Gerakan literasi masyarakat berbasis media sosial
Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia
Abstrak
Pendahuluan. Tiga poros utama untuk meningkatkan gerakan literasi, yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat. Penggunaan media sosial di masyarakat bukan sesuatu yang sulit di era teknologi, namun menjadi masalah bila digunakan untuk hal yang tidak bermanfaat. Melalui kajian pembinaan diharapkan intervensi penggunaan media sosial dalam askes sumber informasi searah dengan tujuan gerakan literasi. Bahan bacaan dapat diakses melalui media sosial, dan perlu digagas untuk mengalihkan akses pada konten yang tidak tepat usia. Metode penelitian. Data diperoleh melalui observasi terhadap 100 orang dalam pembinaan gerakan literasi masyarakat, yaitu masyarakat pendidikan keagaman (pesantren) dengan profesi sebagai guru, tenaga kependidikan dan siswa pada perwakilan dari dua jenjang pendidikan di desa Tanjungmekar, Kecamatan Tanjungkerta, Kabupaten Sumedang. Data analisis. Data dianalisis menggunakan studi deskriptif persentase, dan mendeskripsikan hasil observasi pembinaan. Hasil dan Pembahasan. Masyarakat pendidikan keagamaan mengakses bahan bacaan lebih dominan gunakan bahan tercetak, deskripsi tugas membaca dan komunikasi melalui media sosial belum berjalan sesuai harapan. Secara umum kegiatan pembinaan literasi masyarakat pendidikan keagaaman memerlukan pola yang sesuai dengan waktu, motivasi, akses, perangkat teknologi, beragam media sosial untuk menumbuhkan kesiapan berliterasi. Kesimpulan dan Saran. Alternatif pemanfaatan media sosial diharapkan mampu menggerakkan masyarakat untuk berliterasi dan membangun potensi daerah yang literat.
Abstract
Introduction. The three main aspects to improve literacy movement are family, school, and society. Using social media could be useful to improve literacy as many reading materials can be accessed and freely available. However, the content should be selected to prevent from unexpected materials. Data Collection Method. Data obtained through observations of 100 participants in the development of community literacy movement. They were religious education community (pesantren) with professions such as, teachers, education staffs and students' representatives from two levels of education within the reading village frameworks in Tanjungmekar village, Tanjungkerta, Sumedang. Analysis Data. Data were analyzed using descriptive percentage studies, and describing the results of observations. Result and Discussions. The community accesses reading material dominant using printed material, reading assignment and communication through social media have not done as expected. In general, the activities of fostering literacy in the religious education community require patterns that are in accordance with time, motivation, access, technological devices, various social media to foster literacy readiness. Conclusions. Alternative use of social media is expected be able to support community movement to build the literate village.
Keywords:
community literacy
· religious education
· social media
Introduction
A. PENDAHULUAN Potensi bangsa Indonesia yang memiliki penduduk dengan keberagaman suku/etnis, serta ragam budaya yang perlu dikembangkan dan tetap dijaga keberadaannya. Badan Program Pembangunan di bawah PBB (United Nations Development Programme/ UNDP) pada tahun 2015 melaporkan bahwa Index Pembangunan Manusia berada pada peringkat 113 dari 188 negara dan wilayah menempatkan Indonesia dalam kategori menengah (Hartoyo D, 2018). Hal ini berarti kualitas sumber daya manusia masih perlu ditingkatkan. Sumber daya manusia yang berkualitas sangat dibutuhkan untuk mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya demi menghadapi segala tantangan dari globalisasi. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satu kebijakan pemerintah yang cukup penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yaitu dengan cara meningkatkan keterampilan literasi melalui gerakan literasi. Gerakan literasi masyarakat merupakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk menguatkan simpul “melek” atau kepekaan untuk bisa belajar sepanjang hayat, dengan mengaktifkan semua kemampuan yang dimiliki oleh masyarakat. Program-program literasi di masyarakat bertujuan untuk membangun pengetahuan dan belajar bersama di masyarakat terus berdenyut dan berkelanjutan. Manusia Indonesia yang melek aksara dan literasi sangat menentukan arah masa depan peradaban bangsa. Melek aksara juga menjadi salah satu hak asasi manusia yang disepakati oleh bangsabangsa di dunia. Buta aksara memberikan kontribusi tinggi rendahnya Indeks Pembangunan Manusia/Human Development Index (HDI). Angka buta aksara menyumbang 2/3 dalam penentuan HDI. Data dari HDI menjelaskan bahwa angka buta aksara penduduk