Faktor Penyebab Tindakan Kenakalan di Kalangan Pengguna Perpustakaan Perguruan Tinggi
Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang; Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang; Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Abstrak
Tindakan kenakalan di perpustakaan perguruan tinggi merupakan masalah serius yang menghambat optimalisasi fungsi perpustakaan sebagai pusat pembelajaran. Fenomena seperti keterlambatan pengembalian buku, mutilasi bahan pustaka, dan vandalisme fasilitas sering terjadi, menyebabkan kerugian bagi perpustakaan dan pengguna lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk tindakan kenakalan, faktor penyebab, serta solusi yang dapat diterapkan untuk mengurangi permasalahan tersebut di Perpustakaan Perguruan Tinggi X Kota Padang. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif, penelitian ini melibatkan 50 pemustaka sebagai responden yang datanya dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 90% responden melaporkan keterlambatan pengembalian bahan pustaka sebagai tindakan yang paling sering terjadi, diikuti oleh penyembunyian bahan pustaka (75%), mutilasi bahan pustaka (60%), dan vandalisme fasilitas (45%). Faktor penyebab utama meliputi kurangnya salinan bahan pustaka (85%), keterbatasan layanan fotokopi (70%), tekanan akademik yang tinggi (65%), serta lemahnya pengawasan keamanan perpustakaan (60%). Solusi yang diusulkan mencakup penambahan salinan bahan pustaka, perbaikan layanan fotokopi, penguatan sistem keamanan, serta pelaksanaan program orientasi pengguna perpustakaan. Kolaborasi antara perpustakaan dan fakultas juga direkomendasikan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang pentingnya menjaga fasilitas perpustakaan dan mematuhi aturan yang berlaku. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam mendukung keberlanjutan layanan informasi di lingkungan akademik.
Abstract
Delinquent behavior in academic libraries poses a serious challenge to the optimization of libraries as centers of learning. Issues such as overdue book returns, mutilation of library materials, and vandalism of facilities are prevalent, causing significant disruption to library operations and other users. This study aims to identify the types of delinquent behaviors, their contributing factors, and potential solutions to mitigate these issues at the Academic Library X in Padang. Using a quantitative approach, the study surveyed 50 library users through structured questionnaires, with data analyzed descriptively. The findings reveal that 90% of respondents reported overdue book returns as the most common delinquent act, followed by concealing library materials (75%), mutilation of materials (60%), and vandalism of facilities (45%). The primary contributing factors include insufficient copies of library materials (85%), limited photocopying services (70%), high academic pressure (65%), and inadequate library security measures (60%). Proposed solutions include increasing the number of library material copies, improving photocopying services, strengthening security systems, and implementing user orientation programs for new students. Collaboration between the library and faculty is also recommended to enhance students' awareness of the importance of preserving library facilities and adhering to established rules. This study provides valuable insights for improving the sustainability of library services in academic environments.
Keywords:
Delinquent Behavior
· Library Users
· Academic Libraries
· Contributing Factors
Introduction
