Kembali
16
1
2024 Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam Vol 3 · 2 ISSN 2962-9780

Penerapan Buku Bergilir untuk Meningkatkan Minat Baca Masyarakat Kota Solok

Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar; Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar

Abstrak

Pokok permasalahan dalam skripsi ini adalah mendeskripsikan ketepatan tujuan program buku bergilir diadakan untuk meningkatkan minat baca masyarakat umum kota solok, untuk mendeskripsikan ketepatan sasaran penerima program bulir yang diadakan oleh perpustakaan umum kota solok. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana ketepatan program buku bergilir berbasis inklusi sosial pada perpustakaan umum kota solok dan untuk mengetahui sasaran program bulir pada perpustakaan umum kota solok. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data yang dikumpulkan melalui wawancara dengan pustakawan dan masyarakat penerima program bulir pada perpustakaan Umum Kota Solok. Selain itu data juga dikumpulkan melalui observasi langsung dan analisis dokumen terkait dengan penerapan buku bergilir berbasis inklusi sosial pada Perpustakaan Umum Kota Solok. Yang mana bertujuan untuk menambah pengetahuan masyarakat penerima program bulir. Data dianalisis dengah langkah-langkah berupa reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Kemudian data dapat diuraikan menjadi sebuah kalimat yang efektif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan program buku bergilir berbasis inklusi sosial pada Perpustakaan Umum Kota Solok sudah terlaksana dengan baik hal itu bisa dilihat dari program yang lakukan sudah berjalan sesuai yang telah direncanakan oleh Perpustakaan Umum Kota Solok. Tujuan dari program bulir ini adalah memberikan bantuan berupa buku kepada masyarakat khususnya yang berpenghasilan rendah, melalui program ini perpustakaan berupaya untuk meringankan beban ekonomi mereka dengan memberikan bantuan buku secara langsung serta untuk meningkatkan kesejahteraan sosial, mengurangi kesenjangan ekonomi dan pemulihan ekonomi masyarakat.

Abstract

The main problem in this thesis is to describe the accuracy of the goals of the social inquiry-based rotating book program at the Solok City Public Library. The purpose of this study is to determine the accuracy of the social inclusion-based rotating book program in the Solok City Public Library. This type of research uses qualitative research with a descriptive approach. The data was collected through interviews with librarians and community recipients of grain programs at the Solok City Public Library. In addition, data was also collected through direct observation and analysis of documents related to the application of social inclusionbased rotating books at the Solok City Public Library. Which aims to increase the knowledge of the grain program recipients. The data was analyzed with steps in the form of data reduction, data presentation and conclusion drawn. Then the data can be broken down into an effective sentence.The results of this study show that the implementation of the social inclusion-based rotating book program at the Solok City Public Library has been carried out well, it can be seen from the program that has been carried out as planned by the Solok City Public Library. The purpose of this grain program is to provide assistance in the form of books to the community, especially those with low incomes, through this program the library seeks to ease their economic burden by providing book assistance directly and to improve social welfare, reduce economic disparities and economic recovery of the community
Keywords: buku bergilir · inklusi sosial · perpustakaan umum

Introduction

Perpustakaan merupakan jantung atau urat nadi bagi suatu lembaga atau organisasi lainnya. Perpustakaan saat ini bukan lagi sekadar tempat menyimpan dan mencari buku. namun juga tempat mencari sumber dan informasi. Beragam informasi bisa anda peroleh di perpustakaan. Dari informasi ilmiah, informasi sejarah, hingga informasi populer. Perpustakaan kini semakin dekat dengan masyarakat lokal dan dapat ditemukan di hampir semua daerah terpencil [1]. Perpustakaan adalah suatu lembaga yang secara profesional mengelola koleksi karya tulis, cetak, dan rekaman dengan menggunakan sistem standar untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informaasi, dan rekreasi pengguna. Perpustakaan tidak hanya menjadi tempat interaksi sosial antara pemustaka dan pustakawan, namun juga mengumpulkan bahan-bahan dan menyediakan layanan in-house.[2] Pengertian perpustakaan menurut UndangUndang Nomor 43 Tahun 2007 pada Bab 1 yang memuat ketentuan umum tentang perpustakaan mendefinisikan perpustakaan dalam Pasal 1 diartikan perpustakaan sebagai kumpulan karya bekas, bahan cetakan, dan karya sistem standar. Ditetapkannya bahwa itu adalah organisasi yang mengatur. Untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, konservasi, informasi dan rekreasi pengguna.