Kembali
16
1
2017 Jupiter Vol 16 · 1 ISSN 2777-046X

MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) SISWA KELAS XI TKR SMK NEGERI 3 BULUKUMBA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) DENGAN MEMANFAATKAN PERPUSTAKAAN DIGITAL

SMK Negeri 3 Bulukumba

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan aktivitas dan hasil belajar PAI pada pokok bahasan sikap toleran, rukun dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan melalui penerapan model pembelajaran problem base learning (PBL) dan pemanfaatan perpustakaan digital pada Siswa Kelas XI TKR SMK Negeri 3 Bulukumba. Hasil analisis menunjukkan bahwa (1) Model problem based learning dengan memanfaatkan perpustakaan digital yang diterapkan pada siswa kelas XI TKR SMK Negeri 3 Bulukumba sangat efektif dalam meningkatkan pembelajaran di kelas. Hal ini ditunjukkan pada setiap putaran atau pertemuan yaitu pada siklus pertama adalah 2,57% dan siklus kedua 3,75%, (2) Hasil belajar siswa kelas XI TKR SMK Negeri 3 Bulukumba pada mata pelajaran PAI telah mengalami banyak peningkatan. Hal ini ditunjukkan pada setiap putaran atau pertemuan, yaitu putaran pertama adalah 80%, putaran kedua 100% dan (3) Efektifitas model pembelajaran problem based learning dan pemanfaatan perpustakaan digital dalam meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran PAI di SMK Negeri 3 Bulukumba sudah cukup baik, hal ini ditunjukkan pada hasil analisis hipotesis dengan perhitungan statistik ternyata observasinya lebih besar dibandingkan dengan ttabel (12,27 > 1,645), sehingga hipotesis berbunyi efektifitas pembelajaran problem based learning dan pemanfaatan perpustakaan digital pada pelajaran PAI di SMK Negeri 3 Bulukumba, dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima.

Abstract

This study aims to determine the improvement of learning outcomes of PAI on the subject of tolerant, harmonious and avoidance of violence through the implementation of problem base learning (PBL) model and the utilization of digital library in in students of Class XI TKR SMK Negeri 3 Bulukumba. The result of the analysis shows that (1) The problem based learning model and utilization digital library applied to student of class XI TKR SMK Negeri 3 Bulukumba is very effective in improving the learning in the classroom. This is shown in each round or meeting that is in the first cycle is 2.57% and the second cycle 3.75%, (2) The results of student learning class XI TKR SMK Negeri 3 Bulukumba on the subject of PAI has experienced many improvements. This is shown in each round or meeting, the first round is 80%, the second round 100% and (3) The effectiveness of the problem-based learning model and utilization of digital library in improving student achievement on the subject of PAI in SMK Negeri 3 Bulukumba is good enough, shown in the results of hypothesis analysis with statistical calculation was observed greater than ttable (12.27> 1.645), so the hypothesis reads the effectiveness of learning problem based learning on the lesson of PAI in SMK Negeri 3 Bulukumba, thus Ho is rejected and Ha is accepted.
Keywords: Problem Based Learning (PBL) · Perpustakaan Digital · Aktivitas dan Hasil Belajar PAI

Introduction

Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan oleh seseorang terhadap perkembangan orang lain, kearah suatu cita-cita tertentu. Sebagaimana yang kita ketahui pula, pendidikan adalah sebuah proses pembentukan manusia seutuhnya yang dapat di pengaruhi oleh banyak faktor pendukung terciptanya suatu pendidikan yang sempurna. Salah satunya adalah keberadaan alat (media) pendidikan. Alat pendidikan dapat diartikan suatu tindakan atau segala sesuatu yang dapat menunjang proses pelaksanaan pendidikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan tertentu. Pendidikan mempunyai peran yang amat menentukan bagi perkembangan dan perwujudan diri individu, terutama bagi perkembangan bangsa dan Negara. Kemajuan suatu kebudayaan tergantung kepada cara kebudayaan tersebut. Berkaitan erat dengan kualitas pendidikan yang diberikan kepada anggota masyarakat, salah satunya kepada peserta didik. Dengan demikian, tujuan Nasional suatu pendidikan sangat dipengaruhi oleh falsafah atau pendidikan di Negara Indonesia mempunyai tujuan pendidikan Nasional. Sebagaimana yang tertuang dalam undang - undang RI No.20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 3 yang berbunyi :‘’Pendidikan Nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang Beriman dan Bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi Warga Negara yang demokrasi serta tanggung jawab. Oleh karena itu perlu adanya peningkatan kualitas pendidikan demi tercapainya tujuan pendidikan Nasional, untuk menunjang hal tersebut maka pendidikan harus ditanamkan pada anak sejak usia dini, dan mereka tidak hanya dituntut untuk mengetahui ilmu umum saja tetapi ilmu agama juga punya peranan yang sangat penting untuk kehidupannya kelak, sehingga nantinya mereka menjadi manusia yang memiliki IPTEK dan IMTAQ yang siap menghadapi segala tantangan zaman yang semakin besar. Pembelajaran yang menyenangkan memang menjadi langkah awal untuk mencapai hasil belajar yang berkualitas. Menurut Nurhadi (2004) bahwa ”belajar akan lebih bermakna apabila siswa atau anak didik mengalami sendiri apa yang dipelajarinya”. Berdasarkan hal tersebut, maka salah satu model pendekatan yang dipilih dalam proses pembelajaran ini adalah pembelajaran kontekstual. Pembelajaran kontektual ini merupakan Model Pembelajaran yang mampu mendorong siswa