Analisis Kebiasaan Membaca Buku Non Fiksi Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa MAN 2 Tanah Datar
Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar
Abstrak
Pokok permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah kurangnya kebiasaan membaca dan motivasi belajar siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menjelaskan kebiasaan membaca buku non fiksi untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, faktor yang mempengaruhi kebiasaan membaca buku non fiksi dan motivasi belajar siswa, serta upaya perpustakaan dalam mengatasi kurangnya kebiasaan membaca buku non fiksi dan motivasi belajar siswa MAN 2 Tanah datar. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian menggunakan data primer dan data sekunder, untuk teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data dianalisis dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Penjaminan keabsahan data menggunakan triangulasi teknik, sumber dan waktu. Berdasarkan hasil analisis dan temuan penelitian menunjukkan bahwa kurangnya kebiasaan membaca buku non fiksi (buku pelengkap) dikategorikan sedang sehingga mempengaruhi motivasi belajar siswa. Berdasarkan pengamatan kunjungan dan peminjaman buku di perpustakaan. Faktor yang mempengaruhi kebiasaan membaca dan motivasi belajar yaitu faktor internal seperti rasa malas membuat siswa lupa akan tugas dan kurangnya tanggung jawab. Faktor eksternal seperti pengaruh teman, pengaruh keluarga, pengaruh sosial media, membuka Whatsapp, Facebook, Instagram, dan menonton Youtube daripada membaca buku, serta kurangnya koleksi dan fasilitas perpustakaan. Upaya yang dilakukan perpustakaan meliputi pelayanan yang efektif, cepat, tepat, dan memuaskan. Menyediakan fasilitas sesuai standar perpustakaan sekolah. Mengadakan kegiatan literasi sekolah seperti menulis karya fiksi/non fiksi, karya ilmiah, dan kegiatan perlombaan seperti menulis cerpen.
Abstract
The subject matter discussed in this study is the lack of reading habits and student learning motivation. The purpose of this study was to determine and explain the habit of reading non-fiction books to increase student learning motivation, factors that influence the habit of reading non-fiction books and student learning motivation, as well as library efforts in overcoming the lack of habit of reading non-fiction books and learning motivation of MAN 2 Tanah Datar students. The type of research used is descriptive qualitative. The research data sources used primary data and secondary data, for data collection techniques used were observation, interviews, and documentation. Data were analyzed by data collection, data reduction, data presentation and conclusion drawing. Data validity assurance uses triangulation of techniques, sources and time. Based on the results of the analysis and research findings, it shows that the lack of habit of reading non-fiction books (complementary books) is categorized as moderate, thus affecting students' learning motivation. Based on observations of visits and borrowing books in the library. Factors that affect reading habits and learning motivation are internal factors such as laziness making students forget about assignments and lack of responsibility. External factors such as the influence of friends, family influence, social media influence, opening Whatsapp, Facebook, Instagram, and watching Youtube rather than reading books, as well as the lack of library collections and facilities. Efforts made by the library include effective, fast, precise, and satisfying services. Providing facilities according to school library standards. Organizing school literacy activities such as writing fiction/nonfiction works, scientific works, and competition activities such as writing short stories.
Keywords:
Membaca
· Motivasi Belajar
· Perpustakaan
Introduction
Perpustakaan merupakan lembaga yang mengumpulkan, mengelola koleksi bahan pustaka, baik secara cetak maupun elektronik, untuk memenuhi kebutuhan pemustaka terhadap informasi yang mereka butuhkan. Menurut Undang-Undang Perpustakaan Nomor 43 Tahun 2007 menyatakan bahwa perpustakaan adalah lembaga yang mengelola karya tulis, karya cetak dan karya rekam secara profesional menggunakan sistem yang terbuka untuk kebutuhan pendidikan, penelitian, penyimpanan informasi, hiburan serta kebutuhan pengguna [1]. Perpustakaan disebut juga sebagai bagian terpenting dalam dunia pendidikan dimana proses belajar tidak bisa berjalan tanpa adanya penyediaan informasi yang lengkap yang dibutuhkan penggunanya, salah satunya adalah perpustakaan sekolah. Dalam pengertian perpustakaan di atas maka terdapat beberapa jenis perpustakaan. Perpustakaan didirikan dengan tujuan dan tugas yang berbeda-beda, dimana perbedaan tujuan