NILAI MORAL PADA NOVEL BUKAN PASAR MALAM KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER
Universitas Lancang Kuning
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk meneliti nilai moral pada novel Bukan Pasar Malam, karya Pramoedya Ananta Toer. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: Nilai moral kemanusiaan dalam novel Bukan Pasar Malamkarya Pramocdya Ananta Toer. Hasil Penelitian ini adalah Bukan Pasar Malam, Pramoedya menunjukkan bahwa ekonomi adalah merupakan kekuatan yang menyokong dalam kehidupan masyarakat. Kekuatan ekonomi memungkinkan mereka dapat merawat dan membantu satu sama lainnya, seperti pengalaman ayah. Ayah percaya bahwa ekonomi menguasakannya untuk menjadi kuat dalam penderitaannya. Tanpa uang, kehidupan akan lebih keras baginya. Apabila dia tidak mempunyai uang, dia tidak akan mendapatkan pengobatan secara medical di sanatorium. Melalui novel ini, Pramoedya menguasakan dirinya dan pribumi, dan menyokong mereka dalam perjuangannya melawan tekanan dan berjuang untuk mendapatkan nilai kemanusiaan, yang sangat mengesankan tentang pribumi dalam novel ini adalah keberanian dan semangat mereka untuk berjuang, tidak hanya untuk nilai moral mereka tetapi juga untuk penghargaan dan martabat mereka.
Abstract
This study aims to examine the moral values in the novel Night Market No works of Pramoedya Ananta Toer. Specifically, this study aims to find out : the moral value of humanity in the novel Night Market is not the work of Pramudya Anata Toer. The results of this study are No Night Market, Pramoedya suggests that the economy is a force that drives the lives of the people. Economic power allows them to care for and help each other, like a father experience. My father believed that menguasakannya economy to be strong in suffering. Without money, life will be harder for him. If he does not have money, he will not get medical treatment in the sanatorium. Through this novel, Pramoedya authorize himself and natives, and support them in their struggle against the pressure and struggled to get the value of humanity, that is very impressive about the natives in this novel is courage and their spirit to fight not only for their moral values but also to award and their dignity.
Keywords:
moral values
Introduction
Karya sastra merupakan cermin dari sebuah realitas kehidupan sosial masyarakat. Sebuah karya sastra yang baik memiliki sifatsifat yang abadi dengan memuat kebenaran-kebenaran hakiki yang selalu ada selama manusia masih ada (Sumardjo dan Saini, 1994:9). Uraian inimenunjukkan bahwa karya sastra tidak lahir begitu saja. Ada proses yang mendorongmunculnyakarya sastra dengan keberagaman tema dan aspek kehidupan masyarakat yaitu proses kreatif pengarang yang berusaha menciptakan karya yang dapat menggambarkan nilai-nilai didaktis dengan kreasi estetis yang menghibur. Semua hal yang terangkum dalam karya sastra tidak terlepas dari berbagai problematik yang dialami manusia baik secara pribadi maupun secara kolektif. Menanggapi dan menghadapi masalah-masalah tersebut manusia akan melakukan sebuah usaha atau perjuangan menentukan masa depan yang lebih baik berdasarkan imajinasi, perasaan, dan intuisinya. Dengan demikian, perjuangan panjang manusia dalam memaknai kehidupan akan selalu melekat dalam teks sastra. Aspek yang penulis pilih untuk diteliti setelah membaca Bukan Pasar Malam karya Pramoedya Ananta Toer adalah khayalan moral penulis, dia memperlihatkan kekuatan pemikirannya untuk mengkhayal studi benar dan salah dalam tingkah laku manusia yang diperhatikan dalam novel tersebut. Banyak novel yang telah ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer, disebabkan keterbatasan waktu, penulis hanya mengambil novel Pasar Malam secara langsung atau tidak langsung Dalam Bukan Pasar Malam, Pramocdya Ananta Toer menciptakan banyak gambaran masalah yang dapat ditemui dalam kehidupan manusia. Bermacammacam kontek dari koleksi cerita pendek ini adalah mungkin maksud Pramocdya untuk memperlihatkan kondisi nyata di dalam masyarakat. Pramoedya membawa kita pada pandangan ketika ayah meninggal, dan kepahlawanan terpantul pada kehidupannya. Catatan kehidupan ayahnya tersimpan dalam intisari nilai-nilai kemanusiaan, kebebasan dan keadilan dan berbagai konteks. Berdasarkan pendahuluan di atas maka penelitian ini dapat dirumuskan sebagaiberikut: Bagamana nilai kemanusian pada novel Bukan Pasar Malam Karya karya Pramoedya Ananta Toer? Secara umum penelitian ini bertujuan untuk meneliti nilai moral pada novel Bukan Pasar Malam, karya Pramoedya Ananta Toer. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: Nilai moral kemanusiaan dalam novel Bukan Pasar Malamkarya Pramoedya Ananta Toer. 2. Tinjauan Pustaka 2.1 Moral Kata moral berasal dari kata Latin "mos" yang berarti kebiasaan, kata *mos* jika akan sehingga kebiasaan jadi moris, dan moral adalah kata nama sifat dari kebiasaan itu, yang semula berbunyi moralis. Moral menurut Salam (2000: 12) adalah ilmu yang mencari keselarasan perbuatanperbuatan manusia (tindakan insani) dengan dasar-dasar yang sedalam-dalamnya yang diperoleh dengan akal budi manusia. Adapun moral secara umum mengarah pada pengertian ajaran tentang baik buruk yang diterima mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, budi pekerti, dan sebagainya. Remaja dikatakan bermoral jika mereka memiliki kesadaran moral yaitu dapat menilai hal-hal yang baik dan buruk, hal-hal yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan serta halhal yang etis dan tidak etis. Remaja yang bermoral dengan sendirinya akan tampak dalam penilaian atau penalaran moralnya serta pada perilakunya yang baik, benar, dan sesuai dengan etika, Selly Tokan (dalam Asri Budiningsih, 1999: 5). Kata moral selalu mengacu kepada baik buruk manusia. Sikap moral disebut juga moralitas yaitu sikap hati seseorang yang terungkap dalam tindakan lahiriah. Moralitas adalah sikap dan perbuatan baik yang betul-betul tanpa pamrih dan hanya moralitaslah yang dapat bernilai secara moral. Nilai moral dapat diperoleh di dalam nilai moralitas. Moralitas adalah kesesuaian sikap dan perbuatan dengan hukum atau norma batiniah, yakni dipandang sebagai kewajiban. 2.2 Etika Etika (kesusilaaan) lahir karena kesadaraan akan adannya naluri-solidaritas sejenis pada makhluk hidup untuk melestarikan kehidupannya, kemudian pada manusia etika ini menjadi kesadaran sosial, memberi rasa tanggungjawab dan bila terpenuhi akan menjelma menjadi rasa bahagia. (A.Α Djelantik, Estetika Sebuah Pengantar. hal-4). Pada manusia yang bermasyarakat etika ini berfungsi untuk mempertahankan kehidupan kelompok dan individu. Pada awalnya Etika dikenal pada sekelompok manusia yang sudah memiliki peradaban lebih tinggi. Terdapat proses indrawi yang diperoleh secara visual dan akustik (instrumental).
Method
3. 1. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan. Oleh sebab itu langkah-langkah yang ditempuh berhubungan dengan pustaka atau data-data dokumantasi yang diambil berkaitan dengan judul penelitian. 3.2. Sumber Data Sumber data dari penelitian ini adalah novel Bukan Pasar Malam Karya Pramoedya Ananta Toer. 3.3. Pendekatan Penelitian Sesuai dengan sifat objeknya, penelitian ini menggunakan pendekatan struktural naratif. Struktur merupakan kaitan atau hubungan tetap antara kelompokkelompok. Analisis dikerjakan untuk membongkar dan memanfaatkan, secermat, seteliti, semendetil dan mendalam terhadap keterkaitan dan keterjalinan semua analisis dan aspek karya sastra yang semuanya menghasilkan makna menyeluruh. 3. 4. Teknik Analisis Data Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif sebab hasil penelitian akan menghasilkan data yang bersifat deskriptif. Data penelitian dianalis dengan dasar bahwa setiap kata yang terdapat di dalam novel Bukan Pasar Malam oleh Pramoedya Ananta Toer merupakan tanda dan tanda itu mengandung makna. Kemudian struktur yang terdapat dalam novel itu akan dihubungkan dengan struktur lain, untuk menarik kesimpulan dari hasil analisis.