Indonesia sebesar 12,1 persen. Artinya, 1 dari 8 orang masih buta aksara. Dibandingkan Malaysia, Thailand, Filipina yang rata-rata 7 persen, dan Brunei Darussalam sebesar 6 persen, Indonesia masih di atas 10 persen (Hafidzoh, 2017). Penguatan karakter dan kegiatan literasi menjadi salah satu unsur penting dalam kemajuan suatu negara. Forum Ekonomi Dunia 2015 telah memberikan gambaran tentang keterampilan abad ke-21 yang sebaiknya dimiliki oleh seluruh bangsa di dunia. Keterampilan tersebut meliputi literasi dasar, kompetensi, dan karakter. Di abad ke-21, menjadi keharusan bagi masyarakat Indonesia untuk menguasai enam literasi dasar, yaitu (1) literasi bahasa, (2) literasi numerasi, (3) literasi sains, (4) literasi digital, (5) literasi finansial, serta (6) literasi budaya dan kewarganegaraan. (TIM GLN Kemendikbud, 2017). Gerakan literasi masyarakat yang sejalan dengan gerakan literasi sekolah dan gerakan literasi keluarga diharapkan dapat melahirkan dan menumbuhkan simpul-simpul masyarakat yang mempunyai kemampuan literasi tingkat tinggi. Gerakan literasi masyarakat yang digagas dalam program pembinaan kampung literasi, didefinisikan sebagai sebuah konsep pemberdayaan masyarakat di bidang literasi dengan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) sebagai le/ading sector-nya. Artinya, Kampung literasi melibatkan masyarakat sebagai bagian dari giat literasi, bukan sebagai obyek (Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat, 2017) Fenomena pemahaman masyarakat tentang apa, mengapa, bagaimana, gerakan literasi perlu ditelaah. Pada masyarakat pendidikan terdapat beberapa upaya pemerintah mengkampanyekan agar guru melek literasi. Setidaknya, guru menguasai literasi bahasa dan sastra, numerik, sains, teknologi informasi dan komunikasi, finansial, budaya dan kewargaan. Saat ini, baru sekitar 25 persen guru yang menguasai teknologi. Sebagian besar guru di pedesaan masih terkendala akses informasi untuk bisa menguasai teknologi, berdasarkan data yang disampaikan Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Dasar Anas M. Adam (Budi, 2017). Beberapa kemampuan literasi yang telah ditetapkan pemerintah perlu dimiliki, masih ditemukan lemah untuk dipenuhi, hal ini menjadi perhatian kita semua bila diharapkan terjadi percepatan dalam pencapaian keterampilan berliterasi tersebut. Media sosial saat ini sudah tidak asing bagi masyarakat, tidak hanya masyarakat di perkotaan tetapi juga masyarakat di pedesaan. Media sosial yang tengah berkembang saat ini dapat mendukung pertukaran informasi atau konten (Hrastinski & Aghaee, 2012). Telepas itu masyarakat perkotaan maupun pedesaan keduanya dapat langsung terhubung satu sama lain. Masyarakat di pedesaan dapat dengan mudah mengakses media sosial. Media sosial hadir sebagai sebuah inovasi baru dari teknologi informasi. Media sosial kerap digunakan oleh masyarakat pemakai untuk menyuarakan pendapat mereka yang tidak dapat tersalurkan secara langsung. Secara singkat, keberadaan media sosial menjadi ruang baru bagi masyarakat dunia dalam menjalankan kehidupan mereka (Pakpahan, 2017). Merujuk pada kekuatan yang dimiliki oleh Universitas Pendidikan Indonesia dengan kampus di daerah, memiliki tanggung jawab untuk melakukan pembinaan untuk mensosialisasikan program pemerintah, dan utamanya yang sangat berkaitan langsung dengan unsur pendidikan, selaras dengan visi dan misi UPI dalam membangung masyarakat yang edukatif, ilmiah dan religius disekitar kampus, serta menjadi mitra dalam pembangunan pendidikan di daerah pada khususnya. UPI memiliki kampus di daerah khususnya Sumedang memiliki keunggulan dalam akses kepada wilayah pedesaan, dan melalui para akademisinya bentuk pengabdian kepada masyarakat menjadi nyata dirasakan manfaatnya di daerah. Mengarahkan pelaksanaan gerakan literasi yang melibatkan seluruh komponen masyarakat termasuk didalamnya masyarakat kampus, maka digagaslah sebuah gerakan pembinaan untuk membangun masyarakat daerah yang literat. Wilayah Tanjungkerta memiliki satu lembaga pendidikan keagamaan (pesantren) pada jenjang Madrasah Tsanawiah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA), berdasarkan hasil kajian awal tentang kebutuhan insiasi program pemerintah dalam upaya mendeteksi literasi sampai di wilayah desa, dan asusmsi bahwa jenjang pendidikan formal menerapkan bentuk aktivitas penggunaan media akses informasi belajar termasuk didalamnya media sosial, diikuti oleh adanya telah terprogramnya kegiatan pengabdian pada masyarakat (merupakan wujud tri dharma perguruan tinggi) dalam memenuhi kebutuhan membina kompetensi literasi dalam masyarakat pendidikan pesantren di daerah tersebut, maka dirasa perlu untuk merancang bentuk pembinaan dilakukan oleh para tenaga pendidik dari program studi perpustakaan dan sains informasi, Mengacu pada bentuk