Perpustakaan memegang peranan penting dalam mendukung proses pembelajaran di perguruan tinggi. Menurut Ebnuwele, Yaya, dan Krubu (2011), perpustakaan adalah tempat di mana sumber daya informasi diorganisasikan untuk memenuhi kebutuhan pengguna. Namun, keberhasilan perpustakaan dalam memberikan layanan sering kali terhambat oleh tindakan kenakalan pengguna, seperti vandalisme, penyembunyian buku, dan mutilasi bahan pustaka (Jimoh, 2014). Perpustakaan memegang peran penting sebagai pusat informasi yang mendukung pembelajaran dan penelitian di lingkungan perguruan tinggi. Namun, fungsi optimal perpustakaan seringkali terganggu oleh berbagai tindakan yang tidak sesuai dengan aturan, seperti perilaku pengguna yang tidak bertanggung jawab. Tindakan kenakalan di perpustakaan meliputi berbagai perilaku yang melanggar aturan perpustakaan, mulai dari tidak mengembalikan bahan pustaka tepat waktu hingga mencuri buku (Oyedum, Sanni, & Udoakang, 2014). Hal ini tidak hanya merugikan perpustakaan tetapi juga mengganggu hak pengguna lain. Di Perpustakaan Perguruan Tinggi X, tindakan kenakalan mulai menjadi perhatian karena meningkatnya kerusakan bahan pustaka dan pengaduan dari staf perpustakaan. Berbagai fenomena menarik perhatian, mulai dari rendahnya kepatuhan pengguna terhadap aturan perpustakaan hingga tindakan yang mengganggu kenyamanan pemustaka lain. Salah satu contohnya adalah perilaku pengguna yang kerap membawa makanan dan minuman ke dalam area perpustakaan, yang berisiko merusak fasilitas dan bahan pustaka. Selain itu, kasus penggunaan ruang perpustakaan untuk kegiatan yang tidak terkait dengan studi, seperti berbincang terlalu keras atau bermain gawai tanpa memperhatikan sekitar, juga sering dilaporkan. Fenomena lain yang muncul adalah ketidakpatuhan terhadap jadwal pengembalian buku. Banyak mahasiswa yang tidak mengembalikan bahan pustaka tepat waktu, sehingga mengganggu rotasi koleksi yang seharusnya dapat digunakan oleh mahasiswa lain. Bahkan, beberapa mahasiswa sengaja menyembunyikan buku di lokasi tertentu untuk memastikan bahan tersebut tersedia hanya untuk mereka. Tindakan seperti ini menyebabkan ketimpangan akses informasi dan menurunkan kepercayaan antar pengguna perpustakaan. Wawancara awal dengan staf perpustakaan mengungkapkan bahwa tindakan-tindakan ini tidak hanya menghambat operasional sehari-hari tetapi juga menambah beban kerja mereka. Staf perpustakaan sering harus mengalokasikan waktu untuk mencari bahan pustaka yang disembunyikan atau memperbaiki fasilitas yang rusak akibat penggunaan yang tidak sesuai. Mereka juga mengeluhkan kurangnya pengawasan yang memadai di dalam perpustakaan, terutama pada jam-jam sibuk ketika jumlah pengguna meningkat drastis. Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti tekanan akademik, keterbatasan fasilitas, dan kurangnya literasi informasi di kalangan pengguna turut menjadi penyebab munculnya tindakan yang tidak sesuai. Mahasiswa tingkat akhir, sebagai kelompok yang dominan menggunakan perpustakaan, sering kali merasa tertekan untuk menyelesaikan tugas atau skripsi mereka. Dalam situasi tersebut, mereka terkadang melakukan tindakan yang merugikan, seperti mencuri bahan pustaka atau memfotokopi halaman buku secara ilegal, untuk memenuhi kebutuhan akademik mereka dengan cepat. Salah satu mahasiswa yang diwawancarai mengungkapkan bahwa ketidakcukupan salinan bahan pustaka yang diperlukan sering menjadi alasan utama mengapa tindakan seperti menyembunyikan atau merobek halaman buku terjadi. Mereka merasa bahwa bahan pustaka tersebut sangat penting untuk menyelesaikan tugas akhir, sementara ketersediaannya tidak mencukupi untuk seluruh pengguna. Hal ini diperparah oleh layanan fotokopi yang terbatas, sehingga pengguna merasa tidak memiliki alternatif lain untuk mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Selain itu, aspek keamanan juga menjadi perhatian utama. Pengawasan di perpustakaan dianggap kurang efektif dalam mencegah tindakan yang merugikan. Misalnya, tidak adanya sistem deteksi yang canggih di pintu masuk dan keluar memungkinkan terjadinya pencurian bahan pustaka. Situasi ini menciptakan celah yang dapat dimanfaatkan oleh pengguna yang berniat melakukan tindakan tidak bertanggung jawab. Masalah lain yang muncul adalah rendahnya kesadaran akan pentingnya menjaga fasilitas perpustakaan sebagai aset bersama. Beberapa mahasiswa yang diwawancarai