Urgensi Kemas Ulang Informasi di Era Digital dalam Pengembangan Koleksi di Perpustakaan
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta; Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
Abstrak
Kemas ulang informasi merupakan solusi perpustakaan dalam pemenuhan kebutuhan informasi yang diperlukan masyarakat saat era digital, perpustakaan harus mencari cara dalam inovasi untuk layanan koleksi di perpustakaan. kemas ulang informasi salah satu jawaban dalam memenuhi kebutuhan informasi masyarakat. kemas ulang informasi untuk koleksi yang ada di perpustakaan harus menarik, relevan, dan mudah di akses sehingga masyarakat merasa puas terhadap layanan perpustakaan. Dalam penelitian ini tujuan utamanya mengetahui urgensi kemas ulang informasi di era digital dalam pengembangan koleksi di perpustakaan, dengan menggunakan penelitian deskriptif dengan kajian pustaka. Penelitian pustaka merupakan kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data dengan menggunakan buku, artikel dengan cara membaca dan mencatat serta mengelola bahan penelitian yang memanfaatkan teori dan konsep yang ada untuk menghasilkan data dalam penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perpustakaan perlu melakukan inovasi pengembangan koleksi untuk terus mempertahankan eksistensi perpustakaan pada era digital dan meningkatkan mutu layanan yang disediakan dengan mengikuti perilaku masyarakat. Kebanyakan dari masyarakat sekarang lebih banyak mencari informasi yang praktis dan mudah ditemukan melalui internet untuk tujuan memenuhi kebutuhannya.
Abstract
Repackaging information is a library solution in fulfilling the information needed by the public in the digital era. Libraries must look for ways to innovate for library collection services. Repackaging information is one answer to meeting society's information needs. Repackaging information for existing library collections must be interesting, relevant and easy to access so that people feel satisfied with library services. In this research, the main objective is to determine the urgency of repackaging information in the digital era in developing collections in libraries, using descriptive research with literature review. Library research is an activity related to data collection methods using books, articles by reading and taking notes as well as managing research materials that utilize existing theories and concepts to produce data in research. The research results show that libraries need to innovate in collection development to continue to maintain the existence of libraries in the digital era and improve the quality of services provided by following community behavior. Most people now look for information that is practical and easy to find via the internet to meet their needs. Therefore, when repackaging library information, you must pay attention to the characteristics, behavior and interests of the community by paying attention to two aspects, namely the repackaging media and the repackaging format.
Keywords:
Repackaging Information
· Digital Era
· Collection Development
Introduction
Perpustakaan berperan penting dalam perkembangan kehidupan masyarakat, hal ini karena kebutuhan masyarakat akan informasi dapat disediakan oleh perpustakaan dengan menyediakan berbagaikoleksi (Iswanto & Sulistyowati, 2018). Perpustakaan memiliki berbagai bentuk koleksi mulai dari yang bentuk tercetak dan ada juga yang berbentuk non-cetak (elektronik). Koleksi yang ada di perpustakaan bisa berasal dari gagasan dan pemikiran seorang peneliti yang dituangkan dalam bentuk buku, majalah, novel, komik, koran dan juga bisa yang di upload melalui media online seperti jurnal, repository dan sebagainya yang diterbitkan dalam bentuk tercetak ataupun non-cetak. Koleksi adalah hal terpenting untuk perpustakaan dalam melakukan pelayanan perpustakaan, perpustakaan harus memiliki koleksi yang lengkap untuk mencapai kepuasaan masyarakat terhadap layanan yang ada di perpustakaan. Pada era digital sekarang teknologi berkembang dengan sangat pesat dan memiliki pengaruh positif di bidang informasi hal ini kini tidak bisa di hindari oleh perpustakaan sebagai lembaga penyedia informasi, di era digital sekarang mengharuskan