MODEL PENGEMBANGAN KOLEKSI BUKU DI TAMAN BACAAN MASYARAKAT DI YOGYAKARTA
Universitas Islam Mulia Yogyakarta
Abstrak
Pendahuluan: penelitian ini membahas tentang bagaimana strategi pengembangan koleksi buku yang ada di taman bacaan masyarakat (TBM) yang ada di Yogyakarta. Metode penelitian: penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research). Adapun jenis penelitian ini adalah penelitian kuaitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif. Penelitian ini dilakukan di TBM Cakruk Pintar, Sleman, Yogyakarta. Hasil dan Pembahasan: Proses pengembangan koleksi di TBM Cakruk Pintar dilakukan melalui beberapa tahapan. Pertama, analisis masyarakat. Pada tahap ini dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan melibatkan warga dan observasi lingkungan sekitar. Kedua, menentukan kebijakan seleksi. Pada tahap ini, belum ada kebijakan tertulis. Namun, dalam pelaksanaanya ada beberapa kriteria dalam proses seleksi koleksi, yaitu; 1) jumlah koleksi di TBM dibatasi hanya 3.000 eksemplar; 2) kualitas koleksi lebih diutamakan ketimbang kuantitas; 3) koleksi harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat; 4) koleksi tidak mengandung SARA; 5) memiliki informasi yang update; dan 6) koleksi memiliki kebermanfaatan bagi masyarakat. Ketiga, seleksi terhadap koleksi buku. Proses seleksi di TBM Cakruk Pintar tidak menggunakan alat bantu khusus seperti katalog penerbit. TBM Cakruk Pintar melibatkan warga dalam proses seleksi, misalnya dengan mengajak langsung ke toko buku untuk memilih buku yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Keempat, pengadaan koleksi buku Proses pengadaan ini dilakukan dengan pembelian secara incidental (tidak rutin), pemberian hadiah, dan menerbitkan buku sendiri. Kelima, penyiangan koleksi. Kriteria buku yang disiangi meliputi; 1) buku memiliki jumlah eksemlar ganda; 2) buku sudah rusak; 3) buku tidak sesuai dengan nilai-nilai agama dan Pendidikan; 4) buku yang jarang digunakan; 5) buku yang sudah tidak update informasinya. Keenam, evaluasi koleksi. Evaluasi ini dilakukan berdasarkan saran dan kritikan dari warga yang notabene sebagai pengguna TBM. Evaluasi ini sebagai bahan pertimbangan dalam pengembangan koleksi buku di TBM. Kesimpulan: Dalam upaya pengembangan minat baca di masyarakat, taman bacaan masyarakat perlu melakukan upaya pengembangan koleksi, mulai dari analisis masyarakat, menentukan kebijakan seleksi, seleksi terhadap koleksi, pengadaan koleksi, penyiangan, dan terakhir evaluasi koleksi.
Abstract
Introduction: This study discusses the strategies for developing book collections in community reading centers (TBM) in Yogyakarta. Research Method: This research is a field study (field research). It is a qualitative study using a descriptive approach. The research was conducted at TBM Cakruk Pintar, Sleman, Yogyakarta. Results and Discussion: The collection development process at TBM Cakruk Pintar involves several stages. First, community analysis. This stage is carried out in two ways: involving residents and observing the surrounding environment. Second, determining the selection policy. At this stage, there is no written policy yet. However, in practice, there are several criteria in the collection selection process: 1) the number of collections in TBM is limited to 3,000 copies; 2) the quality of the collection is prioritized over quantity; 3) the collection must meet the community's needs; 4) the collection must not contain sensitive issues related to ethnicity, religion, race, and inter-group relations (SARA); 5) the collection must have updated information; and 6) the collection must benefit the community. Third, book collection selection. The selection process at TBM Cakruk Pintar does not use specific tools like publisher catalogs. TBM Cakruk Pintar involves residents in the selection process, for example, by taking them directly to bookstores to choose books that meet their needs. Fourth, book collection procurement. This procurement process is carried out through incidental (non-routine) purchases, gifts, and self-publishing. Fifth, collection weeding. Criteria for weeding books include: 1) duplicate copies; 2) damaged books; 3) books that do not align with religious and educational values; 4) books that are rarely used; 5) books that no longer have updated information. Sixth, collection evaluation. This evaluation is based on suggestions and criticisms from residents, who are the primary users of TBM. This evaluation serves as a consideration in the development of the book collection at TBM. Conclusion: In efforts to promote reading interest in the community, community reading centers need to develop their collections through community analysis, determining selection policies, selecting collections, procuring collections, weeding, and finally, evaluating collections.
