Kembali
16
1
2025 Codex: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 1 · 1 ISSN 3109-6212

Peran Perpustakaan Dalam Mendorong Pembelajaran Mandiri di SMK Negeri 3 Pontianak

Universitas Tanjungpura; Universitas Tanjungpura; Universitas Tanjungpura

Abstrak

Penelitian ini mengkaji peran perpustakaan dalam mendukung pembelajaran mandiri di SMK Negeri 3 Pontianak. Pembelajaran mandiri menuntut siswa aktif mengatur proses belajarnya secara mandiri, dan perpustakaan berfungsi sebagai pusat informasi serta fasilitator dalam proses tersebut. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perpustakaan telah memberikan kontribusi melalui penyediaan ruang baca yang nyaman, koleksi bahan pustaka yang memadai, dan peran pustakawan sebagai pendukung aktif pembelajaran. Namun, masih terdapat kendala dalam pemanfaatan fasilitas digital akibat keterbatasan perangkat dan akses internet, serta kurangnya program literasi dan inovasi pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan infrastruktur dan pengembangan program berbasis perpustakaan agar mampu memenuhi kebutuhan siswa di era digital. Temuan ini diharapkan menjadi masukan dalam menyusun strategi penguatan pembelajaran mandiri di sekolah kejuruan.

Abstract

This study explores the role of the school library in supporting selfdirected learning at SMK Negeri 3 Pontianak. Self-directed learning involves students actively managing their learning process independently, with the library serving as an information center and learning facilitator. Using a descriptive qualitative approach, data were collected through interviews, observations, and documentation. The findings indicate that the library has significantly contributed to independent learning by providing a comfortable reading space, relevant learning resources, and proactive librarian support. However, the use of digital facilities remains limited due to inadequate equipment and internet access. Additionally, literacy activities and innovative programs have yet to be fully developed. Thus, enhancing infrastructure and strengthening library-based programs are essential to meet students’ needs in the digital era. This research serves as a reference for schools and libraries in formulating more effective and relevant strategies to promote self-directed learning.
Keywords: library · self-directed learning · strategy · innovation

