Kembali
16
1
2023 Pustakaloka : Jurnal Kajian Informasi dan Perpustakaan Vol 15 · 1 ISSN 2502-4108

Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Untuk Menciptakan Knowledge Society

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel; Universitas Islam Negeri Sunan Ampel

Abstrak

Keberadaan perpustakaan sebagai pusat pemberdayaan dan pengembangan diri masih seringkali dihiraukan keberadaannya oleh masyarakat. Perpustakaan harus melakukan transformasi menjadi perpustakaan berbasis inklusi sosial artinya menjadi bagian dalam menciptakan knowledge society sehingga taraf kehidupan masyarakat menjadi meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial yang dapat menciptakan knowledge society(masyarakat yang berpengetahuan).Adapun pendekatanpenelitianini adalahkualitatif dengan tinjauan kepustakaan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa transformasi perpustakaanberbasis inklusi sosial berkontribusi besar dalam menciptakan knowledge society melalui pengaktifan budaya literasi di semua kalangan. Literasi yang tidak hanya berupa kemampuan baca, tulis, dan hitung, akan tetapi juga memberikan kemampuan terkait aspek cognitive skills yang melandasi seseorang agar mampu berpikir kritis dan logis sehingga mempunyai pengetahuan yang dapat digunakan untuk mengembangkan potensi serta talenta mereka. Dengan basis inklusi sosial, perpustakaan mampu menjadi ruang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat sehingga menciptakan knowledge society dengan dua orientasi yaitu orientasi pada outcame (dampak) tertentuyang terjadi di masyarakat dan orientasi pelayanan yang lebih menekankan pada humanistic approach dan social approach</p>

Abstract

The existence of libraries as centers for empowerment and self-development is often social overlooked by the community. Libraries need to undergo a transformation into inclusion-based libraries, meaning they become part of creating a knowledge society, thus raising the quality of life for the community. This research aims to analyze the transformation of social inclusion-based libraries that can create a knowledge society. The research approach used is qualitative with a literature review.The results of this research show that the transformation of social inclusion-based libraries significantly contributes to creating a knowledge society through the activation of literacy culture among all segments of society. Literacy here is not only about reading, writing, and arithmetic skills but also involves cognitive skills that underpin an individual’s ability to think critically and logically, enabling them to acquire knowledge that can be used to develop their potential and talents. With a basis in social inclusion, libraries can become open spaces for all layers of society, thus creating a knowledge society with two orientations: outcome orientation, which focuses on the impact of events in society, and service orientation, which places greater emphasis on the humanistic approach and social approach.
Keywords: knowledge society · library · social inclusion

