Koleksi buku cerita bergambar (picture storybooks) di Perpustakaan Desa Sukamukti
Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran
Abstrak
Pendahuluan. Para Guru di Kelompok Belajar Islam Terpadu (KBIT) Desa Sukamukti, memanfaatkan koleksi buku cerita bergambar (picture storybooks) dari Perpustakaan Desa Sukamukti melalui membaca nyaring dan mendongeng pada anak-anak. Kedua kegiatan ini menjadi dasar dalam kegiatan pra-membaca anak-anak usia dini, sehingga penelitian ini bertujuan mengetahui buku cerita bergambar jenis fabel yang digunakan para guru dan mengetahui teknik membaca nyaring dan mendongeng. Metode Penelitian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif menggunakan metode penelitian fenomenologi melalui observasi, wawancara, diskusi kelompok terarah (focus group discussion), dan studi literatur. Data analisis. Data hasil wawancara menjadi transkrip wawancara, diberikan makna hasil transkrip, diuraikan dan digambarkan pengalaman narasumber. Hasil dan Pembahasan. Para guru KBIT Desa Sukamukti menggunakan buku cerita bergambar fabel di antaranya dilihat dari alur cerita, tokoh ialah binatang yang dapat berbicara dan bertingkah laku seperti manusia, cerita fabel memiliki tema dan moral yang diungkapkan secara implisit dari cerita. Selain itu, bahasa dalam cerita mudah dipahami oleh anak-anak, ilustrasi cerita fabel menggambarkan kehidupan para tokoh di hutan, dan ilustrasi mendominasi tulisan. Kegiatan membacakan nyaring dengan mengenalkan identitas buku yang digunakan, dan kegiatan mendongeng melalui self assement, cerita, suara, ekspresi, gesture, dan kemampuan lainnya. Kesimpulan dan Saran. Para guru membaca nyaring dan mendongeng berfungsi mengenalkan huruf, menambah kosakata dan menarik minat untuk membaca bagi anak-anak usia dini, dan kreatifitas para guru. Hal ini membantu anak-anak usia dini dalam proses belajar pra-membaca.
Abstract
Introduction. The teachers at Kelompok Belajar Islam Terpadu (KBIT) Sukamukti village have used picture storybooks from the Library of Sukamukti village and reading them in a story telling session to their students. Two of this activities as a basic in the pre-reading activity to early childhood, so that the purpose this reaserch is to understand how the teachers use the picture storybooks, reading technique, and storytelling. Data Collection Method. This paper used a qualitative perspective with phenomenology by using observations, interviews, focus group discussions, and literature study. Analysis Data. Data from interviews were transcribed for further analysis Results and Discussion. The teachers at KBIT Sukamukti village used the picture of storybooks with fables. The teachers also discussed plot, animal activities, themes and morality based on the story. The language in the story is easy to understand by the children, book illustrations explain the reality of the character in the forest. Activities read aloud by introducing the identity of the book used, and storytelling activities through selfassement, stories, sounds, expressions, gestures, and other abilities. Conclusion. The teachers read and tell stories to educate young children in alphabet, vocabularies, and creativity. This helps early children in the process of learning pre-reading.
Keywords:
The picture storybooks
· The Sukamukti village
· Storytelling
Introduction
A. PENDAHULUAN Perpustakaan desa berperan memberikan fasilitas pada masyarakat dalam mengakses informasi untuk membantu di kehidupan seharihari. Selain itu, perpustakaan desa melalui koleksi perpustakaan dapat menumbuhkan dan meningkatkan minat membaca masyarakat, tidak terkecuali pada anak usia dini, misalnya pada anak-anak berumur 3 hingga 6 tahun. Usia ini merupakan usia di mana anak-anak mudah menyerap informasi dan telah timbul kesadaran. Salah satu perpustakaan desa yang sebagian koleksi perpustakaannya terdiri dari koleksi fiksi dan non fiksi khusus bacaan anak-anak, ialah Perpustakaan Desa Sukamukti, di Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis. Perpustakaan ini memiliki gedung yang bersatu dengan kegiatan belajar mengajar Kober Islam terpadu (KBIT) sehingga anak-anak yang sedang belajar di KBIT dapat secara langsung menggunakan koleksi perpustakaan sebagai media belajar. Sebagian besar anak-anak di KBIT Desa Sukamukti, menggemari koleksi fiksi, misalnya buku cerita bergambar (picture storybooks). Anak-anak belajar mengenal dan memahami semua hal melalui buku bergambar yang dibacakan nyaring dan mendongeng oleh para guru. Kegiatan ini dikatakan Filipović (2018), sebagai, “One of the most important ways of transmitting cultural norms, values, and attitudes to young children.” Para guru di KBIT Desa Sukamukti telah berperan sebagai penyampai norma budaya, nilai dan sikap yang baik pada anak-anak melalui kegiatan membaca nyaring dan mendongeng. Sastra anak (children literature) membantu proses kembang anak-anak secara sosial dan psikologis. Anak-anak secara sosial, akan belajar mengenal dunia masyarakat secara luas, mengenal dalam lingkungan hingga luar lingkungan. Ada pun anak-anak secara psikologis, akan