Kembali
16
1
2022 Jurnal Perpustakaan dan Informasi Vol 4 · 2 ISSN 3024-9880

EVALUASI PEMANFAATAN KNOWLEDGE SHARING DALAM RANGKA PENINGKATAN KOMPETENSI PUSTAKAWAN DI LINGKUNGAN BADAN RISET DAN INOVASI NASIONAL

Badan Riset dan Inovasi Nasional; Badan Riset dan Inovasi Nasional; Badan Riset dan Inovasi Nasional

Abstrak

Guru Dilakukan evaluasi pemanfaatan knowledge sharing di Perpustakaan BRIN dilakukan dengan tujuan mengetahui apakah materi yang diberikan nara sumber bermanfaat dan mudah dipahami; apakah penjelasan nara sumber dapat menambah pengetahuan; apakah pelatihan dapat menambah pengetahuan dan keterampilan baru; apakah pemaparan nara sumber cukup baik; dan tingkat kesulitan aplikasi dan kendala pustakawan dalam proses pelaksanaan KS. Kajian dilakukan dengan menggunakan metode survey dengan teknik accidental sampling dan kuesioner. Sampel diambil dari acara KS secara daring (zoom) untuk internal pustakawan BRIN. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif berdasarkan hasil kuesioner dan wawancara. Hasil kajian menunjukkan bahwa kendala pelaksanaan Knowledge Sharing (KS), yaitu pelatihan dilaksanakan secara daring sehingga materi yang diberikan nara sumber walaupun penyampaian dan isi materi sangat bagus namun kurang efektif. Memerlukan bimbingan secara tatap muka.

Abstract

An evaluation of the utilization of knowledge sharing at the BRIN Library was carried out with the aim of knowing whether the material provided by resource persons was useful and easy to understand; whether the explanation of the resource person can increase knowledge; whether the training can add new knowledge and skills; whether the presentation of the resource person is good enough; and the level of difficulty of the application and constraints of librarians in the process of implementing the KS. The study was conducted using a survey method with accidental sampling techniques and questionnaires. Samples were taken from KS events online (zoom) for internal BRI librarians. The collected data were analyzed descriptively based on the results of questionnaires and interviews. The results of the study show that the constraints on the implementation of Knowledge Sharing (KS), namely the training is carried out online so that the material provided by the resource persons, even though the delivery and content of the material is very good, is not effective. Requires face-to-face guidance.
Keywords: Knowledge sharing · competence · librarian

Introduction

Dengan adanya dinamika dan perkembangan dalam berbagai sektor termasuk organisasi yang mengelola sumber daya manusia, maka pada era kemajuan teknologi dan komunikasi seperti saat ini sudah menjadi agenda dan pembahasan mengenai konsep dan evaluasi knowledge sharing dalam kegiatan pengembangan knowledge management pada berbagai lini organisasi. Sehingga dipandang penting bagi kebanyakan organisasi yang mengupayakan evaluasi knowledge sharing untuk menjawab tantangan persaingan global sehingga dinamika organisasi diselaraskan dengan perkembangan teknologi informasi. Seperti yang di sampaikan Kikoski & Kikoski, 2004 (dalam Rodin, 2017) bahwa keberhasilan organisasi di abad 21 ini sangat bergantung dari knowledge yang mereka miliki dan bagaimana memanfaatkan knowledge yang telah ada. Kegiatan knowledge sharing sangat erat kaitannya dengan evaluasi knowledge management Keinginan untuk saling berbagi pengetahuan antar individu sangat diperlukan. Dari pengetahuan masingmasing individu yang telah terkumpul tersebut di lestarikan dengan cara menyimpannya sebagai pengetahuan organisasi. Sifat individualisme yang sudah membudaya sedikit-demi sedikit harus dikurangi, karena pengetahuan yang ada pada individu sudah mulai sering dibagikan (sharing) kepada mitra kerja untuk kemajuan organisasi. Seiring dengan mulai membudayanya kegiatan knowledge sharing (KS) antar individu