mengkonstruksikan pengetahuan yang telah diperolehnya melalui pola pikir mereka sendiri. Penerapan model pembelajaran kontekstual ini juga berdampak terhadap situasi dan kondisi pada saat terjadinya proses belajar mengajar yaitu dapat ”menghidupkan” suasana lingkungan kelas, karena pembelajaran bersifat student oriented. Dengan kata lain guru diharapkan dapat mengembangkan suatu Model Pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan mengembangkan, menemukan, menyelidiki, dan mengungkapkan ide peserta didik sendiri. Yakni Model Pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berfikir dan memecahkan masalah peserta didik. Adapun Model Pembelajaran yang tepat, yang mampu meningkatkan kemampuan berfikir dan ketrampilan dalam memecahkan masalah adalah model pembelajaran yang berorientasi pada masalah, atau disebut dengan Model Problem Based Learning ( Model Pembelajaran Berbasis Masalah). Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) adalah pembelajaran yang menghadapkan peserta didik pada situasi yang orientasi pada masalah. Model ini merupakan pendekatan pembelajaran peserta didik pada masalah autentik (nyata), sehingga peserta didik dapat menyusun pengetahuannya sendiri, menumbuh kembangkan ketrampilan yang tinggi dan inkuiri, memandirikan peserta didik, dan meningkatkan kepercayaan dirinya. Pada Model ini peran guru adalah menerapkan Model ini lebih menjurus pada pemecahan suatu masalah kehidupan nyata yang dihadapi siswa sehari-hari dengan menggunakan keterampilan problem solving, Model Pembelajaran Problem Based Learning umumnya berbentuk suatu proyek untuk diselesaikan oleh sekelompok siswa dengan bekerjasama. Dalam melaksanakan pembelajaran, perlu adanya informasi-informasi actual yang dapat menambah wawasan peserta didik. Informasi-informasi ini tidaklah fleksibel dan efektif jika hanya mengandalkan buku-buku pelajaran. Dengan berkembangnya teknologi informasi, maka pemanfaatan perpustakaan digital akan sangat membantu guru dan siswa dalam memperoleh informasi seputar materi yang sedang dibahas dalam pembelajaran. Selain itu, dengan adanya perpustakaan digital, akan memudahkan untuk mencari rujukan-rujukan tanpa harus mengelilingi rak-rak buku yang ada di perpustakaan sehingga alokasi waktu belajar dapat lebih efektif. Untuk itu penulis mencoba menggunakan Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) pada mata pelajaran PAI. Mengingat materi PAI itu berisi tentang masalah ibadah, moral, dan sosial, maka diperlukan sebuah model pembelajaran yang mampu memberikan wawasan kepada siswa untuk berpikir kreatif dan kritis terhadap permasalahan yang ada di masyarakat, karena materi ini akan kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Yang tentunya permasalahan ini selalu menarik untuk di diskusikan dan dicarikan solusinya serta siswa dapat belajar secara mandiri dan terlibat langsung dalam pembelajaran berkelompok. Oleh karena itu Model Pembelajaran Problem Based Learning digunakan dalam mengajar materi PAI ini. Tujuannya agar siswa mampu belajar untuk berpikir kreatif, inovatif dan kritis. Disamping itu, Model Pembelajaran ini membantu siswa dalam mencari pemecahan masalah melalui pencarian data sehingga diperoleh solusi untuk suatu masalah secara rasional dan autentik. Serta mampu menggangkat prestasi belajar siswa di sekolah, khususnya pada mata pelajaran PAI. Berdasarkan dari latar belakang diatas penulis termotivasi untuk melakukan penelitian, untuk mengetahui apakah dengan penerapan Model Pembelajaran Problem Besed Learning dan pemanfaatan perpustakaan digital dapat meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa di SMK Negeri 3 Bulukumba. B. Tinjauan Pustaka 1. Model Pembelajaran Dalam konteks pengajaran “Model” dimaksudkan sebagai daya upaya guru dalam menciptakan proses mengajar. Agar tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan dapat tercapai dan berhasil guru dituntut memiliki kemampuan mengatur secara umum komponen-komponen pembelajaran sedemikian rupa, sehingga terjamin keterkaitan fungsi antara komponen pembelajaran yang dimaksud. Penggunaan Model Pembelajaran sangat perlu karena untuk mempermudah proses pembelajaran sehinggga mencapai hasil yang optimal. Model pembelajaran sangat berguna, baik bagi guru maupun siswa. Bagi guru model dapat dijadikan pedoman dan acuan bertindak sistematis dalam pelaksanaan model pembelajaran dapat mempermudah proses pembelajaran (mempermudah dan mempercepat memahami isi pembelajaran), karena setiap model pembelajaran dirancang untuk mempermudah proses belajar siswa. Arends (2013), menyatakan bahwa istilah model pengajaran mengarah pada suatu pendekatan pembelajaran tertentu termasuk tujuannya, sintaksnya, lingkungannya, dan system pengelolaannya. Istilah model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas dari pada strategi, metode atau prosedur. Model pengajaran mempunyai empat ciri khusus yang tidak dimiliki oleh strategi, metode atau prosedur. Ciri- ciri tersebut ialah : a. Rasional teoritik yang logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembanganya. b. Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan pembelajaran yang akan dicapai). c. Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil;serta. d. Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai. Selama bertahun-tahun banyak diteliti dan diciptakan bermacam-macam pembelajaran oleh pakar pendidikan untuk meningkatkan kualitas kegiatan pembelajaran. Setiap model pembelajaran memerlukan system penguasa dan mengingat belajar yang secara tertentu, dengan model pembelajaran antara lain yaitu a. Model pembelajaran langsung Pembelajaran langsung merupakan salah satu pendekatan mengajar yang dirancang kusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural yang terskruktul dengan baik yang dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap, selangkah dengan selangkah. Menurut pendapat Kardi dan Nur (2000), terdapat berbagai ciri- ciri model pembelajaran langsung antara lain: 1) Adanya tujuan pembelajaran dan pengaruhnya model pada siswa termasuk prosedur penilaian belajar. 2) Sintaks atau pola keseluruan dan alur kegiatan pembelajaran dan 3) Sistem pengelolaan dan lingkungan belajar model yang diperlukan agar kegiatan pembelajaran tertentu dapat berlangsung dengan berhasil. b. Model pembelajaran kooperatif Pembelajaran kooperatif adalah model pembejaran dimana siswa dalam kelompok kecil saling membantu belajar satu sama lainnya. Kelompok-kelompok tersebut beranggotakan siswa dengan hasil belajar tinggi, rata-rata rendah, lakilaki dan perempuan, siswa dengan latar belakang suku berbeda untuk mencapai suatu penghargaan bersama. Terdapat beberapa variasi dalam model pembelajaran cooperative learning, yaitu : 1) Student Teams Achievement Division ( STAD ) Pembelajaran kooperatif tipe STAD ini merupakan salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil dengan jumlah anggota tiap kelompok 4-5 orang siswa secara heterogen. Diawali dengan penyampaian tujuan pembelajaran, penyampaian materi kegiatan kelompok kuis dan penghargaan kelompok. 2) Tim Ahli ( Jigsaw ) Dalam belajar kooperatif tipe jigsaw secara umum siswa dikelompokkan secara hiterogen dalam kemampuan siswa. Masing-masing anggota kelompok secara acak ditugaskan untuk mendisku-sikan topik yang sama dari kelompok lain sampai mereka menjadi ‘’ahli’’ di konsep yang ia pelajari. 3) Think pair share ( TPS ) Think pair share merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. 4) Investasi kelompok ( IK ) Dalam penerapan Investasigasi kelompok guru membagi kelas menjadi 5-6 siswa yang hiterogen. Selanjutnya siswa memilih topic untuk diselidiki dan diakhirnya disiapkan serta diprsentasikan laporannya di depan kelas. 5) Number Head Togerher ( NHT ) Number Head Togerher atau penomoran berfikir bersama adalah merupakan jenis kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai artenatif terhadap struktur kelas tradisional. 6) Teams Games Tournament ( TGT ) Model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT), perbandingan permainan Tim dikembangkan secara asli oleh david De Vries dan Edward. Pada model ini siswa memainkan permainan dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh tambahan poin untuk skor tim mereka 2. Problem Based Learning Istilah Pembelajaran Berbasis Masalah ( PBM ) diadopsi dari Istilah Inggris Problem Based Learning (PBL).v Model pembelajaran berbasis masalah ini telah di kemukakan sejak zaman John Dewey. Menurut Dewey dalam Trianto (2009), belajar berbasis masalah adalah Interakasi antara stimulus dengan respons, merupakan hubungan antara dua arah belajar dan lingkungan. Lingkungan memberi masukan kepada siswa berupa bantuan dan masalah, sedangkan system saraf otak berfungsi menafsirkan bantuan itu secara efektif sehingga masalah yang dihadapi dapat diselidiki, dinilai, dianalisis serta dicari pemecahannya dengan baik. Pengalaman siswa yang diperoleh dari lingkungan akan menjadikan kepada bahan dan materi guna memperoleh pengertian serta bisa menjadikan pedoman dan tujuan belajar. Dalam Pembelajaran Berbasis Masalah melibatkan presentasi situasi-situasi autentik dan makna yang berfungsi sebagai landasan bagi investigasi oleh peserta didik. Fitur pembelajaran berbasis masalah menurut Arends sebagai berikut : 1) Permasalahan autentik. Pembelajaran berbasis masalah mengorganisasikan masalah nyata yang penting secara social dan bermakna bagi peserta didik. Peserta didik menghadapi berbagai situasi kehidupan nyata yang tidak dapat diberi jawaban-jawaban sederhana. 2) Fokus interdisipliner. Pemecahan masalah menggunakan pendekatan interdisipliner. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik belajar belajar berfikir structural dan belajar menggunakan berbagai perspektif keilmuan. 3) Investigasi autentik. Peserta didik diharuskan melakukan investigasi autentik yaitu berusaha menemukan solusi riil. Peserta didik diharuskan menganalisis dan menetapkan masalahnya, mengembangkan hipotesis dan membuat prediksi, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melaksanakan eksperimen, membuat inferensi, dan menarik kesimpulan. Metode penelitian yang digunakan bergantung pada sifat masalah penelitian. 4) Produk. Pembelajaran berbasis masalah menuntut peserta didik mengontruksikan produk sebagai hasil investigasi. Produk bisa berupa paper yang dideskripsikan dan didemonstrasikan kepada orang lain. 5) Kolaborasi. Kolaborasi peserta didik dalam pembelajaran berbasis masalah mendorong penyelidiki dan dialog bersama untuk mengembangkan keterampilan berpikir dan keterampilan social. Jadi menurut penulis hasil belajar dari pembelajaran berbasis masalah adalah Peserta didik memiliki ketrampilan penyelidikan. Melalui pembelajaran berbasis masalah, siswa dihadapkan pada suatu masalah yang kemudian dengan melalui pemecahan masalah itu siswa belajar terampil melalui penyelidikan dan berfikir sehingga dapat memandirikan siswa dalam belajar dan memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari. Model Problem Based learning ini memfokoskan siswa dengan mengarahkan siswa menjadi pembelajar yang mandiri dan terlibat langsung secara aktif dalam pembelajaran berkelompok. Model ini membantu siswa untuk mengembangkan berfikir siswa dalam mencari pemecahan masalah melalui pencarian data sehingga diperoleh solusi untuk suatu masalah dengan rasional dan autentik Pada umumnya guru menerapkan model ini lebih menjurus pada pemecahan suatu masalah dalam kehidupan nyata yang dihadapi siswa sehari-hari dengan menggunakan ketrampilan problem solving. Model pembelajaran Problem Based Learning pada umumnya berbentuk proyek untuk diselesaikan oleh sekelompok siswa dengan bekerjasama. Dengan demikian dalam pembelajaran ini, siswa dituntut untuk dapat Menyelesaikan masalah dengan cara mereka sendiri dan dapat bertanggung jawab terhadap hasil yang mereka dapatkan. 