belajar mengenal identitas dirinya sendiri, dari gender dan asal usul tempat tinggal agar anak-anak menjadi pribadi yang tangguh, kuat dan percaya diri. Sesuai pembelajaran bahasa, anak-anak belajar mengenal huruf alfabet, dapat menyebutkannya dan memenuhi kosakata bahasa dari buku cerita yang diceritakan kembali oleh para guru. Arbie (2016) dalam penelitiannya menyatakan bahwa pemanfaatan koleksi buku cerita bergambar (picture storybooks) di Taman kanak-Kanak Tunas Mentari Tangerang Selatan, telah mampu mengembangkan, “Kemampuan kognitif, psikologi, moral, dan kreatifitas dalam berbahasa pada anak-anak.” Anak-anak tidak hanya belajar secara materi pengenal huruf saja, tapi belajar melihat kepribadian dari tokohtokoh yang disajikan dalam cerita. Anaka-anak dapat menangkap pesan yang tersirat hingga mampu menyimpan kosakata bahasa dari kalimat isi cerita. Dengan demikian, buku cerita bergambar membantu anak-anak KBIT Desa Sukamukti dalam belajar. Selain itu, para guru yang selalu bercerita telah menjalin kedekatan dengan anakanak. KBIT Desa Sukamukti belum memiliki perpustakaan sekolah, sehingga para guru mempergunakan koleksi Perpustakaan Desa Sukamukti. Ruangan perpustakaan desa ini telah memfasilitasi pengguna dari kalangan masyarakat desa dan anak-anak yang belajar di KBIT Desa Sukamuti. Perpustakaan Desa Sukamukti, yakni perpustakaan desa yang dibangun secara sukarela. Perpustakaan ini menyediakan layanan khusus bagi anak-anak untuk menumbuhkan gerakan literasi informasi sejak dini. Ada dua penelitian yang berkaitan dengan penelitian ini, yakni penelitian Mills et al. (2018) dan Sari (2019). Berdasarkan penelitian Mills at al. (2018), di 40 perpustakaan umum di wilayah Washington, Amerika Serikat, memiliki layanan bercerita menggunakan koleksi buku cerita bergambar. Penelitiannya dinamakan Project VIEWSS2, yakni penelitian yang berfokus melihat peranan layanan bercerita di perpustakaan terhadap kemampuan literasi pemula pada anak-anak. Berdasarkan hasil penelitiannya didapatkan dua simpulan. Pertama, berdasarkan data statistik di layanan bercerita secara signifikan telah meningkatkan konten keaksaraan awal bercerita yang dilakukan pendongeng dalam kelompok eksperimen. Kedua, berdasarkan data statistik di layanan bercerita secara signifikan telah meningkatkan perilaku anak-anak dalam memahami cerita setelah mendengarkan cerita. Empat puluh perpustakaan umum Washington, memang telah memiliki program khusus untuk anak-anak. Perpustakaan umum di sana, menyediakan koleksi untuk semua kalangan, dan penyediaan program dalam pengembangan koleksi. Adapun penelitian Sari (2019) bercerita mengenai model pembelajaran membaca pada anak usia dini di TK Al Hidayah Surabaya melalui, “Membaca bersuara dengan metode suku kata, metode kata, metode bunyi dan metode eja. Metode tersebut digunakan berdasarkan kemampuan masing-masing siswa, untuk metode eja digunakan untuk siswa yang belum mampu sama sekali membaca.” Kedua penelitian tersebut, memiliki objek penelitian yang sama yakni kegiatan mendongeng, bercerita dan membacakan buku cerita pada anak-anak usia dini. Penelitian Mills et al. (2018), menceritakan pelayanan khusus bagi anak-anak di perpustakaan umum sedangkan penelitian Sari (2019), yang menceritakan kegiatan membaca anak-anak di TK. Adapun perbedaannya terdapat pada subjek penelitian. Penelitian Mills et al. (2018) dilakukan di perpustakaan umum dan penelitian Sari (2019) dilakukan di sekolah TK. Penelitian yang dilakukan ini menjadi penggabungan dari dua penelitian di atas. Penelitian mengenai buku cerita bergambar dilakukan di perpustakaan desa oleh anak-anak KBIT. Sekolah KBIT memang belum memiliki perpustakaan sendiri sehingga guru menggunakan koleksi perpustakaan desa dalam proses belajar mengajar. Berdasarkan kondisi di sekolah KBIT, pemanfaatan koleksi perpustakaan desa menjadi konsep baru di masyarakat desa. Bila menilik penelitian Mills et al. (2018) di perpustakaan umum, kegiatan membacakan dan mendongeng koleksi cerita fiksi pada anak-anak menjadi kegiatan rutin dan lumrah. Kegiatan ini menarik minat anak-anak untuk berkunjung ke perpustakaan umum. Lain halnya, di Perpustakaan Desa Sukamukti. Masyarakatat desa masih sedikit yang menggunakan koleksi perpustakaan. Maka, pemanfaatan koleksi fiksi bagi anak-anak di KBIT dapat meningkatkan kunjungan pengguna dan memperkenalkan perpustakaan secara mulut ke mulut. Selain itu, dalam penelitian Sari (2019) di TK Al Hidayah Surabaya, para guru menggunakan koleksi perpustakaan sekolah dalam belajar membaca melalui koleksi fiksi bagi siswa/siswi TK. Idealnya, memang setiap TK memiliki perpustakaan sekolah untuk menunjang kegiatan belajar anak-anak. Namun, KBIT Desa Sukamukti, merupakan sekolah yang baru berdiri dan belum memiliki perpustakaan sendiri. Maka, koleksi fiksi dari Perpustakaan Desa Sukamukti digunakan sebagai belajar membaca bagi anak-anak. Apabila dicermati dari kedua penelitian tersebut, kehadiran perpustakaan umum dan perpustakaan sekolah membantu masyarakat dalam mengakses informasi, salah satunya pada anak-anak. Apalagi bagi masyarakat desa