Keywords:
collection development
· reading interest
· community reading center
Introduction
Buku merupakan aset utama dalam upaya penumbuhan budaya baca di masyarakat. Tanpa adanya buku bacaan, masyarakat tidak akan bisa melakukan kegiatan membaca karena tidak adanya bahan bacaan yang dapat dibaca. Sebagai sumber ilmu dan pengetahuan bagi manusia, buku harus senantiasa dekat dengan masyarakat. Jika masyarakat jauh dari buku, maka ia akan menjadi manusia yang tidak berpengetahuan, bodoh, dan tertinggal. Buku harus menjadi sahabat seluruh kalangan yang tidak memandang status dan kedudukan, siapa ia, dari mana, kaya maupun miskin, semuanya harus dekat dengan buku. Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang (UU) nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan pasal 49 bahwa pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat mendorong tumbuhnya taman bacaan masyarakat dan rumah baca untuk menunjang pembudayaan kegemaran membaca. Merujuk pada UU tersebut, dapat dipahami bahwa melalui adanya taman bacaan ataupun rumah baca, diharapkan mampu menunjang pembudayaan kegemaran membaca di tengah masyarakat. Hanya saja, untuk menjalankan hal tersebut tentu dibutuhkan adanya bahan bacaan sebagai aset utama untuk mengajak masyarakat mau membaca. Hingga saat ini, keberadaan TBM semakin menjamur di tengah masyarakat dengan beragam jenisnya. Ada yang menempati bangunan tetap seperti di balai RW, teras rumah, dan pos ronda, ada juga yang menggunakan sarana transportasi seperti becak, motor, sepeda, dan juga kuda. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan TBM sangat fleksibel sehingga dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Berdasarkan data dari Pengurus Pusat Forum TBM di tahun 2023 bahwa jumlah TBM dan komunitas literasi yang terdaftar sebanyak 2.388 unit (Yusuf, 2023). Sementara itu, berdasarkan data di tahun 2027, jumlah TBM di Yogyakarta kurang lebih 301 unit (https://www.scribd.com/document/362007581/Data-Tbm-Di-Yogyakarta). Perlu diketahui bahwa kondisi TBM ini berbeda dengan kondisi perpustakaan pada umumnya, terutama perpustakaan umum dimana keberadaan perpustakaan didukung dengan adanya dana yang memadai sehingga leluasa dalam menentukan koleksi yang dimiliki. Sebagaimana diungkapkan oleh Evan (1997) bahwa perpustakaan adalah lembaga yang dibiayai oleh masyarakat lewat pajak sehingga masyarakat berhak mendapatkan apa yang mereka inginkan (Qalyubi, 2007). Sehubungan dengan hal tersebut, keberadaan pendaan yang memadai menjadi salah satu kendala dalam kegiatan pengembangan koleksi di TBM. Di sisi lain, pengembangan koleksi ini sangat diperlukan bagi TBM guna memenuhi kebutuhan informasi bagi masyarakat yang dilayani. Pengembangan koleksi di sini tidak hanya mencakup kegiatan pengadaan koleksi buku, tetapi juga menyangkut masalah kebijakan dalam memilih dan menentukan koleksi yang sesuai untuk dijadikan sebagai koleksi di TBM. Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi pengembangan koleksi yang dilakukan oleh taman bacaan masyarakat. Adapun obyek dalam penelitian ini adalah TBM yang berlokasi di Yogyakarta, yaitu TBM Cakruk Pintar Sleman Yogyakarta.
Method
Peneliti ini merupakan penelitian lapangan (field research). Adapun jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif. Pendekatan deskriptif ini digunakan untuk melihat sekaligus mengetahui lebih jauh proses pengembangan koleksi buku di Taman Bacaan Masyarakat. Bogdan dan Taylor dalam Moleong (2011) mendenifisikan penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian untuk menghasilkan data deskriptif, yaitu berupa kata-kata tertulis ataupun lisan dari orang-orang (informan) dan perilaku yang diamati. Lokasi penelitian ini dilakukan di TBM Cakruk Pintar Sleman yang berlokasi di Dusun Nologaten Gang Selada No.106 A RT 04 RW 01, Desa Caturtunggal, Kecamatan Depok, Sleman.
