Kembali
16
1
2012 Berkala Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 8 · 1 ISSN 2477-0361

Kesiapan Pustakawan dalam menghadapi Era Digital (Studi pada Pustakawan di Perpustakaan UGM)

Universitas Gadjah Mada; Universitas Gadjah Mada

Abstract

One of the characteristics of the digital generation is having a high dependence on the utilization of information technology and communication devices. This becomes a trigger for libraries to restructure the role and function of their existing resources, such as human resources that have a vital position for the success of libraries in providing services. Libraries need librarians who have competency in the field of information technology to synergize with users. In reality, the librarians are still dominated by the librarians from the digital immigrant generation who are still learning to adapt to the new environment in information technology. Therefore, the readiness of librarians to meet the needs of the digital generation becomes the main issue in this study. This was a descriptive study with a qualitative approach. The study objects were the librarians in Gadjah Mada University. The samples (informants) of librarians were those who represented the digital immigrant generation and the digital generation. Data gathering methods in this study were literature, in-depth interviews, and observation. The data analysis applied was qualitative analysis and data validity examination using triangulation. Based on the result, it can be concluded that from several aspects of librarians' competency in Technology (Competencies Technology: Core SHW, which includes Core Email, Core Hardware, Core Internet, Core Operating Systems, Core Software, Core Web Tool, and Technology Competencies (Systems & IT)), librarians of the digital generation have better competency than librarians of the digital immigrant generation in the field of IT. Therefore, librarians of the digital generation are better prepared to face users of the digital generation. However, librarians of the digital immigrant generation still have passion or motivation to learn in the field of technology to meet the demanding needs of users of the digital generation.
Keywords: competency · librarians · digital generation · technology · digital immigrant

Introduction

A. Pendahuluan Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada saat ini sudah begitu pesat dan mempengaruhi berbagai segi kehidupan, salah satunya adalah perubahan gaya hidup manusia. Gaya hidup generasi pada era saat ini berbeda dengan gaya hidup generasi sebelumnya. Perbedaan yang mencolok adalah bahwa generasi era saat ini sangat akrab dengan teknologi, sedangkan generasi sebelumnya biasanya masih belajar untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi. Generasi era saat ini yang sering disebut sebagai generasi digital merupakan generasi yang lahir pada saat perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat. Dengan demikian, generasi ini sangat akrab dan bahkan mempunyai ketergantungan yang tinggi dengan gadget atau peralatan komunikasi. Menurut Mardianto (2010), generasi digital memiliki naluri alamiah yang dapat dengan mudah mencari berbagai informasi, belajar dan memecahkan masalahnya sendiri serta menciptakan berbagai inovasi kreatif dengan segala pemanfaatan teknologi. Pada saat ini pustakawan di UGM masih didominasi oleh pustakawan generasi digital immigrant, yaitu generasi yang lahir sebelum era teknologi informasi. Menurut Evelyn (2010), digital immigrant ini masih belajar untuk beradaptasi dengan lingkungan baru namun tetap memelihara beberapa hal dari lingkungan masa lalu, walaupun ada beberapa digital immigrant yang mampu beradaptasi dengan sempurna dalam dunia teknologi informasi. Hal ini merupakan tantangan besar bagi pustakawan di UGM dalam memenuhi kebutuhan pemustaka. Apabila pustakawan tidak mampu beradaptasi dengan kebutuhan pemustaka yang sebagian besar adalah generasi digital, maka tentu perpustakaan akan ditinggalkan oleh pemustaka. Mereka akan mencari informasi ke tempat lain yang lebih menawarkan kecanggihan dan kemudahan dalam mengakses informasi. Oleh sebab itu, perpustakaan memerlukan pustakawan yang memiliki kompetensi dalam bidang teknologi informasi