KEMAS ULANG INFORMASI TENTANG PENYAKIT KAKI GAJAH (FILARIASIS)
Universitas Negeri Padang; Universitas Negeri Padang
Abstract
The purpose of this paper is to 1) find out an overview of elephant foot disease in Agam. 2) Describe the Information on Elephant Foot Disease (Filariasis). The method that is used a descriptive method, and the data collecting technique throught direct literature study is data collection using books, articles online and printed. Based on analyzing the data, it is concluded: (1) 18 people in Agam Regency have elephantiasis disease, 18 residents are spread in Lubuk Basung, Tanjung Mutiara, Palembayan, Ampek Nagari and others. Elephant foot with leg condition has been enlarged and difficult to be cured. Previously, there were 46 people who suffered from elephantiasis and died as many as 28 people; (2) the steps in making about the re-packing of information about elephantiasis (filariasis) are as follows: (a) topic determination; (b) tracking information in accordance with predetermined topics; (c) processing information, evaluating and tracing information; (d) determine the form of information packaging and packing of information; (e) disseminating information by means of promotion.
Keywords:
Agam
· filariasis
· repackaging information
Introduction
Perkembangan peradaban manusia selalu dimulai dari cara perubahan cara berpikir manusia itu sendiri. Pemikiran manusia berubah sejalan dengan informasi yang masuk dalam pemikirannya. Lalu individu yang sudah memiliki potensi kritis melakukan proses untuk menerima dan mengembangkan, atau sebaliknya menolak dan mengabaikan informasi menjadi modal berharga bagi seseorang yang ingin mengembangkan diri, syaratnya tentu informasi itu sejalan dengan tangga-tangga ide yang ditapakinya. Informasi yang sejalan akan mudah mengisi ruang kreativitas seseorang, lalu menjadikan orang itu mampu menciptakan produk atau karya mencerdaskan kehidupan bangsa karena perpustakaanlah yang menyediakan bahan bacaan, informasi, dan pembelajaran sepanjang hayat bagi masyarakat. Produksi informasi tidak dapat dikendalikan jumlahnya. Bisa dikatakan bahwa setiap saat informasi ini dapat berubah baik dari segi jumlah maupun substansinya. Banyaknya informasi yang ada dari berbagai sumber informasi baik tercetak, non cetak, maupun digital membuat kebingungan tersendiri bagi pengguna untuk mendapatkan informasi yang sesuai dengan kebutuhannya. Dengan banyaknya informasi yang muncul di dunia ilmu, pengetahuan dan teknologi semakin sulit orang untuk memperoleh informasi yang tepat baginya bahkan yang dapat langsung dimanfaatkan. Dengan demikian hal yang sangat dibutuhkan dan yang paling penting dari suatu informasi adalah penyajian informasi menjadi suatu kemasan yang bermanfaat dan tepat bagi pemakai. Untuk itu menjadi tantangan bagi petugas informasi apalagi seorang pustakawan untuk menyediakannya. Menurut Piliang (2015: 27) pengemasan informasi adalah kegiatan yang dimulai dari menyeleksi berbagai informasi dari sumber yang berbeda, mendata dan memilih informasi yang relevan, menganalisis, mensintesa, dan menyajikan informasi yang sesuai dengan kebutuhan pemakai. Informasi dikemas ulang agar dapat secara langsung dimanfaatkan pemakai atau pengguna informasi tanpa harus mengumpulkan, memilih atau mengolah terlebih dahulu bagi pemakainya. Tujuan dari kemas ulang informasi adalah: (1) Menyajikan informasi kedalam bentuk kemasan menjadi informasi yang lebih baik dapat diterima pemakainya dengan cara langsung dan dapat langsung memberi manfaat serta lebih mudah dimengerti isinya; (2) menyediakan informasi dengan cara mensitesa data dan informasi yang tersedia; (3) menyediakan sarana dan panduannya; (4) meringkas dan mensintesa penlitian dan kajian atau evaluasi berbagai aspek; (5) mengumpulkan informasi mutakhir; (6) mereview atau meninjau berbagai literatur dan dokumen (Piliang , 2015: 