Optimalisasi peran perpustakaan dalam implementasi literasi digital di perguruan tinggi
Institut Agama Islam Negeri Ponorogo; Institut Agama Islam Negeri Ponorogo
Abstrak
Seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi peran perpustakaan dalam era digital semakin penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis strategi yang diterapkan oleh perpustakaan dalam meningkatkan literasi digital di perguruan tinggi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan desain multi kasus, dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi yang melibatkan perpustakaan di IAIN Ponorogo dan IAIN Kediri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perpustakaan memainkan peran vital dalam penguatan literasi digital melalui berbagai inisiatif, seperti penyediaan akses ke sumber daya digital, pelatihan literasi digital untuk pustakawan, dan pengembangan kelas literasi digital untuk mahasiswa di perpustakaan. Selain itu, kolaborasi antara program perpustakaan dengan fakultas dan pusat teknologi informasi sangat efektif dalam menciptakan lingkungan yang mendukung penguatan literasi digital mahasiswa. Kesimpulan dari penelitian ini menekankan pentingnya perpustakaan untuk terus berinovasi dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi guna memenuhi kebutuhan literasi digital mahasiswa. Rekomendasi yang diberikan meliputi peningkatan fasilitas teknologi, pengembangan program pelatihan berkelanjutan pada setiap fakultas melalui mata kuliah, dan penguatan kerjasama antara perpustakaan dan fakultas untuk menciptakan ekosistem literasi digital yang lebih holistik.
Abstract
Along with the development of information and communication technology, the role of libraries in the digital era is increasingly essential. This research aims to identify and analyze libraries' strategies to increase digital literacy in higher education. The research method used is qualitative with a multi-case design, with data collection through observation, interviews, and documentation involving libraries at IAIN Ponorogo and IAIN Kediri. The research results show that libraries play a vital role in strengthening digital literacy through various initiatives, such as providing access to digital resources, training librarians, and developing digital literacy classes for library students. In addition, collaboration between library programs and, faculties and information technology centers is very effective in creating an environment that supports strengthening students' digital literacy. The conclusion of this research emphasizes the importance of libraries to innovate and adapt to technological developments to meet students' digital literacy needs. The recommendations include improving technological facilities, developing sustainable training programs at each faculty through courses, and strengthening collaboration between libraries and faculties to create a more holistic digital literacy ecosystem.
Keywords:
Digital Literacy
· Strengthening Digital Literacy
· University Libraries
Introduction
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah berbagai aspek kehidupan, termasuk di dunia pendidikan. Di era digital ini, literasi digital menjadi kemampuan yang sangat penting bagi mahasiswa untuk dapat mengakses, memahami, dan menggunakan informasi secara efektif (Syarifah et al., 2021). Perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan tinggi memiliki tanggung jawab untuk membekali mahasiswanya dengan keterampilan literasi digital yang memadai. Perpustakaan perguruan tinggi, sebagai pusat informasi dan sumber daya belajar, memainkan peran yang sangat krusial dalam proses ini (Rahayu, 2017). Layanan perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan buku dan referensi, tetapi juga sebagai fasilitator dan mediator dalam penyebaran informasi digital (Rodin, 2015). Oleh karena itu, strategi yang diterapkan oleh perpustakaan dalam meningkatkan literasi digital di kalangan mahasiswa menjadi sangat penting. Dengan memahami literasi digital, mahasiswa akan memiliki kemampuan untuk memanfaatkan teknologi digital secara efektif dan efisien. Kemampuan ini akan membantu merekaa menemukan informasi yang relevan dan berkualitas, mengolah dan mempresentasikan informasi dengan baik, serta membuat keputusan yang tepat dan bijaksana. Pada akhirnya, literasi digital bisa membantu mahasiswa mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja yang semakin kompleks