PERANAN PERPUSTAKAAN DALAM PENGEMBANGAN LITERASI PADA PENGELOLA PERPUSTAKAAN SEKOLAH DI KABUPATEN BULELENG
N/A
Abstract
This community work aimed at constructing the role of librarians in developing literacy in the young generation. This study was done with the elementary school teachers in Buleleng regency by reading two main materials that discuss the role of librarians in developing literacy, both in relation to the development of basic reading and writing literacy and developing data literacy, technology, and humanity literacy. The implementation of this community work was done in the form of a constructive lecture and discussion. This activity ran well according to the plan and the participants were enthusiastic participating in it. The participants said that they were very interested and got a wider insight about the role of a library in developing literacy. Thus it can be used as a model of reference in strengthening the role of libraries in developing literacy at their respective school.
Keywords:
role
· library
· strengthening
· literacy
Introduction
Masalah utama yang dihadapi oleh masyararakat Indonesia dewasa ini adalah masalah rendahnya kualitas sumberdaya manusia. Sehubungan dengan hal itu berbagai komponen bangsa berupaya untuk mengatasinya. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan membenahi berbagai komponen pendidikan yang dapat berkontribasi dalam peningkatan kualitas sumberdaya manusia Indonesia. Upaya strategis yang dikembangkan dalam peningkatan kualitas sumberdaya manusia adalah pengembangan minat baca dan kebiasaan membaca. Berdasarkan kajian tentang faktor –faktor dominan yang mempengaruhi minat baca diantaranya adalah keadaan lingkungan sosial yang kondusif, rasa ingin tahu, keadan lingkungan fisik yang memadai, dan prinsip hidup membaca sebagai kebutuhan rohani ( Anugra, dkk., 2013). Minat baca, buku dan perpuspatakaan merupakan tiga komponen pokok dalam suatu sistem pendidikan yang dapat meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. Dalam konteks pengembangan minat dan kebiasaan membaca pada generasi muda, perpustakaan memiliki peranan penting. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perpustakaan merupakan salah satu sarana yang amat penting dalam memperluas dan memperdalam pengetahuan atau peningkatan kecerdasan kehidupan bangsa. Hal ini sesuai dengan isi dari Undang-Undang No. 43 Tahun 2007 yang menyatakan bahwa dibentuknya perpustakaan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan kehidupan bangsa. Sehubungan dengan hal itu dalam penyelenggaraan pendidikan pada setiap satuan pendidikan dipersyaratkan untuk menyediakan perpustakaan. Menurut Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan UU No.43 Tahun 2007 menyatakan bahwa Perpustakaan Sekolah/Madrasah adalah perpustakaan yang merupakan bagian integral dari kegiatan pembelajaran dan berfungsi sebagai pusat sumber belajar untuk mendukung tercapainya tujuan pendidikan yang berkedudukan di sekolah/madrasah. Keberfungsian perpustakaan sekolah tidak saja tergantung pada kondisi perpustakaan dengan berbagai fasilitasnya, tetapi juga sangat ditentukan oleh kondisi/ kompetensi dari tenaga pustakawannya. Namun dalam kenyataannya kondisi perpustakaan sekolah dan tenaga pustakawan kurang memadai. Sehubungan dengan hal itulah diupayakan melakukan Pengabdian masyarakat dengan judul Peranan Perpustakaan dalam Pengembangan Literasi. Dilaksanakannya kegiatan Pengabdian pada masyarakat ini juga terkait dengan adanya harapan dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Buleleng untuk meningkatkan kualitas tenaga pengelola Perpustakaan Sekolah Dasar di Kabupaten Buleleng. Harapan tersebut tentu saja juga terkait dengan kondisi pengelola Perpustakaan Sekolah