LITERATURE REVIEW: TRANSFORMASI PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI DI ERA MASYARAKAT 5.0
Universitas Sumatera Utara; Universitas Sumatera Utara; Universitas Sumatera Utara; Universitas Sumatera Utara
Abstrak
Perkembangan teknologi digital yang pesat serta kemunculan era Masyarakat 5.0 telah mendorong perpustakaan perguruan tinggi untuk melakukan transformasi secara menyeluruh. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis bentuk transformasi perpustakaan perguruan tinggi dalam menghadapi perkembangan teknologi di era Masyarakat 5.0. Penelitian ini menggunakan metode literature review terhadap artikel jurnal relevan tahun 2020–2025 yang dikaji menggunakan kerangka teori IFLA. Hasil kajian menunjukkan bahwa transformasi perpustakaan mencakup pengembangan layanan hibrida, pemanfaatan teknologi digital seperti IoT dan automasi, serta peningkatan kompetensi pustakawan agar sesuai dengan kebutuhan pengguna digital. Transformasi perpustakaan di era Masyarakat 5.0 menuntut integrasi teknologi, kesiapan sumber daya manusia, dan orientasi layanan yang berpusat pada pengguna agar perpustakaan tetap relevan dan berkelanjutan.
Abstract
The rapid development of digital technology and the emergence of the Society 5.0 era have encouraged university libraries to undergo a comprehensive transformation. This article aims to analyse the forms of transformation of university libraries in response to technological developments in the Society 5.0 era. This study uses a literature review method of relevant journal articles from 2020 to 2025, which are examined using the IFLA theoretical framework. The results of the study show that library transformation includes the development of hybrid services, the use of digital technologies such as IoT and automation, and the improvement of librarians' competencies to meet the needs of digital users. Library transformation in the Society 5.0 era requires technology integration, human resource readiness, and user-centred service orientation to ensure that libraries remain relevant and sustainable.
Keywords:
Library Transformation
· University Libraries
· Society 5.0
· Internet of Things (IoT)
Introduction
Transformasi perpustakaan adalah berprosesnya suatu perpustakaan ke arah yang lebih baik dengan adanya perubahan dalam unsur perpustakaan, antara lain unsur koleksi, pengolahan, penyimpanan dan pemakaian (Vitriana, 2024). Transformasi perpustakaan dari yang sederhana menjadi perpustakaan yang berbasis digital tidak dapat ditolak, ini berguna untuk kepentingan pemustakanya, seperti mahasiswa, dosen serta sivitas akademi lainnya dalam mengimplementasikan informasi (Vitriana & Hermansyah, 2021). Transformasi juga merupakan hal yang penting terutama bagi perpustakaan karena perpustakaan adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan untuk pencarian data informasi dan temu kembalinya informasi serta perannya saling berkaitan, apalagi dengan perkembangan teknologi digital yang terus berubah. Hal ini di karenakan perpustakaan adalah “jantung pendidikan seumur hidup” bagi mahasiswa, dosen, maupun masyarakat. Namun, saat ini perpustakaan perguruan tinggi mengalami kendala dalam hal transformasi di era digital, yang dimana perubahan teknologi digital bukan hanya memengaruhi cara bagaimana informasi diciptakan, dikelola, maupun disebar, tetapi juga telah mengubah pandangan pengguna terhadap layanan