Meningkatkan Kualitas Literasi Masyarakat Kelurahan Air Tawar Barat dengan Penerapan E-Library
Universitas Negeri Padang; Universitas Negeri Padang
Abstract
This paper aims to facilitate and improve public literacy, especially school age and equivalent. It is necessary to carry out evaluation actions in the school environment for literacy, especially reading interest. This is proven from the results of UNESCO's research (2016) on Indonesia which shows that only 1 person has an interest in reading as well as a report from PISA (Program Of International Student Assessment) 2018 Indonesia is ranked in the bottom 6 of 78 countries in terms of reading. The younger generation, especially students, must be instilled or instilled a critical literacy attitude to obtain truth information, knowledge, enlightenment and avoid false information (HOAX) and theories that have no knowledge base. Libraries have a vital role in terms of providing information and reference sources of knowledge. Therefore, the authors want to implement E-Library in the library as an effort to facilitate the public in obtaining information and increasing students' reading interest by using artificial intelligence that helps students understand the material or information provided efficiently and easily. The application of e-library has changed the perspective of Generation Alpha and Generation Z of libraries and the selection of libraries as sources of information and references. The results of this study change the point of view of users from generation Alpha and generation Z to the library as a printed or digital reference source in meeting information needs.
Keywords:
Library
· E- Library
· Librarian
· Literacy
Introduction
Di era revolusi industri 4.0 saat ini masyarakat di tuntut untuk mampu beradaptasi dengan cepat akan setiap perubahan yang terjadi. Hal ini juga berlaku dalam mendapatkan literatur, pengetahuan dan informasi secara cepat dan akurat. Kemampuan literasi masyarakat dalam mencari dan memahami informasi yang beredar di masyarakat juga mengalami perubahan drastis dalam bentuk, luas cakupan informasi dan akses yang tak terbatas. Namun hal tersebut berbanding terbalik dengan tingkat literasi Indonesia yang masih sangat memprihatinkan dilansir dari OECD,PISA 2018 ( Schleicher, PISA 2018), Indonesia berada pada peringkat ke-6 bawah dari negara partispan. Berdasarkan survei UNESCO pada tahun 2016 indeks budaya baca masyarakat Indonesia bisa dikatakan masih sangat rendah yaitu sebanyak 0,001% artinya dari 1000 orang di Indonesia hanya 1 orang yang memiliki minat baca ( KOMINFO, 2017). Salah satu media sumber informasi yang bisa di akses oleh siapa saja dimana saja dan kapan saja adalah internet. Di era revolusi industri 4.0 sekarang ini masyarakat Indonesia mampu mengakses internet dengan biaya yang relatif murah. Kemampuan internet yang mencakup seluruh dunia dapat menghantarkann berbagai informasi dari seluruh dunia tanpa ada sekat pembatas. Perangkat media akses internet saat ini sudah dalam bentuk genggaman portable dan mudah untuk di dapatkan serta penggunaannya. Berdasarkan data laporan dari Lembaga riset digital Marketing Emarketer memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia lebih dari 100 juta orang. Indonesia adalah negara pengguna “ Gawai” smartphone terbesar ke-4 di dunia setelah Cina, India, dan Amerika serikat ( KOMINFO, 2017). Penggunaan Gawai secara masif juga berdampak pada daya literasi masyarakat dampak positif jumlah literatur bertambah banyak serta mudah di akses, dampak negatif masyarakat mendapat berita palsu atau “HOAX” dengan mudah tesebar di masyarakat. Penerapan E-Library menjadi upaya meningkatkan literasi masyarakat setempat yang paling efektif dan mudah di terapkan karena jumlah pengguna gawai di lingkungan Air Tawar Barat yang sangat masif. Penulis berharap penelitian ini bisa diterapkan di lingkungan Air Tawar Barat secara efektif dan berjalan optimal sesuai dengan tujuan penelitian yang di harapkan. 