Kembali
16
1
2023 Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 7 · 2 ISSN 2598-3040

Literasi Web: Definisi, Keterampilan dan Konteksnya di Indonesia

Universitas Diponegoro

Abstrak

Literasi yang dikenal pada abad XXI berbeda dengan apa yang dipahami dan dilakukan oleh orang tua atau generasi masa lalu. Literasi abad ini merefleksikan keterampilan memberdayakan teknologi untuk membaca, menulis dan berpartisipasi secara aktif di dalamnya. Sebagai bagian dari literasi, literasi web terdiri dari keterampilan pencarian web, membaca, dan mengevaluasi. Literasi web menggambarkan keterampilan serupa literasi yang diperlukan dalam pembelajaran. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi 1) definisi literasi web; 2) keterampilan apa saja yang diperlukan untuk melek literasi web; 3) literasi web dalam konteks Indonesia. Metode yang digunakan yaitu pendekatan kualitatif dengan mengkaji literatur secara mendalam. Beberapa referensi yang ditemukan dari Google Scholar dan beberapa sumber web diseleksi, serta dipilih sebagai bahan kajian. Temuan menunjukan bahwa memahami literasi web membutuhkan pemahaman yang kompleks mengenai web, yang terkadang tumpang tindih dengan literasi informasi, literasi internet, literasi kritis, literasi media dan literasi digital. Literasi web berfokus pada keterampilan membaca, menulis dan berpartisipasi dalam web. Literasi web dalam konteks Indonesia kurang familiar, lebih dikenal sebagai bagian literasi media dan literasi digital. Akhirnya, penelitian ini masih memiliki banyak keterbatasan. Peneliti menyadari banyak hal yang belum di eksplorasi dalam literasi web, seperti metode pengajaran, dan pengukuran literasi web. Peneliti masa depan perlu mempertimbangkan bagian tersebut untuk digali, utamanya dalam menjalankan risetnya di Indonesia. Sedikit sekali dan bahkan jarang ditemui penelitian sejenis sesuai konteks tersebut.

Abstract

Literacy known in the 21st century is different from what was understood and practiced by parents or past generations. This century's literacy reflects the skills to empower technology to read, write and participate. As part of literacy, web literacy consists of web searching, reading, and evaluating skills. Web literacy describes literacy-like skills needed in learning. The aims of study are to identify 1) the definition of web literacy; 2) what skills are needed for web literacy; 3) web literacy in the Indonesian context. The study used a qualitative approach with literature review. Sources of references found in Google Scholar and website were selected and selected as study material. The findings show that understanding web literacy requires a complex understanding of the web, which sometimes overlaps with information literacy, internet literacy, critical literacy, media literacy and digital literacy. Web literacy focuses on the skills to read, write and participate on the web. Web literacy in the Indonesian context is less familiar, better known as part of media literacy and digital literacy. Finally, this research still has many limitations. Researchers realize that there are many things that have not been explored in web literacy, such as teaching methods, and measuring web literacy. Future researchers need to consider this part to be explored, especially in carrying out their research in Indonesia. There are very few and even rare studies of this kind in this context.
Keywords: Literacy · web literacy · web · world wide web

