The Correlation between Family Communication, Environment, and Instagram with Adolescent Delinquency Behavior
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo; Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Abstrak
Pada era saat ini karakter pada remaja dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang ada di sekitarnya seperti lingkungan sekitar, keluarga dan media sosial yaitu instagram. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh komunikasi keluarga, lingkungan dan media instagram terhadap perilaku kenakalan remaja. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif. Untuk mengetahui pengaruh komunikasi keluarga (X1), lingkungan (X2), instagram (X3) terhadap perilaku kenakalan remaja (Y). Sampel yang dijadikan dalam penelitian ini sebesar 100 remaja. Teknik sampling menggunakan simple random sampling. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa hipotesis 1 diterima yaitu terdapat pengaruh komunikasi keluarga, lingkungan dan media instagram secara parsial dan simultan terhadap perilaku kenakalan remaja. Berdasarkan perhitungan Adjusted R square didapatkan hasil 44,3% kontribusi dari variable komunikasi keluarga (X1), lingkungan (X2), instagram (X3) terhadap perilaku kenakalan remaja (Y), dan nilai keeratan korelasi antara variable X terhadap variable Y sebesar 0,678 yang berarti terdapat korelasi kuat antar variable dependen dan independent.
Abstract
In today's era, adolescent character can be influenced by factors around them such as the surrounding environment, family and social media, namely Instagram. The purpose of this study was to determine the effect of family communication, environment and Instagram media on juvenile delinquency behavior. The type of research used is quantitative. To determine the effect of family communication (X1), environment (X2), Instagram (X3) on juvenile delinquency behavior (Y). The sample used in this study was 100 adolescents. The sampling technique used simple random sampling. The results of the study indicate that hypothesis 1 is accepted, namely that there is an influence of family communication, environment and Instagram media partially and simultaneously on juvenile delinquency behavior. Based on the Adjusted R square calculation, the results obtained were 44.3% contribution from the variables of family communication (X1), environment (X2), Instagram (X3) to juvenile delinquency behavior (Y), and the correlation value between variable X and variable Y was 0.678, which means there is a strong correlation between the dependent and independent variables
Keywords:
Communication
· Family
· Environment
· Instagram
· Teenagers
Introduction
Saat ini perilaku kenakalan remaja di negara kita sedang menjadi sorotan berbagai kalangan dikarenakan perkembangan teknologi dan media sosial yang cukup pesat dikarenakan media sosial sekarang ini telah menjadi candu bagi remaja [1] . Usia remaja adalah fase transisi dari anak anak menuju dewasa, menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) usia remaja berada antara usia 13-24 tahun. Pada era ini remaja di bawah umur sudah mengenal berbagai bentuk kegiatan yang negatif dan merugikan diri merekan sendiri dan juga tentunya dapatmerugikan orang rang yang ada di sekitanya, seperti rokok, narkoba, free sex, tawuran pencurian,dan terlibat banyak tindakan kriminal lainnya yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku di masyarakat dan tak sedikit pula yang berakhir dengan berurusan dengan hukum ([2]. Pendahuluan berisi latar belakang m Pada saat ini kita seringkali melihat banyak berita berita di televisi maupun media sosial tentang banyaknya tindak kriminal yang salah satu korban maupun pelaku merupakan dari golongan remaja [3]. Kenakalan remaja biasa disebut dengan istilah latin “Juvenile delinquere”. Juvenile, yang artinya anak-anak, anak muda, ciri karakteristik pada masa muda, sifat-sifat khas pada periode remaja. Delinquere yang berarti terabaikan, mengabaikan, yang kemudian diperluas artinya menjadi jahat, nakal, anti sosial, kriminal,pelanggar aturan, pembuat ribut, pengacau peneror dan lain sebagainya. Mengatasi kenakalan remaja, berarti menata kembali psikologi remaja yang merasa emosi dan perasaan mereka terluka karena rasa penolakan oleh keluarga, orang tua, teman-teman, maupun lingkungannya sejak kecil, dan [3]. Menurut data Kementerian Pemberdayaan anak dan Perempuan hanya dalam periode 1 Januari 2023 hingga 27 September 2023 ada 19.593 kasus kekerasan yang dilakukan remaja yang tercatat di Indonesia, angka tersebut merupakan jumlah kasus yang terjadi sesuai data pembaruan yang dilakukan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di Indonesia [4]. Kasus narkoba yang menjerat remaja pada tahun 2021 pada umr 15- 24 tahun tercatat 1,96% pernah pakai dan 1,87% memakai selama setahun. Secara umum berdasarkan jenis kelamin pengguna laki laki lebih banyak dari pada pengguna atau pemakai Perempuan dan secara geografis pemakai narkoba lebih banyak di perkotaan daripada di pedesaan berdasarkan data BNN tahun 2021 [5] Hal tersebut bisa terjadi dikarenakan diperkotaan para remaja lebih muda mendapatkan informasi mengenai barang terlarang tersebut daripada di pedesaan dan di perkotaan juga pergaulan dirasa sangat bebas dan tanpa Batasan. Perilaku kenakalan remaja juga bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu komunikasi dengan keluarga, lingkungan tempat remaja tersebut dibentuk serta pada era teknologi sekarang ini muncul yang namanya media sosial dan hal tersebut menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi perubahan karakter memberontak pada remaja [1]. Pada tahapan ini remaja sedang dalam semakin meningkat. Kematangan dan kekuatan karakter sangat berkaitan dengan sikap dan moral yang dimiliki oleh remaja [6]. Keluarga menjadi salah satu tempat pertama atau lingkungan pertama dalam proses pembentukan karakter dari seseorang khususnya remaja. Mulai dari Pendidikan norma norma yang berlaku, Pendidikan agama, cara bergaul, serta interaksi dengan lingkungan luarnya. Keluarga merupakan salah satu pondasi dasar dalam pembentukan perilaku