Introduction

Perpustakaan merupakan suatu lembaga penyedia sumber informasi sekaligus sebagai tempat belajar bagi masyarakat yang dikelola secara profesional dan terbuka bagi semua kalangan. Perpustakaan yang dianggap sebagai tempat belajar sepanjang hayat (lifelong learning) dapat terwujud ketika perpustakaan tersebut dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya, baik dijadikan sebaik pusat pengembangan keilmuan, tempat mengkaji ilmu, bahkan tempat berdiskusi'. Perpustakaan sebagai proses pembelajaran sepanjang hayat harus dapat memenuhi kebutuhan informasi pemustaka. Dengan perpustakaan dapat dimaknai dengan gudang ilmu dan rumah intelektual. ini, Perpustakaan juga mempunyai peran sosial yang cukup penting, baik dalam hal pengembangan pendidikan, repositori pengetahuan, dan sebagai ruang komunitas fisik yang dapat diakses secara bebas oleh pemustaka?. Oleh karena itu, perpustakaan mempunyai peran yang strategis dalam kehidupan masyarakat yaitu sebagai sarana mengembangkan intelektual, sehingga perpustakaan harus menyediakan pelayanan yang beragam dan diberikan akses secara bebas. Dengan demikian, perpustakaan sebagai wadah bagi seseorang untuk mendapatkan informasi sudah sepatutnya untuk memberikan layanan yang sama tanpa memberikan perbedaan antara pemustaka satu dengan pemustaka yang lain®. Perpustakaan sebagai sarana bagi masyarakat untuk memberdayakan diri, sehingga perpustakaan berperan juga untuk mengembangkan dan memelihara masyarakat yang demokratis dengan memberikan akses individu ke berbagai pengetahuan, ide, dan pendapat yang luas dan beragam®*. Oleh karenanya, ! perpustakaan yang berperan sebagai pusat informasi harus bertransformasi menjadi tempat pengembangan diri bagi masyarakat di semua kalangan tanpa adanya perbedaan latar belakang, karakteristik, status, kemampuan, kondisi, etnik, maupun budaya, sehingga dengan ini, nantinya perpustakaan dapat turut aktif untuk mewujudkan masyarakat berkeadilan®. Model transformasi perpustakaan yang dapat digunakan untuk memperkenalkan dan memajukan eksistensinya adalah dengan bertransformasi menjadi perpustakaan berbasis inklusi. Adapun yang dimaksud dengan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial ini adalah suatu perubahan atau pergerakan meningkatkan layanan kualitas perpustakaan hidup maupun yang berkomitmen kesejahteraan dari untuk lebih masyarakat penggunanya. Dengan adanya transformasi seperti ini, perpustakaan menjadi lebih dekat dengan pengguna sehingga perpustakaan juga dapat berperan lebih untuk turut andil dalam hal pemberdayaan masyarakat, mengajak, mendekatkan, serta memberdayakan masyarakat®. Dalam artian, inklusi sosial di perpustakaan ini mempunyai makna bahwasannya setiap orang mempunyai kesempatan untuk mengakses dan turut berpartisipasi dalam berbagai aktivitas masyarakat’. Inklusi sosial merupakan sebuah proses yang digunakan untuk memastikan bahwa masyarakat yang beresiko terdampak eksklusi sosial mendapat 5 sebuah peluang dan sumber daya yang sesuai untuk mengikutsertakan diri dalam kehidupan sosial, budaya, ekonomi, serta dapat menikmati tingkat kualitas hidup dan kesejahteraan yang dianggap normal dalam masyarakat di tempat mereka tinggal.