Analisis Keterbacaan Novel Crazy Rich Asians “Kaya Tujuh Turunan” Karya Kevin Kwan
Universitas Diponegoro; Universitas Diponegoro
Abstrak
Penelitian ini bermula ketika peneliti ingin melihat tingkat keterbacaan Novel asli yang berjudul Kaya Tujuh Turunan yang ditulis oleh Kevin Kwan dan di alih bahasa oleh Cindy Kristanto ini apakah memiliki keterbacaan yang baik karena pemilihan kata yang ada di dalam novel tersebut mudah untuk dipahami. Maka dari itu, tujuan dari penelitian kali ini adalah untuk mengetahui seberapa mudah atau sukarnya teks bacaan Novel Kaya Tujuh Turunan bagi pembaca di tingkat remaja. Hal ini di dukung oleh kuisioner yang ditujukan kepada siswa remaja di SMA Bruderan Purwokerto sebagai subyek dari penelitian ini. Hal lain yang membuktikan bahwa Novel Kaya Tujuh Turunan ini memiliki tingkat keterbacaan yang baik dibuktikan dengan menggunakan diagram fry. Setelah dilakukan penelitian dengan menggunakan metode kuisioner dan juga diagram Fry, temuan menunjukan jika dilihat secara lebih mendalam, ada beberapa kata yang ditemukan memiliki makna yang tidak tepat apabila dilihat dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. Peneliti juga menyimpulkan bahwa adanya kesepadanan makna yang berasal dari segi budaya dan sosial yang ada sehingga penerjemah ingin membuat pembaca lebih mudah untuk membaca novel terjemahan ini.
Abstract
This research began when the researcher wanted to see the readability level of the original novel entitled Kaya Tujuh Turunan written by Kevin Kwan and translated by Cindy Kristanto whether it had good readability because the choice of words in the novel was easy to understand. Therefore, the aim of this research is to find out how easy or difficult the Kaya tujuh turunan Novel for the young readers. This research supported by a questionnaire for students at SMA Bruderan Purwokerto as the subject of this study. Another thing that proves that this Kaya Tujuh Turunan Novel has a good readability level is proven by using the fry diagram. After conducting research using the questionnaire method and also the Fry diagram, the findings on this research show that if the readers look deeply, there are several inappropriate words were found from the source language to the target language. The researcher also concluded that there was an equivalent meaning that came from a cultural and social perspective so that the translator wanted to make it easier for the reader to read this translated novel.is an important factor in a text. The novel, entitled Crazy Rich Asians written by Kevin Kwan and overwritten by Cindy Kristanto, has good readability because the choice of words in the novel is easy to understand. When the writer look deeper to the novel, there are some words that are found to have inappropriate meanings when viewed from the source language to the target language, The researcher can see this obstacle because the linguist / translator sees the equivalence of meaning originating from the existing cultural and social aspects. So, the translator wants to make the reader easier to read this novel
Keywords:
readability
· crazy rich asians
· kaya tujuh turunan
· questionnaire
· fry diagram
Introduction
Penelitian ini bermula ketika penulis membaca novel Crazy Rich Asians versi Bahasa Indonesia yang berjudul Kaya Tujuh Turunan. Novel asli yang berjudul Crazy Rich Asians dengan penulis Kevin Kwan ini memiliki gaya bahasa yang sederhana dan mudah untuk di mengerti oleh pembacanya. Banyak sekali diksi atau pemilihan kata dalam Bahasa Inggris di novel tersebut menggunakan pemilihan kata yang sederhana, sehingga jika dibaca oleh orang awam yang tidak terlalu lancar berbahasa Inggris dan tidak menguasai banyak kosakata akan dengan mudah paham mengenai jalan cerita di dalam novel ini. Menurut Nababan pada tahun 2008, suatu terjemahan dapat dikatakan