dan memerlukan kemampuan adaptasi terhadap perkembangan teknologi (Kim, 2019). Seiring dengan perkembangan teknologi, perpustakaan di perguruan tinggi harus beradaptasi dan mengembangkan berbagai strategi untuk mendukung literasi digital (Liansari & Nuroh, 2018). Implementasi literasi digital ini meliputi penyediaan akses ke sumber daya digital, pelatihan literasi digital untuk pustakawan dan mahasiswa, serta pengembangan platform pembelajaran digital (Syabaruddin & Imamudin, 2022). Selain itu, kolaborasi antara perpustakaan dengan fakultas dan pusat teknologi informasi juga diperlukan untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendukung literasi digital bagi mahasiswa. Penelitian terkait dengan literasi digital ini pada dasarnya sudah pernah dilakukan sebelumnya. Anthonysamy Lilian dalam tulisannya “Motivational beliefs, an important contrivance in elevating digital literacy among university students”. Penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi intrinsik berperan penting dalam meningkatkan literasi digital mahasiswa. Mahasiswa yang didorong oleh motivasi intrinsik cenderung lebih sukses dalam pembelajaran digital dibandingkan dengan mereka yang tidak. Studi ini mengidentifikasi pentingnya keyakinan motivasi sebagai faktor internal yang mendorong mahasiswa menggunakan strategi yang tepat untuk meningkatkan literasi digital mereka. Meskipun sudah banyak penelitian tentang motivasi, penelitian ini menyoroti perlunya lebih banyak fokus pada strategi keyakinan motivasi untuk literasi digital di masa depan (Anthonysamy et al., 2020). Berikutnya Soo Young Rieh et al, dalam artikelnya “Assessing college students' information literacy competencies using a library role-playing method” membahas tentang manfaat dan kekurangan dari metode bermain peran sebagai pustakawan untuk menilai kompetensi literasi informasi mahasiswa. Dua studi empiris dilakukan dengan menggabungkan aktivitas bermain peran dan latihan pemilahan kartu serta wawancara. Temuan menunjukkan bahwa mahasiswa dapat dengan mudah menggunakan metode ini untuk melakukan, menunjukkan, dan menjelaskan perilaku pencarian dan evaluasi sumber. Metode ini terbukti efektif dalam mengejar refleksi siswa dan memahami kompetensi literasi informasi mereka sendiri (Rieh et al., 2022). Georgi Apostolov dan Valentina Milenkova "Mobile Learning and Digital Literacy in the Context of University Students". Artikel ini berfokus pada upaya teoritis dan praktis dalam mempromosikan literasi digital dan pembelajaran seluler, serta menjelajahi dimensinya di universitas. Analisis berdasarkan informasi empiris untuk mengungkapkan hubungan antara mahasiswa dan TIK dalam masyarakat digital. Kesimpulan utamanya adalah adaptasi mahasiswa terhadap digitalisasi memerlukan cara efektif untuk memotivasi mereka menggunakan TIK secara berkualitas (Apostolov & Milenkova, 2018). Secara keseluruhan, ketiga penelitian ini menyoroti pentingnya motivasi intrinsik dalam literasi digital, efektivitas metode bermain peran dalam evaluasi literasi informasi, dan upaya yang diperlukan untuk mengintegrasikan pembelajaran seluler dengan literasi digital di lingkungan pendidikan tinggi. Penekanan pada strategi pendekatan dan motivasi mahasiswa menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas literasi digital mereka di era digital saat ini. Temuan-temuan tersebut memiliki kesamaan dengan penelitian ini, khususnya dalam konteks literasi digital. Namun, terdapat tiga aspek yang secara substansial membedakan penelitian ini dari penelitian sebelumnya tentang literasi digital. Pertama, penelitian sebelumnya belum mengeksplorasi secara spesifik strategi perpustakaan dalam meningkatkan literasi digital di perguruan tinggi. Kedua, penelitian ini mengadopsi desain multi-kasus yang inovatif, yang belum pernah diterapkan sebelumnya dalam konteks ini, melibatkan dua perguruan tinggi Islam di Jawa Timur, yaitu IAIN Ponorogo dan IAIN Kediri. Dengan desain multi kasus, data literasi digital yang diperoleh menjadi lebih lengkap dan temuan penelitian menjadi lebih nyata dan komprehensif karena menggabungkan keunggulan dari beberapa perpustakaan yang diteliti. Ketiga, penelitian ini menawarkan model dan strategi terbaik dalam implementasi literasi digital melalui dua pendekatan didasarkan pada hasil penelitian, yang dapat dijadikan acuan oleh perguruan tinggi lain dalam mengimplementasikan literasi digital. Oleh karena itu, penelitian