® Inklusi sosial ini dapat juga dikatakan sebuah penyetaraan hak akses yang sama kepada seluruh kelompok sosial masyarakat. Inklusi adalah sebuah pendekatan yang digunakan untuk membangun dan mengembangkan sebuah lingkungan yang semakin terbuka dengan mengajak seluruh masyarakat dengan berbagai perbedaan’. Dengan ini dapat disimpulkan bahwa inklusi sosial adalah sebuah pendekatan baru dalam membangun kehidupan yang lebih maju baik melalui pengembangan lingkungan yang semakin terbuka bagi semua kalangan atau mengikutsertakan dan melibatkan berbagai pihak yang didasarkan pada kemajemukan masyarakat dengan proses pembangunan'®. Inklusi sosial juga didefinisikan dengan masyarakat yang mampu untuk mendapatkan sumber daya yang ada, peluang, mendapatkan kesempatan untuk belajar, inklusi bekerja, sosial dan yang bersuara secara bebas. Adapun yang menjadi indikator diidentifikasi dari kebjjakan dan literatur akademik itu sendiri ada 9, yakni 1) Kualitas gender; 2) Keadilan dalam penggunaan sumber daya publik; 3) Perlindungan sosial; 4) Pembangunan sumber daya manusia; 5) Kelestarian lingkungan; 6) Diskriminasi; 7) Teknologi sosial; 8) Pengembangan sosial; dan 9) Penciptaan ruang rekreasi yang dibutuhkan masyarakat. Untuk itu, perpustakaan harus bertransformasi menjadi berbasi inklusi sosial sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat serta dapat menarik perhatian masyarakat agar mau menggunakan layanan perpustakaan'!. Adapun perpustakaan berbasis inklusi sosial adalah perpustakaan yang menawarkan jasa layanan informasi yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat dengan berbagai perbedaan, baik beda dalam segi latar belakang, kemampuan, karakteristik, kondisi, status, etnik, ataupun budaya yang bertujuan untuk mengembangkan potensi diri untuk peningkatan ekonomi. Selain itu, perpustakaan dengan basis inklusi sosial ini adalah sebagai bentuk pengembangan perpustakaan yang dapat memfasilitasi masyarakat untuk terus bereksistensi mengembangkan potensi dengan melihat kemajemukan masyarakat serta adanya kemauan untuk menerima perubahan, menawarkan kesempatan untuk melindungi, memperjuangkan budaya, dan hak asasi manusia’?. Perpustakaan berbasis inklusi sosial ini dapat pula diartikan sebagai perpustakaan yang secara proaktif dapat membantu masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sehingga nantinya keberadaan perpustakaan dapat menjadi disekitarnya '* . Dengan pusat adanya sumber perpustakaan informasi berbasis bagi inklusi masyarakat sosial ini diharapkan perpustakaan bukan hanya menjadi lembaga yang eksklusif, melainkan dapat menjadi sebuah lembaga yang inklusif yaitu suatu lembaga sebagai pusat sumber informasi yang dapat diakses oleh siapapun secara gratis tanpa pungutan biaya't. Perpustakaan berbasis inklusi sosial ini juga merupakan layanan perpustakaan yang mendorong masyarakat untuk mandiri, meningkatkan kualitas hidup, dan berkontribusi menuju masyarakat yang lebih baik. Dengan begitu, perpustakaan dapat proaktif —membantu seseorang untuk mengembangkan keterampilan, kepercayaan diri, bahkan menambah relasi maupun jejaring sosial. Jadi, perpustakaan dengan basis inklusi sosial ini diharapkan dapat mensejahterakan masyarakat dalam bidang literasi terutama minat baca dan melek huruf®. Mengenai hal ini, diketahui bahwa minat baca masyarakat Indonesia cukup rendah jika dibandingkan dengan jumlah perpustakaan yang ada. Jumlah perpustakaan di Indonesia menempati posisi kedua dalam jumlah perpustakaan terbanyak di dunial¢. Akan tetapi, hal tersebut tidak membuat masyarakat mempunyai tingkat literasi yang tinggi, justru sebaliknya tingkat literasi yang dimiliki masyarakat Indonesia cukup rendah bahkan masuk ranking 62 dari 70 Negara'’. Adanya transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial ini diharapkan dapat meningkatkan literasi dan minat baca masyarakat Indonesia di semua kalangan. Selain itu, dengan ini perpustakaan tidak hanya dikenal sebagai tempat pinjam-kembali buku saja, akan tetapi lebih dari itu yaitu