Kembali
16
1
2021 Jurnal Ilmu Informasi Perpustakaan dan Kearsipan Vol 10 · 2 ISSN 2302-3511

PENGELOLAAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH TERAUTOMASI BERBASIS SLIMS 9(BULIAN) DI SMPN 4 LUBUK ALUNG KABUPATEN PADANG PARIAMAN

Universitas Negeri Padang; Universitas Negeri Padang; Universitas Negeri Padang

Abstract

The purpose of this Community Partnership Program (PKM) activity is to solve school library problems in the application of information technology by providing understanding and skills in information technology-based school library management using the Senayan Library Management System (SLiMS) 9 Bulian application in accordance with the standards set for librarians or teachers. placed in the school library. In this activity, problems will be completely solved starting from understanding concepts and carrying out school library management practices by implementing a library automation system using the SLiMS 9 application. Judging from the priority problems set, the target output of the activity is that the librarian of SMPN 4 Lubuk Alung, Padang Pariaman is able to : (1) understand the meaning, nature, and function of information technology-based school libraries. At the end of the activity, a minimum of 75% of the PKM activity material can be mastered; (2) apply the knowledge gained in the management of an automated school library; and (3) the output target in the form of a process is that the SLiMS 9 application has been installed and used as a tool to replace various routine work in the library and library managers know and take advantage of various SLiMS 9 features that have been learned during the training, such as: data entry, label creation, barcoding, circulation services, membership, reporting, browsing, heading and subjecting. There is an increase in the ability of the target audience in understanding the understanding, concepts, and processes of managing and utilizing information technology-based school libraries.
Keywords: SLiMS · Information literacy · Information Technology · Management Library · School library