Discussion
1. Profil TBM Cakruk Pintar Dari sisi geografis, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Cakruk Pintar berada di wilayah Dusun Nologaten Gang Selada No.106 A RT 04 RW 01, Desa Caturtunggal, Kecamatan Depok, Sleman, Yogyakarta. Jika dilihat dari Google Maps, dapat diketahui bahwa lokasi TBM Cakruk Pintar berjarak 6 KM dari pusat kota Yogyakarta. Meski demikian, lokasi TBM Cakruk Pintar masih dikelilingi oleh beberapa perguruan tinggi (PT) yang menjadi pusat pendidikan di Kota Yogyakarta, mulai dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran, dan lainnya. TBM Cakruk Pintar mulai dirintis sejak tahun 2003. Pada saat itu, bangunan TBM Cakruk Pintar hanya berupa gubug ronda (cakruk) yang biasa digunakan sebagai tempat berkumpul masyarakat, baik untuk ronda maupun nongkrong antarwarga. Seiring berjalannya waktu, tempat ini difungsikan sebagai TBM yang menyediakan akses sumber bacaan kepada masyarakat secara gratis. Pada tahun 2004-2005, nama yang dipakai adalah TBM Suka Caturtunggal yang secara struktur organisasi berada di bawah naungan Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Suka Caturtunggal. Yayasan YASUKA. Kemudian pada tahun 2007, nama TBM Suka Caturtunggal tidak lagi berada di bawah PKBM Suka Caturtunggal, melainkan di bawah Yayasan YASUKA secara langsung. Berkaitan dengan hal tersebut, nama TBM Suka Caturtunggal berubah menjadi TBM Cakruk Pintar hingga sekarang. Nama ‚Cakruk Pintar‛ kemudian dipilih dengan harapan keberadaan cakruk (gubug/ pos ronda) yang sudah menjadi pusat kegiatan warga dapat mengedukasi masyarakat sehingga menjadikan pribadi yang cerdas, pintar dan berkembang. Hingga kini, TBM Cakruk Pintar pernah mendapatkan berbagai prestasi, baik di tingkat lokal maupun nasional, yaitu; 1) TBM Kreatif dan Rekreatif dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI Tahuun 2010; dan 2) Perpustakaan Komunitas Terbaik Kabupaten Sleman dari Perpustakaan Daerah Kabupaten Sleman tahun 2016. a. Koleksi TBM Buku-buku di TBM Cakruk Pintar dapat dikategorikan menjadi tiga bagian, yaitu buku anak-anak yang meliputi komik, cerita bergambar (cergam), fiksi dan majalah anak; buku remaja yang meliputi komik remaja, fiksi, motivasi, dan juga majalah remaja. Selanjutnya, buku untuk dewasa yang meliputi buku-buku peternakan, pertanian, masakan, life skill, dan lainnya. Berdasarkan data yang peneliti peroleh, jumlah koleksi yang ada di TBM Cakruk Pintar berjumlah sekitar 3.000 an eksemplar. Dalam hal ini, peneliti melihat pada klasifikasi berdasarkan subyek yang ada sebagaimana berikut: No Subyek/ Kategori Jumlah eksemplar 1 Agama 260 eksemplar 2 Perikanan 130 eksemplar 3 Pertanian 120 eksemplar 4 Biografi/ Tokoh 220 eksemplar 5 Teknologi 120 eksemplar 6 Pendidikan 240 eksemplar 7 Bahasa 190 eksemplar 8 Kesenian 170 eksemplar 9 Sejarah 230 eksemplar 10 Sosial 210 eksemplar 11 Komik 230 eksemplar 12 Novel 330 eksemplar 13 Filsafat 110 eksemplar 14 Majalah 230 eksemplar 15 Terbitan Berkala/ Jurnal 210 eksemplar TOTAL 3.000 eksemplar Tabel 1. Jumlah Koleksi TBM Cakruk Pintar Lebih lanjut, koleksi di TBM Cakruk Pintar dibedakan berdasarkan subyek dan menggunakan klasifikasi warna untuk memudahkan pencarian. Model klasifikasi warna ini dipilih mengingat jumlah koleksi yang tidak begitu banyak dan memudahkan warga masyarakat jika ingin mencari koleksi dengan subyek tertentu terkait jumlah koleksi ini, pengelola TBM Cakruk Pintar menyebutkan bahwa untuk jumlah koleksi memang dibatasi tidak lebih dari 3.000 eksemplar. Hal ini mengingat daya tampung koleksi yang sangat terbatas. Jika lebih dari 3.000 eksemplar, maka koleksi tersebut akan dihibahkan atau diroling ke TBM dampingan Cakruk Pintar. 