perpustakaan melakukan adaptasi dan berubah mengikuti perkembangan teknologi. Era digital ini masyarakat selalu berdampingan dengan teknologi setiap saatnya, salah satunya dengan memanfaatkan internet untuk mempermudah mencari informasi yang diinginkan masyarakat. Keadaan masyarakat yang seperti sekarang mengharuskan perpustakaan mulai menyediakan koleksi yang dibutuhkan masyarakat dalam bentuk digital yang harus tepat guna dan tepat sasaran, perpustakaan bisa melakukan identifikasi dengan melihat koleksi yang sering digunakan masyarakat untuk mencari informasi, format koleksi yang banyak dimanfaatkan dalam bentuk tercetak atau digital serta koleksi yang banyak diminati bisa berupa file dalam bentuk pdf atau kemasan informasi (Tupan, 2016). Perpustakaan harus bisa menyediakan koleksi dan mengoptimalkan layanan informasi untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat dengan cara melakakukan kegiatan kemas ulang informasi kedalam bentuk digital. Perpustakaan bisa melakukan kemas ulang informasi berdasarkan dari kebijakan perpustakaan itu sendiri atau berdasarkan kebutuhan informasi yang diperlukan masyarakat dan perpustakaan bisa membuat kemas ulang informasi kedalam bentuk digital sebagai layanan unggulan yang disediakan oleh perpustakaan. Kemas ulang informasi merupakan layanan yang berupa proses mengumpulkan, memformat ulang, restrukturisasi, mengorganisasikan dan konsolidasi informasi yang disediakan berbagai bentuk dan dari beberapa sumber dalam menunjang kepentingan masyarakat sebagai pengguna informasi (Nashihuddin, 2021). Berdasarkan Kebijakan Pengembangan Koleksi Perpustakaan Nasional kemas ulang informasi atau alih media dapat menjadi bagian dari tahapan pengadaan pada kegiatan pengembangan koleksi, perpustakaan melakukan alih media koleksi yang dilaksanakan oleh pusat preservasi bahan pustaka dalam bentuk digital atau mikro dan alih media koleksi milik perorangan atau lembaga lain yang dilakukan oleh Perpustakaan Nasional RI ataupun lembaga lain (Perpustakaan Nasional RI, 2018). Dalam tahapan ini perpustakaan melakukan seleksi koleksi yang akan dikemas ulang berdasarkan dari kualitas informasi dan kebutuhan pengguna untuk meningkatkan daya tarik masyarakat terhadap koleksi yang ada di perpustakaan. Memasuki era digital sekarang masyarakat jarang menggunakan koleksi tercetak untuk mencari informasi, dan lebih banyak memanfaatkan handphone untuk mencari berbagai informasi dalam bentuk digital yang lebih mudah di akses tanpa harus keluar dari rumah. Masyarakat bisa memanfaatkan google dan berbagai media online yang lainnya untuk mencari dan memenuhi kebutuhan informasi mereka. Hadirnya informasi dalam bentuk digital memudahkan dan mempercepat masyarakat mengakses informasi. Namun disisi lain kemudahan akses informasi melalui internet menghadirkan rasa pesimis perpustakaan, sebenarnya masih dibutuhkannya tidak perpustakaan jika masyarakat bisa mendapatkan informasi tanpa harus ke perpustakaan dengan cara memanfaatkan internet. Perkembangan teknologi digital semakin meningkat dan merupakan realita yang tidak bisa untuk dihindari, teknologi akan semakin tumbuh seiring meningkatnya kemajuan ilmu pengetahuan, hadirnya internet merupakan salah satu inovasi yang diciptakan oleh manusia untuk mempermudah dalam memenuhi kebutuhan informasi dan interaksi masyarakat. Pesatnya perkembangan teknologi berpengaruh terhadap meningkatkanya pengguna internet di Indonesia, dari hasil survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyatakan sebanyak 215,63 juta orang menggunakan internet pada periode 2022-2023, jumlah tersebut meningkat sebanyak 2,67% jika dibandingkan pada periode sebelummnya yang berjumlah 210,03 juta pengguna. Penduduk indonesia sekarang berjumlah 275,77 juta jiwa dengan jumlah pengguna internet sebesar 78,19% dari total penduduk, hal tersebut membuktikan bahwa masyarakat di Indonesia semakin melek terhadap internet (APJII, 2023). Perpustakaan harus siap dalam menghadapi kemajuan teknologi di era digital dengan cara mempersiapkan berbagai upaya agar perpustakaan masih memiliki eksistensi dan masih diperlukan keberadaannya di era digital saat ini salah satu caranya dengan cara melakukan kemas ulang informasi.