ini menarik dan penting untuk dilakukan guna melengkapi dan mengembangkan hasil penelitianpenelitian sebelumnya. Perpustakaan IAIN Ponorogo merupakan unit layanan yang menyediakan berbagai sumber referensi untuk mendukung pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat bagi dosen dan mahasiswa. Perpustakaan ini berperan penting dalam menyediakan berbagai layanan kepada penggunanya dan terus berupaya meningkatkan layanan untuk mendukung tri dharma perguruan tinggi. Hasil dokumentasi menunjukkan bahwa perpustakaan IAIN Ponorogo menyediakan berbagai layanan, termasuk layanan kelas literasi digital. Program Kelas Literasi Digital di perpustakaan IAIN Ponorogo dirancang untuk meningkatkan pemahaman, keterampilan, dan kepercayaan mahasiswa dalam menggunakan teknologi digital secara efektif dan bertanggung jawab. Tujuannya adalah untuk memberdayakan mahasiswa di era digital, mengajarkan mereka menjadi pengguna yang cerdas, aktif, dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi untuk kebutuhan sehari-hari dan pembelajaran. Kelas ini dilaksanakan secara rutin di berbagai perpustakaan di IAIN Ponorogo, termasuk perpustakaan pusat, perpustakaan pascasarjana, dan perpustakaan kampus 2 (Wibawanto, et.al, 2023). Demikian juga Perpustakaan IAIN Kediri merupakan unit layanan yang menyediakan berbagai sumber referensi guna mendukung pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat bagi dosen dan mahasiswa. Guna mendukung tugas dan fungsi utamanya yakni mendukung tri dharma perguruan tinggi, maka perpustakaan IAIN Kediri juga terus berbenah mengembangkan berbagai program layanan terkait penguatan literasi digital baik bagi mahasiswa, dosen dan juga tenaga kependidikan termasuk pustakawan. Beberapa implementasi program yang telah dilaksanakan oleh perpustakaan IAIN Kediri terkait penguatan literasi digital yakni dengan melaksanakan kegiatan workshop dan seminar literasi digital dengan tujuan utama untuk meningkatkan keterampilan menulis mahasiswa agar dapat meningkatkan produktivitas tulisan mereka. Selanjutnya, kegiatan menulis ini akan diikuti dengan pembentukan Syakal, sebuah wadah publikasi tulisan terutama bagi mereka yang masih belajar menulis, namun juga terbuka bagi kreasi tulis mahasiswa dan civitas akademika IAIN Kediri. Berdasarkan hal inilah, peneliti ingin mengidentifikasi dan sekaligus menganalisis lebih mendalam terkait optimalisasi peran perpustakaan dalam implementasi literasi digital di perguruan tinggi, khususnya di IAIN Ponorogo dan IAIN Kediri.
Method
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus multi-kasus (Moleong, 2018) dan menggunakan rancangan penelitian lapangan (Tanzeh, 2009). Melalui tiga teknik pengumpulan data yakni; observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi (Bogdan & Taylor, 1975), peneliti berperan sebagai instrumen utama untuk mengumpulkan data deskriptif, ucapan, tulisan, dan perilaku dari subjek, dengan menganalisis secara induktif (Furchan, 2010). Penelitian ini mengumpulkan data berupa kata-kata, tindakan, dan dokumen terkait pelaksanaan literasi digital di IAIN Ponorogo dan IAIN Kediri. Metode pengambilan data melibatkan purposive sampling dan snowballing sampling (Etnografi, 2003), di mana informan kunci dipilih berdasarkan pengetahuan mereka terkait implementasi literasi digital, untuk melengkapi informasi yang diperlukan. Peneliti menetapkan beberapa informan sebagai sumber data primer, termasuk 8 pustakawan yang terlibat dalam kebijakan dan pelaksanaan program literasi digital dan 7 dosen, serta 7 mahasiswa sebagai peserta program tersebut. Data sekunder berupa dokumen tertulis juga dikumpulkan sebagai tambahan, sementara foto digunakan untuk memperkuat data hasil observasi. Analisis data dalam studi multi-kasus ini dilakukan dalam dua tahap. Pertama, analisis data dalam satu kasus di IAIN Ponorogo dan IAIN Kediri dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sesuai dengan konsep analisis data yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman(Bogdan & Taylor, 1975). Kedua, analisis data lintas kasus digunakan untuk membandingkan temuan dari kedua kasus penelitian. Temuan dari masing-masing kasus diterjemahkan dalam proposisi, kemudian dianalisis dan dikombinasikan untuk mencapai kesimpulan teoritis. Hasil akhir dari analisis ini akan menjadi temuan dari kedua kasus penelitian, yang akan dianalisis lebih lanjut melalui tinjauan kritis dan analisis mendalam.