informasi (Ilhami et al., 2024). Setiap harinya perubahan perilaku mahasiswa dan dosen dalam mengakses informasi telah menunjukkan perubahan yang semakin cepat (Kriyantono et al., 2023). Terutama pada generasi muda saat ini, yang dikenal sebagai generasi digital native, cenderung lebih memilih system berbasis online untuk mencari dan mengakses informasi daripada harus datang langsung ke perpustakaan fisik (Ilhami et al., 2024). Berbagai studi menunjukkan bahwa adanya perubahan pilihan pengguna dalam menggunakan sumber informasi. Penelitian dari Amirtharaj et al., (2023) menunjukkan data bahwa 74,6% mahasiswa lebih menyukai E-book karena dianggap praktis dan mudah diakses, dan 80,6% diantaranya menghabiskan waktu lebih dari satu jam untuk membaca Ebook. Sedangkan 66,7% mahasiswa yang memilih buku cetak sekitar karena lebih nyaman untuk belajar dan 67,9% menyatakan buku cetak lebih memudahkan dalam mencatat. Hasil penelitian tersebut menggambarkan bahwa transformasi perpustakaan tidak hanya melibatkan teknologi digital, namun harus disesuaikan dengan kebutuhan pengguna yang beragam. Perkembangan digital mendorong munculnya era Masyarakat 5.0 yaitu perkembangan dari revolusi industri 4.0. Revolusi industri 4.0 menggunakan kecerdasan buatan, sementara Masyarakat 5.0 berfokus pada komponen teknologi dan manusianya (Siahaan & Sirait, 2023). Era Masyarakat 5.0 berfokus pada manusia serta menggabungkan ruang fisik dan dunia digital melalui pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), Big Data, dan berbagai teknologi cerdas lainnya (Fauzi & Wibawa, 2022). Oktaviana et al., (2022)juga menyatakan bahwa era Masyarakat 5.0 adalah era ketika seluruh aktivitas manusia memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap teknologi. Di era ini, teknologi bukan hanya berperan dalam memberikan solusi yang tepat dan akurat, tetapi juga berfungsi sebagai sebuah sistem yang mampu bekerja sama dengan manusia untuk menghasilkan kehidupan yang lebih efektif, produktif, dan sesuai dengan kebutuhan manusia (Fricticarani et al., 2023). Di era digital ini, teknologi informasi telah mengubah pola pikir tentang perpustakaan tradisional menjadi perpustakaan yang lebih terbuka dan terhubung secara global (Atika & Sayekti, 2023). Sebelumnya perpustakaan dianggap sebagai tempat koleksi buku saja, namun sekarang berkembang menjadi pusat sumber daya informasi serta akses informasi yang sebelumnya terbatas kini telah menjadi begitu mudah dan cepat dengan adanya perkembangan teknologi digital (Setyawan et al., 2025). Oleh karena itu, perpustakaan disini sebagai perantara untuk pusat informasi yang harus menyesuaikan diri dengan standart teknologi yang baru dengan menyediakan layanan yang berbasis teknologi yang lebih responsif serta mendukung kebutuhan pengguna yang akan terus semakin beragam. Untuk memahami bagaimana transformasi perpustakaan di era Masyarakat 5.0 ini, artikel ini menggunakan kerangka teori IFLA (2015) sebagai landasan kajian. Konsep Masyarakat 5.0 yang mengutamakan pemanfaatan teknologi dalam hal ini sangat sesuai karena dianggap sebagai dasar dalam merancang transformasi perpustakaan yang tidak hanya berfokus pada sistem, tetapi juga berfokus pada aspek kemanusiaan dan keberlanjutan. Oleh karena itu, tujuan dari kajian ini adalah menganalisis bagaimana transformasi perpustakaan di perguruan tinggi dapat dilakukan pada era Masyarakat 5.0.