Dasar yang sebagian besar belum memiliki kualifikasi kompetensi sebagai pengelola perpustakaan. Hal itu merupakan salah satu penyebab dari tidak maksimalnya keberfungsian dari perpustakaan, sebagaimana diungkapkan oleh Hari Santoso, yang menyatakan bahwa ada beberapa faktor, antara lain : 1. Kurangnya pemahaman terhadap essensi perpustakaan sebagai infrastruktur dalam menyediakan informasi, 2. Pengelola perpustakaan kurang optimal dalam memberikan layanan, 3. Kurang terpeliharanya komunikasi antara perpustakaan sekolah dengan masyarakat pengguna (2007). Dalam rangka itu akan diupayakan menyampaikan dua hal utama, yaitu: Peranan dan Upaya Pengembangan Literasi Informasi Perpustakaan Sekolah Pada Era Disrupsi; dan Upaya Mengoptimalkan Peran Perpustakaan Sekolah Melalui Pengelolaan Yang Profesional. Melalui paparan tersebut diharapkan nantinya dapat meningkatkan wawasan pengelola perpustakaan sekolah dalam meningkatkan peranan perpustakaan dalam mengembangkan literasi pada setiap pemustaka. Literasi yang berasal dari bahasa Inggris literacy berasal dari bahasa Latin littera (huruf) yang pengertiannya melibatkan penguasaan sistem-sistem tulisan dan konvensikonvensi yang menyertainya. Konsep literasi semacam itu terus berkembang sejalan dengan perkemabngan ilmu pengetahuan dan teknologi serta berbagai kajian yang telah dikembangkan. Saat ini kajian literasi telah meluas tergantung bagaimana istilah/kata itu disematkan dalam sebuah kalimat, sehubungan dengan hal itu belakangan ini telah berkembang berbagai konsep literasi diantaranya literasi informasi, dan literasi media dan bahkan dalam konteks Revolusi Industri 4.0 telah berkembang konsep literasi dasar, literasi big data, literasi teknologi, dan literasi kemanusiaan, yang tentu saja memiliki makna yang sedikit berbede antara yang satu dengan yang lainnya, walaupun secara substansial memiliki makna yang sama. National Institute for Literacy, mendefinisikan Literasi sebagai “kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.” Definisi ini memaknai Literasi dari perspektif yang lebih kontekstual. Dari definisi ini terkandung makna bahwa definisi Literasi tergantung pada keterampilan yang dibutuhkan dalam lingkungan tertentu. Education Development Center (EDC) menyatakan bahwa literasi tidak sebatas kemampuan baca tulis. Namun lebih dari itu, literasi adalah kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi dan skill yang dimiliki dalam hidupnya. Dengan demikian konsep pemahaman literasi semakin meluas karena kata literasi mengandung makna mencakup kemampuan membaca kata dan membaca dunia. Walaupun demikian dalam berbagai konsep literasi yang berkembang, makna literasi memang tidak bisa dilepaskan dari bahasa. Karena seseorang dikatakan memiliki kemampuan literasi apabila ia telah memperoleh kemampuan dasar berbahasa yaitu membaca dan menulis. Dengan demikian dapat dikatakan makna dasar literasi adalah sebagai kemampuan baca-tulis. Kemampuan baca-tulis merupakan pintu utama bagi pengembangan makna literasi secara lebih luas (https://www.dkampus.com/2017/05/pengertian-literasi-menurut-para-ahli/). Literasi menurut Kemendikbud (2016:2) adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan berbicara Dalam konteks inilah perpustakaan memiliki peranan yang sangat strategis dalam pengembangan literasi dalam berbagai dimensinya, baik dalam konteks literasi dasar, maupun dalam konteks literasi di era Revolusi 4.0, yaitu literasi big data, literasi kemanusiaan maupun literasi teknologi. Pengembangan literasi ke arah perlu pengkondisisan ke arah terbentuknya budaya literasi. Untuk itulah dicanangkan Gerakan Literasi Sekolah/GLS. Gerakan literasi sekolah menurut Kemendikbud (2016:3) merupakan gerakan sosial dengan dukungan kolaboratif