agar dapat memberikan layanan yang memuaskan (customer satisfaction) bagi generasi digital. Untuk itu, penulis tertarik untuk meneliti sejauh mana kesiapan pustakawan di era digital dan bagaimana perbedaan kompetensi antara pustakawan generasi digital immigrant dan pustakawan generasi digital di bidang teknologi. B. Tinjauan Pustaka Pada era digital ini pemustaka lebih banyak didominasi oleh generasi digital yang cerdas dalam menggunakan peralatan teknologi informasi. Oleh karena itu, pustakawan dituntut mampu menyesuaikan dengan karakteristik dari pemustaka generasi digital yang membutuhkan pelayanan yang cepat, tepat, dan akurat. Untuk dapat mengikuti kebutuhan pemustaka dari generasi digital, maka pustakawan harus mempunyai kompetensi di bidang teknologi. Hampir semua kegiatan operasional perpustakaan dan pelayanan sudah menggunakan peralatan teknologi modern. Oleh sebab itu, pustakawan UGM dituntut memiliki kompetensi teknologi informasi agar dapat memberikan kontribusi yang optimal dalam memberikan pelayanan kepada pemustaka, mengingat pemustaka potensial di Perpustakaan UGM adalah generasi yang user-friendly dengan teknologi. Sementara itu, sebagian besar pustakawan UGM merupakan generasi digital immigrant. Pustakawan memerlukan kompetensi dasar di bidang teknologi informasi yang meliputi kemampuan dalam menggunakan email, hardware, internet, operating systems, software applications, dan web tools. Kemampuan tersebut perlu dimiliki oleh pustakawan agar tidak tertinggal atau ditinggalkan pemustaka. Federal Library & Information Center Committee Library of Congress mendefinisikan kompetensi sebagai pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang ditetapkan dan disumbangkan untuk kinerja dalam profesi tertentu. Kompetensi dapat diamati, diukur, dan diperingkat. Sedangkan Rivai (2009) merumuskan bahwa kompetensi diartikan sebagai kemampuan seseorang yang dapat terobservasi yang mencakup pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam menyelesaikan suatu pekerjaan sesuai dengan performa yang ditetapkan. Dari dua definisi tersebut di atas dapat dirumuskan bahwa kompetensi adalah kemampuan yang dimiliki seseorang pada profesi tertentu berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam menyelesaikan pekerjaan. Menurut WebJunction (2009), perkembangan teknologi telah menyebar di semua level termasuk dalam kegiatan pelayanan dan operasional perpustakaan. Semua posisi mensyaratkan kegiatannya dengan bantuan komputer. Kompetensi pustakawan yang disyaratkan dalam bidang teknologi sebagai keterampilan dasarnya berupa kemampuan dalam menggunakan email, hardware, internet, operating systems, software applications, dan web tools. Penggunaan email bermanfaat ketika pemustaka membutuhkan informasi maka pustakawan langsung dapat mengirim informasi yang dibutuhkan hanya dalam hitungan menit bahkan detik. Pustakawan dalam menggunakan hardware dan komponennya harus disertai pengetahuan bagaimana alat tersebut dapat berfungsi sehingga apabila ada trouble dapat mengatasinya. Internet dan World Wide Web memudahkan pustakawan dalam melakukan penelusuran informasi yang relevan dan akurat dengan kebutuhan pemustaka. Pustakawan juga dapat melakukan download subjek-subjek dari e-book atau e-journal yang sering dicari oleh pemustaka. Menurut Sukirno (2004), adanya internet telah membongkar bangunan informasi yang terlalu kokoh dan susah untuk diakses menjadi sangat mudah dan murah untuk diakses. Fungsi sistem operasi dasar berhubungan dengan cara mengelola file atau folder yang ada, mengecek virus, delete, dan fungsi recycle bin dapat membantu pustakawan dalam mengelola informasi. Software application seperti word processing operations, mengidentifikasi printer dalam sebuah jaringan membantu pustakawan dalam pembuatan dokumen perpustakaan, seperti pembuatan kartu bebas pustaka, surat pengantar, dan sebagainya. Penggunaan fasilitas atau peralatan yang berfungsi sebagai social networking seperti Facebook, YouTube, MySpace, Flickr, Blog, web conference mampu mendekatkan perpustakaan dengan pemustaka. Optimalnya fungsi social networking akan mengubah paradigma lama perpustakaan sebagai tempat menyimpan buku menjadi paradigma baru yaitu perpustakaan sebagai pusat informasi.

