Kembali
16
1
2025 Jurnal Ilmu Informasi Perpustakaan dan Kearsipan Vol 14 · 1 ISSN 2302-3511

Analisis Perilaku Pemustaka dalam Keterlambatan Pengembalian Buku Berdasarkan Theory of Planned Behavior di Layanan Sirkulasi Perpustakaan Universitas Negeri Padang

Universitas Negeri Padang

Abstrak

Layanan sirkulasi menjadi salah satu layanan yang sering berhubungan dengan pemustaka Universitas Negeri Padang. Tingginya tingkat kebutuhan informasi masingmasing pemustaka menjadikan layanan sirkulasi sebagai salah satu layanan yang paling sering mereka akses. Namun, ditemukan masalah kompleks yang terjadi dalam pengembalian buku. Masalah yang sering terjadi adalah keterlambatan pengembalian buku oleh pemustaka yang berdampak pada ketersediaan koleksi dan akses informasi. Penyebab utama keterlambatan pengembalian buku ialah kurangnya kesadaran pemustaka akan pentingnya mengembalikan buku tepat waktu dan ketidakpahaman mengenai peraturan yang berlaku. Untuk mengatasi masalah ini, perpustakaan telah mengambil langkahlangkah seperti memberikan informasi yang lebih jelas tentang denda dan sanksi. Meskipun kebijakan denda telah diterapkan sebagai sanksi finansial yang melanggar aturan, tetap tidak memberikan dampak yang signifikan untuk pemustaka. Studi ini memiliki tujuan untuk menggambarkan perilaku pemustaka dalam keterlambatan pengembalian buku pada layanan sirkulasi Perpustakaan Universitas Negeri Padang. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif dan desain survei. Sebanyak 90 responden dipilih dari populasi 852 menggunakan teknik nonprobability sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, dan studi pustaka, serta dianalisis berdasarkan tiga indikator dari Teori Perilaku Terencana: sikap, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator sikap memiliki skor rata-rata 2,57 (64,25%), norma subjektif 2,42 (60,5%), dan persepsi kontrol perilaku 2,66 (66,5%). Temuan ini menunjukkan bahwa keterlambatan pengembalian buku dipengaruhi oleh faktor individu, sosial, dan struktural. Penelitian ini diharapkan dapat mendukung kesadaran pengguna dan perbaikan kebijakan dalam layanan peminjaman perpustakaan.

Abstract

Circulation services are among the most frequently accessed services by users at Padang State University Library. The high level of information needs among user’s makes this services one of the most essential. Homever, a recurring issue identified in this service is overdue book returns, which negatively affects the availability of collections and user’s access to information. The primary causes of overdue book returns include a lack of user awareness regarding the importance of returning books on time and limited understanding of the existing library regulations. In response to this issue, the library has implemented measures such as providing clearer information about fines and sanctions. Nevertheless, the imposition of fines as a financial penalty has not yielded a significant impact on user behavior. This research aims to describe user behavior in overdue books return at the circulation service of Universitas Negeri Padang Library. Conducted using a quantitative method and survey designs. A total of 90 respondents were selected from a population of 852 through nonprobability sampling. Data were collected from questionnaires, initial interviews, and literature review, and analyzed based on three indicators from the Theory of Planned Behavior: attitude, subjective norms, and perceived behavioral control. The results show that the attitude indicator had an average score of 2,57 (64,25%), subjective norms 2,42 (60,5%), and perceived behavioral control 2,66 (66,5%). These findings indicate that book return delays are influenced by individual, social, and structural factors. This study is expected to support user awareness and policy improvement in library loan services.