Introduction

Di era modern yang ditandai oleh kemajuan teknologi dan informasi, kemampuan untuk belajar secara mandiri keterampilan penting bagi peserta didik. Pembelajaran mandiri (self-directed learning), merupakan proses di mana siswa mengambil inisiatif dalam merancang, melaksanakan, dan mengavaluasi pembelajaran mereka sendiri tanpa ketergantungan penuh pada pengajar (Bastari, 2021). Kemampuan tidak hanya relevan untuk keberhasilan akademik tetapi juga krusial dalam menyiapkan individu agar dapat beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan yang terjadi di dunia kerja. SMK Negeri 3 Pontianak memiliki posisi strategis dalam menanamkan kekampuan pembelajaran mandiri, karena orientasi pendidikan di SMK berfokus pada pengembangan keterampilan praktis dan kesiapan kerja. Salah satu elemen penting yang mendukung pencapaian tujuan ini adalah keberadaan perpustakaan sekolah. Perpustakaan bukan sekedar tempat penyimpanan buku, tetapi juga pusat sumber belajar yang menyediakan berbagai referensi yang relevan, baik dalam bentuk cetak maupun digital, guna mendukung proses belajar siswa secara aktif dan mandiri. Menurut (Eskha, A 2018), perpustakaan berperan sebagai pusat informasi, pusat inovasi, dan pusat pembelajaran. Dengan menyediakan akses terhadap sumber pengatahuan, perpustakaan menjadi tempat yang strategis dalam membentuk budaya literasi dan meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Perpustakaan yang dikelola secara aktif efektif dapat memfasilitasi siswa dalam mengeksplorasi materi pelajaran secara mendalam, menumbuhkan rasa ingin tahu, dan mengembangkan potensi diri di luar ruang kelas formal (Damanik et al., 2023). Namun, berbagai kendala masih dihadapi dalam optimalisasi peran perpustakaan sebagai pusat pembelajaran mandiri. Salah satu tantangan utama adalah terbatasnya fasilitas digital di perpstakaan sekolah, seperti komputer dan koneksi internet yang memadai. Padahal, dalam konteks pembelajaran abad ke21, kemampuan mengakses informasi secara daring merupakan bagian integral dari literasi informasi yang dibutuhkan siswa (Batubara & Fathurrahman, 2024) Fenomena serupa ditemukan di SMK Negeri 3 Pontianak. Berdasarkan data dari Sistem Otomasi Perpustakaan (OPAC), terjadi fluktuasi jumlah kunjungan siswa ke perpustakaan yang menunjukan bahwa minat dan pemanfaatan fasilitas perpustakaan belum konsisten. Selain itu, hasil observasi dan wawancara menunjukan bahwa kendala seperti keterbatasan ruang, koleksi yang belum di perbarui, serta kurangnya program literasi informasi dan inovasi pembelajaran menjadi faktor penghambat dalam mendorong pembelajaran mandiri. Menurut Supriyanto (2017), strategi pembelajaran mandiri yang memanfaatkan perpustakaan secara optimal meliputi penyediaan lingkungan belajar yang nyaman , ketersediaan bahan pustaka yang sesuai dengan kurikulum, peran aktif guru dalam mengarahkan siswa, serta keterlibatan pustakawan sebagai fasilator. Perpustakaan yang mampu memenuhi elemenelemen tersebut akan lebih efektif dalam mendorong siswa untuk belajar secara mandiri. Selaian faktor internal seperti fasilitas dan program kolaborasi antara guru, pustakawan dan siswa juga memainkan peran penting dalam menciptakan ekosistem pembelajaran yang mendukung kemandirian belajar. Peran guru tidak hanya sebagai pengajar dikelas, tetapi juga sebagai pembimbing yang mengarahkan siswa untuk memanfaatkan sumber belajar di perpustakaaan. Pustakawan harus aktif membantu siswa dalam mencari dan menggunakan sumber informasi yang relevan dengan kebutuhan siswa (Caspari et al., 2019). Penelitian ini bertujuan untuk mengavaluasi peran perpustakaan SMK Negeri 3 Pontianak dalam mendukung pembelajaran mandiri siswa. Fokus kajian ini mencakup bagaimana fasilitas, layanan, dan strategi yang diterapkan oleh perpustakaan dapat berkontribusi dalam menumbuhkan budaya belajar mandiri di kalangan siswa SMK. Penelitian ini penting untuk mengidentifikasikan kekuatan dan kelemahan dalam pemanfaataan perpustakaan, sehingga dapat dirumuskan rekomendasi yang tepat untuk pengembangan lebih lanjut. Secara teoritis, penelitian ini berkontribusi dalam memperkuat literatur mengenai peran perpustakaan sebagai pusat pembelajaran mandiri di lingkungan pendidikan kejuruan. Sementara itu, dari sisi praktis, hasil penelitian ini dapat menjadi acuan bagi pihak sekolah, pengelola perpustakaan, dan pemangku kepentingan lainnya dalam merancang strategi yang lebih efektif guna mengintegrasikan perpustakaan dalam proses pembelajaran. Melalui pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi untuk memperoleh data yang komprehensif. Informan terdiri dari guru, pustakawan, dan siswa aktif pengguna perpustakaan. Teknik analisis data dilakukan secara tematik untuk mengidentifikasi pola-pola dan temuan utama yang berkaitan dengan pemanfaatan perpustakaan dalam mendukung pembelajaran mandiri. Dengan memahami dan menganalisis peran perpustakaan secara mendalam, diharapkan sekolah dapat mengoptimalkan fungsi perpustakaan tidak hanya sebagai tempat membaca, tetapi juga sebagai sarana pengembangan diri siswa yang selaras dengan tuntutan zaman.