dalam suatu organisasi akan dapat muncul ide-ide baru terutama dalam hal peningkatan budaya kerja yang berpangruh kepada kinerja karyawan, kualitas produk yang dihasilkan dan pada akhirnya bisa meningkatkan nilai jual baik dari sisi masing-masing individu, output maupun organisasi. Pada era globalisasi, organisasi memiliki penekanan pada pengembangan pengelolaan pengetahuan dan informasi sebagai salah salah satu faktor kunci yang apabila dilaksanakan secara efektif, maka sejalan dengan perkembangan teknologi dan komunikasi, organisasi tersebut dapat memanfaatkan informasi sesuai dengan perubahan. Knowledge Management menjadi suatu pendekatan yang memungkinkan organisasi dapat mengelola informasi dan pengetahuan dengan lebih baik. (Jennex, 2008). Banyaknya potensi pengetahuan yang tersembunyi di dalam suatu organisasi belum banyak disadari oleh banyak organisasi. Riset Delphi Group menunjukkan bahwa dalam organisasi knowledge tersimpan dalam: 42% dipikiran (otak) karyawan, 26% dokumen kertas, 20% dokumen elektronik, dan 12% knowledge base electronic. (Setiarso, 2006). Menurut Tobing (2007:9) knowledge sharing merupakan tahapan penyebaran dan penyediaan pengetahuan untuk karyawan yang membutuhkan pada saat yang tepat. Prinsipnya bahwa sebagian besar pengetahuan ada di dalam kepala manusia dalam bentuk tacit knowledge. bukan di sistem informasinya yang canggih (Tobing, 2007). Seperti disampaikan oleh Setiarso et.al (2008), tacit knowledge memang sangat sulit dibagi ke orang lain, dan dokumentasi menjadi faktor penting dalam mengubah tacit knowledge menjadi explicit knowledge. Tanpa dokumentasi, tacit knowledge tidak akan berarti dan menjadi sulit diakses oleh siapapun dan kapanpun di dalam organisasi. Sehingga kegiatan evaluasi knowledge sharing adalah pada individu yang tentunya didukung oleh kemajuan teknologi. Pengetahuan yang tersimpan di dalam benak individu dalam suatu organisasi adalah tacit knowledge. Knowledge Sharing mempunyai dampak positif untuk meningkatkan kinerja yang pada akhirnya akan menemukan proses kerja yang terbaik bagi organsiasi melalui pemahaman dan saling mendukung antara sesama anggota dalam organisasi Dalam penelitian yang dilakukan oleh Matzler et. al., (2008) disebutkan bahwa dalam suatu organisasi, berbagi pengetahuan sangat penting dalam rangka memberikan nilai tambah pada keahlian dan kompetensi, serta dapat meningkatkan daya saing sebab inovasi didapat dari berbagi pengetahuan antara individu di dalam organisasi. Penelitian terdahulu tentang evaluasi knowledge sharing terhadap kinerja pustakawan yang sudah dilakukan oleh Amalia Zulfa Nurbaiti di tahun 2013 memberikan kesimpulan bahwa Perpustakaan sudah sejak lama menerapkan kegiatan ini, bahkan semenjak berdirinya suatu perpustakaan, dan telah banyak memberikan manfaat terhadap perpustakaan dan karyawannya. Terutama peningkatan kinerja bagi tenaga teknis perpustakaan. Ini berarti bahwa berbagi pengetahuan dalam organisasi seperti Perpustakaan merupakan hal yang sangat penting karena dapat memberikan manfaat pada banyak individu. Perpustakaan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) merupakan perpustakaan khusus riset yang sudah berintegrasi sejak awal tahun 2022, melalui program kegiatan yang di gagas oleh Koordinator Pengelolaan Fungsi Perpustakan, maka Perpustakaan BRIN telah melakukan transfer informasi dan pengetahuan, baik untuk kalangan internal sesama pustakawan di seluruh kawasan BRIN maupun eksternal perpustakaan yang melibatkan stake holder perpustakaan, pustakawannya serta mitra terkait dengan menghadirkan nara sumber dari berbagai kalangan dilingkungan ilmu perpustakaan di Indonesia. Transfer informasi dan pengetahuan yang sudah dilakukan secara internal adalah berupa knowledge sharing (berbagi pengetahuan) melalui rapat rutin, bimbingan teknis internal pustakawan untuk meningkatkan