Result & Discussion
Ananta Toer. Novel ini aslinya diterbitkan dalam bahasa Indonesia pada 1951. Kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Inggris oleh C.W. Watson, programmer sukarelawan British VSO, dan diterbitkan pada 2001.Novel ini terdiri dari 101 halaman dibagi dalam 16 adegan. Novel ini menceritakan pribadi seorang anak yang kembali ke Blora, Jawa Tengah, untuk menghadapi kematian ayahnya. Cerita ini dimulai di Jakarta, narrator menerima surat dari ayahnya yang melukainya setelah ia keluar dari penjara selama dua minggu. Surat ini tidak akan melukainya seandainya ia tidak mengirimkan surat marah kepada ayahnya. Dia menyesali telah mengirim surat itu. dan jawabannya yang telah diterimanya membuat dia menangis. Perasaan ini timbul sebab narrator memelihara ayahnya. Narrator berhati lembut, dia dapat merasakan kesedihan, surat yang telah dikirimnya pastilah telah melukai perasaan ayahnya. Secara jujur, narrator berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia harus mencek kembali apa yang telah dia katakan dalam surat marahnya itu. Perasaan ini dimiliki oleh orang yang berhati baik, dia memperhatikan dengan baik tentang hubungan masyarakat. Ini sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh konsep Marx tentang manusia yaitu: "The special matter in Marx's concept about human beings is that his view about characteristic fundamentally is cocial: The true human being characteristic is the entire social relationship" (Tujuh Teori Tentang Sifat Manusia: 73). Enam bulan kemudian, setelah dia membaca berita tentang penyakit ayahnya dari surat pamannya, dia memutuskan untuk melihat ayahnya. Dia merasa rusuh tentang ayahnya dan tentang uang yang digunakan untuk pulang ke Blora. Dia sungguh membutuhkan uang untuk mengunjungi ayahnya, untuk itu dia mencari temannya yang dapat meminjamkan uang yang dibutuhkan. Nasib baik, dia mendapatkan uang, kemudian dia mengunjungi ayahnya yang sedang sakit. Disebabkan dia peduli terhadap ayahnya, dia dan istrinya pergi mengunjungi ayahnya. Perasaan peduli ini tersimpan mendalam dihatinya, dia sangat simpati terhadap ayahnya, walaupun dia membenci ayahnya disebabkan ayahnya suka berjudi yang menyebabkan dia melupakan segala sesuatunya, bahkan melupakan kebutuhan keluarganya. Narrator memaafkan ayahnya yang tidak memberikan hukuman terhadap perjudian ayahnya. Narrator menyadari ayahnya sangat menderita karena sakit., dia harus mengunjunginya dan membuat hubungan yang lebih baik dengan ayahnya. Untuk mencari teman yang bisa meminjamkannya uang, untuk mengunjungi ayahnya, dia menaiki sepeda disepanjang jalan Jakarta, ketika hari sangat panas. Kesan ini membangkitkan nilai kemanusiaan. Dia telah menerima nasibnya atas penderitaannya menaiki sepeda ditengah teriknya matahari. Dia seorang yang baik hati yang peduli dengan ayahnya yang sedang sakit dan mencoba dengan sungguh-sungguh mencari uang untuk mengunjungi ayahnya. Dia tidak malu menaiki sepeda. Kekayaan bathinnya lebih besar dari yang lainnya, walaupun kondisi hidupnya lebih buruk dari orang lain, dia gembira yang dapat melihat ayahnya yang sedang sakit dengan uang yang dipinjamnya. Dalam hal ini, konsep Marx dapat ditemukan bahwa “ *The true human being characteristic is the entire social relationship* ”(Tujuh Teori Tentang Sifat Manusia: P:73). Marxist idea dapat juga ditemukan dalam konteks “ *The fundamental Marxist postulate is that the economic base of a society determines the nature and structure of the ideology, institutions and practices (such as literature ) that form the superstructure of that society* ” (Twentieth Century Literary Theory: P: 85). Seandainya narrator telah mempunyai banyak uang, dia tidak akan meminjam uang dari temannya, dan dia tidak akan menaiki sepeda disepanjang jalan Jakarta pada hari yang sangat panas, dan ribuan mobil menyemburkan debu di keringat tidak akan menutupi badannya, segala sesuatunya tidak akan mengusutkan fikirannya, dan semua kepedihan hidupnya tidak akan terjadi padanya. Mari kita lihat konteks berikutnya. Suatu malam paman narrator dan bibinya mengunjunginya kerumahnya, dan pamannya menganjurkan agar mereka minta bantuan dukun (pengobatan secara tradisional), sebab obat rumah sakit gagal membantu ayahnya. Konteks di atas juga melukiskan nilai kemanusiaan. Paman dan bibi peduli dengan ayah yang mana dia menyempatkan waktunya untuk mengunjungi narrator, dan menganjurkan untuk meminta bantuan dukun. Paman dan bibi bermurah hati dan baik yang mana mereka dapat merasakan apa yang dirasakan narrator, dan mereka berusaha mencari jalan lain untuk mengobati ayah yang sedang sakit. Nilai kemanusiaan juga dapat ditemukan dalam konteks kalimat yang mengatakan kepada ayahnya bahwa narrator membantu memperbaiki rumah, walaupun dia tidak yakin apakah dia mendapatkan dana untuk itu atau tidak, tetapi dia mencoba membuat ayahnya gembira. Narrator menunjukan bahwa dia baik dan murah hati. Secara batin, narrator telah membantu ayahnya yang sedang sakit parah. Hal ini jelas dikatakan dalam teks berikut "Father, I am going to repair the house", (It's Not An All Night Fair, P: 39). Narrator mengatakan itu setelah dia mendapatkan nasihat dari tetangga yang sudah tua, seorang penyembelih kambing, untuk memperbaiki rumah ayahnya. Mari kita lihat konteks berikut ini yang melukiskan nilai kemanusiaan." Whenever father coughed and awoke, one of us was sure to be there at his side. And usually we heard him whisper Ice" (It's Not An All Night Fair, P; 75) Kita dapat menganggab bahwa narrator dan saudara lakilakinya yang muda dan saudara perempuannya mencoba untuk memenuhi keinginan ayahnya. Mereka mengurus ayah mereka, dan sepenuhnya usaha mereka untuk memberikan segala sesuatu yang terbaik kepada ayah mereka. Untuk membuktikan nilai kemanusiaan dapat ditemukan dalam teks "Perhaps he cought the illness when he was a school inspector- each day pedaling his bicycle fifteen to twenty kilometers", paman saya berkata, "Tidak, kata tamu kita, " telah menjadi guru selama ini, saya mengatakan tidak. Saya jamin penyakitnya bukan disebabkan itu. Sebab dia minta menjadi guru lagi, itu alasan, limabelas sampai dua puluh kilometer menaiki sepeda adalah hal yang kecil bagi seorang guru. Yang berat adalah mengajar, menelan rasa pahit dari kehilangan pendidikan yang telah diberikan oleh orang tua. Itulah hal yang mudah merusak seorang guru. Bahkan lebih buruk di tingkat sekolah menengah pertama seperti yang bekerja disekolah tingkat pertama adalah pekerjaan yang ringan jika disiplin kelas dipelihara. Bayangkan jika muridmurid didalam kelas tidak teratur, bayangkan" (hal: 46) Kutipan di atas menyatakan bahwa mengajar dan menelan kepahitan dari hilangnya pendidikan yang diberikan oleh orang tua. Dapat dilihat bahwa cara itu dapat merusak guru dengan mudah. Disebabkan hilangnya pendidikan yang diberikan oleh orang tua, murid-murid tidak teratur didalam kelas. Jadi kelas tidak disiplin. Mereka melakukan apa yang mereka sukai. Ini situasi yang ditemui oleh ayahnya yang mengajar disekolah tingkat pertama. Sedangkan mendayung sepeda lima