ANALISIS SISTEM LIBRARY OF CONGRESS CLASSIFICATION (LCC) DALAM TEMU BALIK INFORMASI (INFORMATION RETRIEVAL) pada Perpustakaan IKOPIN Jawa Barat
Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia
Abstrak
Sistem klasifikasi yang digunakan Perpustakaan IKOPIN adalah sistem Library of Congress Classification (LCC). Sistem klasifikasi yang berbeda dari yang digunakan perpustakaan pada umumnya. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan penelitian umum yaitu, “Bagaimana penggunaan sistem Library of Congress Classification (LCC) dalam temu balik informasi di Perpustakaan IKOPIN?” serta menjawab pertanyaan penelitian secara khusus, yaitu (1) Apa alasan pustakawan menggunakan sistem Library of Congress Classification (LCC) di Perpustakaan IKOPIN?, (2) Bagaimana proses temu balik informasi yang dilakukan di perpustakaan IKOPIN, dan (3) Apa saja hambatan dalam temu balik informasi yang dilakukan oleh pustakawan dengan menggunakan sistem Library of Congress Classification (LCC) di perpustakaan IKOPIN?. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Subyek dari penelitian ini adalah dua orang pustakawan dan Alumnus IKOPIN yang sudah lama melakukan magang di perpustakaan IKOPIN serta Informan yang ahli di bidang klasifikasi. Deskripsi hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan sistem klasifikasi ini memudahkan temu balik informasi yang dilakukan oleh pustakawan pada rak koleksi. Hal tersebut dikarenakan penggunaan sistem layanan tertutup pada Perpustakaan IKOPIN sehingga koleksi pada rak tersusun rapi dan penemuan kembali informasi menjadi lebih mudah. Penelitian ini mendapatkan model alur pencarian informasi yang dilakukan pada Perpustakaan IKOPIN yang dilakukan oleh pemustaka dan pustakawan. Model alur pencarian informasi ini disesuaikan dengan sistem layanan tertutup yang ada di perpustakaan IKOPIN.
Abstract
The classification system used by the IKOPIN Library is the Library of Congress Classification (LCC) system, that is different from those used by libraries generally. This study aims to answer general question “How is the use of Library of Congress Classification (LCC) system on information retrieval at the IKOPIN Library?” and also to answer particular questions as such: (1) What is the reason of librarian for using Library of Congress Classification (LCC) system in the IKOPIN Library? (2) How is the process of information retrieval conducted by the librarian in the West Java IKOPIN Library? and (3) What are the constraints at information retrieval conducted by the librarian by using Library of Congress Classification (LCC) system in the IKOPIN Library? This study uses qualitative approach with descriptive method. The subjects of this study are two librarians, an alumni of IKOPIN who has long been apprenticed in the IKOPIN Library and informants who are experts in the field of classification. The results of this study indicates that the use of this classification system facilitates the information retrieval conducted by librarians on the collection shelves. It is because of the closed service system used in the IKOPIN Library so that the collection arrangement on the shelves looks appropriate and the retrieval of information becomes easier. This research gets a model of information retrieval process at IKOPIN Library conducted by user and librarian. This information search path model is tailored to the closed service system at the IKOPIN library.