baik atau tidak, dapat dilihat dari tiga hal yang mempengaruhi teks tersebut baik atau tidak, yaitu keakuratan (accuracy), keberterimaan (acceptability),dan keterbacaan(readability). Keakuratan disini yang dimaksudkan apabila tidak terjadi perbedaan atau distorsi makna antara karya yang berasal dari versi aslinya dibandingkan dengan karya versi terjemahan sehingga isi atau makna dari karya asli dan karya terjemahannya sama. Syarat kedua yang mempengaruhi suatu teks dapat dikatakan baik atau tidak mengacu kepada keberterimaan. Keberterimaan adalah seberapa lazim istilah yang digunakan, dan apabila penggunaan ungkapannya sudah sesuai dengan kaidah yang benar dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Terakhir adalah keterbacaan. Keterbacaan disini mengacu pada seberapa mudah suatu ungkapan di dalam teks dapat dipahami oleh pembaca dari teks sumber kepada teks sasaran. Pada penelitian kali ini, penulis ingin melihat lebih dalam kualitas terjemahan dalam novel Kaya Tujuh Turunan dengan melihat dari sisi keterbacaanya (readability). Dalam melihat keterbacaan dari novel Kaya Tujuh Turunan tersebut, penulis akan melihat sejauh mana novel Kaya Tujuh Turunan dapat dipahami dengan baik oleh pembaca, di dalam penelitian ini, penulis lebih banyak akan menggunakan penelitian kepada siswa di kalangan remaja di SMA Bruderan Purwokerto sebagai respodense karena mereka ada pemebelajaran mengenai book report dan menggunakan buku Crazy Rich Asians dan Kaya Tujuh Turunan sebagai buku bacaan mereka, maka dari itu, pengambilan data dengan metode kuisioner dapat menjadi data primer, selain menggunakan kuisioner, penulis juga menggunakan grafik Fry sebagai data sekunder untuk mengukur tingkat keterbacaan di dalam novel Kaya Tujuh Turunan ini. Siswa yang berasal dari SMA Bruderan Purwokerto merupakan siswa remaja yang memiliki usia 16 - 18 tahun sehingga sangat cocok jika menjadi target dari pembaca novel remaja bernuansa romance ini karena usia mereka adalah usia yang sedang memiliki perasaan yang berbunga - bunga jika dikaitkan dengan kisah percintaan. Selain itu bahasa yang digunakan di dalam novel ini cenderung mudah, tidak memiliki diksi yang terlalu sulit dan jugamemiliki alur dan penggunaan bahasa yang urut dan sistematis sehingga siswa tidak merasa kesulitan dan merasa sangat enjoy ketika membaca novel tersebut. Keterbacaan sebuah karya / teks (readability) adalah tolak ukur sebuah karya dapat dibaca dan dipahami (Richard et al, 2002). Sejalan dengan Richard, Sakri di dalam Nababan (2003) menjelaskan bahwa suatu keterbacaan di dalam sebuah teks adalah derajat sebuah teks / tulisan/ karya dapat dipahami secara sistematis oleh pembacanya. Dalam hal ini jika suatu teks memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi maka semakin mudah juga sebuah teks tersebut untuk dipahami oleh pembacanya. Sesuai dengan hal tersebut maka di dalam Nababan (2003) mendeskripsikan beberapa hal yang mempengaruhi keterbacaan adalah : (a) panjangnya suatu kalimat di dalam rata - rata pada sebuah teks bacaan, (b) Jumlah / kata / diksi yang baru, (c) kompleks atau tidaknya sisi gramatikal yang digunakan di dalam teks bacaan tersebut. Di samping itu suatu teks dapat dikatakan memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi apabila dipengaruhi oleh budaya dan latar pendididkan dari pembacanya (Ardi, 2010). Maka dari itu di dalam memberikan sebuah teks harus benar - benar memilih siapa target pemaca dari teks tersebut. Keterbacaan berkaitan erat dengan unur yang terdapat dalam teks atau karya dan juga materi dalam sebuah bacaan. Keterbacaan sebuah teks dapat dilakukan pengukuran dengan berbagai bentuk formula (Sitepu, 2010 : 3 -7). Demi memperkirakan tingkat keterbacaan sebuah teks ada sejumlah cara yang dapat dilakukan diantaranya Flesch, Fog Index, Grafik Fry, SMOG, dan juga BI. Keterbacaan