29). Agar kemasan informasi menarik dan tepat sasaran, pengemas informasi (pustakawan) perlu memahami prinsip-prinsip sebagai berikut: (1) Benar dan logis; (2) sistematis; (3) aplikatif atau dapat diterapkan pengguna, (4) tuntas dan menyeluruh; ( 5) jelas; (6) ringkas; (7) terbuka; (8) bermanfaat bagi sasaran yang dituju (Penbrianti, 2015: 29-30) Informasi sangat dibutuhkan oleh masyarakat, terutama informasi yang berhubungan dengan kesehatan, karena kesehatan menjadi salah satu hal yang penting dalam kehidupan. Tapi sekarang ini banyak masyarakat kabupaten Agam yang tidak mengetahui informasi tentang pentingnya kesehatan. Akibat ketertinggalan informasi tentang kesehatan banyak masyarakat kabupaten Agam yang tidak mengetahui penyakit yang diderita oleh masyarakat. Salah satu penyakit yang kurang diketahui masyarakat kabupaten Agam adalah penyakit kaki gajah (filariasis). Masyarakat kurang megetahui tentang penyakit ini, bahkan masyarakat beranggapan bahwa penyakit ini hanya pembengkakan kaki biasa. Menurut Paiting, dkk (2012: 76) Filariasis (penyakit kaki gajah) adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh cacing filaria yang menyerang saluran dan kelenjar getah bening. Penyakit ini dapat merusak sistim limfa, menimbulkan pembengkakan pada tangan, kaki, glandula mamae, dan scrotum, tidak seperti malaria dan demam berdarah, filariasis dapat ditularkan oleh 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes dan Armigeres, karena itu filariasis dapat menular dengan sangat cepat. Data World Health Organization (WHO) tahun 2004 dalam Kemenkes RI (2010) menunjukkkan bahwa terdapat 1,3 miliar penduduk dunia yang tinggal di lebih dari 83 negara, beresiko untuk tertular filariasis, dan sebagian besar berada di Asia Tenggara. Lebih dari 120 juta orang diperkirakan sudah terinfeksi filariasis, dan sekitar 36% diantaranya sudah menunjukkan gejala klinis berupa pembengkakan anggota tubuh di kaki atau lengan (Lymphoedema) atau anggota tubuh lainnya (Kemenkes RI, 2010). Menurut Departemen Kesehatan RI (2009) gejala penyakit kaki gajah (filiarisis) antara lain: 1) Demam berulang-ulang selama 3-5 hari. Demam dapat hilang bila istirahat dan akan timbul lagi setelah bekerja berat, 2) pembengkakan kelenjar getah bening (tanpa ada luka) di daerah lipatan paha, ketiak, yang nampak kemerahan, panas dan sakit, 3) pembesaran tungkai, lengan, buah dada, kantong buah zakar yang terlihat agak kemerahan dan terasa panas. Provinsi Sumatera Barat merupakan salah daerah endemis filariasis di Indonesia. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Barat tahun 2013 diketahui penderita kronis sebanyak 230 orang. Jumlah kasus filariasis sebanyak 230 orang yang tersebar di 14 kabupaten/kota, yaitu Pasaman Barat (46 kasus), Agam (45 kasus), Pesisir Selatan (38 kasus), Padang (32 kasus), Mentawai (24 kasus), Dhamasraya (11 kasus), Tanah Datar (9 kasus), Bukittinggi (7 kasus), Padang Pariaman (6 kasus), Lima Puluh Kota (5 kasus), Sawahlunto (5 kasus), Kabupaten Solok (5 kasus), Pasaman (2 kasus) dan Solok Selatan (2 kasus) (Dinkes Sumbar, 2013). Kabupaten Agam merupakan salah satu kabupaten endemis di Provinsi Sumatera Barat dengan kadar Microfilaria sebesar 16,4 % (Kemenkes RI, 2010). Penularan penyakit filariasis di kabupaten Agam semakin meningkat dari tahun ke tahun. Data dinas kesehatan kabupaten Agam menyebutkan bahwa pada tahun 2006 kasus filariasis hanya ditemukan di satu kecamatan saja, sedangkan pada tahun 2013 tercatat beberapa kasus baru filariasis di ujutiga kecamatan lainnya. Penderita filariasis kronik di Kabupaten Agam berjumlah 45 orang yang tinggal di 11 desa berbeda (Dinkes Agam, 2013). Berdasarkan uraian sebelumnya, tujuan penulisan makalah ini adalah untuk: (1) mengetahui gambaran umum penyakit kaki gajah di kabupaten Agam; (2) mendeskripsikan kemas ulang informasi tentang penyakit kaki gajah (filariasis).