berbagai elemen. Upaya yang ditempuh untuk mewujudkannya berupa pembiasaan membaca siswa. Pembiasaan ini dilakukan dengan kegiatan 15 menit membaca (guru membacakan buku dan warga sekolah membaca dalam hati, yang disesuaikan dengan konteks atau target sekolah). Kegiatan literasi ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat dan budaya membaca siswa. Ditjen Dikdasmen (2016:4) menyatakan bahwa kegiatan literasi dilaksanakan untuk meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik. GLS merupakan merupakan suatu usaha atau kegiatan yang bersifat partisipatif dengan melibatkan warga sekolah(siswa, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, komite sekolah, orang tua atau wali murid siswa), akademisi, penerbit, media masa, masyarakat dan pemangku kepentingan di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Discussion
Pelaksanaan kegiatan Pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Kabupaten Buleleng, Dengan sasaran utama pengelola perpustakaan Sekolah Dasar. Peserta kegiatan ini berjumlah 40 orang yang terdiri dari 38 orang pengelola perpustakaan yang bertlatar belakang S1 PGSD dan 2 orang berlatar belakang pendidikan D3 Perpustakaan. Pelaksanaannya dilaksanakan pada tanggal 16 November 2018 di SD Negeri 3 Bungkulan. Kegiatan ini dilaksanakan menggunakan metoda ceramah dan diskusi yang bersifat konstruktif. Kegiatan pengabdian pada masyarakat merupakan suatu implentasi dari pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi di satu sisi. Di sisi yang lain pelaksanaan dari Pengabdian kepada masyarakat juga merupakan tanggung jawab moral perguruan tinggi dalam memecahkan masalah pembangunan yang dihadapi masyarakat. Dalam memecahkan permasalahan pembangunan perguruan tinggi bermitra dengan berbagai pihak baik lembaga pemerintah maupun swasta. Sehubungan dengan hal itulah diupayakan kerjasama kemitraan dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olargara sebagai suatu kelembagaan yang memiliki peran dalam pengembangan sumber daya manusia. Dalam pengembangan sumberdaya manusia perpustakaan memiliki peran yang sangat penting. Hal itu sejalan dengan pandangan yang disampaikan oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga dalam arahannya yang pada prinsipnya menyampaikan komitmennya dalam mendukung pengembangan perpustakaan sekolah di Kabupaten Buleleng dan apresiasinya terhadap pelaksanaan kegiatan Pengabdian masyarakat yang bertema Perana Perpustakaan dalam Pengembangan Literasi. Dukungan dan komitmennya tidak saja dilandasi oleh hubungan kemitraan antar lembaga tetapi juga karena arti penting dari kegiatan ini dalam mendukung program pemerintah dalam pengembangan literasi bagi generasi muda, yang lebih lanjut akan dapat meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. Dalam kesempatan itu juga dinyatakan komitmennya dalam memperkuat kompetensi tenaga pengelola perpustakaan dengan mendorong setiap pengelola perpustakaan yang belum memiliki kompetensi pustakawan untuk melanjutkan terus mengikuti kegiatan – kegiatan penguatan kompetensi dan atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Hal itu dipandang sangat penting dalam meningkatkan keberfungsian dari perpustakaan sebagai sumber belajar yang mencerdaskan dan menyenangkan bagi pemustaka. Sehubungan dengan hal itu diharapankan agar kerjasama antara lembaga dalam bentuk kegiatan semacam ini terus diuapayakan dan ditingkatkan, sehingga tenaga pustakawan kompetensinya semakin meningkat. Upaya peningkatan wawasan bagi tenaga pengelola perpustakaan sangat penting artinya terkait dengan rendahnya minat baca masyarakat pembelajar. Padahal dalam dunia pendidikan, membaca mempunyai fungsi sosial untuk memperoleh kualifikasi tertentu sehingga seseorang dapat mencapai