Method
Penelitian ini menggunakan metode literature review, yaitu suatu pendekatan penelitian yang dilakukan dengan mengumpulkan, menelaah, dan menganalisis berbagai sumber literatur seperti artikel jurnal, buku, dan laporan yang sesuai dengan topik transformasi perpustakaan di era Masyarakat 5.0 (Hadi, 2021). Proses literature review juga merupakan pengumpulan data guna mengumpulkan informasi yang relevan tentang topik tertentu yang menarik (Adeniran & Tayo-Ladega, 2024). Penelitian ini memberikan gambaran yang mendalam tentang tren penelitian yang relevan serta membantu mengidentifikasi tematema yang berkembang dalam transformasi perpustakaan perguruan tinggi di era Masyarakat 5.0 (Atika & Sayekti, 2023). Metode ini membantu peneliti untuk melihat bagaimana perpustakaan beradaptasi dengan teknologi dan memahami perkembangan apa saja yang sudah terjadi. Penelitian ini dilakukan dengan menentukan tema yang akan dikaji. Peneliti mengambil tema “Perubahan perpustakaan perguruan tinggi di era 5.0” sebagai topik yang nantinya akan digunakan dalam penelitian ini. Pengumpulan data melalui studi literatur dilakukan dengan cara mencari artikel di google scholar melalui aplikasi Publish or Perish (PoP) dengan keyword “Transformasi perpustakaan perguruan tinggi di era masyarakat 5,0”. Peneliti membatasi jumlah sebanyak 50 artikel dari tahun 2020 sampai 2025. Selanjutnya, peneliti menyaring kembali melalui tahapan seleksi satu per untuk setiap isi artikel. Setelah dianalisis, ditemukan 25 artikel yang sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Selanjutnya dari kumpulan artikel tersebut, peneliti akan memilih 3 artikel yang akan direview, dianalisis, dan berkaitan dengan tema yang diteliti.
Result & Discussion
Setelah melakukan penelusuran artikel ilmiah melalui Google Schoolar di aplikasi Publish or Perish, ditemukan 3 artikel yang sesuai dengan tema penelitian dari 25 artikel yang dipublikasikan antara tahun 2020 hingga 2025, yaitu sebagai berikut: Judul Artikel Author Tujuan Penelitian Temuan Implikasi The Role of Librarians in The Era of Society 5.0: Missing or Increasing Importance? Ginting et al., (2023) Mengevaluasi keberadaan perpustakaan dan peran dari pustakawan di era masyarakat 5.0. Apakah peran mereka hilang atau telah berkembang dengan transformasi digital dan perubahan masyarakat. • Perpustakaan dan pustakawan tetap berkembang dan memiliki peran yang semakin penting di era Society 5.0. • Berbagai inovasi dan pengembangan layanan dianggap relevan di era ini, termasuk: penggunaan robotic, layanan swalayan, perpustakaan digital, layanan konsultasi informasi, serta layanan konsultasi digital. • Perpustakaan modern masih sangat relevan dan dibutuhkan oleh masyarakat yang semakin maju secara teknologi. • Pustakawan harus meningkatkan kompetensi dan menjalankan perannya, menyesuaikan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pengguna di era Society 5.0. • Perpustakaan perlu mengeksplorasi dan mengimplementasikan layanan baru (robotik, self-service, digital consulting, dll.) untuk memenuhi kebutuhan pengguna modern. Transformation of University Libraries During the Digital Era Baryshev et al., (2020) Untuk memahami bagaimana sumber informasi dimanfaatkan dalam proses pembelajaran dan penelitian, sehingga perpustakaan dapat meningkatkan kualitas layanan kepada penggunanya. • Perpustakaan universitas sedang mengalami transformasi besar akibat digitalisasi. Kegiatan layanan, pengembangan koleksi, dan interaksi dengan pengguna sekarang beralih ke format digital, tetapi tetap mempertahankan fungsi tradisionalnya. • Pengembangan perpustakaan elektronik memungkinkan • Perguruan tinggi perlu menyusun strategi pengembangan perpustakaan yang sesuai dengan tuntutan era digital, termasuk