Introduction

Literasi pada abad XXI merefleksikan kemampuan menggunakan teknologi untuk menghimpun dan mengkomunikasikan informasi (Pilgrim & Martinez, 2013). International Reading Association (IRA) menambahkan bahwa literasi yang dipakai oleh siswa sekarang berbeda dengan orang tuanya atau bahkan dari siswa dekade lalu. Menjadi terpelajar saat ini, siswa harus mahir dalam melek teknologi (IRA, 2009). Sehingga dapat dikatakan bahwa literasi adalah kemampuan (keterampilan) memanfaatkan teknologi untuk kehidupan sehari-hari, seperti mengumpulkan informasi, membaca, dan menyebarkannya. Teknologi yang digunakan dapat beragam, seperti smartphone, personal computer, website, social media, dsb. Secara umum konsep literasi tidak hanya berubah, tetapi juga tumpang tindih, karena literasi informasi, multiliterasi (multiliteracies/multiple literacies), literasi baru (new literacy), literasi digital (digital literacy), dan literasi web (web literacy). Semua jenis literasi ini digunakan untuk menggambarkan keterampilan serupa yang diperlukan untuk pembelajaran abad XXI (Pilgrim & Martinez, 2013). Secara spesifik, istilah ‘literasi web’ menekankan pada evaluasi dan/atau produksi informasi web (Mackey & Ho, 2005). Sementara Darrow (1999) memperluas definisi literasi web ini sebagai kemampuan untuk mengakses, mencari, memanfaatkan, berkomunikasi, dan membuat informasi di World Wide Web. Kuiper et al. (2008) menambahkan, keterampilan literasi web terdiri dari keterampilan pencarian web, keterampilan membaca web, dan keterampilan mengevaluasi web. Literasi web berarti keterampilan membaca, menulis (membuat), dan mengkomunikasikan web. Literasi web harus menjadi bagian dari pendidikan. Seperti membaca, menulis, dan berhitung, literasi web adalah konten dan aktivitas. You don’t just learn “about” reading: you learn to read...You don’t just learn “about” the web: you learn to make your own website (Davidson & Surman, 2012). Literasi web dapat menjadi bagian dari pembelajaran di sekolah dan universitas. Memiliki literasi web, maka seseorang akan dapat dengan mudah memanfaatkan, memberdayakan dan menjadi terhubung ke web. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendefinisikan literasi web, keterampilan yang diperlukan dan keserupaannya dalam konteks di Indonesia. Sehingga, yang menjadi rumusan masalahnya sebagai berikut. a. Apa yang dianggap literasi web? b. Apa saja keterampilan yang menentukan melek web? dan c. Bagaimana penerapan dan penemuan keserupaan dalam konteks literasi web di Indonesia? 2. Landasan Teori Web atau seringkali dikenal dengan website / webpage berbeda dengan layanan internet yang dikenal secara umum. Jika internet adalah seperangkat layanan yang berisi web, email dan aplikasi, maka web hanya merujuk website atau webpage. Pemahaman mengenai literasi web atau melek web, berarti adalah kemampuan untuk membaca dan menulis web. Web diakses melalui web browser termasuk berisi laman teks, gambar, video dan animasi. Hal ini sesuai pendapat Mozilla, mengkaji literasi web, mereka mendefinisikannya dengan berfokus pada istilah “web” dan perbedaannya dengan istilah lainnya. Mozilla menyebut web adalah ‘layer’ dokumen hypertext yang saling terkait. Dokumen ini cenderung berbentuk halaman web dan dapat diakses melalui web browser. Halaman web ini (secara kolektif dikenal sebagai website) cenderung berisi elemen multimedia seperti gambar, audio, dan video (Mozilla, 2013). Namun, web tidak sama dengan internet karena tidak menyertakan alat tambahan seperti email atau aplikasi. Bagi Mozilla, literasi web terbatas pada situs web (website) dan halaman web (webpage) (Virtue, 2020).

Method

Penelitian yang mewujud dalam bentuk tulisan ini menggunakan metodologi kualitatif terutama berdasarkan pada kajian pustaka, yang tersedia dalam jaringan berupa jurnal, buku dan sumber website. Penelitian ini menggali terminologi dan keterampilan literasi web, yang telah dikaji oleh para peneliti sebelumnya. Lalu melihat kemungkinan penerapan dan penemuan keserupaan dalam konteks literasi web di Indonesia.