sebagai lembaga penyedia informasi dan ilmu pengetahuan, serta dapat pula digunakan sebagai tempat mengembangkan intelektual dan keterampilan. Perpustakaan berbasis inklusi sosial dapat pula dijadikan pondasi awal untuk kesejahteraan masyarakat, salah satunya ialah menciptakan masyarakat yang berpengetahuan (knowledge society)'®. Terbentuknya knowledge society tentu dapat melahirkan masyarakat yang cerdas, berpengetahuan luas, memiliki keterampilan, dan menguasai teknologi. Sehingga hal tersebut menjadi bekal untuk mendorong adanya kehidupan yang lebih maju dan sejahtera, meningkatkan kualitas kehidupan yang lebih baik®. sehingga mampu Knowledge society adalah suatu usaha pembentukan masyarakat yang didasarkan pada pemahaman bahwa pengetahuan sebagai komponen utama untuk mengembangkan potensi manusia. Hal ini dikarenakan masyarakat yang bertumpu pada pengetahuan akan dapat menciptakan, membagi, dan menggunakan pengetahuan untuk kesejahteraan dan kemakmuran hidup mereka. Selain itu, knowledge society juga dimaknai dengan suatu masyarakat berbasis pengetahuan dengan tingkat intensitas tinggi yang digunakan untuk bersaing dan berhasil dalam meraih dinamika politik dan ekonomi terus berkembang di dunia modern. Masyarakat yang berpengetahuan cenderung akan mendorong dirinya untuk berinovasi, berwirausaha, sehingga kehidupan ekonomi mereka dapat meningkat®. Pada dasarnya knowledge society merupakan suatu kondisi yang memungkinkan organisasi dan masyarakat memperoleh, berkreasi, diseminasi dan memanfaatkan pengetahuan secara lebih efektif untuk meningkatkan pembangunan dari segi ekonomi dan sosial. Dengan begitu, pengetahuan dianggap sebagai faktor terpenting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal ini dikarenakan pengetahuan menjadi pusat infformasi yang terkontekstual serta diperkaya dengan interpretasi dan keahlian-keahlian yang dimiliki oleh setiap individu?. Jadi mengacu dapat disimpulkan knowledge society adalah sebuah konsep yang pada masyarakat di mana pengetahuan dan informasi yang memainkan peran sentral dalam pembangunan sosial, ekonomi, dan budaya. Dalam masyarakat pengetahuan perkembangan. menjadi pengetahuan, salah satu produksi, faktor distribusi, kunci dalam dan pemanfaatan pertumbuhan dan Adanya transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial ini juga dapat memerkuat peran perpustakaan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sehingga akan berdampak juga pada peningkatan kemampuan literasi yang nantinya akan berujung pada peningkatan kreativitas masyarakat serta kesenjangan akses informasi. Oleh karena itu, perpustakaan dengan basis inklusi sosial ini bukan hanya sebagai tempat sumber bacaan saja, melainkan perpustakaan harus bisa memfasilitasi masyarakat dalam hal penyelenggaraan kegiatan pelatihan sehingga keterampilan masyarakat dapat terasah dan berguna untuk pemberdayaan sosial ekonomi masyarakat?. Transformasi perpustakaan seperti ini menjadi salah satu wadah pembelajaran bagi masyarakat, hal ini dikarenakan perpustakaan bukan hanya menjadi tempat pelestarian dan penyimpanan naskah maupun buku, melainkan dapat pula dimanfaatkan sebagai sumber pengetahuan dan peradaban®. Hal inilah yang kemudian membuat peneliti tertarik untuk mengkaji lebih mendalam terkait transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial untuk menciptakan knowledge society. Sehingga penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi pada pengembangan dan pemberdayaan perpustakaan serta dapat membangun kesadaran masyarakat akan adanya lembaga perpustakaan sebagai sumber informasi sekaligus pengembangan diri.