pembinaan yang selama ini dilakukan yaitu pola dasarnya mengikuti besaran kegiatan pembinaan seperti biasanya, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan monitoring evaluasi. tim peneliti melakukan modifikasi Berbeda dengan yang dilakukan pada perlakukan tindakan pembinaan pada kajian ini, yaitu dilakukannya secara berkesinambungan untuk jangka waktu yang telah disepakati oleh pihak yang terlibat dalam kegiatan pembinaan, serta tindakan pelaksanaan terdapat bentuk aktivitas interaksi dan komunikasi melalui media sosial. Bagaimana pembinaan tersebut dapat dilakukan dan memberikan dampak perubahan, kajian ini menekankan pada bentuk pelaksanaan pembinaan melalui media sosial yang dimiliki oleh masyarakat, dan sekaligus diharapkan dapat dilakukan secara berkesinambungan untuk mewujudkan daerah yang literat, serta memberikan warna dalam pendidikan berliterasi di masyarakat. B. TINJAUAN PUSTAKA 1. Pembinaan Literasi Kegiatan pembinaan literasi banyak pola dan bentuknya, hampir semua institusi di negeri ini tengah bersama-sama dalam melakukan pembinaan tersebut. Salah satu temuan terkait dengan pelaksanaan pembinaan literasi adalah tentang literasi media: cerdas menggunakan media sosial dalam menanggulangi berita palsu (hoax) oleh siswa disampaikan dalam jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat/ PKM (Gumgum, Justito, & Nunik, 2017), diungkapkan bahwa langkah-langkah program pembinaan literasi tiga tahapan yaitu 1) Persiapan meliputi (a). melakukan kontak awal dengan sekolah untuk menelusuri kemungkinan pelaksanaan kegiatan prosedur yang harus dijalankan berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan. Serta menentukan pertemuan awal untuk membahas pelaksanaan kegiatan. (b). Obervasi berupa survei awal, melakukan pertemuan secara langsung dengan pimpinan sekolah. Menelusuri lebih dalam mengenai fenomena hoax di sekolah serta muatan materi yang akan disampaikan, (c). Memilih dan menghimpun kepustakaan yang relevan serta data-data pendukung untuk meme-cahkan persoalan hoax yang marak terjadi saat ini. 2) Pelatihan, dilakukan secara kelompok dengan cara tatap muka bersama peserta, ceramah, dilanjutkan dengan diskusi. Pelatihan dibagi dalam beberapa materi, yaitu kegiatan PKM dengan bentuk tatap muka dan menyampaikan pemahaman dasar mengenai literasi media, perkembangan media sosial, berita benar vs berita palsu, contohnya kasus dan pemutaran film pendek berkaitan dengan hoax dan dampaknya. 3) Evaluasi dilakukan setelah proses pelatihan melalui tingkat pemahaman dari pelatihan tersebut. Model pemberdayaan kelompok remaja penggiat literasi media melalui edukasi dan fasilitasi teknologi memuat mekanisme pelaksanaan kegiatan TBM, (Setyaningsih, Abdullah, & Asy'ari, 2017) dengan 3 tahapan, yaitu: perencanaan, proses, monitoring dan evaluasi. Aktivitas dari masing-masing tiga tahapan yaitu 1) Perencanaan meliputi, (a) pembentukan kelompok remaja penggiat literasi media, (b) koordinasi dengan tim pelaksana untuk persiapan dengan penjelasan maksud, tujuan, mekanisme program, dan hal-hal yang berkaitan dengan metode/teknik pelaksanaan, (c) sosialisasi program kepada masyarakat sasaran, (d) penyusunan program pelatihan, berdasarkan hasil identifikasi, hasil analisis permasalahan pada mitra 1 dan 2, hasil analisis kebutuhan, dan hasil analisis potensi mitra, selanjutnya disusun progam pelatihan (edukasi) bagi kelompok remaja penggiat melek media literasi. 2) Proses pelaksanaan, berupa implementasi program. Kegiatan yang dilakukan adalah a) meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kelompok remaja dalam kegiatan edukasi literasi media dalam bentuk TOT, (b) memberikan fasilitas teknologi yang digunakan dalam kegiatan penyuluhan literasi media, (c) pembinaan dan pelatihan dalam menjaga konsistensi dan kekompakan kelompok. 3) Monitoring dan evaluasi, dilakukan terhadap proses penyuluhan literasi media kepada masyarakat yang diterapkan oleh kelompok remaja penggiat literasi media, evaluasi dilakukan terhadap kuantitas dan kualitas penyuluhan literasi media. 2. Masyarakat Pendidikan Keagamaan Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menghadirkan konsep serta pendekatan baru pada pendidikan keagamaan. Kini pendidikan keagamaan menjelma menjadi satu sektor pendidikan baru melalui manajemen yang terkelola dengan baik dan melahirkan jenis praktik pendidikan yang beragam, pesantren salah satunya. Pendidikan pada pesantren pada mulanya didefinisikan sebagai suatu praktik pendidikan Islam tradisonal untuk mempelajari, memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama Islam (Iskandar & Zubaidah, 2012). Seiring dengan kemajuan yang diperlihatkan oleh lembaga pesantren saat ini dalam mengelola pendidikan maka makna pendidikan pesantren mengalamai perubahan. Tidak lagi sebagai suatu