Result & Discussion

Penelitian ini terdiri dari tiga bagian pokok: 1) definisi literasi web; 2) keterampilan literasi web; dan 3) literasi web dalam konteks Indonesia. Bagian pertama menguraikan definisi pokok literasi web. Bagian kedua menguraikan tiga keterampilan literasi web. Bagian ketiga menguraikan kecocokan literasi web dalam konteks Indonesia. 4.1 Definisi Literasi Web Ahtikari & Eronen (2004) menyebutkan “web literacy means, like any other form of literacy, reading and writing, using the medium of the web”. Literasi web merujuk pada kemampuan yang dibutuhkan untuk kesuksesan menavigasi web. literasi web mengacu pada membaca dan menulis web. Istilah literasi web terkait erat dengan literasi internet (Internet literacy), meskipun kadang-kadang digunakan sebagai sinonim dari literasi web, dengan demikian mengacu pada literasi yang terhubung ke semua layanan internet yang berbeda. Dengan demikian, istilah literasi web hanya terkait dengan web dan tidak termasuk email. Terdapat batasan istilah web yang merujuk pada halaman web (website/webpage), bukan internet. Mereka menganggap internet lebih luas dari pada web, internet dapat berisi web, email dan aplikasi. Email dan aplikasi internet tidak termasuk pada web. Darrow (1999) (dalam Owusu-Ansah, 2003) yang dikutip pula oleh Mardina (2011), menyebutkan literasi web sebagai ‘subset’ dari literasi informasi yang mensyaratkan kemampuan untuk mengakses, mencari, memanfaatkan, mengkomunikasikan dan menciptakan informasi pada world wide web. Pengertian ini menyetujui definisi literasi informasi yang berarti kemampuan menggunakan informasi dengan bantuan teknologi (contohnya website). Lebih lanjut, Pilgrim & Martinez (2013) menjelaskan bahwa literasi web menjadi bagian dari literasi baru (new literacy) karena terkait keterampilan yang dibutuhkan untuk menemukan informasi secara akurat dan efektif. Literasi web juga mencerminkan literasi digital (digital literacy), pengetahuan yang dibutuhkan seseorang untuk menemukan informasi, memeriksa konten, mencari tahu siapa yang mempublikasikan website, dan untuk melihat siapa yang terhubung ke situs. Tabel 1. Ringkasan Terminologi Literasi Istilah Deskripsi Literasi Informasi Kemampuan untuk mengenali kapan informasi dibutuhkan dan kemampuan untuk menemukan, mengevaluasi, dan menggunakan secara efektif informasi yang dibutuhkan (ALA, 1989). Multiliterasi Berbagai cara berkomunikasi dan membuat makna dalam beberapa cara termasuk visual, audio, spasial, perilaku, dan gestural (New London Group, 1996). Literasi Baru Penggunaan teknologi baru untuk mengumpulkan dan mengkomunikasikan informasi (Coiro et al., 2008) Literasi Digital Kemampuan untuk menemukan, mengevaluasi, memanfaatkan, membagikan, dan membuat konten menggunakan teknologi informasi dan internet (Cornell University, 2009). Literasi Internet Kemampuan untuk menghubungkan semua jenis layanan internet yang berbeda (Ahtikari & Eronen, 2004) Literasi Web Pengetahuan dan penggunaan keterampilan khusus yang diperlukan untuk menemukan, menganalisis, dan mengkomunikasikan informasi yang ditemukan secara online (Pilgrim & Martinez, 2013). Sumber: Pilgrim & Martinez (2013) dengan Ubahan peneliti (2023) Tabel 1. Menunjukkan keserupaan definisi dan makna literasi. Literasi web dapat diartikan sebagai kemampuan mengenali, untuk menemukan, mengevaluasi, dan menggunakan secara efektif web (website dan webpage) untuk memenuhi kebutuhan informasi. 4.2 Keterampilan Literasi Web Kuiper et al. (2008) membagi 3 komponen utama keterampilan literasi web yaitu keterampilan pencarian web, keterampilan membaca web, dan keterampilan mengevaluasi web. 1. Keterampilan pencarian web, yaitu kemampuan untuk menemukan informasi web dan merumuskan kata kunci yang relevan. 2. Keterampilan membaca web, yaitu kombinasi kemampuan membaca tradisional dan baru yang dibutuhkan untuk mengingat informasi web yang berlebihan dan lingkungan hypertext. 