remaja [7]. Di fase pertumbuhan dan peralihan dari fase anak anak menuju remaja, keluarga khususnya orang tua harus berhati hati terutama dalam bersikap. Ketika seorang anak remaja susah untuk dikendalikan maka bisa diartikan karakter negatif telah tertanam dalam diri remaja tersebut. Bahkan anak akan cenderung akan tumbuh menjadi remaja yang nakal nantinya [8]. Pada masa sekarang ini ketidaksiapan para orang tua dalam menerima dan membimbing anaknya dalam menghadapi dunia luar juga salah satu faktor yang diduga dapat menimbulkan karakter kenakalan pada remaja. Ketidaksiapan ini dapat dilihat dari kurangnnya komunikasi serta interaksi yang dilakukan oleh orang tua dengan remaja yang dapat menimbulkan kerenggangan dalam hubungan orang tua dan remaja di dalam keluarga sehingga remaja tidak menerima rasa aman dan yaman dalam lingkungan keluarga, yang menyebabkan para remaja mencari kenyamanan dan keamanan dirinya di lingkungan lain yang belum tentu baik bagi dirinya [9]. Manusia adalah makhluk sosial, sehingga manusia membutuhkan orang lain dalam menjalani hidup. Hidup bersosial dan bermasyarakat merupakan ciri dari makhluk sosial. Terjadinya interaksi yang teratur dan dinamis maka akan menimbulkan proses memberi dan menerima secara positif sehingga terjadi proses saling menguntungkan. Hasrat dalam berkomunikasi timbul ketika adanya proses interaksi antar satu individu dengan individu lainnya [10]. Dalam bersosialisasi tentunya manusia atau khususnya remaja sendiri membutuhkan lingkungan yang bagus serta nyaman ditempati, karena lingungan sosial menjadi faktor pendukung utama dalam pembentukan karakter yang manusia yang bermutu [11] Pada era digitalisasi seperti sekarang, para remaja sedang menggandrungi yang namanya media sosial berbasis digital. Munculnya media sosial banyak merubah cara berkomunikasi di dunia, dalam penggunaanya media sosial sangat mempermudah penggunanya dalam hal berkomunikasi karena dirasa sangat efisien dimana di dalam media sosial tidak mengenal apaitu ruang dan waktu, semua hal dapat diakses di dalam media sosial, khususnya Instagram. Di dalam Instagram para remaja dapat mengakses berbagai hal mulai dari pemberitaan terbaru,trend masa kini,gaya hidup serta berbagai hal lainnya sangat mudah diakses melalui Instagram. Tetapi dibalik kemudahan tersebut terdapat tanggung jawab yang harus dimiliki setiap pengguna Instagram khususnya para remaja yang dirasa masih labil dalam menyikapi berbagai hal. Kendali diri harusnya juga dimiliki para remaja, agar kebebasan yang dimiliki juga tidak melanggar batasan dan tidak menyinggung pihak lain [12]. Dalam penggunaan media sosial juga tentunya juga terdapat dampak dampak dari penggunaanya terlepas dari dampak positif ada pula dampak negatif yang menjadi faktor pembentukan perilaku kenakalan remaja yaitu dikarenakan media sosial bersifat universal Dimana kita tidak dapat mengatur konten konten yang ada di dalam media sosial sehingga banyak konten konten negatif yang beredar di media sosial menjadikan rawannya konten konten negatif tersebut ditiru oleh para remaja dikarenkan para remaja masih belum memiliki kontrol sosial penuh dalam penggunaan media sosial [13]. Masyarakat pada saat ini dalam setiap kegiatannya dan dalam setiap lini kehidupan tidak lepas dari yang namanya media sosial, bahkan saat berkumpul bersama keluarga. Instagram sekarang digunakan sebagai tempat membagikan berbagai macam kegiatan dan sebagai tempat berkeluh kesah. Dengan menggunakan Instagram penggunanya bebas berbagi pengalaman dan cerita tentang kehidupan sehari hari tanpa dibatasi jarak dan waktu dengan followersnya. Di dalam Instagram kita dapat melihat banyak kegiatan antar teman yang saling mengikuti dikarenakan minimnya privasi yang ada di dalam media sosial pada sekarang ini. Banyaknya Penggunaan media sosisal Instagram menimbulkan berbagai macam dampak salah satunya adalah adanya budaya berbagi yang berlebihan di dunia maya atau biasa disebut dengan oversharing [14]. Gangguan-gangguan yang terjadi di dalam proses peralihan anak anak menuju dewasa dan terjadinya penderitaan secara psikologis maupun mental dapat menyebabkan atau menjadi cikal bakal berkembangnya bentuk bentuk karakter pada remaja dan pada intinya remaja merupakan hasil produk dari kondisi lingkungan serta kondisi Dimana dia berinteraksi dengan orang lain meskipun dari kehidupan nyata maupun dunia maya [9]. Melihat fenomena diatas penulis menyatakan bahwa perilaku kenakalan remaja ditentukan oleh tiga hal yakni keluarga inti seperti ayah dan ibu, lingkungan tempat tumbuh,dan media Instagram. Diantara sekian banyak hal yang disampaikan oleh penulis tentunya setiap variabel menunjukan pengaruh yang berbeda beda terhadap perilaku kenakalan remaja. Indorunners Sidoarjo atau biasa dikenal sebagai Delta Runners adalah salah satu dari komunitas olahraga lari yang ada di Sidoarjo. Indorunners Sidoarjo berdiri sejak 17 Oktober 2014 dengan founder ada 4 orang yaitu Risa Hardanto , Dwi Aris setyabudi, Sena Arya, Guruh syach dan merupakan komunitas lari pertama yang ada di Sidoarjo, awal berdirinya Indorunners Sidoarjo sebagai komunitas lari adalah ingin menyeberkan gaya hidup sehat melalui olahraga lari khususnya di sidoarjo serta dengan dibentuknya komunitas Indorunners Sidoarjo ini diharapkan bisa sebagai wadah bagi para penggiat olahraga lari yang ada di Sidoarjo sebagai ajang berbagi ilmu seta mendapatkan teman baru yang memiliki hobi yang sama dalam olahraga lari dengan mengadakan kegiatan rutin lari bersama setiap hari selasa malam dan kamis malam sejak 2014 hingga saat ini. Dari latar belakang masalah diatas, rumusan masalah adalah apakah faktor dari lingkungan, komunikasi di keluarga serta media sosial khususnya Instagram berpengaruh terhadap prilaku kenakakan dalam remaja ? Penelitian ini penting dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh komunikasi keluarga, lingkungan dan media sosial Instagram seperti apa terhadap pembentukan perilaku kenakalan remaja. Kajian yang digunakan terdiri dari beberapa artikel yang pernah diteliti sebelumnya, yang mana mempunyai korelasi dengan topik