[4] Batasan perpustakaan KBBI sangat sederhana. Artinya tidak lebih dari kumpulan atau kumpulan buku, jurnal dan bahan pustaka lainnya yang disimpan, dibaca, dipelajari, dan dibahas. Dibandingkan dengan perpustakaan saat ini, definisi tersebut tampaknya mencakup konteks dan aspek yang luas. Perpustakaan menyediakan berbagai jenis informasi yang dibutuhkan pengguna, dan perpustakaan juga dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi saat ini. Perpustakaan berfungsi sebagai pusat segala informasi yang berkaitan dengan proses belajar mengajar, serta sebagai pusat integrasi seluruh kegiatan pendidikan dan lembaga yang melayani masyarakat, serta menunjang berbagai saluran media yang bersifat pendidikan (kertas dan catatan). Mematuhi peraturan dan digunakan untuk pendidikan, penelitian, dan hiburan intelektual. Peran perpustakaan sebagai sumber daya bagi kegiatan pendidikan masyarakat Indonesia diatur secara jelas dalam UndangUndang Nomor 43 Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan perpustakaan merupakan upaya membangun masyarakat intelektual di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi. Keberadaan perpustakaan saat ini memungkinkan kita untuk mengembangkan keterampilan dan pengalaman serta meningkatkan kualitas dengan mengamati seluruh kegiatan dari berbagai sudut pandang, seperti pendidikan, ilmu pengetahuan, bisnis, dan lain-lain, dengan menggunakan sumber informasi yang tersedia di perpustakaan pengguna yang ingin melakukannya. Pada perpustakaan umum kota solok terdapat kegiatan program bulir yang dilakukan kepada masyarakat yang dijadikan sasaran penerima program buku bergilir ini. Masyarakat yang dijadikan sasaran program ini adalah masyarakat yang tinggal jauh dari perpustakaan, masyarakat yang tingkat ekonomi menengah kebawah. Diperpustakaan umum kota solok terdapat beberapa kelurahan yang dijadikan sebagai sasaran dari program bulir yaitu kelurahan VI Suku kota solok dan kelurahan kampai tabu karambie (KTK) yang dijadikan sebagai sasaran penerima program bulir ini. Menurut beberapa ahli, penerapan adalah tindakan mempraktekkan suatu teori, metode, dan lain-lain yang telah direncanakan dan disusun sebelumnya untuk mencapai suatu tujuan atau manfaat tertentu yang diinginkan oleh suatu kelompok. penerapan adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh seorang individu atau kelompok dengan tujuan mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan. “Penerapan adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh seorang individu atau kelompok dengan tujuan mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan”. Menurut Lukman Ali (2011), “Penerapan adalah suatu praktek dan dapat juga diartikan pelaksaan”. Penerapan dapat juga diartikan sebagai pelaksanaan. Sedangkan Riant Nugroho (2014) “ pada dasarnya penerapan suatu metode dilakukan untuk mencapai tujuan yang diinginkan”. Menurut suharso & prasetyawan penerapan perpustakaan berbasis inklusi sosial adalah penerapan yang bertujuan untuk memberikan layanan informasi yang terbuka bagi masyarakat dengan berbagai latar belakang, kedudukan, dan meningkatkan perekonomian. Hal ini dilihat sebagai promosi, aktivitas menarik, kreativitas dan dukungan.[5] Indikator terselenggaranya layanan perpustakaan adalah (1) peningkatan kegiatan membaca dan kreatif masyarakat, (2) penciptaan program, (3) diterimanya aspirasi masyarakat, (4) pembinaan ketermpilan berdasarkan potensi masyarakat, (5) pertukaran informasi (6) produksi kreatif. Mendorong partisipasi masyarakat, saling belajar dan memberikan dukungan praktis serta nasihat kepada masyarakat. mulai dari penyelenggaraan layanan perpustakaan perpustakaan berbasis inklusi sosial hingga promosi program masyarakat, perpustakaan percontohan ini mampu mengembangkan program. Upaya mewujudkan layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial memerlukan perhatian khusus terhadap pengembangan koleksi perpustakaan. Hal ini disebabkan karena pihak yang paling berkepentingan terhadap peralatan informasi adalah masyarakat. Kebutuhan masyarakat akan informasi merupakan landasan penting bagi keberadaan perpustakaan. Oleh karena itu, pengembangan koleksi perpustakaan sangat diperlukan karena berkaitan dengan proses pengembangan diri dan pemberdayaan untuk meningkatkan kualitas hidup.[6] Rendahnya minat baca masyarakat suatu negara akan berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia yang dimiliki oleh negara tersebut, karena membaca merupakan kunci dari informasi dan ilmu pengetahuan dan pendukung kecerdasan bangsa. Dengan membaca berbagai literatur dan mendiskusikannya seseorang dapat mengasah otak, menambah wawasan, dan meningkatkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Membaca sangat besar pengaruhnya terhadap pembentukan pribadi dan kemajuan suatu bangsa, tidak ada sejarah yang mencatat kehebatan seseorang yang tidak diiringi dengan kegemarannya membaca. Oleh karena itu, pemerintah memiliki tanggungjawab yang besar dalam meningkatkan minat baca masyarakat.