Result & Discussion
Implementasi Literasi Digital di Perpustakaan IAIN Ponorogo dan IAIN Kediri Perpustakaan IAIN Ponorogo merupakan unit layanan yang menyediakan berbagai sumber referensi untuk mendukung pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat bagi dosen dan mahasiswa. Dengan tugas dan fungsi penting dalam menyediakan layanan kepada penggunanya, perpustakaan ini terus meningkatkan berbagai bentuk layanan guna mendukung tri dharma perguruan tinggi. Berdasarkan hasil penelitian, perpustakaan IAIN Ponorogo menyediakan berbagai layanan, termasuk kelas literasi digital. Kelas literasi digital di perpustakaan bertujuan meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam mengelola teknologi informasi dan sumber daya digital. Literasi digital penting karena mencakup penggunaan perangkat dan aplikasi digital, analisis kritis terhadap informasi online, evaluasi sumber daya digital, dan partisipasi dalam komunitas online. Program ini membantu mahasiswa mengakses informasi dengan efektif dan menggunakan teknologi secara bijaksana serta bertanggung jawab. Beberapa layanan kelas literasi digital yang tersedia dapat dilihat pada Tabel 1 Tabel 1. Implementasi Literasi Digital di Perpustakaan IAIN Ponorogo Bidang Layanan Implementasi Kegiatan Literasi Digital 1. Program literasi digital diperkuat dengan peningkatan kualifikasi SDM pustakawan, akses internet, dan sarana computer; 2. Program kelas literasi digital untuk mahasiswa dilaksanakan secara rutin di tiga Lokasi, yakni di perpustakaan pusat, perpustakaan kampus 2, dan perpustakaan pascasarjana; 3. Program literasi digital diintegrasikan dengan fakultas, yakni masuk pada mata kuliah Bahasa Indonesia; 4. Program literasi digital dilaksanakan dengan berbasis anggaran dari DIPA dalam bentuk workshop dan seminar academic writing; 5. Program kelas literasi juga termasuk program pendidikan pengguna (user education) untuk mahasiswa baru; 6. Program pelatihan literasi digital "One Month One Article (OMOA) Program Digital Writing on Scopus Series" merupakan program khusus ditujukan untuk dosen di perpustakaan pascasarjana dalam meningkatkan publikasi jurnal terindeks Scopus. Sumber: Diolah Peneliti, 2023 Tabel 2. Implementasi Literasi Digital di Perpustakaan IAIN Kediri Bidang Layanan Implementasi Kegiatan Literasi Digital 1. Program literasi digital diperkuat dengan peningkatan kualifikasi SDM pustakawan, akses internet, dan sarana computer; 2. Program kelas literasi digital dilaksanakan melalui kegiatan workshop menulis yang diselenggarakan secara insidental bagi mahasiswa dan dosen; 3. Program literasi digital diintegrasikan dengan fakultas, yakni masuk pada mata kuliah hadis dan fiqih, dan metodologi penelitian; 4. Program kelas literasi juga dilaksanakan dalam program pendidikan pengguna (user education) atau pengenalan perpustakaan khusus untuk mahasiswa baru; 5. Program literasi digital diimplementasikan melalui program klinik literasi yang bertujuan mengajarkan keterampilan penelusuran informasi kepada dosen dan mahasiswa; 6. Program literasi digital dilaksanakan dengan berbasis anggaran dari DIPA dalam bentuk workshop dan seminar menulis; 7. Program literasi digital dilaksanakan melalui bimbingan penggunaan Al Maktabah Asy Syamilah bagi mahasiswa terutama pada mata kuliah hadis dan fiqih; 8. Program literasi digital dilaksanakan melalui pembuatan portal digital bernama SYAKAL (Syiar Literasi) dan MILLITANSI. Portal SYAKAL bertujuan meningkatkan budaya menulis bagi mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan masyarakat umum, sementara MILLITANSI ditujukan untuk pustakawan. Sumber: Diolah Peneliti, 2023 Sementara berdasarkan Tabel 2 di atas, Hasil kegiatan di perpustakaan IAIN Kediri, peneliti menemukan beberapa implementasi kelas literasi digital. Salah satu implementasi program melalui penyelenggaraan workshop dengan tema "Meningkatkan Produktivitas Menulis bagi Mahasiswa IAIN Kediri". Workshop ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan menulis mahasiswa untuk meningkatkan produktivitas tulisan mereka. Analisis Implementasi Literasi Digital di Perpustakaan IAIN Ponorogo dan IAIN Kediri Implementasi penguatan literasi digital merupakan langkah krusial dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan individu dalam menggunakan teknologi digital secara bijak, efektif, dan aman (Syabaruddin & Imamudin, 2022). Inisiatif ini memiliki dampak yang sangat signifikan terutama dalam konteks lembaga pendidikan tinggi yang bertanggung jawab memberikan bekal terbaik kepada mahasiswanya agar siap menghadapi era digital yang terus berkembang. Keterlibatan perpustakaan IAIN Ponorogo dan perpustakaan IAIN Kediri dalam mengintegrasikan program-program literasi digital adalah contoh konkret dari upaya untuk mempersiapkan mahasiswa agar lebih kompeten menghadapi tantangan teknologi digital modern. Di IAIN Ponorogo strategi penguatan literasi digital terintegrasi pada mata kuliah Bahasa Indonesia. Sedangkan di IAIN Kediri terintegrasi pada mata kuliah hadits, fiqih dan metodologi penelitian. Sementara implementasi penguatan literasi digital yang dilakukan diluar kelas atau yang tidak terintegrasi dengan kurikulum, yakni melalui program perpustakaan. Untuk mendukung implementasi kedua model tersebut, baik yang terjadi dalam kelas maupun di luar kelas, tersedia sistem pendukung seperti fasilitas yang mencakup akses internet, sumber daya manusia, dan sarana prasarana. Dalam konteks penguatan literasi digital di IAIN Ponorogo dan IAIN Kediri, terdapat dua aspek utama yang dapat dibedakan: Pertama, penguatan dalam kelas dan penguatan di luar kelas. Implementasi penguatan literasi digital dalam kelas terintegrasi dengan kurikulum yang ada di fakultas. Ini sejalan dengan teori yang disampaikan (Khan et al., 2022) yang menyatakan bahwa keterampilan kritis, operasional, gaya belajar visual, gaya belajar kolaboratif, dan sistem pembelajaran berkontribusi signifikan terhadap literasi digital. Hal ini didukung juga dengan (Spante et al., 2018) yang menegaskan pentingnya mengintegrasikan pengajaran dan pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan literasi digital, yaitu dalam mengelola dan memahami penggunaan teknologi digital. Kedua, implementasi penguatan literasi digital yang dilakukan diluar kelas atau yang tidak terintegrasi dengan kurikulum, yakni melalui program perpustakaan. Program literasi digital di perpustakaan IAIN Ponorogo meliputi sejumlah kegiatan, seperti workshop, seminar, dan pelatihan literasi yang terstruktur dalam program One Month One Article (OMOA), serta pemanfaatan manajemen referensi seperti Zotero dan Mendeley dalam penulisan artikel. Program pelatihan ini khusus diperuntukkan bagi dosen Pascasarjana. Selain itu, terdapat juga program rutin untuk mahasiswa seperti kelas literasi digital yang diselenggarakan untuk mahasiswa di beberapa perpustakaan, termasuk perpustakaan pusat, kampus 2, dan perpustakaan pascasarjana. Program workshop dengan tema "Academic Writing Skill" di IAIN Ponorogo dirancang untuk mendukung literasi digital bagi