Method
Dalam penelitian ini menggunakan kajian pustaka dengan jenis penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif dengan menekankan pada kemampuan untuk menganalisis sumber dan data yang sudah ada yang mengarah kepada pembahasan. Kajian pustaka merupakan penelitian yang mendapatkan datanya dari membaca dan memahami dari hasil penelitian dan teori yang ada bisa didapat dari buku, arikel jurnal dan makalah ilmiah (Sari, 2021).
Discussion
Perpustakaan di Era Digital Era Digital sekarang semua aspek dalam kehidupan termaksuk dalam proses pembelajaran yang berlangsung banyak menggunakan media digital. Pembelajaran secara digital memerlukan kesiapan dalam berkomunikasi secara interaktif dan memanfaatkan informasi dengan menggunakan teknologi informasi serta komunikasi, seperti menggunakan handphone dengan berbagai aplikasi yang ada didalamnya dan laptop dengan akses internet. Pada kondisi era digital sekarang masyarakat dapat melakukan komunikasi dengan cepat dan terasa dekat walaupun sedang berada di wilayah yang berbeda, dapat dengan cepat mendapatkan informasi bahkan dari berbagai negara dengan hanya memanfaatkan smartphone. Maka dari itu perpustakaan membutuhkan berbagai cara untuk mencegah adanya perubahan pandangan mengenai penting tidaknya keberadaan perpustakaan akibat dari terus berkembangannya teknologi informasi, perubahan tingka laku masyarakat serta kemudahan akses informasi pada era digital saat ini. Kemas ulang informasi adalah salah satu solusi perpustakaan untuk mempertahankan eksistensinya pada era saat ini.. Era digital bisa menjadi peluang jika perpustakaan bisa melakukan adaptasi dan berubah mengikuti perkembangan teknologi dan dapat menjadi musibah ketika perpustakaan tidak siap melakukan perubahan. Gaya hidup dan kebiasaan masyarakat yang berubah menjadikan banyaknya media cetak beralih menjadi media digital, setiap perubahan yang membawa pada perkembangan akan melahirkan inovasi baru yang akan banyak memberikan banyak dampak positif dan menjadi masalah yang akan dihadapi. Berdasarkan itu perlu adanya perhatian bahwa dengan segala kemudahan sekarang akan hadir permasalahan baru yang membutuhkan penyelesaian serta pemikiran dengan cara yang baru, maka dari itu pentingnya mengembangkan cara pembelejaran pada era digital sekarang (Azis, 2019). Indonesia sendiri memiliki perpustakaan dengan beragam kondisi, berdasarkan dari pengelola dan cara mengelolanya, dari tingkat pendidikan, serta kemampuan yang dikuasai pengelolanya. Perpustakaan yang bagus akan membantu dalam menunjang keberhasilan pendidikan dan didukung oleh pengelola perpustakaan yang terampil dan profesional dibidangnya (Wahyuni, 2019). Keberadaan perpustakaan pada era digital harus bisa bersaing dan bekerjasama dalam memenuhi kebutuhan masyarakat yang tidak dapat dipisahkan lagi dari canggihnya teknologi, baik dalam menjalani kebiasaan dalam beraktivitas dan dalam proses pembelajaran serta dalam hal berbisnis. Kemas Ulang Informasi Informasi adalah pesan yang disampaikan melalui ekspresi atau menggunakan media komunikasi dan pesan itu bisa bermanfaat atau tidak tergantung pendapat yang menerima informasi secara pribadi. Informasi adalah hasil proses dari data menjadi informasi yang menjadi memiliki makna serta memiliki nilai dalam menentukan keputusan. Informasi tidak mungkin bisa dilepaskan dari dari masyarakat. Karena siapapun, kapanpun serta dimanapun masyarakat akan selalu memerlukan informasi (Oktavia, 2019). Informasi adalah sebuah data yang dikelola kedalam bentuk yang memiliki makna dan mudah dipahami oleh penerima informasi dalam hal ini masyarakat. Kemas ulang merupakan menerbitkan kembali informasi yang sebelumnya pernah diterbitkan dengan memakai kemasan atau bentuk yang berbeda, bisa juga merubah dari satu bahasa ke bahasa lainnya hal