pembahasan dalam artikel ini. Pertama, Artikel dengan judul “Pengaruh Media Sosial Terhadap Tindak Kejahatan Remaja” [15]. Pada artikel ini berfokus pada bagaimana pengaruh penggunaan media sosial dan perkembangan media sosial dikalangan remaja serta perilaku yang dilakukan para remaja secara menerus dan tidak terkontrol di kalangan remaja yang dapat mempengaruhi tindak perilaku remaja yang negatif seperti tindak kejahatan yang dilakukan remaja yang bersumber dari berbagai faktor di dalam media sosial tersebut yang dapat mempengaruhi remaja serta sebagai dampak dari pengaruh media sosial. Kedua artikel ini memfokuskan kepada akibat yang ditimbulkan oleh variabel X kepada variabel Y yang merupakan dampak yang ditimbulkan media sosial pada pembentukan perilaku kenakalan remaja, serta persamaan kedua pada penelitian ini terdapat pada metode yang digunakan pada kedua penelitian ini yaitu kuantitatif. Kedua, artikel dengan judul “Pengaruh Lingkungan Keluarga Terhadap Penyalahgunaan NAPZA Pada Remaja” [16]. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh faktor lingkungan keluarga terhadap penyalahgunaan napza pada remaja di Surabaya. Pada penelitian ni ditemukan kesimpulan bahwa adanya pengaruh lingkungan keluarga terhadap penyalahgunaan NAPZA pada remaja. Pada kedua penelitian ini terdapat persamaan yaitu mencari pengaruh lingkungan keluarga apakah dapat mempengaruhi remaja dalam mengambil keputusan. Serta dalam penelitian ini dapat dilihat remaja yang salah dalam mengambil keputusan dikarenakan pengaruh di dalam lingkungan keluarga. Perbedaan dalam penelitian ini berada pada metode penelitian yaitu peneliti pada artikel kali ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan metode observasional karena tidak memberikan perlakuan pada subjek Ketiga, artikel dengan judul “Peran Komunikasi Keluarga Dalam Mengatasi Kenakalan Remaja” [17]. Tujuan penelitian ini untuk memahami peran komunikasi keluarga dalam mengantisipasi kenakalan remaja. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian diambil dari wawancara dengan 3 narasumber. Hasil penelitian ini bahwa menurut keseluruhan informan, komunikasi keluarga merupakan hal yang paling penting, dan kedekatan antara orang tua dan anak merupakan kunci segalanya. Simpulan penelitian ini bahwa dalam mengantisipasi kenakalan remaja orang tua/keluarga selalu mengedepankan komunikasi antara orang tua kepada anaknya. Dengan adanya komunikasi dari hati hati, sebagai orang tua akan dapat memahami apa yang diinginkan anak dan begitu juga sebaliknya anak akan memahami apa yang orang tua inginkan. Perbedaan dalam penelitian ini adalah peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif. Keempat, artikel dengan judul ” Pengaruh Media Sosial Instagram Terhadap Perilaku Remaja Di Lingkungan Viii Sido Selamat Kelurahan Pekan Kuala Kabupaten Langkat” [18]. Dalam Penelitian ini dijelaskan tentang pengaruh media sosial Instagram terhadap perilaku remaja di suatu daerah dan dengan tujuan penelitian mencari hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya. Populasi dalam penelitian ini adalah remaja usia 16-21 tahun yang ada di Lingkungan VIII Sido Selamat, Kelurahan Pekan Kuala, Kab. Langkat yang berjumlah 20 orang.Teknik pengumpulan data yang digunakan Observasi, Wawancara dan angket untuk pertanyaan tertutup. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengguna media sosial instagram yang digunakan oleh remaja di Lingkungan VIII Sido Selamat, Kel. Pekan Kuala, Kab. Langkat adalah baik. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan media sosial instagram pada remaja di Lingkungan VIII Sido Selamat, Kel. Pekan Kuala, Kab. Persamaan dalam penelitian ini adalah tentang pengaruh variabel media sosial Instagram terhadap variabel Y yang merupakan perilaku remaja. A. Komunikasi Keluarga Komunikasi keluarga adalah komunikasi yang terjadi di dalam keluarga dimana terdapat ayah, ibu, dan anak, disebut keluarga utuh seperti menurut Masi (2021) dalam [19]. Maka dari itu komunikasi interpersonal terasa lebih efektif, hal ini diperkuat oleh B. Keterbukaan Merupakan jenis komunikasi yang mengungkapkan informasi tentang diri dari individu itu sendiri yang biasanya disembunyikan. Sehingga efektivitas komunikasi interpersonal mengharuskan komunikator terbuka kepada orang yang diajak berinteraksi, komunikator menerima stimulus yang datang dan menyetujui perasaan serta pemikiran murni dari dirinya lalu siap untuk dipertanggung jawabkan. C. Empati Henry Bachrach dalam (DeVito, 2011) memberi pengertian empati yakni kemampuan seseorang untuk memahami lawan bicara pada saat tertentu, dari sudut pandang lawan bicara serta melalui kacamata orang tersebut. D. Sikap Mendukung Sikap mendukung yang dimaksud disini adalah satu sama lain saling memberikan dukungan terhadap pesan yang disampaikan. Pada komunikasi keluarga orang tua (Ayah dan Ibu) memberikan dukungan kepada anak agar dapat mengutarakan pikirannya. E. Sikap Positif Sikap positif memiliki pengertian seperti dorongan. Dorongan yakni suatu hal yang dipandang penting ketika interaksi dengan lawan bicara, layaknya menghargai kehadiran dan berartinya orang tersebut. F. Kesetaraan Kesetaraan memiliki arti harus ada pengakuan secara diam-diam bahwa kedua pihak sama-sama bernilai dan berharga, dan masing-masing pihak mempunyai sesuatu yang penting untuk disumbangkan. Peranan penting yang dimiliki keluarga sangat penting dalam pembentukan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan moral pertama kali didapatkan di dalam lingkungan keluarga dan hal tersebut perlu ditanamkan sejak dini serta pada semua individu. Moral individu juga menjadi tolak ukur berhasil atau tidaknya pembentukan perilaku kenakalan remaja serta remaja merupakan produk yang tercipta dari apa yang ada dalam lingkungannya [7] G. Lingkungan Lingkungan sosial merupakan salah satu faktor pendukung pembentukan sumber daya manusia yang bermutu. Lingkungan sosial inilah yang membentuk sistem pergaulan yang berperan besar dalam pembentukan karakter serta kepribadian remaja [11]. Menurut Soejono Soekanto dalam bukunya (Soerjono Soekanto, 