Method

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif dengan maksud untuk mengetahui sejauh mana kesiapan pustakawan di UGM dalam menghadapi era digital. Sampel pada penelitian ini adalah sampel bertujuan (purposive sample). Sampel (informan) dalam penelitian ini adalah pustakawan yang mewakili generasi digital immigrant dan generasi digital. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan studi pustaka, melakukan wawancara mendalam (in-depth interview) dengan menggunakan panduan wawancara (interview guide), dan observasi (pengamatan langsung). Variabel yang akan dianalisis adalah kompetensi pustakawan yang berkaitan dengan teknologi hasil kompilasi WebJunction (2009), yang mencakup kemampuan dalam menggunakan email, hardware, internet, operating systems, software applications, dan web tools. Adapun langkah-langkah analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menurut Nasution (2003: 129), yakni (1) reduksi data, (2) display data, dan (3) mengambil kesimpulan dan verifikasi.

Result & Discussion

Berdasarkan hasil penelitian yang pernah kami lakukan terhadap kesiapan pustakawan di UGM dalam menghadapi era digital, maka dapat diketahui bahwa kompetensi pustakawan di UGM dalam bidang teknologi informasi adalah sebagai berikut: a. Core Email Dalam hal kompetensi email, semua pustakawan menggunakan aplikasi email berbasis web karena adanya beberapa kekurangan dari aplikasi berbasis desktop. Di samping itu, memang karena belum mengetahui tentang aplikasi email yang berbasis desktop. Aplikasi email yang berbasis web mempunyai keuntungan mudah dibuka di mana-mana di terminal komputer yang terhubung oleh jaringan internet, sedangkan aplikasi email yang berbasis desktop hanya dapat dibuka pada satu komputer tertentu. Semua pustakawan menggunakan lebih dari satu nama domain dalam menggunakan email, misalnya yahoo.com, ugm.ac.id, dan gmail. Hal ini disesuaikan dengan kebutuhan atau kegiatan. Untuk kegiatan yang bersifat resmi, pada umumnya pustakawan menggunakan alamat email ugm.ac.id, walaupun pustakawan mengeluhkan adanya keterbatasan kapasitas dan banyak muncul spam. Nama email yahoo.com dan gmail digunakan untuk kegiatan nonformal. Pada umumnya pustakawan sudah dapat melakukan fungsi dasar dari aplikasi email seperti menerima, membuka, mengirim, atau menghapus pesan email. Pada umumnya pustakawan menggunakan email untuk tugas-tugas yang berhubungan dengan pekerjaannya dan untuk berkomunikasi dengan teman, namun pustakawan generasi digital menggunakan email untuk kegiatan yang lebih kompleks atau bervariasi, seperti untuk tukar-menukar dokumen, kolaborasi dengan teman-teman, korespondensi, mendaftar aplikasi, mailing list, koordinasi, langganan jurnal, pengadaan buku, dan sebagainya. Pustakawan generasi digital sudah mengelola email seperti mengelola spam, membuat folder-folder, dan menghapus kiriman email yang tidak berguna. Pustakawan generasi digital imigran belum mengelola email-nya dalam bentuk folder-folder, baru mengelola email dengan menghapus kiriman email yang tidak berguna. b. Core Hardware Dalam bidang hardware, pada umumnya pustakawan sudah memahami dan dapat menggunakan berbagai hardware yang tersedia di perpustakaan untuk mendukung tugas-tugasnya. Mereka mampu menyebutkan hardware apa saja yang tersedia di perpustakaan seperti komputer, printer, scanner, barcode reader, serta fungsi masing-masing hardware tersebut. Scanner sudah dimanfaatkan oleh pustakawan untuk mengalihmediakan koleksi agar informasi dapat diakses lebih cepat. Mereka juga mengenal perangkat untuk menyimpan data karena mereka biasanya melakukan backup data di berbagai perangkat penyimpanan data seperti hardisk, USB, DVD, hardisk eksternal, dan server. Apabila terjadi troubleshooting ringan pada hardware, pada umumnya pustakawan dapat mengatasinya, misalnya terjadi paper jam, menghilangkan virus, instal driver, cek jaringan, dan sebagainya, tetapi pustakawan