2. Pengembangan Koleksi Buku di TBM Cakruk Pintar Pada dasarnya, tugas utama setiap perpustakaan ialah membangun koleksi yang kuat demi kepentingan pemakai perpustakaan. Pengembangan koleksi mencakup semua kegiatan untuk memperluas koleksi yang ada di perpustakaan, terutama aspek seleksi dan evaluasi. Pengertian seleksi adalah proses mengeditentifikasi bahan pustaka yang akan ditambahkan pada koleksi yang telah ada di perpustakaan. Koleksi perpustakaan harus terbina dari suatu seleksi yang sistematis dan terarah disesuaikan dengan tujuan, rencana, dan anggaran yang tersedia (Yuyu Yulia, 1994). Magrill dan Corbin menyatakan bahwa pengembangan koleksi merupakan serangkaian atau kegiatan yang bertujuan mempermudah pemakai dengan rekaman informasi dalam lingkungan perpustakaan atau unit informasi. Kegiatan pengembangan koleksi mencakup, antara lain penyusunan kebijakan pengembangan koleksi, pemilihan, pengadaan, penyiangan, serta evaluasi pendayagunaan koleksi (Qalyubi, 2007). Secara umum, Evans menjelaskan bahwa proses pengembangan koleksi terdiri dari 6 (enam) komponen kegiatan yang terdiri dari: 1) Analisis masyarakat, dalam hal ini masyarakat pengguna; 2) Kebijakan seleksi; 3) Seleksi; 4) Pengadaan; 5) Penyiangan, dan; 6) Evaluasi (Evans, 2005). Berikut gambaran rangkaian proses pengembangan koleksi: Gambar 1. Proses Pengembangan Koleksi Lebih lanjut, mengacu pada proses pengembangan koleksi di atas tersebut, pengelola TBM Cakruk Pintar mengupayakan adanya langkah-langkah strategis dalam rangka pengembangan koleksi buku di TBM sebagaimana berikut: a. Analisis Masyarakat Setiap tipe perpustakaan melayani kelompok-kelompok pemakai dengan ciri tertentu, sehingga diperlukan perencanaan yang matang, jasa-jasa apa yang sesuai dengan kebutuhan pemakai tersebut. Perencanaan tersebut akan berhasil jika didasarkan atas pengetahuan yang cukup mendalam mengenai masyarakat yang harus dilayaninya. Banyak istilah untuk yang dikenalkan untuk penelitian masyarakat ini, diantaranya adalah analisis masyarakat (community analysis), analisis kebutuhan (need analysis), kajian pemakai (user studies), dan sebagainya (Yuyu Yulia, 1994). Pada tahap ini, TBM Cakruk Pintar berpandangan bahwa proses analisis masyarakat ini adalah proses penting untuk mengetahui karakteristik atau basis masyarakat yang akan dilayani. Proses analisis masyarakat menjadi dasar awal bagi TBM Cakruk Pintar dalam proses pengembangan koleksi. Lebih lanjut untuk proses analisis masyarakat di sini dilaksanakan dengan dua cara, yaitu dengan melibatkan warga dan dengan cara observasi lingkungan sekitar. Melibatkan warga. TBM Cakruk Pintar melibatkan warga dengan cara meminta saran dan masukan kepada warga ketika ada forum warga, misalnya ketika ada rapat RT yang dilakukan di TBM Cakruk Pintar. Kedua, melakukan observasi. Proses observasi ini dilakukan dengan tujuan untuk mengenali lingkungan sekitar sekaligus menganalisa potensi-potensi yang ada di dalamnya. Dengan demikian, melalui pelibatan warga dan observasi terhadap lingkungan sekitar menjadi langkah awal yang dilakukan oleh TBM Cakruk Pintar untuk mengetahui basis masyarakat. Ketika basis masyarakat ini sudah diketahu, maka pengelola TBM Cakruk Pintar lebih mudah untuk menentukan jenis- jenis koleksi yang dibutuhkan masyarakat penggunanya. b. Kebijakan Seleksi Kebijakan seleksi atau yang juga disebut dengan istilah collection development policy merupakan komponen kedua dalam proses pengembangan koleksi. Dalam hal ini, kebijakan pengembangan koleksi adalah pernyataan tertulis