1. Rumusan Masalah Berdasarkan pemaparan latar belakang di atas, rumusan masalah yang di bahas dalam penulisan adalah Bagaimana upaya untuk Meningkatkan kualitas literasi masyarakat kelurahan Air Tawar Barat dengan penerapan E-Library. Dengan pertanyaan yang timbul berupa 1) Faktor yang mempengaruhi literasi masyarakat kelurahan Air Tawar Barat? 2) Upaya yang dilakukan Kelurahan agar masyarakat kelurahan Air Tawar Barat memiliki kemampuan literasi yang berkualitas.? 2. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab kualitas literasi masyarakat di kelurahan Air Tawar Barat yang rendah serta mengetahui upaya yang dilakukan Kelurahan Air Tawar Barat dalam meningkatkan kualitas literasi masyarakat di Kelurahan Air Tawar Barat. Manfaat Penelitian Pertama, bagi penulis, dapat memberikan wawasan dan ilmu pengetahuan mengenai kebutuhan informasi dan kemampuan literasi masyarakat kelurahan Air Tawar Barat saat ini. Kedua, bagi pustakawan, penelitian ini di harapakan dapat digunakan sebagai bahan koreksi maupun acuan dalam menjalankan tugasnya sebgai seorang pustakawan. 3. Tinjauan Pustaka Di era digitalisasi, perpustakaan perlu mengikuti alur perkembangan teknologi dan menyesuaikan kebutuhan pemustakanya. Penerapan perpustakaan digital dinilai lebih efisien dan praktis terutama saat masa pandemi COVID-19 di mana masyarakat diminta untuk mengurangi aktivitas yang bersifat mengumpulkan kerumunan. Menurut Undang- undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan, bahwa perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya cetak, dan karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Menurut Mansyur (2018) minat baca adalah tingkat kesenangan yang kuat karena adanya dorongan yang timbul pada diri seseorang dalam melakukan segala sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan membaca untuk memperoleh informasi, serta menimbulkan kesenangan dan manfaat bagi dirinya. Penelitian Digital Library Suharso 2020, “ Layanan Perpustakaan Perguruan Tinggi dalam Menghadapi Pandemi Covid-19” penelitian ini mengkaji kebutuhan digital library dan perpustakaan Hibrida dalam melayani pemustaka perguruan tinggi di masa pandemi Covid-19. Penelitian aplikasi perpustakaana digital dalam penelitian (Dewi,2019) “Penggunaan Mobile Library untuk Perpustakaan Digital” membahas penerapan aplikasi yang bisa di akses pemustaka melalui Gawai/ Smartphone dengan fitur layanan yang memudahkan pemustaka dalam mendapatkan kebutuhannya dalam genggaman. Peluang digital library/ perpustakaan digital dalam melayani kebutuhan informasi pemustaka lebih efektif dan efisien. Hal ini mampu meningkatkan daya literasi pemustaka secara praktis, efisien dan efektif dimana, dan kapan saja selama selama perangkat pengguna/pemustaka terhubung akses internet. Pengguna perpustakaan digital di masyarakat di nilai efektif dan efisien dalam meningkatkan informasi serta daya literasi di masyarakat. Terutama masyarakat Kelurahan Air Tawar Barat.