yang masih memerlukan akses informasi bagi kehidupan sehari-hari. Pada anak-anak di Desa Sukamukti, kehadiran perpustakaan sangat membantu mereka untuk belajar dan mengenal dunia luar, misalnya pada anak-anak TK KBIT yang masih kekurangan fasilitas belajar. Dengan demikian, Perpustakaan Desa Sukamukti yang memberikan pelayanan membaca bagi anak-anak KBIT menjadi terobosan baru dalam mengenalkan perpustakaan pada masyarakat desa. Koleksi buku cerita bergambar di dalam pelayanan perpustakaan dapat dimanfaatkan pengguna dari kalangan anak-anak usia dini sehingga pengelola perpustakaan harus merancang program pelayanan bagi anak-anak usia dini, melalui mendongeng dan membaca nyaring. Maka, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan koleksi buku cerita bergambar (picture storybooks) di Perpustakaan Desa Sukamukti, melalui fokus penelitian, 1) buku cerita bergambar apa yang digunakan para guru, dan 2) bagaimana teknik membacakan nyaring dan mendongeng yang dilakukan para guru. Berdasarkan pertanyaan ini, dapat terlihat bagaimana anak-anak yang belajar di KBIT Desa Sukamukti dalam memanfaatkan koleksi buku cerita bergambar sebagai bagian dari proses pembelajaran. B. TINJAUAN PUSTAKA Literatur atau sastra anak-anak (children literature) merupakan kajian yang menarik untuk diteliti pada anak-anak. “Sastra anak menjadi penting dalam budaya populer dan banyak diteliti pada pertengahan abad 18” (Filipović, 2018). Hal ini menjadikan literatur di perpustakaan dapat digunakan para pustakawan dalam membantu tumbuh kembang anak-anak. Literatur atau sastra anak-anak ini tentunya harus diberikan pada anak sebagai bagian dari, “Reading for pleasure” (Kucirkova, Littleton, & Cremin, 2016). Membaca menjadi bagian yang menyenangkan dan menjadi kebutuhan bagi anak-anak. Kegiatan membaca menjadi proses sosial dan budaya bagi pembacanya. Anak-anak memiliki pengetahuan tentang banyak hal, mulai dari belajar mengenali diri sendiri dan mengenali lingkungan di luar tempat tinggalnya. Kenyamanan ketika membaca menjadi hal yang penting dalam pendidikan anak-anak. Aggsleton (2018) pun mengatakan bahwa, “Children's collections in public libraries are regularly interacted with by children, and as such these collections can be viewed as sites for the creation of children's culture.” Koleksi literatur anak-anak menjadi media interaksi anak-anak di perpustakaan. Tidak hanya itu, anak-anak memiliki hiburan sekaligus belajar mengenai kebudayaan tertentu. Salah satu koleksi yang sesuai bagi anakanak usia dini ialah buku cerita bergambar (picture book). Mustadi, Suhardi, Prihandini, Supriyanta, Kirana, Aji, and Rahmawati (2018) menulis, “Illustrations and text stories simultaneously present stories to readers through verbal and visual symbols where they support each other synergistically. Images and texts reinforce each other in presenting a meaning of the story”. Ilustrasi dalam buku cerita membantu pembaca yakni anak-anak untuk belajar berkomunikasi secara verbal dan simbol visual. Ilustrasi sebagai pemberi makna terhadap isi cerita dan menjadi kekuatan utama dalam buku cerita bergambar (Demoiny & Ferraras-Stone, 2018). Ilustrasi yang bagus dan kaya dari gambar dan warna akan membantu pembaca merasakan dan mengkoneksikan karakter tokoh dari buku tersebut. Anak-anak melalui buku cerita bergambar belajar bahwa hidup tidak selalu, “happily ever after” (Demoiny & Ferraras-Stone, 2018). Anak-anak dikenalkan belajar mandiri dan memandang kehidupan tidak selalu hitam putih. Maka, dalam buku cerita bergambar, “The narration and the picture can contribute to the construction of a coherent mental model of a story only when pictures are semantically strongly related to the narration” (Takacs & Bus, 2018). Teks atau narasi dan ilustrasi harus sesuai dengan isi cerita yang ditulis oleh penulisnya, misalnya ada satu adegan si tokoh sedang terjatuh maka ilustrasinya pun digambarkan sama. Dengan demikian, koleksi buku cerita bergambar di sekolah penting sekali diadakan di perpustakaan. Selain itu, orang tua dan guru di sekolah memiliki peran penting dalam menyediakan dan membacakan literatur yang tepat untuk menumbuhkan motivasi dalam membaca. Pembaca, yakni orang tua dan guru membacakan nyaring ketika pendengar (anakanak usia dini) mendengarkan kalimat dan melihat keterkaitan gambar (Švab & Žumer, 2015). Orang tua dan guru melakukan kegiatan seleksi buku cerita bergambar berdasarkan nilai pendidikan yang dapat membangun anak-anak. Sebelum pencerita menceritakan kembali pada anak-anak, mereka harus membaca terlebih dahulu buku tersebut untuk memahami fantasi cerita, misalnya binatang dengan karakter manusia. Apalagi, para orang tua memiliki peranan yang aktif dalam proses memilih buku. Mereka dapat menerima atau menolak pendapat dari anak-anak usia dini, dan memengaruhi pilihan anak-anak dalam menginginkan suatu literatur. Perpustakaan desa merupakan perpustakaan yang cakupan wilayahnya berada di desa. Khasnya, koleksi perpustakaan desa berisikan koleksi yang mampu membantu masyarakat mengembangkan kehidupan secara ekonomi dan pembangunan. Rodiah, Budiono, and Komariah (2018) menyatakan bahwa, “Perpustakaan desa merupakan salah satu jenis perpustakaan umum yang berkedudukan di suatu desa/kelurahan, sehingga lebih mudah dijangkau oleh masyarakat yang berada di suatu wilayah pedesaan”. Perpustakaan desa menjadi sebuah unit layanan yang dikembangkan dari, oleh dan untuk masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan informasi masyarakat. Perpustakaan desa sebagai bagian fasilitas di masyarakat yang dapat membantu masyarakat meningkatkan kualitas pendidikan dan taraf kehidupan di pelbagai segi kehidupan. Perpustakaan Desa Sukamukti telah memenuhi syarat sebagai perpustakaan. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 Pasal 11 ayat 1, tentang perpustakaan, bahwa suatu perpustakaan harus memenuhi standar perpustakaan yang terdiri dari, “Standar koleksi perpustakaan, standar sarana dan prasarana, standar pelayanan perpustakaan, standar tenaga perpustakaan, standar penyelenggaraan, dan standar pengelolaan”(Undang-Undang Republik Indonesia nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan, 2007). Perpustakaan Desa Sukamukti, telah memiliki koleksi sendiri dari hasil pembelian dan sumbangan. Selain itu, perpustakaan ini memiliki gedung sendiri, berbentuk rumah tradisional daerah Banjar. Dalam pelayanannya sendiri, dilakukan oleh tenaga perpustakaan dari para guru KBIT Desa Sukamukti. Adapun penyelenggaraan dan pengelolaannya pun dilakukan oleh Kepala Perpustakaan yang dibantu para guru. Koleksi Perpustakaan Desa Sukamukti memiliki koleksi khas dalam klasifikasi keilmuan Dewey Decimal Classification (DDC) 600 Teknologi dan Ilmu-Ilmu Terapan, dan 800 Kesusastraan. Kedua klasifikasi ini ditujukan bagi dua jenis pengguna, yakni pengguna dewasa yakni masyarakat petani dan anak-anak. Masyarakat Desa Banjar yang memiliki mata pencaharian pertanian, perkebunan dan peternakan menggunakan koleksi yang berkaitan dengan teknologi dan ilmu-ilmu terapan, misalnya keahlian ternak cacing. Lain halnya koleksi khusus anak-anak yakni mengenai kesusastraan, contohnya buku cerita bergambar bagi anak-anak usia dini. Perpustakaan desa ternyata tidak hanya menyediakan koleksi khusus pengguna dewasa saja. Anak-anak usia dini dapat pula memanfaatkan koleksi perpustakaan desa. Hal ini, ada jalinan kerjasama antara perpustakaan desa dengan KBIT Desa Sukamukti, yang membuat eksistensi perpustakaan desa tetap bertahan dan malah berkembang. Guru KBIT Desa Sukamukti memiliki peran untuk menjembatani anak-anak usia dini memanfaatkan koleksi buku cerita bergambar di Perpustakaan Desa. Mereka membacakan nyaring atau mendongeng bagi anak-anak. Penelitian Kotaman and Tekin (2016) memperjelas mengenai peran guru dalam kegiatan membacakan nyaring dan mendongeng bagi anak-anak dari hasil penelitiannya. Mereka meneliti 142 anak-anak dari 4 taman kanak-kanak, para orang tua dan guru dari Provinsi Sanliurfa, Turki. Para orang tua dan guru bertugas menseleksi buku, memberikan informasi mengenai buku yang akan dibaca lalu membacakan cerita isi buku tersebut. Sesuai hasil penelitian ini, anak-anak menyukai buku berjenis fiksi yang dibacakan oleh guru-guru mereka. Selain itu, guru yang memberikan informasi mengenai buku yang akan dibaca ternyata membuat anak-anak memiliki informasi yang mendalam pada buku tersebut. Mereka memiliki pengalaman yang berbeda dari sekedar mendengarkan cerita isi buku saja. Kegiatan membacakan nyaring dari buku cerita bergambar yang dilakukan para guru KBIT Desa Sukamukti pada anak-anak usia dini, dapat sesuai menggunakan teori fenomenologi. Teori yang dikembangkan oleh Peter Barger, Martin Hedeggier, Merleau-Ponty, dan Edmund Husserl ini melihat bagaimana pengalaman subjek dalam merepresentasikan fenomena yang terjadi. Littlejohn and Foss (2011) menjelaskan tiga asumsi dasar dari teori fenomenologi. Pertama, peneliti harus menolak atau mengesampingkan pendapat pribadi. Peneliti harus menjadi subjektif, mendengarkan dan membiarkan gagasan atau ide narasumber. Peneliti tidak bisa mengkritisi apa yang dialami narasumber. Justru, peneliti harus menguraikan dan memetakan pengalaman narasumber tersebut (phenomenological epoche). Kedua, narasumber setelah mengemukakan pengalaman yang dimilikinya, maka peneliti memahami lebih mendalam dan mengambil makna dari pengalaman tersebut. Makna dari suatu pengalaman diperoleh dari kehidupan sehari-hari. Maka, peneliti wajib mengamati tingkah laku sehari-hari narasumber untuk menganalisis makna dari pengalamannya. Ketiga, Peneliti pun harus memperdalam analisis untuk melihat bagaimana narasumber menyikapi fenomena yang dihadapinya. Peneliti harus melihat tujuan narasumber dalam memaknai pengalamannya, dari segi sosial, budaya, dan lingkaran sejarah hidupnya. Keempat, peneliti harus bisa mengamati bagaimana perasaan dan kondisi narasumber ketika proses penelitian berlangsung. Peneliti mengumpulkan kesadaran pengalaman dari interpretasi pengalaman narasumber (capta), sehingga peneliti bisa mengumpulkan dan menafsirkan makna dari pengalaman narasumber. Suatu pengalaman yang kokoh, kuat, dan benar-benar dialami narasumber.