itu bertujuan untuk meningkatkan minat baca dari masyarakat. Kemas ulang informasi adalah serangkaian aktivitas menata ulang mulai dari seleksi, analisis, synthesis, dan menyajikannya sesuai kebutuhan dari masyarakat (Santoso, 2021). Untuk memenuhi kebutuhannya akan informasi masyarakat memanfaatkan perkembangan teknologi informasi yang menggunakan internet untuk memudahkan dalam mendapatkan informasi dengan cepat untuk proses temu kembali serta juga informasi yang disediakan internet sangat banyak. Dalam hal ini perpustakaan perlu melakukan kemas ulang informasi guna mengikuti perkembangan teknologi yang semakin pesat dan juga dapat melahirkan inovasi dalam layanan di perpustakaan, tetapi perpustakaan juga harus mencari cara dalam strategi kemas ulang informasi dan mempertimbangkan aspek-aspek yang ada seperti; Kemudahan yang berarti pengemasan informasi harus mudah dicari dan dipahami isinya; Format informasi yang berarti, informasi yang dikemas bisa hasil dari memformat ulang serta menggabungkan beberapa sumber informasi menjadi satu; Kemutakhiran informasi yang berari informasi yang disajikan harus memiliki sifat mutakhir yang memuat berbagai subjek keilmuan; Transfer pengetahuan adalah memberikan pemahaman atau pengetahuan baru untuk masyarakat. Pada era digital sekarang sudah ada sebagian perpustakaan perguruan tinggi yang sudah memanfaatkan teknologi informasi untuk membantu pelayanannya, koleksi yang berbentuk digital adalah koleksi yang sangat mudah di akses karena bisa secara online dimanapun dan kapanpun tanpa harus datang ke gedung perpustakaan. Koleksi digital biasanya diperoleh perpustakaan dari hasil beli atau berlangganan E-Journal ataupun E-book, tapi perpustakaan juga bisa mendapatkan koleksi digital dari hasil kemas ulang informasi. Kemas ulang informasi bisa dilakukan dengan proses alih media koleksi yang sebelumnya dalam bentuk cetak diubah menjadi koleksi yang berbentuk digital (Santoso, 2021). Dari adanya kemas ulang informasi, koleksi yang sebelumnya hanya bisa diakses jika datang ke gedung perpustakaan menjadi lebih mudah dan cepat diakses tanpa datang langsung ke gedung perpustakaan dengan begitu dapat memenuhi kebutuhan informasi masyarakat. Kemas ulang informasi juga bisa menjadi daya tarik dari perpustakaan untuk menarik masyarakat memanfaatkan layanan perpustakaan. Saat ini penerapan teknologi menjadi tolak ukur dalam mengetahui tingkat kemajuan dari suatu perpustakaan, perpustakaan sekarang bukan tentang lagi gedung yang besar, rak buku yang banyak, ataupun jumlah judul bukunya, melainkan jika suatu perpustakaan semakin canggih dan sudah menggunakan otomatisasi makan akan semakin maju perpustakaan tersebut. Hal ini bukan tanpa alasan namun jika perpustakaan sudah menerapkan teknologi didalam pelayanannya makan akan lebih banyak dan lebih mudah mengakses layanannya (Nurtakyidah, 2017). Dengan memanfaatkan teknologi dapat meningkatkan fungsi dan peran dari perpustakaan sebagai lembaga penyedia informasi dan pengetahuan, banyak manfaat yang didapat dari kehadiran teknologi informasi salah satunya perpustakaan bisa melakukan kemas ulang informasi yang bertujuan dalam menjaga eksistensi perpustakaan dengan cara perpustakaan bisa di akses kapanpun dan dimanapun tanpa harus datang secara langsung ke perpustakaan secara fisik. Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat perpustakaan juga bisa terus meningkatkan layanannya supaya masyarakat tetap memanfaatkan perpustakaan sebagai lembaga penyedia informasi dan pengetahuan nomor satu. Berkembangnya pusat informasi yang semakin canggih dan memiliki seseorang yang ahli dibidangnya menyebabkan adanya perubahan yang sangat signifikan disemua bidang kehidupan yang harus diantisipasi oleh perpustakaan, manajemen perpustakaan yang dikelola secara konvensional sudah saatnya berkembang kearah yang transparan, terbuka dan lebih canggih dan memiliki program kerja yang tepat sasaran. Saat ini masyarakat masih memiliki kesulitan tersendiri dalam akses informasi yang disebabkan keterbatasan akses informasi karena keterbatasan ekonomi, sarana prasarana, dan letak geografi menjadikan permasalahan bagi perpustakaan, perpustakaan harus bisa menyebarkan informasi secara merata ke semua kalangan masyarakat. Maka perpustakaan perlu melakukan kemas ulang informasi yang merupakan upaya untuk perpustakaan dalam meyebarkan informasi kesemua kalangan masyarakat. Dalam melakukan kemas ulang informasi terdapat dua aspek yang harus dipertimbangkan, yang pertama media kemasan yaitu bentuk media secara fisik dimana informasi akan ditampilkan, direkam serta disajikan untuk masyarakat, seperti media audio, media visual, media cetak, media audio visual serta media digital, yang kedua yaitu format kemasan, seperti pengaturan bentuk serta susunan dari informasi pada produk tertentu dalam media yang akan dipilih (Saputra & Arif, 2021). Kemas ulang informasi merupakan kegiatan mencatat, mengatur dan menyajikan kembali informasi yang telah di analisis serta dirubah dalam bentuk yang lebih sesuai dan bemanfaat untuk masyarakat yang dikemas dalam media tertentu dan bentuk tertentu sesuai yang banyak diminati oleh masyarakat, seperti bentuk digital atau dikemas dalam media elektronik seperti DVD, CD, film dan lain sebagainya. Kemas ulang informasi sangat berguna dalam transmisi informasi untuk bisa dijangkau secara luas, sebagai sarana terjemah, media praktis dalam mengaplikasikan hasil dari suatu penelitian, sebagai tempat untuk disimpan informasi, media untuk promosi dan menyampaikan informasi yang bemanfaat bagi masyarakat. Kemas ulang informasi juga bertujuan untuk menyajikan informasi yang dikemas kedalam bentuk yang akan lebih mudah ditemukan serta dimanfaatkan oleh masyarakat, menyediakan informasi yang tepat guna karena telah di sintesis berdasarkan data dan informasi yang akurat dan mutakhir, menyediakan sarana serta panduan informasi mengenai suatu informasi dan mereviu serta melakukan evaluasi terhadap informasi atau literatur yang berasal dari berbagai aspek (Tupan, 2016), lihat selengkapnya di Manajemen Layanan Kemas Ulang Informasi Digital di PDII LIPI . Kemas ulang informasi memiliki fungsi dalam preservasi, konservasi dan diseminasi informasi. Preservasi bertujuan untuk melestarikan informasi dalam jangka panjang, konservasi bertujuan untuk selalu membuat bahan pustaka siap digunakan, diseminasi bertujuan untuk menyebarluaskan informasi kesemua kalangan masyarakat secara tepat guna. Kemas Ulang Informasi Perpustakaan sebagai lembaga yang menyediakan informasi harus mempunyai strategi khusus dalam proses pengemasan ulang informasi. Kemas ulang ulang informasi merupakan proses mengubah informasi dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Kemas ulang informasi tidak hanya sebatas mengubah dari format ke format lainnya, namun juga mencakup perubahan bahasa, seperti proses menterjemahkan atau interpretasi dari satu bahasa ke bahasa lain (Jayanti & Masruri, 2023). Perpustakaan harus mempunyai inovasi untuk mengemas ulang informasi dengan cara memanfaatkan peran pustakawan dan informasi yang dimiliki. Perpustakaan harus melakukan identifikasi terhadap kebutuhan masyarakat berdasarkan dari hasil evaluasi koleksi yang dimanfaatkan dan sering dgunakan serta mengetahui latar belakang masyarakat. Perpustakaan harus menjangkau masyarakat yang lebih luas untuk memenuhi kebutuhan informasi yang relevan dan berdasarkan keadaan masyarakat. Perpustakaan harus mulai menyediakan layanan informasi yang berbasis digital dalam berbagai kemasan dan jenis kepada masyarakat. Adapun beberapa tahapan yang harus dilakukan