skill dan pengetahuan pustakawan sebagai persiapan dalam memberikan layanan pada kawasan masing-masing yang dilaksanakan secara intensif setiap minggu pada akhir Februari dan Maret 2022, dan diskusi/pertemuan ilmiah melalui knowledge sharing (KS) eksternal yang sudah terlaksana sebanyak 3 (tiga) kali acara dalam kurun waktu 6 bulan sejak April sampai dengan September 2022. Pada 2 (dua) kegiatan diantaranya telah mengundang para pakar dan ahli dari akademisi dan praktisi yang bertujuan untuk menambah insight serta wawasan seluruh pustakawan terhadap perkembangan dan inovasi di bidang ilmu perpustakaan dan informasi, serta 1 (satu) kegiatan di bulan September untuk saling bertukar pengetahuan dan informasi terkait pelayanan dan perkembangan kegiatan yang telah dilakukan oleh masing-masing pustakawan yang tergabung dalam Forum Perpustakaan Riset dan Teknologi yang juga merupakan agenda rutin tahunan bagi setiap anggota Forum Perpustakaan untuk menjadi penyelenggaranya. Dengan telah terselenggaranya 3 (tiga) webinar KS eksternal dengan topik atau tema yang sedang menjadi trending topic untuk pustakawan dan pemerhati bidang perpustakaan dengan menghadirkan nara sumber yang cukup kompeten baik bidang maupun asal institusinya. Kegiatan ini merupakan suatu bentuk KS eksternal juga yang sudah dilakukan oleh banyak perpustakaan. Dalam rangka menambah wawasan atau pengetahuan SDM tentang perkembangan ilmu dan pelayanan perpustakaan yang bersifat up to date, maka kegiatan KS internal juga dilakukan untuk SDM yang belum mengetahui perkembangan terbaru dari dunia perpustakaan. Oleh karena itu, para pemateri internal dalam hal ini adalah para koordinator ataupun pelaksana yang sudah mahir, terampil juga cekatan dalam menggunakan suatu aplikasi untuk layanan perpustakaan Berdasarkan paparan yang telah disampaikan diatas, maka tujuan dari kajian ini adalah untuk melihat bagaimana evaluasi KS sebagai upaya peningkatan kompetensi pustakawan di Perpustakaan BRIN adalah (1) Mengetahui materi yang diberikan nara sumber bermanfaat dan mudah dipahami; (2) Mengetahuai apakah penjelasan nara sumber dapat menambah pengetahuan; (3) Mengetahui apakah pelatihan ini dapat menambah pengetahuan dan ketrampilan baru; (4) Mengetahui apakah pemaparan nara sumber cukup baik; (5) Mengetahui tingkat kesulitan aplikasi sebagai materi utama pelatihan

Method

Kajian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang menekankan analisanya pada data numerik. Untuk pendekatan kajian ini bersifat survey karena mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data yang pokok. Berdasarkan proses kegiatannya maka kajian ini termasuk penelitian deskriptif. Secara konkret focus kajian ini untuk menganalisa evaluasi pemanfaatan knowledge sharing sebagai upaya peningkatan efektivitas keprofesionalan sumber daya manusia yang ada di Perpustakaan BRIN. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik Accidental Sampling. Sampel diambil dari beberapa bimbingan teknis secara daring via zoom meeting untuk internal pustakawan BRIN yang dibagikan ke peserta pada sesi akhir acara. Kegiatan Knowledge sharing berupa bimbingan teknis ini dilakukan pada akhir Februari–awal Maret 2022 yaitu pada Knowledge Sharing Penelusuran Literatur Ilmiah, Knowledge Sharing Literature Review dan Tableau, Knowledge Sharing Grammarly, Ithenticate dan Knowledge Sharing Produk Pengetahuan. Penentuan sampel kajian ini didasarkan pada teknik Accidental Sampling yaitu dengan memberikan angket kuesioner kepada pustakawan peserta bimbingan teknis yang mengikuti acara sampai dengan selesai. Pustakawan yang mengisi kuesioner dari 3 kegiatan bimbingan teknis yang telah dilaksanakan berjumlah 67 orang. Penilaian terhadap ketiga kriteria tersebut dengan menggunakan skala Linkert dengan nilai 1 sampai dengan 5 sebagai berikut : 1. Nilai 5 menunjukkan kondisi paling tinggi yaitu sangat bagus 2. Nilai 4 menunjukkan kondisi setelah paling bagus adalah bagus 3. Nilai 3 menunjukkan kondisi setelah bagus adalah sedang / biasa saja 4. Nilai 2 menunjukkan kondisi setelah sedang adalah kurang 5. Nilai 1 menunjukkan kondisi setelah kurang adalah sangat kurang