dan tugas tersebut memungkinkan untuk membedakan jenis perpustakaan. Berdasarkan Undang-Undang Perpustakaan Nomor 43 Tahun 2007 dijelaskan bahwa perpustakaan terbagi atas perpustakaan nasional, perpustakaan umum, perpustakaan sekolah/madrasah, perpustakaan universitas dan perpustakaan khusus [1]. Dari jenis-jenis perpustakaan yang disebutkan berikut akan membahas tentang perpustakaan sekolah. Perpustakaan yang terletak di lingkungan sekolah dasar atau sekolah menengah kedinasan, adalah bagian penting sistem kegiatan sekolah dan proses belajar mengajar yang menunjang terwujudnya tujuan dalam pendidikan sekolah [2]. Perpustakaan sekolah merupakan tempat penyimpanan informasi dan pengetahuan yang terletak di lingkungan sekolah yang berfungsi sebagai pusat pembelajaran dalam menunjang tercapainya tujuan pendidikan. Fokus utamanya adalah membantu institusi pendidikan sekolah secara keseluruhan. Perpustakaan sekolah memainkan peran penting dalam menunjang pendidikan sekolah dan proses pembelajaran karena menyediakan layanan berkualitas tinggi yang meningkatkan aktivitas dan kualitas siswa. Salah satu bentuk pemanfaatan perpustakaan oleh siswa adalah membaca. Membaca disebut sebagai jendela dunia, dimana memantau atau mencari ilmu pengetahuan yang terjadi dimasa lalu, sekarang, dan bahkan masa depan. Membaca proses mencari informasi kemudian mengolahnya menjadi informasi melalui penalaran. Membaca merupakan aktivitas yang bertujuan untuk mendapatkan informasi yang berbeda-beda di dalam tulisan [3]. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia [4] membaca berarti melihat dan memahami apa yang tertulis, mengeja dan membaca apa yang tertulis, mengkaji serta memahami tulisan. Membaca juga proses berfikir untuk memungkinkan seseorang untuk memahami maksud dari tulisan yang dibaca. Perintah membaca di dalam Al-Qur’an, yang ditemukan di dalam surat Al-Alaq ayat 1-5, harus ditinjau lebih lanjut sehubungan dengan pembahasan ini, yaitu tentang membaca: “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan (1) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (2) Bacalah dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah (3) yang mengajar manusia dengan perantara kalam (4) Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (5).” Perintah ini begitu penting sehingga diulangi secara dua kali di dalam kitab wahyu pertama. Perintah ini jelas diberikan kepada umat manusia sepanjang zaman, bukan hanya kepada Nabi Muhammad SAW, karena pelaksanaan perintah merupakan kunci kebahagiaan di dunia dan di masa depan. Oleh sebab itu, membaca adalah hal paling penting untuk kesuksesan manusia. Namun, sangat disayangkan bahwa, meskipun sebagian besar umat Islam terkait langsung dengan tarekat ini, hanya sedikit yang memahaminya, terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa [5]. Membaca merupakan suatu aktivitas yang menghubungkan beberapa aspek, diantaranya aktivitas visual, berfikir, psikolinguistik dan metakognitif, selain hanya sekedar menafsirkan suatu tulisan. Indikator membaca juga dapat berupa sebab dan tujuan dalam membaca, keingingan, meluangkan waktu baca, memilih bahan bacaan, dukungan orang tua, dan dukungan guru. Di dalam membaca juga dibutuhkan suatu kebiasaan membaca. Pembiasaan terjadi ketika seseorang sering melakukan hal yang belum atau jarang dikerjakan yang akhirnya menjadi suatu kebiasaan [6]. Menurut Aristoteles dan Anthony Giddens [7] bukan pengetahuan atau nalar yang menentukan kualitas hidup, tetapi habitus atau kebiasaan yang baik, yang menentukan kualitas hidup. Kebiasaan membuat struktur hidup yang memudahkan orang bertindak. Kebiasaan di identik dengan sifat yang melekat pada setiap individu. Aktivitas yang telah mendarah daging dalam diri seseorang, dapat dikatakan suatu kebiasaan yang memiliki waktu yang lama atau terus berlanjut dalam diri seseorang. Menurut James, beraktivitas tanpa menentukan waktu dan tempat, sulit untuk diwujudkan, dengan itu perlu membuatnya agar terlihat. Jika dilakukan secara rutin maka akan menjadi kebiasaan. Jika ingin membentuk kebiasaan membaca, lakukanlah secara rutin, cukup membaca buku sekitar 5-10 menit perhari. Jika sudah rutin membaca, bisa menambah waktu membaca menjadi 10-20 menit dan seterusnya. Jika tidak memiliki banyak waktu, cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan membaca segera setelah bangun tidur atau saat istirahat, dengan membuat jadwal beberapa kali dalam seminggu harus membaca buku [8]. Kebiasaan membaca dimana seseorang melakukan aktivitas membaca secara terus berulang yang menetap dalam dirinya tanpa adanya unsur paksaan. Oleh karena itu, lingkungan keluarga mempunyai peran penting dalam menumbuh kembangkan kebiasaan membaca anak. Kebiasaan membaca adalah