3. Perpustakaan Digital Perpustakaan digital adalah sebuah system yang memiliki berbagai layanan dan objek informasi yang mendukung akses objek informasi tersebut melalui perangkat digital (Sismanto, 2008). Layanan ini diharapkan dapat mempermudah pencarian informasi di dalam konteks objek informasi seperti dokumen, gambar dan database dalam format digital dengan cepat, tepat dan akurat. Koleksi perpustakaan digital tidaklah terbatas pada dokumen elektronik pengganti bentuk cetak saja, tetapi ruang lingkup koleksinya dapat mencakup artefak digital yang tidak bisa digantikan dalam bentuk tercetak. Tedd dan Large dalam (Jonner, 2009) mengemukakan ada 3 karakteristik utama perpustakaan digital, yaitu: 1) Memakai teknologi yang mengintegrasikan kemampuan menciptakan, mencari dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk didalam sebuah jaringan digital yang tersebar luas. 2) Memiliki koleksi yang mencakup data dan metadata yang saling mengaitkan berbagai data, baik di lingkungan internal maupun eksternal. 3) Merupakan kegiatan mengoleksi dan mengatur sumber daya digital yang dikembangkan bersama-sama komunitas pemakai jasa untuk memenuhi kebutuhan informasi komun itas tersebut. Oleh karena itu, perpustakaan digital merupakan integrasi berbagai institusi, seperti perpustakaan, museum, arsip dan sekolah yang memilih, mengoleksi, mengelola, merawat dan menyediakan informasi secara meluas ke berbagai komunitas. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa perpustakaan digital merupakan organisasi yang menyediakan layanan dan objek informasi dapat diakses dalam bentuk sumber daya digital dengan akses informasi yang melibatkan penggunaan teknologi informasi untuk dapat memenuhi kebutuhan informasi penggunanya secara luas dalam komunitas. 4. Hasil Belajar Inti dari tujuan belajar adalah ingin mendapatkan pengetahuan, keterampilan dan penanaman sikap mental nilai-nilai. Pencapaian tujuan belajar berarti akan menghasilkan hasil belajar. Hasil belajar sebagai perubahan dalam kapabilitas (kemampuan tertentu) sebagai akibat dari belajar. Hasil akhir dari belajar (learning outcomes) adalah pernyataan yang menunjukkan tentang apa yang mungkin dikerjakan siswa sebagai akhir dari kegiatan belajarnya. Siswa yang mampu mengerjakan sesuatu sebagai hasil belajar tentu akibat kapabilitasnya. Berdasarkan kedua pengertian hasil belajar tersebut, maka dapat dinyatakan bahwa hasil belajar merupakan pengalaman-pengalaman belajar yang diperoleh siswa dalam bentuk kemampuankemampuan tertentu (Uno, 2008). Hasil belajar adalah istilah yang menunjukkan tingkat keberhasilan yang dicapai oleh seseorang setelah melakukan proses belajar. Dapat juga diukur dengan menggunakan tes hasil belajar. Hasil belajar yang dicapai oleh seseorang dapat dijadikan sebagai indikator tentang kemampuan, kesanggupan, penguasaan seseorang tentang pengetahuan, keterampilan dan sikap atau nilai yang dimiliki oleh orang itu dalam kegiatan belajar (Haling, 2007). Belajar sebagai suatu aktivitas mental atau psikis yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar tersebut dibagi atas dua faktor utama, yaitu faktor yang bersumber dari dalam diri peserta didik dan faktor yang bersumber dari luar peserta didik. Faktor yang bersumber dari dalam diri individu disebut faktor intern, misalnya faktor jasmaniah, faktor kelelahan dan faktor psikologis. Faktor yang bersumber dari luar disebut faktor ekstern, misalnya faktor keluarga, sekolah, dan masyarakat. Peserta didik yang mendukung aktivitas belajar anak akan cenderung memiliki prestasi belajar yang baik, jika dibandingkan dengan peserta didik yang hidup di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat yang tidak mendukung aktivitas belajar anak (Hadis dan Nurhayati, 2010). Kemampuan manusia yang merupakan hasil belajar yaitu: 1) Keterampilan intelektual (yang merupakan hasil belajar terpenting dari sistem lingkungan skolastik). 2) Strategi kognitif, mengatur cara belajar dan berpikir seseorang di dalam arti seluasluasnya, termasuk kemampuan memecahkan masalah. 3) Informasi verbal, pengetahuan dalam arti informasi dan fakta. 4) Keterampilan motorik yang diperoleh di sekolah, antara lain keterampilan menulis, mengetik, menggunakan jangka dan sebagainya. 5) Sikap dan nilai, berhubungan dengan arah serta intensitas emosional yang dimiliki seseorang, sebagaimana dapat disimpulkan dari kecenderungannya bertingkah laku terhadap orang, barang atau kejadian (Hasibuan, 2009). 