[7] Definisi inklusi sosial yang dikembangkan oleh Bank Dunia adalah proses dimana individu atau kelompok berpartisipasi dalam masyarakat. Komunitas miskin harus diperkuat melalui inklusi sosial. Pendekatan inklusi sosial yang mendorong perlakuan setara di semua tingkatan elemen. Di sisi lain, menurut, inklusi sosial mengacu pada seluruh upaya dan tindakan untuk mendorong kesetaraan kesempatan bagi orang-orang dari semua lapisan masyarakat dan dari semua kategori masyarakat yang terpinggirkan secara sosial. Inklusi sosial memberikan peluang bagi individu mdan kelompok untuk mendapatkan kesempatan yang sama dengan orang lain, yang secara tidak langsung mengarah pada peningkatan standar hidup. Perpustakaan berbasis inklusi sosial dapat memenuhi kebutuhan informasi untuk masyarakat, serta merupakan tantangan baru dalam pembaharuan layanan Perpustakaan Umum Kota Solok. Salah satu ukuran kemampuan perpustakaan dalam memenuhi kebutuhan informasi adalah perpustakaan harus berupaya meningkatkan jumlah pengguna layanan perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Lebih jauh lagi, pustakawan perlu memberikan layanan yang berkualitas, lebih memperhatikan pengguna, merespons tantangan dan peluang baru, dan melampaui aktivitas sehari-hari untuk memberikan layanan secara adil. Ia memiliki kemampuan untuk memperkuat masyarakat dan menciptakan masyarakat yang terpelajar. [8] Berkurangnya kehadiran perpustakaan dapat mengakibatkan menurunnya kemampuan literasi masyarakat dan juga dapat mempengaruhi kualitas hidup masyarakat. Agar dapat diterima oleh masyarakat, layanan perpustakaan yang diberikan harus dilandasi oleh kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan perpustakaan. Sebaliknya, inklusi sosial harus tetap dipertahankan untuk menghasilkan layanan yang memenuhi kebutuhan masyarakat. Hal ini menciptakan kebutuhan bagi perpustakaan untuk bertransformasi menjadi institusi berbasis inklusi sosial. Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial merupakan program yang berperan aktif di masyarakat melalui berbagai kegiatan transformasi pengetahuan, termasuk mendukung konsep perpustakaan yang inovatif. Hal ini mencakup pendidikan, pelatihan dan kegiatan yang berfokus pada nilai ekonomi dan dampak terhadap kesejahteraan. Literasi, yang diperoleh melalui membaca, adalah kemampuan untuk memahami konteks dan teks, dan fungsi perpustakaan adalah untuk mentransformasi dan mempromosikan tidak hanya membaca tetapi juga perekonomian. Kami berharap melalui inklusi sosial, setiap individu mampu menciptakan lapangan kerja bagi dirinya, meminimalisir pengangguran, dan menciptakan tenaga kerja yang kompetitif untuk kepentingan masyarakat.[9] Perpustakaan umum kota solok Merupakan salah satu mitra Program Pengembangan Perpustakaan Indonesia yang melaksanakan pengembangan program-program menarik. Salah satu program yang dilaksanakan Perpustakaan Umum Kota Solok melibatkan masyarakat dalam menunjang kegiatannya, antara lain melalui penyediaan layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial. Mengenai pelayanan perpustakaan berbasis inklusi sosial, hasil observasi awal yang telah dilakukan oleh peneliti dengan mewawancarai Pustakawan Perpustakaan Umum Kota Solok mengenai layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial yaitu : Tabel 1.1 Data observasi awal Persyaratan Komunitas terpilih yang bersedia menjadi warga sasaran bulir adalah empat kelurahan yang masing-masing terdiri dari 1 RW 2 RT, dengan total 50 KK di setiap kelurahan. Kesediaan mempertahankan peminjaman dan menjaga koleksi perpustakaan yang dipinjamkan dan digilirkan selama satu tahun Sistem, Mekanisme dan Prosedur Petugas perpustakaan melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang sasaran bulir, kemudian Petugas mempersiapkan paket buku untuk di serahkan pertama kali kepada masyarakat, Tahap pergiliran 1 kali 15 hari selama 24 kali dan petugas perpustakaan melakukan monitoring dan evaluasi selama program bulir berjalan, setelah itu petugas melakukan penarikan kembali paket buku yang telah diserahkan kepada masyarakat. Waktu Penyelesaian Selama 24 kali penggiliran buku pada setiap 25 rumah warga sasaran bulir Produk Pelayanan Paket Buku bulir Dari data observasi program bulir Perpustakaan Umum Kota Solok masih terdapat beberapa masalah dalam penerapan program tersebut yakni dalam penyelenggaraan program bulir, terdapat kendala dalam pengaturan jadwal dengan warga, misalnya Kelurahan VI Suku Kota Solok banyak penerima bulir yang berkerja di pasar sehngga mereka baru bisa berada di rumah pada jam 3 sore. Oleh karena itu, pustakawan harus menyesuaikan dengan jadwal masyarakat yang terkadang tidak bisa dilaksanakan saesuai jadwal program bulir. Terdapat beberapa masyarakat yang tidak ingin melanjutkan program bulir ini seperti di Kelurahan KTK banyak yang tidak ingin melanjutkan dengan alasan tidak memiliki waktu untuk membaca buku. Selanjutnya banyak buku yang hilang oleh masyarakat saat buku digilirkan, yang didukung dengan data buku yang hilang sebanyak 150 buku di tahun 2023, adanya masyarakat yang berpendapat mengenai buku yang dibagikan kurang bervariasi. Oleh karena itu, perpustakaan hendaknya mengevaluasi pelaksanaan program Bulir agar menjadi layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial. Peneliti tertarik untuk mengangkat Judul: Penerapan Buku Bergilir Untuk Meningkatkan Minat Baca Masyarakat Kota Solok. Mengingat titik fokus penelitian di atas, sub fokus yang dilakukan oleh eksplorasi ini adalah sebagai berikut: Apa tujuan program bulir di lakukan oleh Perpustakaan Umum Kota Solok, Bagaimana Sosialisasi Program Bulir dalam meningkatkan minat baca masyarakat Perpustakaan Umum Kota Solok, Siapa yang dijadikan sasaran program bulir pada perpustakaan umum kota solok, Bagaimana kegiatan monitoring dilakukan dalam program buku bergilir (bulir) oleh perpustakaan umum kota solok.