lembaga tradisional, namun lebih dari itu menjadi lembaga yang modern karena menghadirkan unsur teknologi sebagai derap penyamaan langkah antara kebutuhan pendidikan keagaaman dengan kemajuan teknologi. Pendidikan pesantren juga dikatakan sebagai satu wadah proses pendidikan berupaya mengurangi gap antara penguasaan ilmu pengetahuan dengan praksis ilmu pengetahuan itu melalui sistem pendidikan asrama dengan tradisi-tradisinya yang khas. Pada awalnya pesantren didirikan sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam yang ditujukan untuk menyiapkan kader penyebar agama namun dalam perkembangannya, institusi ini sebagian besar telah berubah menjadi institusi pendidikan alternatif yang menyediakan layanan pendidikan madrasah dan sekolah, tanpa mengurangi tradisi-tradisinya yang khas (Fahham, 2015). 3. Media Sosial Media sosial adalah suatu media berbasis jaringan internet yang memungkinkan para penggunanya untuk dapat berinteraksi secara langsung dengan pengguna lainnya di dunia maya, (Sanjaya, Wibowo, & Adi, 2010). Media sosial saat ini telah menjadi tempat bagi jutaan umat manusia untuk berkumpul, menjadi lahan subur bagi penggunanya untuk berinteraksi dengan banyak orang di berbagai belahan dunia. Melalui layanan-layanan media sosial itu pula para pengguna dapat berbagi informasi bermanfaat seputar aktivitas yang sedang dikerjakan, ide, gagasan, opini dan tulisan ilmiahnya (Nugraha, 2018). Media sosial pada dasarnya bersifat interaktif dan bergantung pada ekologi pengguna (Martínez-Alemán, 2014). Kemudahan informasi dan begitu cepatnya informasi beredar serta berlalu di media sosial menjadikan daya tarik tersendiri bagi masyarakat pemakai. Peredaran informasi yang begitu mudah dan begitu cepat di media sosial justru memberikan dampak baik positif maupun negatif bagi penggunanya. Upaya menanggulangi dampak negatif yang ditimbulkan oleh media sosial, pemerintah sudah seharusnya membuat suatu rumusan konsep pendidikan berbasis literasi (Vibriza, 2017). Kondisi pesantren dalam menanggapi perkembangan teknologi berupa internet saat ini sedang mengalami “kesenjangan budaya” (cultural) di saat berinteraksi dengan internet. Pesantren berusaha untuk beradaptasi seraya mengkonstruksi bentuk-bentuk penggunaan internet yang sesuai dengan tata nilai yang mereka anut, di satu sisi, dan kebutuhan terhadap informasi, di sisi yang lain. Proses adaptasi tersebut, pada gilirannya, membawa pengaruh perubahan yang cukup besar terhadap cara berpikir, pola perilaku, dan gaya hidup pesantren yang menghadapi keterbatasan di dalam mengejar akselerasi perkembangan internet (Adib, 2013). Pemanfaatan media massa belum dimanfaatkan secara maksimal oleh siswa di pondok pesantren untuk mencari informasi dari luar pondok, hal ini karena keterbatasan fasilitas, waktu dan fasilitas penunjang lainnya. Pemanfaatan media massa di lingkungan yang memiliki keterbatasan dalam aksesnya memiliki beberapa pola yang mirip. Pola pemanfaatan ini melibatkan kebijakan pondok, proses belajar mengajar mata kuliah tertentu dan juga orang tua atau kerabat saat berkunjung (Mulkan, dkk, 2014) Kontras dengan hasil penelitian (Mantyastuti, 2016) yang disampaikan bahwa penggunaan media sosial di lingkungan pesantren salaf menunjukkan pemanfaatan gadget oleh santri lebih banyak digunakan untuk mengakases media sosial, yaitu sebesar 81% santri menyatakan mengakses media sosial saat menggunakan gadget dengan durasi waktu antara 0-7.5 jam dalam satu hari.
Method
Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif. Metode analisis deskriptif digunakan dalam menjabarkan langkah-langkah suatu fenomena (permasalahan) sebagaimana dikemukakan oleh (Loeb et al., 2017) bahwa analisis deskriptif meluksikan wajah dunia atau sebuah fenomena yang menjawab pertanyaan tentang siapa, apa, di mana, kapan, dan sejauhmana melalui gambaran sampel dalam sebuah unit analisis yang bertujuan untuk mengidentifikasi efek kausal, dan melalui hasil deskripsi memainkan peran penting dalam proses ilmiah. Kajian ini memiliki keunikan dalam penetapan sampel (konteks riset) dengan bentuk deskripsi kegiatan pengabdian pada masyarakat, maka penetapan responden berdasarkan kesediaan masyarakat (mendaftar) untuk mengikuti bentuk aktivitas pembinaan khususnya di Wilayah Tanjungkerta yang memiliki satu daerah dengan lingkungan yang dibentuk oleh suatu lembaga Pendidikan keagamaan (lingkungan pondok pesantren) Darul Hikmah, dengan bentuk formal meliputi jenjang Madrasah Tsanawiah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA), Data diperoleh melalui hasil observasi terhadap 100 orang masyarakat sasaran yang bersedia untuk ikut serta dalam pembinaan gerakan literasi yaitu masyarakat pendidikan keagamaan (pesantrean) dengan karakteristik aktivitasnya sebagai guru, tenaga kependidikan dan siswa pada