generasi digital mampu mengatasi masalah yang lebih sulit, seperti dalam menangani spare part hardware yang rusak. Semua pustakawan berusaha mengatasi trouble sendiri dan apabila sudah tidak dapat mengatasi, baru menanyakan pada tim TI di lembaganya. c. Core Internet Pustakawan mengerti dan dapat menggunakan internet dan World Wide Web, namun pustakawan generasi digital lebih variatif dan aktif dalam menggunakan internet daripada pustakawan generasi digital imigran. Pustakawan generasi digital selain menggunakan internet untuk kegiatan yang berhubungan dengan pekerjaannya juga untuk hiburan pada waktu senggang, misalnya bermain game, akses YouTube, mendengarkan musik, dan untuk jejaring sosial seperti chatting, Facebook, dan sebagainya. Pustakawan generasi digital imigran menggunakan internet untuk melakukan kegiatan yang berhubungan dengan pekerjaannya dan jarang untuk kegiatan yang bersifat hiburan ataupun untuk jejaring sosial. Pustakawan sudah memanfaatkan internet untuk proses pengadaan koleksi, misalnya untuk mengirim daftar pesanan buku atau jurnal ke toko buku atau penerbit. Internet juga digunakan oleh pustakawan sebagai sarana untuk menelusur informasi. Mereka membuka suatu website menggunakan fungsi dari web browser (scroll, bookmark, history) atau dengan mengetikkan alamat website. Website yang sering dibuka adalah yang mendukung kegiatan perpustakaan, namun pustakawan generasi digital lebih banyak alamat website yang dikunjungi daripada pustakawan generasi digital imigran. Selain mengunjungi website yang berhubungan dengan pekerjaannya, pustakawan juga mengunjungi website yang memuat informasi-informasi terbaru. Pustakawan juga mampu melakukan penelusuran informasi yang dibutuhkan oleh pemustaka, baik berdasarkan permintaan maupun informasi yang memang perlu diketahui oleh pemustaka sehingga pustakawan merasa perlu untuk melakukan penelusuran informasi. Informasi tersebut terutama yang berkaitan dengan subjek ilmu untuk mendukung proses belajar mengajar. Cara melakukan penelusuran informasi dengan browsing ke website yang relevan dengan pertanyaan yang diajukan pemustaka. Pustakawan melakukan penelusuran informasi dengan berbagai strategi misalnya melalui subjek, kata kunci, judul, pengarang, dan apabila tidak bisa baru memakai boolean. Pustakawan sudah mampu melakukan akses e-journal dan e-book, baik yang dilanggan oleh lembaganya maupun oleh UPU Perpustakaan UGM untuk memenuhi permintaan pemustaka. Apabila database yang dilanggan lembaganya belum bisa mencukupi kebutuhan pemustaka, pustakawan tetap berupaya untuk mencarikan ke sumber lain. Secara umum file yang didownload berupa teks dari e-book, e-journal, atau artikel dari suatu website. Pustakawan jarang mendownload gambar, film, rekaman suara/video karena membutuhkan waktu yang lama, sehingga akan mempengaruhi kecepatan kerja sebuah jaringan. Pustakawan juga bisa mengatasi gangguan yang berupa virus maupun pop-up. Untuk mengatasi virus pada komputer, para pustakawan memanfaatkan antivirus yang di-install pada komputer yang selalu dapat di-update secara otomatis apabila terhubung dengan jaringan internet. Ada pustakawan yang sudah memanfaatkan open source, yaitu program Linux, sehingga ia merasa tidak khawatir dengan masalah virus. Pustakawan menangani munculnya pop-up yang berupa pesan iklan yang muncul pada saat melakukan akses informasi dengan cara menutup pesan tersebut apabila mengganggu atau membacanya dahulu apabila pesan itu penting. Ada juga pustakawan yang menggunakan program untuk memblokir pop-up. Kebijakan perpustakaan dalam menggunakan internet bagi pemustaka sudah longgar. Pustakawan hanya mengingatkan apabila terjadi antrean atau ada yang download film karena dapat memperlambat kecepatan akses pemustaka yang lain. Kelonggaran peraturan tersebut berkaitan dengan semakin banyaknya pemustaka yang membawa laptop sendiri ketika datang ke perpustakaan. D. Core Operating Systems