Method

a. Jenis penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian deskriptif merupakan suatu usaha untuk menguraikan, mendeskripsikan atau menyajikan secara sistematis, obyektif dan tepat sifat hubungan antara fakta dan fenomena yang diteliti. Metode kualitatif bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai permasalahan yang dibicarakan.[10] penelitian kualitatif adalah pengumpulan informasi yang berlatar belakang ilmiah, menggunakan metode ilmiah, dan dilakukan oleh orang atau peneliti yang berkepentingan. penelitian deskriptif merupakan metode penelitian yang berusaha mengembangkan dan menginterpretasikan objek sesuai apa adanya. Memberikan gambaran secara rinci, akurat dan faktual mengenai kondisi sebenarnya yang relevan dengan pertanyaan penelitian yang dilakukan. Dalam penyusunan karya ini, penulis menggunakan penelitian deskriptif dengan metode penelitian kualitatif untuk mengetahui bagaimana penerapan layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial di Perpustakaan Umum Kota Solok. Tujuan penelitian deskriptif ini adalah untuk menciptakan gambaran atau deskripsi fakta yang sistematis, berdasarkan fakta dan akurat serta sifat hubungan antar fenomena yang diteliti . Latar dan waktu penelitian Penelitian ini dilakukan di Perpustakaan Umum Kota Solok. yang ber-alamat di Jalan Lubuk Sikarah No. 89 Komplek Balai Kota Solok. Waktu penelitian ini dimulai pada bulan Oktober 2023. c. subjek penelitian Subyek penelitian adalah pihak yang menjadi sampel atau objek yang ingin diteliti oleh peneliti. Subyek penelitian dipilih secara sadar dan menjadi informan yang akan memberikan informasi yang diperlukan selama penelitian. Subyek pada penelitian ini adalah pustakawan hingga pemustaka atau masyarakat. Objek penelitian pada penelitian ini tergantung pada rumusan masalah penelitian. Penulis menetapkan bahwa yang menjadi objek penelitiannya adalah pemustaka pada Perpustakaan Umum Kota Solok. d. instrumen penelitian Instrumen penelitian merupakan alat yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data yang diperlukannya. Instrumen rekaman dan pedoman wawancara digunakan sebagai instrumen dalam penelitian ini. Data kemudian ditulis berdasarkan hasil wawancara yang telah di lakukan dengan beberapa informan. e. sumber data Sumber Data patut diteliti karena keakuratan pemilihan sumber data mempunyai pengaruh yang signifikan dalam menentukan keakuratan, kedalaman, dan relevansi informasi yang diambil (Nugrahani, 2014). Oleh karena itu, dalam memilih sumber data, peneliti mengelompokkan sumber data menjadi kedalam dua bagian sebagai berikut: 1. Data primer Data primer adalah data yang diperoleh calon peneliti secara langsung pada saat observasi tanpa perantara. Selain itu, informasi dasar juga dapat diperoleh melalui wawancara langsung dengan calon penulis paa pengelola Perpustakaan Umum Kota Solok. 2. Data sekunder Data sekunder adalah data yang melengkapi proses penelitian dan tidak langsung di lapangan. f. Teknik pengumpulan data Pengumpulan data adalah suatu cara untuk memperoleh informasi yang lengkap, obyektif dan dapat diverifikasi sesuai dengan ruang lingkup masalah penelitian, yakni. bagaimana penerapan layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial pada Perpustakaan Umum Kota Solok. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dapat di lakukan dengan beberapa metode yaitu: 1. Observasi Observasi artinya pengamatan langsung pada wilayah yang diteliti, dalam hal ini untuk mengumpulkan bahan lapangan yang diperoleh langsung dari tempat penelitian, serta pengumpulan data yang diperoleh yang langsung dari perpustakaan umum Kota Solok, yang tidak memerlukan prosedur tanya jawab. 2. Wawancara Wawancara merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang dilakukan peneliti dan wajib secara lisan oleh informan untuk memperoleh informasi. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan wawancara terstruktur, dalam hal ini peneliti menggunakan format baku dalam menyusun pertanyaan secara terperinci. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan wawancara kepada salah satu pustakawan yang bernama Sevri Febriona, M.I.Kom selaku pustakawan pada perpustakaan umum kota solok. Peneliti menanyakan halhal yang terkait tentang perpustakaan berbasis inklusi sosial dengan program buku bergilir yang terapkan pada perpustakaan umum kota solok. 3. Dokumentasi Dokumen merupakan suatu cara untuk mengambil informasi mengenai suatu permasalahan atau variabel yang berupa catatan, teks, buku, surat kabar, majalah, artikel, notulensi rapat, catatan, agenda, dan lain-lain. Dalam pengumpulan data dengan metode dokumentasi ini, peneliti akan mempelajari sebanyak-banyaknya tentang bagaimana bagaimana pelayanan berbasis inklusi sosial diterapkan di perpustakaan umum kota solok yang mendukung data penelitian ini dan memungkinkan kami untuk menjelaskan berbagai topik terkait. g. Teknik analisis dan interpretasi data Analisis data adalah proses pengorganisasian serangkaian data ke dalam pola, kategori unit deskriptif, untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesis yang timbul dari data tersebut. Analisis data dilakukan secara berkesinambungan dari awal hingga akhir penelitian baik di dalam maupun di luar lapangan dengan menggunakan teknik yang dikemukakan oleh Miles dan Hubermen. [11] 1. Reduksi Data Proses seleksi berfokus pada menyederhanakan, mengabstraksi, mengklasifikasikan, membimbing, membuang dan mengatur data yang diperoleh dari catatan untuk menarik dan memverifikasi kesimpulan akhir. Dalam penelitian ini materi direduksi dari hasil wawancara, dan dokumentasi yang kemudian dikonsolidasikan untuk membantu penelitian agar lebih baik dalam mengelola informasi yang diperoleh dari Perpustakaan Umum Kota Solok. 