Result & Discussion

Hasil evalusi pemanfaatan Knowledge Sharing (KS) yang dilakukan menggunakan kuesioner yang dibagikan pada akhir acara dengan menggunakan skala Linkert dengan nilai 1 sampai dengan 5 dengan tujuan untuk meningkatkan kompentensi pustakawan dapat dijelaskan seperti berikut. 1. Materi yang diberikan narasumber bermanfaat dan mudah dipahami Untuk mengetahui apakah materi yang diberikan bermanfaat dan mudah dipahami, maka gambaran sikap atau penilaian peserta (pustakawan), digunakan analisa deskriptif berdasarkan tanggapan terhadap pernyataan-pernyataan dalam kuesioner. Pada hasil kajian ditemukan 4 (empat) kendala utama dalam pelaksanaan Knowledge Sharing (KS), bahwa pelatihan dilaksanakan secara daring sehingga materi yang sudah diberikan nara sumber walau penyampaian dan isi materi sangat bagus tapi dirasa masih kurang efektif karena memerlukan bimbingan lanjutan secara tatap muka. Karena beragamnya kemampuan pustakawan agar pelatihan menggunakan aplikasi dapat disesuaikan baik jenis aplikasi maupun pesertanya. Perlu penambahan wawasan KS dengan nara sumber dari eksternal BRIN yang kompeten dibidangnya dan agar lebih memanfaatkan media sosial untuk memberikan informasi pelatihan dan hasil pelaksanaan pelatihannya. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan lewat google form kepada responden peserta pelati han Knowledge sharing dalam hal ini para pustakawan pengelola layanan perpustakaan kawasan BRIN. Didapatkan data tentang pendapat dan saran dalam pelaksanaan knowledge sharing sebagai berikut : Tabel 1. Apakah Materi yang Diberikan Bermanfaat dan Mudah Dipahami Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik berikut ini : Grafik 1. Materi yang diberikan bermanfaat dan mudah dipahami Berdasarkan tabel diatas dapat dipahami bahwa terdapat pemahaman yang berbeda terhadap materi yang diberkan saat mengikuti pelatihan, sehingga peserta memberikan penilaian atas materi yang diberikan oleh setiap nara sumber dapat dsimpulkan bahwa dari 67 orang responden sebanyak 43,28% memberikan jawaban bagus, 35,82% sangat bagus, 19,4% sedang, 1,49% memberikan jawaban kurang dan tidak ada yang memberikan jawaban sangat kurang. Sehingga menurut hemat penulis materi pelatihan seperti ini perlu dipertahankan atau bila mungkin ditingkatkan kualitasnya agar peserta lebih tertarik untuk mengikuti kembali pelatihan-pelatihan yang akan dberikan selanjutnya oleh nara sumber dalam rangka berbagi pengetahuan antar staf. 2. Penjelasan nara sumber dapat menambah pengetahuan baru Berdasarkan kuesioner yang telah disebarkan kepada peserta tentang penjelasan nara sumber dapat menambah pengetahuan yang dimiliki oleh peserta dapat dilihat pada gambar 2 berikut. Berdasarkan gambar 2 terlihat dengan jelas bahwa efek atau pengaruh yang dirasakan setelah mengikuti pelatihan bahwa penjelasan nara sumber dapat menambah pengetahuan baru seperti jawaban dari 67 orang responden yang memberikan jawabannya 50,75 % memberikan jawaban bagus, 34,33 memberikan jawaban sedang, 14,92 memberikan jawaban sangat bagus, sedangkan untuk jawaban kurang dan sangat kurang tidak ada peserta pelatihan yang memilihnya. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar peserta memberikan jawaban bahwa penjelasan nara sumber atas materi yang disampaikan pada pelatihan dapat menambah pengetahuannya dalam rangka knowledge sharing antar staf yang sudah memiliki kemampuan akan suatu bidang ilmu tertentu kepada staf lain yang belum mengetahui atau belum memilii kemampuan terkait topik dari pelatihan mengenai suatu topik. Grafik 2. Materi yang diberikan bermanfaat dan mudah dipahami 3. Pelatihan dapat menambah pengetahuan dan ketrampilan baru Berdasarkan tabel 2 dan gambar 3 terlihat dengan jelas bahwa pelatihan dapat menambah pengetahuan dan keterampilan baru, bahwa dari 67 orang responden memberikan jawabannya sebagai berikut 38,81 % memberikan jawaban bagus, 37,31% memberikan jawaban sangat bagus, 23,88% memberikan jawaban sedang, sedangkan untuk jawaban kurang dan sangat kurang tidak ada peserta pelatihan yang memilihnya. Tabel 2. Pelatihan dapat menambah pengetahuan dan keterampilan baru Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar peserta memberikan jawaban bahwa pelatihan dapat menambah pengetahuan dan keterampilan dalam rangka knowledge sharing antar staf yang sudah memiliki kemampuan akan suatu bidang ilmu tertentu kepada staf lain yang belum mengetahui atau belum memiliki kemampuan terkait topik dari pelatihan yang diadakan. Grafik 3. Pelatihan Dapat Menambah Pengetahuan dan Keterampilan Baru 4. Pemaparan yang diberikan nara sumber cukup baik Berdasarkan tabel 3 dan gambar 4 menunjukkan bahwa pemaparan materi yang telah disampaikan oleh nara sumber, para responden memberikan penilaian bagus atas paparannya sebanyak 53,73%, sebanyak 335,82% responden menilai sangat bagus, 10,44% responden memberikan penilaian atas pemaparan nara sumber pertama adalah sedang. Sedangkan kategori penilaian kurang dan sangat kurang adalah 0 alias tidak ada yang memberikan penilaian tersebut. Tabel 3. Pemaparan Materi yang Disampaikan oleh Nara Sumber Grafik 4. Pemaparan Nara Sumber 5. Tingkat Kesulitan Pemahaman Aplikasi Karena pelatihan yang dilaksanakan adalah pelatihan pustakawan dalam rangka menambah skill atau kemampuannya sebagai pustakawan di lembaga riset, maka dalam memberikan penilaian, para responden yang hampir seluruhnya adalah pustakawan menyebutkan bahwa 37,31% mengkategorikan tingkat kesulitan dalam memahami aplikasi yang diajarkan adalah sedang, 25,37% memberikan penilaian bagus dan 22,39% responden memberikan penilaian sangat bagus atas kesulitan untuk memahami aplikasi dan 1,49% menyatakan kurang dan 1,49% responden menyatakan sangat kurang tingkat kesulitannya dalam memahami aplikasi yang digunakan. Tabel 4. Tingkat kesulitan pemahaman aplikasi Grafik 5. Tingkat Kesulitan Pemahaman Aplikasi Berdasarkan hasil evaluasi diketahui bahwa untuk meningkatkan kompetensi pustakawan yang dilaksanakan melalui knowledge sharing dalam bentuk webinar panitia perlu memperhatiakan saran yang diberikan oleh peserta. Saran tersebut untuk panitia penyelenggara diantaranya dengan mengadakan adanya pelatihan tatap muka secara langsung dan lebih banyak sesi praktek dan bisa diadakan per kawasan. Agar Pelatihan berikutnya bisa mengkhususkan peserta yang hadir sesuai jenjang fungsional apabila tentang aplikasi adalah bagi pustakawan yang terbiasa dengan kegiatan otomasi dan pengolahan data, sehingga pustakawan bisa lebih fokus dan praktek lebih banyak agar pustakawan bisa memberikan layanan perpustakaan dengan baik untuk pemustaka dikawasannya. Untuk pelatihan berikutnya agar pelatihan dilakukan lebih sering dan intensif di masing-masing kawasan juga bisa diberikan pendampingan atau monitoring agar bisa lebih memahami aplikasi yang digunakan karena bagi kawasan adalah meruakan hal yang baru untuk menggunakan aplikasi-aplikasi di perpustakaan supaya lebih lancar dan bisa memberikan layanan terbaik untuk pemustaka. Materi pelatihan tentang informasi yang sedang berkembang di bidang Perpustakan dengan nara sumber yang kompeten dibidangnya. Mohon informasi pelatihan sebelum diadakan dan setelah diadakan agar bisa dinformasikan di Media Sosial Direktorat RMPI. Pelatihan selanjutnya bisa mendatangkan nara sumber diluar Kedeputian atau instansi lain dengan jenis aplikasi yang berbeda sebagai tools analisis sehingga bisa menambah wawasan dan