prestasi achievement reading, seseorang peserta didik agar memperoleh kelulusan dengan baik, harus mempelajari atau membaca sejumlah bahan bacaan yang direkomendasikan oleh pendidik, begitu sebaliknya seorang pendidik untuk meraih kualifikasi tertentu dalam mengajar atau menulis ilmiah juga harus didukung dengan kegiatan membaca berbagai bahan bacaan untuk selalu memperbaharui pengetahuannya secara kontinyu, sesuai dengan perkembangan yang ada. Kebiasaan membaca merupakan sesuatu yang penting dan fundamental yang harus dikembangkan sejak dini dalam rangka untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan, baik pendidikan dasar, menengah, maupun pendidikan tinggi. Upaya pembinaan minat baca telah dilakukan oleh pemerintah melalui berbagai kegiatan, tetapi bagaimana hasil yang diperoleh di Indonesia bila dibanding dengan negara lain seperti Malaysia, Singapura, apalagi India. masih jauh di bawah negaranegara tersebut. Masalah minat baca di Indonesia telah banyak dibahas melalui tulisan, seminar, workshop dan berbagai media. Kenyataan di lapangan, walaupun telah banyak kalangan mengupas, bahkan Pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai cara, yang salah satunya pada bulan mencanangkan bulan Buku, namun bagaimana hasilnya kita masih berada pada urutan ke-6 dan dibawah Malaysia. Padahal kalau kita cermati sejenak penerbitan koran dan majalah, dalam sepuluh tahun terakhir ini jumlahnya telah meningkat, akan tetapi hal ini tidak diikuti oleh penerbitan buku (https://daryono.staff.uns.ac.id/2011/12/22/peranpustakawan-dalam-menumbuhkan-minat-baca-masyarakat). Ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya minat baca di Indonesia antara lain : Pertama, Kurikulum pendidikan dan sistem pembelajaran di Indonesia belum mendukung kepada peserta didik, semestinya kurikulum atau sistem pembelajaran yang ada mengharuskan membaca buku lebih banyak lebih baik atau mencari informasi lebih dari apa yang diajarkan. Kedua, masih terlalu banyaknya jenis hiburan, permainan game dan tanyangan TV yang tidak mendidik, bahkan kebanyakan acara-acara yang ditanyangkan lebih banyak yang mengalihkan perhatian untuk membaca buku kepada hal-hal yang bersifat negatif. Ketiga, Kebiasaan masyarakat terdahulu yang turun temurun dan sudah mendarah daging, masyarakat sudah terbiasa dengan cara mendongeng, berceritera yang sampai saat sekarang masih berkembang di masyarakat Indonesia. Keempat, Rendahnya produksi buku-buku yang berkualitas di Indonesia, dan masih adanya kesenjangan penyebaran buku di perkotaan dan pedesaan, yang mengakibatkan terbatasnya sarana bahan bacaan dan kurang meratanya bahan bacaan ke pelosok tanah air. Kelima, rendahnya dukungan dari lingkungan keluarga, yang kesehariaanya hanya disibukkan oleh kegiatan-kegiatan keluarga yang tidak menyentuh aspek-aspek penumbuhan minat baca pada keluarga. Keenam, minimnya sarana untuk memperoleh bahan bacaan, seperti perpustakaan, taman bacaan. Bahkan hal ini masih dianggap merupakan sesuatu yang aneh dan langka dalam masyarakat (dalam https://daryono.staff.uns.ac.id/2011/12/22/peranpustakawan-dalam-menumbuhkan-minat-baca-masyarakat). Sedangkan Mastini Hardjoprakosa (2005 : 145) menyatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya minat baca masyarakat di Indonesia antara lain : 1. Pemerintah dan swasta dengan lembaga pendidikannya, para guru kurang memotivasi para anak didiknya untuk membaca buku-buku selain buku pelajaran. 