kebijakan, infrastruktur TI, pelatihan staf, dan pengelolaan koleksi digital. • Perpustakaan digital dapat menjangkau lebih banyak pengguna, baik yang datang langsung maupun yang mengakses secara daring, sehingga akses pengetahuan semakin luas dan literasi digital semakin meningkat. perpustakaan tetap menjalankan fungsi utamanya, meskipun media dan cara akses sudah berubah • Pengguna (mahasiswa) semakin memilih sumber elektronik, tetapi bahan cetak tetap digunakan. Tingkat kunjungan daring sudah melampaui kunjungan fisik • Adaptasi ini penting agar perpustakaan tetap relevan, berfungsi dengan baik, serta dapat mendukung proses pendidikan dan penelitian di era ketika teknologi informasi menjadi bagian utama kehidupan. Penerapan Internet of Things (Iot) Dalam Upaya Mewujudkan Perpustakaan Digital di Era Society 5.0 Ayuningtyas, (2022) Menelaah bagaimana penerapan teknologi Internet of Things (IoT) dapat mendukung transformasi perpustakaan menjadi perpustakaan digital di era Society 5.0, sehingga layanan perpustakaan menjadi lebih nyaman dan relevan bagi pengguna. • Era Society 5.0, dengan komponen utama seperti IoT, Big Data, dan Artificial Intelligence menuntut perpustakaan untuk berevolusi dari model tradisional ke digital. • Penerapan IoT di perpustakaan telah terlihat melalui penggunaan RFID untuk sirkulasi dan cloud computing untuk penyimpanan koleksi digital. • IoT membantu mempermudah akses informasi, mempercepat layanan, serta meningkatkan kenyamanan dan pengalaman pemustaka. Transformasi ini • Perpustakaan harus beradaptasi dari metode tradisional ke digital dengan memanfaatkan IoT, RFID, dan cloud computing. Sehingga Layanan sirkulasi, peminjaman, dan akses bahan pustaka menjadi lebih cepat, otomatis, dan dapat diakses dari mana saja. • Transformasi perpustakaan penting untuk dilakukan agar tetap relevan dan dapat memberikan layanan yang sesuai dengan kebutuhan pengguna modern. • Pustakawan harus meningkatkan kemampuan dalam teknologi dan manajemen digital agar perpustakaan bisa berfungsi dengan baik di era Society 5.0. mendukung peran perpustakaan sebagai pusat informasi yang adaptif di era Society 5.0. Berdasarkan analisis dari tiga penelitian tersebut secara garis besar terlihat bahwa transformasi perpustakaan bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga membutuhkan kesiapan mental dan budaya digital dari pengguna dan pustakawan agar layanan digital dapat dimanfaatkan dengan sempurna dan semestinya. Ketiga artikel menunjukkan bahwa perpustakaan tidak hanya tetap relevan, tetapi justru semakin dibutuhkan sebagai pusat informasi, literasi, dan inovasi. Temuan ini sejalan dengan perspektif IFLA Trend 1 (2015) yang menyatakan bahwa “An ever-expanding digital universe will bring a higher value to information literacy skills such as basic reading and competence with digital tools”. Kutipan ini menegaskan bahwa kompetensi digital telah menjadi syarat utama agar masyarakat dapat memanfaatkan layanan perpustakaan berbasis modern dan teknologi digital sehingga mendorong perubahan besar dalam cara masyarakat mengakses, memproduksi, dan membagikan informasi. Meskipun transformasi ini membawa peluang besar, namun perpustakaan fisik menghadapi tantangan yang serius di era digital, termasuk pada akses terbatas ke teknologi, literasi digital yang rendah, kebutuhan adaptasi budaya, serta masalah keamanan, meskipun ada peluang untuk akses informasi yang lebih luas dan layanan yang inovatif (Siyamsih, 2024). Hapsari, (2019) menegaskan bahwa perpustakaan harus mampu membuktikan keberadaannya dengan meningkatkan kompetensi SDM dan menyesuaikan layanan terhadap perkembangan teknologi sesuai zamannya. Di sisi lain, Hamilaturroyya & Adibah, (2025) menyatakan bahwa hambatan seperti keterbatasan