Introduction

Seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang pesat, kebutuhan pengguna informasi juga semakin meningkat baik kuantitas maupun kualitasnya yaitu akses informasi yang lebih cepat dan lebih luas. Teknologi informasi saat ini telah masuk ke seluruh aspek kehidupan dan mendorong seluruh instansi atau lembaga termasuk perpustakaan sekolah, untuk mau menerima dan menggunakannya. Teknologi informasi menjanjikan peningkatan mutu pelayanan perpustakaan seperti masalah kecepatan dan efisiensi kerja yang memang dibutuhkan oleh institusi yang bekerja di bidang pelayanan informasi seperti perpustakaan. Perkembangan teknologi informasi telah mengubah paradigma perpustakaan sekolah yang bersifat manual ke perpustakaan terautomasi. Kemampuan pengguna dalam menggunakan teknologi dan kesadaran terhadap teknologi merupakan aspek penting yang mendorong perubahan perpustakaan sekolah yang modern. Keberadaan sistem informasi perpustakaan sekolah dapat meningkatkan kualitas dan kecepatan proses layanan pada pengguna perpustakaan sehingga dapat memperlancar proses belajar-mengajar di lingkungan Sekolah (Johan et al., 2017). Pustakawan yang bekerja di bidang pengelolaan dan pelayanan informasi dituntut selalu meningkatkan kompetensinya, terutama kompetensi bidang teknologi informasi agar dapat melayani pengguna informasi secara profesional. Pustakawan sekolah adalah tenaga kependidikan berkualifikasi serta profesional yang bertanggung jawab atas perencanaan dan pengelolaan perpustakaan sekolah, didukung oleh tenaga yang mencukupi, bekerja sama dengan semua anggota komunitas sekolah dan berhubungan dengan perpustakaan umum dan lain-lainnya (Suherman, 2009). Perpustakaan sekolah perlu dikelola oleh pustakawan dengan tanggungjawab dan dedikasi yang tinggi terhadap layanan. Pustakawan sekolah harus mempunyai jiwa sabar, serta dituntut untuk memahami apa arti pendidikan sesungguhnya. Pustakawan sekolah juga harus bersifat proaktif dan suka menolong. Siswa yang kurang paham bagaimana cara mengakses sebuah koleksi harus dibantu agar bisa menemukan informasi yang dibutuhkannya dengan cepat dan tepat. Melalui informasi inilah siswa bisa lebih berkiprah dalam meraih prestasi. Tenaga perpustakaan sekolah seperti yang telah tertuang dalam Permendiknas Nomor 25 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Perpustakaan Sekolah/Madrasah perlu untuk memiliki kompetensi-kompetensi yang menunjang profesi pustakawan. Kompetensi tersebut salah satunya adalah kompetensi pengelolaan informasi. Kompetensi pengelolaan informasi tersebut memiliki indikator yaitu dalam memanfaatkan teknologi informasi dan komunikas (TIK) untuk pengorganisasian dan penelusuran informasi (Andriani & Indonesia, n.d.)3. Tenaga perpustakaan sekolah yang mampu menerapkan teknologi informasi dan komunikasi yang baik dalam penyelenggaraan perpustakaan berdampak pada kualitas penyelenggaraan perpustakaan sekolah tersebut. Di sisi lain, semakin kompleksnya koleksi perpustakaan, data peminjaman, transaksi dan sirkulasi koleksi perpustakaan, saat ini muncul kebutuhan akan penggunaan teknologi informasi untuk otomatisasi proses yang ada diperpustakaan. Sistem yang dikembangkan dengan pemikiran dasar bagaimana dilakukan otomatisasi terhadap berbagai proses kegiatan di perpustakaan, kemudian dikenal dengan sebutan sistem otamasi perpustakaan (library automation system). Otomasi perpustakaan merupakan sistem yang mengkomputerisasikan beberapa kegiatan yang dilakukan pada