Method

Penelitian ini metode kualitatif deskriptif untuk mengekplorasi bagaimana Perpustakaan SMK Negeri 3 Pontianak mendukung pembelajaran mandiri siswa. Metode ini memungkinkan peneliti memahami secara mendalam pengalaman informan melalui interaksi langsung dan konteks sosial tempat mereka berada. Tujuan utamanya adalah menggambarkan secara sistematis fungsi perpustakaan sebagai pusat literasi, sumber informasi, dan ruang belajar yang mendorong kemandirian belajar di sekolah kejuruan. Informan dalam penelitian ini mencakup satu guru merangkap kepala perpustakaan, seorang pustakawan, dan tiga siswa kelas XI yang aktif menggunakan layanan perpustakaan. Data dikumpulkan dengan wawancara semi-terstruktur, observasi lapangan, serta analisis dokumen perpustakaan seperti laporan koleksi, statistik pengunjung, dan rekaman kegiatan literasi dalam sistem SLiMS. Penelitian dilakukan di SMK Negeri 3 Pontianak, Kalimantan Barat, selama bulan April 2025. Proses analisis data menggunakan pendekatan tematik untuk mengenali pola dan tema penting dalam data. Tiga langkah dilakukan: menyaring data yang relevan (reduksi), mengelompokkannya berdasarkan tema, serta menarik kesimpulan berdasarkan hubungan tematik yang ditemukan. Untuk menjamin ketepatan dan keabsahan hasil, peneliti menerapkan triangulasi sumber, konfirmasi data ke informan (member check), dan observasi yang diperpanjang. Metodologi ini tidak hanya menyajikan gambaran umum tentang pemanfaatan perpustakaan, tetapi juga mencoba mengungkap makna di balik perilaku siswa dalam mengakses sumber belajar. Dengan pendekatan ini, penelitian diharapkan memberi kontribusi nyata dalam perbaikan layanan perpustakaan sekolah serta menjadi dasar bagi lembaga pendidikan lain dalam merancang strategi pembelajaran mandiri yang lebih terstruktur dan relevan.

Result & Discussion

Penelitian ini menungkapkan bahwa perpustakaan SMK Negeri 3 Pontianak telah menjalankan peran strategis sebagai pusat informasi, inovasi dan sumber belajar dalam mendukung pembelajaran mandiri siswa. Temuan ini sesuai dengan konsep pembelajaran mandiri menurut Bastari (2021), yang menekankan pentingnya inisiatif siswa dalam mengelola proses belajarnya secara aktif. Hasil observasi dan wawancara menunjukan bahwa perpustakaan tidak hanya digunakan untuk meminjam buku, tetapi juga menjadi ruang bejalar yang menunjung aktivitas akademika secara independen. Sebagai pusat informasi perpustakaan menyediakan beragam koleksi refensi yang dimanfaatkan siswa untuk menyelesaikan tugas sekolah secara mandiri. Guru juga memanfaatkan materi koleksi tersebut untuk memperkaya materi ajar. Namun, tantangan tetap ada, seperti terbatasnya koleksi terkini dan akses terhadap sumber digital yang belum optimal (Arika, D. 2024). Hal ini menunjukan bahwa peran perpustakaan telah dioptimalkan, tetapi masih dibutuhkan peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya informasi yang tersedia. Fungsi inovasi perpustakaan mulai terlihat melalui penyediaan akses digital seperti WI-Fi dan komputer. Namun, keterbatasan perangkat dan koneksi, serta kekhawatiran akan penyalahgunaan internet, membuat pemanfaatannya belum maksimal. Sedangkan, menurut Eskha , A. (2018). perpustakaan yang inovatif mampu mendorong kreativitas dan semangat belajar siswa. Ketidakhadiran program literasi digital dan minimnya kegiatan edukatif menjadi faktor penghambat berkembangnya peran inovatif ini. Dari aspek pusat sumber belajar, perpustakaan telah menyediakan ruang baca yang nyaman dan tenang, memungkinkan siswa belajar tanpa gangguan. Hal ini sesuai dengan pandangan Sulistyo-Basuki (2013), yang menekankan bahwa perpustakaan harus menciptakan lingkungan yang mendukung aspek fisik dan intelektual pembelajaran. Namun, siswa masih cenderung hanya menggunakan ruang baca, sementara potensi digital dan program literasi belum tergarap secara optimal. Strategi pembelajaran mandiri melalui perpustakaan juga ditopang oleh peran pustakawan dan guru. Guru memberikan arahan dan motivasi, sedangkan pustakawan bertindak sebagai fasilitator dalam pencarian informasi. Meskipun demikian, berdasarkan hasil wawancara, program pendukung seperti pelatihan literasi atau lomba resensi buku masih belum terlaksana karena keterbatasan dana dan waktu (Batubara & Fathurrahman, 2024). Untuk memahami sejauh mana peran perpustakaan dalam mendukung pembelajaran mandiri di SMK Negeri 3 Pontianak, dilakukan analisis data yang divisualisasikan melalui grafik eefektivitas peran perpustakaan dalam mendukung pembelajaran mandiri di SMK Negeri 3 Pontianak berikut ini: Gambar 1. Grafik efektivitas peran perpustakaan dalam mendukung pembelajaran mandiri di SMK Negeri 3 Pontianak Berdasarkan data yang disajikan dalam Gambar 1, terlihat bahwa peran perpustakaan sebagai pusat informasi menempati posisi paling menonjol dengan tingkat efektivitas sebesar 85%. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi perpustakaan sebagai penyedia informasi telah dimanfaatkan secara optimal oleh siswa dalam menunjang pembelajaran mandiri. Disusul oleh peran sebagai pusat sumber belajar (80%) dan kontribusi pustakawan (75%), data ini memperkuat pandangan Bastari (2021) yang menyatakan bahwa pembelajaran mandiri menuntut akses informasi yang memadai serta dukungan dari pihak pendidik, termasuk pustakawan sebagai fasilitator belajar. Meskipun peran dasar perpustakaan sudah menunjukkan efektivitas yang cukup baik, dua elemen penting lainnya yaitu strategi pembelajaran mandiri (70%) dan peran sebagai pusat inovasi (60%) masih berada pada kategori sedang. Hal ini memperlihatkan bahwa penerapan strategi belajar mandiri belum sepenuhnya terintegrasi dengan peran perpustakaan. Seperti dikemukakan oleh Supriyanto (2017), pembelajaran mandiri akan lebih berhasil apabila perpustakaan menyediakan lingkungan belajar yang kondusif, koleksi bahan ajar yang relevan, serta adanya sinergi antara guru dan pustakawan. Kondisi ini juga sejalan dengan temuan Damanik et al. (2023), yang menyatakan bahwa pemanfaatan perpustakaan sekolah sebagai sarana pembelajaran masih sering terhambat oleh minimnya program inovatif. Terbatasnya kegiatan literasi, kurangnya pelatihan digital, serta rendahnya dukungan infrastruktur teknologi juga menghambat transformasi perpustakaan ke arah yang lebih kreatif dan modern. Hal ini turut ditegaskan oleh Batubara & Fathurrahman (2024), bahwa pengembangan program-program inovasi literasi dan digital di perpustakaan harus menjadi fokus utama agar fungsinya tidak stagnan dalam pola konvensional. Lebih lanjut, Eskha (2018) menyebutkan bahwa perpustakaan harus mampu bertindak sebagai pusat inovasi dan pembelajaran, bukan hanya sebagai gudang buku. Untuk itu, efektivitas peran inovatif perpustakaan di SMK Negeri 3 Pontianak yang masih tergolong rendah, menjadi catatan penting yang perlu ditindaklanjuti melalui penguatan program digitalisasi, pelatihan kreativitas, dan integrasi kegiatan literasi ke dalam kurikulum sekolah.Dengan demikian, meskipun perpustakaan telah menjalankan fungsi dasarnya secara cukup efektif, penguatan peran transformasional khususnya dalam ranah digital, inovasi, dan kolab orasi antar pemangku kepentingan masih menjadi pekerjaan rumah yang mendesak. Hal ini penting agar perpustakaan tidak hanya menjadi ruang penyimpanan informasi, tetapi juga berkembang menjadi pusat pembelajaran yang aktif, interaktif, dan kontekstual sesuai kebutuhan siswa kejuruan masa kini.