perwakilan dari dua jenjang pendidikan, dengan membidik sasaran orang tua dan anak-anak usia belajar di madrasah dan intervensi media sosial dalam aktivitas membaca sumber informasi berbentuk bacaan kontemporer sebagai bentuk penambahan informasi dan pengayaan bacaan selain bacaan utama yang bersumber dari Alquran dan bacaan untuk pembelajaran. Secara umum kegiatan pembinaan itu dapat dilakukan melalui 3 tahapan besar, yaitu persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. Terkait dengan bentuk pembinaan yang ada dalam kajian artikel terdapat perbedaan dengan bentuk pembinaan biasanya, yaitu pada tahap pelaksanaannya. Biasanya pola pembinaan yang sering dilakukan adalah mendeteksi langsung wilayah tempat pembinaan atau mengunakan mekanisme pelatihan satu kali kehadiran para pembina. Berbeda dengan yang dilakukan pada perlakukan tindakan pembinaan pada kajian ini dilakukannya secara berkesinambungan untuk jangka waktu yang telah disepakati oleh pihak yang terlibat dalam kegiatan pembinaan. Adapun langkah-langkah pembinaan gerakan literasi masyarakat mencakup empat langkah dapat dilihat pada Gambar 1. Diawali dengan menganalisis minat dan kecenderungan akses bahan bacaan, mengidentifiikasi ketersediaan media sosial yang dekat dan digunakan oleh khalayak sasaran untuk berbagi informasi dan berinteraksi sosial dalam dunia virtual, mengkonstrukbentuk pembinaan dalam konteks kajian ini adalah memberikan bimbingan sekaligus penyediaan sumber daya informasi bacaan dan ikut terlibat dalam membimbing, melakukan review bacaaan dan diskusi tentang bacaaan yang menjadi tugas tantangan membaca yang menggunakan media sosial. Pola dasarnya mengikuti besaran kegiatan pembinaan seperti biasanya, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan monitoring evaluasi, namun pembedanya dari kegiatan pembinaan yang seringnya dilakukan yaitu pada saat tindakan pelaksanaan terdapat bentuk aktivitas interaksi dan komunikasi melalui media sosial, layaknya sebuah forum pembelajaran dengan menggunakan bantuan media elektronik dan koneksi internet didalamnya.
Result & Discussion
1. Hasil Penelitian a. Identifikasi kecenderungan orang tua, siswa MTs dan MA dalam mengakses bahan bacaan di Tanjungmekar Menelaah kebutuhan perencanaan kegiatan literasi masyarakat pendidikan keagamaan dalam kajian ini dilakukan penyebaran instrumen angket kecenderungan dari orang tua, siswa MA dan MTs di Tanjungmekar dalam mengakses bahan bacaan untuk memenuhi akses terhadap bahan bacaan. Sebelumnya indikator yang ditelaah adalah minat membaca peserta dan bahan bacaan yang dipilih untuk memenuhi ativitas membaca, dapat dilihat pada Tabel 1. Menelaah data pada Tabel 1 dapat dideskripsikan bahwa, indikator minat membaca antara orang tua, siswa MTs dan MA secara umum menyukai kegiata membaca dengan jenis bahan bacaan yang disukai 10 orang tua menyukai membaca melalui website, sedangkah 30 siswa MTs lebih menyukai membaca melalui buku tercetak dan begitupun dengan 17 siswa MA. Sehingga hasil deskripsi diri tentang motivasi membaca pada masyarakat dapat dideskripsi pada kelompok “menyukai” membaca, terutama membaca melalui website begitupun dengan siswa cenderung menyukai kegiatan membaca terutama melalui bahan bacaan buku tercetak. b. Pertimbangan media sosial yang dimiliki untuk mengakses bahan bacaan di desa Tanjungmekar Proses merencanakan tindakan pembinaan disokong oleh hasil identifikasi kecenderungan aktivitas membaca pada para peserta pembinaan ini didomimasi oleh kesukaanya mengakses dari media tercetak, membaca melalui website (atau platform teknologi) pun dipilih untuk dilakukan. Analogi penggunaan sumber bacaan berbasis teknologi mengarahkan pada kemungkinan penggunaan media sosial juga memiliki peran penting sebagai salah satu media perantara yang dapat mengkomunikasikan bahan bacaan. Mendukung anggapan tersebut, dikaji berdasarkan deskripsi kepemilikan akun media sosial peserta, diperoleh hasil bahwa media sosial yang digunakannya berupa Line, Whatsapp, Instagram dan Facebook. Data akun media sosial yang dimiliki yang dimungkinkan untuk mengakses bahan bacaan di desa Tanjungmekar, dideskripsikan pada Tabel 2. Berdasarkan pada Tabel 2, diketahui bahwa data akun media sosial yang dimanfaatkan oleh orang tua, siswa MA dan MTs untuk mengakses bahan bacaan di desa Tanjungmekar lebih didominasi oleh penggunaan Facebook, dengan sebaran jumlah orang tua sebanyak 20 orang, siswa MTs 29 orang dan siswa MA 22 orang. c. Penentuan pola kegiatan gerakan literasi masyarakat basis media sosial Penentuan bentuk pelakasanaan kegiatan gerakan litersi pada masyarakat pendidikan ditentukan dari hasil identifikasi konstruk gerakan literasi masyarakat pendidikan keagamaan dan media sosial yang telah dipaparkan serta data dari instrumen angket melalui indikator sumber