belas sampai dua puluh kilometer setiap hari tidak masalah baginya. Akibat dari situasi seperti itu menciptakan tekanan secara psikologi yang komleks, tetapi masyarakat tidak mengetahui itu. Jadi seorang guru adalah pahlawan tanpa penghargaan. Tugasnya sangat berat. Dalam hal ini, ayah narrator telah menjadi pembantu yang sangat simpatik, penyakitnya disebabkan oleh kekecewaannya hasil dari pengorbanannya. Dapat dikatakan bahwa ayahnya mengorbankan kesehatannya untuk negaranya, dan dia tidak menerima apa-apa. Halaman lain yang menceritakan nilai moral: "War forces man to examine himself, because, my little sister, in ones's self there lies everything there is in the world and everyone else feels this is so, too" (P: 53) Ini menunjukan tingkah laku seorang laki-laki terhadap perang. Seorang laki-laki sebagai manusia mempunyai kekuatan fisik yang digunakan untuk jasa militer. Semua kaum laki-laki diciptakan sama didunia. Mereka lebih kuat dari kaum wanita dan mempunyai keberanian, kebanyakan mereka dapat meneruskan keberaniannya dalam menghadapi bahaya. Mereka mempunyai pendirian pada keberanian. Semua ini dibutuhkan dalam perang. Bahkan dalam halaman yang singkat ini sepertinya perang membutuhkan korban, ini menyatakan bahwa laki-laki menghadapi semua resiko dengan berani. Nilai kemanusiaan yang ditulis Pramoedya dalam: "It was like this, mas, everyday letters arrived here from men at the front as well as from people who called themselves non (cooperators). You know what those letters were, mas?. Begging letters! They asked for help. And everyday it was the same. And none of the letters did farther allow to go unheeded. None of them. All of them had to be given attention. Sometimes, mas, yes, sometimes I didn't receive housekeeping money, no even a cent, even though it was to buy food for farther himself-and that was for a whole month. And all of this, mas, all this reminds me of the kindness of a Chinese friend. When farther was still in the guerrilla area and during the time of the "red" occupation as well, this Chinese friend helped us a lot. And I didn't understand why he was willing to keep our family from the danger of starving" (P: 57). Halaman ini tentang surat mengemis yang meminta bantuan setiap hari, dan uang untuk mengurus rumah tangga. Mereka berdua mencoba untuk mengontrol situasi. Ayahnya seorang pribadi yang sangat dermawan. Dia telah menunjukan banyak perhatian pada orang-orang yang tidak bekerja sama. Dia sangat dermawan yang telah memberi uang yang banyak untuk rumah tangga mereka. Dia tidak memperhatikan kebutuhannya sendiri. Dari konteks diatas dapat ditemukan ide Marxist yang saling berhubungan. Secara umum Lukacs melihat pendekatan kaum Burjuis sebagai musuh yang harus dihindari, sebab itu membuat jurang pemisah yang lebih luas antara investor dengan buruh. Dalam hal ini, ayah narrator memberikan uang rumah tangganya kepada orang-orang yang menamakan dirinya tidak bekerja sama dan membantu mereka setiap hari. Dia tidak membuat jurang pemisah antara dirinya sendiri dengan orang-orang yang tidak bekerja sama. Nilai kemanusiaan dapat dilihat pada halaman berikut dari novel ini. Saudara perempuan narrator menanya nya secara sangat berhatihati: “Do you still remember Sami, mas?”