infrastruktur digital dan kesiapan budaya akademik juga memengaruhi keberhasilan perubahan menuju perpustakaan digital. Terlihat bahwa banyak perpustakaan yang sebenarnya sudah memahami kepentinan dari digitalisasi, namun belum semua perpustakaan mampu bergerak cepat menyesuaikan karena keterbatasan SDM dan anggaran, sehingga proses transformasi sering kali berjalan tidak seimbang antara kebutuhan pengguna dengan kemampuan lembaga. Penelitian Ginting et al., (2023) menegaskan bahwa peran pustakawan tidak hilang meskipun teknologi semakin mendominasi. Sebaliknya, pustakawan justru mengalami peningkatan fungsi, terutama dalam konteks layanan inovatif seperti robotik perpustakaan, layanan self-service, konsultasi digital, dan perpustakaan berbasis teknologi. Hal ini diperkuat pernyataan IFLA Trend 5 (2015) yang menyatakan bahwa “The global information economy will be transformed by new technologies. proliferation of hyperconnected mobile devices, networked sensor will spur creative disruption”. Dengan adanya revolusi teknologi tersebut, pustakawan tidak akan bisa bertahan dengan hanya memiliki kompetensi tradisional, tetapi harus bisa beradaptasi dan berkembang dengan keterampilan digital, teknologi informasi, serta manajemen data. Sejalan dengan itu, penelitian Sumarni, (2020) menunjukkan bahwa pustakawan perlu meningkatkan kompetensi diri, baik hard skill maupun soft skill, serta menerapkan pembelajaran sepanjang hayat agar dapat mengikuti perkembangan teknologi dan tetap memenuhi kebutuhan pemustaka. Hal ini juga di dukung oleh pernyataan Subchan, (2023) bahwa pustakawan kini harus menguasai keterampilan baru yang serba digital, termasuk metadata management, preservasi digital, dan pengelolaan berbasis elektronik. Sejalan dengan itu, Qudusisara, (2019) menegaskan bahwa perpustakaan harus mengubah sistem pengelolaannya dan menuntut pustakawan untuk mampu beradaptasi dengan model kerja yang lebih berbasis teknologi. Oleh karena itu, Deriana et al., (2025) menganggap bahwa peran perpustakaan merupakan kunci dalam menentukan peran pustakawan di masa depan, dengan penyesuaian terhadap kebutuhan pengguna dan dampak teknologi yang terus berubah. Dengan demikian, transformasi layanan dan peningkatan profesionalisme pustakawan menjadi salah satu indikator penting dalam keberlanjutan perpustakaan di era Society 5.0. Selanjutnya, penelitian Baryshev et al., (2020) memberikan gambaran bahwa perpustakaan perguruan tinggi berada pada fase perubahan penting yaitu dari perpustakaan tradisional menjadi model perpustakaan yang hibrida. Perubahan ini terjadi karena digitalisasi telah memasuki seluruh aspek pendidikan dan civitas akademik, sehingga perpustakaan perlu menyesuaikan diri agar tetap mampu memenuhi kebutuhan pengguna. Hal ini juga dijelaskan oleh Tjiptasari, (2022) bahwa perpustakaan telah berkembang yang dari ruangan fisik berbasis koleksi menjadi sistem digital yang mendukung akses informasi tanpa batas ruang dan waktu. Perpustakaan di masa depan dipastikan akan lebih menekankan pada fasilitas layanan, integrasi teknologi, dan penyesuaian terhadap kebutuhan pengguna digital native (Maslahah & Mahardika, 2020). Penelitian Ayuningtyas, (2022) menjelaskan bahwa pemanfaatan Internet of Things (IoT) merupakan salah satu pendekatan yang dapat mendorong perpustakaan menuju transformasi digital yang lebih efektif. Layanan perpustakaan berbasis IoT memberikan kemudahan akses, kenyamanan, pengalaman pengguna yang lebih modern, dan memungkinkan perpustakaan berubah menjadi konsep smart library. Hal ini sesuai dengan IFLA Trend 5 (2015) yang menyatakan bahwa “Proliferation of hyperconnected mobile devices, networked sensors in appliances and infrastructure… will transform the global information economy”. Dengan