bahan bacaan serta alasan orang membaca buku. Diketahui bagaimana orang tua, siswa MA dan MTs dalam memperoleh bahan bacaan serta alasan paling banyak yang dilakukannya untuk membaca buku tergambar pada Tabel 3. Mendeteksi alasan mengapa setiap individu melakukan membaca buku, dapat dideskripsikan bahwa 21 orang tua membaca karena alasan tema bacaan yang diminati, 15 siswa MTs membaca dengan alasan adanya ketertarikan atas topik bacaan dan 21 siswa MA membaca dengan alasan adanya stimulus untuk membaca yang berdasar pada kebutuhan membaca. Sehingga ditegaskan lagi berdasarkan data yang ada bahwa para orang tua mengungkapkan kebutuhan membaca didominasi karena ada tema bacaan yang diminati untuk dibaca, dan kebutuhan membaca satu topik tertentu dengan keperluan mendapatkan informasi didalamnya menempati posisi berikutnya. Menelaah data dari anak-anak di MTs, dominasi jawaban atas pertanyaan alasan mereka membaca adalah adanya ketertarikan atas topik bacaan menempati posisi terbanyak dipilih, diikuti oleh adanya kebutuhan dari mendapatkan bahan bacaan. Berikutnya data dari siswa MA, dengan dominasi jawaban alasan membaca lebih besar adalah adanya stimulus untuk membaca yang berdasar pada kebutuhan membaca, diikuti dengan adanya ketertarikan atas topik bacaan yang tersedia. Selanjutnya kegiatan pembinaan perlu menentukan sumber bahan bacaan yang akan diakses oleh responden. Melalui interpretasi dari tabel 3 dimana orang tua, dan para siswa di MTs dan MA mengungkapkan lebih sering menggunakan akses kepada bahan bacaan dari sumber tercetak, diikuti dengan mengunakan smart phone dan alternative lainnya dengan akses melalui sumber-sumber digital yang tersimpan dalam komputer. Berdasarkan deskripsi tersebut, tim pembinaan berasumsi perlu menyiapkan sumber bahan bacaan tercetak dan berbagai alternatif bahan bacaan yang disimpan dalam bentuk digital untuk dapat diakses melalui media smart phone dan komputer. d. Mengkomunikasikan pola skenario pembinaan gerakan literasi masyarakat basis media sosial di desa Tanjungmekar Langkah intervensi dan implementasi kegiatan pembinaan dilakukan dengan mengkomunikasikan bentuk aktivitas atau pola kegiatan pembinaan; merupakan langkahlangkah dalam keseluruhan kegitan menggerakkan literasi lebih menekankan pada implementasi skenario pembinaan gerakan literasi berbasis media sosial di desa Tanjungmekar. Pelaksanaannya tahap awal dilakukan dengan memberikan informasi tentang gerakan literasi nasional, literasi informasi, literasi perpustakaan, literasi digital, literasi media, internet sehat dan pemberantasan hoaks. Selanjutnya dilakukan penyiapan kelompok dalam suatu grup media sosial untuk aktifitas kegiatan pembinaan kampung membaca, pelaksanaan pembagian buku, aktivitas berbagi hasil bacaan di media sosial, kemudian menyediakan buku bacaan digital dan terakhir dilakukan identifikasi indeks membaca di wilayah Tanjungmekar. Secara rinci pelaksanaanya dapat terlihat pada Tabel 4. Skenario dalam pembinaan membaca berbasis media sosial ini juga dikonstruksi berdasarkan langkah-langkah yang dilakukan dalam kerangka pengembangan literasi di lingkungan pendidikan sekolah, berdasarkan kajian riset tentang penggunaan media media sosial untuk penyebarluasan informasi hasil membaca diharapkan dapat menjadi pola yang berkelanjutan untuk membangun budaya membaca dan berbagi hasil bacaan, dan menganalisis pengulangan tindakan intervensi pembinaan membaca secara terprogram dan berkala dilakukan pada masyarakat pendidikan keagamaan. 2. Pembahasan Perencanaan Pembinaan Rangkaian pembinaan gerakan literasi diawali proses perencanaan program pembinaan dilakukan tim dosen bersama-sama pihak masyarakat pendidikan keagamaan di desa Tanjungmekar, dalam hal ini para orang tua siswa yang berada dalam lingkungan pesantren yang memiliki kurikulum formal, yaitu setara MTs dan MA. Masyarakat pendidikan keagamaan dilingkungan pesantren itu sendiri secara konsepsinya diartikan sebagai lembaga pengasuhan alternatif yang keberadaaannya khas. Satu sisi menerapkan sistem pendidikan Islam, di pihak lain membangun kelekatan dengan peserta didik/ santri, seutuhnya yaitu dengan merawat, membimbing, menjaga, dan memantau perkembangan santri (susanto dalam Fahham, 2015). Aktivitas perencanaan diarahkan kepada mendeteksi minat membaca khalayak sasaran, serta sumber bacaan dan jenis bacaan sekaligus di deteksi untuk menentukan bentuk tindakan pembinaan selanjutnya, hasil deskripsi diri tentang motivasi membaca pada masyarakat dapat dideskripsi pada kelompok “menyukai” membaca, terutama membaca melalui website begitupun dengan siswa cenderung menyukai kegiatan membaca terutama melalui bahan bacaan buku tercetak. Selanjutnya diketahui bahwa data akun media sosial yang dimanfaatkan oleh orang tua, siswa MA dan MTs untuk mengakses bahan