TOLONG PERBAIKI KESALAHAN PENULISAN, HAPUS SETIAP DASH (-) DIANTARA KATA (YANG TIDAK DIPERLUKAN), HAPUS ATAU TAMBAH SPASI PADA KATA/KALIMAT YANG DIBUTUHKAN, HAPUS SEMUA FORMATTING PENULISAN TANPA MENGHAPUS ANGKA/BULETIN YANG ADA (JADIKAN SEMUANYA 1 PARAGRAF), JANGAN MENGHAPUS KALIMAT APAPUN (SELAIN UNTUK DIKOREKSI): Berdasarkan hasil penelitian yang pernah kami lakukan terhadap kesiapan pustakawan di UGM dalam menghadapi era digital, maka dapat diketahui bahwa kompetensi pustakawan di UGM dalam bidang teknologi informasi adalah sebagai berikut: a. Core Email Dalam hal kompetensi email, semua pustakawan menggunakan aplikasi email berbasis web karena adanya beberapa kekurangan dari aplikasi berbasis desktop. Di samping itu, memang karena belum mengetahui tentang aplikasi email yang berbasis desktop. Aplikasi email yang berbasis web mempunyai keuntungan mudah dibuka di mana-mana di terminal komputer yang terhubung oleh jaringan internet, sedangkan aplikasi email yang berbasis desktop hanya dapat dibuka pada satu komputer tertentu. Semua pustakawan menggunakan lebih dari satu nama domain dalam menggunakan email, misalnya yahoo.com, ugm.ac.id, dan gmail. Hal ini disesuaikan dengan kebutuhan atau kegiatan. Untuk kegiatan yang bersifat resmi, pada umumnya pustakawan menggunakan alamat email ugm.ac.id, walaupun pustakawan mengeluhkan adanya keterbatasan kapasitas dan banyak muncul spam. Nama email yahoo.com dan gmail digunakan untuk kegiatan nonformal. Pada umumnya pustakawan sudah dapat melakukan fungsi dasar dari aplikasi email seperti menerima, membuka, mengirim, atau menghapus pesan email. Pada umumnya pustakawan menggunakan email untuk tugas-tugas yang berhubungan dengan pekerjaannya dan untuk berkomunikasi dengan teman, namun pustakawan generasi digital menggunakan email untuk kegiatan yang lebih kompleks atau bervariasi, seperti untuk tukar-menukar dokumen, kolaborasi dengan teman-teman, korespondensi, mendaftar aplikasi, mailing list, koordinasi, langganan jurnal, pengadaan buku, dan sebagainya. Pustakawan generasi digital sudah mengelola email seperti mengelola spam, membuat folder-folder, dan menghapus kiriman email yang tidak berguna. Pustakawan generasi digital imigran belum mengelola email-nya dalam bentuk folder-folder, baru mengelola email dengan menghapus kiriman email yang tidak berguna. b. Core Hardware Dalam bidang hardware, pada umumnya pustakawan sudah memahami dan dapat menggunakan berbagai hardware yang tersedia di perpustakaan untuk mendukung tugas-tugasnya. Mereka mampu menyebutkan hardware apa saja yang tersedia di perpustakaan seperti komputer, printer, scanner, barcode reader, serta fungsi masing-masing hardware tersebut. Scanner sudah dimanfaatkan oleh pustakawan untuk mengalihmediakan koleksi agar informasi dapat diakses lebih cepat. Mereka juga mengenal perangkat untuk menyimpan data karena mereka biasanya melakukan backup data di berbagai perangkat penyimpanan data seperti hardisk, USB, DVD, hardisk eksternal, dan server. Apabila terjadi troubleshooting ringan pada hardware, pada umumnya pustakawan dapat mengatasinya, misalnya terjadi paper jam, menghilangkan virus, instal driver, cek jaringan, dan sebagainya, tetapi pustakawan generasi digital mampu mengatasi masalah yang lebih sulit, seperti dalam menangani spare part hardware yang rusak. Semua pustakawan berusaha mengatasi trouble sendiri dan apabila sudah tidak dapat mengatasi, baru menanyakan pada tim TI di lembaganya. c. Core Internet Pustakawan mengerti dan dapat menggunakan internet dan World Wide Web, namun pustakawan generasi digital lebih variatif dan aktif dalam menggunakan internet daripada pustakawan generasi digital imigran. Pustakawan generasi digital selain menggunakan internet untuk kegiatan yang berhubungan dengan pekerjaannya juga untuk hiburan pada waktu senggang, misalnya bermain game, akses YouTube, mendengarkan musik, dan untuk jejaring sosial seperti