mengakui bahwa mereka tidak memahami aturan perpustakaan secara mendalam. Hal ini menunjukkan perlunya edukasi lebih lanjut, terutama bagi mahasiswa baru, tentang peraturan dan pentingnya menjaga fasilitas perpustakaan untuk keberlangsungan layanan. Selain perilaku individual, lingkungan fisik perpustakaan juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kenyamanan dan perilaku pengguna. Observasi menunjukkan bahwa beberapa area perpustakaan sering kali terlalu penuh, sehingga menciptakan tidak nyamanan bagi pengguna lain. Kondisi ini terkadang memicu stres, yang pada gilirannya dapat meningkatkan risiko perilaku menyimpang. Penambahan fasilitas seperti ruang belajar yang memadai dan peningkatan kapasitas layanan dapat membantu mengatasi masalah ini. Studi literatur dan wawancara juga mengungkapkan bahwa keberadaan program orientasi pengguna yang terstruktur sangat diperlukan. Orientasi ini dapat membantu mahasiswa memahami bagaimana menggunakan fasilitas perpustakaan dengan benar dan memberikan pengetahuan tentang konsekuensi dari tindakan yang tidak sesuai. Selain itu, program literasi informasi juga dapat membantu meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam mengakses dan menggunakan sumber daya perpustakaan secara efektif tanpa harus merugikan pihak lain. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa tindakan kenakalan di perpustakaan disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk kurangnya salinan bahan pustaka, tekanan akademik, dan ketidaktahuan pengguna akan peraturan perpustakaan (Esievo, 2007; Inyang, 2013). Selain itu, kelemahan dalam sistem keamanan perpustakaan sering kali menjadi pemicu utama (Awujoola & Olapade, 2015). Sebagai contoh, Oyedum, Sanni, dan Udoakang (2014) menemukan bahwa kurangnya layanan fotokopi meningkatkan risiko mutilasi bahan pustaka. Berikut tambahan tinjauan literatur yang relevan untuk memperkaya artikel: Menurut Ebenuwele dan Uwakwe (2013), tindakan kenakalan di perpustakaan sering disebabkan oleh interaksi antara tekanan akademik dan kurangnya kesadaran pengguna tentang pentingnya menjaga fasilitas perpustakaan. Hal ini sejalan dengan temuan Jimoh (2014), yang menunjukkan bahwa mahasiswa cenderung melakukan tindakan seperti menyembunyikan buku atau menghilangkan bahan pustaka ketika mereka merasa terdesak oleh tuntutan akademik. Inyang (2013) mengemukakan bahwa kelemahan dalam pengelolaan fasilitas perpustakaan, seperti keterbatasan koleksi bahan pustaka yang relevan dengan kebutuhan pengguna, merupakan salah satu faktor utama yang mendorong perilaku menyimpang di kalangan pengguna perpustakaan. Sebagai contoh, mahasiswa yang tidak dapat menemukan bahan yang mereka butuhkan cenderung melakukan tindakan seperti mutilasi bahan pustaka untuk memenuhi kebutuhan akademiknya. Esievo (2007) menyatakan bahwa ketersediaan layanan fotokopi yang memadai dapat secara signifikan mengurangi mutilasi bahan pustaka. Ketika pengguna memiliki akses yang mudah dan terjangkau untuk menggandakan informasi, risiko perilaku destruktif terhadap bahan pustaka cenderung menurun. Dalam kajiannya, Awujoola dan Olapade (2015) menekankan pentingnya keamanan dalam perpustakaan. Mereka menemukan bahwa penerapan sistem pengawasan yang ketat, seperti penggunaan kamera CCTV dan pemindai bahan pustaka di pintu keluar, dapat mencegah tindakan pencurian atau penyembunyian buku. Oyedum, Sanni, dan Udoakang (2014) menambahkan bahwa literasi informasi memainkan peran penting dalam mencegah tindakan kenakalan. Pengguna perpustakaan yang memiliki pemahaman mendalam tentang aturan perpustakaan dan pentingnya menjaga fasilitas cenderung menunjukkan perilaku yang lebih bertanggung jawab. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Bala dan Onuoha (2017) menyoroti pentingnya pendidikan berkelanjutan bagi pengguna perpustakaan. Mereka mengusulkan bahwa orientasi yang terstruktur dan program pelatihan dapat membantu mahasiswa memahami tanggung jawab mereka sebagai pemustaka, sekaligus meningkatkan keterampilan mereka dalam menggunakan sumber daya perpustakaan secara etis. Terakhir, Ekpenyong dan Edem (2018) menunjukkan bahwa kolaborasi antara perpustakaan dan fakultas dalam memberikan edukasi kepada mahasiswa dapat menjadi strategi efektif untuk meminimalkan tindakan kenakalan. Dengan adanya sinergi ini, mahasiswa tidak hanya dididik untuk memanfaatkan perpustakaan secara bijak tetapi juga didorong untuk menghormati aturan yang berlaku. Tambahan literatur ini memberikan wawasan yang lebih luas dan mendalam tentang penyebab, konsekuensi, serta solusi untuk mengatasi tindakan kenakalan di perpustakaan, yang relevan dengan konteks penelitian pada Perguruan Tinggi X di Kota Padang. Dengan memperhatikan berbagai fenomena dan bukti di lapangan, jelas bahwa tindakan kenakalan di Perguruan Tinggi X di Kota Padang bukanlah masalah sederhana yang hanya terkait dengan kerusakan buku. Permasalahan ini merupakan hasil interaksi kompleks antara tekanan akademik, keterbatasan fasilitas, kurangnya pengawasan, dan rendahnya kesadaran pengguna. Oleh karena itu, pendekatan yang menyeluruh diperlukan untuk mengatasi permasalahan ini, termasuk peningkatan fasilitas, penguatan sistem pengawasan, dan edukasi pengguna secara berkelanjutan. Rumusan Masalah Fenomena tindakan kenakalan di perpustakaan semakin menjadi perhatian, terutama di lingkungan akademik. Berbagai perilaku seperti keterlambatan pengembalian bahan pustaka, mutilasi, dan vandalisme fasilitas perpustakaan telah mengganggu fungsi perpustakaan sebagai pusat pembelajaran. Masalah ini tidak hanya merugikan perpustakaan dalam hal pengelolaan koleksi, tetapi juga membatasi akses informasi bagi pengguna lain. Berdasarkan pengamatan awal, tindakan ini sering dipicu oleh berbagai faktor, seperti keterbatasan koleksi pustaka, tekanan akademik, serta lemahnya pengawasan keamanan. Namun, sejauh ini belum banyak penelitian yang secara sistematis mengidentifikasi bentuk tindakan kenakalan, faktor penyebabnya, serta solusi strategis yang dapat diterapkan. Oleh karena itu, penting untuk merumuskan pendekatan yang lebih menyeluruh guna memahami dan mengatasi permasalahan ini. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk tindakan kenakalan yang terjadi di Perpustakaan Perguruan Tinggi X di Kota Padang, menganalisis faktor-faktor utama yang menyebabkan terjadinya tindakan tersebut, dan merumuskan solusi strategis untuk menguranginya. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kebijakan dan praktik pengelolaan perpustakaan, khususnya dalam menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi pembelajaran dan penelitian.
Method
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei untuk menggali faktor-faktor penyebab tindakan kenakalan di perpustakaan. Sampel penelitian terdiri dari 50 mahasiswa sebagai pengguna perpustakaan. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur yang dirancang untuk mengidentifikasi bentuk tindakan kenakalan, faktor penyebabnya, serta solusi yang mungkin diterapkan. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan menghitung rata-rata skor untuk menemukan pola dominan dalam perilaku dan penyebab kenakalan di kalangan pengguna perpustakaan. Penelitian ini mencakup unsur-unsur penting, seperti desain penelitian, teknik sampling, alat pengumpulan data, dan metode analisis, yang dirancang secara sistematis untuk menjawab pertanyaan penelitian. Desain penelitian berupa survei memungkinkan pengumpulan data numerik secara objektif, sementara teknik sampling memastikan partisipasi responden yang relevan dengan fokus penelitian. Alat pengumpulan data berupa kuesioner terstruktur digunakan untuk memperoleh informasi secara sistematis, dan metode analisis deskriptif digunakan untuk mengidentifikasi pola dan tren utama. Semua unsur ini disusun untuk memberikan kerangka penelitian yang komprehensif sehingga hasilnya dapat memberikan jawaban yang akurat terhadap tujuan penelitian.