bacaan di desa Tanjungmekar lebih didominasi oleh penggunaan Facebook. Pelaksanaan Pembinaan Dilakukan pola awal dalam melaksanakan kegiatan pembinaan literasi ini kepada masyarakat pendidikan keagamaan, dengan berdasar deskripsi data yang diperoleh maka penyampaian bahan bacaan tercetak yang didasarkan pada pemilihan topik yang disediakan sangat diutamakan. Sejalan dengan konsepsi tentang kemampuan membaca ini dapat diartikan sebagai tindakan mencari jawaban tetapi hal itu tergantung dari alasan kenapa pembaca membaca. Dalam hal ini mengetahui apa alasan pembaca membaca adalah kunci, konsep dari apa, bagaimana dan apa teksnya. Hal-hal tersebut harus dicetak baik melalui kertas, catatan elektronik, novel grafis, gambar, konteks, gestur dan lain-lain untuk menginterpretasikan simbol-simbol dari bahasa penulisan (Owusu Acheaw & Larson, 2010). Pelaksanaan program pembinaan diawali dengan kegiatan pembagian informasi secara klasikal kepada masyarakat, kajian lengkap tentang gerakan literasi secara nasional yang perlu dilakukan secara masif menjadi sajian informasi dalam pembinaan, ini menjadi bahan untuk membina masyarakat pendidikan khususnya dalam konteks ini di pendidikan keagamaan atau pesantren, berfokus pada upaya pembinaan literasi dasar yaitu membaca, literasi informasi, literasi perpustakaan, literasi media, dan penanggulangan berita hoaks. Skenario pembinaan dilanjutkan memberikan stimulus penggunaan media sosial, yaitu dengan membentuk grup-grup membaca melalui beberapa media sosial yang dimiliki oleh para peserta pembinaan. Meski diketahui kecenderungan penggunaan media sosial yang lebih digunakan adalah facebook, tim pembinaan berasumsi perlu dilakukan intervensi dalam bentuk media sosial lainnya dalam memberikan stimulasi kegiatan membaca. Platform media sosial menciptakan lingkungan yang dapat menggambarkan sebuah ruang afinitas. Ini adalah ruang dimana afiliasi antara orang berdasar pada kesamaan minat dan usaha; tidak adanya pembeda antara pendatang baru di grup dengan yang sudah lebih dahulu terlibat; terjadinya suatu komunikasi yang fleksibel dengan orang yang mungkin tidak dikenal; terlahirnya konten baru; pengetahuan dari setiap individu terdistrbusi, dan mendorong pengakuan atas pengetahuan yang dimiliki oleh setiap individu yang berpartisipasi, serta status seseorang dalam ruang sosial tersebut sangat bervariasi (Vlieghe, Vandermeersche, & Soetaert, 2014). Melalui beberapa media sosial yang dimiliki peserta dilakukan aktifitas pembinaan, setelah peserta mendapat buku tercetak, mereka harus membuat posting tentang foto diri sambil memegang buku yang diterima dan dibaca dengan memberi caption nama dan tulisan; siap membaca buku. Selama 7 hari diberikan jadwal untuk membaca, dan setelah 7 hari dilakukan sharing bacaan, caption tulisan mari berbagi bacaan#judul buku#namapembaca. Selanjutnya isi berbagi bacaan bacaan itu dideskripsikan apa hasil bacaanya, kemudian boleh di komentari dan bila ada yang belum selesai tetap harus menyelesaikan bacaannya. Bila waktu yang digunakan untuk membaca buku gelombang pertama telah selesai sebelum waktu sharing boleh diberikan buku lainnya dalam bentuk ebook. Dalam rentang waktu tujuh hari yang ditentukan, ditemukan fakta bahwa para peserta pembinaan tidak banyak melakukan aktivitas yang diharapkan, yaitu memberikan hasil review dari buku yang telah diberikan untuk dibaca. Begitupun bahan bacaan yang dibagikan melalui facebook, tidak mendapatkan tanggapan lebih lanjut. Upaya menjalankan skenario dalam berbagi bahan bacaan terus dilakukan dengan memaksimalkan penggunaan media sosial terutama facebook untuk akses bahan bacaan di desa Tanjungmekar, serta mengikuti waktu yang optimal dalam penggunaan smartphone atau bentuk alat-alat teknologi yang dibatasi untuk digunakan dalam pendidikan keagamaan, yaitu masa libur atau tidak adanya kegiatan belajar di pondok. Kegiatan pembinaan ini perlu mengimbangi bentuk aturan yang berlaku, untuk dimilikinya keterampilan disiplin dan pengembangan keterampilan untuk menjadi insan yang kritis. Kegiatan pembinaan literasi penting dilakukan dalam rangka memperluas wawasan individu dan pemenuhan keterampilan untuk memilih informasi terbaik untuk menyelesaikan tugas belajar dan pembelajaran, sejalan dengan yang disajikan oleh pusat studi literasi di Carnegie Mellon University, bahwa “tindakan literasi yang dapat mendorong aksi komunitas dengan pendidikan antar budaya, pemikiran strategis, pemecahan masalah dan berbasis observasi, penelitian dan pembangunan teori”. Literasi masyarakat dapat membuat perubahan sosial yang bisa dimulai dari percakapan orang yang memiliki latar belakang budaya berbeda agar menghasilkan hubungan yang produktif (Rabin, 2011). Namun pada perjalanan pembinaan ini dengan tagihan berulang untuk berbagi bahan bacaaan