2. Para orang tua tidak memberi dorongan kepada anak untuk mengutamakan membeli buku dari pada mainan, alat pandang dengar. Mereka biasanya kurang mengetahui jenis buku yang sesuai dan disukai anak, dan mereka biasanya juga kurang memperkenalkan perpustakan kepada anak-anak. 3. Para penerbit media cetak memasang harga buku yang bermutu terlalu tinggi, sehingga tak terjangkau oleh masyarakat luas. 4. Para pengarang, penyadur dan penerjemah yang semakin berkurang, karena royalti yang tidak menentu dan masih terkena PPH. 5. Perpustakaan Umum yang jumlahnya belum mencukupi di tiap Propinsi untuk melayani masyarakat. 6. Perpustakaan yang belum terkelola dengan professional (dalam https://daryono.staff.uns.ac.id/2011/12/22/peran-pustakawan-dalam-menumbuhkan-minatbaca-masyarakat). Sehubungan dengan hal itu perlu ada upaya-upaya nyata untuk mengatasinya. Dalam konteks inilah pustakawan dituntut untuk berkreasi dalam mengembangkan minat baca dari pemustaka baik dalam kaitannya dengan pengelolaan tata ruang perpustakaan, pemajangan berbagai jenis buku dan pustaka lainnya, penyediaan buku dan bahan pustaka lainnya yang menarik dan sesuai dengan kebutuhan pemustaka, mengembangan pelayanan yang maksimal, menyedikan ruang kreasi untuk membaca karya sastra/pusi, mendongeng dan kreativitas lainnya. Peran proaktif pustakawan berkaitan dengan upaya menumbuhkan minat baca masyarakat sejak dini sangat penting. Sehubungan dengan hal itu peningkatan kapasitas diri pengelola perpustakaan perlu terus diupakan. Harapan semacam itu sangatlah wajar dan penting artinya dalam pembinaan sumberdaya manusia, karena peningkatan kompetensi pustakawan tidak saja berdampak personal dalam bentuk peningkatan kompetensi/professional dalam pengelolaan perpustakaan tetapi juga memiliki dampak sosial dalam bentuk pelayanan yang lebih professional dan berklualitas sehingga keberfungsian dari perpustakaan dalam pengembangan literasi yang mencerdaskan semakin optimal. Dengan demikian kebermaknaan profesi pustakawan sebagai penolong, pendidik, teman diskusi, konsultan, pembimbing, manajer informasi, fasilitator informasi, dan sebagai profesi yang menjanjikan dapat terwujudkan (Heriyanto, dkk., 2013). Kegiatan pengabdian pada masyarakat menghadirkan dua nara sumber yaitu: Dr. I Nyoman Yasa, .Pd. M.A. dan Drs. I Ketut Artana. Dr. Nyoman Yasa, S.Pd.MA. membahas tentang Peranan dan Upaya Pengembangan Literasi Informasi Perpustakaan Sekolah Pada Era Disrupsi. Dalam paparannya menyatakan bahwa perpustakaan tradisional yang masih ada di sekolah pada dewasa ini sudah selayaknya berjalan seiring dengan perkembangan zaman. Perkembangan di era disrupsi digital, bagaimanapun juga, telah menciptakan generasinya: Gen-Y (Millennial) dan Gen-Z . Dalam konteks pendidikan dan literasi, generasi muda memanfaatkan media dan sumber penelususran online: Google, Google Schooler. Husni &Fatulloh ( 2016) dalam Yasa (2018) menyatakan bahwa sebanyak 94,84 % anak SD sebagai pengguna internet. Sementara itu, laporan survai yang dibuat oleh Kominfo menunjukkan bahwa pengguna internet dari tahun ke tahun cendrung terus meningkat. Fenomena ini memerlukan respons dari pihak terkait dalam mengembangkan peran perpustakaan sekolah. Respons yang relevan dengan perkembangan itu diharapkan akan memberikan dampak yang baik pada pengembangan literasi informasi siswa/pemustaka. Hal itu menyiratkan adanya kecendrungan orientasi belajar generasi melineal yang lebih mengarah pada keintimannya dengan teknologi berbasis IT/ android. Pengembangan perpustakaan semacam ini juga mengacu pada terjadinya perubahan orientasi budaya generasi melenial. Ada beberapa versi mengenai konsep generasi melenial. Namun, secara umum, melenial adalah generasi yang mulai dewasa pada era melenium alias abad ke-21. Dan yang memiliki keakraban, kemelekan dan kefasihannya dengan teknologi berbasis digital/internet. Keakraban dan kefasihannya dalam teknologi internet inilah yang selanjutnya menjadi penentu karakteristik generasi melinial. Karakteristinya seprti itu, menjadikan mereka lebih mengedepankan