2. Penyajian Data Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk teks naratif dengan bentuk uraian dan didukung dengan kajian teori. Mereka dirancang untuk menggabungkan informasi Terorganisasi dalam bentuk uraian singkat yang mudah dipahami, menganalisis serta menyajikan data sehingga data tersebut mudah dipahami. Peneliti dalam melakukan penyajian data ini dilakukan dengan cara mendeskrissikan hasil wawancara, yang didukung dengan fhoto yang didapatkan. Informasi yang diperoleh merupakan hasil penelitian yang dilakukan peneliti terhadap implementasi layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial di Perpustakaan Umum Kota Solok. 3. Penarikkan Kesimpulan Kesimpulan diambil selama tahap analisis data penelitiaan ini. Setelah melakukan inferensi, peneliti mencoba menarik kesimpulan langsung dari informasi yang diperoleh di lapangan berupa data dan kesimpulan. Membuat kesimpulan adalah tahap akhir dari pengolahan data. Dalam penelitian ini peneliti menarik kesimpulan dari informasi yang diberikan peneliti tentang penerapan layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial di perpustakaan umum Kota Solok. Pada penelitian peneliti akan mengambil kesimpulan dari data-data yang peneliti sajikan tentang penerapan layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial pada perpustakaan umum kota solok. h. Teknik penjaminan keabsahan data Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan penelitian lapangan, metode yang umum digunakan untuk mengumpulkan data dengan mengadakan penelitian di daerah populasi,yaitu di perpustakaan umum kota solok sehingga dalam penelitian ini, penelitian menggunakan tiga cara untuk mengumpulkan data yaitu: 1. Triangulasi data dengan menggunakan sumber data yang berbeda seperti arsip, dokumentasi, hasil observasi, hasil wawancara atau juga dengan melakukan wawancara lebih dari satu subjek dengan pandang dan pengalaman yang berbeda. 2. Segitiga pengamat terdapat pengamat di luar peneliti yang juga merupakan pengawas yang bertindak sebagai pengamat (evaluasi ekspor) yang berkontribusi terhadap hasil pengumpulan data. 3. Dalam triangulasi teori beberapa teori berbeda digunakan untuk memastikan bahwa data yang diperoleh memenuhi persyaratan. 4. Metode segitiga menggunakan metode yang berbeda-beda untuk menyelidiki sesuatu, misalnya metode wawancara dan metode observasi. Berdasarkan empat teknik pemeriksaan validitas, peneliti menggunakan triangulasi data dan metode. triangulasi data menggunakan sumber data yang berbeda, seperti dokumentasi hasil wawancara, hasil observasi, atau wawancara terhadap subjek yang mewakili sudut pandang berbeda. Sementara itu, triangulasi metode penelitian menggunakan beberapa metode untuk meneliti sesuatu. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian wawancara, observasi dan penelitian dokumenter.

Result & Discussion

Dalam pembahasan ini peneliti memaparkan tujuan program bulir berbasis inklusi sosial pada perpustakaan umum kota solok. Pada umumnya sudah terlaksana dengan baik. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Solok menyelenggarakan rapat koordinasi pelaksanaan program Buku Bergilir (bulir) dengan lurah se-Kota Solok. Sebagai upaya meningkatkan minat baca dan wawasan masyarakat khususnya di Kota Solok. Kegiatan bulir ini diharapkan kerjasama dari kelurahan kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar dan dapat memotivasi masyarakat untuk gemar membaca. 1. Ketepatan tujuan Program Bulir diadakan Oleh Perpustakaan Umum Kota Solok Layanan Buku Bergilir adalah layanan mengantar buku ke rumah-rumah masyarakat dengan cara digulirkan setiap 15 hari sekali. Buku yang akan digulirkan dimasukkan dalam tas yang masing-masing berisi 5 (lima) buku dengan judul berbeda. Masing-masing tas di beri nomor urut. untuk memudahkan lokasi tas. Untuk mengantarkan dan menggulirkan buku ke rumah-rumah dikelurahan yang diatur menetapkan Petugas program bulir (Menjaga Keluarga Agar Tetap Cerdas). [12] Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan pustakawan Dengan Ibu Sheren Dan Ibu Siska Bahwa tujuan dari program bulir diadakan oleh perpustakaan umum Kota Solok sangat membantu masyarakat yang ingin membaca buku, mendapatkan ilmu atau informasi dari buku yang di bulirkan ke masyarakat. Hasil jawaban dari peserta program bulir terdapat pada pernyataan” bahwa program ini memberikan pengetahuan yang relevan dengan pekerjaan saya”. Pada pernyataan ini sebagian informan menjawab setuju, dengan buku yang diberikan oleh perpustakaan sudah sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Salah satunya dengan memberikan buku yang sesuai dengan pekerjaan penerima program bulir, contoh buku yang dibutuhkan oleh penerima seperti buku memasak, buku merajut, buku agama dan sebagainya. Ada pernyataan bahwa ”saya merasa program ini menghemat biaya untuk membeli buku”. Pada pernyataan ini hampir semua informan menjawab setuju. Karena ada masyarakat yang tidak mampu untuk membeli buku sehingga dengan adanya program ini dapat membantu informan tetap membaca buku. Ketika diamati dengan cermat ada beberapa faktor yang mampu mendorong bangkitnya minat baca masyarakat. Faktor-faktor tersebut adalah: 1) rasa ingin tahu yang tinggi atas fakta, teori, prinsip, pengetahuan, dan informasi. 