Kembali
16
1
2018 Jurnal Ilmu Informasi Perpustakaan dan Kearsipan Vol 7 · 1 Seri D ISSN 2302-3511

PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PROGRAM GERAKAN NAGARI GEMAR MEMBACA DI NAGARI SAOK LAWEH KABUPATEN SOLOK

Universitas Negeri Padang; Universitas Negeri Padang

Abstract

In this paper discusses about community perceptions of the nagari movement loves to read program in Nagari Saok Laweh Solok district. This study aims to reveal: (1) community perceptions of the nagari movement loves to read program in Nagari Saok Laweh Solok district, (2) constraints found in nagari movement loves to read program. Data collected by quantitative research by spreading the questionnaire to the people of Nagari Saok laweh. The sample used was 145 (one hundred forty five) respondents. Data analysis conducted using quantitative method with descriptive method. The result of questionnaire was prepared by recapitulation of research result. The analysis by describing the results of recapitulation in a description to clarify the results of the numbers so easily understood. Based on the results of the study concluded as follows: (1) people's perception towards Nagari Movement program in Nagari Saok Laweh Kabupaten Solok from the indicators of understanding, responses and community appraisal give positive perception, (2) the constraints found in the Gariy Reading program can come from the community as well as from the program itself. Constraints from the community such as reading constraints, and still lack of public desire to read. Constraints from such programs, the lack of number of cadres in charge of causing books in some homes are not replaced.
Keywords: Perseption · peoples · program

Introduction

Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah mengembangkan minat baca dan kebiasaan membaca. Semakin disadari bahwa masyarakat gemar membaca merupakan persyaratan dalam mewujudkan masyarakat yang gemar belajar yang merupakan salah satu ciri masyarakat maju dan beradab. Minat baca dapat diartikan sebagai kecenderungan hati yang tinggi kepada sesuatu sumber bacaan tertentu, sedangkan budaya baca adalah suatu sikap dan tindakan atau perbuatan untuk membaca yang dilakukan secara teratur dan berkelanjutan. Seseorang yang mempunyai budaya baca adalah orang yang telah terbiasa dalam waktu yang lama di dalam hidupnya selalu menggunakan sebagian waktunya untuk membaca. Kebiasaan membaca perlu dimulai dari usia dini sejak di rumah, di sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan atas hingga perguruan tinggi. Tanpa kebiasaan membaca, maka akan sangat sulit untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang kesemuanya berada dalam buku-buku. Kebiasaan membaca dan penguasaan Iptek bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Banyak membaca akan banyak mendapatkan pengetahuan, dan orang yang menguasai ilmu pengetahuan ialah orang yang memiliki sumber daya yang berkualitas yang dapat melaksanakan pembangunan untuk kesejahteraan semua bangsa. Minat baca, buku dan perpustakaan adalah tiga elemen pokok dalam suatu sistem pendidikan yang dapat menciptakan kualitas sumber daya manusia. Sebuah negara yang kaya sumber daya manusia akan lebih unggul daripada suatu negara yang kaya sumber daya alam. Perpustakaan diharapkan dapat menjadi pusat kegiatan pengembangan minat baca dan kebiasaan membaca. Dalam pengembangan minat baca dan kebiasaan baca perpustakaan dapat mengadakan program-progam yang dapat mengembangkan minat baca dan kebiasaan baca masyarakat. Perpustakaan yang biasanya hanya menyediakan bahan bacaan dan menunggu pemustaka datang dan memanfaatkan bahan pustaka yang disediakan dapat mencoba cara lain agar bahan pustaka yang disediakan dapat dioptimalkan dengan baik. Seperti yang dilakukan oleh Perpustakaan Nagari Saok Laweh Kabupaten Solok, yang mengadakan program Nagari Gemar Membaca yang bekerjasama dengan Yayasan Gemar Membaca Indonesia. Kegiatan yang dilakukan dalam program ini adalah, mengantarkan langsung buku ke masing-masing rumah masyarakat. Buku yang diantarkan tersebut sesuai dengan kebutuhan dan minat masyarakat. Program ini tentu mendapatkan pro dan kontra dari masyarakat, beberapa masyarakat mengaku senang dengan adanya program ini, sebagian lagi merasa terganggu karena tidak ada waktu untuk membaca. Untuk itu kita perlu mengetahui persepsi masyarakat terhadap program Gerakan Nagari Gemar Membaca. Pentingnya mengetahui persepsi masyarakat adalah untuk mengetahui apakah program ini dijalankan sesuai dengan yang diharapkan dan apakah masyarakat menerima keberadaan program ini. Menurut Robbins (2002: 14) bahwa persepsi positif merupakan penilaian individu terhadap suatu objek atau informasi dengan pandangan yang positif atau sesuai dengan yang diharapkan dari objek yang dipersepsikan atau dari aturan yang ada. Persepsi negatif merupakan persepsi individu terhadap objek atau informasi tertentu dengan pandangan yang negatif, berlawanan dengan yang diharapkan dari objek yang dipersepsikan atau dari aturan yang ada. Persepsi positif akan menimbulkan respon positif masyarakat terhadap program Gerakan Nagari Gemar Membaca. Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk mengambil judul makalah ini tentang persepsi masyarakat terhadap Gerakan Nagari Gemar Membaca di Nagari Saok Laweh Kabupaten Solok.