Method
Metode pendekatan kualitatif digunakan untuk menganalisis penelitian ini melalui metode penelitian fenomenologi. “Fenomenologi menekankan interpretasi untuk memperoleh pemahaman struktur eksistensial dari dari suatu fenomena dan kemudian fenomena tersebut kemudian tampil sebagai dirinya sendiri (appears or presents itsealf). Landasan filosofis fenomenologi mempunyai fokus pada keunikan pengalaman hidup dan esensi dari suatu fenomena tertentu” (Sudarsyah, 2013). Metode Penelitian Fenomenologi ialah kajian mengenai pengalaman manusia disertai makna dari pengalaman tersebut. Pengalaman dari narasumber sebagai subjek penelitian, akan diuraikan menjadi temuan data melalui pemetaan dan pembagian sesuai konsepnya. Maka, untuk mengeksplorasi pengalaman narasumber, Sudarsyah (2013) memberikan empat karakteristik, di antaranya “Deskriptif, reduksi, esensi dan intensionalitas”. Karakteristik pertama, peneliti harus mampu menggambarkan fenomena yang ditemui seperti emosi, pikiran, dan tindakan manusia. Peneliti mendapatkan deskripsi lengkap setiap harinya dari pengalaman narasumber. Maka, teknik pemerolehan data melalui diskusi kelompok terarah (focus group discussion), menjadi salah satu cara dalam mendapatkan dekripsi para narasumber secara lengkap. Karakteritik kedua, peneliti harus mampu memendam atau menyimpan pengetahuan yang dimilikinya terhadap tanggapan pengetahuan narasumber. Peneliti, harus bisa menahan komentar atau opini terhadap pengalaman narasumber. Selain itu, peneliti harus menyadari bahwa narasumber memiliki karakteristik pengalaman dari individu yang berbeda dengan narasumber lainnya. Karakteristik ketiga, merupakan pencarian makna, sebagai inti dari pengalaman hidup subjek yang diteliti. Peneliti menggambarkan temuan data pengalaman narasumber. Penelitian ini dilakukan pada narasumber (participant) yakni para Guru di KBIT Desa Sukamukti berjumlah 7 orang pada Februari 2018. Karakteriktik keempat, peneliti menganalisis pengalaman narasumber menggunakan noema dan noesis. “Noema adalah pernyataan obyektif dari perilaku atau pengalaman sebagai realitas, sedangkan noesis adalah refleksi subyektif (kesadaran) dari pernyataan yang obyektif tersebut” (Sudarsyah, 2013). Pengumpulan data, dilakukan dengan wawancara mendalam pada para guru dan siswa-siswi, dan diskusi kelompok terarah (focus group discussion). Setelah data terkumpul, selanjutnya analisis data melalui beberapa tahap. Pertama, pembuatan transkrip dari hasil wawancara dengan narasumber. Kedua, teks wawancara yang dikutip dan ditulis dibaca kembali untuk melihat makna dari pengalama narasumber secara jelas. Ketiga, setelah makna dari pengalaman narasumber dapat diidentifikasi maka direfleksikan kembali untuk melihat kesesuaian dengan pengalaman membacakan nyaring dan mendongeng menggunakan koleksi buku cerita bergambar di KBIT Desa Sukamukti. Terakhir, mendeskripsikan pengalaman para guru tersebut ketika membacakan nyaring dan mendongeng.
Result & Discussion
Kelompok Belajar Islam Terpadu (KBIT) Desa Sukamukti, menggunakan koleksi perpustakaan desa sebagai media pembelajaran bagi anak-anak. Salah satu koleksinya ialah buku cerita bergambar (Picture storybooks). Penelitian ini berfokus menggambarkan jenis buku cerita bergambar yang digunakan di KBIT, dan teknik membacakan nyaring dan mendongeng yang dilakukan para Guru KBIT. Untuk memudahkan membaca, penulis membuat tabel temuan penelitian pada Tabel 1. Anak-anak usia dini tertarik akan sebuah cerita bila cerita tersebut penuh dengan gambar. Hal ini lah yang menjadikan buku cerita bergambar dapat menarik perhatian anak-anak, “Illustration'' fits the conventional notion by literally illustrating and relying on the text plot; yet at the same time, it also presents another dimension beyond the text” (Kuo, 2012). Ternyata, ilustrasi dalam sebuah cerita memiliki kekuatan dimensi lain dalam memberikan makna pada teks, memahami suatu cerita bila ada eks tanpa ilustrasi, dan sebaliknya. Anakanak ketika sedang mendengarkan cerita akan memiliki imajinasi berperan langsung sebagai tokoh utama yang sedang dibacanya. Adapun buku cerita bergambar yang digunakan oleh para Guru KBIT untuk dibacakan nyaring dan mendongeng ialah berjenis cerita fabel, ialah cerita tentang kehidupan binatang yang direpresentasikan karakter manusia. Untuk melihat konstruksi buku cerita bergambar jenis fabel, peneliti mengamatinya melalui tujuh hal, di antaranya alur cerita, penokohan, tema dan moral, latar, stile, ilustrasi, dan format. Pertama, alu cerita. Setelah dibaca, semua cerita fabel memiliki alur cerita yang mengalir sehingga anak-anak mudah untuk memahami isi cerita. Penulis mengambil satu contoh buku berjudul “Si Kancil & Gigi Harimau (The mouse deer & the tiger's fangs)” karya Rude Widjaya. Alur cerita dikatakan sebagai jembatan isi cerita dengan urutan pengisahan. Ada alur cerita yang terus maju menceritakan kehidupan para tokoh, ada cerita mundur yakni cerita tokoh di masa lalu (flashback), cerita yang dicampur maju dan mundur atau masa sekarang dan masa lalu. Bagi anak-anak usia dini, dalam memahami suatu cerita tentu saja dapat diberikan cerita yang memiliki alur cerita maju. Anak-anak akan fokus melihat para tokoh dalam menghadapi permasalahannya tanpa harus berpikir berat pada cerita masa lalu. Anak-anak pun tidak bingung dalam mengenali tokoh cerita. Berdasarkan pertikaian si Kancil dengan