perpustakaan sebelum melakukan kemas ulang informasi: 1. Menentukan Konten Perpustakaan harus mengetahui informasi apa saja yang dibutuhkan masyarakat pada saat era digital, masyarakat menginginkan sumber informasi yang praktis, lengkap dan terpercaya tanpa harus keluar dari rumah. Hal itu dibuktikan dengan semakin meningkatnya pengguna internet pada setiap tahun, maka dari itu perpustakaan harus berusaha memenuhi kebutuhan informasi masyarakat menggunakan layanan berbasis internet yang bisa diakses secara online, dengan cara melakukan kemas ulang informasi yang bisa dimanfaatkan dari mana saja tidak harus langsung ke perpustakaan. Menentukan konten yaitu kegiatan yang dilakukan bertujuan untuk menganalisis kebutuhan pengguna, memperhatikan permintaan pengguna dan menentukan informasi yang akan di layankan (Alfadil et al., 2022). Mengkaji kembali koleksi yang memiliki informasi yang dianggap penting dan disajikan kembali untuk masyarakat yang bertujuan untuk mencerdaskan, menambah pengetahuan yang didapat dari informasi yang disediakan secara lebih detail dan mengetahui apa yang dibutuhkan masyarakat dengan cara mengkaji, meneliti dan mengelolah informasi. 2. Analisis Isi Perpustakaan harus memilih informasi yang akan dikemas ulang mulai dari memilih subjek, judul dan bentuk kemasan informasi dengan cara melakukan kegiatan penyeleksian informasi dengan bersama dan saling koordinasi. perpustakaan juga turut bisa mengajak masyarakat atau lembaga tertentu untuk melakukan seleksi pada informasi yang akan dipilih. analisis isi bisa dimanfaatkan untuk menganalisa semua bentuk koleksi, contohnya bentuk yang ada di berbagai mecam media tercetak seperti buku, majalah, koran, selebaran-selebaran, surat dan bentuk digital seperti jurnal, televisi, radio, internet serta bahan dokumentasi lainnya (Gusti Yasser Arafat, 2018). Menganalisis isi merupakan kegiatan yang dilakukan untuk membuat kelompok informasi yang bertujuan untuk lebih mudah dalam penyusunan suatu informasi. Produk kemas ulang informasi harus selalu di perbaharui secara ringkas dan sesuai, baik dengan melakukan pengurangan atau penggabungan suatu informasi baik dari masukan masyarakat ataupun kebutuhan untuk melengkapi informasi itu sendiri dalam melakukan kegiatan kemas ulang informasi kerjasama dalam tim sangat diperlukan. 3. Mengubah Bentuk nformasi Dalam kegiatan ini adalah melakukan perubahan bentuk informasi sebelumnya menjadi bentuk yang lebih menarik, dikemas dalam bentuk berbeda dan memilih kemasan dalam mengemas informasi, pada dasarnya informasi yang tersedia memiliki berbagai bentuk dan tidak bisa berubah dengan sendirinya menjadi bentuk yang lebih menarik. Tugas perpustakaan adalah menuangkan informasi tersebut kedalam bentuk yang berbeda bisa menjadikannya ke dalam bentuk pdf, audio, visual, ataupun audio visual. Menjadikan informasi tersebut menjadi lebih menarik dan mudah diakses oleh masyarakat. Kemajuan teknologi memungkinkan koleksi di perpustakaan bisa disajikan secara digital dalam bentuk elektronik (Saipul, 2017) 4. Membuat Jadwal Publikasi Kemas ulang informasi adalah program kegiatan kreatif yang bisa dilaksanakan perpustakaan dan dipublikasi melalui website atau media sosial yang dimiliki perpustakaan yang berisi nama kegiatan, jadwal kegiatan dan petugas layanan. Perpustakaan bisa menjadwalkan kegiatan yang akan dilakukan yang memuat nama layanan (kemas ulang informasi), proses dalam melaksanakan, metode yang digunakan, waktu publikasi serta sasaran kegiatan. Perpustakaan juga harus membuat jadwal yang akan dilaksanakan secara berkala dalam periode tertentu dengan menjelaskan kapan kegiatan akan dilaksanakan dan target yang akan dicapai supaya bisa melakukan evaluasi dalam proses serta hasil yang didapatkan dari publikasi kemas ulang informasi. 