3. Keterampilan mengevaluasi web, yaitu kemampuan untuk menilai secara kritis keandalan dan otoritas informasi web dengan maksud untuk kebutuhan informasi sendiri. Sementara itu, Ahtikari & Eronen (2004) memetakan keterampilan literasi web. Mereka mencoba memahami keterampilan literasi web yang berasal dari literasi web itu sendiri, tahapan literasi media (media literacy), literasi kritis (critical literacy) dan literasi elektronik (electronic literacies). Oleh karena itu, mereka berpendapat bahwa literasi web terlibat dengan bidang keterampilan dan strategi untuk menggunakan web (Lihat Tabel 2.). Tabel 2. Keterampilan dan Strategi Menggunakan Web Sumber Keterampilan dan Strategi Karlsson (2002) Literasi web 1. Membaca 2. Menulis Sutherland-Smith (2002:662-665) Literasi web 1. Mencari dan menemukan informasi 2. Memindai informasi 3. Mencerna informasi 4. Menyimpan informasi 5. Membaca 6. Menavigasi 7. Memindahkan, menambah dan mengubah teks Ministry of Education (2000:22- 23) Literasi web 1. Menjelajah 2. Menavigasi 3. Mengenali 4. Memilih 5. Mengevaluasi 6. Menggunakan teknologi Ministry of Education (2000:26, 2001:24-25) Tahapan literasi media Kompetensi komunikatif Pembuatan makna dan interpretasi: 1. Kemampuan budaya untuk menciptakan hal baru 2. Mengevaluasi 3. Menganalisis 4. Berdebat Memproduksi/menerbitkan: 1. Menulis 2. Memvisualisasikan 3. Mengarang (dramaturgy) 4. Mendesain 5. Terampil literasi tradisional Akses dasar: 1. Keterampilan teknis 2. Pemikiran inti Janks (2000) Literasi kritis 1. Akses 2. Desain Thoman (1999:50) Literasi media 1. Memilih 2. Mempertanyakan Warschauer (1999:158- 163) Membaca hiperteks: 1. Menemukan 2. Mengevaluasi 3. Memanfaatkan sumber informasi menavigasi Menulis hiperteks: 1. Presentasi di layar termasuk grafik 2. Mengungkapkan makna 3. Keterampilan teknis 4. Keterampilan retoris 5. Komunikasi yang dimediasi komputer 6. Kemampuan cetak (print) Sorapure et al. (1998:409-422) Literasi web 1. Akses 2. Evaluasi Sumber: Ahtikari & Eronen (2004) Lebih lanjut, Mozilla mengembangkan kerangka kerja (framework) “The Web Literacy Map” atau peta literasi web yang diterbitkan pertama kali pada bulan Maret 2013 dalam “Mozilla Web Literacies White Paper” (Virtue, 2020). Inisiatif bertujuan untuk menentukan keterampilan dan kompetensi yang diperlukan untuk sepenuhnya melek web (web literate) (O’Byrne, 2018). Peta literasi web direvisi, berisi 3 pokok bahasa utama yaitu membaca (read), menulis (write) dan berpartisipasi (participate). Selain itu, ditambahkan dengan kompetensi abad XXI (21st Century Skills). a. Membaca adalah “bagaimana kami menjelajahi web”. Kompetensi membaca termasuk membaca web dan penggunaan alat web untuk navigasi (mencari, menavigasi, menyintesis, mengevaluasi). Pembaca online yang baik juga dapat mencari dan menemukan orang, sumber daya, dan informasi. Mereka kemudian tahu bagaimana menilai kredibilitas, bias, dan perspektif dari sumber-sumber ini. Terakhir, menjelajahi web memerlukan pemahaman tentang keamanan agar konten, identitas, dan sistem tetap aman. b. Menulis adalah “bagaimana kami membangun web”. Menulis di web memungkinkan seseorang untuk membangun dan membuat konten untuk membuat makna. Belajar membangun (membuat) web, melibatkan pembuatan konten baru. Pembuat konten yang baik mengambil alat saat menyusun teks melalui pembuatan dan kurasi konten. Pada gilirannya, konten yang mereka remix dan modifikasi mendorong (open web). c. Berpartisipasi adalah “bagaimana kami terhubung di web”. Berpartisipasi di web terbuka (open web) mencakup terhubung dengan komunitas yang berbagi, membangun, dan mempertahankan konten online yang bermakna. Komunitas online membutuhkan pengetahuan tentang cara membuat, menerbitkan, dan menautkan konten, serta memahami keamanan