2) keadaan lingkungan fisik yang memadai, dalam arti tersedianya bahan bacaan yang menarik, berkualitas, dan beragam. 3) keadaan lingkungan sosial yang lebih kondusif, maksudnya adanya iklim yang selalu dimanfaatkan dalam waktu tertentu untuk membaca. 4) rasa haus informasi, rasa ingin tahu, terutama yang aktual. 5) berprinsip hidup bahwa membaca merupakan kebutuhan rohani.[13] Program bulir ini hadir untuk mengatasi kondisi membaca masyarakat yang masih rendah, dengan dekatnya sumber-sumber bacaan dengan masyarakat maka diharapkan minat baca masyarakat lebih meningkat. Karena salah satu faktor yang membuat masyarakat malas untuk membaca adalah karena tidak tersedianya sarana dan prasarana untuk membaca seperti ketersediaan perpustakaan yang dekat dengan masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat yang tadinya kesulitan untuk mendapatkan sumber-sumber bacaan dapat terbantu dengan adanya Program bulir ini. Dengan adanya program ini juga diharapkan dapat memberikan dukungan bagi proses kemajuan nagari, karena dengan tingginya minat baca masyarakat akan berpengaruh pula terhadap kualitas sumberdaya manusia masyarakat nagari. Faktor-faktor tersebut dapat terpelihara melalui sikap-sikap, bahwa dalam diri tertanam komitmen membaca memperoleh keuntungan ilmu pengetahuan, wawasan atau pengalaman dan kearifan. Terwujudnya kondisi yang mendukung terpeliharanya minat baca, adanya tantangan dan motivasi untuk membaca, serta tersedianya waktu untuk membaca, baik di rumah, perpustakaan ataupun ditempat lain. Dalam masyarakat kita yang telah berkembangan budaya tutur, oral atau lisan, maka masih membutuhkan tekad dan semangat untuk mengubahnya menjadi budaya baca-tulis. Namun yang paling penting adalah bahwa hal itu seharusnya dimulai dengan tindakan nyata, tidak terbatas wacana. 2. Sosialisasi Program Bulir Dalam Penerapan Layanan Di Perpustakaan Umum Kota Solok a. Menyelenggarakan kegiatan buku bergilir Pustakawan dapat mempermudah akses masyarakat terhadap bahan bacaan dan sedikit ‘paksaan’ untuk mengikuti kegiatan, dengan cara menyelenggarakan kegiatan buku bergilir. Pustakawan bersama dengan relawan literasinya mengantarkan buku-buku yang menarik berdasarkan survey kebutuhan ke rumahrumah masyarakat, lalu setiap jangka waktu yang ditentukan buku-buku tersebut dipergilirkan dari rumah satu ke rumah yang lainnya Buku yang diantarkan sebaiknya mengakomodir kebutuhan buku bagi ayah, ibu, anak dewasa, anak remaja dan anak usia dini. dengan perangkat desa/ kelurahan dan RT/RW sehingga seluruh masyarakat yang berada disekitar lingkungan ‘dipaksa’ untuk mengikuti kegiatan ini. Jika ada masyarakat yang tidak terbiasa dengan buku/bahan bacaan, maka dengan mengikuti kegiatan ini akan ‘terpaksa’ untuk menerima buku setiap jadwal berkalanya, dan lama kelamaan disebabkan paket buku sudah tersedia dirumah masing- masing, mereka akan mulai tertarik untuk melihat-lihat, lalu membaca buku-buku tersebut. [14] b. Memberdayakan perpustakaan masyarakat Kesadaran akan pentingnya informasi dalam kehidupan bagi masyarakat pra informasi sangat rendah, apalagi kesadaran akan pentingnya perpustakaan. Maka pustakawan perlu melakukan sosialisasi perpustakaan kepada masyarakat.Sosialisasi dapat dilakukan dengan cara mengundang mereka ke perpustakaan atau menemui langsung ketengah masyarakat. Sosialisasi perpustakaan dilakukan untuk : 1. Memperkenalkan fungsi perpustakaan kepada masyarakat. 2. Mendorong minat baca dan mendorong masyarakat agar menggunakan koleksi perpustakaan secara maksimal dan menambah jumlah orang yang gemar membaca. 3. Memperkenalkan pelayanan dan jasa perpustakaan kepada masyarakat. 4. Memberikan kesadaran masyarakat akan adanya pelayanan jasa perpustakaan dan menggunakannya serta mengembangkan pengertian masyarakat agar mendukung kegiatan perpustakaan. c. Permasyarakatan perpustakaan Sosialisasi perpustakaan adalah upaya atau kegiatan-kegiatan yang terus dilakukan untuk sosialisasi, promosi, dan publikasi dalam rangka menempatkan perpustakaan menjadi bagian dari kehidupan dan aktivitas masyarakat. Maksudnya adalah bahwa keberadaan perpustakaan di tengahtengah masyarakat diketahui, dikenal, dan dimanfaatkan sebagaimana mestinya.ketika itu kegiatan di perpustakaan dapat berjalan dengan baik dan masyarakat mendapatkan nilai tambah, baik dalam ilmu pengetahuan, informasi maupun jasa perpustakaan lainnya. Perpustakaan menjadi tetap eksis dan berkembang mengikuti kemajuan masyarakat. 3. Sasaran Program Bulir Dalam Perpustakaan Umum Kota Solok. Program buku bergilir ini mengubah stigma perpustakaan yang selama ini pasif hanya menunggu masyarakat untuk dan membaca buku menjadi lebih aktif dengan mendatangi rumah masyarakat. Cara ini diyakini tidak hanya akan meningkatkan budaya literasi masyarakat, secara nyata meningkatkan sumber daya manusia sesuai profesi yang ditekuni. Diharapkan program ini nantinya akan menjadi sebuah kebutuhan bagi masyarakat. Informan pada program bulir ini yaitu masyarakat kelurahan VI Suku dan kelurahan Kampai Tabu Karambie (KTK) dengan program bulir ini dapat Meningkatkan minat baca di kalangan masyarakat, terutama di daerah-daerah yang kurang memiliki akses ke perpustakaan atau toko buku, Memberikan akses yang lebih luas kepada berbagai jenis buku, termasuk literatur