5. Penelitian Tindakan Kelas Penelitian Tindakan Kelas yang biasa disingkat dengan PTK sudah dikenal dan banyak dibicarakan dalam dunia pendidikan. Dalam bahasa Inggris, PTK diartikan dengan Classroom Action Research, disingkat CAR. Penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang dilakukan oleh guru di kelas tempat guru tersebut mengajar dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan proses pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Ditinjau dari karakteristiknya, Arikunto, S Suharjono dan Supardi (2009), menjelaskan bahwa PTK memiliki beberapa karakteristik, antara lain: (a) didasarkan pada masalah yang dihadapi guru dalam pembelajaran, (b) adanya kolaborasi dalam pelaksanaannya, (c) peneliti sekaligus sebagai praktisi yang melakukan refleksi, (d) bertujuan memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas pembelajaran, dan (e) dilaksanakan dalam rangkaian langkah dengan beberapa siklus. Siklus adalah suatu proses pengkajian berdaur yang menurut Wardhani (2007), terdiri dari empat tahap, yaitu merencanakan perbaikan, melaksanakan tindakan, mengamati dan mengevaluasi, dan melakukan refleksi. Arikunto, S Suharjono, dan Supardi (2009:17), menjelaskan secara lebih rinci tentang tahap-tahap PTK di atas yaitu merencanakan perbaikan dilakukan dengan cara: (a) membuat skenario pembelajaran, (b) mempersiapkan fasilitas dan sarana pendukung yang diperlukan di kelas, (c) mempersiapkan instrumen untuk merekam dan menganalisis data mengenai proses dan hasil tindakan, dan (d) melaksanakan ujicoba pelaksanaan tindakan perbaikan untuk menguji keterlaksanaan rancangan. Tahap melaksanakan tindakan, kegiatan-kegiatan yang dilakukan antara lain adalah guru melaksanakan tindakan perbaikan yang telah direncanakan sesuai dengan skenario pembelajaran sementara siswa mengikuti proses pembelajaran secara aktif. Pada tahap ini, keterampilan guru dalam mengajar dan keaktifan siswa dalam belajar diamati. Selanjutnya, Arikunto, Suharjono dan Supardi (2009), menjelaskan bahwa mengamati atau mengobservasi merupakan upaya merekam segala peristiwa yang terjadi selama tindakan perbaikan pembelajaran berlangsung di kelas. Dalam PTK, observasi dipusatkan baik pada proses maupun hasil tindakan pembelajaran beserta segala peristiwa yang melingkupinya. Evaluasi merupakan proses pemberian soal-soal evaluasi hasil belajar kepada siswa yang selanjutnya dikerjakan oleh siswa dan hasil dari evaluasi ini digunakan untuk menentukan apakah hasil belajar siswa dapat atau tidak dapat ditingkatkan. Sedangkan melakukan refleksi merupakan upaya untuk mengkaji apa yang telah dan/atau tidak terjadi, apa yang telah dihasilkan atau yang belum berhasil dituntaskan dengan tindakan perbaikan yang telah dilakukan. Dalam hal ini, refleksi merupakan pengkajian terhadap keberhasilan atau kegagalan dalam pencapaian tujuan pembelajaran, dan untuk menentukan perlu tidaknya tindak lanjut dalam rangka mencapai tujuan akhir pembelajaran. Kesimpulannya, PTK adalah suatu penelitian yang dilakukan oleh guru di kelas yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran, mempunyai beberapa karateristik tertentu yang membedakannya dengan penelitian yang lain serta terdiri dari empat tahap, yaitu merencanakan tindakan, melaksanakan tindakan, mengamati atau observasi dan evaluasi, dan refleksi.

Method

1. Jenis Penelitian Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (classroom action research), pada mata pelajaran PAI untuk mening-katkan hasil belajar siswa kelas XI TKR SMK Negeri 3 Bulukumba pada semester genap tahun 2016/2017. Pelaksanaan dibagi atas beberapa siklus, sesuai model yang dikembangkan oleh Kemmis dan Taggart, setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi. 2. Setting Penelitian Penelitian tindakan kelas (PTK) ini akan dilaksanakan di SMK Negeri 3 Bulukumba pada semester genap tahun pelajaran 2016/2017 dengan jumlah siswa 31 orang. 3. Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan teknik siklus atau putaran dan dalam penelitian ini terdiri dari dua siklus. Di dalam penelitian ini yang telibat antara lain peneliti sebagai guru mata pelajaran dan siswa sebagai objek penelitian. Dalam penelitian ini peneliti berperan sebagai guru mata pelajaran PAI di kelas yang akan diteliti dalam pembelajaran. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilakukan melalui proses pengkajian berdaur (cyclical) yang terdiri dari empat tahap, yakni:. a. Perencanaan Sebelum mengadakan penelitian, peneliti menyusun rumusan masalah, tujuan dan membuat rencana tindakan. b. Tindakan pengamatan (Observasi) Tindakan apa yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya perubahan yang dilakukan serta mengamati hasil dampak dari tindakan yang dilakukan oleh peneliti terhadap siswa. c. Pengamatan Peneliti mengamati pada saat pembelajaran sedang berlangsung tentang suasana ketika proses belajar mengajar berlangsung atau setelah proses pembelajaran selesai. d. Refleksi Peneliti mengkaji kembali tentang pembelajaran yang sudah diajarkan kepada para siswanya. 4. Instrumen Penelitin Instrumen penilian yang digunakan dalam penelitian ini adalah: a. Perangkat pembelajaran yang terdiri atas silabus, RPP, soal evluasi atau kuis b. Tes hasil belajar yang diambil dengan menggunakan tes pada akhir setiap siklus. c. Lembar observasi yang digunakan untuk mengumpulkan data tentang proses pembelajaran. 5. Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data diskriptif kuantitatif. Mendiskripsikan aktivitas guru, siswa dan respon atau pendapat siswa dalam pembelajaran dan analisis data statistik yang digunakan adalah statistik Uji-t (T-test) untuk mengetahui hasil belajar siswa dengan membandingkan hasil pre test dan pos test pada penerapan pembe-lajaran model problem based learning (PBL).