yang ada di dalam bentuk formula yang sudah disebutkan tadi merupakan rumus yang menghasilkan angka sebagai indeks keterbacaan. Sitepu di dalam Yasa 2013 menyatakan bahwa indeks keterbacaan memiliki hubungan yang dapat berupa hal yang amat signifkan dengan hasil membaca sebuah paham maka keterbacaan di dalam formula tersebut dapat dipakai untuk melihat prediksi tingkat kesulitan atau tingkat kemudahan yang dapat dipahami sebagai materi keterbacaan ileh pembacanya. Prediksi tersebut yang dapat menjadi pegangan untuk menentukan level pembaca atau tingkat kemudahan di dalam sebuah teks yang ada. Keterbacaan disini selain melihat dari segi kualitas hasil terjemahanya tetapi juga materi asli/ bahasa sumber yang berasal dari sebelum proses terjemahan itu terjadi. Kualitas terjemahan asli yang baik pastinya akan memudahkan untuk proses penerjemahan selanjutnya. Gadamer di dalam ( Schulte dan Biguenett, 1992) menjelaskan bahwa proses ketika membacan sebuah karya itu sudah merupakan proses penerjemahan karena otak memproses data yang ada di dalam bacaan tersebut supaya dapat dipahami dan diresapi dengan baik. Sehingga penerjemahan sendiri yang berasal dari teks sumber ke teks sasaran merupakan proses penerjemahan yang kedua kalinya. Penerjemah/ ahli alih bahasa akan merasa sukar jika teks yang berasal dari teks sumber tidak memiliki ketidak jelasan/ kerumitan dari pesan yang harus disampaikan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. Cahyadi (2008) menjelaskan faktor yang menjadikan sebuah teks memiliki keterbacaan yang buruk apabila : (a) di dalam teks terjemahan tersebut banyak memiliki pemilihan kata kata yang baru, (b) banyak sekali menggunakan kata serapan/ kalimat asing, (c) penggunaaan kata kalimat taksa/ kalimat yang sulit untu dipahami, (d) memiliki kalimat yang tidak sistematis, (e) di dalam sebuah teks kalimat yang digunakan terdapat kalimat yang sangat panjang (f) penggunaan kalimat yang rumit (g) alur pikiran / alur ceritanya tidak logis dan tidak sistematis. Di dalam novel kaya tujuh turunan ini umumnya tidak terdapat faktor - faktor yang mempengaruhi ketidakterbacaan tersebut, sehingga penulis merasa bahwa novel kaya tujuh turunan adalah novel yang memiliki keterbacaan yang baik. Pada tahun 2012 Anisah melakukan penelitian mengenai tingkat keterbacaan buku A Child Called It. Peneliti tersebut membahas tentang terjemahan di dalam tesis yang dilakukan olehnya yang memiliki judul Transformasi Terjemahan Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia: Studi Kasus dalam Buku A Child Called It. Anisah melihat penelitian berupa bentuk transformasi segi konvensi bahasa yang terjadi pada segi penerjemahanya di dalam proses penerjemahan dari Bahasa Sumber yaitu Bahasa Inggris ke Bahasa Sasaran yaitu Bahasa Indonesia pada sebuah novel yang berjudul A Child Called It, bentuk transformasi segi budaya yang ada pada proses penerjemahan bahasa Inggris ke bahasa Indonesia di dalam buku A Child Called It dan juga fungsi proses tranformasional di dalam terjemahan pada buku A Child Called It. Hasil menunjukkan bahwa transformasional yang terjadi ketika proses terjemahan terbagi menjadi dua macam antara lain terjemahan segi konvensional bahasa yang terdiri dari bentuk penambahan, bentuk pengurangan, dan transformasional makna tujuan, dan terjemahan yang dapat dilihat dari segi konvensi budaya yang terdiri dari proses adanya penambahan , proses pengurangan dan pola transformasi makna yang ada di dalamnya. Sedangkan fungsi transformasinal pada proses terjemahan yang ada di dalam buku A Child Called It adalah adanya fungsi dari segi informatif, makna penegasan, pola ekspresif, pola adaptatif, dan referensial yang ada di dalamnya. Perbedaan dari penelitian sebelumnya mengenai keterbacaan dibandingkan dengan penelitian kali ini adalah, pada penelitian sebelumnya, peneliti tersebut