Harimau, terlihat bahwa ada masalah atau konflik sesama binatang di hutan. Konflik ini muncul karena Harimau sebagai binatang karnivora berniat memakan tokoh Kancil. Kancil yang memiliki karakter gesit, cerdas, dan tidak mau kalah mencari ide agar terhindar dari ganasnya terkaman Harimau. Cerita fabel merupakan cerita yang dekat dengan kehidupan anak-anak. Apalagi, tiap tokoh binatang memiliki karakter yang unik dan berbeda-beda. Isi cerita mengandung kelogisan dan terpercaya. Anak-anak belajar bagaimana menghadapi orang lain yang memiliki karakter berbeda. Selain itu, dari cerita yang logis, anak-anak paham bahwa berbuat jahat pada orang lain adalah perbuatan tidak baik malah dia akan menanggung akibatnya sendiri. Anak-anak yang mendengarkan cerita memiliki rasa ingin tahu terhadap kelanjutan isi ceritanya. Tokoh Kancil yang cerdik, selalu memiliki ide yang bagus dalam bertahan hidup di hutan. Tentunya, kisah ini menarik bagi anak-anak. Mereka menantikan terus bagaimana kisah Kancil menghadapi binatang buas lainnya di hutan, misalnya buaya, ular dan lain-lain. Berdasarkan hal ini, Kuo (2012) berkata, “The plot of the story is implied by the coherent images around the text”. Plot atau alur cerita harus koheren dengan gambar dan teks di sekitarnya. Anak-anak melihat pertama kali gambar dalam halaman buku tersebut. Setelah gambar, mereka membaca atau melihat teks yang berada dekat gambar. Ketika anak-anak mendengarkan cerita, selalu saja ada satu atau dua anak yang tiba-tiba bertanya mengenai gambar yang sedang dilihatnya. Tentunya, guru yang sedang membacakan cerita langsung menjawab pertanyaan tersebut. Ilustrasi yang bagus membuat anak-anak untuk terus tertarik mendengarkan cerita dan malah menjadi ide bahan pertanyaan. Tokoh dalam cerita fabel ialah binatang yang dapat berbicara dan bertingkah laku seperti manusia sehari-hari. Bila dikualifikasikan, ada tokoh binatang yang masuk ke protagonis (tokoh baik dan pelerai) dan antagonis (tokoh jahat). Tokoh Kancil, musang, kura-kura, dan gajah termasuk ke dalam tokoh protagonis, sedangkan tokoh Harimau dimasukkan ke dalam tokoh antagonis. Penulis langsung mengenalkan watak tokoh cerita pada pembaca. Misalnya dari halaman si Kancil sedang berhadapan dengan Harimau, memperlihatkan memiliki watak gesit dan cerdas, menggunakan idenya untuk mengelabui Harimau. Yulvina (2018) mengatakan bahwa, “Teks cerita fabel yaitu teks yang menceritakan kehidupan hewan yang berperilaku menyerupai manusia. Hewan tersebut seolah-olah dapat berpikir, berbicara, berkarakter dan lain-lain sebagaimana halnya manusia dengan bahasa manusia.” Penulis buku fabel mengambil karakter yang melekat pada tokoh berdasarkan karakter yang dimiliki manusia. Anak-anak sebagai pembaca diharapkan membuka wawasannya bahwa manusia memiliki karakter yang berbeda. Cerita fabel memiliki tema dan moral yang diungkapkan secara implisit dari cerita. Sesuai tema, anak-anak pasti bertanya tokoh tersebut melakukan hal yang tidak diduga, misalnya mengapa si Kancil berani mengajak berbicara dengan Harimau padahal Harimau hendak menerkamnya? Secara logis, si Kancil bila berlari akan kalah cepat dengan Harimau. Jika si Kancil berlari dia akan cepat diterkam Harimau. Namun, bila si Kancil mengulur waktu dengan mengajak berbicara, dia punya waktu untuk menemukan ide untuk mengalahkan Harimau. Kedua, penokohan. Buku ini bercerita mengenai tokoh Kancil yang bertemu dengan tokoh Harimau. Tokoh Kancil harus memiliki ide untuk melepaskan diri dari jeratan Harimau. Sesuai alur cerita yang disajikan, anak-anak belajar mengenal kehidupan si Kancil dan caranya dalam menghadapi Harimau. Tokoh Kancil direpresentasikan tokoh yang pintar dibandingkan tokoh binatang lainnya. Badan Kancil yang kecil mampu mengelabui Harimau, di mana Harimau merupakan binatang yang paling ditakuti di hutan. Harimau yang memiliki cakar yang tajam dan mampu berlari dengan cepat ternyata dapat kalah dari tipu daya Kancil. Sesuai penokohan ini, anak-anak belajar bahwa anak-anak harus percaya diri. Badan yang besar ternyata dapat dikalahkan oleh badan yang kecil. Anak-anak belajar bersyukur atas fisik yang telah diberikan Tuhan Yang Maha Esa dan memiliki kepercayaan diri yang kuat, tidak takut menghadapi apa pun. Ketiga, tema dan moral. Berdasarkan buku ini, anak-anak belajar melalui tokoh si Kancil, bahwa dapat kita belajar menjadi orang yang kuat tidak gentar saat menghadapi masalah. Justru ketika menghadapi masalah, kita harus berpikir kepala dingin untuk menyelesaikan masalahnya. Anak-anak belajar mandiri dan kuat dalam menyelesaikan suatu persoalan. Oktaviana and Prihatin (2019) menyatakan, “Cerita fabel sering disebut juga cerita moral karena pesan yang ada di dalam cerita fabel berkaitan erat dengan moral. Ciri yang paling menonjol dalam teks fabel adalah adanya pesan moral yang disampaikan melalui tokoh-tokoh binatang dalam teks fabel.” Anak-anak mungkin akan sulit bila belajar mengenai moral berupa ceramah atau nasehat dari guru. Namun, bila ajaran moral diberikan melalui cerita, anak-anak mudah memahami dan menghayatinya. Penulis buku fabel tersebut, ingin menyampaikan fenomena di lingkungan sekitar untuk dipahami oleh anak-anak melalui tokoh yang mudah dikenali. Anak-anak hampir menyukai binatang atau malah mengenai namanama binatang. Penulis membuat tokoh binatang sebagai penyampai pesan pada anakanak. “Same way that we can never