chatting, Facebook, dan sebagainya. Pustakawan generasi digital imigran menggunakan internet untuk melakukan kegiatan yang berhubungan dengan pekerjaannya dan jarang untuk kegiatan yang bersifat hiburan ataupun untuk jejaring sosial. Pustakawan sudah memanfaatkan internet untuk proses pengadaan koleksi, misalnya untuk mengirim daftar pesanan buku atau jurnal ke toko buku atau penerbit. Internet juga digunakan oleh pustakawan sebagai sarana untuk menelusur informasi. Mereka membuka suatu website menggunakan fungsi dari web browser (scroll, bookmark, history) atau dengan mengetikkan alamat website. Website yang sering dibuka adalah yang mendukung kegiatan perpustakaan, namun pustakawan generasi digital lebih banyak alamat website yang dikunjungi daripada pustakawan generasi digital imigran. Selain mengunjungi website yang berhubungan dengan pekerjaannya, pustakawan juga mengunjungi website yang memuat informasi-informasi terbaru. Pustakawan juga mampu melakukan penelusuran informasi yang dibutuhkan oleh pemustaka, baik berdasarkan permintaan maupun informasi yang memang perlu diketahui oleh pemustaka sehingga pustakawan merasa perlu untuk melakukan penelusuran informasi. Informasi tersebut terutama yang berkaitan dengan subjek ilmu untuk mendukung proses belajar mengajar. Cara melakukan penelusuran informasi dengan browsing ke website yang relevan dengan pertanyaan yang diajukan pemustaka. Pustakawan melakukan penelusuran informasi dengan berbagai strategi misalnya melalui subjek, kata kunci, judul, pengarang, dan apabila tidak bisa baru memakai boolean. Pustakawan sudah mampu melakukan akses e-journal dan e-book, baik yang dilanggan oleh lembaganya maupun oleh UPU Perpustakaan UGM untuk memenuhi permintaan pemustaka. Apabila database yang dilanggan lembaganya belum bisa mencukupi kebutuhan pemustaka, pustakawan tetap berupaya untuk mencarikan ke sumber lain. Secara umum file yang didownload berupa teks dari e-book, e-journal, atau artikel dari suatu website. Pustakawan jarang mendownload gambar, film, rekaman suara/video karena membutuhkan waktu yang lama, sehingga akan mempengaruhi kecepatan kerja sebuah jaringan. Pustakawan juga bisa mengatasi gangguan yang berupa virus maupun pop-up. Untuk mengatasi virus pada komputer, para pustakawan memanfaatkan antivirus yang di-install pada komputer yang selalu dapat di-update secara otomatis apabila terhubung dengan jaringan internet. Ada pustakawan yang sudah memanfaatkan open source, yaitu program Linux, sehingga ia merasa tidak khawatir dengan masalah virus. Pustakawan menangani munculnya pop-up yang berupa pesan iklan yang muncul pada saat melakukan akses informasi dengan cara menutup pesan tersebut apabila mengganggu atau membacanya dahulu apabila pesan itu penting. Ada juga pustakawan yang menggunakan program untuk memblokir pop-up. Kebijakan perpustakaan dalam menggunakan internet bagi pemustaka sudah longgar. Pustakawan hanya mengingatkan apabila terjadi antrean atau ada yang download film karena dapat memperlambat kecepatan akses pemustaka yang lain. Kelonggaran peraturan tersebut berkaitan dengan semakin banyaknya pemustaka yang membawa laptop sendiri ketika datang ke perpustakaan. Memanfaatkan antivirus dan sebagian ada yang menggunakan sistem open source sehingga tidak ada masalah dengan virus. Kebijakan penggunaan internet longgar. Sebagian sudah memanfaatkan internet dalam proses pengadaan koleksi. Mampu melakukan dan menjelaskan fungsi sistem operasi dasar. Sudah mampu mengelola file dan folder. Mampu memelihara sistem operasi. Mampu melakukan fungsi dasar aplikasi software. Menggunakan aplikasi software tertentu. Apabila ada masalah dengan aplikasi software maka langsung diserahkan ke tim TI. Mampu melakukan fungsi dasar aplikasi software. Lebih banyak menggunakan aplikasi software. Apabila ada masalah mencoba memperbaiki sendiri dulu, dan apabila tidak bisa baru diserahkan ke tim TI. Sebagian besar belum