Keywords:
Library of Congress Classification
· Information Retrieval
Introduction
Sistem klasifikasi merupakan suatu sistem pengelompokkan yang digunakan pada berbagai bidang dengan tujuan mengelompokkan suatu subyek yang sama dalam kelas yang sama. Sistem klasifikasi juga digunakan di perpustakaan, dengan tujuan mengelompokkan koleksi pada kelasnya yang sama agar memudahkan pustakawan maupun pemustaka menemukan kembali informasi dari koleksi yang diinginkan. Sistem klasifikasi digunakan pula pada Perpustakaan Institut Koperasi Indonesia (IKOPIN). Penggunaan sistem klasifikasi di perpustakaan IKOPIN terbilang berbeda dari yang digunakan perpustakaan pada umumnya. Sistem klasifikasi yang digunakan adalah sistem klasifikasi Library of Congress atau Library of Congress Classification (LCC). Sistem LCC merupakan sistem klasifikasi yang dikembangkan untuk mengatur koleksi buku yang ada di Pepustakaan Kongres Amerika. Sistem ini digunakan di Perpustakaan IKOPIN dengan tujuan memudahkan temu balik informasi yang dilakukan oleh pustakawan. Proses temu balik informasi di Perpustakaan IKOPIN khususnya penemuan kembali informasi di rak koleksi tidak dilakukan oleh pemustaka, melainkan oleh pustakawan atau petugas perpustakaan. Hal ini dikarenakan sistem layanan yang diberlakukan oleh perpustakaan IKOPIN. Sistem layanan perpustakaan terdiri dari sistem layanan terbuka (Open Access), yaitu sistem yang memberikan akses koleksi yang dicari oleh pemustaka atau mahasiswa langsung pada rak koleksi dan sistem layanan tertutup (Closed Access) yang tidak memberikan akses secara langsung pada pemustaka untuk mencari koleksi di rak. Koleksi adalah salah satu komponen yang harus ada pada perpustakaan. Dengan adanya koleksi yang baik, memadai dan sesuai dengan kebutuhan pemustaka, perpustakaan akan memberikan layanan yang baik kepada masyarakat pemakainya. Sinaga (dalam prastowo, 2012, hlm.115116) berpandangan bahwa koleksi perpustakaan adalah sekumpulan bahan pustaka yang terdiri atas book materials dan nonbook materials yang dimiliki oleh suatu perpustakaan dari berbagai sumber pengadaan melalui suatu tahap penyelesaian. Sedangkan Yusuf & Suhendar (dalam Prastowo, 2012, hlm. 116) mengemukakan bahwa koleksi perpustakaan adalah sejumlah bahan atau sumber-sumber informasi, baik berupa buku ataupun bahan bukan buku, yang dikelola untuk kepentingan proses belajar mengajar di sekolah yang bersangkutan. Dari kedua pendapat tersebut, dapat kita tarik pengertian sederhana dari koleksi perpustakaan yaitu semua jenis bahan perpustakaan baik berupa buku maupun non buku yang telah diolah dan disimpan di dalamnya untuk kemudian dilayankan kepada pemustaka. Koleksi Perpustakaan IKOPIN berjumlah ±11.000 judul dengan jumlah eksemplar ±50.000. Koleksi tersebut dilayankan kepada mahasiswa IKOPIN dengan 3 orang pegawai perpustakaan. Tidak jarang pula pustakawan dibantu dengan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan mahasiswa yang melaksanakan magang di Perpustakaan IKOPIN yang ditempatkan pada bagian pencarian koleksi. Koleksi yang dilayankan untuk pemustaka terlebih dahulu diolah pada kegiatan pengadaan dan pengolahan. Pada kegiatan ini terdapat juga kegiatan klasifikasi atau penentuan nomor klasifikasi untuk setiap koleksi. Klasifikasi adalah proses yang berhubungan dengan penyusunan benda-benda menurut susunan yang logis berdasarkan tingkatan kesamaan benda-benda atau khususnya penetapan tempat buku yang benar di dalam skema kelasan buku (Sutarno, 2008, hlm. 103). Sedangkan menurut Lasa Hs (2009, hlm. 160) mengatakan klasifikasi merupakan sistem pengelompokkan koleksi untuk memudahkan penyusunan dan temu kembali. Hal tersebut menunjukkan bahwa koleksi