dosen, mahasiswa, dan staf. Program ini mencakup pemahaman dasar tentang teknologi digital, penggunaan aplikasi dan platform digital yang relevan, serta keterampilan penting seperti penelusuran dan evaluasi informasi online, keamanan digital, dan etika berkomunikasi di dunia maya. Pelatihan ini diadakan secara periodik dengan melibatkan narasumber yang ahli di bidang literasi digital. Kemudian dalam tahap implementasi literasi digital di Perpustakaan IAIN Kediri, juga telah dilakukan dalam kegiatan workshop bertema "Meningkatkan Produktivitas Menulis bagi Mahasiswa IAIN Kediri." Workshop ini bertujuan utama untuk meningkatkan keterampilan menulis mahasiswa, sehingga mereka dapat secara signifikan meningkatkan produktivitas dalam penulisan. Kemudian serangkaian webinar dengan tema "klinik literasi penguat literasi informasi." diikuti oleh 186 mahasiswa pada waktu itu dan diikuti dari berbagai jurusan di IAIN Kediri. Sebagai tambahan, seperti yang disampaikan oleh Hanifah, pada awal semester, perpustakaan telah mengadakan seminar yang mencakup pengenalan penggunaan alat seperti Zotero, Publish or Perish, dan aplikasi Mendeley. Materi yang lebih mendalam tentang Mendeley dan Publish or Perish kemudian dipelajari dalam mata kuliah metodologi Penulisan, biasanya pada semester ke-4 atau ke-5. Ini artinya program literasi digital bagi mahasiswa di IAIN Ponorogo dan IAIN Kediri melibatkan pembiasaan dalam menggunakan berbagai platform digital untuk penelusuran referensi. Selain itu, mahasiswa juga dibiasakan menggunakan perangkat manajemen referensi seperti Zotero dan Mendeley saat menyusun makalah atau artikel ilmiah. Kegiatan literasi ini terintegrasi dalam pembelajaran di kelas dan diselenggarakan juga di perpustakaan melalui seminar, pelatihan, dan workshop. Implementasi program literasi digital di IAIN Ponorogo dan IAIN Kediri ini sejalan dengan pendekatan yang diungkapkan oleh (Isnawati et al., 2021) dimana ia menekankan bahwa penguatan literasi digital dapat dicapai melalui pembiasaan pribadi, implementasi pembelajaran, dan pengembangan berbagai kegiatan pendidikan. Ketiga langkah ini diterapkan secara komprehensif di Perpustakaan IAIN Ponorogo dan IAIN Kediri. Pembiasaan pribadi mahasiswa dalam literasi digital oleh Perpustakaan IAIN Ponorogo melalui program kelas literasi digital secara rutin dan dilaksanakan program user education atau pengenalan perpustakaan khusus untuk mahasiswa. Layanan kelas literasi digital merupakan layanan yang bertujuan untuk memberikan keterampilan literasi digital bagi mahasiswa yang dilaksanakan di perpustakaan pusat, perpustakaan kampus 2, dan perpustakaan pascasarjana. Program literasi digital dilaksanakan juga di perpustakaan kampus 2. dan juga dilaksanakan di Pascasarjana IAIN Ponorogo. Selain itu, penerapan kegiatan literasi digital di IAIN Ponorogo dan IAIN Kediri yang telah dilaksanakan melalui pendidikan ini juga sejalan dengan konsep (Reddy et al., 2020), dimana perkembangan teknologi informasi dan komunikasi memainkan peran krusial dalam perkembangan sektor-sektor, terutama pendidikan, dan mengharuskan individu memiliki kemampuan, kompetensi, dan keterampilan yang beragam untuk beradaptasi dengan peluang baru yang dihadirkan oleh era teknologi ini. Sebaimana di IAIN Ponorogo dan IAIN Kediri konsep ini memperkenalkan model baru yakni pembelajaran didalam kelas dan diluar kelas yang artinya menerapkan penguatan literasi digital pada pembelajaran fleksibel. Selanjutnya, dalam rangka pengembangan pendidikan perpustakaan IAIN Kediri telah