fiksi, non-fiksi, buku anak-anak, dan referensi akademik, memanfaatkan koleksi buku yang ada secara maksimal dengan cara bergilir di antara komunitas. sehingga lebih banyak orang dapat menikmati buku yang sama, Membantu meningkatkan tingkat literasi dan kemampuan membaca masyarakat, terutama di kalangan anak-anak dan remaja, Mendorong interaksi sosial dan diskusi di antara anggota komunitas melalui kegiatan berbagi dan diskusi buku, Mendorong pembelajaran dan pengembangan diri melalui akses ke pengetahuan yang disediakan dalam bukubuku tersebut, Membangun budaya membaca yang berkelanjutan di masyarakat sebagai bagian dari upaya jangka panjang untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pengetahuan. Faktor yang mendorong atas bangkitnya minat baca masyarakat ialah ketertarikan, kegemaran dan hobi membaca, dan mendorong tumbuhnya kebiasaan membaca adalah kemauan dan kemampuan membaca. Buaya baca adalah kebiasaan membaca, sedangkan kebiasaan membaca terpelihara dengan tersedianya bahan bacaan yang baik, menarik, memadai dan baik jenis, jumlah, maupun mutunya. Inilah sebuah formula yang secara ringkas untuk mengembangkan minat dan budaya baca. d. Monitoring program bulir yang di terapkan pada penyelenggaraan layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial pada perpustakaan umum kota solok “Monitoring” adalah suatu proses pengumpulan dan menganalisis informasi dari penerapan suatu program termasuk mengecek secara reguler untuk melihat apakah kegiatan program itu berjalan sesuai rencana sehingga masalah yang dilihat dan ditemui dapat diatasi. [15] Menurut Peraturan Pemerintah No. 39 Tahun 2006 (dalam IPDN, 2011), disebutkan bahwa monitoring adalah suatu kegiatan yang ditujukan untuk mengamati dengan seksama suatu situasi atau kondisi, termasuk perilaku atau kegiatan tertentu. dengan tujuan agar setiap masukan atau informasi yang diperoleh dari pengamatan tersebut dapat menjadi dasar pengambilan keputusan tindakan selanjutnya yang diperlukan. Tindakan ini diperlukan jika pengamatan menunjukkan bahwa ada hal atau kondisi yang tidak sesuai dengan yang diharapkan semula. Pemantauan dilakukan dengan tujuan agar proyek dapat mencapai tujuannya secara efektif dan efisien dengan memberikan umpan balik kepada manajer proyek di semua tingkatan.[16] Monitoring adalah proses pengumpulan dan analisis informasi secara sistematis dan berkelanjutan tentang kegiatan atau program sehingga dapat dilakukan tindak lanjut dan koreksi untuk penyempurnaan kegiatan atau program. Pada Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi sistem monitoring dimaksudkan juga untuk membantu pihak perpustakaan dalam melakukan proses pengadaan buku baru.[17] Monitoring bertujuan untuk memantau dan memeriksa suatu proses berjalan yang bermaksud mendapatkan umpan balik dan juga memperbaiki kesalahan. Tujuan dari monitoring mengumpulkan data-data yang saling berhubungan kemudian dianalisa atau di periksa, setelah itu dapat mengambil tindakan. Kegiatan ini bertujuan untuk menilai kinerja dan perkembangan fasilitas literasi yang ada, serta memberikan arahan dan dukungan untuk peningkatan kualitas layanan. Rombongan tim diterima dengan antusias oleh pengelola perpustakaan dan masyarakat setempat yang merasa senang mendapat perhatian dan kunjungan dari pihak dinas. Sasaran program bulir sebelum melakukan kegiatan buku bergilir kepada masyarakat pustakawan atau kader harus menanyakan apakah mereka ingin terlibat dalam kegiatan buku bergilir ini atau tidak. Program bulir mengatasi kondisi membaca masyarakat yang masih rendah, dengan dekatnya sumber-sumber bacaan dengan masyarakat maka diharapkan minat baca masyarakat lebih meningkat. Dengan adanya program ini juga diharapkan dapat memberikan dukungan bagi proses kemajuan nagari, karena dengan tingginya minat baca masyarakat akan berpengaruh pula terhadap kualitas sumberdaya manusia masyarakat nagari. Tim monitoring melakukan evaluasi terhadap koleksi buku, sistem katalogisasi, dan kegiatan literasi yang diadakan. Dalam diskusi yang berlangsung, tim memberikan saran untuk memperbanyak koleksi buku anak-anak dan meningkatkan kegiatan interaktif yang dapat menarik minat baca anak-anak di desa tersebut. Kegiatan monitoring dan evaluasi ini tidak hanya sebatas penilaian, tetapi juga sebagai wadah untuk memberikan pembinaan langsung. [18] Teknik monitoring adalah Dalam hubungan dengan pencatatan monitoring rutin, beberapa teknik dapat diganakan untuk mengumpulkan data untuk kepentingan monitoring adalah sebagai berikut: Observasi dengan menggunakan cek list, Survei cepat (rapid survey), Wawancara pasca-pelayanan (Exit interviews) terhadap pengguna layanan program bulir sewaktu mereka selesai dilayani Umumnya dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelumnya, Interviews terhadap petugas kegiatan program bulir, Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan pustakawan Ibu Sheren dan Ibu Siska Maharani bahwa monitoring yang pada program bulir ini adalah melakukan pengamatan, Jadi, Monitoring adalah salah satu bagian dari proses pengumpulan informasi maupun data yang bertujuan untuk menilai hasil yang dilakukan secara berkelanjutan, objektif, meningkatkan efisiensi dan efektivitas program atau kegiatan yang didasarkan pada satuan target dan aktivitas yang direncanakan. Tujuan lainnya yaitu membantu pekerjaan agar tetap di dalam jalur yang tepat, dan memberi tahu manajemen jika terdapat penyimpangan atau kesalahan.