hanya menggunakan 1 metode saja di dalam proses analisis tingkat keterbacaan sebuah teks yang ada di dalam buku/novel. Sedangkan, pada penelitian kali ini peneliti melihat tingkat keterbacaan novel crazy rich Asians atau Kaya Tujuh Turunan berdasarkan dua proses analisis, yaitu menggunakan kuisioner dan juga menggunakan diagram fry. Kedua hal tersebut yang menjadi kebaharuan (novelty) pada penelitian kali ini. 2. Landasan Teori 2.1 Keterbacaan di dalam Teks Terjemahan Keterbacaan adalah derajat mudah atau sukarnya suatu teks terjemahan untuk dipahami. Pada konteks penerjemahan, istilah keterbacaan pada dasarnya tidak hanya menyangkut keterbacaan teks bahasa sumber tetapi juga keterbacaan teks bahasa sasaran (Nababan dkk., 2012). Tentunya, sebelum seorang penerjemah memulai proses untuk menerjemahkan suatu teks, penerjemah harus mengetahui kira-kira siapa pembaca dari terjemahan teks tersebut. Dalam pandangan Podo dan Sullivan (1989:79) istilah readable bermakna “terbaca”. Kridalaksana (1994) pun memaknai keterbacaan sebagai taraf dapat tidaknya suatu karya tulis dibaca oleh orang yang mempunyai kemampuan membaca yang berbeda-beda. Teks untuk anak-anak tentu sangat berbeda untuk orang dewasa. Buku cerita anak-anak dikemas dalam bahasa yang sederhana dan ringkas. Berbeda dengan teks pada bacaan untuk remaja dan dewasa tentu saja pemilihan kata yang digunakan akan lebih kompleks dan terstruktur. Maka dari itu, pada suatu teks terjemahan yang baik harus mudah dibaca dan dipahami oleh target pembaca dari teks terjemahan tersebut. 2.2 Diagram Fry Pada awalnya, formula pada diagram Fry ini dirancang oleh Edward Fry. Menurut Harjasujana dan Mulyati (1996) formula ini pertama kali dipublikasikan dalam Journal of Reading pada tahun 1977. Dari kedua pakar ini penulis mengetahui bahwa Formula Fry ini merupakan hasil upaya untuk menyederhanakan dan mengefisienkan teknik penentuan tingkat keterbacaan wacana. Seperti diketahui, Fry mendasarkan kajiannya pada dua faktor utama, yaitu (1) panjang-pendeknya kalimat dan (2) tingkat kerumitan kata atau panjang pendeknya kata. Sebelum membahas segala sesuatu tentang penggunan Formula Fry ini, sebaiknya kita mencermati grafik itu terlebih dahulu dengan secermat-cematnya. Ini penting agar kita dapat memahami penjelasan selanjutnya sambil melihat realitanya di dalam grafik. Gambar 1. Diagram Fry Jika dicermati, angka-angka yang tertera dalam grafik itu jika dilihat di samping kiri grafik, seperti 25,0; 20,0; 16,7 dan seterusnya hingga angka 3,6 menunjukkan data rata-rata jumlah kalimat perseratus perkataan. Selanjutnya angka yang tertera di bagian atas grafik seperti angka 108, 112, 116 dan seterusnya sampai dengan angka 172, menunjukkan data jumlah suku kata perseratus perkataan. Angka-angka ini mencerminkan panjang pendeknya kata yang dapat diketahui dari jumlah perkataan yang terdapat dalam wacana sampel. Selain itu angka yang terdapat di dalam badan grafik diantara garis penyekat itu berarti perkiraan tingkat keterbacaan wacana yang diukur. Angka satu menunjukkan bahwa wacana yang diteliti cocok untuk pembaca level satu (kelas satu), angka dua menunjukkan bahwa wacana itu cocok untuk pembaca level dua, dan begitulah seterusnya, angka 12 menunjukkan bahwa wacana tersebut cocok untuk pembaca level 12 atau kelas 12. Daerah yang diarsir di sudut kanan atas dan sudut kiri bawah grafik Fry yang terlihat gelap itu, merupakan wilayah invalid. Wilayah ini berarti jika terjadi titik pengukuran jatuh di daerah itu, berarti teks yang diteliti dinyatakan invalid yaitu tidak cocok dengan level pembaca tingkat mana pun, karena teks tersebut tergolong teks yang tidak baik. Jika terjadi hal tersebut, maka teks seperti itu harus diganti dengan teks lain yang lebih baik atau diselaraskan terlebih dahulu oleh penerjemahan dari Bahasa sumber terhadap Bahasa sasaran.