Method

Metode yang digunakan dalam penelitian ini deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dengan menyebarkan angket kepada masyarakat Nagari Saok Laweh. Sampel yang digunakan sebanyak 145 (seratus empat puluh lima) reponden. Menurut Arikunto (2010:38), yang menyatakan bahwa “untuk ancerancer, jika subjek kurang dari 100, maka lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi dan jika populasinya lebih dari 100 maka diambil 10-15% ataupun lebih. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual yang akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.

Discussion

Menurut Widayatun (2009:112) persepsi atau tanggapan adalah proses mental yang terjadi pada diri manusia yang akan menunjukkan bagaimana kita melihat, mendengar, merasakan, memberi, serta meraba (Kerja indra) disekitar kita. Menurut Walgito (2010: 102), proses terjadinya persepsi diawali dari suatu objek yang menimbulkan stimulus, kemudian stimulus tersebut mengenai alat indra atau reseptor. Proses ini dinamakan proses kealaman atau proses fisik. Setelah melewati proses fisik, stimulus yang diterima alat indra tersebut diteruskan oleh syaraf sensoris ke otak. 1. Persepsi Masyarakat terhadap program Gerakan Nagari Gemar Membaca Tabel 1. Pengetahuan Tentang P9gam Gerakan Nagari Gemar Membaca Kriteria Pernyataan F % Sangat Mengetahui 37 25 Mengetahui 91 63 Kurang mengetahui 17 12 Tidak mengetahui - - Jumlah 145 100 Pada Tabel 1 terlihat sebanyak 88% responden memberikan jawaban positif untuk pengetahuan tentang program Gerakan Nagari Gemar Membaca. Hanya 12% responden yang memberikan jawaban negatif. Hal ini berarti sebagian besar masyarakat Nagari Saok Laweh yang menjadi responden mengetahui adanya program Gerakan Nagari Gemar Membaca. Persepsi positif akan memberikan respon positif terhadap jalannya program kedepannya. Respon seseorang dapat dalam bentuk baik atau buruk, positif atau negatif. Apabila respon positif, maka individu yang bersangkutan cenderung menyukai atau mendekati objek, sedangkan respon negatif cenderung untuk menjauhi objek tersebut (Azwar, 1988: 15). Dalam hal ini respon yang akan diberikan masyarakat yaitu menerima pelaksanaan program ini di nagari Saok Laweh dan mau menjadi salah satu rumah yang mendapatkan buku bergilir dari program Gerakan Nagari Gemar Membaca ini. Tidak hanya menerima masyarakat diharapkan mau membaca buku-buku yang dipinjamkan tersebut. Tabel 2. Pemahaman Tentang Tujuan dari Program Nagari Gemar Membaca Kriteria Pernyataan F % Sangat paham 23 16 Paham 91 63 Kurang paham 22 15 Tidak paham 9 6 Jumlah 145 100 Pada Tabel 2 terlihat sebanyak 79% responden memberikan jawaban positif untuk pemahaman terhadap tujuan dari program Gerkan Nagari Gemar Membaca. Sebanyak 21% reponden memberikan jawaban negatif. Dapat disimpulkan bahwa sebagian masyarakat Nagari Saok Laweh yang menjadi responden paham dengan tujuan dari program Gerakan Nagari Gemar Membaca. Tujuan dari program ini adalah untuk mendekatkan buku ke masyarakat agar minat baca masyarakat dapat meningkat. Persepsi positif masyarakat terhadap tujuan dari program Gerakan Nagari Membaca akan mendapatkan respon positif pula dari masyarakat. Masyarakat tentu menyambut baik tujuan untuk mendekatkan buku ke masyarakat dengan cara membaca buku yang dipinjamkan sehingga tujuan dari program ini dapat tercapai. Tabel 3. Pemahaman Tentang Cara Kerja (antar jemput buku) dari Program Nagari Gemar Membaca Kriteria Pernyataan F % Sangat paham 22 15 Paham 78 54 Kurang paham 34 23 Tidak paham 11 8 Jumlah 145 100 Pada Tabel 3 terlihat sebanyak 69% responden memberikan jawaban positif untuk pemahaman terhadap cara kerja dari program Gerakan Nagari Gemar Membaca. Sebanyak 31% responden memberikan jawaban negatif. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar masyarakat Nagari Saok Laweh paham dengan cara kerja program Gerakan Nagari Gemar Membaca. Jika masyarakat memberikan persepsi positif terhadap cara kerja program ini, tentu masyarakat akan memberikan respon positif pula. Masyarakat akan menunggu pergantian buku sesuai yang dijadwalkan, dan jika buku yang akan ditukarkan tidak diganti sesuai jadwal yang dijanjikan, masyarakat akan memberitahu kepada pihak perpustakaan bahwa buku yang dipinjamkan tidak diganti sesuai jadwal. Tabel 4. Tanggapan Tentang Jalannya Program Nagari Gemar Membaca Kriteria Pernyataan F % Sangat baik 50 35 Baik 65 45 Kurang baik 28 19 Tidak baik 2 1 Jumlah 145 100 Pada Tabel 4 terlihat bahwa sebanyak 80% responden memberikan jawaban positif untuk tanggapan tentang jalannya program Gerakan Nagari Gemar Membaca. Sebanyak 20% responden memberikan jawaban negatif. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar masyarakat Nagari Saok Laweh yang menjadi responden memberikan tanggapan positif tentang jalannya program ini. Dengan persepsi positif dari masyarakat maka ke depannya tentu masyarakat akan mendukung program Gerakan Nagari Gemar Membaca ini, bahkan boleh jadi tidak hanya menanti buku diantarkan ke rumah, masyarakat juga akan berpartisipasi aktif dalam program ini, seperti ikut menyumbangkan buku ke perpustakaan dan mau menjadi sukarelawan sebagai kader. Kriteria Pernyataan F % Sangat sesuai 35 24 Sesuai 79 54 Kurang sesuai 27 19 Tidak sesuai 4 3 Tabel 5. Tanggapan Tentang Kesesuaian Buku yang dipinjamkan dengan Minat Baca Masyarakat Pada Tabel 5 terlihat bahwa sebanyak 78% responden memberikan jawaban positif untuk tanggapan tentang kesesuaian buku yang dipinjamkan dengan minat baca masyarakat. Sebanyak 22% responden memberikan jawaban negatif. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar masyarakat Nagari Saok Laweh yang menjadi responden menyatakan buku yang dipinjamkan sesuai dengan minat baca masyarakat. Persepsi positif dari masyarakat berarti akan mendapatkan respon positif kedepannya. Masyarakat akan dengan senang hati membaca buku yang dipinjamkan karena sesuai dengan minat baca masyarakat. Jika buku yang dipinjamkan tidak sesuai dengan minat baca masyarakat maka buku tidak akan dibaca dan dibiarkan begitu saja di dalam tas. Tabel 6. Tanggapan Tentang Kelayakan Buku yang dipinjamkan Kriteria Pernyataan F % Sangat layak 45 31 Layak 90 62 Kurang layak 10 7 Tidak layak - - Jumlah 145 100 Pada Tabel 6 terlihat bahwa sebanyak 93% responden memberikan jawaban positif untuk kelayakan buku yang dipinjamkan. Sebanyak 7% responden memberikan jawaban negatif. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar masyarakat Nagari Saok Laweh yang menjadi responden menyatakan buku yang dipinjamkan merupakan buku yang layak. Jika masyarakat membeVrikan persepsi positif untuk kelayakan buku yang dipinjamkan maka respon positif yang akan dilakukan masyarakat adalah membaca buku yang dipinjamkan karena fisik buku yang bagus dan menarik dan masyarakat akan berusaha agar tidak merusak buku yang dipinjamkan karena dari awal buku yang dipinjamkan dalam keadaan bagus maka ketika dikembalikan tentu harus dalam keadaan bagus pula. Tabel 7. Tanggapan Tentang Keramahan Kader-kader yang Bertugas Mengantarkan Buku Kriteria Pernyataan F % Sangat ramah 61 42 Ramah 84 58 Kurang ramah - - Tidak ramah - - Jumlah 145 100 Pada Tabel 7 terlihat bahwa seluruh responden memberikan jawaban positif terhadap keramahan kader-kader yang bertugas megantarkan buku. Dengan persepsi positif maka respon positif yang akan diberikan masyarakat terhadap keramahan kader-kader yang bertugas yaitu masyarakat akan dengan senang hati menerima kedatangan kader-kader yang mengantar buku dan tidak takut untuk menyampai saran untuk program ini kepada kader. Tabel 8. Tanggapan Tentang Jumlah Kader yang Mengantar Buku Kriteria Pernyataan F % Sangat cukup 19 13 Cukup 83 57 Kurang 37 26 Tidak cukup 6 4 Jumlah 145 100 Pada Tabel 8 terlihat bahwa sebanyak 70% responden memberikan jawaban positif untuk jumlah kader yang bertugas. Sebanyak 30% responden memberikan jawaban negatif untuk jumlah kader yang bertugas. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar masyarakat Nagari Saok Laweh yang menjadi responden menyatakan jumlah kader yang bertugas sudah cukup. Jika masyarakat memberikan persepsi positif terhadap kecukupan jumlah kader yang bertugas maka proses pergantian buku di setiap rumah yang dilakukan setiap dua minggu akan terus berjalan karena kader yang bertugas mengantarkan buku sudah cukup. Tabel 9. Tanggapan Tentang Keefektifan Buku yang digilirkan Setiap Dua Minggu Kriteria Pernyataan F % Sangat efektif 33 23 Efektif 80 55 Kurang efektif 27 19 Tidak efekif 5 3 Jumlah 145 100 Pada Tabel 9 terlihat bahwa sebanyak 78% responden memberikan jawaban positif untuk efektifitas buku yang digilirkan setiap dua minggu. Sebanyak 22% responden memberikan respon negatif untuk efektifitas buku yang digilirkan setiap dua minggu. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar masyarakat Nagari Saok Laweh yang menjadi responden menyatakan buku yang digilirkan setiap dua minggu sudah efektif. Individu akan berbuat sesuatu sesuai dengan apa yang dipersepsikannya (Sobur, 2003:447). Persepsi positif yang diberikan masyarakat terhadap keefektifan buku yang digilirkan selama dua minggu akan menimbulkan respon positif yaitu masyarakat dapat menyelesaikan membaca buku yang dipinjamkan dalam waktu dua minggu. Tabel 10. Keaktifan Masyarakat dalam Meminta Buku Tertentu yang diinginkan Kriteria Pernyataan F % Sering 8 6 Pernah 39 27 Tidak pernah 96 66 Jarang 2 1 Jumlah 145 100 Pada Tabel 10 terlihat bahwa sebanyak 33% responden memberikan jawaban positif untuk keaktifan meminta buku yang diinginkan dan sebanyak 67% responden memberikan jawaban negatif. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar masyarakat Nagari Saok Laweh yang menjadi responden menyatakan tidak pernah meminta buku terentu yang diinginkan. Persepsi negatif dari masyarakat tentang keaktifan meminta buku yang diinginkan akan menimbulkan respon negatif pula yaitu masyarakat hanya menerima buku yang diberikan walaupun buku tersebut tidak sesuai dengan minat baca mereka. Hal ini menyebabkan masyarakat hanya menerima buku yang diantarkan tanpa membaca buku tersebut. Tabel 11. Tanggapan Tentang Program Ini Membebankan Masyarakat Untuk Membaca Kriteria Pernyataan F % Terbebani 2 1 Cukup terbebani 9 6 Tidak terbebani 110 76 Sangat tidak terbebani 24 17 Jumlah 145 100 Pada Tabel 11 terlihat bahwa sebanyak 93% masyarakat menyatakan program ini tidak membebani masyarakat untuk membaca dan hanya 7% responden yang menyatakan program ini membebankan masyarakat untuk membaca. Persepsi akan mempengaruhi perilaku aktual suatu individu (Kotler, 2009:228). Persepsi positif dari masyarakat yang menyatakan tidak terbebani untuk membaca buku yang dipinjamkan menimbulkan respon positif yaitu masyarakat membaca buku yang dipinjamkan dengan senang hati dan kemauan sendiri tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Tabel 12. Tanggapan Tentang Program Ini Membebankan Masyarakat Untuk Menjaga Buku Kriteria Pernyataan F % Terbebani 10 7 Cukup terbebani 9 6 Tidak terbebani 97 67 Sangat tidak terbebani 29 20 Jumlah 145 100 Pada Tabel 12 terlihat bahwa sebanyak 87% responden menyatakan program ini tidak membebankan masyarakat untuk menjaga buku yang dipinjamkan dan sebanyak 13% responden menyatakan program ini membebankan masyarakat untuk menjaga buku. Persepsi positif masyarakat yang tidak merasa terbebani untuk menjaga buku yang dipinjamkan akan menimbulkan respon positif yaitu masyarakat akan menerima buku yang diantarkan tanpa takut akan merusak atau menghilangkan buku tersebut. Hal ini karena program ini memang tidak memberi sanksi terhadap kerusakan maupun kehilangan buku dengan harapan masyarakat tidak merasa terbebani menjaga buku ini. Tabel 13. Penilaian Tentang Dampak Positif Program Ini Terhadap Minat Baca Diri Sendiri Kriteria Pernyataan F % Sangat berdampak 54 37 Berdampak 68 47 Kurang berdampak 17 12 Tidak berdampak 6 4 Jumlah 145 100 Pada Tabel 13 terlihat bahwa sebanyak 84% responden memberikan jawaban positif untuk dampak positif program ini terhadap minat baca responden. Sebanyak 16% responden memberikan jawaban negatif. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar masyarakat Nagari Saok Laweh yang menjadi responden merasakan dampak positif program ini terhadap minat baca. Persepsi masyarakat tentang dampak positif program ini terhadap minat baca masyarakat menimbulkan respon positif yaitu masyarakat akan terus membaca buku yang dipinjamkan untuk terus meningkatkan minat baca dan menambah wawasan masyarakat. Tabel 14. Penilaian Tentang Dampak Positif Program Ini Terhadap Minat Baca Anggota Keluarga Kriteria Pernyataan F % Sangat berdampak 47 32 Berdampak 69 48 Kurang berdampak 15 10 Tidak berdampak 14 10 Jumlah 145 100 Pada Tabel 14 terlihat bahwa sebanyak 80% responden memberikan jawaban posiif untuk dampak positif program ini terhadap minta baca anggota keluarga. Sebanyak 20% responden memberikan jawaban negatif. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar masyarakat Nagari Saok Laweh yang menjadi responden merasakan dampak posiif program ini terhadap minat baca anggota keluarga. Persepsi positif masyarakat tentang dampak positif program ini terhadap minat baca anggota keluarga akan menimbulkan respon positif yaitu masyarakat akan selalu menerima dan membaca buku yang dipinjamkan karena merasakan dampak positifnya. Terutama untuk minat baca anak yang harus ditanam sejak dini. Tabel 15. Dukungan Terhadap Program Ini Dapat Mengembangkan Minat Baca Masyarakat Kriteria Pernyataan F % Sangat setuju 59 41 Setuju 81 56 Kurang setuju 5 3 Tidak setuju - - Jumlah 145 100 Pada Tabel 15 terlihat bahwa sebanyak 97% responden memberikan jawaban positif untuk dukungan program ini dapat meningkatkan minat baca masyarakat. Sebanyak 3% responden memberikan jawaban negatif. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar masyarakat Nagari Saok Laweh yang menjadi responden setuju bahwa program ini dapat meningkatkan minat baca masyarakat. Persepsi positif masyarakat bahwa program ini dapat meningkatkan minat baca masyarakat akan menimbulkan respon positif yaitu masyarakat akan memberikan dukungan dengan cara membaca buku yang dipinjamkan ataupun menyumbangkan buku yang dapat menambah koleksi perpustakaan. Tabel 16. Dukungan Pengembangan Program ke Nagari-nagari di Sumatera Barat Kriteria Pernyataan F % Sangat setuju 71 49 Setuju 74 51 Kurang setuju - - Tidak setuju - - Jumlah 145 100 Pada Tabel 16 terlihat bahwa seluruh masyarakat Nagari Saok Laweh yang menjadi responden memberikan dukungan untuk perluasan program ini ke nagari-nagari lain di Sumatera Barat. Persepsi positif dari masyarakat untuk dukungan perluasan program ini ke nagari-nagari lain di Sumatera Barat akan menimbulkan respon positif yaitu program ini akan mudah diterima di nagarinagari lain karena keberhasilannya di nagari Saok Laweh yang menghasilkan persepsi positif masyarakat. 2. Kendala yang ditemui pada program Gerakan Nagari Gemar Membaca Kendala dapat berasal dari masyarakat dan dari program itu sendiri. Kendala yang berasal dari masyarakat diantaranya, masyarakat yang tidak bisa membaca atau kurang lancar membaca karena faktor pendidikan. Hal ini menyebabkan buku yang dipinjamkan tidak dibaca sama sekali dan masyarakat yang sibuk dengan aktifitasnya merasa tidak punya waktu untuk membaca sehingga buku yang dipinjamkan hanya dibiarkan didalam tas. Kendala selanjutnya berasal dari program ini sendiri diantaranya, karena program ini bertujuan meningkatkan minat baca masyarakat dengan peraturan yang tidak membebankan masyarakat atas kehilangan atau kerusakan buku, hal ini menyebabkan kemungkinan terjadinya kehilangan buku atau kerusakan buku. Selanjutnya, kurangnya jumlah kader-kader yang bertugas menyebabkan buku dibeberapa rumah tidak diganti.

