Platform Line Webtoon Terhadap Kemampuan Critical Reading Pada Generasi Z Berdasarkan skor rata-rata pada setiap pernyataan variabel independen (kebiasaan membaca) dan variabel dependen (kemampuan critical reading), diperoleh hasil rata-rata dari setiap skor pada kedua variabel, yakni: Tabel 12. Nilai Rata-rata Perolehan dari Tiap Variabel Tabel 12 di atas menjelaskan perbandingan hasil skor rata-rata perolehan dari variabel independen (kebiasaan membaca) dan variabel dependen (kemampuan critical reading) yang disertai skala intervalnya. Pada variabel X atau independen, secara keseluruhan skor rata-ratanya adalah sebesar 3,46 yang memiliki arti bahwa pernyataan-pernyataan pada variabel X bernilai sangat tinggi. Begitu pula dengan skor rata-rata dari variabel Y atau dependen secara keseluruhan, yakni sebesar 3,44 yang mengindikasikan semua pernyataan pada variabel Y bernilai sangat tinggi. Skor rata-rata tersebut berada pada titik interval 3,25 -4,00 (sangat tinggi). Hal ini dapat diartikan bahwa masing-masing kebiasaan membaca dan kemampuan critical reading dalam membaca komik digital di platform Line Webtoon oleh generasi Z sudah sangat baik. Kebiasaan membaca yang teratur dan kemampuan critical reading yang tinggi memungkinkan mereka untuk memahami cerita pada komik dengan analisis yang mendalam. Kemudian berdasarkan hasil pengujian korelasi, maka didapatkan penggambaran untuk menjawab seberapa kuat pengaruh atau hubungan antar variabel, yaitu sebagai berikut. Tabel 13. Hasil Uji Korelasi No Unsur Yang Dinilai Skor Rata-rata Skala Interval Ket. 1. Variabel X (Kebiasaan Membaca) 3,46 3,25 – 4,00 Sangat Tinggi 2. Variabel Y (Kemampuan Critical Reading) 3,44 3,25 – 4,00 Sangat Tinggi Hubungan Nilai Korelasi Skala Ket. Kebiasaan membaca → Kemampuan Critical Reading 0,697 > 0,5 – 0,75 Kuat Tabel 13 menjelaskan hasil uji korelasi dari kebiasaan membaca dengan kemampuan critical reading yang disertai dengan nilai korelasi dan kategori skalanya. Berdasarkan hasil uji korelasi, didapatkan penggambaran untuk menjawab seberapa kuat hubungan antar variabel, yaitu sebesar 0,697, yang menunjukkan terdapat hubungan yang positif, searah, dan mengikuti antara variabel kebiasaan membaca dalam membaca komik digital terhadap kemampuan critical reading pada generasi Z, dan korelasi tersebut termasuk korelasi kuat karena berada pada skala > 0,5 – 0,75. Selanjutnya, untuk membuktikan hipotesis pada penelitian ini apakah terbukti atau tidak, maka akan dijawab dengan penggambaran hasil uji T dengan melihat nilai signifikansi. Tabel 14. Hasil Uji Hipotesis Tabel 14 di atas menjelaskan hasil uji hipotesis yang dapat diketahui apakah hipotesis diterima atau tidak dengan memperhatikan nilai signifikansi yang dihasilnya. Berdasarkan hipotesis yang diajukan pada penelitian ini, yakni: Ha : Terdapat pengaruh kebiasaan membaca komik digital di platform Line Webtoon terhadap kemampuan critical reading pada generasi Z Ho : Tidak ada pengaruh kebiasaan membaca komik digital di platform Line Webtoon terhadap kemampuan critical reading pada generasi Z. Maka berdasarkan hasil uji T terlihat nilai signifikansi yang diperoleh sebesar 0,000. Nilai tersebut memenuhi kriteria dimana signifikansi harus berada dibawah 0,05. Oleh karena itu, dinyatakan bahwa variabel kebiasaan membaca komik digital di platform Line Webtoon memiliki pengaruh terhadap kemampuan critical reading pada generasi Z. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hipotesis nol (Ho) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) diterima. Selanjutnya, untuk memperjelas dalam mengetahui seberapa besar kontribusi pengaruh dari variabel kebiasaan membaca terhadap variabel kemampuan critical reading, akan dijelaskan berdasarkan hasil uji koefisien determinasi. Berdasarkan hipotesis yang diajukan pada penelitian ini, terlihat dari T nilai signifikansi yang diperoleh sebesar 0,000. Nilai tersebut memenuhi kriteria dimana signifikansi harus berada dibawah 0,05. Oleh karena itu, dinyatakan bahwa variabel kebiasaan membaca komik digital di platform Line Webtoon memiliki pengaruh terhadap kemampuan critical reading pada generasi Z. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hipotesis alternatif (Ha) diterima. Selanjutnya, untuk memperjelas dalam mengetahui seberapa besar kontribusi pengaruh dari variabel kebiasaan membaca terhadap variabel kemampuan critical reading, akan dijelaskan berdasarkan hasil uji koefisien determinasi. Tabel 15. Hasil Uji Koefisien Determinasi Tabel 15 di atas menjelaskan hasil uji koefisien determinasi atau seberapa besar kontribusi yang diberikan variabel independent (kebiasaan membaca) dalam meningkatkan variabel dependen (kemampuan critical reading) yang disertai dengan nilai koefisien determinasi beserta besaran persentasenya. Hasil uji koefisien determinasi mencerminkan sumbangan pengaruh variabel independen, dimana kebiasaan membaca bernilaikan 0,486 atau 48,6%. Dengan demikian, besaran kontribusi pengaruh kebiasaan membaca komik digital yang telah diberikan terhadap kemampuan critical reading termasuk kategori sedang. Hal ini menandakan bahwa kebiasaan membaca komik digital di platform Line Webtoon memiliki pengaruh yang sedang dan signifikan terhadap kemampuan critical reading pada generasi Z. Dari serangkaian hasil pengujian tersebut membuktikan bahwa konsep teori kognitif sosial tersebut adalah benar, dimana kebiasaan membaca komik digital memainkan peran penting dalam meningkatkan kemampuan membaca kritis pembaca dari kalangan generasi Z. Berdasarkan teori sosial kognitif Bandura, lingkungan memegang peranan penting dalam membentuk perilaku individu, termasuk dalam kebiasaan membaca. Sumber-sumber bacaan seperti komik digital dianggap sebagai bagian dari lingkungan yang berinteraksi dengan individu. Kegiatan membaca yang dibiasakan berubah menjadi kebiasaan membaca yang turut membentuk karakteristik personal individu, yaitu dalam hal ini adalah kemampuan membaca kritis. Konsep teori Bandura menyatakan bahwa kemampuan membaca kritis dipahami sebagai hasil dari pembelajaran melalui interaksi dengan media dan sumber bacaan digital seperti komik digital. Dengan demikian, teori ini menyajikan pandangan yang menghubungkan sumber bacaan digital, pembentukan kebiasaan membaca, dan perkembangan kemampuan membaca kritis sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungannya.