perpustakaan tradisional seperti kegiatan pengolahan bahan pustaka, sirkulasi, katalog publik (OPAC), pengadaan (akuisisi), manajemen keanggotaan, pengelolaan terbitan berseri (Azwar, 2013). Dalam undang-undang perpustakaan nomor 43 tahun 2007, Bab V, Pasal 14 ayat 2: setiap perpustakaan menerapkan tata cara layanan perpustakaan sesuai dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Dan pada Bab V, Pasal 14, ayat (6) dan (7): layanan perpustakaan terpadu diwujudkan melalui kerjasama antar perpustakaan dan layanan perpustakaan secara terpadu dilaksanakan melalui jejaring telematika. Perkembangan teknologi baru di bidang komputer dan informasi membawa dua hal sekaligus yaitu harapan dan kekuatiran. Terkandang keduanya sama besar mempengaruhi hidup kita; terkadang yang satu lebih kuat dari pada yang lainnya. Teknologi baru juga hampir selalu memerlukan solusi baru karena biasanya selalu harus ada perubahan dan setiap perubahan itu menimbulkan perombakan, baik besar maupun kecil (Pendit, 2007). Konsekuensi dari terjadinya perubahan dalam paradigma perpustakaan sekolah, mengharuskan perlunya keberanian dari para pengelola perpustakaan sekolah untuk melakukan inovasi dan pembaruan-pembaruan dalam mengelola perpustakaannya, pada berbagai kegiatan dan operasinya yang tentunya berhubungan dengan perkembangan teknologi informasi. Hadirnya teknologi informasi harus bisa dipahami dan dimanfaatkan secara positif, kreatif dan konstruktif oleh pengelola perpustakaan sekolah. Berhadapan dengan fenomena perubahan yang terjadi, pustakawan harus memiliki kemampuan melihat dengan jelas apa yang sesungguhnya berubah dan apa yang tetap sama (Siregar, 2004). Penerapan teknologi informasi di perpustakaan dapat difungsikan dalam berbagai bentuk, antara lain sebagai berikut: (1) teknologi informasi digunakan sebagai Sistem Informasi Manajemen Perpustakaan. Bidang pekerjaan yang dapat diintegrasikan dengan sistem informasi perpustakan adalah pengadaan, inventarisasi, katalogisasi, sirkulasi, pengelolaan anggota, statistik, dan sebagainya. Fungsi ini sering diistilahkan sebagai bentuk automasi perpustakaan; (2) teknologi informasi sebagai sarana untuk menyimpan, mendapatkan, dan menyebarluaskan informasi ilmu pengetahuan dalam format digital. Bentuk ini sering disebut juga sebagai perpustakaan digital (Supriyanto, 2012). Pemanfaatan teknologi informasi di perpustakaan sekolah sudah seharusnya dilakukan, agar perpustakaan tetap diminati dan dapat memberikan kepuasan kepada pemustakanya. Di sisi lain penggunaan teknologi informasi telah banyak membantu pengelola perpustakaan (pustakawan) untuk meningkatkan mutu pelayanan dan memperkenalkan berbagai jenis layanan baru yang sebelumnya tidak mampu dilakukan perpustakaan sekolah. Berdasarkan pengamatan ternyata banyak perpustakaan sekolah belum memanfaatkan teknologi informasi khususnya komputer untuk pengelolaan perpustakaan. Kalau di lihat di lapangan rata-rata sekolah sudah memiliki komputer. Bahkan ada yang khusus di letakan di perpustakaan sekolah tetapi sebagai besar sekolah belum memanfaatkan komputer untuk pengelolaan kegiatan perpustakaan. Belum di manfaatkannya komputer untuk kegiatan pengelolaan perpustakaan di sekolah di sebabkan berbagai faktor mulai dari tidak mampunya pengelola perpustakaan sekolah menggunakannya untuk kegiatan pengelolaan perpustakaan sekolah, dana dan sarana prasarana. Dewasa ini perpustakaan sekolah sedang digalakan pemerintah. Sehubungan dengan itu, pemerintah pun menganjurkan