untuk menjaga keamanan konten, identitas, dan sistem. Komunitas membangun dan mempertahankan web (O’Byrne, 2018) Kompetensi abad XXI juga ditambahkan dan didefinisikan sebagai “seperangkat pengetahuan, keterampilan, kebiasaan kerja, dan sifat karakter yang luas yang penting untuk berhasil di dunia saat ini, terutama untuk kesiapan kuliah dan karir serta di tempat kerja. Contoh keterampilan ini termasuk kolaborasi (collaboration), komunikasi (communication), kreativitas (creativity), dan pemecahan masalah (problem-solving)” (Chung et al., 2015). Gambar 1. Web Literacy Framework Version 2.0 (Chung et al., 2015) Sesuai penjelasan Chung (2017) melek web dengan mengetahui cara membaca, menulis, dan berpartisipasi di web telah menjadi penting dalam dunia yang berkembang pesat dan saling terhubung. Memiliki literasi web inti dan keterampilan abad ke-21 memberdayakan individu dan komunitas untuk membentuk pengalaman mereka sendiri dan menjadi pengguna web dan dunia dengan cara yang berarti, serta memperluas akses dan peluang bagi lebih banyak orang untuk belajar kapan pun, di mana pun, dan dengan kecepatan apa pun . Seseorang dapat dikatakan melek web oleh Kuiper et al. (2008), Ahtikari & Eronen (2004) dan Mozzila, pada dasarnya memiliki keserupaan. Namun ketiganya menggunakan istilah berbeda, dan saling melengkapi. Misalnya ketika Mozilla menyebutkan keterampilan literasi web adalah kemampuan membaca dan menulis web. Definisi ini mencerminkan pengertian literasi dasar. Terlihat baru karena ada pengaruh teknologi web. Seperti apa yang dikatakan Ahtikari & Eronen (2004), literasi sekarang ini adalah kemampuan memanfaatkan teknologi untuk menghimpun dan menyebarluaskan informasi. Bagi peneliti, keterampilan literasi web yang paling utama yaitu kemampuan menulis web. Seseorang yang dapat menulis (membangun) web, maka Ia perlu membaca untuk membuat konten dan secara otomatis terhubung ke web. Ia kemudian akan membagikan konten yang dibuat ke pengguna secara luas. 4.3 Literasi Web dan Konteksnya Indonesia Di Indonesia, terdapat beberapa inisiatif literasi digalakan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) oleh Kemdikbud, dan Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) kolaborasi antara Kominfo - Japelidi Siberkreasi. 4.3.1 Literasi Web dan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) GLS diinisiasi oleh Kemdikbud sejak Maret 2016, yang telah disosialisasikan ke semua dinas pendidikan provinsi, kota dan kabupaten di Indonesia. Sasaran utama GLS yaitu jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah. GLS juga ditujukan bagi pemantapan Kurikulum 2013 bagi semua mata pelajaran dengan menerapkan strategi literasi dalam pembelajaran dengan merujuk pada Higher Order Thinking Skills (HOTS, keterampilan bernalar tingkat tinggi), kompetensi abad XXI (kemampuan berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif), dan penguatan pendidikan karakter (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2018). Setidaknya terdapat 6 keterampilan dasar (fondasi literasi), 4 kompetensi, dan 6 komponen literasi. Enam keterampilan yaitu literasi baca tulis, numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial serta literasi budaya dan kewargaan. Empat kompetensi diantaranya, berpikir kritis/pemecahan masalah, kreativitas, komunikasi dan kolaborasi. Enam komponen termasuk literasi dini (early literacy), literasi permulaan (basic literacy), literasi perpustakaan (library literacy), literasi media (media literacy), literasi teknologi (technologi literacy), dan literasi visual (visual literacy). Meskipun keterampilan, kompetensi dan komponen literasi di atas, tidak secara spesifik menyebutkan literasi web. Akan tetapi seperti diketahui, literasi web bagian literasi digital dan literasi media. Selain, kompetensi literasi ini dipahami oleh Mozzila, sebagai bagian