Method
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, kerena di dalam penulis memberikan paparan atas data yang sudah diperoleh dijelaskan secara sistematis dan apa adanya sesuai dengan fakta yang ada di dalam kebahasaan yang ada. Peneliti memberikan deskripsi data yang disesuaikan sejalan dengan tujuan penelitian sehingga memberikan kajian teori yang dituangkan dalam proses bagan teori bukan hanya sebagai tujuan penelitian semata tetapi sebagai dasar acuan dalam menganalisis data. Responden yang terlibat dalam penelitian ini adalah 107 siswa SMA Bruderan Purwokerto yang berasal dari kelas sepuluh yang memiliki usia antara 16 - 17 tahun. Mereka diminta menjawab pertanyaan di dalam kuisioner untuk menetukan seberapa mudah teks bacaan dari BSu ( Bahasa Sumber) terhadap BSa ( Bahasa Sasaran) di dalam novel Kaya Tujuh Turunan dalam bentuk tabel yang sudah diberi parameter kulaititaf di dalamnya. Berikut merupakan contoh dari tabel yang digunakan di dalam kuisioner Tabel 1. Parameter Tingkat Keterbacaan Kategori Terjemahan Skor Parameter Kualitatif Keterbacaan Sangat Baik 1 Keterbacaan sangat mudah dipahami oleh pembaca bahasa sasaran Keterbacaan Baik 2 Keterbacaan cukup mudah untuk dipahami oleh pembaca bahasa sasaran Keterbacaan Kurang Baik 3 Keterbacaan cukup sukar untuk dipahami oleh pembaca bahasa sasaran Keterbacaan Tidak Baik 4 Keterbacaan sangat sukar untuk dipahami oleh pembaca bahasa sasaran Metode yang dipakai selanjutnya untuk melihat apakah novel Kaya Tujuh Turunan tersebut memiliki tingkat keterbacaan yang baik atau tidak adalah dengan menggunakan metode Fry. Pembuat dari metode ini yang bernama Edward Fry meberikan perkenalan formula di dalam suatu keterbacaan dengan grafik yang bernama Grafik Fry. (Nurlali, 2001 : 171) Di dalam sebuah metode keterbacaan di dalam Grafik Fry ini dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu panjang pendeknya kata dan tingkat kesulitan kata yang dapat bertanda dengan jumlah sedikit banyaknya suku kata yang ada di dalam seratus kata di dalam sebuah karya / teks ( Laksono, 2008: 4.11). Sejalan dengan hal diatas, Fry mendasari bentuk kajian teori nya pada dua faktor, yaitu pandjang pendeknya sebuah kalimat dan yang kedua adalah tingkat kesulitan atau kerumitan di dalam panjang pendeknya kata. Kelebihan dari teory Fry ini adalah untuk menyederhanakan dan memberi keefisienan teknik di dalam penentuan sebuah keterbacaan. (Laksono, 2008:4.12) yang menyatakan bahwa Grafik Fry merupakan hal yang dilakukan untuk sebagai upaya di dalam proses penyederahaan dan pengefisienan teknik keterbacaan di dalam sebuah teks atau karya sastra. Dengan menggunakan metode fry dapat dilihat secara sistematis dengan langkah - langkah sebagai berikut : 1.Penulis mengambil secara acak sebuah bagian dari seratus kata yang terdapat dari sebuah buku/ teks/ artikel. Setelah mengambil seratus kata tersebut hitunglah berapa rata -rata suku kata yang terdapat di dalam grafik tersebut. 2.Jika di dalam seratus kata tersebut ada beberapa bagian dari karakter seperti tanda ,=:? atau muga akronim seperti APA atau BRI dapat dihitung sebagai satu suku kata 3.Jika sudah dilihat dari segi suku kata, hitunglah ada barapa banyaknya jumlah kalimat yang ada di seratus kata tersebut 4.Selanjutnya adalah hitung berapa jumlah suku kata yang ada di seratus kata tersebut, dan buatlah ke dalam bagan grafik fry 5.Tariklah titik pertemuan antara banyak nya jumlah kalimat dengan banyaknya jumlah suku kata, jika jatuhnya di dalam tanda hitam dapat disimpulkan bahwa hasil tersebut berada di titik mati, atau tidak valid 6.Keterbacaan yang baik adalah berada di sebelah kiri, yang berarti semakin sedikit suku kata tetapi semakin banyak jumlah kalimat yang ada di dalam seratus suku kata tersebut. Indikasi yang dapat dilihat adalah kalimat yang terdapat di dalam teks tersebut tidak panjang dan tidak terdapat kalimat yang terlalu kompleks. Dengan menggunakan diagram fry, dapat dilihat dengan jelas sejauh mana sebuah teks dapat dilihat memiliki keterbacaan yang baik atau buruk. Jika hasil nya ada di titik 1, bebrarti level pembaca sasaran masi di titik rendah, karena pembaca hanya bisa menangkap jumlah suku kata sangat sedikit di tiap kalimat, dan jumlah kalimat yang tersedia di sebuah teks sangat banyak jumlahnya. Tetapi jika pembaca sudah sampai di titik 13 atau bahkan lebih berarti level pembaca sudah sampai di tahap ahli, karena bisa membaca kalimat yang sangat pendek tetapi di tiap -tiap kalimatnya memiliki jumlah suku kata yang sangat banyak/ kompleks. Hal tersebut dapat disimpulkan jika teks tersebut memiliki tingkat keterbacaan yang rendah.