1986). Purwanto (2004:141) dalam [8]. memberikan pendapat “lingkungan pendidikan yang ada dapat digolongkan menjadi tiga yakni Lingkungan Keluarga, yang disebut lingkungan pertama, Lingkungan Sekolah, yang disebut lingkungan kedua dan Lingkungan Masyarakat, yang disebut lingkungan ketiga. H. Lingkungan Keluarga Imam Supardi (2003:2) memberikan penjelasan tentang lingkungan keluarga, menurut beliau “lingkungan adalah jumlah semua benda hidup dan mati serta seluruh kondisi yang ada di dalam ruang yang] kita tempati”. Jadi bisa disimpulkan keluarga masuk kedalam deretan lingkungan. Karena di dalam keluarga terdapat benda hidup dan juga benda mati atau bisa disebut dengan Ayah, Ibu dan Anak yang memiliki hubungan perkawinan atau adopsi. I. Lingkungan Sekolah Lingkungan Sekolah merupakan tempat yang sangat memberikan pengaruh pada proses sosialisasi dan lembaga dalam mewariskan kebudayaan masyarakat pada anak. Hal ini diperkuat oleh pendapat Slameto (2003:64) yakni “faktor sekolah yang mempengaruhi belajar mencakup metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah”. J. Lingkungan Masyarakat Fathurrohman dan Sulistyorini (2012:129-130) memberikan pendapat lingkungan masyarakat adalah suatu pengaruh pada perkembangan diri anak, sebab kehidupan sehari-hari anak bertambah banyak dalam berteman dengan lingkungan anak itu tinggal. Safaria (2007:54) menjelaskan bahwa salah satu yang memberikan pengaruh pada perkembangan keagaamaan anak yakni lingkungan masyarakat positif. Jika anak-anak berada pada masyarakat suka main judi, narkoba, pornografi, minuman keras dan sebagainya. Maka lingkungan tersebut tidak memberikan dampak baik bagi anak untuk mengembangkan kecerdasan spiritualnya. K. Media Sosial Instagram Media sosial yang sedang banyak diminati oleh khalayak saat ini adalah Instagram. Menurut laporan We Are Social, jumlah pengguna Instagram global mencapai 1,63 miliar per April 2023. Jumlah ini mengalami peningkatan sebesar 12,2% dibandingkan tahun sebelumnya. Di Indonesia sendiri, terdapat 106 juta pengguna Instagram per April 2023 menjadikan Indonesia sebagai negara dengan pengguna Instagram terbanyak keempat di dunia [20]. Instagram merupakan media sosial yang paling menonjolkan fitur berbagi foto dan video di dunia virtual. Meskipun hanya sebagai tempat berbagi foto dan video, Instagram cukup mampu membuktikan bahwa platformnya adalah bagian dari media interaksi dan komunikasi. Walaupun Orang-orang di komunitas online tersebut berasal dari berbagai penjuru dunia dan tak saling mengenal namun mereka tetap dapat saling terhubung hanya dengan saling berbagi foto dan video. Aplikasi media sosial Instagram merupakan salah satu aplikasi media sosial yang sedang populer oleh mayoritas orang di penjuru bumi. Platform ini adalah aplikasi media sosial yang berfungsi untuk menangkap gambar, merekam video serta membagikannya kepada pengguna Instagram lain [21] Terkait dengan penggunaannya, instagram sendiri merupakan salah satu media sosial yang sering digunakan dari berbagai kalangan saat ini. Menurut data digital transformation world tahun 2019, Instagram menempati urutan ke-5 sebagai platform media sosial pengguna terbanyak di dunia saat ini (Ahmad, 2019) dalam [22]. Di dalam media sosial instagram pengguna mendapatkan berbagai macam fitur fitur yang sudah tersedia di dalamnya seperti pengguna dapat membagikan cerita harian yang akan hilang dalam 24 jam, lalu terdapat reels dan feed yang merupakan postingan yang akan hadir di dalam halaman profil serta fitur terakhir adalah fitur siaran langsung, jadi pengguna dapat berinteraksi secara langsung dan daring melalui fitur tersebut. Indikator didalam Instagram sendirim meliputi X3 menggunakan indikator partisispasi, keterbukaan, percakapan, komunitas, saling terhubung. L. Perilaku kenakalan remaja Bentuk-bentuk kenakalan remaja itu berbeda, dalam hal ini Zakiyah Daradjat (1989) dalam [23] menyatakan: Dinegara kita persoalan ini sangat menarik perhatian, kita dengar anak belasan tahun berbuat jahat, mengganggu ketentraman umum misalnya: mabuk-mabukan, kebut kebutan dan main-main dengan wanita. Adapun gejala-gejala kenakalan remaja atau siswa yang di lakukan di sekolah jenisnya bermacam-macam, dan bisa digolongkan kedalam bentuk kenakalan yang berbentuk kenakalan ringan. Adapun bentuk dan jenis kenakalan ringan adalah Tidak patuh kepada orangtua dan guru, bolos sekolah, berkelahi, merokok di sekitaran lingkungan sekolah dan berpakaian tidak rapi. Kelabilan serta kurang sempurna nya kontrol sosial yang dimiliki remaja sehingga apa yang terjadi pada diri mereka harus menjadi perhatian karena nantinya akan berpengaruh pada pembentukan perilaku atau karakter pada diri remaja itu sendiri. Pembentukan karakter pada remaja dinilai berhasil ketika remaja dapat menyadari dan mengetahui berbagai etika dan norma yang berlaku di berbagai tempat yang dia datangi dan pembentukan karakter remaja dinilai gagal dan bersifat menimbulkan karakter kenakalan remaja ketika remaja mengabaikan berbagai norma norma yang ada di lingkungannya (W. Lestari et al., 2015). H0 : Tidak ada pengaruh antara variabel Komunikasi Keluarga (X1), Variabel Lingkungan (X2), dan Variabel Media Sosial Instagram (X3) terhadap Variabel Prilaku Kenakalan Remaja (Y) H1 : Adanya pengaruh antara variabel Komunikasi Keluarga (X1), Variabel Lingkungan (X2), dan Variabel Media Sosial Instagram (X3) terhadap Variabel Prilaku Kenakalan Remaja (Y)
Method
Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang di dalamnya terdapat proses pencarian suatu ukuran menggunakan ciri tertentu dalam suatu tingkatan [24]. Definisi konseptual komunikasi keluarga adalah komunikasi yang terjadi di dalam keluarga dimana terdapat ayah, ibu, dan anak, disebut keluarga utuh dengan indikator yaitu keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif, kesetaraan. Sedangkan definisi konseptual lingkungan keluarga, lingkungan sosial inilah yang membentuk sistem pergaulan yang berperan besar dalam pembentukan karakter serta kepribadian remaja . dengan indikator lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Sedangkan dalam variabel media Instagram atau variabel X3 media sosial Instagram merupakan media sosial yang paling menonjolkan fitur berbagi foto dan video di dunia virtual. Meskipun hanya sebagai tempat berbagi foto dan video, Instagram cukup mampu membuktikan bahwa platformnya adalah bagian dari media interaksi dan komunikasi. menggunakan indikator partisispasi, keterbukaan, percakapan, komunitas, saling terhubung. Definisi konseptual kenakalan remaja memiliki beberapa indikator yaitu Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain, kenakalan yang menimbulkan korban materi, kenakalan sosial yang tidak menimbulkankorban di pihak orang lain, dan kenakalan yang melawan status sosial. Populasi penelitian ini merupakan remaja usia 13 -24 tahun di komunitas Indo Runners Sidoarjo yang berjumlah 80 remaja jadi sample yang digunnakan sejumlah 80 responden dengan teknik total sampling Peneliti menggunakan metode survey untuk mendapatkan hasil yang lebih terperinci dengan cara menyebar kuesioner melalui media sosial serta mendatangi para responden secara langsung dan memastikan responden menjawab kuesioner sampai selesai, cara ini dianggap efisien dari segi tenaga, biaya dan waktu. Penilaian tiap-tiap variabel dalam artikel ini memakai skala Likert dengan lima patokan jawaban dimulai dari nilai yang paling tinggi (5) untuk jawaban paling positif dan nilai paling rendah (1) untuk jawaban paling negatif. Kuesioner digunakan dalam proses pengumpulan data. Teknik analisis data menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan aplikasi IBM SPSS Statistics 20. Metode analisis ini untuk melihat pengaruh antar variabel bebas dengan variabel terikat dengan melihat koefisien dan determinasi berkisar 0-1 dan jika nilai mendekati 1 maka dapat dikatakan pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat menunjukan pengaruh yang besar [25]
Result
Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang di dalamnya terdapat proses pencarian suatu ukuran menggunakan ciri tertentu dalam suatu tingkatan [24]. Definisi konseptual komunikasi keluarga adalah komunikasi yang terjadi di dalam keluarga dimana terdapat ayah, ibu, dan anak, disebut keluarga utuh dengan indikator yaitu keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif, kesetaraan. Sedangkan definisi konseptual lingkungan keluarga, lingkungan sosial inilah yang membentuk sistem pergaulan yang berperan besar dalam pembentukan karakter serta kepribadian remaja . dengan indikator lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Sedangkan dalam variabel media Instagram atau variabel X3 media sosial Instagram merupakan media sosial yang paling menonjolkan fitur berbagi foto dan video di dunia virtual. Meskipun hanya sebagai tempat berbagi foto dan video, Instagram cukup mampu membuktikan bahwa platformnya adalah bagian dari media interaksi dan komunikasi. menggunakan indikator partisispasi, keterbukaan, percakapan, komunitas, saling terhubung. Definisi konseptual kenakalan remaja memiliki beberapa indikator yaitu Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain, kenakalan yang menimbulkan korban materi, kenakalan sosial yang tidak menimbulkankorban di pihak orang lain, dan kenakalan yang melawan status sosial. Populasi penelitian ini merupakan remaja usia 13 -24 tahun di komunitas Indo Runners Sidoarjo yang berjumlah 80 remaja jadi sample yang digunnakan sejumlah 80 responden dengan teknik total sampling Peneliti menggunakan metode survey untuk mendapatkan hasil yang lebih terperinci dengan cara menyebar kuesioner melalui media sosial serta mendatangi para responden secara langsung dan memastikan responden menjawab kuesioner sampai selesai, cara ini dianggap efisien dari segi tenaga, biaya dan waktu. Penilaian tiap-tiap variabel dalam artikel ini memakai skala Likert dengan lima patokan jawaban dimulai dari nilai yang paling tinggi (5) untuk jawaban paling positif dan nilai paling rendah (1) untuk jawaban paling negatif. Kuesioner digunakan dalam proses pengumpulan data. Teknik analisis data menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan aplikasi IBM SPSS Statistics 20. Metode analisis ini untuk melihat pengaruh antar variabel bebas dengan variabel terikat dengan melihat koefisien dan determinasi berkisar 0-1 dan jika nilai mendekati 1 maka dapat dikatakan pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat menunjukan pengaruh yang besar [25] Penelitian ini dilakukan dengan mengambil cluster random sample serta pengumpulan data melalui kuesioner Google Form yang telah disebarkan dengan mendapat populasi penelitian ini sejumlah 100 responden. Populasi yang digunakan dalam penelitian kali ini adalah remaja yang berusia 13-24 tahun. Uji Validitas Uji validitas menurut Sujarweni (2015:192) memberikan pendapat bahwa uji validitas digunakan untuk memberitahu kepantasan poin-poin dalam satu daftar pernyataan yang memberikan definisi pada suatu variabel. Dengan ketentuan yang dipakai sebagai berikut : a. Jika rhitung > rtabel (dengan signifikansi 5%) maka kuesioner tersebut dinyatakan valid b. Jika rhitung < rtabel (dengan signifikansi 5%) maka kuesioner tersebut dinyatakan tidak valid Sedangkan untuk uji reliabilitas menurut Siregar (2012:87) memberi penjelasan bahwa uji reliabilitas memiliki tujuan memberi tahu seberapa jauh hasil pengukuran selalu konsisten, jika melakukan pengukuran berkali-kali terhadap indikasi sama, serta memakai peralatan pengukur yang serupa. Dasar dalam pengambilan keputusan yakni Alpha. Alpha memiliki ukuran 0,60. Jika variabel ingin dianggap reliabel maka >Alpha (0,60). Jika lebih kecil dari Alpha maka variabel tersebut dinyatakan tidak reliabel. Dibawah ini merupakan hasil uji validitas dan uji reliabilitas dari masing-masing variabel, yakni variabel komunikasi keluarga (X1), variabel lingkungan (X2), variabel Instagram (X3) dan variabel perilaku kenakalan remaja (Y) : Dasar pengambilan uji validitas pearson Perbandingan Nilai hitung dengan rTabel level sig 5% Nilai korelasi < 0,05 = valid Bagian ini bisa dilengkapi dengan tabel atau gambar untuk memberikan penjelasan lebih lanjut. Tabel 1. Tabel Validitas