dapat dikelompokkan berdasarkan skema kelasan tertentu dan disusun berdasarkan kelas tersebut di rak koleksi. Penataan di rak koleksi tersebut memudahkan penemuan kembali informasi koleksi yang dibutuhkan. Menurut Chan (1981, hlm. 209) Klasifikasi perpustakaan memiliki dua fungsi, (1) sebagai alat untuk penataan buku di rak, yang dianggap sebagai tujuan utama dari klasifikasi, terutama di United States, dan (2) sebagai alat untuk mengatur masukan bibliografi dalam katalog cetak, bibliografi, dan index dengan susunan yang sistematis. Klasifikasi sebagai alat untuk penataan buku di rak memiliki keuntungan, yaitu (1) membantu pemakai jasa perpustakaan mengidentifikasi dan melokalisasi bahan pustaka berdasarkan nomor panggil dokumen, dan (2) mengelompokkan bahan pustaka sejenis menjadi satu jajaran atau berdekatan (Subrata, 2009, hlm. 2). Sistem klasifikasi yang digunakan perpustakaan perlu memiliki kriteria sistem klasifikasi yang baik. Menurut Berwick Sayers (dalam Setiawan, 2011, hlm.5-6 ) adalah sebagai berikut, (1) Universal, sistem klasifikasi meliputi seluruh bidang pengetahuan, sehingga berbagai bihak dari berbagai disiplin ilmu dapat menggunakan sistem klasifikasi, (2) Terinci, sistem klasifikasi meliputi pembagian bidangbidang ilmu pengetahuan yang rinci, sehingga koleksi mendapat klasifikasi yang sesuai, (3) Sistematis, sistem klasifikasi terususun atas bagan yang jelas seperti notasi yang berurutan dari kecil hingga yang terbesar, (4) Fleksibel, sistem klasifikasi memiliki bagan yang fleksibel, (5) sistem klasifikasi harusn memiliki notasi yang sederhana, untuk dapat mewakili suatu subyek, (6) sistem klasifikasi memiliki indeks yang masing-masing mengacu kepada suatu tempat, dan (7) memiliki badan pengawas dalam pelaksanaan penggunaan sistem klasifikasi. Dalam penentuan nomor klasifikasi ini, Perpustakaan IKOPIN menggunakan Sistem Library of Congress Classification (LCC). Sistem LCC merupakan sistem klasifikasi yang pertama dikembangkan di akhir abad 19 dan di awal abad 20 untuk mengatur koleksi buku yang ada di Pepustakaan Kongres Amerika. Selama abad ke 20, sistem ini juga diadopsi untuk digunakan di perpustakaan yang lain yang juga merupakan perpustakaan akademik dalam lingkup besar di United States. Saat ini sistem klasifikasi LCC merupakan salah satu sistem klasifikasi perpustakaan yang paling banyak digunakan di dunia. Seperti sistem klasifikasi lain yang berasal dari abad 19, Library of Congress Classification (LCC) pada dasarnya diklasifikasikan menurut disiplin ilmu. Seluruh area pengetahuan dibagi ke dalam kelas utama sesuai dengan disiplin ilmu akademiknya. Karena menggunakan huruf sebagai notasi untuk mewakili kelas utama, ada angka yang lebih besar dari kelas utama dalam LCC daripada dalam DDC. Kelas utama dibagi ke dalam beberapa sub kelas, yang lebih lanjut dibagi kedalam aspek bentuk, wilayah, waktu, dan subyek (atau topik). Sistem yang demikian membentuk struktur yang hirarki, yang berkembang dari umum ke khusus. Dalam penggunaannya sistem LCC digunakan di Perpustakaan IKOPIN untuk memudahkan penemuan kembali informasi pada rak koleksi. Temu balik informasi merupakan suatu proses pencarian informasi yang dibutuhkan oleh pemustaka dengan dibantu oleh alat telusur elektronik maupun sumber daya manusia (pustakawan) yang ada di perpustakaan Menurut SulistyoBasuki (2004, hlm. 233) temu balik informasi merupakan keberagaman dari operasi berurutan yang dilakukan untuk menentukan lokasi informasi yang diperlukan atau dokumen yang berisi informasi tersebut, disusul dengan penyediaan dokumen atau kopinya dan dihasilkan oleh sarana temu balik informasi. Sedangkan Zainab (dalam Purwono, 2010, hlm. 153) menjelaskan