keahlian pustakawan dalam memberikan layanan terbaiknya. Agar pemateri pada pelatihan berikutnya dapat memberikan penjelasan sambil memberi contoh yang lebih riil agar peserta pelatihan dapat lebih mudah memahaminya serta cara pemaparan materi agar tidak terburu-buru dan bisa dishare sebelumnya agar bisa dicetak sebelum pelatihan dan bisa digunakan saat pelatihan. Agar penggunaan audio saat memberikan materi pelatihan lewat zoom lebih jelas lagi dan panitia bisa mengatur noise yang masuk dari luar supaya tidak mengganggu jalannya pelatihan. Mohon pada pelatihan berikutnya bisa mengundang nara sumber dari instansi lain untuk berbagi pengalaman dan panitia bisa menyediakan sertifikat pelatihan. Dengan adanya beberapa kendala yang disampaikan oleh responden dalam hal ini para pustakawan peserta pelatihan, baik dari hasil kuesioner maupun wawancara setelah pelatihan, maka ada beberapa alternatif evaluasi KS yang dilakukan di Perpustakaan BRIN, yaitu : Pertemuan atau Seminar atau Webinar ilmiah Pertemuan atau Seminar atau Webinar ilmiah ini dilakukan secara daring terkait perkembangan perpustakaan riset dan perkembangan terkini terkait topik hangat atau bidang perpustakaan dan kepustakawanan dengan mendatangkan nara sumber yang kompeten sesuai dengan keahlian dan asal instansi narasumber tersebut. Dengan demikian pengetahuan pustakawan dapat bertambah serta meningkat dengan adanya informasi baru dari para nara sumber dan diskusi antar sesama pustakawan peserta webinar sudah terlaksana dengan penyelenggaraan KS Forum Perpustakaan Riset dan Teknologi pada akhir Agustus 2022. Sehingga pada akhirnya dengan Webinar dan tanya jawab bisa menjadi ajang diskusi ilmiah. Disini bisa terjadi proses knowledge sharing atau berbagi pengetahuan antar sesama profesi pustakawan. Selain Webinar yang dilaksanakan oleh internal insitusi, para pustakawan bisa mengikuti seminar ataupun webinar ilmiah bidang kepustakawanan yang diselenggarakan oleh institusi atau lembaga lainnya. Kegiatan webinar kepustakawanan ini dilakukan dengan mengirimkan pustakawan perwakilan kawasan secara bergantian untuk menghadiri undangan webinar dari lembaga atau institusi lainnya, dimana hal ini dapat memperluas wawasan pengetahuan di bidang perpustakaan dan kepustakawanan, dan juga keterampilan teknis terkait perpustakaan. Dengan semakin berkembangnya komunitas dibidang ilmu informasi dan perpustakaan, maka diharapkan peran serta pustakawan BRIN secara aktif untuk menjadi anggota suatu milis atau group sehingga bisa mengikuti perkembangan yang terjadi seputar perpustakaan dan pustakawan. a. Koordinasi Rutin Sejak awal 2022 secara efektif integrasi lembaga ke dalam BRIN serta masih dalam situasi pandemi covid-19, maka pelaksanaan rapat rutin mingguan atau bulanan juga dilaksanakan secara terbatas, yaitu untuk para koordinator perpustakaan yang merupakan evaluasi kegiatan operasional maupun teknis yang menyangkut perpustakaan dan kepustakawanan. Adanya kendala-kendala yang dihadapi masing-masing kawasan dalam memberikan layanan perpustakaan baik yang datang langsung maupun melalui elektronik layanan kawasan. Didiskusikan dengan pimpinan untuk kemudian dicarikan solusi atau alternatif kegiatan yang memungkinkan melakukan berbagi pengetahuan, atau pemecahan masalah dari kendala yang dihadapi. Setelah rapat dengan pimpinan, para koordinator memberikan informasi kepada para pelaksana pustakawan dibawahnya untuk memberitahukan saran dan masukan pimpinan akan adanya kendala yang sedang terjadi di lingkungan lembaga atau institusinya. Sehingga informasi yang didapat oleh koordinator disampaikan kembali ke setiap pelaksana di kawasan masing-masing sehingga dapat menambah wawasan seluruh pustakawan setiap kawasan akan perkembangan yang terjadi dilingkungan internal institusi. b. Pemanfaatan Media Sosial Saat ini keberadaan media sosial merupakan suatu