agar setiap sekolah memiliki perpustakaan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Tidak terkecuali di SMPN 4 Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman. Tetapi pada pelaksanaannya hanya sebagian kecil perpustakaan sekolah di Kabupaten Pariaman yang sudah memanfaatkan teknologi informasi untuk kegiatan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan. Berdasarkan observasi yang dilakukan tim PKM Perpustakaan SMPN 4 Lubuk Alung belum memanfaatkan teknologi informasi untuk pengelolaan perpustakaan sekolah sesuai standar yang ditentukan. Jumlah petugas perpustakaan sudah sesuai dengan kebutuhan tetapi tidak memiliki latar belakang bidang Ilmu Perpustakaan. Dilihat dari segi koleksi yang dimiliki terbatas dan banyak koleksi-koleksi lama yang sudah tidak relevan lagi dengan kurikulum 2013. Jika dilihat dari kunjungan siswa dan guru ke perpustakaan kurang dikarena berbagai faktor mulai dari koleksi, sarana prasarana dan penataan ruangan. Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah dan pengelola perpustakaan sekolah SMPN 4 Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman dapat disimpulan sebagai berikut. a. Perpustakaan sekolah SMPN 4 Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman butuh masukan dan bimbingan dari tim PKM berkaitan dengan pengelolaan perpustakaan berbasis teknologi informasi untuk menundukung “visi SMPN 4 Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman Lubuk Sikaping Unggul dalam Iptek, berwawasan global, berbudaya, berlandaskan Iman dan Taqwa” melalui perpustakaan sekolah. b. Pengelola perpustakaan sekolah SMPN 4 Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman membutuhkan cara pengelolaan perpustakaan sekolah sesuai dengan standar perpustakaan sekolah dengan penerapan teknologi informasi. c. Pengelola perpustakaan sekolah belum memiliki pengetahuan bagai mana mengelola perpustakaan sesuai dengan standar pengelolaan perpustakaan sekolah yang memanfaatkan teknologi informasi. d. Fasilitas untuk melakukan pengelolaan perpustakaan sekolah sudah ada tetapi belum di manfaatkan secara maksimal. Tim PKM akan menggunakan Salah satu software yang dapat memenuhi kebutuhan otomasi perpustakaan sekolah melalui aplikasi Senayan Library Management System (SLiMS) Versi 9 Bulian yang merupakan salah satu Free Open Source Software berbasis web yang dapat digunakan untuk membangun sistem otomasi perpustakaan. Software SLiMS 9 atau Senayan adalah salah satu open source software yang sudah banyak digunakan oleh perpustakaan sekolah, dan telah teruji kemampuannya dalam membantu menangani tugas dan fungsi perpustakaan sehingga Senayan bisa direkomendasikan sebagai software otomasi perpustakaan di sekolah . Penggunaan teknologi informasi memberikan keuntungan bagi perpustakaan, yaitu membuat pekerjaan pustakawan lebih efektif dan efisien serta dapat meningkatkan kualitas layanan perpustakaan. Sistem otomasi perpustakaan digunakan untuk menangani berbagai tugas dan kegiatan untuk pengelolaan sistem dan manajemen perpustakaan seperti pencatatan, perekapan, pencetakan, pelaporan, dan sebagainya dengan menggunakan teknologi komputer. Berdasarkan analisis situasi di atas, tim dosen Perpustakaan dan Ilmu Informasi, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang perlu diselenggarakan sebuah program memberikan bantuan dalam bentuk pengelolaan perpustakaan sekolah berbasis teknologi informasi di SMPN 4 Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman.