Conclusion

Perpustakaan SMK Negeri 3 Pontianak berperan penting dalam mendukung pembelajaran mandiri siswa melalui penyediaan ruang belajar dan referensi yang memadai, serta didukung peran guru dan pustakawan. Namun, keterbatasan koleksi, fasilitas digital, dan minimnya program inovatif masih menjadi kendala. Upaya strategis diperlukan, seperti literasi informasi, pelatihan digital, kegiatan kreatif, kolaborasi antarpihak, serta peningkatan kompetensi pustakawan agar lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan siswa. Peneliti menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan serta kontribusi selama pelaksanaan penelitian ini. Ucapan terima kasih secara khusus ditujukan kepada SMK Negeri 3 Pontianak, terutama kepada kepala sekolah, para guru, pustakawan, dan siswa yang telah bersedia menjadi responden serta memberikan informasi yang sangat bermanfaat. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan dan keluarga atas dukungan moral dan semangat yang terus mengalir selama proses penelitian berlangsung. Semua bentuk dukungan tersebut memberikan peran yang sangat penting dalam kelancaran dan penyelesaian penelitian ini. Harapannya, hasil dari penelitian ini dapat memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan dunia pendidikan, khususnya dalam meningkatkan peran perpustakaan sekolah sebagai sarana pembelajaran mandiri.