Result

1. Pelaksanaan Pembelajaran dan Pengamatan a. Siklus I i. Perencanaan Sebelum melaksanakan proses belajar mengajar dilakukan beberapa hal persiapan, diantaranya mempersiapkan materi yang akan diajarkan pada putaran pertama yaitu tentang Toleran, rukun dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan, menyusun instrumen penelitian berupa satuan pelajaran, Rancangan Pelaksanan Pembelajaran (RPP), soal evaluasi, soal tes, dan lembar aktivitas siswa. ii. Tindakan Kegiatan pembelajaran diawali dengan menyampaikan judul pokok bahasan yaitu tentang “toleran, rukun dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan”, dengan waktu yang disediakan 2 x 45 menit. Guru memotivasi siswa dan menyampaikan tujuan pembelajaran pada pertemuan tersebut. Guru memberitahukan kepada siswa tentang aturan-aturan dalam kegiatan pembelajaran dengan mengu-nakan model Problem Based Learning (PBL) dan penggunaan perpustakaan digital. Diharapkan semua siswa dapat mentaati semua aturan-aturan selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Sebelum dimulainya pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL), terlebih dahulu guru memberikan tes awal atau pre tes sebagai data nilai para siswa sebelum diterapkannya model Problem Based Learning (PBL). Pada kegiatan inti guru memulai pembelajaran dengan menjelaskan meteri tentang tentang makanan minuman halal, kemudian guru meminta siswa duduk dalam kelompok-kelompok yang telah ditentukan sebelumnya dan memberi nomor 1-5 pada setiap anggota kelompok. Guru membagikan latihan soal dan meminta siswa untuk mengerjakan dan mendiskusikan pertanyaanpertanyaan yang ada dalam kelompok masing-masing dengan juga membaca buku siswa atau buku literatur yang dimiliki siswa. Disaat siswa bekerja, disaat inilah guru berkeliling membimbing siswa dan mengingatkan agar melakukan keterampilan-keterampilan memecahkan masalah yang telah dijelaskan diawal pertemuan. Setelah waktu yang ditentukan untuk berdiskusi dan memecahkan soal yang diberikan guru telah habis, guru memanggil secara acak salah satu nomor untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pada latihan soal yang diberikan guru. Di akhir pembelajaran guru bersama-sama siswa merangkum materi yang telah dipelajari dan guru meberikan tes 1 pada siswa. Berikut disajikan data hasil pengamatan kegiatan pembelajaran dengan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). a) Data hasil aktivitas siswa Data hasil pengamatan aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran putaran I ditunjukkan pada tabel 1 sebagai berikut: Tabel 1 Aktivitas Siswa dalam Kegiatan Pembelajaran Siklus I No. Aktivitas Siswa Nilai 1 2 3 4 5 6 7 8 Bergerak dengan cepat menuju tempat kelompoknya. Mendengarkan/ memperhatikan penjelasan guru atau teman Membaca dan menulis yang relevan dengan kegiatan belajar mengajar Mengerjakan/ mendiskusikan pertanyaan guru pada lembar soal Menyampaikan pendapat Bertanya antar siswa atau guru Menjawab pertanyaan Merangkup materi pelajaran 2 4 3 2 2 2 3 2 2,5 Pada tabel 1 dapat diketahui bahwa kegiatan belajar mengajar putaran I siswa secara keseluruhan rata-rata mendapatkan nilai 2,5 dengan kualifikasi kurang baik. Aktivitas siswa dalam mengerjakan/mendiskusikan pertanyaan guru dalam latihan soal, menyampaikan pendapat, bertanya antar siswa atau guru, merangkum materi pelajaran, dan bergerak dengan cepat menuju tempat kelompoknya masing-masing mendapatkan nilai 2 (kurang baik). Sedangkan penilaian aktivitas siswa mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru atau teman adalah 4 (sangat baik), dan aktivitas siswa dalam menjawab pertanyaan adalah 3 (baik). b) Data hasil belajar siswa Tabel data ketuntasan belajar siswa dapat dilihat pada tabel 2 sebagai berikut : Tabel 2 Rangkuman hasil tes siklus I No. Karakteristik Nilai 1. 2. 3. 4. Jumlah Siswa Jumlah Siswa yang Tuntas Jumlah Siswa yang tidak Tuntas Ketuntasan Klasikal 30 27 3 92,5% Dari data Test I nilai yang diperoleh sudah cukup maksimal karena dari 30 siswa yang menda-patkan nilai ≥ 69 adalah 27 orang siswa. iii. Observasi Sejalan dengan uraian pada tindakan, langkah guru dalam menyampaikan pendahuluan kepada siswa sudah sesuai dengan langkah-langkah model pembelajaran PBL yang meliputi menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa (Ibrahim, 2005). Pada tahap membagi siswa ke dalam kelompok belajar dan membimbing kelompok bekerja telah sesuai dengan fase-fase dalam pembelajaran PBL yaitu mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar. Menurut pendapat Ibrahim Namun pada saat kegiatan pembelajaran guru terlalu banyak memberi petunjuk pada siswa saat melakukan transisi menuju tempat kelompoknya. Hal ini menyebabkan pengelolaan waktu banyak tersita untuk mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok sehingga waktu untuk aktivitas guru yang lain kecil seperti pada aktivitas guru membantu siswa dan siswa membuat rangkuman kurang maksimal. Suasana kelas belum berpusat pada siswa sehingga masih terbiasa dengan pembelajaran yang berpusat guru, sehingga aktivitas yang berhubungan dengan keterampilan masih kurang baik