Method

Penelitian yang dilakukan pada artikel ini adalah jenis penelitian kualitatif. Penelitian ini lebih menekankan pada kualitas data, maka dari itu jika data sudah terkumpul dan mendalam serta sudah bisa menjelaskan kondisi dan fenomena yang diteliti, maka tidak diperlukan lagi mencari sampling lainnya. Peneliti artikel menggunakan metode kepustakaan (library research) dalam menulis ini. Metode ini merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menggunakan metode dokumentasi atau pengumpulan data dengan bendabenda tertulis seperti buku, makalah, dokumentasi, jurnal, e-journal, pdf, artikel dan wordpress yang berkaitan dengan penelitian. Adapun data yang akan digali dan dijadikan referensi dari metode ini adalah data mengenai perpustakaan berbasis inklusi sosial. Data yang telah diperoleh dan dikumpulkan nantinya akan diuraikan dan dianalisis menggunakan content analysis document. Metode penulisan content analysis document adalah teknik yang dipakai untuk menarik kesimpulan melalui usaha menemukan karakteristik pesan yang dilakukan secara sistematis dan objektif?*. Setelah melakukan analisis terhadap isi data, selanjutnya penulis akan memecahkan permasalahan yang telah diangkat dalam penelitian ini.

Result & Discussion

Pengetahuan dianggap sebagai faktor terpenting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan pengetahuan yang mereka miliki, mereka dapat megembangkan bakat-bakat yang ada dalam diri mereka. Sehingga dengan ini dirasa perlu untuk menciptakan knowledge society sebagai bentuk usaha untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat. Adapun sumber untuk mendapatkan suatu pengetahuan atau informasi itu salah satunya dapat diperoleh dari perpustakaan. Hal ini dimungkinkan karena perpustakaan merupakan sebuah lembaga penyedia sumber informasi sekaligus sebagai tempat belajar sepanjang hayat (lifelong learning) bagi semua kalangan. Pengetahuan dapat dijadikan sebagai sebuah kekuatan setiap orang, karena jika seseorang memiliki pengetahuan, maka dapat dipastikan mereka mempunyai kekuatan dari pengetahuan yang dimilikinya tersebut. Pengetahuan pun didapatkan melalui berbagai cara, salah satunya dengan mengakses informasi. Perpustakaan sebagai salah satu pusat informasi serta sebagai tempat menyimpan dan melestarikan karya seseorang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mencari informasi sehingga akan terbentuk masyarakat yang berpengetahuan. Dengan menguasai pengetahuan, maka akan berdampak pada kehidupan masyarakat yang sejahtera®. Kemajuan suatu bangsa juga menuntut pemberdayaan masyarakat ke arah lebih maju juga. Sebagai motor penggerak kemajuan bangsa, tentunya masyarakat harus lahir menjadi sebuah generasi yang dapat mengendalikan bangsa menuju ke arah yang lebih maju. Oleh karena itu, dibutuhkan kualitas masyarakat yang berpengetahuan (knowledge society). Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah dengan mengembangkan tradisi literasi sebagai budaya keilmuan dan pengembangan bagi seluruh kalangan masyarakat?”. Kegiatan literasi ini menjadi salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengatasi berbagai persoalan yang terjadi di tengah kehidupan masyarakat baik persoalan sosial, ekonomi, politik, budaya, dekadensi moral dan intelektual sekaligus menjadi kekuatan bagi pemberdayaan setiap individu?. Perpustakaan mempunyai konstribusi besar dalam menciptakan knowledge society dengan memberikan perhatian lebih pada pengaktifan budaya literasi untuk semua kalangan. Budaya literasi dan literasi adalah dua konsep yang terkait tetapi memiliki perbedaan yang penting, Literasi merujuk pada kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, dan memahami teks-teks tertulis. Ini adalah kemampuan dasar yang mencakup pemahaman dasar tentang bahasa tertulis. Literasi mencakup kemampuan membaca untuk pemahaman, menulis dengan jelas, dan memahami teks tertulis dalam berbagai konteks. Sedangkan budaya literasi adalah konsep yang lebih luas yang melibatkan pemahaman, apresiasi, dan penggunaan aktif dari literasi dalam kehidupan sehari-hari mengintegrasikan seseorang. Ini mencakup bagaimana seseorang kemampuan literasi mereka ke dalam berbagai aspek kehidupan, seperti berpartisipasi dalam diskusi, mengapresiasi seni dan sastra, memanfaatkan literasi dalam pekerjaan atau bisnis, serta berperan aktif dalam masyarakat yang berbasis literasi. Transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial ini dianggap mampu menciptakan knowledge society, dengan kiprahnya yang mampu bertahan dan mendukung perubahan masyarakat menjadi lebih maju. Peran perpustakaan berbasis inklusi sosial untuk menciptakan knowledge society dapat dilakukan melalui pemberian literasi kepada masyarakat. Literasi di sini tidak hanya dipahami sebatas literasi dasar berupa kemampuan