bahwa temu kembali sebagai suatu proses pencarian dokumen dengan menggunakan istilah-istilah pencarian untuk mendefinisikan dokumen sesuai dengan subyek yang diinginkan. Salton (dalam Purwono, 2010, hlm. 153) pun menjelaskan bahwa secara sederhana temu kembali informasi merupakan suatu sistem yang menyimpan informasi dan menemukan kembali informasi tersebut. Tahapan temu balik informasi merupakan langkah-langkah yang dilakukan oleh pemustaka dalam mencari informasi yang dibutuhkan dengan cepat, mudah dan relevan. Temu balik informasi merupakan proses menemukan koleksi yang diinginkan setelah melakukan penelusuran informasi dan terjadi kecocokan antara apa yang dicari dengan yang diterima (Husni, 2016, hlm. 27). Beberapa informasi atau dokumen diorganisasikan kedalam sebuah media penyimpanan data, seperti media digital. Tujuannya untuk memudahkan temu balik informasi. Ingwersen (dalam Purwono, 2010, hlm. 153) memberikan ilustrasi model temu kembali informasi melalui proses sederhana seperti terlihat pada Gambar 1 di bawah ini Gambar 1. Proses Temu Kembali Informasi Gambar diatas dapat secara sederhana didefinisikan, “Representation” menunjukkan representasi dokumen, data dan informasi yang disimpan, “Query” menunjukkan representasi dari pertanyaan pengguna akan informasi yang dibutuhkan atau diinginkan, kemudian “Matching Function” yang merupakan fungsi pencocokan antara representasi data/dokumen dengan pertanyaan dari pengguna informasi. Secara sederhana temu kembali informasi ini dapat diartikan sebagai pencarian informasi yang dilakukan oleh pengguna dalam dokumen atau informasi yang tersedia sehingga apabila dokumen atau informasi tersebut ditemukan maka hal tersebut dapat dikatakan “Matching Function”, informasi yang diinginkan ditemukan dalam dokumen. Beberapa penelitian mengenai sistem klasifikasi dan temu balik informasi didapatkan dari berbagai sumber. Penelitian yang dilakukan oleh Deaisya Maryama pada tahun 2012 dengan judul “Analisis sistem pengklasifikasian koleksi di Perpustakaan Kolese Santo Ignatius Yogyakarta” menghasilkan kesimpulan bahwa sistem klasifikasi yang digunakan dikatakan baik serta memenuhi kriteria klasifikasi yang memenuhi kriteria pengklasifikasian. Kemudian penelitian selanjutnya berjudul “Temu kembali bahan pustaka di perpustakaan STKIP PGRI Sumbar” Yang dilakukan oleh Fandi Ahmad, pada tahun 2012. Penelitian ini menemukan bahwa pencarian bahan pustaka di perpustakaan STKIP PGRI adalah sisi berdasarkan jurusan. Penyusunan koleksi pada rak didasarkan pada tiap jurusan yang ada di STKIP tersebut. Terakhir adalah penelitian yang dilakukan dengan Devita Kusumawardani pada tahun 2013 dengan judul “Temu kembali informasi dengan keyword (studi deskriptif tentang sistem temu kembali informasi dengan controlled vocabulary pada field judul, subyek, dan pengarang di perpustakaan universitas Airlangga)”. Penelitian ini menemukan bahwa penggunaan subyek sebagai keyword dalam pencarian koleksi di OPAC adalah yang paling sulit daripada menggunakan field judul dan pengarang. Pencarian koleksi dengan menggunakan subyek dikatakan kurang efektif karena banyak subyek yang tidak dapat menemukan koleksi yang sesuai.
Method
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah metode studi deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Partisipan yang terlibat pada penelitian ini merupakan orang yang terlibat langsung dalam subyek penelitian. Partisipan tersebut adalah dua orang pustakawan dan seorang alumnus IKOPIN yang sudah lama melakukan magang serta 1 Informan yang ahli di bidang klasifikasi. Pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah Observasi, Wawancara dan Studi Dokumentasi.