Result & Discussion
Setelah penulis membaca, membandingkan dan melakukan penelitian memlalui penyebaran kuisioner terhadap siswa di SMA Bruderan Purwokerto yang terdiri dari lima puluh siswa yang ada di dua kelas dan mereka adalah siswa yang berasaldari kelas dua belas dapat diambil kesimpulan bahwa tingkat keterbaca an novel Kaya Tujuh Turunan Dari keseluruhan data akhirnya diperoleh skor rata-rata akhir untuk keterbacaan adalah 3,63. Skor ini menunjukkan bahwa terjemahan relatif memiliki tingkat keterbacaan yang cukup tinggi karena berada di rentang “mudah” hampir mendekati “sangat mudah”. Walaupun demikian, tentunya tingkat keterbacaan teks masih bisa ditingkatkan dengan mewujudkan harapan pembaca (reader’s expectation), seperti penggunaan istilah yang lazim, penambahan keterangan dalam bahasa Indonesia untuk istilah teknis ilmu sosial/sejarah yang terdapat dalam teks. Selain itu juga perlu diberikan keterangan pada istilah lokal yang belum diketahui secara umum di dalam Bahasa Indonesia. Berikut beberapa contoh data yang ada di dalam novel crazy rich Asians versi Bahasa Inggris dan Kaya Tujuh Turunan versi Bahasa Indonesia. Berikut adalah data dengan tingkat keterbacaan yang mudah Tabel 1. Hasil Kuisioner Tingkat Keterbacaan Mudah No Bahasa Sumber Bahasa Sasaran Hasil Skor Rata- Rata 1 Alright then, lets go in Yaudah masuk yuk 1,2 2 You are such sweet talker Anda itu seorang pemuji yang baik 2,4 Jika di rata - rata, hasil skor dari kedua kalimat tersebut adalah 1,8. Maka dari itu pada data kalimat diatas dapat dilihat bahwa teks tersebut memiliki keterbacaan yang sangat baik karena kalimat yang digunakan daro bahasa sumber(BSu) terhadap Bahasa sasaran (BSa) sangat mudah untuk dipahamin oleh pembaca dan tidak memiki kompleksitas yang tinggi ketika proses penerjemahan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran itu terjadi. Sementara contoh dari data dengan keterbacaan yang cukup mudah untuk dipahami adalah sebagai berikut : No Bahasa Sumber Bahasa Sasaran Hasil Skor Rata- Rata 1 2 Let China sleep, for when she awakens she will shake the world I did not tell half of what I saw for no one would have believed me Biarkan cina tidur, karena ketika terbangun ia akan mengguncang dunia Aku tidak menceritakan separuh saja yang kulihat, karena tidak seorang pun percaya kepadaku 2,2 2,7 Hasil dari rata - rata pada kedua kalimat diatas adalah 2,45 maka dari itu teks diatas merupakan teks dengan tingkat keterbacaan yang mudah. Maka dari itu, pada data diatas dapat dilihat penggunaan kata - kata yang terdapat dalam teks tersebut tidak semudah teks sebelumnya, tetapi masih cukup mudah untuk dipahami karena siswa yang merupakan target dari pembaca di dalam kuisioner ini tidak mendapat kesulitan yang cukup berarti ketika memahami teks tersebut. Kalimat yang memiliki tingkat keterbacaan yang cukup sukar untuk dipahami adalah adanya beberapa pemilihan kata / diksi yang menurut penulis dan juga siswa sebagai target di dalam penelitiaj ini memiiki kebingungan yang cukup berarti dan sangat teramat jauh dari bahasa sumber ke bahasa sasaran adalah sebagai berikut : No Bahasa Sumber Bahasa Sasaran Hasil Skor Rata- Rata 1 Please go to china Silahkan pergi ke pecinan 3,1 Ketika kata yang dilihat oleh penerjemah sangatlah jauh diterjemahkan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran, mungkin penerjemah melakukan hal tersebut karena menyesuaikan dengan segi budaya, dan latar belakang pembaca