Method
Penelitian kualitatif dengan jenis penelitian kualitatif metode deskriptif. Adapun yang dimaksud dengan penelitian kualitatif yaitu penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah Moleong (2007: 6). Jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah data kualitatif. Data kualitatif yaitu data yang hanya dapat diukur secara tidak langsung (Hadi, 2015: 91). Penggunaan pendekatan penelitian ini disesuaikan dengan tujuan pokok penelitian, yaitu untuk mendeskripsikan tentang pemanfaatan E- Library sebagai upaya meningkatkan literasi masyarakat di Kelurahan Air Tawar Barat. Data penelitian ini diperoleh dengan menggunakan dokumentasi yang meliputi dokumen peraturan perundang undangan atau peraturan pemerintah, hasil-hasil penelitian seperti artikel atau jurnal yang memiliki relevansi dengan penelitian ini. Analisis data yang digunakan adalah menggunakan tringulasi data Miles & Hubberman (Nahdi& Yunitasari, 2019; Ramdhani et al., 2019)
Result
Literasi dan minat baca merupakan kegiatan yang saling terhubung satu sama lain. Menurut Saleh literasi adalah kemampuan untuk tahu kapan ada kebutuhan untuk informasi, untuk dapat mengidentifikasi, menemukan, mengevaluasi, dan secara efektif menggunakan informasi tersebut untuk isu atau masalah yang di hadapi. Menurut Mansyur minat baca adalah tingkat kesenangan yang kuat karena adanya dorongan yang timbul pada diri seseorang dalam melakukan segala sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan membaca untuk memperoleh informasi, serta menimbulkan kesenangan dan manfaat bagi dirinya. Berdasarkan pengamatan di lapangan Generasi Alpha atau generasi yang lahir di tahun 2011-2025. Generasi Alpha merupakan generasi yang belum bergantung secara ekstrim kepada gawai. Hal ini menjadi peluang untuk mengarahkan generasi muda untuk memiliki literasi kritis, analisis kritis, dan berwawasan yang luas. Setelah mengetahui permasalahan dari generasi Alpha dan generasi Z, peneliti melakukan kegiatan atau arahan bahan digital berupa channel edukasi contoh : Sisi Terang, kok Bisa dan lain sebagainya. Generasi Z dan Alpha telah bersentuhan secara langsung dengan Gawai. Paparan arus informasi yang tidak terbendung dan tidak terbatas merubah pola pikir generasi Alpha dan Generasi Z. Pengarahan materi edukasi dengan cara yang mereka sukai yaitu penjelasan materi berupa Video, buku beranimasi dan penjelasan singkat isi bahan bacaan yang disediakan. Dari 3 orang generasi Alpha dan 2 orang Generasi Z yang diteliti, 3 orang generasi Alpha mengikuti pembelajaran dengan runtut memperhatikan setiap materi yang di sampaikan melalui video hingga video selesai. Generasi Alpha lebih terangsang untuk meperhatikan bahan bacaan yang memilih menyimak setiap materi dan tertarik mempelajari materi yeng lebih banyak lagi. Generasi Z justru masih melakukan kegiatan Skip atau melewatkan beberapa bagian. Generasi Z justru mendapat tantangan untuk membuka hal lain di gawai mereka. Dalam kegiatan penerapan E-library, juga memperlihatkan frekuensi pemakaian gawai pada kedua generasi. Generasi Alpha dengan memberikan perjanjian atau syarat terlebih dahulu sebelum pemakaian gawai menjadi lebih terkontrol dan kondusif. Untuk Generasi Z pemakaian gawai yang masif bahkan bergantung pada gawai menjadi tantangan tersendiri untuk meningkatkan mutu literasi dan informasi yang berkualitas. Penggunaan bahan bacaan pada generasi Alpha lebih tertarik dengan penjelasan dan animasi pada buku sedangkan generasi Z sebatas mengetahui bahan yang terkandung di dalam buku dan membaca beberapa bagian tidak sepenuhnya. Perpustakaan konvensional bagi generasi Alpha dan generasi Z menjadi wahana yang membosankan tetapi kebutuhan informasi bagai generasi Alpha dan generasi Z sangat kritis. Dengan bantuan pustakawan dalam membimbing pemustaka untuk datang ke perpustakaan menarik minat baca dengan program andalan, pelatihan literasi yang kritis dan menyenangkan pemustaka. Serta kemudahan pemustaka dalam mengakses perpustakaan melalui e -library.