Result & Discussion
Pembahasan hasil penelitian dimaksud untuk menjawab rumusan masalah umum dan rumusan masalah khusus. Rumusan masalah umum pada penelitian ini adalah “Bagaimana penggunaan system Library of Congress Classification (LCC) dalam temu balik informasi di Perpustakaan IKOPIN?” Kemudian untuk fokus masalah khusus yaitu sebagai berikut, yaitu (1) Apa alasan pustakawan menggunakan system Library of Congress Classification (LCC) di Perpustakaan IKOPIN? (2) Bagaimana proses temu balik informasi yang ada di perpustakaan IKOPIN? (3) Apa sajahambatan dalam temu balik informasi yang dilakukan oleh pustakawan dengan menggunakan sistem Library of Congress Classification (LCC) di perpustakaan IKOPIN? Adapun pembahasannya sebagai berikut: 1. Rumusan masalah umum Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, peneliti mengambil kesimpulan bahwa penggunaan sistem Library of Congress Classification (LCC) yang sudah lama digunakan pada Perpustakaan IKOPIN memudahkan temu balik informasi. Analisis yang digunakan adalah berdasarkan kriteria klasifikasi yang baik menurut Berwick Sayers. Peneliti menemukan penggunaan sistem LCC memenuhi 5 kriteria dari 7 kriteria klasifikasi yang baik yaitu, Universal, Terinci, Sistematis, Fleksibel, dan Memiliki Indeks, sedangkan untuk kriteria memiliki notasi sederhana tidak dimiliki oleh sistem LCC, serta belum memiliki badan pengawas yang mengawasi penggunaan sistem LCC di Perpustakaan IKOPIN. Walaupun begitu, sistem klasifikasi memudahkan temu kembali informasi yang dilakukan khususnya oleh pustakawan ataupun petugas perpustakaan. 2. Rumusan masalah khusus a. Pustakawan menggunakan sistem Library of Congress Classification (LCC) di Perpustakaan IKOPIN karena merupakan arahan dari konsultan yang dulu bekerja sama dengan Perpustakaan Badan Urusan Logistik (Bulog) dan Kementerian Koperasi. Sistem klasifikasi ini digunakan awalnya oleh Perpustakaan Bulog dan akhirnya diikuti oleh Perpustakaan IKOPIN. Hingga sekarang perpustakaan masih menggunakan dan mempertahankan penggunaan sistem LCC. b. Proses Temu balik Informasi yang dilakukan di Perpustakaan IKOPIN dilakukan oleh pemustaka dan pustakawan. Tetapi penelitian ini berfokus pada temu balik informasi yang dilakukan pustakawan pada rak koleksi. Proses ini dilakukan dengan melihat notasi LCC pada call number yang ada pada punggung buku. proses ini dipermudah dengan adanya sistem layanan tertutup. Dengan sistem layanan tersebut, pentaaan kembali koleksi pada rak koleksi lebih rapi sehingga penemuan kembali informasi dapat dengan mudah didapatkan. c. Hambatan yang kadang-kadang dirasakan oleh pustakawan adalah ketika penempatan koleksi yang dilakukan oleh selain pustakawan atau petugas perpustakaan melakukan penataan koleksi yang tidak sesuai dengan tempatnya. Hal tersebut dikarenakan pemahaman dalam penataan yang disesuaikan pada kelasnya masih kurang. Analisis Sistem Library of Congress Classification (LCC) dalam Temu Balik Informasi Sistem Library of Congress Classification (LCC) merupakan salah satu sistem yang digunakan di perpustakaan. Sistem ini awalnya digunakan untuk mengatur koleksi buku yang ada di Perpustakaan Kongres Amerika yang terbilang besar. Sistem LCC membagi seluruh bidang pengetahuan kedalam 21 kelas utama, yang disimbolkan dengan huruf alfabet. Kemudian dibagi lagi menjadi sub kelas yang lebih spesifik disimbulkan dengan dua atau tiga huruf dan sub selanjutnya yang lebih spesifik lagi diikuti oleh angka berkisar antara satu sampai empat digit. Sistem klasifikasi apapun yang digunakan pada perpustakaan merujuk pada bagaimana fungsinya sebagai alat bantu untuk menemukan informasi.Namun penggunaan sistem klasifikasi ini pun harus melihat kriteria-kriteria yang baik dari sebuah sistem klasifikasi. Kriteria tersebut adalah Universal, Terinci, sistematis, Fleksibel, memiliki notasi yang sederhana, memiliki Indeks dan memiliki Badan Pengawas. Dari kriteria tersebut dapat disimpulkan bahwa