baca, tulis, dan hitung. Akan tetapi, kemampuan di sini mencakup aspek cognitive skills yang melandasi seseorang agar mampu berpikir kritis dan logis serta mempunyai analisis yang baik dalam proses pembelajaran sehingga potensi yang dimiliki setiap individu dapat berkembang dengan baik dan berkualitas?. Kemampuan tersebut dapat menjadi pijakan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan serta menguasai teknologi, yang nantinya akan membawa dampak positif pada pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat®. Transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial yang dianggap sebagai sistem kemasyarakatan dengan mendekatkan setiap layanan yang ada di perpustakaan kepada masyarakat, maka layanan perpustakaan perlu dilakukan perubahan guna untuk menunjang inklusi sosial. Adapun perubahan layanan tersebut dapat mencakup lima aspek, antara lain:3 1. Perpustakaan harus berperan menjadi fasilitator pertumbuhan ekonomi. Artinya perpustakaan harus mampu menjadi sumber informasi melalui penyediaan koleksi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Perpustakaan sebagai tempat rujukan informasi untuk mencari solusi dari sebuah permasalahan. Artinya koleksi yang disediakan oleh perpustakaan dapat digunakan masyarakat. sebagai solusi permasalahan yang dihadapi oleh Pusat kegiatan masyarakat dalam mengembangkan potensi diri. Artinya perpustakaan tidak hanya sebagai tempat membaca maupun meminjam buku saja, namun perpustakaan dapat menyediakan layanan yang berkaitan dengan makerspace, yaitu pembuatan suatu produk. memberikan pengetahuan melalui pelatihan Kemudahan akses sumber daya informasi melalui teknologi informasi dan komunikasi. Artinya perpustakaan harus memanfaatkan perkembangan teknologi, khususnya untuk memberikan pelayanan bagi masyarakat yang bertempat tinggal jauh dari lokasi perpustakaan. Peran aktif pustakawan sebagai mediator informasi. Artinya pustakawaan dapat menjadi jembatan antara masyarakat dan informasi yang dibutuhkan sekaligus dapat menjadi sosok sentral dalam terwujudnya program inklusi sosial di perpustakaan. Adapun upaya yang dapat dilakukan perpustakaan berbasis inklusi untuk dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, diantaranya: 1. 2. Menyediakan dan memudahkan akses sumber informasi serta bahan pustaka yang berkualitas bagi masyarakat. Memberikan ruang bagi masyarakat untuk bisa saling sharing pengalaman dan melatih keterampilan, sehingga dengan ini masyarakat dapat memperoleh keahlian dan pekerjaan untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya. 3. Menjadi ruang sinergi kegiatan masyarakat, sehingga masyarakat dapat secara langsung merasakan manfaat dan dampak dari perpustakaan. Dari penjelasan diatas maka dapat disimpulkan perpustakaan berbasis inklusi sosial adalah perpustakaan yang dirancang dan dijalankan dengan fokus pada prinsip-prinsip inklusi sosial. Inklusi sosial adalah konsep yang menekankan pentingnya mengakomodasi dan memasukkan semua anggota masyarakat, termasuk mereka yang mungkin menghadapi hambatan fisik, kognitif, ekonomi, atau sosial, ke dalam kegiatan perpustakaan. Tujuan utama perpustakaan berbasis inklusi sosial adalah untuk memastikan bahwa semua individu memiliki akses yang sama ke sumber daya perpustakaan dan dapat merasa diterima dan dihormati dalam lingkungan perpustakaan. Pengaktifan budaya literasi dan pembangunan layanan sesuai dengan orientasi masyarakat pengetahuan (knowledge society) adalah langkah-langkah yang penting bagi perpustakaan modern. Berikut adalah beberapa metode dalam pengaktifan budaya literasi dan pembangunan layanan sesuai orientasi knowledge society yang dapat dilakukan oleh perpustakaan: 1.Program literasi komunitas: Perpustakaan dapat menyelenggarakan program literasi komunitas yang berfokus pada berbagai kelompok usia dan latar belakang. digital. . 2.Kolaborasi Program ini dapat mencakup membaca, menulis, dan literasi dengan sekolah: Bekerja sama dengan sekolah-sekolah untuk mengembangkan program literasi yang terintegrasi, termasuk program literasi awal untuk anak-anak dan program literasi remaja. . . . 3.Program literasi digital: Mendorong literasi digital dengan menyelenggarakan pelatihan tentang penggunaan perangkat digital, internet, dan sumber daya online. 4.Kelas praktis keterampilan hidup: Menyelenggarakan kelas tentang keterampilan seperti manajemen keuangan, kecerdasan emosional, keterampilan berbicara di depan umum, dan keterampilan kerja. Kampanye literasi: Melakukan kampanye promosi literasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya membaca dan literasi. . . 5.Akses terbuka ke informasi: Menyediakan akses bebas ke koleksi digital, basis data, dan sumber daya online yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Pendidikan keterampilan digital: Menyelenggarakan pelatihan keterampilan digital dan teknologi informasi untuk memanfaatkan teknologi dengan lebih baik. . 