Method
Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah metode deskriptif. Menurut Lufri (2005: 56) penelitian deskriptif adalah penelitian yang mendeskripsikan suatu gejala, fakta, peristiwa atau kejadian yang sedang atau sudah terjadi. Dengan kata lain, penelitian deskriptif mengambil masalah atau memusatkan perhatian kepada masalah-masalah aktual yang sedang atau sudah terjadi dan diungkapkan sebagaimana adanya atau tanpa manipulasi. Tujuan dari penelitian deskriptif yaitu menggambarkan secara sistematik dan akurat dan fakta karakteristik mengenai bidang tertentu. Untuk memperoleh data yang relevan dan lengkap, penulisan makalah ini menggunakan teknik pengumpulan data studi pustaka. Studi pustaka merupakan pengumpulan data menggunakan buku-buku, artikel online dan tercetak. Studi pustaka dilakukan untuk mencapai pemahaman yang lebih mendalam tentang konsep-konsep yang akan dikaji, dan sebagai landasan teori untuk memperkuat analisis data dalam penelitian.
Discussion
1. Gambaran Umum Penyakit di Agam Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Agam, Sumatera Barat, mencatat 18 warga di daerah Kabupaten Agam mengidap penyakit kaki gajah, 18 warga ini tersebar di Kecamatan Lubuk Basung, Tanjung Mutiara, Palembayan, Ampek Nagari dan lainnya. Penderita kaki gajah dengan kondisi kaki sudah membesar dan sulit untuk disembuhkan. Sebelumnya, ada 46 warga yang menderita penyakit kaki gajah dan sudah meninggal sebanyak 28 orang. Pekerjaan masyarakat Agam diketahui banyak yang bekerja sebagai petani dan berkebun, masyarakat kurang peduli dengan kebersihan lingkungannya. Pekerjaan tersebut dan lingkungan yang tidak bersih berisiko terkena filariasis. Untuk meminimalisasi penyakit kaki gajah ini, Dinkes Agam telah melakukan pengobatan massa penyakit kaki gajah pada 2013 kepada 295.753 warga yang tersebar di 82 nagari di daerah kabupaten Agam. Setelah itu, dilakukan pengambilan sampel darah siswa sebanyak 2.012 orang dari 40 SD. Pengambilan sampel darah ini dilakukan pada 20 sampai 30 September 2016. Sampel darah pada jari yang diambil itu langsung diperiksa menggunakan rapid test, untuk melihat apakah ada atau tidak cacing filariasis penyebab kaki gajah berada di dalam tubuh siswa tersebut Dari sampel darah yang diambil, tiga siswa positif mengidap penyakit kaki gajah. Ketiga siswa itu berasal dari SD 01 Kapau Kecamatan Tilatang Kamang dan SD 32 Sungai Jariang Kecamatan Lubuk Basung dan kaki siswa ini belum membesar. Setelah pemeriksaan, ketiga siswa tersebut mendapatkan pengobatan secara rutin tanpa mengeluarkan biaya. Hal ini bertujuan untuk memutus mata rantai cacing filariasis, sehingga kaki siswa ini tidak membesar dan tidak menular ke warga lain. Dinas Kesehatan Agam selalu memantau tiga siswa yang positif mengidap penyakit kaki gajah. Selain itu, melakukan sosialisasi pencegahan kaki gajah kepada warga di daerah itu. Dengan cara ini, maka jumlah penderita penyakit kaki gajah berkurang di Agam. Dinkes Agam tidak akan melakukan program pemberian obat kaki gajah kepada warga, karena sampel darah yang positif kurang dari 18 orang. Apabila sampel darah positif mengandung cacing filariasis melebihi 18 orang, maka dinas kesehatan Agam akan memberikan obat kaki gajah secara gratis kepada warga. 