thoroughly communicate with animals. In the end, the entire fable world, no matter how realistic, is a sophisticated theatre for mocking humans” (Kuo, 2012). Di dunia nyata, manusia tidak bisa berkomunikasi dengan binatang. Namun, di dunia fabel, binatang diceritakan melakukan kegiatan sehari-hari yang manusia lakukan bahkan dapat berkomunikasi dengan manusia. Keempat, latar. Tokoh dalam cerita fabel memang binatang yang tinggal di hutan dan bisa berbicara seperti layaknya manusia. Jika dilihat latar hutan sebagai latar utama memberikan informasi pemandangan hutan bagi anak-anak. Hutan tak sekedar rumah bagi hutan. Hutan menyimpan kekayaan alam karena rumah pula bagi tumbuhan dan keseimbangan alam. Anakanak dapat belajar bidang ilmu biologi, matematika, sosial dan kehutanan dari cerita fabel, misalnya, tetumbuhan yang ditemui Kancil yang sedang menguraikan cahaya matahari, lalu Kancil belajar mengenali keluarga siput yang bentuknya sama semua, bagaimana Kancil berhubungan dengan teman hewan lainnya, dan bagaimana hutan sebagai pelindung Kancil dari hewan buas. Latar hutan menjadi latar yang fungsional karena aktif mengembangkan alur, tokoh hingga menggiring tema dan moral. Kelima, stile (gaya tutur atau bahasa). Buku ini ditulis menggunakan bahasa yang mudah dipahami anak-anak. Tiap halaman memiliki susunan 2-4 kalimat. Hal ini bertujuan meningkatkan daya konsentrasi anak-anak usia dini yang sedang cepatnya menyerap Informasi yang masuk. Maka, susuanan kalimatnya pun harus mudah dipahami anak-anak karena muncul dari percakapan sehari-hari. Keenam, ilustrasi. Buku cerita fabel berbentuk buku cerita bergambar sebagian besar memunculkan gambar yang lebih mendominasi agar anakanak tertarik membaca. Ilustrasi dalam cerita fabel sudah menggambarkan kehidupan para tokoh dengan latar hutan. Jika dilihat dari segi ukuran, telah lebih banyak ilustrasi dibandingkan tulisan, dan warna pun telah sesuai warna dari binatang asli. Ketujuh, format buku. Berdasarkan format bukun, bentuk ukuran buku cerita fabel tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar hingga memudahkan anakanak untuk bisa membawanya ke mana-mana. Namun, kualitas kertasnya agak tipis dikhawatirkan akan mudah sobek saat anakanak berebut ingin membacanya. Anak-anak dapat memahami cerita bahkan mengingatnya dari cerita fabel melalui bantuan Para Guru KBIT Desa Sukamukti. Para Guru membantu anak-anak dalam belajar bahasa, kosakata, menulis dan membaca melalui buku cerita. Mereka menyampaikan melalui dua metode, yakni membacakan cerita dengan nyaring dan mendongeng. Ternyata, para guru tersebut belajar sendiri dalam memberikan dua kegiatan ini pada anak-anak. Mereka belum pernah mengikuti pelatihan (workshop) dari lembaga formil atau non-formil dalam mendapatkan pengetahuan membacakan nyaring dan mendongeng. Kegiatan membacakan buku dengan nyaring dan mendongeng menjadi penting dilakukan pada anak usia dini karena kedua kegiatan ini merupakan dasar pra-membaca bagi anak-anak. Pada umumnya, para orang tua menyakini bahwa anak-anak untuk dapat membaca dan menulis, harus dilatih menghafal huruf alphabet dan menulis dengan benar. Namun, kajian mengenai anak usia dini yang dicetuskan Maria Montessori di tahun 1897 mengubah paradigma cara belajar anak-anak selama ini. “Montessori banyak menulis tentang pentingnya perkembangan bahasa pada rentang usia 6 tahun pertama kehidupan, yang merupakan masa sensitif bagi anak. Penelitian selanjutnya menekankan hubungan antara bahasa dan proses belajar, serta antara bahasa dan pikiran…….Semakin sering Anda terlibat dalam aktivitas berbahasa dengan anak, semakin bagus. Berbicara dengan anak, memberikannya instruksi, bercerita, membacakan buku, dan tentu saja mendengarkannya adalah hal yang penting” (Britton, 2018). Orang tua di rumah dan para guru di sekolah dapat melakukan kegiatan membacakan nyaring dan mendongeng untuk meningkatkan kemampuan bahasa anak-anak. Anak-anak dilatih untuk menyerap kosakata dari cerita, mengingatnya dan mengucapkannya kembali saat bercakap-cakap. Bahkan hal ini menjadi pemicu anak-anak dalam belajar menulis dan membaca. Pertama, kegiatan membacakan nyaring. Kegiatan ini para Guru KBIT menggunakan media buku cerita lalu membacakannya pada anak-anak. Para Guru duduk melingkar dengan anak-anak. Sebelum memulai cerita, para Guru mengenalkan judul buku serta nama penulisnya dan memperlihatkan cover depan buku. Di tangan sebelah kiri, para Guru memegang buku, dan tangan sebelah kanan sebagai bagian gesture tubuh mengilustrasikan cerita. Anak-anak akan tertuju pada gambar di setiap halamannya sambil mendengarkan Guru yang sedang bercerita. Para Guru ketika membacakan nyaring, melibatkan secara aktif anak-anak, dengan mengadakan tanya jawab nama tokoh dan nama penulis buku tersebut. Kedua, kegiatan mendongeng. Para guru mendongeng tanpa menggunakan alat peraga. Mereka memainkan ekspresi dna gesture tubuh dalam menciptakan tokoh yang diceritakan. Mendongeng dikatakan seni bertutur tanpa menggurui anak-anak. Cerita yang didongengkan akan mudah dipahami anak-anak dengan mengajak mereka menyelami cerita melalui penggunaan anggota tubuh si pendongeng. Memang, sebagian besar pendongeng menggunakan alat peraga untuk menarik minat anak-anak, seperti boneka tangan, miniature dll. Namun, kondisi di KBIT Desa Mukti sendiri masih terbatas fasilitas pendidikan anak-anak usia dini. Para Guru