Conclusion

Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya yang telah dijelaskan maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut: Pertama, untuk indikator pemahaman masyarakat terhadap program Gerakan Nagari Gemar Membaca, masyarakat Nagari Saoklaweh sebagian besar mengetahui adanya program Nagari Genar Membaca dan menyatakan paham dengan cara kerja serta tujuan dari Program Nagari Gemar Membaca hal ini berarti program ini sudah melakukan sosialisasi yang baik kepada masyarakat dan akan mendapat respon baik kedepannya. Selanjutnya untuk indikator tanggapan masyarakat mengenai program Nagari Gemar membaca ini cukup baik. Sebagian besar masyarakat merasakan dampak positif program ini terhadap minat baca mereka. Terakhir untuk dukungan yang diberikan masyarakat terhadap program ini sangat positif, masyarakat merasakan dampak positif program ini terhadap minat baca masyarakat dan masyarakat juga mendukung perluasan program ini ke nagarinagari lain. Kedua, Kendala dapat berasal dari masyarakat dan dari program itu sendiri. Kendala yang berasal dari masyarakat diantaranya, masyarakat yang tidak bisa membaca atau kurang lancar membaca karena faktor pendidikan. Hal ini menyebabkan buku yang dipinjamkan tidak dibaca sama sekali dan masyarakat yang sibuk dengan aktifitasnya merasa tidak punya waktu untuk membaca sehingga buku yang dipinjamkan hanya dibiarkan didalam tas. Kendala selanjutnya berasal dari program ini sendiri diantaranya, karena program ini bertujuan meningkatkan minat baca masyarakat dengan peraturan yang tidak membebankan masyarakat atas kehilangan atau kerusakan buku, hal ini menyebabkan kemungkinan terjadinya kehilangan buku atau kerusakan buku. Selanjutnya, kurangnya jumlah kader-kader yang bertugas menyebabkan buku dibeberapa rumah tidak diganti.