Method

Metode yang ditawarkan untuk memecahkan masalah adalah dengan melaksanakan pelatihan secara menyeluruh (teori dan praktik) sehingga kemampuan petugas atau guru yang ditempatkan diperpustakaan dapat ditingkatkan dalam pengelolaan perpustakaan sekolah berbasis teknologi informasi menggunakan software SLiMS. Agar tujuan dapat dicapai secara maksimal, maka metode pendekatan dilakukan adalah berupa proses tahap demi tahap. a. Penulisan Modul Pengelolaan Perpustakaan Sekolah Berbasis Teknologi Informasi 1. Pengertian dan pentingnya perpustakaan sekolah 2. Hakikat, fungsi dan tujuan perpustakaan sekolah 3. Dasar-dasar teknologi informasi perpustakaan 4. Penerapan teknologi informasi di perpustakaan 5. Kebutuhan perangkat 6. Software perpustakaan sekolah 7. SLiMS b. Penyajian materi sesuai dengan isi modul pengelolaan perpustakaan sekolah berbasis teknologi informasi. Penyajian dilakukan dengan metode ceramah dibantu dengan media power point dan diskusi kelompok kecil. c. Pelatihan dengan bimbingan individu. Pelatihan difokuskan kepada: 1. Pengenalan SliMS 2. Instalasi SLiMS source code 3. Instalasi psenayan 4. Instalasi SLiMS di OS lain 5. Pengenalan dan praktik modul system 6. Pengenalan dan praktik bibliography dan master file 7. Pengenalan dan praktik modul pelaporan 8. Pengenalan pembuatan barcode dan kartu anggota menggunakan SliMS 9. Pengenalan dan praktik jaringan komputer sederhana 10. Optimalisasi SliMS A. Rencana Kegiatan Kegiatan dilaksanakan selama delapan bulan dengan rencana kegiatan sebagai berikut. 1. Persiapan Kegiatan yang dilakukan pada persiapan ini adalah: a) Pemantapan jadwal: yaitu penentuan jadwal konkrit bersama mitra setelah usulan kegiatan disetujui untuk dilaksanakan. b) Koordinasi dengan pihak terkait, terutama LP2M UNP beserta mitra melakukan pengurusan izin pelaksanaan kegiatan. c) Rekrutmen peserta: peserta sebanyak 10 orang yang terdiri dari petugas perpustakaan dan guru yang mengelola perpustakaan SMPN 4 Lubuk Alung. Rekrutmen peserta dilakukan atas kerjasam Tim Pelaksana dengan kepala sekolah. 2. Pelaksanaan kegiatan a) Persiapan materi pelatihan berupa penulisan modul Pengelolaan Perpustakaan Sekolah Berbasis Teknologi Informasi. b) Penggandaan dan distribusi modul Pengelolaan Perpustakaan Sekolah Berbasis Teknologi Informasi kepada khalayak sasaran. c) Penyajian materi sesuai dengan isi modul Pengelolaan Perpustakaan Sekolah Berbasis Teknologi Informasi. Penyajian dilakukan dengan metode ceramah dibantu dengan media power point dan diskusi kelompok kecil. d) Pelatihan dengan bimbingan individual. Pelatihan difokuskan instalasi SLiMS source code, instalasi psenayan, instalasi SLiMS di OS lain, pengenalan dan praktik modul system, pengenalan dan praktik bibliography dan master file, pengenalan dan praktik modul pelaporan, pengenalan pembuatan barcode dan kartu anggota menggunakan SliMS, pengenalan dan praktik jaringan komputer sederhana, dan optimalisasi SliMS. 3. Evaluasi ketercapaian tujuan, evaluasi dilakukan pada awal, proses, dan akhir kegiatan 1) Evaluasi awal digunakan untuk mengukur kemampuan awal calon peserta 2) Evaluasi proses digunakan untuk mengukur kemampuan peserta pada setiap tahap kegiatan. Sehingga tahap kegiatan selanjutnya dapat diperbaiki dan disempurnakan. Teknik yang digunakan untuk mengukur proses kegiatan yang dilaksanakan khalayak sasaran adalah observasi, dengan alat berupa panduan observasi. 3) Evaluasi akhir dimaksudkan untuk mengukur ketercapaian tujuan program kegiatan. Indikator keberhasilan adalah pencapaian target luaran kegiatan. Teknik untuk mengukur dilakukan dengan tes akhir dan observasi kualitas produk yang dihasilkan.