sistem LCC memenuhi 5 kriteria dari 7 kriteria yang ada. Kriteria tersebut adalah Universal, bahwa sistem LCC memuat seluruh bidang pengetahuan, kemudian Terinci, dimana sistem LCC memiliki notasi yang sangat terperinci, rumit dan detail sehingga seluruh koleksi mendapatkan nomor klasifikasi yang sesuai dengan subyeknya. Kriteria selanjutnya yaitu Sistematis, dimana notasi yang digunakan dalam sistem LCC adalah tersusun secara konsisten dari angka kecil hingga terbesar serta penyusunan pada rak koleksi mengikuti susunan klasifikasi pada koleksi, kemudian sistem LCC memiliki kriteria Fleksibel karena apabila koleksi yang memiliki revisi atau perubahan tanpa mengubah judul asli, nomor klasifikasi yang digunakan masih sama dengan koleksi yang terlebih dulu ada pada perpustakaan. Terakhir adalah sistem LCC yang memiliki indeks pada setiap buku subyek yang ada pada bagian belakang buku. Bila orang berbicara tentang temu balik informasi, maka yang dimaksud adalah temu balik dokumen, hal ini sudah wajar karena informasi disimpan pada dokumen dan dokumen diindeks untuk memudahkan temu baliknya (Sulistyo-Basuki, 2004, hlm. 225). Diagram 1 dibawah ini menjelaskan alur dokumen yang direpresentasikan dari input hingga output. Diagram 1. Diagram simpan dan temu balik dokumen Konverter masukan (Input Converter) pada pusat dokumentasi adalah pengkatalogan. Di bagian ini dibuat data bibliografi dari sebuah dokumen, direkam pada katalog kartu maupun digital seperti pada mesin komputer. Data bibliografi tersebut seperti nomor klasifikasi, tajuk subyek, dan alamat dokumen yang disebut nomor panggil atau call number yang biasanya ditempelkan pada punggung dokumen seperti halnya pada punggung buku. Simpanan Pasif (Passive Store) adalahrak tempat menyimpan buku sesuai dengan nomor panggilnya, sedangkan Simpanan Aktif (Active Store) adalah katalog, dapat berupa manual (kartu) maupun katalog di komputer atau Online Access Public Catalog(OPAC). Katalog ini sering digunakan pemustaka dalam mencari dokumen atau koleksi yang diinginkan. Pustakawan yang melakukan kegiatan pengatalogan ini merupakan Gawai Masukan (Input Device) dan ruang baca atau meja sirkulasi merupakan Gawai Luaran (Output Device). Pemecah (Resolver) disini mengacu pada kata-kata kunci yang digunakan dalam mencari informasi dokumen atau koleksi yang diinginkan melalui katalog manual (kartu) ataupun melalui OPAC. Pada alur sebelumnya dapat dipahami tentang alur pencarian dokumen atau koleksi yang dilakukan oleh pemustaka. Alur tersebut dapat disederhanakan seperti terlihat pada Diagram 2. dibawah ini. Diagram 2. Alur sederhana simpan dan temu balik informasi Dalam perpustakaan, diagram tersebut dapat diartikan bahwa ketika ada permintaan informasi dari pemustaka, akan ada pemecah (resolver) yang dapat berupa kata-kata kunci atas informasi yang dicari dan dapat mewakili informasi tersebut, kemudian pemustaka akan mencari informasi tersebut ke dalam simpanan aktif, dalam hal ini OPAC atau katalog kartu. Ketika mendapat informasi yang dicarinya, pemustaka pun akan langsung menuju simpanan pasif, yaitu rak buku untuk kemudian dicari dan didapatkan untuk dibaca di ruang baca ataupun dipinjam. Alur ini merupakan alur yang memang digunakan di perpustakaan pada umumnya. Namun ada hal yang perlu diingat bahwa alur tersebut harus disesuaikan dengan kebijakan sistem pelayanan perpustakaan. Ada dua macam sistem layanan yaitu sistem layanan terbuka dan sistem layanan tertutup. Sehingga apabila sistem ini ditambahkan pada diagram diatas, maka alurnya menjadi seperti pada Diagram 3. dibawah ini. Diagram 3. Diagram simpan dan temu balik dokumen (dengan perubahan dari peneliti) Diagram diatas menunjukkan bahwa ada sesuatu yang perlu ditambahkan dalam sebuah sistem temu balik dan simpan dokumen atau koleksi, yaitu sistem layanan yang diberlakukan oleh pusat dokumentasi atau dapat juga perpustakaan. Dengan diberlakukannya sistem layanan, maka dalam pencarian informasi