pun masih menggunakan buku-buku Perpustakaan Desa Sukamukti dalam proses belajar. Untuk itu, pengetahuan mendongeng yang ditularkan Zidni (2020) dapat diaplikasikan para guru di KBIT Desa Sukamukti, yakni percaya diri menggunakan anggota tubuh sendiri dalam mendongeng. Mendongeng sendiri dipengaruhi beberapa hal, di antaranya, “Self assessment, cerita, suara, ekspresi, gesture, kemampuan lainnya” (Zidni, 2020). Self assessment atau mengenali diri sendiri, ialah kemampuan dasar dalam mendongeng. Para Guru KBIT dapat mengenali kelebihan dan kelemahannya ketika mendongeng, misalnya intonasi suara. Pendongeng biasanya dapat menirukan beberapa jenis suara tokoh cerita. Namun, Zidni (2020) menjelaskan bahwa kita bisa hanya menekankan intonasi suara saja. Jadi, para Guru KBIT pun belajar menekankan intonasi suara dari tokoh cerita dalam cerita fabel. Cerita ialah uraian kisah yang terdapat dalam buku atau kisah yang ditawarkan pendongeng. Para Guru KBIT memang harus mendalami isi cerita, tanpa menghafal namun ingat bagian-bagian penting isi cerita. Hal ini dapat dilakukan dalam kondisi sekolah yang masih terbatas media pembelajatan. Suara, seperti dijelaskan pada bagian self assessment, para Guru KBIT dapat belajar menekankan intonasi suara. Mereka pun perlu belajar memahami tokoh-tokoh binatang untuk jenis penekanan intonasi suara. Ekspresi merupakan tampilan langsung pendongeng dalam mengekspresikan cerita. Para Guru, dapat memainkan gerakan mata, bola mata, mulut, dan pipi. Jadi, mendongeng tanpa membebani para Guru. Terpenting adalah cerita dapat dipahami anak-anak, dan mereka pun terhibur. Gesture di sini, para Guru dapat menggunakan kedua tangan dalam membantu mengekspresikan cerita. Bahkan, dapat membuat cerita baru dalam jari-jari tangan. Adapun kemampuan lainnya ialah keahlian tambahan yang dimiliki pendongeng. Para Guru KBIT selalu menyisipkan lagu, pantun atau puisi ketika mendongeng. Anak-anak pun tertarik mendengarkan cerita dan tidak bosan ketika ceritanya diulang kembali. Mereka menyanyi bersama-sama bahkan menari. Di akhir cerita, para Guru pun menanyakan kembali mengenai isi cerita, nama tokoh, atau sumber cerita. Adanya keterbatasan koleksi buku cerita bergambar, ternyata tidak membuat para guru mengurangi kedua kegiatan di atas. Bagi mereka, ini merupakan salah satu cara untuk mengenalkan huruf, menambah kosakata dan menarik minat untuk membaca bagi anak-anak usia dini. Selain itu, kedua kegiatan ini menjadi bentuk kreatif para guru dalam memberikan media pembelajaran bagi anak-anak usia dini. Semua koleksi buku cerita bergambar yang digunakan ialah cerita fabel. Salah satu guru berkata, “Tokoh binatang memiliki karakter manusia, sehingga anak-anak dapat belajar mengenali karakter orang lain” (Dewi, wawancara, February 2, 2018). Melalui pengenalan tokoh binatang dalam cerita, anakanak dapat belajar mengenali karakter orang lain. Tentunya, anak-anak akan terbuka luas mengenai dunia luar. Tidak kalah penting ialah, anak-anak dibawa untuk merasakan kondisi atau perasaan si tokoh ketika menghadapi suatu peristiwa. Maka melalui kegiatan-kegiatan di atas, para guru di KBIT Desa Sukamukti telah memanfaatkan koleksi Perpustakaan Desa Sukamukti dan membuat program untuk menarik minat anak-anak untuk membacanya.
Conclusion
Para guru KBIT Desa Sukamukti menggunakan buku cerita bergambar berjenis cerita fabel di Perpustakaan Desa Sukamukti, sebagai media dalam membacakan nyaring dan mendongeng pada anak-anak. Hal ini dapat dilihat dari alur cerita, penokohan, tema dan moral, latar, bahasa, ilustrasi, dan format. Anakanak di KBIT Desa Sukamukti belajar mengenal kehidupan tokoh binatang dan caranya menghadapi mengatasi persoalan atau konflik dari isi cerita. Berdasarkan tokoh para binatang yang hidup di hutan, anak-anak belajar mengenal karakteristik setiap individu dan belajar mengenai moral dari isi cerita. Hal ini didukung melalui bahasa yang mudah dipahami oleh anak-anak, misalnya susunan kalimat yang pendek dan memunculkan gambar agar anakanak tertarik membaca. Ilustrasi dalam cerita fabel pun menggambarkan kehidupan para tokoh dengan latar hutan. Bila diamati, buku cerita bergambar dari segi ukuran telah banyak ilustrasi dibandingkan tulisan, dan warna pun telah sesuai warna dari binatang asli. Adapun buku cerita bergambar dari format buku, kemasannya telah sesuai kebutuhan anak-anak. Para Guru KBIT Desa Sukamukti membaca nyaring dan mendongeng pada anak-anak menjadi cara dalam mengenalkan huruf, menambah kosakata dan menarik minat anakanak usia dini untuk membaca. Selain itu, kedua kegiatan ini menjadi bentuk kreatif para guru dalam memberikan media pembelajaran bagi anak-anak usia dini. Buku cerita bergambar di Perpustakaan Desa Sukamukti membantu sekali para guru di KBIT Desa Sukamukti dalam mempermudah proses belajar mengajar pada anak-anak. Untuk penelitian selanjutnya, mungkin bisa dianalisis secara penelitian kuantitatif mengenai efek dari membaca dan mendongeng melalui buku cerita bergambar pada anak-anak. Secara psikologi, buku cerita bergambar menjadi media komunikasi anakanak dalam memahami sesuatu. Hal ini, bisa menjadi variabel yang diteliti secara kuantitatif. Selain itu, anak-anak sangat antusias dalam memanfaatkan koleksi buku cerita bergambar di Perpustakaan Desa Sukamukti. Alangkah baiknya, koleksi ini ditambah dan dikembangkan lebih baik melalui ragam jenis cerita anak.