Result & Discussion
1. Perpustakaan Istilah perpustakaan dalam bahasa Inggris adalah library, maktabah (bahasa Arab), bibliotica (bahasa Italia), bibliotheqke ( bahasa Prancis), bibliothek (bahasa Jerman) dan bibliotheck (bahasa Belanda). Pengertian perpustakaan adalah kumpulan bahan informasi yang terdiri dari bahan buku/book materials dan bahan non buku/ non book materials yang di susun dengan sistem tertentu dipersiapkan untuk diambil manfaatnya/pengertiannya. Tidak untuk dimiliki sebagian maupun keseluruhannya. Perpustakaan mengandung arti : (1) kumpulan buku - buku bacaan, (2) bibliotek, dan (3) buku-buku kesusasteraan(Kamus Besar Bahasa Indonesia-KBBI). Menurut Surat Edaran Bersama ( SEB) Kepala Perpustakaan Nasional RI dan Kepala BAKN nomor 53649/MPK/1998 dan nomor 15/SE/1998 tentang jabatan fungsional perpustakaan. Pengertian perpustakaan adalah lembaga, kantor atau unit kerja lain yang sekurang-kurangnya memiliki 1000 ( seribu) judul bahan pustaka yang terdiri dari sekurang- kurangnya 2.500 (dua ribu lima ratus) eksamplar dan dibentuk dengan keputusan pejabat yang berwenang. Secara awam masyarakat mengenal perpustakaan sebagai tempat, ruangan atau tempat bertumpuknya buku- buku tempat bagi orang yang kutu buku. Spekulasi seperti ini sering bermunculan di masyarakat Indonesia, dimana pendangan ini tidak tepat atau tidak seseaui dengan fungsi dari perpustakaan itu berdiri atau ada. Adapun fungsi dari layanan perpustakaan yaitu : 1. Perpustakaan harus dapat memberikan informasi kepada pemustaka. 2. Memberikan kesempatan kepada pemustaka untuk mengadakan penelitian. 3. Mempertemukan pemustaka dengan bahan pustaka yang mereka minati. 4. Menyelenggarakan kegiatan yang membuat pemustaka senang datang keperpustakaan. 5. Pengadaan bahan-bahan pustaka yang dikehendaki pemustaka sesuai dengan kebutuhan informasi. Pandangan generasi Alpha dan generasi Z terhadap perpustakaan di masa sekarang dianggap sebagai tempat yang membosankan, tempat tumpukan buku-buku saja. Sehingga fungsi perpustakaan sebagai sumber informasi menjadi pasif atau tidak berjalan sesuai tujuan perpustakaan itu sendiri. 2. Pustakawan Pustakawan merupakan sumber daya manusia yang menjadi bagian terpenting dalam sebuah perpustakaan. Pustakawan merupakan seseorang yang memiliki kompetensi yang di peroleh melalui jalur pendidikan atau suatu pelatihan mengenai kepustakawanan serta memiliki tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan di suatu perpustakaan ( Undang-Undang Nomor 43, 2007). Pustakawan merupakan aktor perpustakaan yang perlu menambah wawasan dan menupdate pengetahuan terkait kompetensinya baik melalui pendididkan formasi maupun non-formal ( Sugandi dalam Nashihuddin, Wahid dan Suryono, 2018). Pustakawan harus memiliki sikap yang luwes dan selalu siaga untuk menghadapi perubahan, mampu berpandangan luas dan melihat referensi secara luas di luar perpustakaan untuk meningkatkan layanan di tempatnya bekerja ( Widyawan dalam Ardyawin, 2017). Pada era disrupsi ini pustakawan harus memfokuskan pada pemanfaatan teknologi digital dan internet di perpustakaan yang saling terhubung dalam sebuah komunitas sosial yang mempertimbangkan aspek pengembangan teknologi digital perpustakaan yang memfasilitasi makerspace, digitalisation, big data, cloud computing, augmented reality,dan artificial intelligence (Noh dalam Nashihuddin, Wahid dan Suryono, 2018). Kompetensi pustakawan sebagai berikut : 1) kompetensi teknologi informasi dan komunikasi; 2) kompetensi komunikasi; 