Conclusion

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dijelaskan, yakni tentang “Pengaruh Kebiasaan Membaca Komik Digital di Platform Line Webtoon Terhadap Kemampuan Critical Reading Pada Generasi Z”, diperoleh kesimpulan bahwa teori kognitif sosial Bandura relevan dengan temuan penelitian, dimana kebiasaan membaca komik digital terbukti memainkan peran penting dalam meningkatkan kemampuan membaca kritis pembaca. Hal ini ditunjukkan dengan adanya hubungan yang positif dan searah antara variabel; jika variabel kebiasaan membaca komik digital tinggi, maka variabel kemampuan critical reading pun tinggi. Dimana diketahui dari hasil uji variabel X (kebiasaan membaca) bernilai sebesar 3,46, dan hasil uji variabel Y (kemampuan critical reading) sebesar 3,44, yang mana hasil skor dari variabel X dan Y ini termasuk ke dalam skor interval 3,25-4,00 (sangat tinggi). Hasil analisis korelasi atau hubungan yang diperoleh sebesar 0,697 dan nilai signifikansi sebesar 0,000 menunjukkan adanya hubungan yang kuat dan signifikan. Kebiasaan membaca memiliki pengaruh yang sedang terhadap kemampuan critical reading, dengan besaran pengaruh yang didapatkan sebesar 0,486 atau 48,6%. Hal ini menegaskan bahwa hipotesis alternatif (Ha) diterima karena terdapat pengaruh signifikan, dimana kebiasaan membaca komik digital di platform Line Webtoon secara signifikan dapat meningkatkan kemampuan membaca kritis pada Generasi Z. Dengan kata lain, semakin sering dan intens seseorang terbiasa membaca komik digital, semakin baik kemampuan membaca kritis yang dimilikinya. Penelitian ini mendukung teori Bandura yang menyatakan bahwa perilaku dan kebiasaan belajar yang dilakukan secara konsisten dapat meningkatkan kemampuan kognitif individu. Penelitian ini memperkuat konsep yang diangkat dari teori kognitif sosial Bandura, dimana kebiasaan membaca sebagai karakteristik personal, akan membentuk dan meningkatkan suatu perilaku (behaviour), dalam hal ini adalah kemampuan critical reading. Hal tersebut dapat terjadi melalui proses pembelajaran, penyesuaian diri, dan observasi pada lingkungannya (environment) melalui media-media informasi yang dipelajari, dalam hal ini adalah komik digital. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa kebiasaan membaca komik digital di platform Line Webtoon memiliki pengaruh yang sedang dan signifikan terhadap kemampuan critical reading pada generasi Z. Berdasarkan kesimpulan dan hasil temuan penelitian ini, terdapat beberapa saran yang dapat direkomendasikan kepada pemangku kepentingan, yaitu Platform Line Webtoon. Diketahui bahwa pengaruh kebiasaan membaca komik digital di platform Line Webtoon terhadap kemampuan critical reading pada generasi Z masih berada pada pengaruh yang sedang. Hal ini mengindikasikan bahwa masih terdapat peluang untuk mengembangkan pengaruh tersebut. Oleh karena itu, platform Line Webtoon sebagai penyedia komik digital yang diminati oleh generasi Z dapat meningkatkan fitur-fitur untuk meningkatkan keterlibatan pengguna, misalnya seperti fitur diskusi atau kuis. Fitur-fitur tersebut dapat menciptakan pengalaman membaca yang lebih menyenangkan dan mendorong pembaca untuk berpikir lebih aktif dan kritis dalam menganalisis komik yang mereka baca. Dengan demikian, pengalaman membaca dapat menjadi lebih interaktif, edukatif, dan mendorong pembaca dari generasi Z untuk meningkatkan kebiasaan membaca komik digital dan kemampuan critical reading mereka secara optimal. Temuan dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan informasi yang lebih baru dan berkontribusi ke dalam bidang keilmuan Ilmu Perpustakaan, khususnya dalam penemuan informasi mengenai pengaruh kebiasaan membaca komik digital di platform Line Webtoon terhadap kemampuan critical reading pada generasi Z. Adapun limitasi dalam penelitian ini, dimana penelitian ini terbatas untuk meneliti pengaruh kebiasaan membaca komik digital di platform Line Webtoon terhadap kemampuan critical reading pada generasi Z. Selain itu, jumlah responden yang diambil berdasarkan populasi dari data Google Play Store sejumlah 3,224,567, kemudian ditarik sampel dengan rumus slovin sebanyak 100 orang dengan kriteria usia 18-24 tahun dan merupakan pembaca komik digital di platform Line Webtoon dapat mempengaruhi generalisasi hasil penelitian. Metode pengambilan sampel accidental melalui kuesioner di internet juga menjadi batasan dalam mendapatkan data yang representatif