Keywords: User behavior · Overdue book returns · Circulation services · Academic library · Theory of Planned Behavior

Introduction

Perpustakaan Universitas Negeri Padang (UNP) termasuk salah satu perpustakaan yang berada di ruang lingkup perguruan tinggi yang memiliki fungsi penting dalam mendukung pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia No 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan 2007 Tentang Perpustakaan yang menyatakan bahwa <Perpustakaan perguruan tinggi perlu mengembangkan layanan berbasis teknologi informasi dan komunikasi guna meningkatkan kualitas layanan informasi dan aksesibilitas bagi sivitas akademika=. Tugasnya sebagai sumber informasi bagi pemustaka memberikan kewajiban untuk menyediakan layanan, fasilitas dan sumber informasi bagi para pemustaka. Masing- masing layanan mempunyai fungsi yang berbeda-beda sesuai dengan kegiatan perpustakaan. Salah satu layanan yang sering digunakan oleh pemustaka adalah layanan sirkulasi. Layanan sirkulasi merupakan layanan yang berperan dalam proses peminjaman dan pengembalian koleksi perpustakaan (Safitri & Erlianti, 2024). Pemustaka dapat meminjam, mengembalikan, serta memperpanjang peminjaman buku yang masih dibutuhkan. Proses untuk memperpanjang peminjaman buku dapat dilakukan dengan menghubungi kontak pustakawan. Pemustaka cukup menyebutkan NIM atau Nomor Induk Mahasiswa dan memberitahukan ingin memperpanjang buku yang ingin dipinjam. Layanan sirkulasi sering berhubungan langsung dengan pemustaka, terutama dalam memenuhi kebutuhan mereka terhadap informasi dan koleksi (Zulhaj & Nelisa, 2022). Tingginya tingkat kebutuhan informasi masing-masing pemustaka menjadikan layanan sirkulasi sebagai salah satu layanan yang paling sering mereka akses. Di mana pemustaka sering memanfaatkan koleksi yang ada di perpustakaan, baik untuk kebutuhan akademik maupun kebutuhan pribadi. Tidak hanya membaca di tempat saja, namun pemustaka juga sering melakukan peminjaman buku untuk dibawa pulang. Sehubungan dengan tingkat keterpakaian buku tersebut, maka perpustakaan sudah seharusnya menerapkan aturan dalam peminjaman, pengembalian, dan perpanjangan koleksi yang baik. Berdasarkan wawancara singkat dengan salah satu pustakawan bidang layanan sirkulasi khususnya pada bagian pengembalian koleksi, terdapat beberapa masalah kompleks yang terjadi pada layanan sirkulasi perpustakaan. Masalah yang terjadi pada layanan sirkulasi salah satunya adalah keterlambatan pengembalian buku oleh pemustaka yang telah melewati batas tempo peminjaman buku serta belum dikembalikan (Moralita & Putra, 2019). Berdasarkan data yang diperoleh, pemustaka yang terlambat periode Januari hingga Desember 2024, tercatat sebanyak 852 orang. Hal ini dapat berpotensi menghalangi ketersediaan sumber informasi serta mempengaruhi pengguna lain yang membutuhkan akses terhadap koleksi tersebut. Pustakawan juga mengidentifikasi beberapa penyebab utama keterlambatan pengembalian buku, antara lain kurangnya kesadaran pemustaka akan pentingnya mengembalikan buku tepat waktu dan ketidakpahaman mengenai peraturan yang berlaku. Untuk mengatasi masalah ini, perpustakaan telah mengambil langkah-langkah seperti memberikan informasi yang lebih jelas tentang denda dan sanksi. Pemberian denda yang dibebankan kepada pemustaka disebabkan karena menyimpan buku perpustakaan di luar jangka waktu peminjaman. Tujuannya adalah untuk mendorong pengembalian buku tepat waktu ke perpustakaan (Basak & Yesmin, 2021). Fenomena perilaku pemustaka yang melakukan keterlambatan dalam pengembalian buku membuat pelayanan menjadi tidak optimal dalam pelaksanaan tugasnya dikarenakan banyak buku yang dipinjam tetapi tidak dikembalikan sesuai batas waktu yang ditentukan dan memengaruhi pemenuhan kebutuhan informasi pemustaka lain (Liu, 2024). Akibatnya, buku-buku tersebut berada dalam status dipinjam dan tidak tersedia di rak koleksi sehingga menghambat