ini mengalami beberapa masalah dalam akses, dimana anak-anak tidak memiliki akses untuk melakukan sharing dengan kondisi dan pembiasaan mengurangi akses terhadap media sosial pada masa tinggal di lingkungan pondok. Evaluasi dan Monitoring Pembinaan Evaluasi program pembinaan dilakukan untuk penentuan memadai tidaknya program pembinaan yang telah dirancang. Evaluasi pembinaan ini mulai dilakukan pada setiap tahapan, hal itu, dilakukan secara seksama mulai dari saat program itu dirumuskan dan direncanakan. Dua kegiatan analisis tentang minat membaca serta ketersedian akses media sosial yang akan digunakan dalam kegiatan ini telah mengarahkan bentuk aktivitas untuk penilaian dan perencanaan intervensi pembinaan yang harus dilakukan. Evaluasi pelaksanaan pembinaan dilakukan melalui evaluasi tagihan hasil membaca, dalam satu periode membaca yaitu selama tujuh hari. Media sosial yang digunakan sebagai tempat berbagi bahan bacaan tidak dimanfaatkan oleh para peserta pembinaan, artinya bahwa para peserta pembinaan tidak melakukan aktivitas yang diharapkan, yaitu memberikan hasil review dari buku yang telah diberikan untuk dibaca. Begitupun bahan bacaan yang dibagikan melalui facebook, tidak mendapatkan tanggapan lebih lanjut. Selaras dengan hasil penelitian Mulkan, bahwa pemanfaatan media massa (sosial) belum dimanfaatkan secara maksimal oleh siswa di pondok pesantren untuk mencari informasi dari luar pondok, hal ini karena keterbatasan fasilitas, waktu dan fasilitas penunjang lainnya. Pola pemanfaatan ini melibatkan kebijakan pondok, proses belajar mengajar tertentu dan juga orang tua atau kerabat saat berkunjung (Mulkan, dkk, 2014). Evaluasi akhir program pembinaan literasi berbasis media sosial di lingkungan masyarakat pendidikan pesantren dilakukan dengan pengecekan kualitas kemajuan program secara rutin mulai dari proses sampai hasil program pembinaan kampung membaca berbasis media sosial di lingkungan masyarakat pendidikan pesantren. Hasilnya dibutuhkan kesediaan para peserta untuk menggunakan perangkat teknologi, dan beragam aplikasi untuk menumbuhkan kesiapan berliterasi. Kesesuaian waktu yang digunakan untuk melakukan kegiatan membaca sesuai dengan arahan dan target pemerintah dalam gerakan literasi perlu mendapat perhatian untuk diadaptasi dalam pendidikan keagamaan, perlu diberikannya motivasi kepada peserta pembinaan literasi agar keberlangsungan program ini lebih efektif dan terlaksana sesuai pola gerakan literasi masyarakat basis media sosial yang dirancang serta disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan dalam rangka menghasilkan masyarakat literat.
Conclusion
Gerakan literasi masyarakat pada kajian ini berpusat pada masyarakat pendidikan keagamaan di wilayah desa Tanjungmekar. Pembinaan dilakukan melalui tiga tahapan penting yaitu; perencanaan; prioritas kegiatan adalah mengidentifikasi minat membaca khalayak sasaran, serta sumber bacaan dan jenis bacaan yang diakses oleh khalayak sasasran. Minat membaca pada masyarakat dideskripsi pada kelompok “menyukai” membaca. Siswa MTs dan MA mengungkapkan lebih memilih membaca melalui bahan bacaan buku tercetak, para orang tua cenderung memilih aktivitas membaca melalui website dengan penggunaan teknologi. Selanjutnya diketahui bahwa data akun media sosial yang dimanfaatkan oleh orang tua, siswa MA dan MTs untuk mengakses bahan bacaan di desa Tanjungmekar lebih didominasi oleh penggunaan Facebook. Kegiatan implementasi pembinaan literasi dilakukan melalui tahapan pemberian materi tentang gerakan literasi nasional, literasi perpustakaan, literasi media dan tips menangkal berita hoaks. Selanjutnya tahapan mengintervensi pemberian bahan bacaan tercetak untuk dibaca, dan hasil bacan direview bersama disampaikan melalui media sosial terpilih yaitu facebook. Pada proses pelaksanaannya, tidak semua peserta melakukan aktivitas membaca, mereview dan berbagi bacaan dalam media sosial tersebut, disebabkan adanya komitmen bersama dari peserta pembinaan untuk tidak terpapar media sosial, dan lebih banyak waktu tidak menggunakan teknologi informasi dalam aktivitas kesehariannya. Hasil evaluasi dan monitoring pembinaan literasi masyarakat dibutuhkan kesediaan para peserta untuk menggunakan perangkat teknologi, dan beragam aplikasi untuk menumbuhkan kesiapan berliterasi. Kesesuaian waktu yang digunakan untuk melakukan kegiatan membaca sesuai dengan arahan dan target pemerintah dalam gerakan literasi perlu mendapat perhatian untuk diadaptasi dalam pendidikan keagamaan, perlu diberikannya motivasi kepada peserta pembinaan literasi agar keberlangsungan program ini lebih efektif dan terlaksana sesuai pola gerakan literasi masyarakat basis media sosial yang dirancang serta disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan dalam rangka menghasilkan masyarakat literat.