yaitu mengerjakan /mendiskusikan pertanyaan guru dalam latihan soal, menyampaikan pendapat, bertanya antar siswa atau guru, merangkum materi pelajaran, dan masing-masing mendapatkan nilai 2 (kurang baik). Dalam mengerjakan latihan soal, siswa sulit bekerjasama. Masing-masing anggota kelompok masih bersikap individu dan menonjol-kan diri sendiri. Aktifitas siswa yang lain adalah bergerak dengan cepat menuju tempat kelompoknya juga kurang baik yaitu mendapatkan nilai 2 (kurang baik). Pada tahap ini beberapa siswa masih bingung dengan kelompoknya sehingga siswa sering bertanya pada guru. Hal ini disebabkan karena siswa baru pertama kali mengenal dan belum terbiasa dengan pembelajan problem based learning. Pada pertemuan I ini guru belum dapat mengumumkan penghargaan kepada siswa karena guru tidak dapat menghitung nilai perkembangan siswa secara langsung pada pertemuan tersebut. Diakhir pembelajaran guru memberikan test 1 untuk mengukur ketuntasan belajar siswa. Waktu yang digunakan untuk mengerjakan test adalah 15 menit. Hasil rangkuman kuis tampak pada tabel 2. Dari tabel terlihat bahwa nilai yang diperoleh sudah sangat maksimal karena dari 30 siswa yang dapat menuntaskan belajarnya ada 27 orang siswa, sehingga ketuntasan belajar klasikal yang didapat sebesar 92,5%. Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan tentang kekurangankekurangan yang harus diperbaiki pada putaran berikutnya antara lain : a) Kegiatan belajar mengajar berpusat pada guru dan guru memerlukan waktu agak lama untuk mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok. b) Pengelolaan waktu yang kurang baik, hal ini karena guru baru menyesuaikan diri dengan pembelajaran problem bassed learning (PBL). c) Siswa sulit mengerjakan tes dan masih perlu bantuan dari guru. iv. Refleksi Dari hasil penjelasan yang ada maka yang perlu dilakukan guru untuk dilaksanakan pada putaran II adalah : a) Mengatur agar siswa tidak terlalu lama menbentuk kelompok, untuk pertemuan selanjutnya guru menekankan kepada siswa untuk bertanggungjawab dan memecah-kan masalah ke dalam kelompok belajar. b) Guru mengurangi bantuan dan bimbingan pada siswa disaat siswa belajar dan bekerja dalam kelom-pok agar siswa dapat mengambil inisiatif dan menemukan fakta secara mandiri, c) Guru akan berusaha memotivasi siswa untuk terbiasa dengan sesama teman, karena suatu tugas/peker-jaan akan mudah diselesaikan jika siswa bekerja secara kooperatif, tidak egois, dan tidak menonjolkan diri. Guru akan berusaha memperbaiki pengelolaan waktu agar kegiatan belajar mengajar berjalan secara efisien. b. Siklus II 1) Perencanaan Beberapa hal yang telah direncanakn guru untuk menyelesaikan pada putaran II akan dilakukan secara keseluruhan, agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa dibandingkan pada pertemuan sebelumnya . Instrumen yang akan digunakan dalam pertemuan II ini adalah satuan pelajaran, rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP), latihan soal, soal test, lembar observasi aktivitas guru dalam pembelajaran Problem Bassed Learning, dan lembar aktivitas siswa. 2) Tindakan Kegiatan pembelajaran diawali dengan menyampaikan judul pokok bahasan yaitu "Toleran, rukun dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan". Guru memotivasi siswa dan menyampaikan tujuan pembelajaran pada pertemuan tersebut. Guru mengingatkan kembali pada siswa selama kegiatan pembelajaran dengan Model Problem Bassed Learning (PBL). Pada kegiatan inti guru memulai pembelajaran dengan menjelaskan materi tentang toleran, rukun dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan, kemudian guru meminta siswa dudul dalam kelompok-kelompok yang telah ditentukan sebelumnya dan memberi nomor 1-5 pada setiap anggota kelompok. Guru membegikan Latihan soal 2 dan meminta siswa untuk mengerjakan dan mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam kelompok masing-masing. Disaat siswa bekerja, guru berkeliling membimbing siswa dan mengingatkan agar melakukan keterampilan-keterampilan yang telah diajarkan. Guru memanggil secara acak salah satu nomor untuk menjawab pertanyaanpertanyaan dalam Latihan soal 2. Di akhir pembelajaran guru bersamasama siswa merangkum materi yang telah dipelajari dan guru memberikan test 2 pada siswa. Berikut disajikan data hasil pengamatan kegiatan pembelajaran problem bassed learning. a) Data hasil aktivitas siswa Data hasil pengamatan aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran putaran I ditunjukkan pada tabel 3 sebagai berikut: Tabel 3 Aktivitas Siswa dalam Kegiatan Pembelajaran Siklus II No. Aktivitas Siswa Nilai 1 2 3 4 5 6 7 8 Bergerak dengan cepat menuju tempat kelompoknya. Mendengarkan/ memperhatikan penjelasan guru atau teman Membaca dan menulis yang relevan dengan kegiatan belajar mengajar Mengerjakan/ mendiskusikan pertanyaan guru pada lembar soal Menyampaikan pendapat Bertanya antar siswa atau guru Menjawab pertanyaan Merangkup materi pelajaran 3 4 3 3 3 3 4 3 3,25 Pada tabel 3 dapat diketahui bahwa kegiatan belajar mengajar putaran I siswa secara keseluruhan rata-rata mendapatkan nilai 3,25 dengan kualifikasi baik. Aktivitas siswa yang meningkat adalah menjawab pertanyaan mendapatkan nilai 4 (sangat baik), dan aktivitas siswa bergerak dengan cepat menuju tempat kelompoknya, mengerjakan / mendiskusikan pertanyaan guru pada latihan soal, menyampaikan pendapat bertanya antar siswa atau guru, dan merangkum materi pelajaran masingmasing mendapat nilai 3 (baik). Hal tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan siswa dalam kegiatan berlajar mengajar sudah baik dan siswa mulai menyesuaikan diri dengan Problem Bassed Learning. b) Data hasil belajar siswa Tabel data ketuntasan belajar siswa dapat dilihat pada tabel 4 sebagai berikut : Tabel 4 Rangkuman hasil tes siklus II No. Karakteristik Nilai 1. 