3) kompetensi organisasi informasi; 4) kompetensi kerjasama; 5) kompetensi psikologi; 6) kompetensi inovasi dan kreatifitas ( Herlina,2017). Peran seorang pustakawan sangat penting dalam menyeleksi bahan referensi yang disediakan oleh perpustakaan sebelum di gunakan oleh pemustaka. Hal ini beguna agar informasi/ referensi tepat sasaran di tangan pemustaka yang membutuhkan “ sesuai umur, profesi, geografis, sosial budaya” informasi yang disediakan oleh suatu perpustakaan, kualitas, keabsahan, keterbaruan referensi dan jumlah referensi atau bahan pustaka bergantung pada profesionalitas pustakawan di perpustakaan tersebut dalam menganalisa kebutuhan pemustakanya. Sedangkan kompetensi pribadi pustakawan meliputi: 1. komitmen untuk pelayanan prima 2. mencari tantangan dan melihat kesempatan baru di dalam maupun di luar perpustakaan 3. turut menciptakan lingkungan yang saling respek dan saling mempercayai 4. memiliki kemampuan komunikasi yang efektif 5. mampu bekerja dengan baik dalam tim 6. memiliki kemampuan kepemimpinan 7. merencanakan, memprioritaskan, dan berfokus pada apa yang mendesak 8. berkomitmen terhadap pembelajaran seumur hidup (lifelong learning) 9. memiliki skill bisnis dan menciptakan kesempatan baru 10. mengetahui nilai dari jejaring dan solidaritas profesional 11. bersikap fleksibel dan positif dalam menghadapi perubahan Pustakawan sebagai profesionalitas yang mengelola perpustakaan dituntut untuk melayani pengguna atau pemustaka dalam menggunakan layanan sarana dan prasarana yang di sediakan perpustakaan. Pustakwan di saat ini harus mampu mengajak generasi Alpha dan generasi Z untuk mengunjungi atau menggunakan perpustakaan. 3. Minat Membaca Santoso (2009) berpendapat, membaca merupakan kegiatan memaham bahasa tulisan. Membaca berasal dari kata dasar baca yang berarti mengeja. Membaca dapat diartikan bahwa proses melihat dan memahami sebuah tulisan dengan cara mengeja dan melafalkan (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2016). Menurut Cole dalam Suwanryono Wiyodijoyo (1989) membaca adalah proses psikologi untuk menentukan arti kata-kata tertulis. Minat dalam KBBI (2016) diartikan sebagai kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu dengan gairah atau semangat. Sementara itu, membaca merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang berkaitan erat dengan kebutuhan hidup manusia Sebagai keterampilan dasar yang dimiliki setiap orang, membaca menjadi penunjang kemampuan dasar manusia lainnya, yaitu menulis dan berbicara. Hal ini menandakan bahwa minat baca yang tinggi juga akan meningkatan kemampuan seseorang dalam menulis ataupun berbicara. Pada dasarnya, minat baca tumbuh karena adanya dorongan dari diri masing-masing. Namun demikian, lingkungan juga menjadi faktor utama tumbuhnya minat baca seseorang, sehingga untuk meningkatkannya perlu kesadaran setiap individu serta lingkungan yang mendukung. Manusia pada dasarnya adalah makhluk visual yang menggunakan mata sebagai oragan vital untuk melakukan kegiatan sehari- hari. Tetapi suatu kegiatan yang monoton akan menimbulkan rasa bosan dalam diri suatu individu. Kasus ini sama dengan kemauan seseorang untuk membaca, masyarakat lebih dahuli terdokrin atau bersepukalasi membaca itu membosankan. Karena kegiatan membaca atau hanya melihat tekt saja, agar kegiatan membaca menyenangkan teknik membaca perlu di ajarakan. Dimana setiap individu membaca sesuai keangguapan masing- masing, dengan sistem cicilan membaca perparagraf atau perhalaman. Bagi generasi Alpha dan generasi Z membaca menjadi aktivitas yang membosan. Minat membaca menjadi faktor utama dalam menerima informasi dari sumber tercetak. Dengan meningkatkan minat baca generasi Alpha dan generasi Z maka peningkatan pencarian dan pemahaman informasi berbasis teks menjadi bertambah. 