2. Kemas Ulang Informasi tentang Penyakit Kaki Gajah (Filariasis) Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi mengakibatkan laju perkembangan teknologi dalam bidang informasipun semakin cepat. Informasi yang dulu sulit untuk didapat karena dibatasi ruang dan waktu, dengan campur tangan teknologi, kini informasi mampu menembus batas ruang dan waktu tersebut. Oleh karenanya dituntut adanya media penelusuran informasi yang bisa mempermudah pengguna, serta membantu mengoptimalkan kelancaran informasi yang ada. Dalam upaya membantu megoptimalkan kelancaran serta pemanfaatan informasi, maka perlu dibuatkan salah satu alat bantu telusur informasi, yaitu kemas ulang informasi. Kemas ulang informasi merupakan kegiatan menyeleksi informasi yang berasal dari berbagai sumber, kemudian menganalisis informasi yang relevan, mensintesa dan menyajikannya dalam kemasan yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Kemas ulang informasi merupakan bagian dari sebuah usaha ekonomis dari penyedia informasi yang juga akan membawa dampak ekonomis bagi penyedia informasi dan juga masyarakat/pengguna yang memanfaatkannya. Kemas ulang informasi ini membahas tentang penyakit kaki gajah (filariasis). Pembuatan kemas ulang informasi ini bertujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan dan pengembangan informasi tentang penyakit kaki gajah (filariasis). Dengan adanya kemasan informasi ini akan memghemat biaya dan juga waktu yang dibutuhkan oleh pengguna dalam mencari, memilih, dan memperoleh informasi yang dibutuhkannya. Hal ini dikarenakan pengguna dengan mudah mendapatkan kemasan informasi yang siap pakai dan disediakan oleh penyedia informasi secara mudah, cepat, tepat dan hemat waktu. Intinya, informasi dikemas ulang agar dapat secara langsung dimanfaatkan pemakai atau pengguna informasi tanpa harus mengumpulkan, memilih atau mengolah terlebih dahulu bagi pemakainya (manfaat langsung pakai). Sebelum membuat sebuah produk perlu dibuatkan rancangan mengenai produk yang akan dibuat. Berikut rancangan kemas ulang informasi tentang penyakit kaki gajah (filariasis) antara lain: (1) sejarah penyakit kaki gajah, penulis akan dibahas tentang asal mula penyakit kaki gajah; (2) pengenalan penyakit kaki gajah, penulis akan membahas tentang pengertian penyakit kaki gajah, penyebab kaki gajah, gejala penyakit kaki gajah, siklus penularan penyakit kaki gajah, pencegahan kaki gajah, serta hal-hal yang bisa kita lakukan agar terhindar dari nyamuk penular kaki gajah. Tahapan-tahapan dalam pembuatan kemas ulang informasi adalah: 1. Penentuan Topik Sebelum melakukan penelusuran informasi, hal pertama yang harus dilakukan adalah menetapkan atau menentukan topik. Penentuan topik dapat dilakukan dengan mengumpulkan berbagai ide dan masukan dari pengguna, ilmuan/pakar dan pihak terkait lainnya. Hal itu dapat dilakukan melalui pengamatan langsung di lapangan, serta mempelajari laporan atau dokumen yang ada. Dalam proses penentuan topik, penyedia informasi harus memperhatikan kebutuhan informasi pengguna. Bila kebutuhan informasi pengguna telah diidentifikasi dengan baik maka pengemasan informasi akan lebih tepat sasaran. Topik yang dibahas dalam kemas ulang informasi ini yaitu mengenai penyakit kaki gajah (filariasis). Topik ini dipilih untuk mengetahui tentang penyakit kaki gajah, karena masih banyak pengguna informasi yang belum mengatahui dengan pasti tentang penyakit ini. Pengguna informasi mengetahui bahwa penyakit kaki gajah hanya pembengkakan biasa dan mereka mengira pembengkakan itu terjadi hanya di kaki. Padahal penyakit kaki gajah ini merupakan penyakit yang menular dan bersifat kronis (menahun) dan bila tidak mendapatkan pengobatan dapat menimbulkan cacat menetap seumur hidup yang menimbulkan dampak psikologis bagi penderita dan keluarganya. Akibatnya penderita tidak dapat bekerja secara optimal bahkan hidupnya tergantung kepada orang lain. 2. Penelusuran Informasi Sesuai dengan Topik yang Telah Ditetapkan Setelah menentukan topik, selanjutnya adalah melakukan penelusuran informasi ke berbagai sumber (baik tercetak maupun elektronik) yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Sebelum melakukan penelusuran, informan terlebih dahulu harus mengetahui pencarian yang akan digunakan. Disini pencarian informasi dilakukan dengan penelusuran informasi ke berbagai media cetak seperti buku dan brosur, dan penelursuran