kelancaran layanan sirkulasi perpustakaan koleksi perpustakaan (Farriza et al., 2024). Mengingat bahwa peran dan fungsi perpustakaan adalah untuk memenuhi kebutuhan informasi bagi pengguna, hambatan ini menyebabkan layanan sirkulasi menjadi tidak berjalan secara efektif. Permasalahan mengenai keterlambatan pengembalian buku di perpustakaan merupakan isu yang bersifat sistemik dan berulang, yang dapat mengganggu proses sirkulasi koleksi dan menghambat akses informasi bagi pemustaka lainnya. Meskipun kebijakan denda telah diterapkan sebagai sanksi finansial yang melanggar aturan, tetap tidak memberikan dampak yang signifikan untuk pemustaka (Dalimunte et al., 2020). Minimnya studi yang mengkaji perilaku pemustaka dalam keterlambatan pengembalian buku khususnya dengan pendekatan Theory of Planned Behavior (TPB), menunjukkan adanya kesenjangan teoretis yang perlu dijembatani. Untuk memahami permasalahan ini secara lebih mendalam, diperlukan pendekatan teoritis yang dapat menjelaskan perilaku pemustaka dari berbagai aspek. Penelitian ini menggunakan Theory of Planned Behavior (TPB) yang dikembangkan oleh Ajzen (1991) sebagai kerangka teoritik. TPB menjelaskan bahwa niat seseorang untuk melakukan suatu perilaku dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu: sikap terhadap perilaku (attitude toward behavior), norma subjektif (subjective norms), dan persepsi kontrol perilaku (perceived behavioral control). Teori ini memberikan kerangka teoritik yang komprehensif untuk memahami perilaku pemustaka dalam keterlambatan pengembalian buku sebagai hasil dari interaksi antara sikap individu, pengaruh sosial, dan persepsi terhadap kendala dalam melakukan tindakan (Purwanto et al., 2022). Misalnya, pemustaka mungkin memiliki sikap permisif terhadap keterlambatan, tidak merasakan tekanan sosial untuk disiplin, atau mengalami hambatan seperti lupa dan jadwal yang padat. Melalui pendekatan TPB, penelitian ini dapat mengidentifikasi faktor-faktor kognitif dan sosial yang memengaruhi perilaku tersebut secara sistematis. Dengan demikian, studi ini memiliki tujuan untuk menganalisis <Bagaimana Perilaku Pemustaka dalam Keterlambatan Pengembalian Buku pada Layanan Sirkulasi Perpustakaan Universitas Negeri Padang ditinjau dari tiga komponen utama Theory of Planned Behavior, yaitu sikap, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku?=. Hasil penelitian akan menggambarkan secara sistematis faktor-faktor kognitif dan sosial yang memengaruhi keterlambatan pengembalian buku sehingga dapat menjadi dasar dalam merancang kebijakan layanan sirkulasi yang lebih efektif untuk pemustaka.

Method

Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif dengan desain survei sebagai teknik pengumpulan data. Desain survei digunakan untuk memperoleh informasi secara langsung dari pemustaka yang bersangkutan (Sugiyono, 2021). Survei dilakukan dengan membagikan kuesioner melalui Google Form kepada responden yang telah memenuhi kriteria penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pemustaka yang terlambat mengembalikan buku pada layanan sirkulasi Perpustakaan Universitas Negeri Padang dengan jumlah sebanyak 852 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, teknik pengambilan sampel yang melibatkan pencarian individu tertentu yang memenuhi kriteria tertentu untuk berpartisipasi dalam studi penelitian (Firmansyah & Dede, 2022). Adapun kriteria dalam penelitian ini yaitu: (1) terdaftar sebagai anggota aktif perpustakaan; (2) pernah menerima sanksi dan denda akibat keterlambatan, dan; (3) bersedia menjadi responden. Penentuan jumlah sampel dilakukan dengan menerapkan rumus Slovin pada tingkat signifikansi10%, sehingga diperoleh sebanyak 90 responden sebagai sampel penelitian. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner tertutup yang dirancang berdasarkan Theory of Planned Behavior oleh Ajzen (1991), yang mencakup tiga kategori perilaku terencana: sikap (attitude towards behavior), norma subjektif (subjective norms), dan persepsi kontrol perilaku (perceived behavioral control). Skala Likert empat poin digunakan sebagai alat ukur untuk menilai sikap, pandangan, dan persepsi individu maupun kelompok terhadap berbagai pernyataan yang berkaitan dengan fenomena sosial. Berikut indikator-indikator yang digunakan untuk masing-masing perilaku tersebut: Gambar 1. Theory of Planned Behavior (Ajzen, 1991) Variabel Indikator Penjelasan Perilaku Pemustaka Sikap (Attitude Towards Behavior) Penilaian individu terhadap suatu tindakan berdasarkan keyakinan mereka Norma Subjektif (Subjective Norms) Persepsi individu mengenai harapan dari lingkungan sekitar yang berpengaruh terhadap tindakan tindakan yang harus dilakukan Persepsi Kontrol Perilaku (Perceived Behavioral Control) Persepsi individu mengenai keberadaan atau aksesibilitas terhadap berbagai sumber daya seperti waktu, fasilitas, kemampuan, dan kesempatan yang dapat mendorong atau menghambat perilaku tertentu Indikator-indikator di atas berfungsi untuk membantu peneliti menentukan hingga menyusun instrumen penelitian. Instrumen dikembangkan secara mandiri oleh peneliti berdasarkan indikator Theory of Planned Behavior. Dalam memastikan kelayakan dan kesesuaian isi instrumen, dilakukan validasi ahli (expert judgment) oleh seorang ahli di bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi guna menilai kesesuaian isi, kejelasan redaksi, serta relavansi setiap butir pernyataan dengan indikator. Pernyataan-pernyataan inilah yang dijadikan oleh peneliti sebagai pedoman dalam membuat kuesioner yang ditujukan kepada responden pemustaka Perpustakaan Universitas Negeri Padang. Berikut item pernyataan yang diajukan oleh peneliti kepada responden dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Kisi-Kisi Kuesioner Variabel Indikator Item Pernyataan Sikap (Attitude Towards Behavior) Saya menganggap keterlambatan sebagai bentuk kelalaian pribadi. Perilaku Pemustaka Membayar denda keterlambatan bukan masalah bagi saya. Terlambat mengembalikan buku tidak secara langsung. merugikan siapa pun Saya tidak merasa perlu buru-buru mengembalikan buku. Saya menganggap waktu peminjaman buku terlalu singkat. Saya tidak merasa adanya urgensi untuk mengembalikan buku tepat waktu. Saya tidak merasa bersalah ketika terlambat karena tidak disengaja. Saya sering berpikir tidak apa-apa terlambat satu atau dua hari. Teman-teman saya juga sering terlambat mengembalikan buku. Norma Saya jarang mendapat teguran dari petugas saat terlambat. Subjektif Orang-orang di sekitar saya menganggap keterlambatan sebagai hal lumrah. (Subjective Norms) Tidak ada sanksi sosial dari lingkungan sekitar ketika saya terlambat. Lingkungan akademik tidak menekankan disiplin dalam meminjam buku. Saya sering lupa tanggal jatuh tempo pengembalian buku. Saya tidak yakin bisa selalu mengembalikan buku tepat waktu. Jadwal kuliah yang padat membuat saya sulit mengembalikan buku tepat waktu. Persepsi Kontrol Saya tidak tahu bahwa bisa memperpanjang masa pinjam buku secara online. Saya merasa tidak punya waktu untuk mengurus pengembalian buku. Perilaku (Perceived Behavioral Control) Perpustakaan tidak memiliki sistem pengingat untuk membantu menghindari keterlambatan. Saya tidak tahu batas waktu maksimal peminjaman buku. Saya tidak terbiasa membuat pengingat untuk pengembalian buku. Perjalanan ke perpustakaan terasa menyulitkan saya. Aktivitas perkuliahan menyita waktu saya untuk mengurus pengembalian. Data dianalisis menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan skala Likert 4 poin sebagai alat ukur yang memiliki rentang jawaban bergradasi dari sangat setuju (SS) dengan skor 4, setuju (S) dengan skor 3, tidak setuju (TS) dengan skor 2, dan sangat tidak setuju (STS) dengan skor 1. Pengujian dilakukan dengan uji validitas dan uji reliabilitas, Uji validitas dilakukan dengan korelasi Pearson