5. Evaluasi Efektivitas Melakukan evaluasi efektivas merupakan kegiatan mengkaji kembali kegiatan yang telah dilaksanakan mengenai proses dan hasil dari kemas ulang informasi. Konteks yang dibahas adalah hasil dari kemas ulang informasi yang bertujuan untuk konservasi, preservasi dan disiminasi dengan tolak ukur yang telah ditetapkan untuk mengetahui efektivitas dari produk yang dihasilkan, sehingga nantinya perpustakaan bisa mengetahui cara apa dan bagaimana untuk mencapai elektabilitas yang lebih stabil. Dengan begitu perpustakaan bisa mengetahui kegiatan apa yang harus ditambahkan untuk mencapai hasil yang lebih memuaskan bagi perpustakaan dan juga untuk bisa mencapai kepuasaan dari masyarakat sebagai pengguna kemas ulang informasi yang disediakan perpustakaan. Berdasarkan semua aspek dan tahapan dari strategi dalam kemas ulang informasi perpustakaan bisa mengaplikasikannya secara langsung dalam layanan perpustakaan. Kemas ulang informasi bisa menjadi program unggulan yang dimiliki oleh perpustakaan dengan mengetahui perilaku masyarakat sekarang perpustakaan bisa melakukan promosi kegiatan ini dengan memanfaat internet dan media sosial serta melakukan kerjasama. Perpustakaan harus berubah kearah yang lebih canggih dan baik dengan menerapkan kemas ulang informasi sebagai program unggulan yang dimiliki perpustakaan.
Conclusion
Pada dasarnya masyarakat membutuhkan perpustakaan untuk mencari informasi yang relevan dan terpercaya dan perpustakaan juga membutuhkan masyarakat dalam rangka menjaga eksistensinya. Perpustakaan selalu berusaha menjadi yang terbaik dan tidak mau tergerus oleh perkembang teknologi, selalu berusaha memberikan layanan terbaik yang memungkinkan dan sebisa yang dilakukan serta semampu yang bisa diberikan. Memberikan layanan berbentuk tercetak dan juga berusaha memberikan layanan dalam bentuk digital yang dikemas ulang dalam bentuk yang menarik dan mudah di akses. Kemas ulang informasi merupakan kegiatan yang merubah bentuk informasi atau mentransfer informasi dari satu bentuk ke bentuk lainnya dengan kemasan yang menarik dan disukai masyarakat. Kemas ulang informasi merupakan cara yang dilakukan perpustakaan untuk bersaing dalam perkembangan teknologi yang semakin canggih dengan menyediakan informasi secara cepat, relevan dan terpercaya karena sekarang banyaknya informasi yang tersebar di internet tanpa bisa diketahui kebenarannya. Kemas ulang informasi menyediakan koleksi yang berisi informasi yang mudah ditemukan, dimengerti dan mudah dibaca dengan kemasan yang lebih banyak disukai dan diterima dikalangan masyarakat. Koleksi merupakan komponen utama yang paling penting yang harus dimiliki perpustakaan dalam kegiatan layanan kepada masyarakat, koleksi yang ada di perpustakaan harus terus berkembang sejalan dengan terus berkembangnnya teknologi informasi. Koleksi yang telah dikemas ulang sangat berperan dalam menghasilkan layanan yang cepat, relevan dan terpercaya, dengan adanya kemas ulang akan memudahkan masyarakat dalam proses temu kembali informasi, dapat menjadi solusi dalam memenuhi kebutuhan masyarakat di tengah kondisi yang sedang banjir informasi, dan menjadi daya tarik dalam layanan koleksi yang disediakan oleh perpustakaan. Era digital ini perpustakaan sebagai lemabaga penyedia informasi harus terus melakukan inovasi dalam mengembangkan layanannya, termaksuk dalam mengelola kemas ulang informasi. Hal itu bertujuan untuk terus menjaga eksistensi perpustakaan dan meningkatkan mutu layanan yang disediakan dengan mengikuti perilaku masyarakat. Kebanyakan dari masyarakat sekarang lebih banyak mencari informasi yang praktis dan mudah ditemukan melalui internet untuk tujuan memenuhi kebutuhannya. Maka dari itu dalam melakukan kemas ulang informasi perpustakaan harus memperhatikan karakteristik, perilaku dan minat masyarakat.