melalui media online atau internet. Penelusuran informasi melalui internet ini akan mempermudah informan melakukan penelusuran informasi, serta memperoleh kesempatan untuk mengakses informasi secara lebih luas. Setelah penelusuran informasi dilakukan ke berbagai sumber informasi, selanjutnya adalah mengumpulkan informasi-informasi yang telah didapat dan menyimpannya dalam suatu tempat penyimpanan kumpulan data. Kumpulan informasi bisa disimpan di flashdisk, hardisk, ataupun kumpulan data komputer. Data yang sudah masuk dalam komputer disebut file. Sehingga dapat dikatakan bahwa file merupakan rekaman (record) yang diberlakukan sebagai suatu unit, menjadi dari bagian komputer itu sendiri. Informasi yang telah masuk dalam komputer sangat tergantung terhadap komputernya itu sendiri, jika komputer tidak aktif , maka informasi inipun tidak bisa diakses oleh pennguna. Informasi yang dikumpulkan dalam data kompuer merupakan sumber informasi yang harus dijaga, sebab informasi yang ada di dalamnya merupakan aset yang sangat berharga bagi dunia informasi. Pengumpulan informasi dilakukan agar mudah untuk analisis informasi. 3. Pengolahan Informasi, Mengevaluasi dan Mensitir Informasi Setelah hasil penelusuran informasi dikumpulkan dan penetapan strategi pencarian informasi sudah ditentukan, selanjutnya adalah pengolahan informasi, mengevaluasi dan mensitir informasi. Pengolahan informasi dilakukan dengan mensitir atau menyaring informasi, mencatat hal-hal penting yang dibutuhkan, membuang yang tidak perlu, memeriksa ulang atau menilai kembali terhadap informasi yang dibutuhkan untuk menciptakan pengetahuan baru, mengumpulkan ide-ide pokok utama untuk membandingkan pengetahuan baru dengan pengetahuan lama dalam menciptakan pengetahuan yang baru. Pengevaluasian dilakukan dengan menyaring informasi yang sesuai, kegiatan ini sangat penting dilakukan terhadap informasi untuk menjamin realitas informasi tersebut. Dalam tahap ini hal yang perlu diperhatikan yaitu informasi yang diolah, dievaluasi dan disitir harus sesuai dengan topik yang sudah ditentukan. Setelah semua informasi selesai diolah, informan harus membaca dan memahami informasi apakah sudah sesuai dengan topik sebelumnya, jika sudah sesuai selanjutnya yaitu mencocokan informasi yang sudah didapatkan dengan topik yang sudah ditentukan. 4. Menentukan Bentuk Kemasan Informasi dan Pengemasan Informasi Setelah hasil penelusuran dievaluasi, tahap selanjutnya adalah pengemasan ulang informasi sesuai dengan kebutuhan pengguna. Keterampilan dalam mengemas informasi sangat penting, hal ini didukung dengan kemampuan seseorang yang sangat kreatif dalam menciptakan kemasan dari segi tampilan bentuk kemasan. Dalam proses pengemasan ulang informasi ini penyedia informasi akan menentukan bentuk kemasan informasi apakah berbentuk publikasi cetak, media audio-visual, pangkalan data lokal, atau pangkalan data online. Bentuk kemasan yang dibuat adalah publikasi cetak. Kemasan informasi dalam bentuk publikasi tercetak dapat membantu pemakai dalam menemukan informasi terpilih sesuai dengan bidang kajian dan kebutuhannya. Dalam hal ini pemakai dapat langsung menelusur informasi yang diinginkan sehingga banyak menghemat waktu dan tenaga. Hal yang perlu diperhatikan dalam tahap pengemasan ulang informasi adalah siapa pengguna yang akan membutuhkan informasi, pengumpulan dan pemilihan sumber yang benar, dan pemilihan media yang tepat. Sehingga mudah didapat dan dipahami oleh pengguna informasi. Dalam melakukan pengemasan ulang informasi diperlukan usaha yang khusus, karena informasi yang memiliki nilai penting harus sesuai dengan fasilitas memadai, serta teknik kemas ulang yang menarik agar informasi lebih memiliki nilai jual kepada pengguna sebagai pengguna informasi. Setelah menentukan bentuk kemasan dan pengemasan informasi