mempunyai blog. Jarang menggunakan Facebook. Sebagian besar tidak menggunakan Feed dan RSS. Menggunakan file sharing dengan email. Jarang menggunakan photosharing. Mengetahui tentang web conference. Menggunakan menu bantuan, tutorial, dan blog komunitas serta mengikuti sumber-sumber informasi baru. Mempunyai blog tetapi jarang di-update. Aktif menggunakan Facebook. Sebagian besar tidak menggunakan Feed dan RSS. Sebagian menggunakan file sharing dengan web khusus. Jarang menggunakan photosharing. Sebagian pernah menggunakan web conference dan mengetahui secara teknis. Menggunakan menu bantuan, tutorial, dan blog komunitas serta mengikuti sumber-sumber informasi baru. Belajar secara otodidak. Mampu mengelola koleksi digital. Sebagian besar belum mampu mendesain web perpustakaan. Beberapa mampu melakukan install, konfigurasi, dan pemeliharaan hardware perpustakaan. NO. PUSTAKAWAN GENERASI digital IMMIGRANT PUSTAKAWAN GENERASI DIGITAL 1 Mampumelakukan dan menjelaskan fungsi sistem operasi dasar Mampu melakukan dan menelaskan fungsi sistem operasi dasar 2 Sudah nrampu mengelola file dan folder Sudah mampu mengelola fiIe dan folder 3 Mampu memelihara sistem operasi Mampu memelihara sistem operasi E. Core Software Memanfaatkan antivirus dan sebagian ada yang menggunakan sistem open source sehingga tidak ada masalah dengan virus. Kebijakan penggunaan internet longgar. Sebagian sudah memanfaatkan internet dalam proses pengadaan koleksi. Pustakawan generasi digital immigrant mampu melakukan dan menjelaskan fungsi sistem operasi dasar. Mereka juga sudah mampu mengelola file dan folder serta memelihara sistem operasi. Hal yang sama juga berlaku bagi pustakawan generasi digital yang memiliki kemampuan dalam mengelola dan memelihara sistem operasi. Dalam aspek software, pustakawan generasi digital immigrant mampu melakukan fungsi dasar aplikasi software dan menggunakan aplikasi software tertentu. Namun, apabila ada masalah dengan aplikasi software, mereka langsung menyerahkannya ke tim TI. Sementara itu, pustakawan generasi digital lebih banyak menggunakan berbagai aplikasi software. Jika ada masalah, mereka cenderung mencoba memperbaikinya sendiri terlebih dahulu, dan baru menyerahkannya ke tim TI jika tidak bisa menyelesaikannya sendiri. Dalam penggunaan web tools, sebagian besar pustakawan generasi digital immigrant belum mempunyai blog, sedangkan pustakawan generasi digital umumnya memiliki blog meskipun jarang di-update. Pustakawan generasi digital immigrant jarang menggunakan Facebook, sementara pustakawan generasi digital lebih aktif menggunakannya. Kedua kelompok ini sebagian besar tidak menggunakan Feed dan RSS. Pustakawan generasi digital immigrant biasanya menggunakan file sharing melalui email, sedangkan pustakawan generasi digital cenderung menggunakan file sharing dengan web khusus. Penggunaan photosharing jarang dilakukan oleh kedua kelompok ini. Mengenai web conference, pustakawan generasi digital immigrant hanya mengetahui konsepnya, sedangkan pustakawan generasi digital sebagian sudah pernah menggunakannya dan memahami teknisnya. Kedua kelompok pustakawan ini juga sama-sama menggunakan menu bantuan, tutorial, serta blog komunitas untuk memperoleh informasi baru. Dalam kompetensi teknologi yang berkaitan dengan sistem dan IT, pustakawan generasi digital immigrant belajar secara otodidak, sedangkan pustakawan generasi digital selain belajar secara otodidak juga umumnya pernah mengikuti pelatihan. Kedua kelompok pustakawan ini mampu mengelola koleksi digital, tetapi sebagian besar pustakawan generasi digital immigrant belum mampu mendesain web perpustakaan, sedangkan sebagian besar pustakawan generasi digital sudah memiliki kemampuan tersebut. Selain itu, pustakawan generasi digital immigrant belum mampu melakukan instalasi, konfigurasi, dan pemeliharaan hardware perpustakaan, sementara beberapa pustakawan generasi digital sudah memiliki kemampuan tersebut.