Product Moment, instrumen dikatakan valid jika memiliki validitas yang tinggi. Sebaliknya, instrumen dianggap tidak valid apabila memiliki validitas rendah. Tabel 2. Uji Validitas Instrumen Penelitian No. Rhitung Rtabel Validitas 1 0,312 0,175 VALID 2 0,464 0,175 VALID 3 0,756 0,175 VALID 4 0,606 0,175 VALID 5 0,458 0,175 VALID 6 0,391 0,175 VALID 7 0,411 0,175 VALID 8 0,546 0,175 VALID 9 0,390 0,175 VALID 10 0,338 0,175 VALID 11 0,420 0,175 VALID 12 0,358 0,175 VALID 13 0,436 0,175 VALID 14 0,510 0,175 VALID 15 0,625 0,175 VALID 16 0,430 0,175 VALID 17 0,362 0,175 VALID 18 0,491 0,175 VALID 19 0,462 0,175 VALID 20 0,496 0,175 VALID 21 0,536 0,175 VALID 22 0,516 0,175 VALID 23 0,527 0,175 VALID Selanjutnya, uji reliabilitas dilakukan menggunakan koefisien Cronbach Alpha. Hasil uji menunjukkan bahwa seluruh item valid (p < 0,05) dan reliabel (α > 0,70), sehingga instrumen layak digunakan. Instrumen dikumpulkan melalui Google Form dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif untuk memperoleh skor rata-rata pada masing-masing indikator. Interpretasi hasil dilakukan berdasarkan skor interval. Tabel 3. Uji Reliabilitas Instrumen Penelitian Variabel AlphaCronbach Status Perilaku Pemustaka Dalam Keterlambatan Pengembalian Buku Pada Layanan Sirkulasi Perpustakaan Universitas Negeri Padang 0,835 Reliabel

Result & Discussion

Penyebaran kuesioner dilakukan pada tanggal 2 Juni 2025 kepada pemustaka yang terlambat mengembalikan buku pada layanan sirkulasi Perpustakaan Universitas Negeri Padang menggunakan poster yang berisikan google form. Hasil uji validitas terhadap item pernyataan kuesioner yang berjumlah 23 pernyataan valid. Dalam studi ini, untuk mengkategorikan tingkat perilaku pemustaka yang terlambat mengembalikan buku, maka peneliti membuat penilaian berdasarkan skala interval dari sangat rendah sampai sangat tinggi, seperti yang tertera pada Tabel 4. Tabel 4. Skala Interval Skala Interval Kategori 3,25 – 4,00 Sangat Tinggi 2,50 – 3,24 Tinggi 1,75 – 2,49 Rendah 1,00 – 1,74 Sangat Rendah Grafik 1. Distribusi Frekuensi Indikator Sikap Berdasarkan grafik 1, indikator sikap pada perilaku pemustaka dalam keterlambatan pengembalian buku pada layanan sirkulasi Perpustakaan Universitas Negeri Padang terdapat 8 item pernyataan yang menganalisis sikap pemustaka dengan perolehan grand mean 2,57 yang berada pada skala interval 2,503,24. Hasil ini menunjukkan bahwa sikap perilaku pemustaka dalam keterlambatan pengembalian buku pada layanan sirkulasi Perpustakaan Universitas Negeri Padang berada pada kategori tinggi, yang berarti sebagian besar pemustaka memiliki kesadaran dan refleksi diri terhadap keterlambatan yang mereka lakukan. Namun, meskipun nilai rata-rata berada di kategori tinggi, masih terdapat beberapa sub indikator yang menunjukkan sikap toleran terhadap keterlambatan seperti durasi peminjaman yang terlalu singkat, beberapa pemustaka tidak tergesa-gesa mengembalikan buku, dan memandang keterlambatan selama satu atau dua hari sebagai hal yang normal. Pihak perpustakaan perlu melakukan strategi peningkatan kesadaran terhadap pemustaka. Strategi yang dapat dilakukan dengan membuat edukasi berkelanjutan tentang pentingnya pengembalian tepat waktu. Temuan ini konsisten dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Hidayat & Irhandayaningsih (2014) yang berjudul Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keterlambatan Pengembalian Koleksi pada Layanan Sirkulasi Perpustakaan SMAN 5 Magelang menyatakan bahwa pada indikator sikap diketahui bahwa rasa malas dan kurang bertanggung jawab menjadi penyebab permasalahan keterlambatan pengembalian buku yang di mana faktor ini berasal dari individu tersebut. Sub indikator tertinggi dalam indikator sikap adalah pernyataan 1 yaitu <saya menganggap keterlambatan sebagai bentuk kelalaian pribadi= dengan nilai 2,85 sementara sub indikator terendahnya adalah pernyataan 2 yaitu <membayar