sehingga memilih kata yang dapat mudah dipahami. Tetapi sangatlah aneh jika diterjemahkan kata China menjadi Pecinan, karena China merupakan nama negara sedangkan Pecinan merupakan nama sebuah kawasan yang di dalamnya banyak ditinggali oleh kaum etnis tionghoa untuk tempat tinggal dan tempat berjualan masakan kantonis pada umumnya di Indonesia. Dari pengambilan data kuisioner dan ketika dilihat hasilmya tidak ada data yang dianggap sangat sulit oleh target sasaran pembaca dan subyek dari kuisioner ini. Dari data diatas dapat disimpulkan seluruh terjemahan dapat dipahami walaupun ada bagian bagian yang dirasa sulit dan kurang dapat dipahami dengan baik karena ada beberapa terjemahan dari teks bahasa sumber ke bahasa sasaran kurang sesuai dengan konteksnya, karena mungkin adanya perbedaan kontekstual dan latar belakang dan pengetahuan pembaca mengenai latar belakang dan budaya novel aslinya ketika diterjemahkan ke bahasa sasaran rasa rasanya itu kurang masuk akal. Selain itu adanya perbedaan penguasaan bahasa serapan yang belum dikuasai oleh pembaca, tetapi di novel tersebut di bagian bawah novel ada beberapa kata yang disisipkan sehingga penulis dari novel tersebut berharap pembaca paham akan maksud dari kata - kata sukar tersebut. Selain analisis data menggunakan kuisioner, penulis menggunakan analisis data dengan grafik fry. Di dalam Grafik Fry ini penulis akan menghitung seberapa sulit level keterbacaan yang ada di dalam setiap seratus kata dari Bahasa Sumber (BSu) kepada Bahasa Sasaran (BSa). Penggunaan dari grafik fry ini untuk mengetahui sebenarnya novel Kaya Tujuh Turunan ini cocok untuk pembaca level berapa. BSu : During the school holidays, and though Felicity had trained her daughter never to boast about her trips, a schoolmate invited over had discovered a framed photo of Astrid astride a white horse with a palatial country manor as a backdrop. Thus began the rumor that Astrid’s uncle owned a castle in France, where she spent all her holidays riding a white stallion. (Actually, it was a manor in England, the stallion was a pony, and the schoolmate was never invited again.) In her teen years, the chatter spread even more feverishly when Celeste Ting, whose daughter was in the same Methodist Youth BSa : Se/la/ma/ li/bu/ran/ se/ko/lah/, dan/ mes/ki/pun/ Fe/li/ci/ty /te/lah/ me/la/tih/ pu/tri/nya/ un/tuk/ ti/dak/ per/nah/ me/nyom/bong/kan/ di/ri/ ten/tang/ per/ja/la/nan/nya,/ se/o/rang/te/man/se/ko/lah/yang/di/un/dang/te/lah/me/ne/mu/kan/fo/to/ber/bing/kai/As/trid/me/ngang/kan g/ se/ekor/ ku/da/ pu/tih/ de/ngan/ se/bu/ah/pe/man/da/ngan/pe/de/sa/an/yang/me/gah/se/ba/gai/la/tar/be/la/kang/.Ma/ka/di/mu/lai/lah/ de/sas/-/de/sus/ bah/wa/ /pa/man/ As/trid/ me/mi/li/ki/ se/bu/ah/ kas/til/ di/ Pran/cis/, tem/pat/ dia /meng/ha/bis/kan/ se/mua/ li/bu/ran/nya/ de/ngan/ me/ngen/da/rai /ku/da /jan/tan/ pu/tih/. (Se/be/nar/nya/, i/tu/ a/da/lah/ se/bu/ah/ ru/mah/ bang/sa/wan/ di/ In/ggris/, ku/da /jan/tan/ i/tu /ku/da/ po/ni/, dan/ te/man/ se/ko/lah/ nya/ ti/dak/ me/nge/ta/hui /dan/ ti/dak/ per/nah/ di/un/dang/ la/gi.)