Conclusion

1) Ketepatan tujuan Program Bulir diadakan Oleh Perpustakaan Umum Kota Solok. Tujuan program bulir pada Perpustakaan Umum Kota Solok adalah untuk meningkatkan minat baca masyarakat, meningkatkan ekonomi masyarakat, dan meningkatkan ilmu pengetahuan dan wawasan masyarakat. Serta tujuan perpustakaan dalam program bulir ini untuk membantu masyarakat dalam membangkitkan literasi serta mempermudah masyarakat mendapatkan bahan bacaan dari perpustakaan. Selain itu program bulir juga mendapatkan dukungan dan fasilitas yang baik dari pihak perpustakaan selama mengikuti kegiatan program bulir. Program bulir bertujuan untuk memberikan bantuan berupa buku kepada masyarakat khususnya yang berpenghasilan rendah, melalui program ini perpustakaan berupaya untuk meringankan beban ekonomi mereka dengan memberikan bantuan buku secara langsung adapun tujuan lain program bulir adalah untuk meningkatkan kesejahteraan sosial, mengurangi kesenjangan ekonomi dan pemulihan ekonomi masyarakat. 2) Sosialisasi Program Bulir Dalam Penerapan Layanan Di Perpustakaan Umum Kota Solok adalah langkah sosialisasi dalam memastikan efektivitas dan keberhasilan program tersebut dalam mencapai tujuannya. Melalui sosialisasi yang baik, masyarakat dapat lebih memahami manfaat serta prosedur untuk mendapatkan bantuan buku. Dengan demikian, sosialisasi Program bulir tidak hanya meningkatkan partisipasi masyarakat, tetapi memastikan bahwa bantuan tersebut benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan, sehingga secara keseluruhan dapat membantu mengurangi beban ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan sosial di tingkat lokal maupun nasional dan Pada saat melakukan sosialisasi ke masyarakat, perpustakaan akan melakukan observasi pada tiap kelurahan yang akan diikut sertakan sebagai penerima program bulir, setelah melaksanakan observasi pustakawan akan melakukan sosialisasi terhadap masyarakat dan pustakawan akan menjelaskan kepada masyarakat terkait program bulir. 3) Sasaran Program Bulir Dalam Perpustakaan Umum Kota Solok.sasaran dari program bulir ini adalah untuk memberikan bantuan buku kepada masyarakat yang membutuhkan, terutama mereka yang berpenghasilan rendah atau terdampak langsung oleh kondisi ekonomi, Sasaran utamanya adalah untuk mengurangi kesenjangan ekonomi, meningkatkan daya beli masyarakat, serta mendukung pemulihan ekonomi nasional melalui bantuan buku yang langsung diberikan kepada kelompok yang membutuhkan. Dengan demikian sasaran Program bulir adalah memberikan perlindungan sosial yang lebih baik dan membantu menciptakan stabilitas ekonomi bagi masyarakat yang rentan di Indonesia. 4) Monitoring program bulir layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial pada perpustakaan umum kota solok Monitoring juga memungkinkan untuk mengevaluasi pencapaian tujuan program, seperti peningkatan akses terhadap bahan bacaan, penguatan layanan pendidikan dan penelitian, serta memastikan keberlanjutan program di masa mendatang. monitoring Program bulir pada perpustakaan adalah untuk memastikan bahwa dana yang dialokasikan memberikan manfaat yang maksimal bagi pengembangan literasi dan pendidikan di masyarakat. 5. Saran Berkaitan dengan penelitian yang disimpulkan oleh peneliti diatas, maka yang menjadi saran dari peneliti sebagai berikut: 1. Tujuan program bulir agar buku yang diberikan pada masyarakat sebaiknnya buku yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat berdasarkan kebutuhan mereka. Saran yang lain yaitu pustakawan menyediakan berbagai informasi yang jelas dan mudah dipahami oleh masyarakat, sebaiknya kegiatan program bulir ini juga bisa berkolaborasi dengan pihak lain agar dapat memperluas wawasan masyarakat serta menambah ketersediaan dan variasi buku agar lebih menarik dan juga sesuai dengan kebutuhan masyarakat. 2. Untuk perpustakaan umum kota solok, agar lebih meningkatkan sosialisasi, Sebaiknya setiap sebelum melaksanakan kegiatan program bulir pustakawan atau pun kader yang ditunjuk untuk penyerahan buku ke masyarakat harus melakukan penjelasan secara rinci kepada masyarakat agar masyarakat mengetahui apa saja terkait program bulir. 3. Untuk sasaran program bulir, agar menyesuaikan dengan kegiatan masyarakat sehingga program bulir ini dapat terlaksanakan sesuai dengan sasaran yang dituju. 4. Monitoring yang diadakan dalam program bulir ini, Sebaiknya pustakawan melakukan kegiatan monitoring atau pemantauan dua kali dalam lima belas hari.