meluncurkan dua portal digital, yaitu SYAKAL (Syiar Literasi) dan MILLITANSI. Portal digital SYAKAL dirancang untuk mendorong budaya menulis yang lebih kuat, tidak hanya di kalangan mahasiswa, dosen, dan staf pendidikan, tetapi juga untuk masyarakat umum. Sementara itu, MILLITANSI dirancang khusus untuk pustakawan dan dikelola di bawah naungan Perpustakaan IAIN Kediri. Dengan adanya program ini, kami berharap mahasiswa dan semua anggota akademis di IAIN Kediri dapat memperkuat kebiasaan menulis. Implementasi literasi digital di IAIN Kediri ini sesuai dengan pendapat (Reddy et al., 2020) yang menyampaikan bahwa perkembangan teknologi informasi dan komunikasi memiliki peran yang sangat penting dalam transformasi sektor-sektor, terutama dalam pendidikan, yang menuntut individu untuk memiliki kemampuan, kompetensi, dan keterampilan yang beragam agar dapat beradaptasi dengan peluang baru yang ditawarkan oleh era teknologi ini. Namun demikian, implementasi literasi digital di Perpustakaan IAIN Kediri pembiasaan pribadi terkait literasi digital masih belum sepenuhnya terwujud sepenuhnya, terutama karena kegiatan pelatihan menulis untuk mahasiswa dan dosen bersifat insidental. Oleh karena itu, diperlukan perhatian khusus untuk memastikan bahwa kegiatan literasi digital dapat berlangsung secara berkelanjutan, sehingga pembiasaan pribadi dalam literasi digital dapat lebih baik dikembangkan. Ini artinya implementasi literasi digital belum mencapai sepenuhnya tingkat kesesuaian dengan teori yang diajukan oleh (Spante et al., 2018) di mana terdapat beberapa kompetensi kunci yang harus dimiliki pendidik mengenai implementasi literasi digital, yaitu: 1) pemanfaatan teknologi digital secara profesional untuk komunikasi, kolaborasi, dan pengembangan profesional; 2) pembuatan dan berbagi sumber daya digital; 3) pengelolaan dan penggunaan teknologi digital dalam proses pengajaran dan pembelajaran; 4) penerapan teknologi digital dan strategi evaluasi untuk meningkatkan penilaian; 5) pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan inklusi, personalisasi, dan partisipasi aktif peserta didik dalam pembelajaran; 6) mendukung pengembangan kompetensi digital peserta didik agar mereka dapat menggunakan teknologi digital secara kreatif dan bertanggung jawab dalam berbagai konteks seperti informasi, komunikasi, pembuatan konten, kesejahteraan, dan pemecahan masalah. Ketidaksesuaian ini terutama disebabkan oleh kekurangan dalam penggunaan teknologi digital dalam penilaian dan evaluasi, serta strategi yang diperlukan untuk meningkatkan inklusi, personalisasi, dan keterlibatan peserta didik. Masih ada kebutuhan untuk lebih memfasilitasi kompetensi digital peserta didik secara menyeluruh. Demikian juga di IAIN Ponorogo, program penguatan literasi digital masih belum memiliki evaluasi yang terstruktur, serta masih terdapat kekurangan dalam pengadaan sumber daya digital yang terus dikembangkan. Padahal sebagaimana disampaikan oleh (Spante et al., 2018), bahwa pengadaan sumber daya digital, penilaian dengan menggunakan teknologi digital, merancang strategi peningkatan penilaian, dan memfasilitasi perkembangan kompetensi digital peserta didik adalah hal yang sangat penting. Berdasarkan hasil temuan dan analisis di dua lokasi tersebut, peneliti dapat menyajikan persamaan dan perbedaan implementasi literasi digital di IAIN Ponorogo dan IAIN Kediri pada Tabel 3 dan Tabel 4. Tabel 3. Persamaan Implementasi Literasi Digital di IAIN Ponorogo dan IAIN Kediri Bidang Layanan Implementasi Kegiatan Literasi