4. Literasi Septianto (2016 : 1.16), “literasi informasi merupakan kunci utama dalam meningkatkan pengetahuan siswa”. Dengan literasi informasi ini siswa- siswi akan mampu belajar secara mandiri karena melibatkan mengenali kapan informasi di perluka dan mampu efisien dalamencari, akurat dalam mengevaluasi, secara efektif menggunakan, dan jelas mengkomunikasikan informasi dalam berbagai format. Saleh ( 2017 : 6) literasi adalah kemampuan untuk tahu kapan ada kebutuhan untuk informasi, untuk dapat mengidentifikasi, menemukan, mengevaluasi, dan secara efektif menggunakan informasi tersebut untuk isu atau masalah yang di hadapi. American Library Association (ALA), literasi informasi merupakan serangkaian kemampuan yang di butuhkan seseorang untuk menyadari kap informasi dibutuhkan dan kemampuan untuk menempatkan, mengevaluasi & menggunakan informasi yang dibutuhkan secara efektif. Pendit ( 2013) perbedaan penekanan Literasi informasi dan literasi media sebagai berikut : 1) literasi informasi lebih menekankan pada kemampuan dala mennali kebutuhannya akan informasi yang sesuai dengan dirinya serta di mana memperoleh informasi tersebut, sedangkan literasi media lebih menekankan pada kemampuan menggunakan berbagai alat sederhana untuk memproduksi karya sendiri; 2) literasi informasi dapat lebih spesifik membantu melakukan navigasi yang sistematik dan efisien di Internet, sebagai perluasan dari upaya mencari informasi di "darat" (di luar Internet), sedangkan literasi media dapat lebih diarahkan ke pengembangan proses kreatif dalam rangka membangun kesadaran bahwa mereka kelak bukan hanya penonton atau pemirsa pasif, melainkan juga dapat aktif berperan-serta dalam komunikasi menggunakan berbagai ragam media; 3) literasi informasi sangat berkaitan dengan kemampuan berbahasa, sebab konsep "informasi" di sini dianggap sebagai isi pesan (message) atau kandungan komunikasi (content), sedangkan literasi media dikaitkan dengan upaya menghindari dari pengaruh negatif komersialisasi media, sehingga lebih sering dikaitkan dengan upaya membangun kebiasaan menggunakan media secara lebih terkendali di bawah pengawasan. Dewasa ini kata “ Literasi” kerap terdengar, literasi sendiri merupakan kegiatan memahami suatu informasi. Sebagai kegiatan memahami informasi literasi selalu merujuk pada orang yang memiliki wawasan luas. Individu yang berwawasan luas disebabkan oleh kemampuan literasi individu itu sendiri dalam mencerna informasi dari lingkuangan sekitar dan berbagai sumber lainnya. Literasi merupakan kegiatan memindahkan informasi dari luar atau sumber informasi ke dalam pikiran pelaku literasi. Generasi Alpha dan generasi Z telah berpaparan terlebih dahulu dengan gawai. Pengaruh gawai sangat signifikan terjadi pada generasi Z dimasa penggunaan gawai secara masif sudah tidak bisa terbendung begitu juga arus informasi digital. Jumlah informasi yang sudah tidak terbendung membuat beraneka ragam informasi mengalir begitu saja tanpa ada saringan benra atau palsunya sebuah informasi. Literasi generasi Alpha dan generasi Z akan terpengaruh dengan jenis informasi apa yang merka dapatkan. 