Conclusion

Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat diketahui bahwa dari beberapa aspek kompetensi pustakawan di bidang TI yang meliputi Core Email, Core Hardware, Core Internet, Core Operating Systems, Core Software, Core Web Tools, dan Core Technology System dan Technology Information, pustakawan generasi digital mempunyai kompetensi di bidang teknologi yang lebih daripada pustakawan generasi digital immigrant. Beberapa kelebihan kompetensi teknologi dari pustakawan generasi digital dibandingkan generasi digital immigrant adalah sebagai berikut: Core Email Pustakawan generasi digital lebih bervariasi dalam menggunakan email daripada pustakawan generasi digital immigrant. Pustakawan generasi digital menggunakan email selain untuk mendukung tugas-tugas juga untuk kegiatan lain seperti tukar-menukar dokumen, kolaborasi dengan teman-teman, korespondensi, mendaftar aplikasi, mailing list, koordinasi, langganan jurnal, pengadaan buku, dan sebagainya. Pustakawan generasi digital sudah mengelola kiriman-kiriman email dalam bentuk folder-folder dan menghapus kiriman-kiriman email yang sudah tidak berguna. Pustakawan generasi digital juga mampu mengelola spam yang masuk. Core Hardware Pustakawan generasi digital mampu menangani problem hardware yang lebih sulit daripada pustakawan generasi digital immigrant, misalnya dalam menangani spare part hardware yang rusak. Core Internet Pustakawan generasi digital lebih aktif dan bervariasi dalam menggunakan internet daripada pustakawan generasi digital immigrant. Selain untuk mendukung tugas-tugasnya, pada waktu senggang mereka menggunakannya untuk hiburan dan jejaring sosial, misalnya bermain game, mengakses YouTube, mendengarkan musik, chatting, Facebook, dan sebagainya. Alamat website yang dikunjungi pustakawan generasi digital juga lebih banyak daripada pustakawan generasi digital immigrant. Core Operating Systems Dalam hal Operating System, pustakawan generasi digital dan generasi digital immigrant pada umumnya mempunyai kemampuan yang sama. Core Software Pustakawan generasi digital lebih banyak menggunakan aplikasi software daripada pustakawan generasi digital immigrant. Selain itu, apabila ada masalah dengan aplikasi software, pustakawan generasi digital pada umumnya mencoba memperbaiki sendiri terlebih dahulu dan apabila tidak bisa, kemudian menanyakan ke tim TI lembaganya. Core Web Tools Sebagian besar pustakawan generasi digital sudah mempunyai blog, tetapi jarang diperbarui. Selain itu, pustakawan generasi digital juga lebih aktif dalam menggunakan Facebook daripada pustakawan generasi digital immigrant. Pada umumnya pustakawan generasi digital sudah menggunakan file sharing dengan web khusus. Pustakawan generasi digital juga pernah menggunakan web conference dan mengetahui secara teknis. Core Technology System dan Technology Information Pustakawan generasi digital belajar TI secara otodidak dan pernah mengikuti training. Sebagian besar pustakawan generasi digital mampu mendesain web perpustakaan. Beberapa dari mereka juga mampu melakukan instalasi, konfigurasi, dan pemeliharaan hardware perpustakaan dengan bantuan tim TI lembaganya. Dari beberapa kelebihan pustakawan generasi digital dalam bidang TI di atas, maka diharapkan akan lebih siap dalam menghadapi generasi digital. Namun demikian, pustakawan generasi digital immigrant tetap mempunyai semangat atau motivasi untuk selalu belajar dalam bidang teknologi informasi guna menghadapi pemustaka generasi digital.