Result & Discussion

Kegiatan pengabdian masyarakat dilakasanakan dengan memberikan pelatihan implementasi SLiMS (Senayan Library Management System) versi 9 di Perpustakan SMPN 4 Lubuk Alung Padang Pariaman. Perpustakaan ini merupakan perpustakan sekolah yang melayani kebutuhan informasi siswa-siswi SMPN 4. Perpustakaan ini dipilih karena masih ditemukannya masalah serta keterbatasan dalam pengelolaan koleksinya. Pengelolaan perpustakaan sekolah yang baik sangat diperlukan mengingat keterampilan pengelola perpustakaan akan memberikan pengaruh yang positif terhadap perkembangan minat baca siswa. Untuk itu, pelaksanaan kegiatan PKM ini akan memberikan pengetahuan dan keterampilan bagi pengelola perpustakaan SMPN 4 sehingga dapat meningkatkan mutu pengelolaan perpustakaan dan dapat mengatasi beberapa keterbatasan yang dihadapi. Dalam kegiatan PKM ini, Tim membagi kegiatan dalam beberapa tahap yakni: 1. Menyediakan aplikasi sumber terbuka berupa SliMS 9 Bulian kepada pengelola perpustakaan SMPN 4 2. Melakukan kegiatan pengenalan dan pelatihan penggunaan perangkat lunak SliMS 9 dengan menenalkan beberapa modul yakni: Keanggotaan, Bibliografi, Sirkulasi, dan inventarisasi. 3. Pendampingan penerapan dan penggunaan SliMS di Perpustakaan SMPN 4 Lubuk Alung Pelatihan pengelolaan perpustakaan sekolah terotomasi berbasis SliMS 9 Bulian di SMPN 4 Lubuk alung diawali dengan melakukan wawancara kepada pengelola perpustakaan terkait pemahaman akan pengelolaan perpustakaan berbasis teknologi informasi. Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan menyampaikan materi dan demonstrasi langsung kepada pengelola perpustakaan yang meliputi kegunaan dan defenisi SliMS 9, instalasi dan konfigurasi, menambahkan anggota, bibliografi, serta melakukan layanan sirkulasi. Pemberian materi dan demonstrasi langsung kepada peserta dapat menunjukkan secara langsung objek atau suatu proses dalam melakukan sesuati (irma, 2019). Dalam proses ini pengabdi memastikan bahwa materi disampaikan langkah demi langkah dan seluruh peserta dapat memahaminya dengan baik. Gambar 1. Bimibngan Langsung Instalasi SLiMS 9 Bulian Gambar 2. Bimibngan Langsung Input Data Koleksi di SLiMS 9 Bulian Gambar 3. Foto Bersama Pengelola Perpustakaan Dalam proses PKM ini tim pengabdi mendampingi peserta secara langsung untuk melakukan entri dan pengelolaan koleksi menggunakan SliMS 9 Bulian. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa peserta pelatihan dapat memahami langkah demi langkah dasar pengelolaan koleksi memanfaatkan perangkat lunak otomasi SLiMS 9. Kegiatan PKM dilanjutkan dengan bimbingan individual berupa praktik penggunaan aplikasi SLiMS mulai dari instalasi, pengimput data buku, pembuatan barcode, kartu anggota, membuat label buku dan melakukan penyiapan fisik bahan pustaka. Tersampaikannya materi yang sangat dibutuhkan khususnya oleh para pengelola perpustakaans sekolah berbasis teknologi informasi menggunakan aplikasi SLiMS. Peserta sangat antusias dalam mengikuti setiap materi yang disampaikan, sehingga tidak hanya pengalaman secara kognisi dan afeksi saja yang mereka peroleh selama mengikuti kegiatan ini, namun diharapkan mereka juga menerapkannya dalam kegiatan praktis (psikomotorik). Terjalinnya kerjasama yang erat, diharapkan dapat ditindaklanjuti dengan terus membina kerjasama di masa yang akan datang. Kegiatan PKM ini mendapatkan respons yang positif, peserta sangat mengharapkan apa yang sudah mereka dapatkan selama mengikuti kegiatan dapat dilaksanakan dengan baik serta berupaya melakukan berbagai inovasi dalam meningkatkan pemberdayaan perpustakaan sekolah sebagai salah satu sumber belajar di sekolah. Pada tahap akhir pelaksanaan kegiatan melakukan evaluasi baik langsung maupun tidak langsung terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam pengelolaan perpustakaan sekolah berbasis teknologi informasi. Monitoring dan evaluasi dilaksanakan dalam rangka menindaklanjuti kegiatan pendampingan dan pengelolaan perpustakaan sekolah yang telah dilaksanakan pada kegiatan PKM. Tim PKM menyampaikan instrument monitoring dan evaluasi pengelolaan perpustakaan sekolah berbasis aplikasi SLiMS.

Conclusion

Berdasarkan hasil pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat berupa pelatihan pengelolaan perpustakaan sekolah berbasis teknologi informasi dan sosialisasi literasi informasi yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan sebagai berikut. 1. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan memberikan manfaat bagi peserta pelatihan terutama dalam meningkatkan pengetahuan dan konsep pengelolaan perpustakaan sekolah berbasis teknologi informasi dengan menggunakan aplikasi Senayan Library Management System SLiMS 9 Bulian. Disamping itu, menanamkan keterampilan pada para peserta pelatihan dalam mengelola dan memanfaatkan perpustakaan sekolah sebagai salah satu sumber belajar di sekolah. 2. Kegiatan PKM dalam hal pengelolaan perpustakaan sekolah berbasis teknologi informasi dapat dijadikan sarana sharing pengetahuan konseptual pengelolaan perpustakaan sekolah berbasis teknologi informasi dengan praktek pelaksanaan pengelolaan perpustakaan sekolah dalam kenyataannya. Berdasarkan simpulan dapat disarankan sebagai berikut. 1. Bagi pengelola perpustakaan sekolah diharapkan mau menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam pengelolaan perpustakaan sekolah menggunakan aplikasi SLiMS. 2. Kegiatan pengelolaan dan pemberdayaan perpustakaan sekolah perlu dilaksanakan di masa-masa mendatang sebagai bagian dari Tri Darma Perguruan Tinggi.