dari rencana pengembangan koleksi dengan memberikan perincianperincian untuk pedoman staf perpustakaan. Jadi, sebuah kebijakan adalah sebuah dokumen yang mewakili sebuah rencana kerja dan informasi yang digunakan untuk membimbing cara berpikir staf dan pengambilan keputusan (Yuyu Yulia, 2009). Dalam konteks TBM Cakruk Pintar, kebijakan seleksi masih dalam bentuk tidak tertulis. Meski demikian, ada beberapa point kebijakan seleksi yang dijalankan di TBM Cakruk Pintar. Pertama, jumlah koleksi dibatasi 3.000 eksemplar. Pembatasan ini memiliki beberapa alasan: 1) Dengan adanya koleksi yang sedikit, pengelola lebih mudah dalam melakukan penataan, penyegaran serta kontrol pada koleksi buku. Penyegaran koleksi ini biasanya dilakukan dengan memindahtempatkan buku-buku dari TBM Cakruk Pintar ke beberapa TBM binaan seperti TBM Yasuka yang berlokasi di Gowok Sleman dan TBM Delima di Bantul; 2) Dengan adanya koleksi yang dibatasi, TBM Cakruk Pintar memiliki ruang yang cukup luas untuk menyelanggarakan berbagai kegiatan bagi masyarakat, mulai dari kegiatan membaca sampai beragam pelatihan. kualitas lebih diutamakan daripada kuantitas. Dalam hal ini, kualitas koleksi buku lebih diutamakan karena dengan adanya buku-buku yang berkualitas akan lebih bermanfaat bagi masyarakat. Berkualitas di sini tidak didasarkan pada kondisi fisik buku, melainkan lebih pada kandungan informasi yang terkandung pada buku. koleksi di TBM Cakruk Pintar adalah koleksi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Adapun koleksi yang sesuai kebutuhan ini merujuk pada hasil analisis masyarakat pada tahap awal yang sudah dilakukan sebelumnya. Keempat, koleksi di TBM Cakruk Pintar tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam dan mengandung SARA. Sebagai sumber informasi bagi masyarakat, TBM Cakruk Pintar menyediakan koleksi yang bersifat edukatif serta sangat menghindari koleksi-koleksi yang bersifat SARA dan bertentangan dengan nilai-nilai moral dan agama yang tidak mendidik. koleksi TM Cakruk Pintar diutamakan koleksi dengan informasi yang update. Kemutakhiran atau informasi yang udpdate menjadi salah satu pertimbangan dalam seleksi koleksi buku di TBM Cakruk Pintar. Hal ini penting dilaksanakan karena perkembangan zaman sudah semakin cepat sehingga jika tidak diisi dengan informasi yang bermutu dan update, maka masyarakat akan ketinggalan perkembangan teknologi dan zaman. Keenam, bermanfaat bagi masyarakat. Dalam proses pengembangan koleksi, nilai kebermanfaatan menjadi salah satu point penting bagi TBM Cakruk Pintar. Koleksi yang bermanfaat tidak selalu koleksi yang berisi informasi terbaru, tetapi juga informasi lama yang masih relevan dan bermanfaat bagi masyarakat. c. Seleksi mengungkapkan bahwa seleksi dapat diartikan sebagai tindakan, cara,atau proses memilih. Dalam hubungannya dengan pengembangan koleksi perpustakaan, seleksi merupakan kegiatan untuk mengidentifikasi rekaman informasi yang akan ditambahkan pada koleksi yang sudah ada di perpsustakaan. Proses seleksi ini merupakan kegiatan yang dilaksanakan sebelum kegiatan pengadaan bahan pustaka (Qalyubi, 2007). Proses seleksi di TBM Cakruk Pintar tidak menggunakan alat bantu khusus seperti katalog dari penerbit maupun toko buku. Dalam proses seleksi buku TBM Cakruk Pintar tidak berpatok pada kriteria khusus seperti harga, kepengarangan, cakupan buku, bahan material buku. Lebih lanjut, proses seleksi koleksi yang ada di TBM Cakruk Pintar tidak hanya dilakukan oleh pengelola, tetapi juga melibatkan masyarakat. Pelibatan masyarakat ini dilakukan dengan mengajak masyarakat ke toko buku. Di toko buku tersebut mereka diberi kebebasan untuk memilih buku yang diinginkan. d. Pengadaan Pengadaan buku dapat dilakukan lewat pembelian, tukar menukar, hadiah, atau dengan cara menerbitkan sendiri (Yuyu Yulia, 2009). Dalam konteks TBM Cakruk Pintar, proses pengadaan dilakukan dengan beberapa cara, yaitu: pembelian, hadiah atau hibah, dan menerbitkan sendiri. 