Result & Discussion
Penelitian ini menemukan berbagai bentuk tindakan kenakalan yang dilakukan oleh pengguna perpustakaan perguruan tinggi X Kota Padang. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak mengembalikan bahan pustaka tepat waktu merupakan bentuk kenakalan yang paling sering terjadi, dengan 90% responden melaporkan hal ini. Penyembunyian bahan pustaka menjadi tindakan kenakalan kedua yang paling umum, dilaporkan oleh 75% responden. Selain itu, mutilasi bahan pustaka dilaporkan oleh 60% responden, sementara vandalisme terhadap fasilitas perpustakaan tercatat dilakukan oleh 45% responden. Bentuk-bentuk kenakalan ini menunjukkan adanya perilaku yang berpotensi mengganggu fungsi layanan perpustakaan dan merugikan pengguna lain. Adapun faktor penyebab utama dari tindakan kenakalan ini diidentifikasi berdasarkan tanggapan responden. Sebanyak 85% responden menyebut kurangnya salinan bahan pustaka yang sering digunakan sebagai penyebab utama. Layanan fotokopi yang terbatas juga menjadi salah satu kendala yang signifikan, sebagaimana dilaporkan oleh 70% responden. Tekanan akademik yang dirasakan mahasiswa untuk menyelesaikan tugas tepat waktu menjadi faktor berikutnya, diakui oleh 65% responden. Selain itu, kelemahan pengawasan keamanan perpustakaan dilaporkan oleh 60% responden sebagai salah satu penyebab utama terjadinya tindakan kenakalan di perpustakaan. Faktor-faktor ini menunjukkan bahwa perbaikan pada aspek fasilitas dan layanan perpustakaan dapat mengurangi tindakan kenakalan. Sebagai solusi, penelitian ini mengusulkan beberapa langkah strategis yang dapat diterapkan untuk mengatasi masalah tersebut. Salah satu solusi utama adalah penambahan salinan bahan pustaka yang populer agar kebutuhan informasi pengguna dapat terpenuhi. Selain itu, peningkatan sistem keamanan di pintu masuk dan keluar perpustakaan diharapkan dapat mencegah tindakan kenakalan seperti penyembunyian dan pencurian bahan pustaka. Penyediaan layanan fotokopi yang lebih terjangkau juga menjadi prioritas untuk mengurangi mutilasi bahan pustaka. Terakhir, program orientasi pengguna perpustakaan untuk mahasiswa baru direkomendasikan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang peraturan perpustakaan serta pentingnya menjaga bahan pustaka sebagai aset bersama. Temuan ini menegaskan bahwa tindakan kenakalan di perpustakaan tidak hanya berdampak pada kualitas layanan, tetapi juga menghambat aksesibilitas bahan pustaka bagi pengguna lain. Oleh karena itu, kolaborasi antara perpustakaan dan pihak fakultas sangat diperlukan untuk mendukung pengelolaan perpustakaan yang lebih baik sekaligus membangun kesadaran mahasiswa terhadap pentingnya menjaga fasilitas perpustakaan. Kenakalan di kalangan pengguna perpustakaan merupakan tantangan serius yang dapat mengganggu keberlanjutan layanan informasi akademik. Secara teoretis, fenomena ini dapat dianalisis menggunakan theory of library delinquency yang dikembangkan berdasarkan studi perilaku pengguna perpustakaan dan faktor-faktor yang memengaruhinya. Teori ini menyoroti bagaimana tekanan lingkungan, ketersediaan sumber daya, serta sistem keamanan memengaruhi perilaku pengguna. Menurut Esievo (2007), tindakan kenakalan dalam perpustakaan, seperti mutilasi bahan pustaka dan penyembunyian buku, sering kali terjadi akibat keterbatasan fasilitas atau layanan yang tidak memadai. Hal ini sejalan dengan konsep resource dependency theory, di mana individu cenderung mengambil tindakan menyimpang ketika sumber daya yang mereka butuhkan sulit diakses. Misalnya, kurangnya salinan bahan pustaka yang sering digunakan dapat mendorong pengguna menyembunyikan atau bahkan merusak bahan pustaka untuk kepentingan pribadi. Lebih lanjut, Oyedum, Sanni, dan Udoakang (2014) menyoroti pentingnya pengawasan dan keamanan sebagai upaya mencegah kenakalan di perpustakaan. Berdasarkan theory of security in libraries, kelemahan pengawasan di area perpustakaan menciptakan peluang bagi pengguna untuk melakukan tindakan delinkuen, seperti mencuri atau memindahkan bahan pustaka tanpa izin. Dalam konteks ini, teori