6.membantu anggota masyarakat Program inovasi dan riset: Menyelenggarakan program yang mendorong inovasi dan komunitas. . 7.riset di berbagai bidang pengetahuan dengan melibatkan Kolaborasi dengan pusat bisnis dan teknologi: Bekerja sama dengan lembagalembaga bisnis dan teknologi lokal untuk mengembangkan program yang mendukung pengembangan ekonomi berbasis pengetahuan. 10. Pelayanan penelitian konsultasi untuk penelitian: Menyediakan pelayanan konsultasi membantu anggota masyarakat dalam pengembangan pengetahuan dan kebutuhan penelitian mereka. 1L Kemitraan dengan lembaga Pendidikan Tinggi: Bekerja sama dengan perguruan tinggi dan universitas untuk menyediakan akses ke literatur penelitian dan fasilitas studi. 12. 13. Pengumpulan dan diseminasi pengetahuan lokal: Mendorong pengumpulan, penyimpanan, dan penyebaran pengetahuan lokal dan budaya sebagai bagian dari warisan intelektual. Edukasi kritis tentang informasi: Melatih masyarakat dalam keterampilan evaluasi dan kritis terhadap informasi yang mereka temukan di internet. Melalui langkah-langkah ini, perpustakaan dapat memainkan peran yang krusial dalam membentuk masyarakat pengetahuan yang lebih terdidik, terampil, dan aktif. Dengan mengaktifkan budaya literasi dan mengembangkan layanan yang relevan dengan orientasi knowledge society, perpustakaan dapat berfungsi sebagai pusat pengetahuan dan pembelajaran yang mendukung perkembangan komunitas secara luas. Adapun proses transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial ini memiliki tiga tujuan, antara lain: 1. Pengembangan layanan perpustakaan berbasis ICT dan memberikan pendampingan kepada masyarakat sebagai bentuk literasi informasi serta menumbuhkan kemampuan untuk membentuk kerjasama dengan berbagai lembaga. . 3 Peningkatan reading culture (budaya baca) berbasis keluarga, sehingga dapat tercipta komunitas dan kader literasi di masyarakat. 3. Meningkatkan preservasi bahan pustaka dan naskah lama serta pelestarian terhadap informasi yang ada di dalamnya guna dapat meningkatkan literasi. Berdasarkan tujuan di atas, pada dasarnya transformasi perpustakaan berbasis inklusi ini dapat menciptakan knowledge society dengan memfokuskan pada dua orjentasi, yakni*: 1. 2. Orientasi transformasi pada outcome (dampak) yang terjadi pada suatu komunitas atau masyarakat. Hal ini dikarenakan perpustakan menjadi salah satu bagian dalam sistem kemasyarakatan terutama dalam hal memberikan kualitas hidup yang lebih baik. Orientasi pelayanan (pendekatan yang kemanusiaan) lebih menekankan pada humanistic approach dan berbasis pada system social approach (pendekatan sosial). Humanistic approach adalah pendekatan dalam psikologi dan pendidikan yang menekankan pemahaman tentang individu sebagai makhluk yang memiliki kebutuhan, potensi, dan aspirasi khusus. Pendekatan ini menekankan pengembangan pada diri pengembangan individu, dan menilai pribadi, pertumbuhan, aspek-aspek subjektif dan dari pengalaman manusia. Sedangkan system social approach adalah sebuah metode analisis dan pemahaman yang digunakan dalam ilmu sosial untuk mengkaji fenomena sosial dan masalah melalui perspektif teori sistem atau pemikiran sistem. Pendekatan ini menekankan penggunaan kerangka kerja sistem untuk memahami sistem-sistem kompleks dalam masyarakat, seperti organisasi, komunitas, atau interaksi sosial. Dengan demikian, perpustakaan harus dirancang sedemikian rupa agar dapat menciptakan knowledge society sehingga perpustakaan dapat berperan menjadi nilai kebermanfaatan yang tinggi bagi masyarakat melalui pendekatan inklusi sosial. Dengan adanya pendekatan ini, perpustakaan mampu menjadi ruang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat untuk memperoleh solusi sekaligus dapat mengembangkan potensi serta talenta mereka.

Conclusion

Transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial mempunyai konstribusi besar dalam menciptakan knowledge society dengan mengaktifkan budaya literasi. Literasi yang tidak hanya sebatas literasi dasar berupa kemampuan baca, tulis, dan hitung, namun kemampuan yang juga mencakup aspek cognitive skills yang melandasi seseorang agar mampu berpikir kritis dan logis serta mempunyai analisis yang baik dalam proses pembelajaran sehingga potensi dan talenta setiap individu dapat berkembang dengan baik dan berkualitas. Transformasi perpustakaan berbasis inklusi ini dapat menciptakan knowledge society dengan memfokuskan pada dua orientasi, yaitu 1) Orientasi transformasi pada outcome (dampak) yang terjadi pada suatu komunitas atau masyarakat; dan 2) Orientasi pelayanan yang lebih menekankan pada humanistic approach (pendekatan kemanusiaan) dan berbasis pada system social approach (pendekatan sosial).