oleh pemustaka akan diketahui bagaimana cara mendapatkan informasi. Pada perpustakaan IKOPIN yang mengunakan sistem layanan tertutup dalam temu balik informasinya akan ada kelebihan dan kekurangan dalam pelaksanaannya. Peneliti menemukan bahwa sistem layanan tertutup membuat kesulitan pencarian informasi menjadi berkurang, karena kegiatan shelving dilakukan oleh pustakawan maka penempatan buku pada klasifikasinya relatif tepat dan sesuai dengan rak koleksi. Dalam temu balik informasi, perpustakaan menggunakan sistem klasifikasi yang dapat mewakili buku dalam pencariannya. Sistem LCC yang dapat dikatakan cukup baik berdasarkan kriteria klasifikasi yang baik ini memudahkan untuk pencarian koleksi di rak. Sistem LCC memiliki notasi yang rinci dalam penggunaannya. Walaupun begitu temu balik informasi tetap berjalan dan tidak terhambat karena pustakawan atau petugas perpustakaan sudah terbiasa dalam melakukan pencarian koleksi. Maka alur pencarian informasi yang didapatkan pada Perpustakaan IKOPIN dibagi menjadi dua bagian, yaitu pencarian informasi yang dilakukan oleh pemustaka dan pencarian informasi yang dilakukan oleh pustakawan. Pencarian informasi tersebut digambarkan pada Diagram 4. di bawah ini. Diagram 4. Alur Pencarian Informasi di Perpustakaan IKOPIN Alur pencarian pertama dilakukan oleh pemustaka, dimana pemustaka mencari koleksi pada sistem OPAC dan kemudian menuliskan identitas koleksi yang diinginkan pada form pencarian. Form tersebut diserahkan pada pustakawan bagian pencarian koleksi dan pustakawan mencari koleksi yang dinginkan pemustaka sampai pada akhirnya koleksi tersebut diberikan pada pemustaka.
Conclusion
Sistem klasifikasi Library of Congress Classification (LCC) yang terbilang cukup rumit dalam penentuan nomor klasifikasi buku tidak menjadi masalah ataupun hambatan oleh pustakawan. Sistem LCC yang digunakan pada Perpustakaan IKOPIN memudahkan penemuan kembali informasi terbantu dengan adanya sistem layanan tertutup yang membuat koleksi buku hanya bisa ditemukan oleh pustakawan. Sehingga penataan koleksi pun selalu rapi dan memudahkan temu balik informasi pada rak koleksi. Berikut ini adalah simpulan yang didapatkan mengenai penelitian yang dilakukanpada Perpustakaan IKOPIN. 1) Penggunaan sistem LCC di Perpustakaan IKOPIN berawal dari kerjasama yang dilakukan dengan Perpustakaan Bulog dan Kementerian Koperasi, yang memiliki konsultan yang sama sehingga harus mengikuti arahan dari konsultan untuk menggunakan sistem LCC yang sudah terlebih dahulu digunakan oleh Perpustakaan Bulog dan Kementerian Koperasi. 2) Proses Temu balik informasi di Perpustakaan dilakukan oleh pemustaka dan pustakawan. Proses yang dilakukan dapat dikatakan berbeda. Pertama, temu balik informasi yang dilakukan oleh pemustaka melalui sistem temu kembali informasi atau yang disebut OPAC. Kedua, temu balik informasi yang dilakukan oleh pustakawan langsung pada rak koleksi sesuai dengan permintaan pemustaka. Proses ini disesuaikan dengan kebijakan sistem layanan perpustakaan IKOPIN yaitu menggunakan sistem layanan tertutup. 3) Hambatan yang dirasakan dalam temu balik informasi adalah ketika penempatan buku yang tidak sesuai pada kelasnya yang dilakukan oleh selain pustakawan melainkan petugas perpustakaan yang melakukan kegiatan magang. Hambatan yang dirasakan pustakawan dalam menggunakan sistem LCC dalam temu balik informasi dapat diminimalisir karena terbiasa menggunakan sistem LCC serta dipengaruhi oleh sistem layanan tertutup yang digunakan sehingga penataan koleksi pada rak dapat ditemukan dengan cepat. Peneliti menyimpulkan bahwa sistem klasifikasi yang digunakan oleh berbagai jenis perpustakaan akan membantu bagaimana penemuan kembali informasi pada koleksi. Penemuan ini tidak lepas dari pemahaman mengenai sistem klasifikasi yang digunakan oleh perpustakaan. Pemahaman tersebut bukan hanya oleh pustakawan sendiri tetapi juga pemustaka untuk dapat memudahkannya dalam proses temu balik informasi