2. 3. 4. Jumlah Siswa Jumlah Siswa yang Tuntas Jumlah Siswa yang tidak Tuntas Ketuntasan Klasikal 30 30 0 92,5% Dari data Test II nilai yang diperoleh sudah maksimal karena 30 siswa mendapatkan nilai ≥ 69 yang berkategori tuntas. 3) Observasi Aktivitas guru dalam mendorong dan memotivasi siswa untuk dapat menyelidiki permasalahan sudah bercirikan pembelajaran problem bassed learning. Aktivitas siswa yang berhubungan dengan pembelajaran problem bassed learning sudah meningkat, siswa sudah dapat menyelidiki tentang permasalahan-permasalahan yang dihadapi, bertanya antar siswa atau teman,dan mengerjakan/mendiskusikan pertanyaan guru pada latihan soal. Hal ini menunjukkan bahwa siswa sudah tidak tergantung pada guru dan sudah mulai beradaptasi serta bekerjasama dengan kelompok-kelompoknya untuk memperoleh pengetahuan dan menyelesaikan tugasnya. Hal ini menunjukkan bahwa siswa sudah mulai menyesuaikan diri dengan pembelajaran problem bassed learning. Diakhir pertemuan guru memberikan test 2 untuk mengukur hasil belajar siswa. Waktu yang digunakan untuk mengerjakan test 2 adalah 15 menit. Berdasarkan data pada tabel terlihat bahwa nilai yang diperoleh siswa sudah maksimal, karena kesemua siswa yaitu 30 siswa dapat menuntaskan belajarnya hingga mencapai ketuntasan klasikal sebesar 100%. Tercapainya ketuntasan belajar secara klasikal menunjukkan bahwa tujuan pembelajaran problem bassed learning tercapai yaitu peningkatan prestasi akademik. Untuk mencapai tujuan pembelajaran problem bassed learning secara maksimal dapat dilakukan pada putaran selanjutnya dengan memperhatikan revisi pada siklus II. 4) Refleksi Dari hasil penjelasan yang ada maka dirasa sudah tidak perlu diadakannya revisi karena semua hasil yang dicapai dalam siklus II ini sudak bisa dikatakan sangat baik, baik dari aktivias guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar yang diperoleh. Maka dapat dikatakan untuk pembelajaran pada Standar Kompetensi toleran, rukun dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan dianggap telah selesai dan dapat mencapai tujuan sesuai dengan yang direncanakan dan diharapkan. 2. Pengujian Hipotesis a. Mencari rata-rata pre test dan post test Berdasarkan perhitungan rumus diperoleh rata-rata pre test sebesar 56,17 dan rata-rata post test sebesar 88,85. b. Menentukan simpanan atau varian Berdasarkan perhitungan rumus diperoleh varian pre test sebesar 1,08 dan varian post test sebesar 52,9. c. Hasil F test Uji F test digunakan untuk menentukan homogen tidaknya data yang diperoleh. Berdasarkan perhi-tungan rumus diperoleh nilai F0 < Ft (0,0204 < 1) sehingga dapat dikatakan bahwa keadaan varian atau simpangan data yang diperoleh bersifat homogen. Karena data yang diperoleh homogen, maka selanjutnya dilakukan uji t test. d. Hasil uji t test Dalam penelitian ini hipotesis yang peneliti ajukan adalah ada perbedaan yang signifikan dari hasil belajar siswa yang belum diberi pene-rapan

Conclusion

Kesimpulan a. Model problem based learning yang diterapkan SMK Negeri 1 Bulukumba dengan memanfaatkan perpustakaan digital sudah sangat efektif dalam meningkatkan pembelajaran di kelas. Hal ini ditunjukkan pada setiap putaran atau pertemuan yaitu pada siklus pertama adalah 2,57% dan siklus kedua 3,75%. b. Prestasi belajar siswa di SMK Negeri 3 Bulukumba pada mata pelajaran PAI telah mengalami banyak peningkatan. Hal ini ditunjukkan pada setiap putaran atau pertemuan, yaitu putaran pertama adalah 80%, putaran kedua 100%. c. Efektifitas model pembelajaran problem based learning dengan memanfaatkan perpustakaan digital dalam meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran PAI di SMK Negeri 3 Bulukumba sudah cukup baik, hal ini ditunjukkan pada hasil analisis hipotesis dengan perhitungan statistik ternyata observasinya lebih besar dibandingkan dengan ttabel (12,27 > 1,645), sehingga hipotesis berbunyi efektifitas pembelajaran problem based learning pada pelajaran PAI di SMK Negeri 3 Bulukumba, dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima. Saran a. Guru perlu memotivasi siswa akan pentingnya bekerjasama dengan menggunakan pembelajaran problem bassed learning untuk memecahkan permasalahan yang ada sehingga masalah tersebut lebih mudah diatasi jika di atasi dengan cara bekerja-sama. b. Model pembelajaran Problem Bassed Learning dapat digunakan sebagai alternatif dalam proses pembelajaran PAI untuk meningkatkan prestasi dan aktivitas belajar siswa