suatu kegiatan yang menetap dan terarah. Mengukur kebiasaan membaca dapat dilihat melalui 1) intensitas dan waktu, 2) jenis bacaan, 3) sikap, 4) motivasi, 5) keterampilan membaca [9]. Adanya kebiasaan membaca tentu dibutuhkan koleksi bacaan untuk dibaca. Bahan informasi yang dikumpulkan, diolah dan disimpan untuk didistribusikan pada pembaca untuk memenuhi kebutuhan informasinya adalah koleksi perpustakaan. Bahan perpustakaan yang tersedia di perpustakaan dapat dibagi menjadi dua kategori, cetak dan non cetak. Koleksi perpustakaan dirancang untuk mendukung program lembaga induknya. Semua perpustakaan bertanggung jawab atas pelayanan perpustakaan tentunya. Pengelolaan koleksi tidak boleh bertentangan dengan tujuan lembaga induk yang relevan. Koleksi perpustakaan harus serbaguna dan lengkap untuk memenuhi tujuan dan inisiatif lembaga induk. Jenis koleksi yang disediakan di perpustakaan meliputi: Buku referensi, materi pendidikan, serial, terbitan pemerintah, muatan lokal, dan bahan bacaan sebagai hiburan intelektual [10]. Jenis koleksi perpustakaan yang akan dibahas adalah koleksi buku non fiksi. Buku non fiksi suatu kumpulan karya informatif dengan pengarang yang bertanggung jawab mengenai kebenaran informasi dan kejadian peristiwa disediakan [11]. Karya ini disediakan secara obyektif ataupun subyektif. Fiksi dan non fiksi memiliki perbedaan antara fakta dan tidak fakta (rekaan), walaupun demikian tidak dapat mengubah gaya bahasa dalam pembuatan cerita [12]. Buku yang dibuat berdasarkan fakta, kenyataan dan masih dapat diresensi adalah salah satu ciri buku non fiksi [13]. Disebut juga suatu karangan yang berdasarkan fakta atau kejadian sebenarnya dalam kehidupan setiap hari. Non fiksi adalah sebuah karangan cerita berbentuk nyata atau cerita kehidupan yang dijadikan dalam sebuah cerita. Demikian non fiksi disebut karya nyata atau kejadian yang benar adanya [14]. Jenis buku non fiksi ialah buku biografi, buku pendamping, buku literatur dan buku motivasi. Indikator dalam buku non fiksi antara lain 1) memiliki ide yang jelas, 2) informasi yang sesuai fakta, 3) membuat temuan baru, dan 4) memuat motivasi. Jenis koleksi buku non fiksi yang dibahas dalam penelitian ini tentang buku pendamping/buku pelengkap. Buku pendamping merupakan pendamping buku utama. Nama lain buku pendamping adalah buku pengayaan. Buku pengayaan atau buku pelengkap digunakan untuk mempermudah penjelasan dibuku utama. Walaupun demikian buku ini tidak dapat dikatakan sebagai buku pegangan utama yang digunakan dalam proses pembelajaran [15]. Buku nonteks pelajaran/buku pelengkap yang diterbitkan dan dapat diakses tidak mengandung pornografi, kekerasan, ujaran kebencian, dan menyinggung suku, adat istiadat, ras atau agama (SARA). Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 3 Tahun 2017 terkait Sistem Perbukuan Berbasis Keberagaman menyatakan bahwa yang diperlukan untuk menjalankan sistem perbukuan adalah nasionalisme, kebangsaan, solidaritas, profesionalisme, integrasi, kesetaraan, partisipasi masyarakat, dan gotong royong. Dalam buku panduan perjenjangan buku nonteks pelajaran untuk pengguna buku nonteks pelajaran merupakan masyarakat umum [16]. Dalam penjelasan ini terkait jenis buku sebagai tujuan pendidikan yang berbeda-beda dalam saluran yang berbeda-beda, baik pada lembaga pendidikan formal maupun lebih luas lagi pada pendidikan masyarakat secara keseluruhan. Dapat dilihat jenis koleksi yang disediakan di perpustakaan MAN 2 Tanah Datar adalah sebagai berikut. Tabel 1. Buku Mata Pelajaran MAN 2 Tanah Datar 2022-2024 No Buku Pelajaran Jumlah Buku Perkelas Kelas X Kelas XI Kelas XII 1 PAI 3.624 3.347 2.908 2 Kewarganegaraan 666 734 286 3 B. Indonesia 663 596 348 4 B. Arab 1.161 702 501 5 B. Inggiris 528 638 273 6 Matematika 1.130 1.089 703 7 Fisika 592 512 485 8 Kimia 315 423 392 9 Biologi 477 478 392 10 Sejarah 740 880 413 11 Geografi 372 451 467 12 Ekonomi 316 248 379 13 Sosiologi 440 230 273 14 Bahasa Asing 86 0 2 15 Ilmu Tafsir 92 138 244 16 Tafsir 75 69 77 17 Ushul Fikih 90 108 180 18 Ilmu Hadist 314 130 184 19 Hadist 78 68 72 20 Akhlak 0 4 81 21 Ilmu Kalam 178 161 204 22 Seni Budaya 124 372 65 23 Penjaskes 112 334 91 24 TIK 98 28 45 25 BK 1 1 1 26 Lingkungan Hidup 5 0 3 27 Prakarya dan Kewirausahaan 10 270 10 28 Pendidikan Karakter 1 1 1 Jumlah 12.288 12.012 9.080 Tabel 2. Buku Pelengkap di Pinjam No Buku Pelengkap Jumlah Buku Di Pinjam Kelas X Kelas XI Kelas XII 1 Sejarah Peminatan 2 2 2 2 Ilmu Ekonomi 3 6 6 6 3 Fokus UTB Saintek 1 1 1 Jumlah 9 9 9 Motivasi merupakan suatu dorongan dari dalam maupun luar diri individu, yang menyebabkan individu mengorientasikan dan mengekspresikan tingkah laku, sikap dan tindakannya sehingga terdorong untuk melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan sesuai kebutuhan. Di dalam belajar, motivasi dapat diartikan sebagai motivasi seluruh siswa, menciptakan kegiatan belajar yang menjamin berlangsungnya kegiatan dan arah belajar. Oleh karena itu, motivasi belajar berasal dari faktor psikologis yang tidak bersifat intelektual. Siswa yang bermotivasi tinggi akan mempunyai tenaga yang lebih besar untuk melaksanakan kegiatan belajar. Dimana hasil belajar akan lebih ideal apabila terdapat motivasi yang tepat. Motivasi belajar merupakan dorongan atau semangat belajar. Seluruh kegiatan yang menimbulkan semangat untuk belajar, memastikan akan kelangsungan belajar yang memberikan arah demi mencapai suatu tujuan [17]. Motivasi belajar dapat diukur melalui indikator antara lain 1) tekun menghadapi tugas 2) ulet menghadapi kesulitan 3) keinginan yang kuat untuk mencapai tujuan 4) bekerja sama 5) senang belajar. Perpustakaan MAN 2 Tanah Datar merupakan salah satu sarana prasarana sekolah, gudang bahan pustaka, tempat berbagai informasi ilmu pengetahuan yang mendorong pembangunan bangsa serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Pemanfaatan perpustakaan dapat dilihat pada jumlah pengunjung dan peminjaman buku di perpustakaan. Tabel 3. Pengunjung Perpustakaan Tahun Pengunjung 2014 1450 Orang 2015 1570 Orang 2016 1478 Orang 2017 1707 Orang 2018 1760 Orang 2019 1800 Orang 2020 1910 Orang 2021 1965 Orang 2022 2010 Orang 2023 995 Orang 2024 500 Orang Jumlah 17.145 Orang Tabel 4. Peminjaman Buku Perpustakaan Tahun Peminjaman 2014 1290 Eksemplar 2015 1380 Eksemplar 2016 1475 Eksemplar 2017 1500 Eksemplar 2018 1678 Eksemplar 2019 1800 Eksemplar 2020 1850 Eksemplar 2021 1880 Eksemplar 2022 1905 Eksemplar 2023 870 Eksemplar 2024 150 Eksemplar Jumlah 15.778 Eksemplar Menurut Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2017 Tentang Standar Nasional Perpustakaan Kabupaten/Kota bahwa jumlah kunjungan ke perpustakaan paling sedikit 0.10 per kapita per tahun. Untuk jumlah sirkulasi (peminjaman) koleksi paling sedikit 0.125 dari keseluruhan koleksi [18]. Dari data pengunjung dan peminjaman koleksi perpustakaan dapat diketahui bahwa tiap tahun terjadi persentase naik turun jumlah pengunjung dan peminjaman koleksi di perpustakaan. Seberapa banyak kunjungan dan meminjam koleksi memperlihatkan bagaimana pemanfaatan perpustakaan. Tingkat kunjungan dan peminjaman buku dikategorikan sedang dari 963 siswa yang berkunjung tiap tahunnya. Berdasarkan hasil observasi awal yang peneliti lakukan di perpustakaan MAN 2 Tanah Datar hasil wawancara bersama pustakawan pada tanggal 20 Desember 2023 bahwa “kebiasaan membaca buku non fiksi, buku pelengkap, baca di tempat dan dipinjam dibawa pulang dari tahun 2021-2023 adalah rata-rata perbulan sebanyak 50 judul buku dari siswa kelas 10 sampai siswa kelas 12”. Selanjutnya peneliti juga wawancara dengan pemustaka CC dkk pada tanggal 20 Desember 2023 menyatakan bahwa “dalam membaca buku non fiksi masih kurang, khusunya untuk penggunaan buku pelajaran pelengkap biasanya digunakan jika membutuhkan referensi buku lain tentang pelajaran yang bersangkutan”. Kebiasaan membaca buku non fiksi sebagai buku pelajaran pelengkap ini di identifikasi masih belum maksimal dan optimal di lakukan, jika dilihat dari pemaparan pemustaka dan data perpustakaan yang berhubungan dengan tingkat motivasi belajar siswa saat ini. Kebiasaan membaca di sekolah sudah diterapkan, dengan menerapkan 15 menit membaca sebelum belajar (literasi) di dalam kelas. Kebiasaan membaca buku dapat dilihat dari koleksi yang disediakan di perpustakaan, jika terdapat koleksi baru tingkat minat baca siswa tinggi, dan jika koleksi perpustakaan masih koleksi lama sebagian siswa hanya membaca untuk tugas sekolah. Sebagai salah satu buku non fiksi, buku pelengkap siswa menggunakannya ketika butuh referensi untuk memperluas jaringan informasi yang masih kurang jelas di dalam buku pelajaran. Disini peneliti mengambil buku non fiksi, dimana sebagai salah satunya buku pelengkap yang tidak menggantikan buku teks yang telah ditetapkan oleh kurikulum, dengan tujuan untuk memberikan dukungan tambahan dan membantu siswa dalam pemahaman materi pelajaran secara lebih menyeluruh. Siswa dapat menggunakan buku non fiksi sebagai referensi tambahan atau sumber belajar tambahan untuk meningkatkan prestasi akademik siswa. Berdasarkan paparan di atas bahwa siswa masih kurang memiliki ketertarikan dalam membaca buku non fiksi khususnya buku pelengkap. Rata-rata siswa membaca ketika guru memberikan tugas sekolah, tetapi bukan berarti tidak suka membaca. Beberapa permasalahan yaitu: 1) kurangnya minat membaca buku non fiksi khususnya buku pelengkap untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, 2) kurangnya kesadaran membaca buku non