Variabel Indikator Koefisien Korelasi Keterangan Komunikasi Keluarga (X1) X1.1 0,714 Valid X1.2 0,764 Valid X1.3 0,665 Valid X1.4 0,537 Valid X1.5 0,838 Valid X1.6 0,745 Valid X1.7 0,809 Valid X1.8 0,775 Valid X1.9 0,857 Valid X1.10 0,538 Valid X1.11 0,878 Valid X1.12 0,763 Valid X1.13 0,775 Valid X1.14 0,828 Valid X1.15 0,806 Valid X1.16 0,738 Valid X1.17 0,812 Valid Lingkungan (X2) X2.1 0,842 Valid X2.2 0,835 Valid X2.3 0,704 Valid X2.4 0,697 Valid X2.5 0,786 Valid X2.6 0,885 Valid X2.7 0,839 Valid X2.8 0,782 Valid Instagram (X3) X3.1 0,660 Valid X3.2 0,810 Valid X3.3 0,925 Valid X3.4 0,846 Valid X3.5 0,913 Valid X3.6 0,852 Valid X3.7 0,858 Valid X3.8 0,804 Valid X3.9 0,913 Valid Perilaku Kenakalan remaja (Y) Y.1 0,633 Valid Y.2 0,858 Valid Y.3 0,876 Valid Y4 0,909 Valid Y5 0,849 Valid Y6 0,852 Valid Y7 0,882 Valid Hasil uji validitas pada tabel diatas menggambarkan bahwa variabel komunikasi keluarga (X1) mempunyai nilai koefisien korelasi dengan nilai lebih tinggi dari rtabel yang berarti pertanyaan pada variabel Komunikasi Keluarga (X1) dinyatakan valid. Pada variabel persepsi Lingkungan (X2) didapat nilai koefisien korelasi dengan nilai keseluruhan item lebih tinggi dari rtabel yang berarti pertanyaan pada variabel Lingkungan (X2) dinyatakan valid. Pada variabel Media sosial Instagram (X3) didapat nilai koefisien korelasi dengan nilai keseluruhan item lebih tinggi dari rtabel yang berarti pertanyaan pada variabel media sosial instagram (X3) dinyatakan valid Pada variabel perilaku kenakalan remaja (Y) didapatkan nilai koefisien korelasi dengan nilai keseluruhan item lebih besar dari rtabel yang berarti pertanyaan pada variabel perilaku kenakalan remaja (Y) dinyatakan valid. Serta nilai signifikan dari variabel diatas 0,000 < 0,05 yang berarti menunjukkan bahwa variabel diatas dinyatakan VALID Uji Reliabilitas Sebuah angka yang memperlihatkan konsistensi sebuah instrumen pengukur di dalam menguji gejala yang sama. Reliabilitas memperlihatkan tingkat kredibilitas sebuah instrumen yang bisa dipercaya untuk dipakai sebagai alat pengumpul data. Di dalam artikel ini, digunakan angka Cronbach’s Alpha sebagai metode pengujian reliabilitas. Nugroho (2005) mengatakan bahwa reliabilitas sebuah variabel dibilang baik apabila mempunyai angka Cronbach’s Alpha > dari 0,60. Hasil uji reliabilitas di dalam artikel ini bisa disaksikan dalam tabel dibawah ini : Tabel 2. Tabel Reliabilitas Variabel Cronbach’s Alpha Keterangan Valid Komunikasi Keluarga (X1) 0,951 Reliabel Valid Lingkungan (X2) 0,919 Reliabel Instagram (X3) 0,948 Reliabel Valid Perilaku kenakalan remaja (Y) 0,926 Reliabel Valid Hasil uji reliabilitas dari tabel diatas ditunjukan bahwa keseluruhan instrumen dari keempat variabel dinyatakan valid karena nilai Cronbach’s Alpha > 0,60 Uji Asumsi Klasik Uji Normalitas dengan P-P Plot Menurut (Sujianto, 2006) memberi penjelasan bahwa uji normalitas merupakan pengujian yang dilakukan untuk mengukur data kita, apakah terdapat distribusi secara normal, akhirnya bisa dipakai pada statistik parametrik. Menurut Imam Ghozali (2011: 161) model regresi dinyatakan berdistribusi normal jika data ploting/gambar titik-titik yang memberikan gambaran data sebenarnya ikut garis diagonalnya. Jadi dari pernyataan Imam Ghozali memberikan arahan bahwa jika gambar titik-titik tersebut mengikuti garis diagonalnya maka dinyatakan regresi berdistribusi normal. Untuk data ploting uji normalitas menggunakan IBM SPSS Statistics 22 sebagai berikut : Gambar 1. Gambar Diagram P-plot Jika ditarik Kesimpulan pada uji normalitas pada uji asumsi klasik melalui uji probability plot, maka dapat dilihat data terdistribusi dengan normal. Hal ini dapat dilihat secara bersama pada gambar data ploting atau data titik-titik pada gambar diatas mengikuti garis diagonal yang ada. Sehingga persebaran masing masing variabel independen (komunikasi keluarga (X1), lingkungan (X2), Instagram (X3)) terhadap variabel dependen (perilaku kenakalan remaja (Y)) terdistribusi secara normal. Uji Multikolinearitas Uji Multikolinearitas ini memiliki tujuan untuk menguji apakah terjadi interkorelasi (hubungan yang kuat) antara variabel independen (bebas). Model regresi yang bagus yakni tidak terjadi korelasi pada variabel bebas. Tetapi kalau variabel bebas saling berkorelasi, maka akan menjadi variabel yang ortogonal. Variabel ortogonal ini memiliki pengertian variabel bebas sama dengan nol. Menurut Imam Ghozali (2011:107-108) tidak terjadi gejala multikolinearitas pada regresi, jika nilai Tolerance > 0,100 dan nilai Variance Inflation Factor (VIF)< 10,00. Maka dapat dilihat untuk pengujian Multikolinearitas menggunakan IBM SPSS statistic 22 dan hasilnya sebagai berikut : Dengan dasar pengambilan keputusan Uji Multikolinearitas Melihat nilai Tolerance lebih besar dari > 0,10 maka artinya tidak terdapat atau tidak terjadi multikolinearitas Melihat nilai VIF : jika lebih kecil dari < 10.00 maka tidak terjadi Multikolinieritas Tabel 4 : Tabel Multikolinieritas Komunikasi Keluarga (X1) Tolerance VIF (Constant) X1 .292 3.421 X2 .267 3.742 X3 .785 1.274 a. Dependen Variabel: Y Jika Dianalisa pada tabel tersebut maka dapat ditemukan hasil sebagai berikut: a. Komunikasi Keluarga memiliki nilai Tolerance 0,292 > 0,100 sedangkan nilai VIF pada tabel diatas 3,421 < 10,00. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada gejala Multikolinieritas b. Lingkungan memiliki nilai Tolerance 0,267 > 0,100 sedangkan untuk nilai VIF 3,742 < 10,00. Sehingga disimpulkan tidak ada gejala multikolinearitas, c. Instagram memiliki nilai Tolerance 0,784 > 0,100 sedangkan untuk nilai VIF 1,274 < 10,00. Sehingga disimpulkan tidak ada gejala multikolinearitas. Uji Heteroskedastisitas Uji White Heteroskedastisitas dan Uji White Heteroskedastisitas adalah varian (dispersi) dari residual atau sisa-sisa model regresi harus konstan di semua tingkat nilai prediksi (variabel independen). Jika varian residual tidak sama, itu berarti terjadi heteroskedastisitas Uji White (Uji Heteroskedastisitas White atau White Test): Uji White adalah salah satu metode yang digunakan untuk mengetahui serta mengidentifikasi keberadaan heterokedasitas dalam model suatu regresi [27] Tujuan dari Uji white itu sendiri adalah untuk mengetahui apakah varian residual tidak konstan dengan meregresi secara kuadrat terhadap semua variabel independen. Dasar pengambilan keputusan : Jika nilai C Square hitung < C Square tabel maka tidak terjadi gejala heterokedasitas Jika nilai C Square hitung > C Square tabel maka terjadi gejala heterokedasitas C Square Hitung = n x R Square = 100 C Square Tabel = 123,225221 Tabel 5: Tabel Uji White Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 1.000a 1.000 1.000 .00000 a. Predictors: (Constant), X2X3, X1_kuadrat, X2_kuadrat, X1X3, X1X2, X3_kuadrat, X3, X2, X1 Dari Gambar diatas dapat kita lihat dan kita simpulkan bahwa diketahui setelah hasi pengujian ditemukan C Square Hitung < C Square Tabel dan dapat di simpulkan bahwa tidak terjadi gejala heterokedasitas. Analisis Regresi Linier Berganda Dibawah ini merupakan tabel hasil dari pengolahan data melalui IBM SPSS Statistics 20 dengan variabel bebas (independen) yakni komunikasi keluarga (X1), lingkungan (X2) dan instagram (X3) terhadap variabel terikat (dependen) yakni perilaku kenakalan remaja (Y), Uji Hipotesis : Uji T Seperti dijelaskan pada bab sebelumnya, uji t ini berfungsi untuk menunjukkan sejauh apa efek variabel independen (bebas) secara individu (parsial) dalam menjelaskan variabel dependen (terikat). Dengan beberapa ketentuan sebagai berikut : a. Apabila signifikansi t < 0.05, kemudian variabel independen mempunyai efek signifikan pada variabel dependen. b. Apabila signifikansi t > 0.05, kemudian variabel independen tidak mempunyai efek signifikan pada variabel dependen., Dari perhitungan diatas didapatkan persamaan regresinya adalah sebagai berikut : Tabel 6 : Tabel Uji T (X1) a. Dependen Variabel: kenakalan remaja Tabel 7 : Tabel Uji T (X2) Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 23.954 2.375 10.087 .000 Lingkungan -.444 .076 -.508 -5.844 .000 Tabel 8 : Tabel Uji T (X3) Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 23.954 2.375 10.087 .000 Lingkungan -.444 .076 -.508 -5.844 .000 a. Dependen Variabel: kenakalan remaja Berdasarkan persamaan regresi diatas, maka dapat dijelaskan sebagai berikut Dapat diambil kesimpulan dari tabel diatas bahwa : a. Variabel komunikasi keluarga memiliki nilai signifikansi t 0,000 < 0,05 sehingga memiliki efek signifikan pada variabel perilaku kenakalan remaja, b. Variabel lingkungan memiliki nilai signifikansi t 0,000 < 0,05 sehingga memiliki efek signifikan pada variabel perilaku kenakalan remaja dan c. Variabel Instagram memiliki nilai signifikansi t 0,000 < 0,05 sehingga memiliki efek signifikan pada variabel Perilaku kenakalan remaja Maka variabel bebas (X) yang paling berpengaruh pada variabel perilaku kenakalan remaja (Y) adalah variabel instagram (X3). Mempunyai makna jika nilai variabel Instagram (X3) naik satu satuan maka nilai variabel Turnover intention (Y) akan naik sebesar 0,341 dengan asumsi variabel Instagram (X3) maka dapat disimpulkan semakin remaja menggunakan instagram maka dia akan semaik nakal. Uji F Uji F peneliti fungsikan untuk memberi bukti adanya pengaruh antara variabel independen terhadap variabel dependen secara simultan (bersamasama), dengan melihat nilai signifikansi dibawah 0.05. Kriterianya sebagai berikut: a. Apabila signifikansi f < 0.05, kemudian variabel independen selaku simultan memberikan pengaruh signifikan pada variabel dependen. b. Apabila signifikansi f > 0.05, kemudian variabel independen selaku simultan tidak memberikan pengaruh signifikan pada variabel dependen. Untuk lebih jelasnya langsung saja melihat tabel dibawah ini Tabel 9 : Tabel Uji F Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate DurbinWatson 1 .678a .460 .443 4.408 2.072 a. Dependen Variabel: Kenakalan Remaja b. Predictors: (Constant), instagram, komunikasi keluarga, lingkungan Dengan keterangan tabel diatas, maka membentuk kesimpulan bahwa signifikasi f memiliki nilai 0,000. Nilai ini (0,000) < 0,05. Sehingga ketiga variabel independen (komunikasi keluarga (X1), lingkungan (X2) dan (X3)) memberikan pengaruh signifikan secara bersama sama pada variabel dependen Perilaku kenakalan remaja(Y)) Analisis Korelasi Analisis korelasi ini bertujuan untuk mencari tahu adanya hubungan antara variabel bebas (independen) dengan variabel terikat (dependen). Sujianto (2009:40) memberikan pedoman sebagai derajat kekuatan hubungan antar variabel melalui nilai interpretasi koefisien korelasi, yakni Tabel 10 :Pedoman derajat kekuatan hubungan antar variabel Nilai Pernyataan 0,00-0,20 Keeratan korelasi sangat lemah 0,21-0,40 Keeratan korelasi lemah 0,41-0,70 Keeratan korelasi kuat 0,71-0,90 Keeratan korelasi sangat kuat 0,91-0,99 Keeratan korelasi sangat kuat sekali 1 Keeratan korelasi sempurna Untuk menguji peneliti menggunakan aplikasi IBM SPSS Statistics 20. Yang dimana memperoleh hasil sebagai berikut : Tabel 11 : Tabel Analisis Korelasi Model Sum of Squares df Mean Square F Sig. 1 Regression 1586.295 3 528.765 27.208 .000b Residual 1865.705 96 19.434 Total 3452.000 99 a. Predictors: (Constant), instagram, komunikasi keluarga, lingkungan b. Dependen Variabel: kenakalan remaja Bila dilihat dari tabel diatas maka nilai R koefisien antara variabel bebas dan variabel terikat sebesar 0,678. Maka jika ditarik kesimpulan terjadi korelasi yang kuat antar variabel komunikasi keluarga,lingkungan dan instagram pada variabel perilaku kenakalan remaja pada penelitian ini. Koefisien Determinasi Tabel 12 : Tabel Koefisien Determinasi Model R R Square Adjust ed R Square Std. Error of the Estima te DurbinWatson 1 .678a .460 .443 4.408 2.072 .00 0b Dari hasil uji diatas, maka besarnya nilai Adjusted R Square menjadi patokan untuk melihat seberapa besar efeknya. R square memiliki nilai 0,443atau bisa ditulis 44,3%. Jika ditarik kesimpulan maka terbentuk variabel komunikasi keluarga, lingkungan dan Instagram (independen (bebas)) hanya memiliki pengaruh sebesar 44,3% terhadap perilaku kenakalan remaja (dependen (terikat)). Selebihnya merupakan variabel lain yang tidak sedang peneliti teliti.