. Yes I still remember her. And in my mind I saw a small coquette of a girl who had become her family's bait-bait swallowed by the Japanese She was absolutely delighted to see our ruin. And She used to say to the neighbor about farther, of course He surrendered himself to the Dutch on purpose. According to her, a man who follows the Dutch really is a sheep. He is not a man, She said, too. Sometimes She said that kind of thing to her friends when We were in the vicinity. Oh I couldn't bear it- I couldn't....." (P: 59). Dalam konteks ini, Pramoedya menggambarkan tingkah laku Sami yang senang melihat kehancuran orang, dan saudara perempuan narrator. Sebenarnya, Sami punya mulut besar. Dia selalu bicara jelek tentang ayah narrator yang bukan urusannya. Dia mengira bahwa dia yang paling bagus didunia. Sedangkan yang lainnya yang paling buruk. Dia tidak tahu bahwa dia adalah perempuan kecil yang genit yang menjadi umpan keluarganya yang ditelan oleh bangsa Jepang. Dia tidak menyadarinya. Dia mengira bahwa ayah yang menyerahkan dirinya kepada Belanda dengan sengaja adalah binatang, dia bukanlah manusia. Alangkah bodohnya gadis ini, dia tidak tahu apa yang baik dan apa yang buruk. Sedang saudara perempuan narrator adalah gadis yang sangat bagus. Dia disakiti oleh Sami, tetapi dia tidak mau membalasnya, dia hanya mengatakan bahwa dia tidak tahan. Sebagaimana telah dijelaskan dalam tingkah laku saudara perempuan narrator, dapat ditemukan ide Lukacs yang menekankan hubungan masyarakat sebagai dasar dari ideologinya. Dalam hal ini.Saudara perempuan ini masih memelihara hubungan masyarakat dengan baik, dia tidak mau membalas dendam, walaupun dia telah disakiti oleh Sami. Ini pandangan nilai kemanusiaan yang penulis kembangkan ketika penulis memperhatikan tingkah laku nenek narrator. Beliau menghormati tetangga yang telah tinggal disebelah rumah lamanya. Mereka telah lama bersama. Pramoedya menulis dalam gaya yang sopan tentang masyarakat secara keseluruhan. Dia mempertunjukan bagaimana nenek melebihkan emosi yang kuat dan tanggapan pribadi terhadap masyarakat. Ini dengan jelas disebutkan oleh Pramoedya ketika saudara perempuan narrator menceritakan tentang neneknya dalam: “One day,mas, one day a neighbor of hers who'd lived next to her old house- on the edge of town- died. She went to pay her last respects. She was gone a long time. Three days. And I didn't understand why She'd gone to pay her respect to her neighbor for as long as that. Then someone came here and told us, and told us, mas, your grandmother has died three days there, two hours after catching a stomach complain" (P: 60). Teks berikut menggambarkan nilai kemanusiaan: “And we were an island surrounded by those visitors” (P:83). Dari gambaran diatas, dapat dianggab pola masyarakat. Kebiasaan dalam daerah narrator adalah datang bersama-sama ketika mereka mendengar seseorang meninggal atau sakit. Mereka datang untuk menghormati tetanggga yang meninggal dunia.
Conclusion
5.1. Simpulan Setelah penulis menganalisis novel Bukan Pasar Malam olch Pramoedya Ananta Toer, penulis menyimpulkan tentang kehidupan Bangsa Indonesia selama penjajahan Belanda yang digambarkan oleh Pramocdya Ananta Toer. Penulis akan medis pada bagaimana pribumi tidak memperoleh nilai moral dari tekanan lingkungan. Dalam Bukan Pasar Malam, Pramoedya menunjukkan bahwa ekonomi adalah merupakan kekuatan yang menyokong dalam kehidupan masyarakat. Kekuatan ekonomi memungkinkan mereka dapat merawat dan membantu satu sama lainnya, seperti pengalaman ayah. Ayah percaya bahwa ekonomi menguasakannya untuk menjadi kuat dalam penderitaannya. Tanpa uang, kehidupan akan lebih keras baginya. Apabila dia tidak mempunyai uang, dia tidak akan mendapatkan pengobatan secara medical di sanatorium. Melalui novel ini, Pramoedya menguasakan dirinya dan pribumi,