fiksi khususnya buku pelengkap untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, 3) dan kebiasaan membaca buku non fiksi salah satunya buku pelengkap siswa yang masih rendah. Peneliti tertarik melakukan penelitian ini dikarenakan peneliti ingin mengetahui secara mendalam minat membaca buku pelengkap oleh siswa, kesadaran membaca buku pelengkap oleh siswa, dan kebiasaan membaca buku pelengkap siswa yang masih kurang. Sedangkan alasan peneliti memilih Perpustakaan MAN 2 Tanah Datar sebagai tempat penelitian, dimana lokasi penelitian mudah dijangkau oleh peneliti, dan perpustakaan sekolah yang banyak digunakan oleh siswa sebagai tempat mencari referensi dan berbagai informasi, namun ada beberapa kendala pada kebiasaan membaca buku non fiksi (buku pelengkap) untuk meningkatkan motivasi belajar siswa yang masih kurang. Di sini peneliti juga ingin mengetahui dan mempelajari lebih jauh fenomena yang terjadi di lingkungan perpustakaan, kurangnya kebiasaan membaca buku non fiksi untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, apa faktor yang mempengaruhi masih kurangnya kebiasaan membaca buku non fiksi untuk meningkatkan motivasi belajar siswa serta apakah upaya perpustakaan dalam mengatasi kurangnya kebiasaan membaca buku non fiksi untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Berdasarkan penjelasan sebelumnya, penulis ingin melakukan penelitian lebih lanjut lagi tentang kebiasaan membaca dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Oleh karena itu, penulis memilih judul “Analisis Kebiasaan Membaca Buku Non Fiksi Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Tanah Datar. 2. Metode Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif analisis, dimana penelitian yang digunakan bersifat deskriptif yaitu mengetahui atau menggambarkan fakta-fakta dari peristiwa yang diteliti untuk memudahkan peneliti dalam mengumpulkan data yang obyektif. Metode deskripsi analisis merupakan suatu metode untuk menggambarkan atau memberikan gambaran mengenai objek penelitian melalui data atau sampel yang dikumpulkan [19]. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang menggunakan metode mendeskripsikan hasil penelitian [20]. Penelitian kualitatif menyangkut pengumpulan data pada suatu lingkungan alam dengan tujuan untuk menjelaskan fenomena-fenomena yang mana peneliti merupakan instrumen utamanya, dan pengambilan sampel sumber datanya dilakukan dengan sengaja, hati-hati, dan sistematis. Teknik pengumpulannya adalah triangulasi (kombinasi), data analisisnya bersifat induktif/kualitatif [21]. Jadi, disimpulkan bahwa penelitian kualitatif adalah mendeskripsikan suatu obyek, fenomena yang terjadi di lapangan yang akan dituangkan dalam tulisan berbentuk naratif. Mempertimbangkan topik penelitian, peneliti ingin menganalisis kebiasaan membaca buku non fiksi (buku pelengkap) untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, faktor yang mempengaruhi kebiasaan membaca buku non fiksi (buku pelengkap) untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, dan upaya perpustakaan dalam mengatasi kurangnya kebiasaan membaca buku non fiksi (buku pelengkap) untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.
Method
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif analisis, dimana penelitian yang digunakan bersifat deskriptif yaitu mengetahui atau menggambarkan fakta-fakta dari peristiwa yang diteliti untuk memudahkan peneliti dalam mengumpulkan data yang obyektif. Metode deskripsi analisis merupakan suatu metode untuk menggambarkan atau memberikan gambaran mengenai objek penelitian melalui data atau sampel yang dikumpulkan [19]. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang menggunakan metode mendeskripsikan hasil penelitian [20]. Penelitian kualitatif menyangkut pengumpulan data pada suatu lingkungan alam dengan tujuan untuk menjelaskan fenomena-fenomena yang mana peneliti merupakan instrumen utamanya, dan pengambilan sampel sumber datanya dilakukan dengan sengaja, hati-hati, dan sistematis. Teknik pengumpulannya adalah triangulasi (kombinasi), data analisisnya bersifat induktif/kualitatif [21]. Jadi, disimpulkan bahwa penelitian kualitatif adalah mendeskripsikan suatu obyek, fenomena yang terjadi di lapangan yang akan dituangkan dalam tulisan berbentuk naratif. Mempertimbangkan topik penelitian, peneliti ingin menganalisis kebiasaan membaca buku non fiksi (buku pelengkap) untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, faktor yang mempengaruhi kebiasaan membaca buku non fiksi (buku pelengkap) untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, dan upaya perpustakaan dalam mengatasi kurangnya kebiasaan membaca buku non fiksi (buku pelengkap) untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.