Discussion
Pengaruh komunikasi keluarga, lingkungan dan instagram secara parsial terhadap perilaku kenakalan remaja Komunikasi keluarga adalah komunikasi yang terjadi di dalam keluarga dimana terdapat ayah, ibu, dan anak, disebut keluarga utuh seperti menurut Masi (2021) dalam [19]. Dalam hal ini komunikasi keluarga diperkuat dengan teori komunikasi interpersonal DeVito dalam (Maulana & Gumelar, 2013:75) memberikan definisi bahwa komunikasi interpersonal laksana penyampaian pesan dari satu orang kemudian pesan diterima oleh orang lain atau sekelompok kecil manusia, dengan berbagai dampak serta peluang demi memberikan umpan balik. DeVito (2011) menjelaskan juga terdapat aspek-aspek yang menjadi acuan dari komunikasi interpersonal, yakni : 1. Keterbukaan 2. Empati 3. Sifat mendukung 4. Sifat positif 5. Kesetaraan Lingkungan, Lingkungan sosial merupakan salah satu faktor pendukung pembentukan sumber daya manusia yang bermutu. Lingkungan sosial inilah yang membentuk sistem pergaulan yang berperan besar dalam pembentukan karakter serta kepribadian remaja[11]. Menurut Soejono Soekanto dalam bukunya [26]. Purwanto (2004:141) dalam [8]. memberikan pendapat “lingkungan pendidikan yang ada dapat digolongkan menjadi tiga yakni Lingkungan Keluarga, yang disebut lingkungan pertama, Lingkungan Sekolah, yang disebut lingkungan kedua dan Lingkungan Masyarakat, yang disebut lingkungan ketiga. 1. Lingkungan Keluarga 2. Lingkungan masyarakat 3. Lingkungan sekolah Instagram merupakan media sosial yang paling menonjolkan fitur berbagi foto dan video di dunia virtual. Meskipun hanya sebagai tempat berbagi foto dan video, Instagram cukup mampu membuktikan bahwa platformnya adalah bagian dari media interaksi dan komunikasi. Walaupun Orang-orang di komunitas online tersebut berasal dari berbagai penjuru dunia dan tak saling mengenal namun mereka tetap dapat saling terhubung hanya dengan saling berbagi foto dan video. Aplikasi media sosial Instagram merupakan salah satu aplikasi media sosial yang sedang populer oleh mayoritas orang di penjuru bumi. Platform ini adalah aplikasi media sosial yang berfungsi untuk menangkap gambar, merekam video serta membagikannya kepada pengguna Instagram lain [21]. Terkait dengan penggunaannya, instagram sendiri merupakan salah satu media sosial yang sering digunakan dari berbagai kalangan saat ini. Menurut data digital transformation world tahun 2019, Instagram menempati urutan ke-5 sebagai platform media sosial pengguna terbanyak di dunia saat ini (Ahmad, 2019) dalam [22]. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mencari tahu pengaruh komunikasi keluarga, lingkungan dan instagram secara parsial terhadap perilaku kenakalan remaja. Disini peneliti mengambil 100 responden, masing-masing responden peneliti beri kuesioner untuk diisi sampai dengan selesai. Dan menghasilkan sebuah jawaban secara parsial sebagai berikut : a. Variabel komunikasi keluarga memiliki nilai signifikansi t 0,000 < 0,05 sehingga memiliki efek signifikan pada variabel perilaku kenakalan remaja, b. Variabel lingkungan memiliki nilai signifikansi t 0,000 < 0,05 sehingga memiliki efek signifikan pada variabel perilaku kenakalan remaja dan c. Variabel instagram memiliki nilai signifikansi t 0,000 < 0,05 sehingga memiliki efek signifikan pada variable perilaku kenakalan remaja. Jika disimpulkan jawaban di atas maka dapat dijabarkan, komunikasi keluarga mempunyai pengaruh signifikan terhadap perilaku kenakalan remaja. Selanjutnya untuk lingkungan juga memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku kenakalan remaja. Dan yang terakhir instagram juga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perilaku kenakalan remaja. Maka keluarga dirasa harus lebih berhati hati dalam berbicara maupun bertindak dengan remaja karena setiap perkataan maupun tindakan yang dilakukan dalam keluarga dapat mempengaruhi perilaku kenakalan dalam diri remaja. Untuk lingkungan juga demikian, lingkungan juga salah satu tempat pembentukan perilaku kenakalan remaja Dimulai dari lingkungan keluarga. Kemudian lingkungan sekolah yang terakhir lingkungan masyarakat. Lingkungan keluarga ini memberikan pengaruh pertama kali anak itu tumbuh dan berkembang, jadi berikan pengaruh positif agar anak bisa memahami dan belajar dengan baik tentang lingkungannya. Instagram juga memberikan pengaruh yang kuat terhadap perilaku kenakalan remaja karena banyak konten konten yang tidak pantas beredar bebas didalam instagram yang dapat mempengaruhi perilaku kenakalan pada remaja.Jawaban penelitian ini didukung oleh penelitian terdahulu dari Artikel dengan judul “Pengaruh Media Sosial Terhadap Tindak Kejahatan Remaja” [15]). Hasil dari penelitiannya yakni penggunaan media sosial yang baik maka akan berdampak baik dan kebalikkannya penggunaan media sosial yang buruk akan berdampak buruk juga pada perilaku remaja yang dapat melahirkan tindak kejahatan remaja.Jawaban penelitian ini didukung oleh penelitian terdahulu dari artikel penelitian dengan judul “Pengaruh Lingkungan Keluarga Terhadap Penyalahgunaan NAPZA Pada Remaja”[16].Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh pada lingkungan keluarga yaitu terhadap penyalahgunaan NAPZA pada remaja Rekomendasi yang dapat disampaikan dari hasil penelitianya Orang tua perlu menciptakan ikatan keluarga yang kuat melalui hubungan emosional dan rasa empati pada anak. Jawaban Penelitian ini didukung oleh penelitian terdahulu dengan dari artikel dengan judul “Peran Komunikasi Keluarga Dalam Mengatasi Kenakalan Remaja” [17]. Hasil penelitian ini bahwa menurut keseluruhan informan, komunikasi keluarga merupakan hal yang paling penting, dan kedekatan antara orang tua dan anak merupakan kunci segalanya. Simpulan penelitian ini bahwa dalam mengantisipasi kenakalan remaja orang tua/keluarga selalu mengedepankan komunikasi antara orang tua kepada anaknya. Jawaban Penelitian ini didukung oleh penelitian dengan judul judul ” Pengaruh Media Sosial Instagram Terhadap Perilaku Remaja Di Lingkungan Viii Sido Selamat Kelurahan Pekan Kuala Kabupaten Langkat[18]. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengguna media sosial instagram yang digunakan oleh remaja di Lingkungan VIII Sido Selamat, Kel. Pekan Kuala, Kab. Langkat adalah baik dan dapat disimpulkan bahwa penggunaan media sosial instagram pada remaja di Lingkungan VIII Sido Selamat, Kel. Pekan Kuala, Kab. Langkatdan Perilaku remaja dalam penggunaan instagram tergolong kedalam kategori pengguna baik, dikarenakan dampak positif atau negatif tergantung bagaimana para pengguna memanfaatkan media sosialnya.
Conclusion
In conclusion, children continue to be at high risk of contracting Enterobius vermicularis, especially in underdeveloped nations. Micronutrient deficits, noticeable hematological alterations, and new indications of electrolyte imbalances are linked to it. We are learning more about the parasite's genetic makeup and dispersal thanks to molecular research on the COX1 gene. The necessity of coordinated surveillance, early diagnosis, and public health interventions to lessen the burden of enterobiasis in endemic locations is highlighted by these multidisciplinary insights taken together.