Digital 1. Program literasi digital diperkuat dengan peningkatan kualifikasi SDM pustakawan, akses internet, dan sarana computer; 2. Program kelas literasi juga termasuk dalam program pendidikan pengguna (user education) atau pengenalan perpustakaan khusus untuk mahasiswa baru; 3. Program literasi digital diimplementasikan melalui program klinik literasi yang bertujuan mengajarkan keterampilan penelusuran informasi kepada dosen dan mahasiswa dan di IAIN Ponorogo melalui kelas literasi yang ada di perpustakaan pusat, pascasarjana, dan perpustakaan kampus 2; 4. Program literasi digital dilaksanakan dengan berbasis anggaran dari DIPA dalam bentuk workshop dan seminar academic writing atau menulis. Sumber: Diolah Peneliti, 2023 Tabel 4. Perbedaan Implementasi Literasi Digital di IAIN Ponorogo dan IAIN Kediri Bidang Layanan Implementasi Kegiatan Literasi Digital 1. Program kelas literasi digital untuk mahasiswa dilaksanakan secara rutin di tiga Lokasi, yakni di perpustakaan pusat, perpustakaan kampus 2, dan perpustakaan pascasarjana; 2. Program literasi digital dilaksanakan melalui bimbingan penggunaan Al Maktabah Asy Syamilah bagi mahasiswa terutama pada mata kuliah hadis dan fiqih, dan mata kuliah metodologi penelitian; 3. Program literasi digital diintegrasikan dengan fakultas, yakni masuk pada mata kuliah Bahasa Indonesia; 4. Program pelatihan literasi digital yang khusus ditujukan untuk dosen di perpustakaan pascasarjana, khususnya dalam meningkatkan publikasi jurnal terindeks Scopus. Program ini dikenal dengan nama "One Month One Article (OMOA) Program Digital Writing on Scopus Series"; 5. Program literasi digital dilaksanakan melalui pembuatan portal digital bernama SYAKAL (Syiar Literasi) dan MILLITANSI. Portal digital SYAKAL bertujuan meningkatkan budaya menulis bagi mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan masyarakat umum, sementara MILLITANSI ditujukan untuk pustakawan. Sumber: Diolah Peneliti, 2023 Berikut adalah hasil analisis mengenai implementasi penguatan literasi digital di IAIN Ponorogo dan IAIN Kediri sebagaimana dalam Gambar 1. Gambar 1. “Implementasi Literasi Digital” Sumber: Diolah Penulis, 2023 Perbedaan dan persamaan dalam implementasi literasi digital di IAIN Ponorogo dan IAIN Kediri mencerminkan variasi pendekatan yang digunakan, sehingga dapat berkontribusi pada penguatan literasi digital di kedua institusi tersebut.
Conclusion
Model implementasi literasi digital dapat dilakukan melalui dua pendekatan. Pertama adalah integrasi dalam kurikulum fakultas melalui berbagai mata kuliah. Kedua dilaksanakan di luar kurikulum melalui program perpustakaan seperti seminar dan workshop. Program-program lainnya seperti kelas literasi, user education untuk mahasiswa baru, serta pelatihan untuk dosen dan mahasiswa juga turut mendukung upaya ini. Untuk mendukung kedua pendekatan ini, penting untuk memiliki infrastruktur yang mendukung, termasuk akses internet yang stabil dan sarana prasarana yang memadai untuk pelaksanaan program literasi digital. Selain itu, perlu adanya sumber daya manusia yakni pustakawan yang terlatih dan kompeten dalam mengelola serta mengajarkan literasi digital kepada mahasiswa. Penulis merekomendasikan untuk meningkatkan efektivitas implementasi dengan memperkuat koordinasi antar unit di kampus, menyediakan pelatihan yang lebih intensif bagi staf perpustakaan, dan menggunakan evaluasi berkelanjutan untuk menyesuaikan program-program literasi digital dengan kebutuhan mahasiswa serta perkembangan teknologi yang terus berubah.