5. Perpustakaan Online (E- Library) Pengertian perpustakaan digital atau Digital Library terdapat berbagai pendapat. Diantara pendapat itu adalah : seperti yang dikatakan oleh Zainal A. Hasibuan (2005), digital library atau sistem perpustakaan digital merupakan konsep menggunakan internet dan teknologi informasi dalam menajemen perpustakaan. Definisi lain tentang perpustakaan digital diantaranya menurut Borgman (1992) bahwa :A digital library is combination of:a service;an architecture;a set of information resources,database of text, numbers, graphics, sound, video, etc; and,a set of tools and capabilities to locate, retrieve and utilize the information resources available (Chowdhury, 2004:5). Widiasa (2007) menyebutkan tugas pokok perpustakaan, yaitu (1) menghimpun bahan pustaka yang meliputi buku dan nonbuku sebagai sumber informasi, (2) mengolah dan merawat bahan pustaka, dan (3) memberikan layanan bahan pustaka. Sismanto (2008) mengungkapkan bahwa gagasan perpustakaan digital ini diikuti Kantor Kementerian Riset dan Teknologi dengan program Perpustakaan Digital yang diarahkan memberi kemudahan akses dokumentasi data ilmiah dan teknologi dalam bentuk digital secara terpadu dan lebih dinamis. Di era revolusi Industri 4.0 seperti saat ini perkembangan teknologi informasi dan komunikasi berkembang pesat. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi turut mendorong kegiatan perpustakaan menjadi lebih efisien dan efektif dalam melayani pemustaka. Perpustakaan online/ e-Library membantu pemustakan untuk mendapatkan informasi dan referensi dalam kegiatan memenuhi kebutuhan informasi. Perpustaaan Digital adalah adalah sebuah sistem yang memiliki berbagai layanan dan objek informasi yang mendukung melalui perangkat digital (Supriyanto dan Muhsin, 2008: 31). Perpustakaan digital adalah suatu koleksi informasi yang dikelola berikut pelayanannya, di mana informasi disimpan dalam format digital dan dapat diakses melalui jaringan (Arms, 2000: 2). Dari penjelasan tersebut maka dapat disimpulkan perpustakaan digital adalah layanan dan informasi yang didukung perangkat digital dan di dalamnya terdapat koleksi dalam format digital. Menurut Pendit (2008: 3) menyatakan bahwa perpustakaan digital merupakan upaya yang terorganisir dalam memanfaatkan teknologi yang ada bagi masyarakat pemustakanya. E-library yang bersifat fleksibel memudahkan pengguna dalam mengakses informasi untuk mendapatkan infromasi yang bermutu dan berkualitas sehingga terhindar dari hoaks. Pengguna gawai pada genrasi Alpha dan Z menjadi peluang perpustakaan untuk menarik minat pemustaka untuk menggunakan layanan perpustakaan dimana pun dan kapan pun.
Conclusion
Hasil dari penelitian ini adalah pembelajaran atau meningkatkan literasi masyarakat baik generasi Alpha maupun generasi Z bisa dilakukan dari hal yang mereka sukai terlebih dahulu. Dengan memasukan bahan secara perlahan objek yang di teliti mampu menerima tujuan penelitian. Penelitian dilakukan di lingkungan masyarakat kelurahan Air Tawar Barat. Membuka bahan informasi edukasi platform akan memberikan bahan terkait atau rekomendasi serupa dengan bahan yang sering di baca oleh pengguna. Dengan demikian kegiatan edukasi melalui bahan digital pada e-library akan lebih optimal karena bisa di akses dimana dan kapan saja oleh pengguna, pustakawan akan mengarahkan pengguna dalam menggunakan aplikasi atau platform yang direkomendasi terhadap bahan yang hendak di cari. Harapannya masyarakat kelurahan Air Tawar Barat Generasi Alpha dan Generasi Z mampu menjadikan kegiatan literasi sebagai kebutuhan di kelurahan Air Tawar Barat.