hal yang wajib bagi perpustakaan dan pustakawan untuk menjadi bagian dari kemajuan teknologi komunikasi dan informasi tersebut. Untuk kegiatan komunikasi, berbagi pengetahuan dan koordinasi antar pustakawan di berbagai lembaga bisa dilakukan dengan menggunakan media sosial, misalnya dengan Instagram, facebook, Twitter, email atau whatsapp group antar sesama perpustakaan juga pustakawannya, bahkan untuk promosi kegiatan antar perpustakaan. Bagi perpustakaan dan pustakawannya, apalagi disuatu lembaga riset yang lokasinya menyebar diberbagai tempat, maka kegiatan berbagi pengetahuan antar sesama profesi merupakan kegiatan yang sangat penting dilakukan. Karena dengan adanya sharing maka pengetahuan dan wawasan seorang staf dan karyawan akan bertambah mengenai kegiatan-kegiatan yang ada di lingkup kerjanya dan ini bisa dilakukan secara rutin dan tentunya berpulang pada kebijakan dari pimpinan perpustakaan. Sumber daya manusia (SDM) dalam suatu organisasi yang besar dan kuat sangat ditentukan oleh peranan para staf dan karyawan yang berada pada organisasi tersebut. Pustakawan yang berada dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional dan lokasinya menyebar di setiap kawasan BRIN memiliki latar belakang yang sangat beragam, mulai dari tamatan SMU sampai perguruan tinggi, dan beberapa juga mengambil alih jalur ke profesi fungsional pustakawan. Keberagaman latar belakang ini menjadikan suatu hal yang menarik bagi pihak-pihak terkait sehubungan dengan pengaturan manajerial SDM di perpustakaan. Dengan adanya keberagaman tersebut seharusnya bukanlah suatu hambatan dan masalah melainkan perlunya saling sinergi dan bekerja sama sehingga tercipta keselarasan yang menjadikan kekuatan dalam menjalankan berbagai kegiatan secara bersama demi tercapainya tujuan organisasi. Ditemukannya berbagai perbedaan sebagai suatu kendala, apalagi tidak terlepas dari proses integrasi lembaga, maka harus disikapi bagi perpustakaan BRIN sebagai sesuatu kekuatan besar dalam menjalankan perannya. Kondisi latar belakang pendidikan staf perpustakaan yang cukup variatif membuat para staf terbiasa untuk saling berbagi pengetahuan dan saling belajar guna menciptakan hasil kerja yang optimal. Hal ini terlihat dari cara mereka menyelesaikan tugas dan pekerjaan sehari-hari, adanya saling pengertian, tolong menolong dan knowledge sharing antara para staf dan karyawan menjadikan perbedaan latar belakang pendidikan itu tidak menjadi kendala, namun sebagai modal dasar untuk saling berbagi pengalaman dan ilmu pengetahuan. Dalam keseharian menjalani tugas pekerjaan, hubungan antar staf dan karyawan, membuat KS telah menjadi gaya hidup sehari-hari di perpustakaan baik yang dilakukan secara daring ataupun luring, mulai dari proses KS yang bersifat formal seperti rapat bulanan yang dilakukan oleh masing-masing kawasan, koordinasi antar kawasan perpustakaan dan dengan fungsi pengelolaan perpustakaan ataupun lintas bidang, ataupun KS yang bersifat informal yaitu antar staf secara pribadi. Proses KS yang telah berjalan terlihat alamiah karena merupakan bagian dari rutinitas yang wajar dan terbuka, dimana antara staf yang satu dan yang lain sudah tidak canggung satu sama lain tidak melihat perbedaan yang ada, berkurangnya rasa sungkan untuk bertanya atau bertukar pikiran mengenai kendala yang ditemui dalam menjalankan tugas pekerjaannya. Untuk para staf dan karyawan dengan jam terbang lebih tinggi, maka senioritas disini sudah dihilangkan, sehingga kecakapan dan kemampuan lebih dari suatu ilmu atau pengalaman yang dimiliki tidak membuat enggan untuk membagikan waktu dan ilmunya kepada staf dan karyawan lain yang menemukan kendala atau kesulitan dengan pekerjaanya. Salah satu kegiatan yang dilakukan di masing-masing perpustakaan kawasan adalah rapat koordinasi rutin bulanan dan untuk fungsi pengelolaan perpustakaan BRIN pada masa awal