Result & Discussion
1. Kurangnya kebiasaan membaca buku non fiksi untuk meningkatkan motivasi belajar siswa MAN 2 Tanah Datar Kebiasaan membaca merupakan suatu kegiatan yang stabil bila membaca lebih terarah dan menggunakan metode yang efektif dan efisien. kebiasaan suatu pekerjaan yang dilakukan secara berulang-ulang [9]. Dalam kebiasaan membaca terdapat poin penting yang memacu kepada kebiasaan membaca yaitu: a. Intensitas/waktu b. Jenis bacaan c. Sikap d. Motivasi e. Keterampilan membaca Kebiasaan membaca memiliki peran penting dalam meningkatkan motivasi belajar siswa, dimana dengan seringnya membaca buku membuat seseorang mendapatkan berbagai macam ilmu pengetahuan dan informasi lainnya. Motivasi belajar adalah suatu dorongan atau semangat belajar atau dengan kata lain motivasi semangat belajar. Keseluruhan kekuatan dalam diri seseorang menimbulkan aktivitas belajar, menjamin kelangsungan aktivitas belajar, dan mengarahkan aktivitas belajar untuk mencapai tujuan [17]. Berdasarkan motivasi belajar memacu kepada poin berikut ini: a. Tekun menghadapi tugas b. Ulet menghadapi kesulitan c. Keinginan yang kuat untuk mencapai suatu tujuan d. Bekerja sama e. Senang belajar Berdasarkan teori dan didukung data yang peneliti peroleh dari wawancara terhadap empat belas informan: 1 pustakawan, 4 guru dan 9 siswa/pemustaka, hasil penelitian ini tidak sesuai dengan yang diterapkan dalam teori ini. Dimana kebiasaan membaca buku non fiksi (buku pelengkap) untuk meningkatkan motivasi belajar siswa MAN 2 Tanah Datar ada karena adanya sebuah tugas dari seorang guru, dengan unsur kewajiban seorang siswa bukan karena datang dari diri sendiri atau kesadaran diri sendiri. Hal ini terjadi dari berbagai aspek seperti yang datang dari diri sendiri, rasa malas dan kurangnya tanggung jawab, minimnya budaya baca, unsur kesenjangan, pengaruh teman, pengaruh keluarga, dan pengaruh media sosial. Rasa malas terjadi karena disebabkan dengan alasan sibuk, hal ini dapat menyebabkan seseorang lupa akan tugas dan tanggung jawabnya, enggan mengerjakan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya, yang akhirnya dapat merugikan diri sendiri karena menyia-nyiakan waktu, dan tidak disiplin seperti tugas sekolah lupa dikerjakan karena sibuk main handphone. Kemudian minimnya budaya baca. Jika dikaitkan dengan penjelasan Wahyuni kebiasaan suatu pekerjaan yang sering dilakukan secara berulang-ulang. Kebiasaan tersebut akan menimbulkan peran yang sangat penting bagi siswa, kurangnya motivasi dan minat membaca menimbulkan menurunnya motivasi belajar akan sangat berpengaruh pada siswa. Seperti diadakannya tanya jawab di dalam kelas banyak siswa yang tidak bisa menjawab disebabkan kurangnya budaya membaca, dan mengulang pelajaran. Selanjutnya unsur kesenjangan, dimana unsur kesenjangan terjadi karena sering kali menunda suatu pekerjaan seperti mengerjakan tugas, mengulur waktu untuk melakukan suatu pekerjaan seperti tugas akidah akhlak yang dikumpulkan minggu depan dikerjakan pada hari H dan bahkan ada yang lupa mengerjakan disebabkan mengulur waktu pengerjaan tugas. Teman dapat memberikan pengaruh kepada siswa, bujukan teman untuk bermain menyebabkan siswa lalai dalam belajar, sehinga motivasi belajar siswa berkurang. Selain itu ada juga teman yang mempunyai kebiasaan membaca dengan harapan untuk meningkatkan motivasi belajar tetapi karena ada ajakan teman untuk keluar membeli jajan atau melakukan sesuatu, menyebabkan siswa lupa dan melewatkan waktunya untuk membaca. Kemudian, pengaruh keluarga juga sangat penting kepada siswa. Dimana kebiasaan yang diterapkan dan diajarkan di rumah akan menjadi kebiasaan di luar rumah seperti sekolah. Berdasarkan hasil wawancara yang peneliti lakukan, kebiasaan membaca buku non fiksi untuk meningkatkan motivasi belajar sudah diterapkan di rumah, tapi pada kenyataannya siswa masih belum memiliki kebiasaan tersebut, seperti suka membaca buku pelajaran, buku pelengkap melainkan ada unsur tugas sekolah. Selanjutnya pengaruh media yang sangat berpengaruh pada proses perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi siswa saat ini. berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan sembilan responden siswa/pemustaka mengatakan mereka terlalu sibuk menikmati jejaring sosial favoritnya. Informan lebih memilih untuk membuka internet untuk mencari tugas yang diberikan oleh guru, sembari membuka Whatsapp, Facebook, Instagram, Youtube dan menonton daripada membaca buku. Berdasarkan hasil wawancara dengan empat belas responden, pustakawan, guru dan siswa. Mereka mengatakan bahwa kebiasaan membaca buku non fiksi (buku pelengkap) untuk meningkatkan motivasi belajar harus mempunyai kesadaran diri sendiri terlebih dahulu. Tergeraknya hati untuk melakukan suatu kebiasaan sangatlah penting bagi seseorang untuk membentuk diri menjadi orang yang bermanfaat dan lebih baik kedepannya. Diselingi dengan faktor luar seperti pengaruh teman, lingkungan dan media sosial pada saat ini perlunya wawasan ilmu pengetahuan yang membedakan mana yang baik dan tidak baik. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kebiasaan membaca buku non fiksi untuk meningkatkan motivasi belajar siswa MAN 2 Tanah Datar masih kurang, disebabkan karena ada dua aspek yang mempengaruhi kebiasaan membaca untuk meningkatkan motivasi belajar, aspek internal dari diri sendiri: rasa malas dan kurang tanggung jawab, lalai, minimnya budaya baca, dan unsur kesenjangan sering menunda-nunda waktu penyelesaian tugas. Aspek eksternal: pengaruh teman, pengaruh keluarga, dan pengaruh media dengan menyibukkan diri di media sosial sehingga kebiasaan membaca buku non fiksi (buku pelengkap) untuk meningkatkan motivasi belajar siswa sangatlah kurang, dan frekuensi kunjungan membaca buku yang menurun ke perpustakaan. 2. Faktor yang mempengaruhi kebiasaan membaca buku non fiksi untuk meningkatkan motivasi belajar siswa MAN 2 Tanah Datar Kebiasaan membaca merupakan suatu kegiatan yang stabil bila membaca lebih terarah dan menggunakan metode yang efektif dan efisien. kebiasaan suatu pekerjaan yang dilakukan secara berulang-ulang [9]. Motivasi belajar adalah suatu dorongan atau semangat belajar atau dengan kata lain motivasi semangat belajar. Keseluruhan kekuatan dalam diri seseorang menimbulkan aktivitas belajar, menjamin kelangsungan aktivitas belajar, dan mengarahkan aktivitas belajar untuk mencapai tujuan [17]. Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan pustakawan pada perpustakaan mengatakan bahwa faktor yang mempengaruhi kebiasaan membaca buku non fiksi (buku pelengkap) untuk meningkatkan motivasi belajar siswa MAN 2 Tanah Datar adalah ketersedian koleksi perpustakaan, ada tidak koleksi yang dibutuhkan siswa untuk dibaca, dari itu dapat dilihat dari banyaknya kunjungan dan kebiasaan membaca siswa di perpustakaan. Koleksi yang sering siswa pinjam berupa buku pelajaran untuk kegiatan belajar di dalam kelas, sedangkan buku pelengkap digunakan ketika membutuhkan referensi atau rujukan lain mengenai topik pembelajaran. Dari hasil wawancara peneliti dengan empat belas responden pustakawan, guru, dan siswa/pemustaka mengatakan bahwa faktor yang mempengaruhi kebiasaan membaca buku non fiksi untuk meningkatkan motivasi belajar siswa MAN 2 Tanah Datar adalah media sosial, rasa malas, dan kurangnya kesadaran diri sendiri. Dari faktor ini sangat jelas berpengaruh bagi siswa, dimana media sosial menyibukkan siswa dengan dunianya sendiri walaupun banyak informasi yang didapatkan di media sosial tentang ilmu pengetahuan tetapi siswa lebih sering menghabiskan waktu untuk hiburan seperti chattingan, menonton, main game, dan karaoke. Rasa malas yang datang membuat siswa tidak melakukan hal-hal yang seharusnya dia lakukan seperti membaca dan belajar. Kesadaran diri dari masing-masing siswa ini berdampak juga pada kebiasaan membaca buku non fiksi (buku pelengkap) untuk meningkatkan motivasi belajar siswa MAN 2 Tanah Datar, karena jika tidak dimulai dari diri sendiri maka akan dimulai dari siapa untuk membiasakannya. Faktor yang mempengaruhi kebiasaan membaca dan motivasi belajar siswa terdiri dari faktor internal: rasa malas dan kurangnya kesadaran diri. Sedangkan faktor eksternalnya: pengaruh teman, pengaruh keluarga, dan pengaruh media sosial. Faktor yang mempengaruhi kebiasaan membaca dan motivasi belajar siswa di perpustakaan meliputi kurangnya ketersediaan koleksi guna kebutuhan informasi siswa belum sepenuhnya terpenuhi seperti koleksi buku lama yang disediakan pihak perpustakaan harus ditambah dengan koleksi baru, dan penyediaan fasilitas belum sesuai dengan pedoman perpustakaan sekolah. Jadi, dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi kebiasaan membaca buku non fiksi (buku pelengkap) untuk meningkatkan motivasi belajar siswa MAN 2 Tanah Datar adalah rendahnya kebiasaan membaca dan menurunnya motivasi belajar siswa yang disebabkan oleh rasa malas, kurangnya kesadaran diri, pengaruh media sosial, koleksi yang belum memadai, fasilitas yang masih kurang. Menyebabkan sepinya kunjungan siswa ke perpustakaan, serta mengakibatkan kurangnya pemanfaatan layanan dan koleksi di perpustakaan. 3. Upaya yang dilakukan perpustakaan dalam mengatasi kurangnya kebiasaan membaca buku non fiksi untuk meningkatkan motivasi belajar siswa MAN 2 Tanah Datar Faktor yang mempengaruhi kebiasaan membaca buku non fiksi (buku pelengkap) untuk meningkatkan motivasi belajar siswa sangat berpengaruh besar pada perpustakaan. Maka dari itu, perpustakaan harus lebih optimal dan menetapkan upaya mengatasi kurangnya kebiasaan membaca buku non fiksi (buku pelengkap) untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Di sini pihak perpustakaan berusaha untuk membangkitkan minat baca siswa untuk berkunjung ke perpustakaan. Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan pustakawan terdapat beberapa upaya yang dilakukan pihak perpustakaan untuk meningkatkan minat kunjung dan kebiasaan membaca buku non fiksi (buku pelengkap) untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dengan mengadakan perlombaan menulis cerpen berhadiah dengan harapan banyak siswa yang berminat berkunjung dan membaca di perpustakaan dengan diadakannya kegiatan perlombaaan, mengadakan kegiatan literasi sekolah seperti menulis karya fiksi/non fiksi, karya ilmiah. Menyediakan pelayanan teknis dan pelayanan pemustaka yang baik, efektif, cepat, tepat dan memuaskan, menyediakan koleksi baru sesuai dengan kebutuhan siswa, kebanyakan siswa membaca jika koleksi yang tersedia sesuai dengan judul buku yang sesuai dengan dia seperti buku motivasi untuk siswa yang ingin melakukan perubahan pada dirinya. Pelayanan yang efektif, menyediakan ruangan perpustakaan yang sesuai, nyaman, dan luas untuk tempat membaca, menyediakan fasilitas yang lengkap seperti komputer untuk siswa, AC, dan tempat baca seperti bangku dan meja. Pihak perpustakaan juga meminta pihak sekolah untuk lebih mengoptimalkan pendanaan perpustakaan, menyediakan fasilitas yang baik, demi menjalankan pemanfaatan dan pelayanan perpustakaan yang lebih optimal lagi kedepannya sesuai peraturan penyelenggaraan perpustakaan sekolah. Jadi, dapat disimpulkan bahwa upaya yang dilakukan perpustakaan dalam mengatasi kurangnya kebiasaan membaca buku non fiksi (buku pelengkap) untuk meningkatakan motivasi belajar siswa adalah menyediakan berbagai kegiatan seperti lomba menulis cerpen, menulis karya fiksi/non fiksi, dan karya ilmiah. Menyediakan pelayanan yang baik, cepat, tepat, dan memuaskan. Serta menyediakan koleksi, fasilitas, sarana prasarana yang baik sesuai pedomanan penyelenggaraan perpustakaan sekolah.
Conclusion
Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan di perpustakaan dengan judul Analisis Kebiasaan Membaca Buku Non Fiksi Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Tanah Datar, dapat disimpulkan: Kurangnya kebiasaan membaca buku non fiksi (buku pelengkap) untuk meningkatkan motivasi belajar siswa MAN 2 Tanah Datar dikategorikan sedang, yang diamati melalui kunjungan dan peminjaman buku di perpustakaan, kebanyakan siswa membaca secara ekstensif yaitu membaca untuk mendapatkan kesenangan atau hiburan. Terdapat dua aspek kurangnya kebiasaan membaca dan motivasi belajar, yaitu aspek internal dan aspek eksternal. Aspek internalnya yang datang dari dalam diri yaitu rasa malas dan tanggung jawab yang disebabkan oleh alasan sibuk bermain yang menyebabkan siswa lupa akan tugas dan tanggung jawab, enggan mengerjakan sesuatu yang bermanfaat untuk dirinya, yang akhirnya dapat merugikan diri sendiri karena melewatkan waktu, dan tidak disiplin. Sering kali menunda suatu pekerjaan seperti mengerjakan tugas sekolah. Sedangkan yang menjadi aspek eksternal yaitu pengaruh teman, pengaruh keluarga, dan pengaruh media. Namun yang menjadi faktor utama penyebab kurangnya kebiasaan membaca buku non fiksi (buku pelengkap) untuk meningkatkan motivasi belajar siswa MAN 2 Tanah Datar adalah rasa malas, lalai, sering melewatkan waktu, dan media sosial yang sangat berpengaruh pada proses perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi siswa saat ini. Adapun dua faktor yang mempengaruhi kebiasaan membaca buku non fiksi (buku pelengkap) untuk meningkatkan motivasi belajar siswa yaitu faktor internal seperti rasa malas, dan kesadaran diri. Sedangkan faktor eksternal yaitu pengaruh teman, keluarga, dan media sosial. Faktor yang mempengaruhi kebiasaan membaca dan motivasi belajar siswa di perpustakaan meliputi kurangnya ketersediaan koleksi guna kebutuhan informasi siswa belum sepenuhnya terpenuhi seperti koleksi buku lama yang disediakan pihak perpustakaan harus ditambah dengan koleksi baru, dan penyediaan fasilitas belum sesuai dengan pedoman perpustakaan sekolah. Upaya perpustakaan dalam mengatasi kurangnya kebiasaan membaca buku non fiksi (buku pelengkap) untuk meningkatkan motivasi belajar siswa yaitu dengan pelayanan yang baik dan efektif, cepat, tepat dan memuaskan, mengadakan kegiatan literasi sekolah seperti menulis karya fiksi/non fiksi, karya ilmiah, kegiatan perlombaan seperti menulis cerpen dengan menyediakan hadiah, untuk menarik minat kunjung dan membaca siswa di perpustakaan. Menyediakan koleksi yang baru untuk menarik siswa membaca ke perpustakaan. Menyediakan ruangan yang luas dengan menata perpustakaan. Menyediakan fasilitas yang baik untuk perpustakaan. Tidak hanya itu pihak perpustakaan juga meminta pihak sekolah untuk mengoptimalkan pendanaan perpustakaan, guna pemanfaatan dan pelayanan perpustakaan yang lebih optimal lagi kedepannya.