denda keterlambatan bukan masalah bagi saya= dengan nilai 2,36. Hal ini menunjukkan bahwa sistem denda masih efektif sebagai bentuk sanksi. Oleh karena itu, diperlukan strategi peningkatan kesadaran melalui edukasi dan sistem pengingat otomatis. Hasil ini sejalan dengan Sasmita (2023) yang menyatakan bahwa perpustakaan dapat menerapkan pengembangan situs web perpustakaan seperti sistem pengingat otomatis untuk mengurangi alasan penundaan pengembalian buku dan Banda & Chewe (2021) yang menyatakan bahwa jika nominal denda yang diterapkan masih tergolong murah maka pemustaka akan sepele terhadap hal tersebut sehingga banyak dari mereka untuk tidak mengembalikan buku. Hal ini menjadi pertimbangan bagi perpustakaan untuk menaikkan biaya denda serta sosialisasi kepatuhan pemustaka terhadap peraturan perpustakaan. Grafik 2. Distribusi Frekuensi Indikator Norma Subjektif Selanjutnya, indikator norma subjektif pada perilaku pemustaka dalam keterlambatan pengembalian buku pada layanan sirkulasi Perpustakaan Universitas Negeri Padang terdapat 5 item pernyataan yang menganalisis norma subjektif pemustaka dengan perolehan grand mean 2,42 yang berada pada skala interval 1,75-2,49. Hasil ini menunjukkan bahwa norma subjektif perilaku pemustaka dalam keterlambatan pengembalian buku pada layanan sirkulasi Perpustakaan Universitas Negeri Padang berada pada kategori rendah, yang berarti pemustaka tidak sepenuhnya terdorong oleh pengaruh eksternal seperti teman ataupun pustakawan. Lingkungan yang permisif, tidak memberikan sanksi sosial, serta budaya yang menganggap keterlambatan sebagai hal biasa, turut membuat pemustaka merasa hal tersebut wajar. Meskipun faktor eksternal bukan satu-satunya penyebab, lingkungan yang tidak tegas dan norma sosial yang longgar tetap berkontribusi dalam membentuk perilaku keterlambatan tersebut. Dengan demikian, diperlukan upaya dari pihak perpustakaan untuk membangun lingkungan mendorong kedisiplinan dan memberikan edukasi terhadap tanggung jawab. Hal ini didukung oleh Armiati & Zuha (2019) yang menyatakan bahwa cara tepat untuk mengatasi keterlambatan pengembalian buku adalah dengan adanya upaya untuk meningkatkan disiplin dari mahasiswa dan juga usaha perpustakaan untuk memastikan bahwa setiap mahasiswa mematuhi aturan pengembalian buku yang telah diberlakukan. Sub indikator tertinggi dalam indikator norma subjektif adalah pernyataan 12 yaitu <tidak ada sanksi sosial dari lingkungan sekitar ketika saya terlambat= dengan nilai 2,53 sementara sub indikator terendahnya adalah pernyataan 10 yaitu <saya jarang mendapat teguran dari petugas saat terlambat= dengan nilai 2,34. Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian responden tidak mendapatkan teguran atau peringatan dari petugas saat terlambat mengembalikan buku, sedangkan sebagian responden lainnya menjawab tidak setuju dikarenakan petugas memberikan teguran bagi mereka untuk agar lebih disiplin dalam mengembalikan buku tepat waktu. Temuan ini konsisten dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Wismanawati & Permana (2013) yang menyatakan strategi untuk meningkatkan kedisiplinan pemustaka adalah dengan penerapan sanksi administratif seperti teguran lisan untuk menumbuhkan kesadaran pemustaka terhadap kewajiban dan tanggung jawabnya. Grafik 3. Distribusi Frekuensi Indikator Persepsi Kontrol Perilaku Selanjutnya, indikator persepsi kontrol perilaku pemustaka dalam keterlambatan pengembalian buku pada layanan sirkulasi Perpustakaan Universitas Negeri Padang terdapat 10 item pernyataan yang menganalisis persepsi kontrol perilaku pemustaka dengan perolehan grand mean 2,66 yang berada pada skala interval 2,50-3,24. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi kontrol perilaku pemustaka pada layanan sirkulasi Perpustakaan Universitas Negeri Padang berada pada kategori tinggi, yang berarti hambatan dalam keterlambatan pengembalian buku tidak hanya berasal dari faktor internal saja, namun juga berasal dari faktor eksternal. Faktor internal yang menghambat pengguna adalah lupa, kurangnya waktu peminjaman, dan kebiasaan buruk dalam pengelolaan jadwal. Kemudian, faktor eksternal yang menghambat pengguna adalah kurangnya sistem pengingat dari perpustakaan dan ketidaktahuan terhadap adanya layanan daring yang bisa mempermudah pemustaka memperpanjang peminjaman buku. Namun, meskipun nilai rata-rata berada di kategori tinggi, masih terdapat beberapa hambatan dari faktor internal seperti. Hasil ini didukung dengan temuan penelitian sebelumnya oleh Alfiah & Indriani (2021) yang menyatakan bahwa dengan menerapkan sistem informasi perpustakaan maka proses peminjaman dan pengembalian buku akan lebih akurat dan terjamin. Pustakawan akan lebih mudah mengingatkan kepada pemustaka apabila telah melewati batas peminjaman buku. Sub indikator tertinggi dalam indikator persepsi kontrol perilaku adalah pernyataan 16 yaitu <jadwal kuliah yang padat membuat saya sulit mengembalikan buku tepat waktu= dengan nilai 2,87 dan pernyataan 19 yaitu <perpustakaan tidak memiliki sistem pengingat untuk membantu menghindari keterlambatan= dengan nilai 2,87 sementara sub indikator terendahnya adalah pernyataan 22 yaitu <perjalanan ke perpustakaan terasa menyulitkan saya= dengan nilai 2,34. Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian responden memiliki kesulitan menuju ke perpustakaan, seperti tangga yang cukup banyak untuk ditempuh menuju ke layanan pengembalian. Sedangkan sebagian responden menjawab tidak setuju dikarenakan sudah terbiasa untuk datang ke perpustakaan dan letak gedung fakultas dekat dari perpustakaan. Temuan ini konsisten dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Nafis & Etyana (2022) yang berjudul Analisis Penyebab Keterlambatan Pengembalian Buku di Layanan Sirkulasi (Studi Kasus UPT. Perpustakaan Universitas Syiah Kuala) yang menyatakan bahwa sebagian besar keterlambatan pengembalian buku disebabkan oleh faktor eksternal sehingga dalam menindaklanjuti hasil tersebut perpustakaan meminimalisir rata-rata penyebab keterlambatan dengan memanfaatkan aplikasi perpustakaan dan menambahkan fitur notifikasi pengingat agar pemustaka tidak terlambat mengembalikan buku. Berdasarkan hasil pemaparan di atas, secara keseluruhan perolehan grand mean dalam setiap indikator sejalan dengan temuan sebelumnya seperti sub indikator sikap tertinggi adalah menganggap keterlambatan sebagai bentuk kelalaian sesuai dengan penelitian sebelumnya yang terjadi dikarenakan rasa malas dan kurang bertanggung jawab. Di sisi lain, sub indikator norma subjektif menunjukkan hasil yang berbeda dari beberapa penelitian sebelumnya yang menekankan kuatnya peran lingkungan akademik dalam membentuk kepatuhan. Sementara itu, pada indikator persepsi kontrol perilaku menunjukkan bahwa pemustaka tidak merasa kesulitan untuk datang ke perpustakaan. Hal ini mengindikasikan bahwa solusi digital tidak hanya perlu disediakan, tetapi juga disosialisasikan secara merata. Upaya perbaikan perlu difokuskan pada peningkatan kesadaran individu, penguatan norma disiplin, serta pengembangan sistem pendukung berbasis teknologi agar perilaku pengembalian buku dapat menjadi lebih disiplin dan tepat waktu. Berdasarkan pemaparan hasil penelitian, peneliti menyarankan beberapa hal sebagai tindak lanjut dari temuan penelitian ini sebagai pertimbangan dalam pengembangan layanan sirkulasi khususnya dalam keterlambatan pengembalian buku pada layanan sirkulasi Perpustakaan Universitas Negeri Padang yaitu: (1) mengembangkan sistem pengingat otomatis, baik melalui notifikasi email, aplikasi sistem informasi perpustakaan, aplikasi mobile, atau SMS, untuk mengurangi keterlambatan yang disebabkan oleh kelalaian individu; dan (2) edukasi berkelanjutan tentang pentingnya disiplin dalam pengembalian buku serta pemanfaatan sistem perpanjangan daring perlu ditingkatkan.