dari keterampilan literasi web. Jika dilihat dari definisinya, literasi media adalah kemampuan untuk mengetahui berbagai bentuk media yang berbeda, seperti media cetak, media elektronik (media radio, media televisi), media digital (media internet), dan memahami tujuan penggunaannya (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2018). Web termasuk ke dalam media internet (media digital). Sehingga lebih pas, jika dalam konteks Indonesia, literasi web dimasukan sebagai bagian dari literasi media. Sementara kompetensi yang dijelaskan serupa apa dipahami oleh Mozzila, sebagai bagian dari kompetensi abad XXI yang wajib ada dalam literasi web. 4.3.2 Literasi Web dan Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Kominfo bertekad membantu mewujudkan upaya percepatan transformasi digital melalui pengembangan SDM digital dengan melaksanakan program Literasi Digital Nasional bersama GNLD Siberkreasi dan stakeholder terkait lainnya. Dalam mendukung jalannya program Literasi Digital Nasional, pada 16 April 2021, Kementerian Kominfo telah meluncurkan Seri Modul Literasi Digital atas hasil kerjasama dengan JAPELIDI dan Siberkreasi. Terdapat 4 pilar literasi digital yang dikembangkan sebagai acuan, sebagai berikut. a. Digital skills (kecakapan digital), difokuskan kepada pengetahuan dasar mengenai lanskap digital, yakni internet dan dunia maya. b. Digital culture (budaya digital), difokuskan kepada pengetahuan dasar akan nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika sebagai landasan kecakapan digital dalam kehidupan berbudaya, berbangsa, dan bernegara. c. Digital ethics (etika digital), difokuskan kepada etika berinternet (netiquette). d. Digital safety (keamanan digital), difokuskan kepada pengetahuan dasar mengenai proteksi identitas digital dan data pribadi di platform digital (Shina et al., 2021). Definisi literasi digital di Indonesia digunakan berangkat dari definisi UNESCO dan pernyataan Menkominfo. UNESCO (dalam Deloitte, 2021) menyebutkan bahwa literasi digital diartikan sebagai kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk menemukan, mengevaluasi, memanfaatkan, membuat dan mengkomunikasikan konten atau informasi dengan kecakapan kognitif, etika, sosial emosional, dan aspek teknis teknologi. Sementara Menkominfo (dalam Deloitte, 2021) Literasi digital berfungsi untuk meningkatkan kemampuan kognitif sumber daya manusia di Indonesia agar keterampilannya tidak sebatas mengoperasikan gawai. Literasi web mencerminkan literasi digital. Dalam Deloitte (2021), beberapa materi program kegiatan literasi digital adalah membuat dan menulis konten di blog/blogging. Ini berarti literasi web (web blog) menjadi bagian yang tak terpisahkan dari literasi digital. Lihat juga beberapa terbitan buku, infografis dan artikel dalam website www.literasidigital.id (Kominfo, 2023). Gambar 4. Program Kegiatan Literasi Digital (Deloitte, 2021)

Conclusion

Literasi web berarti kemampuan membaca, menulis dan berpartisipasi melalui web. Membaca web artinya dapat mencari dan menemukan sumber web yang valid. Menulis web ialah membuat konten dan blog/website. Berpartisipasi web adalah mampu memilah dan membagikan informasi di web. Literasi web utamanya untuk pelajar dari tingkat dasar hingga menengah. Literasi web di Indonesia masih kurang familiar, lebih dikenal dengan istilah literasi media dan literasi digital. Inisiatif peneliti dan komunitas seperti Kuiper et al. (2008), Ahtikari & Eronen (2004) serta Mozilla (2016) mengembangkan kerangka literasi web yang pada dasarnya dapat dipakai sebagai acuan untuk meningkatkan keterampilan literasi web sehingga pelajar menjadi melek web. Perlu kajian mengenai literasi web untuk pelajar di Indonesia, program pelatihan dan kegiatan literasi web lainnya. Penelitian yang akan datang perlu membahas aspek metode pengajaran dan pengukuran literasi web.