1) Pembelian. Proses pembelian koleksi di TBM Cakruk Pintar bersifat insidental, atau tidak bersifat rutin dan terjadwal. Hal ini dikarenakan tidak adanya alokasi dana tetap untuk berbelanja buku bagi TBM. Dana pengadaan di TBM Cakruk Pintar diperoleh dari para pengurus (swadaya) maupun bantuan dari pemerintah. Untuk proses pembelian buku di TBM Cakruk Pintar tidak dilakukan melalui vendor atau jobber, melainkan datang langsung ke toko buku. 2) Hadiah Selain dengan cara pembelian, pengadaan buku di TBM Cakruk Pintar juga dilakukan dengan cara pemberian hadiah atau sumbangan. Untuk hadiah ini dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok, seperti; Masyarakat atau perseorangan, penerbit, lembaga atau komunitas, dan pemerintah. 3) Menerbitkan Sendiri Salah satu pengadaan buku di TBM Cakruk Pintar adalah dengan cara menerbitkan sendiri. Dalam hal ini, TBM Cakruk Pintar memiliki program penerbitan buku yang digunakan untuk menerbitkan buku-buku karya para pengelola. Hampir setiap pengelola TBM Cakruk Pintar didorong untuk memiliki sebuah karya tulis dalam bentuk. Hal ini sebagai salah satu upaya untuk memperkuat sumber daya manusia yang dimiliki TBM Cakruk Pintar. Hingga kini, ada beberapa buku yang ditulis oleh pengelola TBM Cakruk Pintar. Beberapa judul buku yang pernah diterbitkan adalah; 1) Strategi Networking TBM; 2) Fundirising TBM; 3) Gerakan Literasi Mencerdaskan Negeri; 4) TBM di PKBM: Model dan Strategi Pengembangannya; 5) Kitab Masakan 1 tahun (2 jilid); 6) Sahabatku Anak Jalanan; 7) Jogja TBM Kreatif, 8) Budaya Santri Memang Ditinggalkan, 9) Konseling Islam: Solusi Problematika Anak dan Remaja, dan 10) Menggalang Dana Melalui Taman Bacaan Masyarakat, dan lainnya. Buku-buku yang diterbitkan oleh pengelola ini tidak hanya menjadi koleksi pribadi TBM, tetapi juga sebagai salah satu strategi untuk penggalangan dana (fundrising) TBM. Lebih lanjut, untuk proses pengadaan di TBM Cakruk Pintar ini tidak dilakukan secara terjadwal. Untuk pengadaan melalui pembelian dilakukan menyesuaikan dengan kondisi keuangan TBM. e. Penyiangan Penyiangan (weeding) adalah suatu praktik dari pengeluaran atau memindahan ke gudang, duplikat bahan pustaka, buku-buku yang jarang digunakan, dan bahan pustaka lainnya yang tidak lagi dimanfaatkan oleh pengguna. Hasil penyiangan ini bisa dijadikan sebagai hadiah kepada perpustakaan lain, dipertukarkan, dijual murah kepada para penggemar buku atau titip jual kepada pedagang yang khusus menjual buku-buku out of print (buku yang sudah tidak tersedia di pasaran) (Yuyu Yulia, 2009) Adapun tujuan penyiangan di TBM Cakruk Pintar ada tiga, yaitu menghemat tempat penyimpanan buku, meningkatkan akses masyarakat terhadap buku, dan menjaga keterbaruan informasi. Lebih lanjut, ada 5 (lima) kriteria koleksi buku yang akan disiangi. Pertama, buku yang memiliki jumlah eksemplar yang dobel atau ganda. Buku yang memiliki jumlah eksemplar lebih dari dua eksemplar makan akan dikurangi jumlahnya. Kedua, buku yang sudah rusak. Buku yang memiliki kondisi fisik sudah tidak layak baca akan disisihkan dan tidak ditaruh di dalam rak buku. Misalnya, buku yang basah terkena air, sobek, atau hilang sebagian halamannya. Bukubuku seperti ini akan ditarik dari daftar koleksi TBM Cakruk