informasi yang cepat, baru, manarik, dan terhubung (Hanan: 2018). Sedangkan bahasan kajian tentang Upaya Mengoptimalkan Peran Perpustakaan Sekolah Melalui Pengelolaan Yang Profesional disampaikan oleh Drs. I Ketut Artana. Dalam paparannya diungkapkan peran perpustakaan sebagai pusat sumber belajar. Sehubungan dengan hal itu, perpustakaan sekolah berkewajiban dalam memberikan informasi terkait dengan pemanfaatan sumber-sumber daya perpustakaan kepada pemustaka sehingga kegemaran pemustaka terus meningkat. Untuk mewujudkan hal itu sangat penting dilaksanakan program literasi perpustakaan bagi pemustaka. Melalui hal itu peran perpustakaan sekolah dasar sebagai sumber belajar informasi dan pusat sumber belajar akan dapat terwujudkan. Hal itu lebih lanjut akan dapat mengembangkan peran Perpustakaan sebagai suatu institusi pengelolaan hasil rekaman gagasan, pemikiran, pengalaman, dan pengetahuan, manusia mempunyai fungsi utama melestarikan hasil budaya umat manusia, khususnya yang berbentuk dokumen karya cetak dan karya rekam lainnya, dengan tujuan agar dapat dimanfaatkan oleh generasi-generasi selanjutnya. Sasaran dari pelaksanaan fungsi tersebut adalah terbentuknya masyarakat yang memiliki budaya baca dan belajar sepanjang hayat,disamping itu, perpustakaan juga ikut serta membangun masyarakat informasi berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Keberadaan perpustakaan semacam itu sejalan dengan undang-undang perpustakaann Undang-Undang No. 43 Tahun 2007, menyatakan keberadaan perpustakaan harus benarbenar dapat dijadikan tempat pembelajaran sepanjang hayat dan wahana rekreasi ilmiah bagi masyarakat, sehingga dapat mewujudkan perpustakaan menjadi bagian hidup keseharian dari masyarakat. Dengan demikian peran perpustakaan sebagai pusat informasi(central of information) dan penyebar informasi pada lembaga pendidikan tidak diragukan lagi. Dalam konteks inilah perpustakaan berfungsi sebagai salah satu pusat sumber belajar bagi masyarakat pembelajar untuk meningkatkan literasi dasar dan literasi lanjutan (literasi big data, literasi kemanusiaan dan literasi teknologi). Dalam kaitannya dengan hal itulah Kemendikbud tahun 2016 merintis 31 Kampung Literasi pada lokasi Gerakan Indonesia Membaca (GIM) yang dibina oleh Direktorat Jenderal PAUD dan Pendidikan Masyarakat, dan akan masih terus berkembang ke daerah lain. Kampung Literasi tersebut adalah Aceh Utara, Samosir, Kota Padang, Bangka, Kota Bengkulu, Bandar Lampung, Kota Jambi, Pekan Baru, Pelembang, Lebak, Ciamis, Banyumas, Gunung Kidul, Pamekasan, Karangasem, Lombok Barat, Nunukan, Singkawang, Palangkaraya, Banjarbaru, Kota Samarinda, Kupang, Gorontalo, Manado, Polewali Mandar, Kota Kendari, Gowa, Ambon, Ternate, Lanny Jaya, Manokwari. Upaya Pengabdian pada masyarakat peranan perpustakaan dalam meningkatkan literasi sejalan dengan “Pesan Mendikbud jika berbicara tentang literasi, jadikan gerakan ini menjadi suatu gerakan nasional agar semua elemen masyarakat bisa bergerak bersama-sama dengan tujuan yang sama,” (2016).
Conclusion
Kegiatan ini berlangsung dengan baik sesuai dengan rencana dan peserta sangat antusias mengikutinya. Peserta menyatakan sangat tertarik dan telah mengalami perluasan wawasan tentang peranan perpustakaan dalam pengembangan literasi. Sehingga dapat dijadikan sebagai acuan model penguatan peranan perpustakaan dalam pengembangan literasi di sekolah masing-masing. Peningkatan kompetensi pustakawan tidak saja berdampak personal dalam bentuk peningkatan kompetensi/professional dalam pengelolaan perpustakaan tetapi juga memiliki dampak sosial dalam bentuk pelayanan yang lebih professional dan berklualitas sehingga keberfungsian dari perpustakaan dalam pengembangan literasi yang mencerdaskan semakin optimal.