/ Di/ ma/sa/ re/ma/ja/nya/, o/bro/lan/ me/nye/bar/ bah/kan/ le/bih/ me/wa/bah/ ke/ti/ka/ Ce/les/te/ Ting,/ yang/ pu/tri/nya /be/ra/da /di/ ka/wa/san/ Me/to/dis/ yang/ sa/ma Bsu: Remember Calvin Trillin’s New Yorker piece on Singapore street foods?I’ll take you to all the local dives even he doesn’t know about.” Nick took another bite of his ɻuʃy scone and continued with his mouth full. “I know how much you love these scones. Just wait till you taste my Ah Ma’s—”“Your Ah Ma bakes scones?” Rachel tried to imagine a traditional Chinese grandmother preparing this quintessentially English confection. “Well, she doesn’t exactly bake them herself, but she has the best scones in the world—you’ll see,” Bsa: A/pa/kah ka/mu/ i/ngat kar/ya/ Cal/vin/ Tril/lin /New/ York/er /di /Singa/pura/?/ Sa/ya/a/kan/ mem/ba/wa/ ka/mu/ ke/ sem/ua/tem/pat/ma/ka/nan /lo/kal/ mes/ki/pun/ ka/mu/ ti/dak/ ta/hu /ten/tang/ i/tu/ se/mua/. ”Nick/ meng/gi/git/ es/ krim/ nya/ la/gi/ dan/ me/lan/jut/kan/ bi/ca/ra/ nya/ mes/ki/ de/ngan/ mu/lut/ pe/nuh/. “/A/ku/ ta/hu/ be/ta/pa/ka/mu/ sa/ngat/ me/nyu/kai/ es/ krim/ ini/. Han/ya/ tu/nggu/ sa/mpai/ ka/mu/ men/co/ba/ men/ci/ci/pi/ bu/a/tan/ Ah /Ma - /"/ "/Ah/ Ma/ yang/ mem/bu/at/ es/ krim /un/tuk/mu/?/"/ Rach/el/ men/co/ba/ mem/ba/yang/kan/ hi/da/ngan/ tra/di/si/onal /Ne/nek/ Tiong/hoa/ yang/ kla/sik/ i/ni/. "Yah/, di/a/ ti/dak /be/nar/-/be/nar/ mem/bu/at/ sen/di/ri/, /ta/pi/ di/a/pu/nya/ es/ krim/ yang/ ter/ba/ik/ di/ du/nia/ Di dalam bahasa sasaran yang pertama, terdapat 123 kata dan terdapat 12,8 kalimat sehingga dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa level yang tepat untuk pembaca novel Kaya Tujuh Turunan ini adalah pembaca yang ada di level 1. Sedangkan di dalam bahasa sasaran yang kedua, terdapat 134 suku kata dan terdiri dari 18, 2 kalimat. Ini berarti juga mengindikasikan dan dapat dibuktikan bahwa novel Kaya Tujuh Turunan memang sangat baik untuk pembaca level 1. Pada proses pemilihan kata jika dilihat secara paragraf atau kalimat yang lebih banyak yang dilihat terdapat hal hal yang kurang tepat karena adanya penghilangan karena informasi makna yang terdapat di dalam Bahasa Sumber telah mengalami pergeseran makna ke Bahasa Sasaran. Akibatnya, makna yang dituju atau menjadi sesuatu yang harus disampaikan tidak dapat tersampaikan dengan baik kepada bahasa sasaran. Selain hal tersebut terdapat juga proses penghilangan pesan atau distorsi dan modulasi yang tidak perlu. Karena hal tersebut, maka pada hasil akhir tidak memiliki keterbacaan yang cukup baik nantinya.
Conclusion
Dalam penelitian kali ini, penulis dapat menyimpulkan bahwa tingkat keterbacaan di buku Kaya Tujuh Turunan ini cukup mudah jika diteliti dengan menggunakan teknik kuisioner dan grafik fry. Dapat ditemukan bahwa novel Kaya Tujuh Turuna ini memiliki keterbacaan yang baik karena pemilihan kata / diksi menggunakan pilihan kata yang mudah dipahami dan makna yang diberikan dapat dengan cepat sampai ke pembacanya. Jika dilihat secara lebih mendalam, ada beberapa kata yang ditemukan memiliki makna yang tidak tepat jika dilihat dari bahasa sumber ke bahasa sasaran, yang bisa penulis lihat di kasus ini karenba pihak ahli bahasa / translator melihat kesepadanan makna yang berasal dari segi budaya dan sosial yang ada sehingga penerjemah ingin membuat pembaca lebih mudah untuk membaca novel Kaya Tujuh Turunan ini. Keterbacaan di novel Kaya Tujuh Turunan ini tergolong memiliki keterbacaan yang baik. Siswa yang merupakan subyek dari penelitian ini dapat menyatakan bahwa novel Kaya Tujuh Turunan ini dapat dengan cepat dan dengan mudah mereka pahami makna nya. Maka dari itu penulis berharap dengan adanya penelitian ini di kemudian hari akan semakin banyak novel yang memiliki keterbacaan yang baik pula dan pada akhirnya semakin banyak orang yang tertarik untuk membaca buku lebih banyak lagi.