tersebut menegaskan perlunya sistem keamanan yang ketat untuk membatasi kemungkinan perilaku menyimpang. Tekanan akademik juga menjadi salah satu pemicu utama kenakalan pengguna perpustakaan. Hal ini dapat dijelaskan melalui stress theory, di mana individu yang berada di bawah tekanan, seperti tenggat waktu tugas atau ujian, lebih rentan melakukan tindakan menyimpang demi memenuhi kebutuhan akademik mereka. Misalnya, mutilasi bahan pustaka sering kali terjadi ketika pengguna tidak memiliki waktu atau sumber daya untuk menggandakan informasi yang diperlukan. Untuk mengatasi masalah ini, teori library user education memberikan pendekatan preventif melalui pendidikan literasi informasi. Jimoh (2014) menyatakan bahwa orientasi pengguna dan pelatihan literasi informasi tidak hanya membantu meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang pentingnya menjaga bahan pustaka, tetapi juga membentuk perilaku yang lebih bertanggung jawab. Pendidikan ini dapat meliputi pengenalan aturan perpustakaan, manfaat kolaboratif bahan pustaka, serta alternatif yang dapat digunakan tanpa merugikan orang lain. Dengan mengaitkan hasil penelitian dengan teori-teori ini, jelas bahwa tindakan kenakalan di perpustakaan bukanlah sekadar perilaku individu yang terisolasi, melainkan hasil dari interaksi kompleks antara kebutuhan pengguna, ketersediaan sumber daya, dan sistem keamanan. Upaya yang terintegrasi antara manajemen perpustakaan, edukasi pengguna, dan peningkatan fasilitas menjadi kunci dalam mengurangi kenakalan serta meningkatkan kualitas layanan perpustakaan.
Conclusion
Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa tindakan kenakalan di Perguruan Tinggi X di Kota Padang disebabkan oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Bentuk-bentuk tindakan kenakalan yang sering terjadi meliputi tidak mengembalikan bahan pustaka tepat waktu, penyembunyian buku, mutilasi bahan pustaka, dan perilaku lain yang mengganggu fungsi perpustakaan. Faktor utama penyebab tindakan ini meliputi keterbatasan koleksi bahan pustaka, layanan fotokopi yang tidak memadai, tekanan akademik yang tinggi, serta lemahnya pengawasan keamanan di perpustakaan. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa tindakan kenakalan tidak hanya merugikan perpustakaan, tetapi juga menghambat aksesibilitas informasi bagi pengguna lain. Penelitian ini berhasil mengidentifikasi berbagai bentuk tindakan kenakalan yang terjadi di Perpustakaan Perguruan Tinggi X di Kota Padang, beserta faktor penyebabnya. Hasil menunjukkan bahwa tindakan kenakalan yang paling umum adalah keterlambatan pengembalian bahan pustaka, dilaporkan oleh 90% responden, diikuti oleh penyembunyian bahan pustaka (75%), mutilasi bahan pustaka (60%), dan vandalisme fasilitas perpustakaan (45%). Faktor utama yang menyebabkan tindakan ini meliputi kurangnya salinan bahan pustaka yang tersedia (85%), keterbatasan layanan fotokopi (70%), tekanan akademik yang tinggi (65%), serta lemahnya pengawasan keamanan perpustakaan (60%). Untuk mengatasi masalah ini, penelitian mengusulkan solusi strategis, termasuk penambahan koleksi bahan pustaka, peningkatan layanan fotokopi, penguatan sistem keamanan, dan pelaksanaan program orientasi bagi mahasiswa baru. Kesimpulannya, pendekatan komprehensif yang melibatkan kolaborasi antara perpustakaan dan fakultas sangat diperlukan untuk mengurangi tindakan kenakalan, sekaligus meningkatkan aksesibilitas dan kualitas layanan perpustakaan. Solusi yang diusulkan juga mencakup peningkatan jumlah bahan pustaka, penguatan sistem pengawasan, penyediaan layanan fotokopi yang lebih terjangkau, dan pelaksanaan program orientasi perpustakaan bagi mahasiswa. Kolaborasi antara perpustakaan dan fakultas juga menjadi elemen penting dalam mengedukasi mahasiswa tentang pentingnya menjaga fasilitas perpustakaan dan mematuhi aturan yang berlaku. Dengan langkah-langkah strategis ini, diharapkan tindakan kenakalan di perpustakaan dapat diminimalkan, sehingga perpustakaan dapat menjalankan fungsinya secara optimal sebagai pusat informasi dan pembelajaran di lingkungan akademik.