Conclusion

Berdasarkan hasil pembahasan tersebut, maka peneliti menarik kesimpulan mengenai perilaku pemustaka dalam keterlambatan pengembalian buku pada layanan sirkulasi Perpustakaan Universitas Negeri Padang bahwa: pertama, perilaku pemustaka dalam keterlambatan pengembalian buku pada layanan sirkulasi Perpustakaan Universitas Negeri Padang dilihat dari indikator sikap terdapat 8 item pernyataan yang menganalisis sikap pemustaka dengan perolehan grand mean 2,57 yang berada pada skala interval 2,50-3,24. Hasil ini menunjukkan bahwa sikap perilaku pemustaka dalam keterlambatan pengembalian buku pada layanan sirkulasi Perpustakaan Universitas Negeri Padang berada pada kategori tinggi, yang berarti sebagian besar pemustaka memiliki kesadaran dan refleksi diri terhadap keterlambatan yang mereka lakukan. Kedua, perilaku pemustaka dalam keterlambatan pengembalian buku pada layanan sirkulasi Perpustakaan Universitas Negeri Padang dilihat dari indikator norma subjektif terdapat 5 item pernyataan yang menganalisis norma subjektif pemustaka dengan perolehan grand mean 2,42 yang berada pada skala interval 1,75-2,49. Hal ini menunjukkan bahwa norma subjektif perilaku pemustaka dalam keterlambatan pengembalian buku pada layanan sirkulasi Perpustakaan Universitas Negeri Padang berada pada kategori rendah, yang berarti pemustaka tidak sepenuhnya terdorong oleh pengaruh eksternal seperti teman ataupun pustakawan. Ketiga, perilaku pemustaka dalam keterlambatan pengembalian buku pada layanan sirkulasi Perpustakaan Universitas Negeri Padang dilihat dari indikator persepsi kontrol perilaku pemustaka terdapat 10 item pernyataan yang menganalisis persepsi kontrol perilaku pemustaka dengan perolehan grand mean 2,66 yang berada pada skala interval 2,50-3,24. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi kontrol perilaku pemustaka pada layanan sirkulasi Perpustakaan Universitas Negeri Padang berada pada kategori tinggi, yang berarti hambatan dalam keterlambatan pengembalian buku tidak hanya berasal dari faktor internal saja, namun juga berasal dari faktor eksternal. Faktor internal yang menghambat pengguna adalah lupa, kurangnya waktu peminjaman, dan kebiasaan buruk dalam pengelolaan jadwal. Kemudian, faktor eksternal yang menghambat pengguna adalah kurangnya sistem pengingat dari perpustakaan dan ketidaktahuan terhadap adanya layanan daring yang bisa mempermudah pemustaka memperpanjang peminjaman buku. Keterbatasan dalam penelitian ini terletak pada pendekatan yang kurang mendalam mengenai perilaku pemustaka sehingga membuka peluang bagi riset lanjutan dengan pendekatan kualitatif atau campuran, serta kajian lain mengenai motivasi intrinsik dan efektivitas sistem informasi perpustakaan. Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis terhadap pengembangan Theory of Planned Behavior dalam konteks perilaku pemustaka di lingkungan akademik, khususnya terkait keterlambatan pengembalian buku. Selain itu, penelitian ini menyoroti pentingnya faktor eksternal seperti sistem pengingat otomatis dan kebijakan denda sebagai elemen yang memengaruhi persepsi kontrol perilaku. Temuan ini memperluas cakupan Theory of Planned Behavior dengan menunjukkan bahwa persepsi kontrol perilaku tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan pribadi, tetapi juga oleh kebijakan institusional. Dengan demikian, kajian ini memberikan dasar untuk pengembangan model perilaku yang lebih kontekstual dan adaptif terhadap lingkungan akademik di perguruan tinggi.