selesai dilakukan, seorang informan harus melakukan pemeriksaan/editing kembali untuk mengetahui adanya kesalahan dalam pengemasan informasi. Dalam proses editing atau pengecekan kesesuaian secara keseluruhan dilakukan dengan melengkapi kekurangan yang ada, memeriksa bagian-bagian kata yang salah ketik dan memperbaikinya, serta akan melakukan koreksi dalam penulisan atau tata bahasa yang kurang tepat, dan susunan kata-kata yang salah. Tujuan dari proses editing ini adalah sebuah naskah bisa tersaji dengan baik, tanpa ada kesalahan ketik atau kesalahan penulisan, dan tentunya lebih enak dibaca. 5. Menyebarkan Informasi dengan Cara Promosi Setelah kemasan informasi selesai dicetak, kemudian informan menyebarkan informasi dengan cara mempromosikan produk yang dibuatnya. Promosi ini merupakan forum pertukaran informasi antara informan dan pengguna informasi yang berkaitan dengan produk yang telah tersedia. Tujuan dari promosi adalah mendorong timbulnya kesadaran akan keberadaan produk bahkan sampai pada tindakan membeli atau memanfaatkannya. Selain itu, promosi bertujuan untuk mengajak pengguna informasi untuk lebih meningkatkan pengetahuannya tentang informasi-informasi yang ada sekarang ini. Promosi ini dilakukan melalui media promosi seperti brosur maupun poster. Selain melalui brosur dan poster promosi juga dapat dilakukan melalui kontak perorangan/pribadi. Promosi dengan menggunakan kontak perorangan/pribadi, merupakan bentuk promosi yang paling ampuh dibandingkan dengan promosi melalui brosur dan poster. Promosi melalui kontak perorangan ini dapat meningkatkan hubungan antara informan dan pengguna informasi. Informan bisa menjelaskan secara langsung maksud dari informasi tersebut, sehingga kebutuhan pengguna dapat lebih diketahui, dengan cara ini diharapkan adanya pengertian, dukungan, masukan serta kerjasama antara informan dan pengguna informasi dalam mengembangkan informasi yang ada. Bentuk promosi yang lain yaitu publisitas. Publisitas adalah salah satu alat promosi yang ampuh dan murah untuk memperkenalkan suatu produk yang ditawarkan melalui berita di media penerbitan seperti surat kabar dan majalah maupun melalui radio, televisi ataupun internet. Tak peduli jenis produk apapun, penggunaan bentuk publisitas untuk promosi produk dapat menjangkau masyarakat pengguna/pembaca yang cukup luas karena banyak dibaca, didengar dan ditonton orang.
Conclusion
Pengemasan informasi adalah kumpulan informasi yang disajikan dalam bentuk baru yang lebih mudah untuk digunakan, dipahami, diserap, dan bahkan diadopsi oleh pengguna. Kemasan informasi juga dapat diartikan sebagai sebuah proses untuk mengolah kembali informasi yang ada sehingga mampu ditampilkan ke dalam kemasan yang lebih baik dan siap pakai bagi pengguna dan pencari informasi. Tahap-tahap pengemasan informasi antara lain: (1) penentuan topik; (2) penelusuran informasi sesuai dengan topik yang telah ditetapkan (4) pengolahan informasi, mengevaluasi dan mensitir informasi; (5) menentukan bentuk kemasan informasi dan pengemasan informasi; (6) menyebarkan informasi dengan cara promosi. Dengan adanya kemas ulang informasi tentang penyakit kaki gajah (filariasis) diharapkan masyarakat mampu melakukan penanggulangan dan pencegahan terhadap penyakit filariasis. Serta dapat meningkatkan pengetahuan mengenai penyakit filaraisis dan dapat melakukan pengawasan dan pencegahan terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya. Masyarakat juga diharapkan dapat menerima informasi lebih lanjut yang diberikan untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang penyakit filariasis, dan juga berpartisipasi secara aktif dalam melakukan tindakan pencegahan penyakit filariasis serta mencari informasi terbaru mengenai berbagai macam penyakit lainnya sehingga dapat malakukan tindakan pencegahan lebih dini.