Pintar. Ketiga, buku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama dan pendidikan. Mengingat buku-buku yang ada di TBM Cakruk Pintar juga berasal dari donatur, maka sangat dimungkinkan buku-buku tersebut kurang sesuai dengan nilai-nilai agama atau pendidikan, maka akan disisihkan dari daftar koleksi TBM Cakruk Pintar. Keempat, buku yang masih layak baca namun jarang dibaca atau digunakan. Buku-buku seperti ini biasanya akan dirolling ke TBM cabang dari TBM Cakruk Pintar, salah satunya adalah TBM yang berlokasi di dusun Gowok dan dusun Ambarukmo. Rolling buku ini dimaksudkan agar informasi yang ada di TBM selalu ada yang baru sehingga menarik minat masyarakat untuk membacanya. Kelima, buku yang sudah kadaluarsa informasinya. Buku-buku yang masuk kategori ini adalah buku tentang teknologi. Pada umumnya, dalam jangka tertentu buku tentang teknologi terus mengalami pembaruan sehingga menjadikan buku-buku sebelumnya kadaluarsa (out off date). Dalam kondisi ini, TBM Cakruk Pintar memasukkan bukubuku teknologi ke dalam daftar penyiangan. Selanjutnya, buku-buku yang masuk daftar penyiangan kemudian diambil dari rak dan dipilah-pilah. Koleksi yang masih layak baca akan disisihkan dari koleksi yang tidak layak baca. Kemudia koleksi-koleksi tersebut disimpan ke dalam kardus. Untuk buku yang masih layak baca akan diroling ke TBM binaan dan disumbangkan ke beberapa TBM lain atau pihak yang membutuhkan. f. Evaluasi Koleksi Pada dasarnya, evaluasi koleksi adalah kegiatan menilai koleksi perpustakaan baik dari segi ketersediaan koleksi itu bagi pengguna maupun pemanfaatan koleksi itu oleh pengguna (Yuyu Yulia, 2009). Dalam konteks ini, proses evaluasi koleksi di TBM Cakruk Pintar dilakukan berdasarkan masukan dan kritikan dari warga yang memanfaatkan TBM Cakruk Pintar. Masukan dan kritikan ini selanjutnya menjadi bahan evaluasi koleksi bagi pengelola TBM Cakruk Pintar dan kemudian dicarikan pemecahannya. Selain itu, evaluasi koleksi juga dilakukan dengan melihat daftar peminjaman buku yang sudah ada untuk menilai buku seperti apa yang lebih diminati atau diinginkan oleh pengguna TBM cakruk Pintar
Conclusion
Proses pengembangan koleksi baik di TBM Cakruk Pintar Sleman dilakukan melalui beberapa tahapan. Pada tahap awal dilakukan proses analisis masyarakat untuk mengenali basis masyarakat pengguna. Kedua, menentukan kebijakan seleksi dan kriteria seleksi. Ketiga, seleksi terhadap koleksi buku. Keempat, pengadaan koleksi buku dengan cara tertentu. Kelima, penyiangan untuk menarik koleksi dari daftar koleksi TBM dengan kriteria tertentu. Terakhir, evaluasi koleksi sebagai bahan masukan terhadap koleksi buku di TBM. Berdasarkan pembahasan di atas, terdapat saran terkait proses pengembangan koleksi di taman bacaan masyarakat, peneliti memberikan saran bahwa di era masyarakat informasi seperti sekarang ini, kebutuhan informasi masyarakat semakin beragam, sehingga pengelola atau pengurus TBM perlu meningkatkan wawasan terkait ragam-ragam informasi yang sedang berkembang. Selain itu, proses analisis masyarakat dan evaluasi kebutuhan informasi dapat dilaksanakan secara berkala, misalnya satu atau dua tahun sekali. Hal ini dimaksudkan untuk mengantisipasi perkembangan informasi yang semakin cepat. Akhirnya, pengembangan koleksi merupakan salah satu faktor kunci bagaimana taman bacaan masyarakat dapat memberikan layanan terbaik bagi masyarakat. Melalui koleksi yang dikelola dengan baik, informasi yang disajikan akan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, mereka akan menjadikan buku-buku yang ada di TBM dan perpustakaan sebagai solusi dalam menjawab beragam permasalahan di masyarakat.