hadirnya perangkat yang saling terhubung tersebut, perpustakaan dapat memaksimalkan otomatisasi layanan, meningkatkan produktivitas pelaksanaan, serta menyediakan layanan yang lebih individual dan responsif berdasarkan dengan kebutuhan pengguna secara real-time. Transformasi ini telah menunjukan bahwa perpustakaan tidak hanya sebagai penyedia informasi, tetapi juga sebagai ruang cerdas digital yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan perilaku pengguna. Integrasi IoT di perpustakaan tidak hanya mengubah layanan yang disediakan, tetapi juga mengharuskan pustakawan untuk meningkatkan kompetensi mereka dalam teknologi digital dan manajemen data (Anggorowati & Maryatun, 2024). Pernyataan tersebut sejalan dengan penelitian Handayani, (2019) yang mengungkapkan bahwa penerapan Internet of Things (IoT) di perpustakaan dapat meningkatkan kualitas layanan dan fasilitas sekaligus mengurangi biaya operasional, mengoptimalkan manajemen koleksi, serta mempercepat alur kerja perpustakaan secara keseluruhan. Panigrahi et al., (2022) juga menegaskan bahwa pemanfaatan IoT dapat membantu perpustakaan dalam melakukan evaluasi layanan berbasis data, memantau aktivitas pengguna, serta menyempurnakan sistem keamanan dan sirkulasi otomatis. Jika ketiga penelitian tersebut dianalisis secara menyeluruh, dapat dinyatakan bahwa transformasi perpustakaan merupakan hasil interaksi antara inovasi teknologi, perubahan kebutuhan pengguna, dengan kesiapan dari lembaga untuk beradaptasi. Perpustakaan tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan koleksi buku, tetapi telah berkembang menjadi pusat aktivitas digital, ruang kolaborasi, dan penyedia layanan informasi berbasis teknologi yang tinggi (Febriyanti et al., 2024). Perpustakaan saat ini harus menyesuaikan perubahan dengan kebutuhan pengguna, bukan hanya sekadar mengikuti tren teknologi, agar layanan benar-benar digunakan dengan sesuai dan bermanfaat. Dalam konteks perpustakaan perguruan tinggi, transformasi perpustakaan di era digital tidak hanya mengharuskan penerapan teknologi yang baru, tetapi juga memerlukan kesiapan sistem akademik dalam beradaptasi dengan berbagai model layanan yang semakin cerdas dan otomatis. Integrasi berbagai inovasi seperti automasi layanan, big data, konsultasi digital, sampai Internet of Things (IoT), telah mengubah perpustakaan menjadi ruang pembelajaran yang lebih responsif, adaptif, berorientasi pada kebutuhan sivitas akademika serta penyesuaian kebijakan lembaga terhadap kebutuhan pengguna yang semakin dinamis.
Conclusion
Transformasi perpustakaan perguruan tinggi di era Masyarakat 5.0 merupakan proses yang tidak dapat di hindari dan bukanlah hal yang sekadar penerapan teknologi digital. Perubahan ini mengharuskan perpustakaan untuk menyesuaikan layanan, sistem pengelolaan, serta alur kerja agar sesuai dengan perkembangan teknologi serta kebutuhan pengguna yang semakin beragam saat ini. Perpustakaan perguruan tinggi di era masyarakat 5.0 saat ini, tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan koleksi buku, tetapi telah berkembang menjadi pusat informasi, literasi, dan inovasi dengan model layanan hibrida yang menggabungkan antara ruang dan sistem fisik dengan digital. Keberhasilan transformasi tersebut juga bergantung pada kesiapan sumber daya manusia, khususnya pustakawan, dalam menguasai kemampuan berbasis digital dan beradaptasi dengan perubahan budaya layanan. Dukungan teknologi seperti AI dan IoT juga perlu di sesuaikan dengan peningkatan kompetensi pustakawan serta penyesuaian layanan yang berpusat pada pengguna. Dengan demikian, perpustakaan perguruan tinggi dapat tetap relevan, berkelanjutan, dan berperan penting dalam mendukung pendidikan dan pembelajaran secara terus menerus di era Masyarakat 5.0.