integrasi lembaga mengadakan KS pustakawan untuk mengenalkan dan sekaligus praktek aplikasi pendukung kegiatan layanan kawasan. Sehingga dapat diinformasikan bahwa kegiatan KS sebenarmya telah berjalan lama tanpa disadari oleh para staf dan karyawan perpustakaan, bahkan semenjak perpustakaan itu didirikan, sebenarnya tanpa disadari telah banyak kegiatan dan proses KS yang berjalan dan dilakukan oleh para pustakawan dalam keseharian menjalankan tugas dan pekerjaannya. Seperti disampaikan tentang beberapa pengertian oleh Nonaka dan Takeuchi (1998), bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan evaluasi Knowledge Sharing. Pertama adalah hubungan antara sumber dan penerima informasi; kedua bentuk pengetahuan dan lokasinya dalam organisasi; ketiga paradigma serta persepsi pembelajaran dalam menerima pengetahuan; keempat kapabilitas dari orang yang menjadi sumber Knowledge Sharing; kelima adalah lingkungan yang lebih luas tempat terjadi proses berbagi pengetahuan, dijelaskan sebagai berikut : 1. Sosialisasi merupakan proses berbagi dan penciptaan tacit knowledge melalui interaksi dan pengalaman langsung. Yang diartikan sebagai konversi pengetahuan tacit terjadi pada individu dan kelompok. Sosialisasi merupakan proses penyebaran pengalaman, dan penciptaan pengetahuan. 2. Eksternalisasi sebagai pengartian dari tacit knowledge menjadi explicit knowledge melalui proses dialog dan refleksi. Dengan pengertian lain adalah konversi tacit-eksplisit antar organisasi dengan kelompok, dengan bentuk konsep hipotesa model yang merupakan inti dari proses penciptaan pengetahuan. Contoh kegiatan : menulis. Adalah contoh tindakan perpindahan suatu pemikiran menjadi bentuk tulisan, mengubah bentuk tacit menjadi sebuah pengetahuan yang dapat diungkapkan artikulasinya atau dilafalkan. 3. Kombinasi merupakan proses pertukaran dan perpindahan yang terjadi dari tacit menjadi explicit knowledge, terjadi antar individu atau pada tingkat kelompok ke individu, melalui aplikasi atau system seperti telepon, website, e-mail dan whatsapp group. 4. Internalisasi merupakan proses perubahan pengetahuan yang disebarkan ke seluruh organisasi mengenai pengalaman pribadi dari explicit knowledge sehingga menjadi tacit knowledge untuk seluruh anggota organisasi. Pengalaman yang sudah menjadi tacit knowledge ini ketika melalui tahapan sosialisasi kemudian eksternalisasi lalu kombinasi dan pada akhirnya diinternalisasi, yang berarti adanya proses perubahan pengetahuan sehingga dapat menjadi asset yang berharga bagi sebuah organisasi.

Conclusion

Hasil evaluasi knowledge sharing peningkatan kompetensi pustakawan di perpustakan Badan Riset dan Inovasi Nasional menyimpulkan bahwa bahwa materi atau topik yang diberikan oleh narasuber adalah baik dan sangat baik. Penjelasan yang diberikan oleh narasumber hampir seluruh responden mengatakan dapat menambah wawasan, pengetahuan dan keterampilan pustakawan dalam meningkatkan kompetensi. Terkait kendala dalam pemahaman aplikasi disampaikan oleh narasumber para peserta pelatihan menyatakan sangat bisa memahami tingkat kesulitan pemahaman aplikasi yang disampaikan, bahwa sebagian besar juga menyatakan aplikasi masih tergolong sulit khususnya bagi kawasan yang sebelumnya tidak memanfaatkan aplikasi untuk layanan perpustakaan mereka. Alternatif yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kompetensi pustakawan melalui knowledge saharing adalah dengan mengundang narasumber yang kompeten pada bidangnya dan materi yang diberikan dapat menambah wawasan. knowledge sharing dan kegiatan bimbingan teknis dari dan untuk pustakawan lebih ditingkatkan sebagai ajang saling berbagi ilmu pengetahuan antar pustakawan. Dilakukan pertemuan rutin antar pustakawan untuk saling berbagi ilmu yang dimiliki. Serta pemanfaatan media sosial secara aktif untuk memberikan informasi pelatihan beserta hasilnya.